
Sampai saat ini meski banyak masalah dan memiliki sebuah keterbatasan, tidak pernah terlintas dipikiran Ree untuk mati. Ia justru berusaha ingin hidup normal seperti orang-orang di sekitarnya. Namun, untuk kali kedua ada yang tidak menikmati hidupnya.
Saat ini wajah Servio masih ada di bahu Ree dan tanpa berbicara sepatah katapun hingga membuat Ree tidak jauh beda dari batang pohon tempat mereka bersandar. Ini sudah lima menit keduanya hening tanpa bicara sedikitpun dan siang hari sebentar lagi akan berganti menjadi sore hari.
“Apa kita akan seperti ini? Apa kamu tidak peduli dengan keadaanku?” tanya Ree memecah hening sembari melihat dedaunan diatas mereka berdua bergerak seirama dengan hembusan angin.
Ree bersentuhan dengan Servio di jarak sedekat ini, bohong jika Servio tidak merasakan bahwa suara Ree dan tubuh wanita itu bergetar hingga berkeringat menandakan bahwa Ree merasa cemas. Servio sadar betul akan itu dan tetap ingin berada diposisi yang menurutnya lebih nyaman seperti ini.
Sementara Ree ingin menangis.
“Berikan sedikit waktumu untukku sebentar saja.” ujar Servio masih dengan posisinya yang cukup membebani Ree.
“Karena aku takut tidak punya tempat untuk seperti ini nantinya.” lanjut pria bersurai panjang itu.
Ree tertegun, arti ucapan itu entah mengapa terasa begitu dalam.
“He-hey! Jangan bercanda Servio, apa maksudmu?”
Tangan Ree terangkat dan dengan cepat mendorong kedua bahu pria jangkung itu agar dapat langsung menatap wajahnya. Seperti yang Ree resahkan, wajah Servio terlihat tidak bersemangat untuk hidup.
Tiba-tiba Servio terkekeh, namun tidak terlihat seperti menyenangkan. Itu terdengar seperti menertawakan dirinya.
“Aku tidak tahu bahwa akan secepat ini meminta bantuanmu. Namun aku merasa malu jika aku mengatakannya padamu.” ujar Servio. Pria itu bahkan tidak bisa menatap mata Ree secara langsung, aneh.
Kedua tangan Ree masih berada di bahu Servio agar mencegah pria itu bersandar pada dirinya lagi. Jika begitu lagi, Ree tidak tahu kapan mereka akan kembali ke asrama.
“Jika kamu malu, kenapa kamu memanggilku dan mengatakan kata-kata yang tidak masuk akal itu?” tanya Ree heran.
Ree tidak melarang Servio untuk meminta bantuannya, namun jika masih ada perasaan seperti rasa malu, bukankah lebih baik disimpan dulu. Kadang pikiran Ree bisa lebih buruk dari ini.
“Ree…” lirih Servio.
Akhirnya sorot mata Servio mampu ia arahkan pada lawan bicaranya.
“Apa karaktermu memang seburuk dan berhati dingin seperti ini?” tanya Servio kecewa.
Mendengar pertanyaan kekecewaan Servio, tangan Ree yang berada di bahu pria itu naik ke kedua pipinya meski Ree harus meraihnya dengan sedikit berjinjit.
“Apa kamu mengatakan kejujuran itu, agar aku bisa mengintropeksi diriku? Tidak! Itulah apa yang aku pikirkan!” ucap Ree kesal sembari mencubit pipi Servio sampai meninggalkan bekas merah dan sedikit bengkak.
Tentu saja Servio terkejut, baru saja perasaannya merasa jatuh dan kecewa tentang bagaimana tanggapan Ree. Lalu setelahnya menyelesaikan ungkapan kekecewaan itu Ree malah mencubit kedua pipinya tanpa ragu.
Jadi, sebenarnya apa yang saat ini ada di kepala Ree? Itulah pertanyaan terbesar Servio.
“Jika kamu malu tidak usah minta tolong padaku! Siapa yang kemarin malah menawarkan bantuan padaku tanpa ingin imbalan apapun?! Apa aku malu saat itu? Aku malah merasa khawatir, jika aku tidak bisa membalas apa-apa padamu. Lalu saat ini kamu malu menerima apa yang seharusnya kamu terima?! Lebih baik tidak usah kamu katakan padaku.” lengkap sudah kalimat ungkapan kekesalan dan alasan ucapan kejam Ree pada Servio.
“Ree, apa kamu marah?” tanya Servio sedikit takut karena Ree seperti meledak-ledak.
“Jadi apa yang ingin kamu mintai tolong itu?” tanya Ree setelah sekian drama yang terjadi diantara mereka.
__ADS_1
Wajah Servio menjadi sedikit tegang, namun ia tidak berniat mengulur waktu atau Ree akan kembali meledak-ledakkan emosinya.
“Ree, aku tidak ingin menikah.”
*
*
*
“Aku pulang.” ucap Ree membuka pintu kamarnya. Ternyata di kamarnya selain Ghea, ada Liliana disana yang sedang duduk di meja belajar Ree dan sedang menulis jurnal biologinya seperti biasa.
“Ah, selamat datang Ree. Tapi kenapa kamu nampak berantakan sekali?” tanya Ghea yang sedang menyeduh teh. Liliana tidak bertanya namun tatapan wanita itu berarti pertanyaan tentang penampakan Ree yang berantakan. Mulai dari wajahnya yang lusuh, baju seragam yang kusut dan noda-noda putih hampir diseluruh rok Ree.
Liliana bangkit berdiri dan menghampiri Ree.
“Apa ini?” tanya Liliana. Nampaknya ia tertarik dengan sisa-sisa obat Frigid di rok Ree. Namun Ree tidak bisa mengatakan siapa yang memiliki itu.
“Tadi aku bertemu pedagang obat dan tak sengaja beberapa botol obat tumpah mengenaiku.” Dengan lancar mulut Ree berbohong.
Liliana mengambil beberapa dengan jarinya dan melihat benda serbuk itu dengan jeli.
“Ree, aku tahu kamu berbohong. Katakan sejujurnya dari mana kamu mendapat benda ini?” tanya Liliana yang langsung tahu.
Frigid mengatakan bahwa Ree harus melupakan apa yang terjadi, itu berarti pria itu tidak ingin keadaannya diketahui orang lain.
Namun saat ini Ree berhadapan dengan Liliana yang merupakan salah satu murid yang pintar dalam sains. Kepintaran Liliana sendiri sudah dikenal oleh para pengajar di akademi La Priens. Tidak mengherankan bagi Ree karena setiap mengikuti kelas berburu, Liliana selalu membedah dan menggambar anatomi hasil buruannya. Ree ingat bagaimana Liliana membedah seorang diri rusa jantan untuk ia gambar anatominya. Bahkan para murid laki-laki ada yang muntah.
Ree sendiri tahu bahwa Liliana merupakan temannya yang mengerikan. Ya, salah satu yang mengerikan.
“Me-memangnya ada apa Liliana?” tanya Ree gugup.
“Ree, ini adalah obat terlarang.”
Ree hening, kepalanya mencerna ucapan Liliana barusan tentang obat Frigid.
“Tapi, Liliana, ini hanya obat saja.” ucap Ree merasa masih tidak masuk akal.
“Katakan, darimana kamu mendapatkannya? Obat ini adalah obat yang dibatasi penggunaannya. Tidak seharusnya mudah mendapatkannya.”
“Ceritanya cukup rumit Liliana.” timpal Reani sembari memijit kepalanya.
*
*
*
Akhir-akhir ini murid tahun keempat termasuk Ree sedang gencar mencari tempat mereka akan magang selama 3 bulan di luar akademi. Lokasi magang itu ditentukan dari minat masing-masing murid dan sesuai dengan fokus bidang keahlian mereka. Hal tersebut termasuk Ree. Karena akademinya adalah mencetak para perwira wanita di daerah militer khusus wilayah maritim, mau tidak mau Reani akan mencari lokasi magang di sekitar pesisir dan mungkin di pusat kota seperti yang pernah Smith tawarkan padanya.
__ADS_1
“Ree.” Tiba-tiba Liliana menghampiri Ree yang sedang berdiam di halaman belakang gedung B dan menyodorkan selembar kertas.
“Apa ini?” tanya Ree bingung.
“Itu adalah detail dari obat beberapa hari yang lalu. Aku dan profesor yang mengajar di kelas Kimia sudah menyeledikinya diam-diam.”
Liliana pun duduk di samping Reani dan berniat melanjutkan penjelasannya.
“Seperti yang kamu katakan, itu adalah obat dan hanya digunakan untuk menahan rasa sakit, orang-orang yang memakainya harus memiliki ijin dari dokter. Lalu, untuk penggunanya… obat ini sangat keras dan jika dikonsumsi dalam jangka waktu cukup panjang dapat merusak organ dalam. Kami sudah merinci beberapa senyawa kimia di dalamnya, salah satunya berfungsi untuk meningkatkan kerja jantung pengguna jika penggunaannya di bawah pengawasan dokter, namun seutuhnya barang itu merupakan racun.”
Ree dan Liliana menatap satu sama lain.
“Seperti yang kamu katakan, aku akan merahasiakan si pengguna obat itu. tapi, aku sarankan lebih baik ia berhenti untuk mengonsumsinya atau mungkin seperti dugaanku, ia sudah kecanduan dan tidak bisa lagi terlepas.”
Penjelasan Liliana tidak terdengar seperti candaan. Mungkin saat ini Frigid masih baik-baik saja setiap ia mengonsumsi obat itu, namun efek kedepannya akan lebih serius.
Liliana pun bangkit berdiri dan berniat untuk pergi karena ia melihat Servio muncul untuk menghampiri Reani.
“Ree, aku pergi dulu untuk mengumpulkan pengajuan dimana aku akan magang.” ucap Liliana lalu pergi tepat Servio mendekati Ree.
“Apa yang kalian dua bicarakan disini?” tanya Servio yang bingung karena melihat suasana Liliana dan Ree sangat serius.
Ree sudah menyimpan data statistik tentang obat yang Liliana berikan padanya di saku roknya sebelum Servio datang. Ree menatap Servio heran karena pria itu terlihat ingin tahu apa yang ia bicarakan dengan Liliana.
“Hanya obrolan ringan para wanita. Kenapa kamu kesini?” tanya Ree.
Tiba-tiba Servio menyodorkan sebuah kotak yang membuat Ree bingung serta penasaran tentang apa yang ada di dalam kotak tersebut.
“Apa ini?” tanya Ree yang jelas tidak ingin menyentuh kotak tersebut karena menaruh rasa curiga yang besar pada Servio.
“Sebenarnya sudah berapa lama kita mengenal satu sama lain? sampai kamu masih menaruh rasa curiga padaku terus?” Servio mengernyitkan dahinya heran dengan wanita yang berdiri di hadapannya ini.
“Justru karena belum lama mengenal, maka aku sampai seperti ini. Katakan, apa yang kamu berikan?” tanya Ree masih curiga.
Niat hati Servio ingin Ree membuka sendiri, namun nampaknya mustahil mengingat sifat Ree. Wanita itu tidak akan membukanya dalam waktu dekat karena curiga pada Servio. Pada akhirnya Servio pun membuka kotak itu dan menampakkan sebuah kain yang terlipat rapi lalu menunjukkan pada Ree.
“Lihat, ini bukan sesuatu yang patut kamu waspadai.”
Ree meraih benda di dalam kotak dan melihat dengan seksama, sewaktu Ree tarik dari dalam kotak lipatan kain berwarna merah itu menjadi sebuah gaun malam dengan lengan pendek dan cukup panjang.
“Justru yang aku curigai adalah alasanmu dibalik ini.” ucap Ree penuh selidik.
Keberadaan benda yang ada di tangan Ree bukanlah tanpa alasan ada dan Servio berikan begitu saja.
“Aku sudah jujur padamu beberapa hari yang lalu bahwa ada yang akan aku pinta darimu, yaitu pertolonganmu. Sore ini, kamu akan bersamaku pergi keluar asrama.”
Ree jelas masih mengingat apa yang Servio katakan padanya. Pria itu untuk pertama kali meminta bantuan Ree. Meski terlihat seperti Ree membalas jasa Servio yang telah membantunya, namun Ree juga tidak keberatan.
“Baiklah, aku akan membantumu mengacaukan pertunanganmu.”
__ADS_1
To Be Continued.