We And Problems

We And Problems
Chapter 22 : Tentang Cinta Pertama yang Misterius


__ADS_3

“Baiklah, kelas untuk hari ini selesai. Kalian bisa pergi.”


Ree baru saja menyelesaikan kelas Bahasa Asing untuk hari ini. Karena tidak ada lagi kelas setelah ini, Ree berencana untuk pergi sebentar ke ruang senat lalu kembali ke asrama.


Iya rencana awalnya begitu.


Sebelum Servio tiba-tiba saja ada di depan pintu kelasnya, nampak seperti menunggu seseorang yang sudah dipastikan siapa yang ditunggu.


Ree masih membereskan buku-bukunya dan membiarkan Servio menunggunya sedikit lebih lama.


“Ree, apa kamu punya rencana sehabis ini?” tanya Marco yang memang sudah duduk di sisi Ree.


Ree menggeleng.


“Aku tidak tahu, aku berencana akan mengunjungi ruang senat sehabis kelas. Ada apa Marco?” tanya Ree.


“Aku dan Liliana serta Maglina akan makan siang bersama. Aku ingin mengajakmu bergabung.” ucap Marco yang sudah membereskan barang-barangnya.


Servio sedikit jengah menunggu Ree yang belum muncul dari dalam kelas, hingga ia berpas-pasan dengan Frigid ketika keluar dari dalam kelas. Servio tidak tahu jika Frigid dan Ree sering bertemu di kelas yang sama. Suasana keduanya pasti sangat kacau, pikir Servio.


Di lain sisi Servio tidak terlalu peduli.


“Servio, apa yang kamu lakukan disini?” tanya Ree ketika ia sudah ingin keluar dari kelas bersama Marco.


Servio cukup kaget dengan keberadaan Marco yang merupakan lawan jenis juga seperti dirinya namun berdiri bersebelahan dengan Ree. Terlebih perempuan itu nampak nyaman-nyaman saja.


“Ah, nampaknya aku bukan satu-satunya.” ucap Servio melirik Marco penuh makna.


Ree mengerutkan dahinya tak mengerti dengan ucapan Servio.


“Ree, aku pergi dulu. sampai jumpa di makan malam.” ucap Marco pamit undur diri untuk segera menyusul Liliana dan Maglina.


“Ah, sampai jumpa.” Ree melambai kecil mengantar kepergian Marco.


“Lalu apa maksudmu?” Ree kembali dengan pembicaraan yang tidak masuk akal dari Servio.


“Kenapa kamu nampak baik-baik saja dengan Marco sementara aku tidak?” tanya Servio heran.


Ree cukup terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Servio. Ia tidak berpikir jika Servio akan bertanya seperti itu padanya.


Masalah kedekatan ia dan Marco, memang sejak dari awal Ree sudah sering bertemu Marco dan sempat terlibat masalah dengan salah satu putra keluarga Heittblood itu.


“Jika aku nampak baik-baik saja bukankah itu bagus? Meski tidak sepenuhnya benar baik-baik saja. Tetap saja selalu ada jarak jika aku berada di dekat Marco.” Guman Ree mengingat saat-saat ia duduk bersebelahan dengan Marco selalu saja ada pembatas di antara meja mereka di kelas yang tidak akan Marco sadari fungsinya untuk apa.


“Kamu memaksakan dirimu?” tanya Servio.


“Jika tidak, aku tidak akan bertahan. Bahkan untuk berdiri di depanmu saja aku mungkin tidak sanggup jika tidak menekan diri sendiri.” jawab Ree.


Jawaban itu terdengar menyakitkan, tentang bagaimana Ree menekan dirinya, namun usaha itu tidak lain untuk menghargai keberadaan orang lain di sekitar Ree. Ia takut, namun harus ia hadapi dengan memaksakan diri.


“Kau sudah makan siang?” tanya Servio mengalihkan pembicaraan.


“Aku baru saja ingin pergi ke kantor senat untuk menanyakan apa ada hal yang dikerjakan, jika tidak aku akan makan siang di asrama.” Ree menjelaskan rencana kegiatannya pada Servio.


“Jangan ke ruang senat, lebih baik ikut aku saja.” ucap Servio.


“Kemana?” tanya Ree penasaran.


“Kemana lagi jika bukan ke kandang peliharaanmu.” jawab Servio sembari tersenyum.


Tempat dimana Ree akan menghabiskan waktu seorang diri bersama dengan hewan tangkapannya, disitulah Servio mengajaknya pergi.


“Tapi aku tidak membawa sesuatu yang bisa dimakan.” ucap Ree ketika mereka sudah tiba.


“Itu kamu, bukan aku.”


Servio mengangkat sebuah keranjang yang di yakini berisi makanan, bahkan pria itu membawa alas duduk dan melebarkannya di atas rumput untuk mereka duduk.


“Entah kenapa di mataku, kamu terlihat begitu mencurigakan. Menyiapkan semua ini, apa kamu benar-benar mengajakku piknik di tengah hari?” tanya Ree tidak menyangka dengan apa yang ia lihat dari Servio.


Pria usil itu nyatanya tidak punya malu untuk menunjukkan sisi lembutnya pada Ree.


“Aku yang seharusnya heran padamu. Seseorang bersikap ramah dan baik padamu, bukankah tugasmu cukup menghargainya saja dan jangan menaruh curiga?” Servio melepas alas kakinya dan mulai membuka keranjang yang berisi beragam roti dan buah-buahan, tidak lupa botol berisi air.


Ree menuruti perkataan Servio dengan ikut duduk pada kain coklat yang di bentangkan Servio untuk duduk.


“Mengejutkan lagi, kamu tahu banyak caranya piknik.” Ree cukup takjub dengan persiapan Servio yang cukup mendadak itu.


“Aku punya keponakan perempuan yang selalu mengajak piknik. Karena kedua orang tuanya selalu sibuk bekerja, maka aku sering menemaninya.”


Ree tersenyum dan merasa geli.


“Aku jadi bertanya-tanya kemana Servio yang sering menggoda dulu.” timpal Ree sembari mulai menyantap roti lapis yang dibawa.


Servio adalah seseorang yang Ree maksud itu, ia seorang dan satu-satunya. Masih berada di hadapan Ree dan menyiapkan acara piknik dadakan ini seorang diri.


“Dia tidak pernah pergi kemana-mana, dia masih di hadapanmu saat ini.”


Nada serius yang terdengar membuat Ree memasang matanya pada pria yang duduk di hadapannya. Servio memang jarang mengeluarkan senyumnya dan selalu saja dengan wajah papan dan mengantuknya, namun ekspresi keseriusan beserta ucapan yang mendukung membuat Ree sedikit terkejut.


Nyatanya, ia masih belajar beradaptasi dengan lawan jenis dan bersama Servio lah ia mempelajarinya.


Di sisi lain, banyak hal baru yang belum pernah ia temui.


Bagi Ree, meski Servio mengatakan bahwa ia adalah orang yang terbuka namun tetap saja banyak yang Ree tidak ketahui tentang Servio.


“Aku tidak bisa membayangkan jika aku bertemu denganmu lebih cepat dari ini.” timpal Ree.


Ree tidak tahu apa yang akan terjadi jika ia lebih cepat bertemu dengan Servio di suatu tempat di luar sana. Apa akan sama yang terjadi di antara mereka dan mungkin Ree sudah lebih baik.


Ucapan Ree mungkin tidak ada maksud lain diluar kesepakatan mereka dan bagaimana mereka menjalin pertemanan saat ini. namun ketika sampai di telinga Servio, itu cukup mengejutkan.


Dalam satu detik ia hampir lupa bernapas dan berdebar.


*


*


*


Hari ini ruang senat begitu sepi dengan ketiadaan kehadiran seorang pun kecuali sang ketua. Meski luka pada lengan kanannya belum sepenuhnya sembuh dan sedikit sulit baginya untuk menandatangani dokumen atau sekedar beraktivitas kecil, namun ia tidak bisa mengabaikan pekerjaannya dan terus bergerak.


Ia dan Servio sama-sama di hukum dalam waktu yang cukup lama di asrama. Tidak peduli dengan luka mereka, tetap harus di kerjakan. Pekerjaan dapur dan kamar mandi di asrama dengan mudah menguras tenaga keduanya. Namun tidak akan mengubah keputusan Frigid yang sudah bulat untuk mengembalikan Ree ke akademi lamanya.


Frigid tidak pernah keberatan keputusan kementrian dalam perubahan status akademi tempat ia belajar hampir tiga tahun ini, ia bahkan sangat mengapresiasikan kebijakan kementrian dalam mengubah pandangan status sosial dalam pendidikan. Hanya saja, ada hal pada Ree yang tidak bisa Frigid toleransi lagi.


Frigid mengabaikan betapa kurang ajarnya ia pada kekurangan seseorang, tak lain hanya untuk akademi. Meski Ree mampu memaksakan dirinya dan bersikap biasa, namun tetap saja akan berpengaruh pada pribadi wanita itu sendiri.


Tekanan lingkungan yang berangsur menjadi beban pikirannya sendiri akan menjadi bom waktu yang bisa saja meledak dalam waktu dekat.


Semua orang mungkin tidak menyadari cara ia memaksakan dirinya, mungkin juga terlihat konyol, namun tidak di mata Frigid.


Wanita itu terlalu memaksakan diri.

__ADS_1


Meski sebenarnya ada sisi Ree yang Frigid cukup kagum, yaitu cara wanita itu berada di tengah suatu masalah orang-orang sekitarnya.


Caranya membuat Marco dan Viovarand berbaikan, serta membuat Alexander menikmati hari-harinya di akademi cukup membuat Frigid kagum. Meski bukan hal spesial dan ajaib, itu hanya karena keberaniannya saja.


Ree tidak seperti wanita yang disebutkan Servio pada malam mereka bertengkar, jelas berbeda, pikir Frigid.


Ree berani namun tidak mengorbankan dirinya, tidak dengan wanita yang sampai saat ini tidak ingin Frigid dengar namanya.


Ia menyiksa dirinya dengan kekurangannya seperti orang bodoh. Tidak ingin menerima bantuan dan pada akhirnya tidak diketahui keberadaannya.


“Nampaknya kamu terlalu banyak bekerja hingga kantung matamu sudah seperti tas peralatan kita berburu.”


Lamunan Frigid buyar. Alexander masuk tanpa mengetuk pintu dan membawakan Frigid sebuah cangkir berisi teh hangat untuk ketua senat satu itu.


“Padahal kamu belum lama ikut berburu ternyata sudah banyak tahu peralatannya.” timpal Frigid.


“Hahaha, setidaknya itu yang bisa aku ketahui. Apa kamu ingin camilan?” Alexander menawarkan sepiring biskuit coklat untuk Frigid.


“Terserah padamu.” Frigid menerima saja apa yang di bawa Alexander, karena hanya Alexander sampai saat ini terus bersama Frigid sampai waktu yang telah di tentukan.


Frigid pun bangkit berpindah ke sofa tempat Alexander sudah mempersiapkan seluruh kudapan yang diperlukan.


“Tapi Frigid, aku masih penasaran pada keputusanmu terhadap Ree, bukan aku menanyakan alasannya. Apapun alasannya kamu tidak bisa memidahkan seorang murid tanpa persetujuan murid itu terlebih tanpa alasan yang cukup berat untuk mengeluarkannya sepihak.” ucap Alexander.


Frigid tidak jengah mendengar rasa penasaran Alexander, ia juga tahu memindahkan seorang murid memerlukan prosedur yang cukup sulit. Terlebih Ree tidak pernah ada catatan hitam selama ia di akademi lama dan La Priens.


“Satu-satunya adalah meminta Ree sendiri yang menandatangani surat pindah itu karena keputusannya sendiri.” lanjut Alexander sembari mengingat bagaiman prosedur pindahnya seorang murid.


“Aku akan membujuknya.” timpal Frigid santai.


Alexander menatap Frigid datar, tidak mengerti betapa santainya Frigid berinisiatif.


“Aku tidak tahu bagaimana kamu membujuknya, karena aku saja sampai saat ini masih sulit berbicara dengan Ree secara nyaman karena ia mengabaikanku, apalagi kamu.” ucap Alexander seolah menyadarkan Frigid bahwa Ree bukan wanita yang mudah.


Ya, tidak ada wanita yang mudah di dunia ini, pikir Frigid.


“Aku akan pikirkan caranya.” ucap Frigid sembari menyesap tehnya.


Alexander hanya mendukung keputusan Frigid dalam hati dan menyemangati temannya satu itu meski ia tidak dapat membayangkan bagaimana Frigid menghadapi Ree yang sedang dalam mode mengabaikan seseorang.


*


*


*


Ree melewati makan siangnya dengan menyenangkan dan tenang bersama Servio. Mengabaikan kemana perginya Servio yang lama, Ree benar-benar berterima kasih dengan sikap Servio dalam memperlakukannya.


“Bagaimana perasaanmu saat ini? apa masih ketakutan?” tanya Servio kala mereka sedang berjalan menyusuri gedung B dan ingin kembali ke gedung utama akademi.


“Jujur saja masih takut dan gelisah, namun selama kamu tidak melakukan hal aneh-aneh aku rasa akan terbiasa seperti aku menghadapi Marco.” jawab Ree terus terang.


“Begitukah? Hmm… ku pikir bagus.” timpal Servio menatap lurus koridor tempat mereka sedang berjalan santai saat ini.


“Servio, boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Ree.


Servio dengan cepat menoleh pada wanita di sisinya.


“Apa itu?” tanya Servio cukup penasaran karena jarang sekali mendengar Ree ingin bertanya tentang hal yang berkaitan dengan Servio.


“Kenapa hanya gedung B tempat kamu patroli dan tidak boleh orang lain?” tanya Ree penasaran.


Ree ingat, ia pernah bertanya Alexander tentang kenapa mereka tidak pernah menyelusuri gedung B dan jawaban Alexander adalah tentang ada orang yang memang sudah menjaga gedung B.


“Apa aku tidak boleh tahu?” tanya Ree.


Servio menggeleng sembari merapikan beberapa helai rambut panjangnya yang menutupi wajah.


“Itu karena gedung B adalah tempat yang beharga bagiku dan aku berjanji menjaganya sampai aku lulus.”


Ree tidak menyangka Servio akan langsung menjawabnya.


“Beharga dalam artian apa?”


Servio berhenti berjalan dan singgah di salah satu jendela besar yang ada di sepanjang koridor. Jendela itu menghadap langsung gedung A yang mana di antara kedua gedung ada taman yang selalu ramai di isi oleh murid akademi maupun pengajar. Bahkan kadang praktek kelas luar ruangan juga diadakan di taman tengah itu.


“Aku dulu pernah menyukai seorang pengajar muda disini ketika aku baru masuk akademi.”


Servio membuka kotak masa lalunya yang tidak pernah di sangka oleh Ree bahwa Servio pernah menyukai seseorang.


“Pengajar itu perempuan ya?”


“Kamu pikir aku ini apa? Aku masih normal dari dulu sampai saat ini.” jawab Servio heran.


“Baiklah, abaikan pertanyaan tidak penting itu, lanjutkan kisahmu. Aku ini adalah pendengar yang baik.” pinta Ree.


“Haah, dasar.”


Sisi aktraktif Ree ketika mendengar cerita seseorang muncul begitu saja dan cukup mengejutkan Servio.


“Dia adalah pengajar perempuan termuda di La Priens dan telah mengajar selama 4 tahun dan ketika aku baru masuk La Priens tahun itu adalah tahun terakhirnya mengajar.” jelas Servio membawa Ree ke masa lalu pria itu.


“Kenapa itu tahun terakhirnya?” tanya Ree penasaran.


“Karena ia akan menikah dan pindah ke luar kota bersama suaminya.”


Servio mengingat perasaan kesalnya ketika mendengar seorang guru yang ia sukai ternyata akan pergi jauh bersama laki-laki yang menikahinya.


“Apa itu yang namanya cinta pertama?” tanya Ree hati-hati.


“Ahahaha… aku malu mengakuinya namun itu benar.” Servio tertawa renyah mengakui.


“Lalu apa hubungannya dengan gedung B ini? apa kalian sering bertemu di sini?” tanya Ree.


Servio tetap lurus menatap taman luas yang di isi beragam hayati itu.


“Tepatnya kandang hewan peliharaanmu itu. dulu kandang yang sudah kamu taruh kelinci dan rusa adalah kandang kelinci miliknya.”


Masih lekat di memori Servio seorang wanita berambut coklat panjang dan bergelombang selalu duduk mengelus kelinci putih yang ia pelihara di belakang gedung B dan selalu menyempatkan diri setiap hari mengulurkan tangannya memberi makan peliharaannya. Servio yang baru saja masuk dan meninggalkan kediamannya untuk waktu yang lama suatu hari sedang rindu rumah dan berdiam di dekat kandang dan bertemu dengan wanita itu.


“Apa kamu masih mengingat namanya?” tanya Ree.


“Tentu saja, siapa yang akan melupakan cinta pertamanya.” jawab Servio.


Mulai dari sosoknya hingga detail fitur wajahnya masih lekat di ingatan Servio. Bola mata hazel, hidung lancip dan kecil, kulit seputih porselen, dan bibir tipis merah muda serta surai coklat bergelombang yang sangat lembut.


“Namanya Margaretha, nona Margaretha.”


Ree berkedip beberapa kali untuk memastikan apa yang ia dengar dari mulut Servio barusan.


“Margaretha?”


*

__ADS_1


*


*


Tidak pernah ada yang bisa menebak kehendak alam, terlebih di alam liar seperti lokasi kelas Berburu kali ini. bukan di belakang akademi seperti biasa, kali ini rombongan kelas Berburu Ree dan teman-temannya pergi ke sebuah perbatasan kota yang mana hutannya masih sangat lebat dan dekat dengan permukiman warga yang sebagian besar adalah petani.


“Akhir-akhir ini karena masa panen sudah dekat, tidak jarang beberapa hewan liar dari hutan merusak pagar para petani dan memakan tumbuhan yang mereka tanam. Karena akademi bekerja sama dengan desa ini, jadi kita akan membuat kemah di dalam hutan dan membagi kelompok sebelum itu.” jelas Kyle pada murid tingkat akhir La Priens itu.


“Medan baru, masalah baru.” timpal Antonio ketika penjelasan Kyle sudah selesai dan tinggal pembagian kelompok oleh Millesium.


“Akan sangat menantang jika memang benar yang dikatakan Antonio.” Liliana sudah menyeringai dan menantikan apa yang bisa ia lihat di dalam hutan kali ini.


Alexander yang belum lama bergabung dengan kelas, cukup terkejut melihat sisi Liliana yang baru dan tidak malu-malu itu.


“Karena cukup luas kawasan hutan ini dan salah satu praktek di luar akademi yang penting, kelompok akan dibagi dalam jumlah anggota yang sedikit. Setiap kelompok hanya di isi dengan dua orang atau tiga, pembagian kelompok tidak acak, melainkan kami membagi berdasarkan kemampuan berburu maupun komunikasi antar sesama.” jelas Millesium saat mengeluarkan selembar kertas berisi nama kelompok.


“Kalian akan tidur bersama teman kelompok kalian, kecuali untuk murid wanita.” Lanjut Millesium.


Ree tidak peduli dengan siapa ia akan disandingkan dalam ujian praktek hari ini, iya setidaknya ia menaruh perhatian untuk tidak satu kelompok dengan satu orang.


Butuh waktu 10 menit untuk mengatur kelompok yang sudah dibentuk dan setelah itu para murid bersiap untuk masuk hutan dan mendirikan kemah di dalam sana. Kyle dan Millesium mengawasi seluruh muridnya yang berjumlah 40 orang itu dari belakang.


“Padahal kamu bisa membentuk kelompok acak agar mereka bisa saling komunikasi satu sama lain, kenapa malah membentuk sesuai kemampuan individu?” tanya Kyle pada Millesium.


Millesium terkekeh, memang benar apa yang dikatakan Kyle padanya. Ia bisa saja mengatur acak dan tidak perlu lama-lama mengelompokkan murid sesuai dengan kemampuan individu. Namun Millesium ingin berbeda, terlebih ia mengerjakannya dengan senang hati.


“Saya ingin mereka tidak melihat sebagai kebetulan dan keberuntungan. Namun karena memang mereka cocok bekerja sama. Kemampuan teori, praktek, fisik, serta komunikasi. Memang bagus membangunnya dengan mengacak, namun tidak semua orang dapat melakukannya. Jika mereka bersama dengan patner yang biasa dengan mereka berburu, itu akan lebih aman dan mereka bisa peduli satu sama lain.” jelas Millesium.


“Apa anda mempertimbangkan medan baru dan asing ini?” tanya Kyle.


“Bisa dibilang begitu.” Jawab Millesium.


Meskipun Millesium menjelaskan alasannya dengan sangat baik pada Kyle, nampaknya di sisi Ree, ia tidak dapat memahami kenapa ia bisa berpasangan dengan orang yang sedang ia hindari.


Apanya yang bagus berkomunikasi, Ree bahkan tidak ingin menatap patnernya hari ini.


Masih belum lama Millesium menyebut nama Ree setelah nama Frigid disebutkan. Meski teman-temannya menyerukan kekaguman atas terbentuknya tim unik ini, namun Ree tidak dapat memahami jalan pikiran Millesium selama membuat tim. Menurut Ree, ia lebih baik dengan Liliana atau Marco, namun Marco dan Liliana malah berpasangan. Bagaimana dengan Maglina? Ia dan Alexander adalah patner yang cocok.


Lantas apa kabar dengan Ree?


Ree tidak membenci Frigid, tidak sama sekali. Ia hanya kesal, rasa kesal dan membuat hatinya selalu sakit ketika menatap Frigid karena teringat dengan keputusan egois yang tidak jelas dari pria itu selalu membuat Ree tidak ingin menatap keberadaan Frigid sedikitpun.


Di perkemahan,


“Apa kau tidak bisa sedikit memperhatikan kerjaan kelompok kita dan terus menatap ke arah patner orang lain?” tanya Maglina heran ketika Alexander malah melamun ketika sedang merakit senapan untuk mereka berburu kali ini.


Praktek kali ini, memperbolehkan para murid untuk memegang senjata api dan mempelajarinya.


Alexander tersadar, ia terlalu lama menatap ke arah Frigid dan Ree yang sedang mempersiapkan peralatan berburu dalam diam.


“Ah, maafkan aku. Aku hanya khawatir dengan Ree.” ucap Alexander.


Maglina menatap kembali Ree dan Frigid, meski saling diam mereka bekerja cukup baik di mata Maglina.


“Mereka baik-baik saja, untuk apa kamu mengkhawatirkan Ree bersama Frigid? Justru bagus karena mereka bersama. Karena mereka seimbang.” ucap Maglina.


“Eh? Apa maksudmu seimbang?” tanya Alexander.


“Apa kamu lupa, padahal pernah satu kelompok dengan mereka di kelas berburu beberapa minggu lalu? Ree dan Frigid adalah pasangan yang cocok dan seimbang, mereka tidak saling mendominasi dalam memberi perintah atau semacamnya. Saling menerima pendapat satu sama lain. Coba kamu pikirkan, apa pernah Frigid menerima perintah dari orang lain?”


“Mengingat status Frigid di akademi ini dan aura dirinya itu sangat mustahil membuat Frigid melakukan sesuatu atas perintah teman-temannya.” ucap Alexander mengingat bagaimana karakter Frigid cukup disegani satu akademi.


Maglina tersenyum,


“Kamu benar, tidak ada yang berani menentang ucapannya dan Ree melakukannya.” ucap Maglina.


Alexander terdiam, apakah Maglina mengetahui ketegangan yang ada di antara Frigid dan Ree?


“Apa yang kalian bicarakan?”


Maglina dan Alexander terkejut dengan kehadiran Liliana serta Marco dari arah belakang.


“Hahaha, Alexander hanya sedikit mengkhawatirkan Ree yang satu kelompok dengan Frigid.” Jelas Maglina.


Liliana dan Marco kompak melihat pada objek yang dimaksud. Ree dan Frigid sudah siap untuk masuk ke dalam hutan dengan peralatan dan pastinya rencana yang matang.


“Mereka akan baik-baik saja, Ree adalah orang yang mudah beradaptasi.” ucap Liliana.


Marco setuju,


“Aku juga cukup sering satu kelompok dengan keduanya, Ree dan Frigid pasti baik-baik saja.” sambut Marco.


Iya, terlihat baik-baik saja dari luar, Alexander tidak tahu apa yang keduanya sedang rasakan saat ini.


“Meski nampaknya keduanya agak lebih tenang hari ini.” timpal Liliana.


Bukan tenang lagi, Alexander tidak tahu kesunyian apa yang membuat keduanya sangat tegang.


*


*


*


Hari ini adalah akhir pekan, meski akademi esok hari akan libur namun tidak berlaku dengan murid yang mengikuti kelas Berburu di berbagai tingkatan. Termasuk para murid kelas Berburu tingkat tiga yang mana Servio termasuk di dalamnya. Karena memiliki jadwal yang sama dengan senior mereka, tak jarang lokasi perkemahan harus berbeda dan cukup jauh satu sama lain, kini karena para senior mereka sedang berada di luar pagar akademi, maka angkatan Servio berada di lahan perkemahan tempat biasa Ree dan teman-temannya berkemah.


“Wah, lapangan ini justru lebih rapi dibandingkan di lokasi kita yang penuh dengan rumput dan lembab.” seru salah satu rekan satu tim Servio.


“Itu karena mereka memiliki murid perempuan pertama.” timpal yang lain.


“Enaknya punya murid perempuan. Apa kita tidak bisa juga seperti mereka?”


Servio hanya mendengar dan sibuk membersihkan anak panahnya yang akan ia gunakan nanti.


“Tapi, hanya tiga murid perempuan yang ikut.”


“Hahah kamu benar, aku satu kelompok dengan senior Maglina, kamu tidak akan tahu bagaimana cara ia menangkap hewan buruan hanya dengan satu tembakan anak panah. Terlebih senior Liliana yang sangat pintar.”


“Lalu bagaimana dengan senior yang satunya?”


Kompak ketiga rekan Servio menatapnya ketika mereka penasaran dengan Ree di lapangan berburu.


“Hey, Servio bagaimana menurutmu senior Ree?”


Ree ketika berburu di mata Servio?


Cara wanita itu memimpin jalan, memutuskan sesuatu, berdiskusi dengan rekan satu tim, serta caranya memerhatikan sesama.


“Ia adalah senior yang aku kagumi.”


 


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2