
“Tuan, surat dari tuan Luceat datang pagi ini.”
Beberapa hari kemudian, barulah tuan Florence menerima sepucuk surat yang datang dari Luceat. Kabar dari Luceat yang merupakan pemimpin kelompok pencari merupakan kabar yang dinantikan tentang bagaimana perkembangannya.
“Sayang apa yang ada di surat itu?” tanya Dandelia yang juga ada di dalam satu ruangan dengan suaminya.
Raut wajah ayah Servio nampak tak santai, membawa deretan kalimat berisi informasi itu dengan wajah yang sangat serius, bahkan Dandelia yang hanya melihatnya saja sudah was-was dan merasa sangat cemas.
Nampaknya surat selesai di baca dan berhasil menciptakan suasana yang sangat berat.
Sudah Dandelia duga rasanya, bahkan apa yang mereka cari adalah mustahil untuk didapatkan dan perlu pengorbanan yang sangat besar.
“Mereka menemukannya, namun tumbuhan itu tidak berada di wilayah Pulchra, melainkan Agnus.”
Dandelia memang sudah siap mendengar hasil seperti ini. Kemungkinan terburuk selalu ada dan ia tidak lagi memaksa kehendak orang lain dan dirinya.
“Sayang… sudahlah, hentikan saja semua.” pinta Dandelia menatap wajah suaminya sendu. Ia sudah sakit sejak lama, meski demikian ia tidak ingin melihat orang-orang yang ia sayangi juga sakit.
“Dandelia, bagaimana bisa kamu bicara seperti itu? kami semua sedang berusaha untuk kesembuhanmu. Tidakkah kamu berpikir bahwa yang kami lakukan untuk dirimu?”
Dandelia terdiam, semuanya memang seperti itu. Namun, mendapat perhatian dengan cara seperti ini juga menyakitkan bagi Dandelia. Ia selalu melihat wajah suaminya murung, lalu melihat putra bungsunya juga memaksakan diri.
Bagaimana bisa mereka melakukan semua itu hanya demi kesehatan Dandelia seorang?
“Aku mengerti perasaan kalian. Tapi, tidakkah kamu juga harus bertanya padaku? Aku tahu batasanku sampai mana…” Dandelia tidak bisa menebak kapan ia akan meninggalkan dunia, tapi setidaknya Dandelia bisa sedikit berharap menghabiskan waktunya bersama orang-orang yang ia sayangi tanpa harus seperti ini.
“Dandelia, cukup. Biarkan kami bertindak untuk hidupmu saat ini. aku tahu siapa yang harus aku hubungi… Aku akan mengunjungi tuan Cali.”
Keputusan ayah Servio membuat Dandelia membelalakan matanya. Keluarga Cali merupakan keluarga yang terpandang dan setara dengan mereka, namun yang membuat ayah Servio ingin pergi ke sana karena tahu bahwa keluarga Cali memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan Agnus.
Isu salah satu putra keluarga Cali menjadi seorang calon selir ratu di kerajaan Agnus sudah menjadi kabar lama di kalangan atas. Dandelia tentu tahu hal itu dan sangat menyayangkan keputusan mereka terkait Frigid. Karena itulah, ketika mendengar kerajaan Agnus disebuatkan Dandelia merasa mereka tidak perlu bertindak lebih jauh lagi.
Bagaimanapun, ia tidak sanggup membayar nominal yang dipinta oleh kerajaan Agnus.
*
*
*
“Ugh… akhir-akhir ini aku sering bolak-balik keluar kota… aku rasa ingin tidur seharian…”
Rasanya mungkin tidak ada yang bisa menyegarkan padangan Smith saat ini. tubuh dan pikirannya sama-sama lelah karena baru saja kembali dari perjalanan dinas. Smith tidak bisa menunggu lebih lama di Litore karena tugasnya di kementerian juga sedang banyak. Karena itu, Smith berencana untuk beristirahat sebentar di kediaman utamanya dan di sore hari ia ingin mengajak ibunya berjalan-jalan ke kota.
Namun, di tengah rasa kantuk yang luar biasa itu. matanya sayunya seolah menangkap suatu objek bergerak menuju ke arahnya dan nampak tak asing.
“Bukankan itu tuan Florence?”
Nampaknya suara Smith sampai ke telinga pria paruh baya yang baru saja masuk ke dalam kediaman Cali.
Smith tak menduga kepala keluarga Florence tiba-tiba saja mengunjungi rumahnya.
“Oh, tuan muda Smith. Nampaknya anda kelelahan.”
Smith hanya terkekeh karena memang adanya, ia bahkan tidak bisa membayangkan betapa besar kantung matanya saat ini.
“Ada apa tuan Florence? Nampak tak biasanya datang ke kediaman kami?” tanya Smith. Sejauh ini setahu Smith, jika ayahnya dan tuan Florence hanya berinteraksi di istana atau saat rapat.
“Saya hanya ingin bertemu dengan Leonard dan berbincang sebentar perihal kerajaan Agnus.”
Mata Smith yang semula terasa sangat berat dan ingin segera tidur itu tiba-tiba terbuka lebar mendengar kata Agnus disebutkan. Karena Smith sudah tahu masalah akhir-akhir ini pada keluarga Florence, nampaknya ada beberapa hal yang rumit hingga kepala keluarga Florence ingin berbicara perihal kerajaan Agnus dengan ayahnya.
“Saya kurang tahu kenapa sampai melibatkan kerajaan Agnus, namun saran saya tuan Florence, lebih baik anda tidak berhubungan dengan mereka.” Saran Smith.
Mungkin karena sudah memiliki pengalaman demikian membuat Smith tidak ingin ada korban lain lagi. Frigid saja masih sulit untuk diselamatkan dan Smith masih belum benar-benar menemukan obatnya, kini satu keluarga ingin mencoba menanyakan hal tersebut.
__ADS_1
Apa mereka memiliki harga yang setimpal?
“Entahlah tuan Smith, saya juga penuh pertimbangan untuk melakukan hal ini. saya juga tahu bahwa kerajaan Agnus tidak akan mudah memberikan apa yang memang milik mereka. Berbisnis dengan mereka sangat sulit bahkan hampir dikatakan mustahil.”
Mendengar penjelasan tuan Florence, nampaknya Smith bisa tahu bahwa pandangan orang-orang terhadap kerajaan Agnus hampir sama dengan dirinya.
“Tapi, hanya ini yang bisa saya lakukan, terlebih jika ini merupakan satu-satunya jalan.”
“Selalu ada jalan lain.”
Dengan cepat Smith menyambut ucapan tuan Florence yang menurutnya terlalu pesimis.
Sifat pesimis itu juga pernah Smith rasakan ketika Frigid baru-baru menerima obat dari ratu Agnesia. Sifat dimana ia hanya mengikuti alur tanpa berusaha bergerak sedikitpun.
“Selalu ada jalan lain yang mana tidak pernah kita duga sebelumnya.” Smith melanjutkan kalimatnya. Matanya tak ragu menatap wajah orang tua yang nampak sedang putus asa itu.
Raut wajah kesedihan dan terpojok dalam kehidupan, Smith tahu bahwa saat ini tidak ada pilihan lain yang bisa tuan Florence ambil.
“Saya mengatakannya karena saya juga pernah merasa demikian, sampai akhirnya saya bertemu dengan orang-orang yang tidak terduga dan berhasil memberi jalan lain untuk menyelesaikan masalah. Tuan Florence, entah apa yang sedang anda pikirkan, namun pilihan untuk berbisnis dan bersepakat dengan mereka tidak akan semudah itu dan harga yang mereka minta selalu hampir mustahil.” ucap Smith lalu pergi meninggalkan tuan Florence sendirian di lorong rumah mereka.
Bukan tanpa alasan, Smith yang hampir tidak bisa menemukan jalan lain bisa bertemu dengan orang seunik teman-teman Frigid. Mereka mungkin tidak terduga bahkan ada yang baru saling mengenal. Tapi mereka kadang lebih memikirkan hidup Frigid dari pada memikirkan bahaya dari apa yang sedang mereka lakukan.
*
*
*
Kehidupan manusia itu tidak terduga, sama seperti mahkluk hidup lainnya, tidak ada yang tahu panjang atau pendek jangka waktu mereka hidup. Dalam menjalani kehidupan, setidaknya semua orang diberikan kesempatan untuk saling mengenal orang lain yang berbeda dari dirinya.
Niat hati, pemikiran, bahkan kesan pertama setiap orang itu berbeda. Mungkin ada yang langsung saling menyukai, saling membenci, bahkan saling tidak peduli.
Itulah uniknya pertemuan yang menghasilkan berbagai macam kesan.
Setelah seminggu menghabiskan tenaga dan pikiran untuk membantu orang, akhirnya Ree dan Frigid bisa kembali ke Litore dengan kapal yang sama mengangkut mereka sewaktu berangkat. Meski kembali Ree diserang mabuk lautnya, ia juga ingin bertanya kesan Frigid dari pertemuan yang sudah mereka lakukan selama tujuh hari di kota Fiume yang mengesankan itu.
“Tidak… aku tidak merasa perlu melakukannya.”
Sayangnya pria yang diajak bicara itu kadang sangat aneh. Bagi Ree, Frigid tidak sepenuhnya pria dengan watak dingin. ia hanya pria dengan ketenangan pikiran dan bisa juga menjadi seseorang yang hangat.
“Benarkah? padahal menyenangkan bisa berkunjung ke sana dan membantu banyak orang. Tetapi, kenapa kamu tak akan merindukannya? Aku bahkan berminat untuk mengunjunginya lagi.” timpal Ree sembari mengingat bahwa apa yang sudah ia lakukan tidak hanya membantu orang yang kesusahan melainkan mengukir memori yang menyenangkan dengan membagi banyak cerita pengalaman satu sama lain dengan orang-orang yang ia temui.
“Karena aku tidak bisa melakukannya lagi, maka aku tidak merasa perlu merindukannya.” jawaban Frigid benar-benar membuat Ree dongkol.
Bagaimana bisa pria itu tidak ada kesan sama sekali.
“Lalu, bagaimana dengan menjadi relawan di sana? Setelah selesai, apa yang kamu rasakan ketika bisa membantu orang-orang yang masih banyak menyayangi hidupnya di sana?” tanya Ree ingin tahu lagi.
“Kenapa kamu bertanya seolah menjadi jurnalis? Apa kamu akan mengutip perkataanku dan memasukkannya ke dalam berita akademi?” tanya Frigid heran dengan rasa keingintahuan Ree terhadap perasaannya.
“Jawab dulu pertanyaanku! Kamu mengatakan ingin mendengarku berbicara, setidaknya jawab dulu.” desak Ree karena kesal dengan elakkan yang Frigid berikan ketika ia bertanya.
Karenanya Frigid terdiam, tak jarang ia tersenyum saat menjadi relawan dan harus membantu banyak orang. Mungkin sebelumnya ia tak pernah melakukan hal semacam ini dan tentang apa yang ia rasakan,
Apa boleh ia memiliki kesan?
Sejujurnya dalam benak Frigid, ia merasa sangat senang keluar dari zona yang selama ini seperti penjara baginya. Tanpa ada mata orang-orang yang menjadi pengawasnya, tanpa perlu dikontrol tentang apa yang harus ia lakukan, serta ia merasa bebas meski hanya sebentar.
“Aku rasa cukup menyenangkan.”
Ucapan Frigid refleks membuat Ree tersenyum puas. Karena jarang mendengar Frigid memiliki kesan seperti ini tentu saja adalah hal yang patut di apresiasikan.
“Mungkin kita datang saat dimana orang lain sedang kesusahan, namun aku cukup menikmati bekerja di sana.”
Sampai dimana Frigid harus kembali merasakan perasaan campur aduknya berkat ulah Ree sampai ia harus menghabiskan seminggu penuh dengan mengawasi tingkah laku perempuan itu sudah membuat Frigid lelah kembali.
__ADS_1
“Rasanya aku tidak mau kembali karena mengingat masalah yang masih belum aku selesaikan itu.” timpal Ree. Meski saat ini kepalanya pusing dan ingin muntah, mengingat bagaimana ia masih bersitegang dengan Servio membuat Ree tak ingin kembali rasanya.
“Tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan lari begitu saja… bahkan menurutku nampaknya tidak ada… kamu tidak dapat lari dari kenyataan.”
“Entah mengapa ucapanmu barusan terdengar mengesalkan. Apa kamu tidak ingin lari jika ada masalah besar menimpamu?” tanya Ree heran.
“Aku sudah tidak bisa lari sejak awal.” jawab Frigid.
Sejak awal, rasanya seluruh tubuhnya sudah dipasung dan tak bisa lari kemana-mana. Banyak mata mengawasi gerak-geriknya dan membuat Frigid bernapas saja sulit. Ia tidak bisa lari dan tak tahu kemana ia harus pergi.
Mendengar ucapan Frigid, membuat Ree teringat perihal pria itu mengonsumsi obat yang dilarang hanya untuk bertahan hidup. Cara Frigid membenci hidupnya dan cara ia bisa hidup, sungguh membingungkan Ree.
“Apa karena obat itu? yang membuatmu tidak bisa berlari…” tiba-tiba Ree bangkit berdiri dan berdiri di atas kasurnya untuk melihat lawan bicaranya.
Meski Ree harus berjinjit untuk bertemu muka dengan Frigid, itu karena ia ingin melihat seperti apa wajah orang yang sebenarnya sangat membingungkan Ree itu.
Tentu saja kehadiran Ree membuat Frigid terkejut karena ia memiringkan tubuhnya tepat di hadapan Ree ketika perempuan itu muncul. Dapat Frigid lihat, meskipun wajah Ree sangat pucat karena mabuk laut, perempuan yang masih mengenakan seragam relawannya itu terlihat sedang menantikan jawaban atas pertanyaan yang diberikan.
“Mungkin bisa kamu katakan seperti itu…” cukup ragu Frigid menjawabnya dan membuat wajah Ree berkerut karena bingung.
“Ugh… benarkah?” Ree juga bingung, karena padahal jika Frigid ingin, ia pasti bisa mendapat obat alternatif yang lebih aman. Tapi, sesuatu yang besar nampaknya belum muncul keluar.
Pria itu jelas menyimpan semuanya dalam hati dan Ree sendiri pun sadar akan batasnya untuk tidak bertanya lebih lanjut.
“Apa kamu tidak merasa aneh?” tanya Frigid pada Ree yang masih berdiri di atas kasurnya.
“Aneh? Ada apa?” tanya Ree bingung.
Frigid hanya mengeluarkan ekspresi ‘yang benar saja’.
“Itu tentang dirimu, bukankah kamu memiliki batasan?”
Barulah Ree mengerti, Frigid ternyata membahas ketakutannya.
“Bukankah kamu tidak bisa bertahan lama?” tanya Frigid lagi sembari menatap wanita di hadapan wajahnya itu sedikit dalam.
Perlahan Ree menurunkan kakinya dari ranjang dan wajah wanita itu tidak lagi terlihat di depan mata Frigid. Karena merasa ada yang tidak beres, Frigid yang awalnya hanya merebahkan dirinya mulai bangkit duduk dan menatap apa yang sedang Ree lakukan dengan berjongkok di lantai saat ini.
“Kamu benar… karena mabuk laut, aku jadi tidak merasa kamu adalah ancaman…ughh… karena aku pikir kamu bisa menolongku…ugh… aku ingin muntah…” sungut Ree setelah sadar bahwa mabuk lautnya sama sekali belum reda. Cepat-cepat perempuan itu pergi ke luar kamar dan mencari toilet untuk membuat apa yang ada di perutnya saat ini.
Entah Frigid harus senang atau semacamnya, ia hanya memberi peringatan malah seperti pengingat.
Lagi-lagi Frigid kembali bertanya, kenapa ia harus bersama dengan Ree.
Tapi, semenjak La Priens menjadi akademi campuran. Dunia Frigid seakan menjadi lebih luas dari sebelumnya. Bertemu dengan banyak jenis orang-orang terutama mengenal lebih dekat para murid perempuan yang datang dari berbagai kota di Pulchra.
Terutama Ree.
Sejak pertama tahu bahwa ada tiga orang murid perempuan yang mengikuti kelas Berburu merupakan hal pertama yang membuat Frigid mungkin terkejut. Sejak awal ia sempat memiliki pikiran seperti Antonio yang cenderung meremehkan, namun Frigid lebih memilih terdiam dan mengikuti saja hingga ia tahu bahwa Ree dan teman-temannya tidak bisa diremehkan begitu saja.
Selama ini hanya dua jenis perempuan yang Frigid tahu. Wanita yang menakutkan dan memiliki segala kekuasaan di tangannya seperti Agnesia dan wanita yang lemah dan membutuhkan perlindungan seperti Margaretha.
Anehnya, Ree tidak seperti kedua wanita itu.
Ia tidak memiliki kekuasaan sebesar Agnesia dan tidak memiliki kelemahan seperti Margaretha.
Ia seperti mengikuti arus.
Wanita itu sadar punya kelemahan, namun tak mau mengurung diri dan berusaha keluar dari zona nyamannya meski harus menderita.
Rasanya Frigid tidak menyesal keputusannya untuk tetap di La Priens sampai kelulusan dan mendukung peralihan sistem La Priens sampai saat ini.
To Be Continued.
__ADS_1