We And Problems

We And Problems
Chapter 80 : Pergi Ke Leafa


__ADS_3

Dua hari setelah keberangkatan rombongan keluarga Lumen ke Agnus, Ree kembali disibukkan dengan kegiatan magangnya bersama Liliana dan Frigid.


Saat ini kabar berita tentang pemberontakan di kota Leafa menjadi topik yang hangat di seluruh negeri karena keberanian Yohan sebagai pangeran muda mampu memimpin pasukan kerajaan dan memperjuangkan situasi politik di wilayah Leafa. Persetujuan tentang kepemimpinan Yohan membawa banyak perdebatan di seluruh negeri. Beberapa pihak bangsawan nampak tak setuju namun bukan berarti sebagian besar karena pendukung di belakang Yohan lebih besar dari yang dibayangkan.


Namun meski pemberontak berhasil dipukul mundur oleh Yohan dan pasukannya. Banyak hal yang berdampak dalam kota Leafa entah itu mulai dari operasional kota hingga pasokan bahan baku yang biasanya datang dari luar kota menjadi terhambat.


“Saat ini markas dari Litore memberikan kuota untuk beberapa relawan yang bersedia membantu di kota Leafa selama beberapa minggu. Kalian bisa mengembalikan formulirnya setelah diisi dan sebenarnya ini tidak begitu wajib untuk anak magang.”


Setelah diberikan formulir oleh pembimbing magangnya Ree dan Frigid hanya memandang dalam dia kertas formulir untuk menjadi relawan di kota Leafa.


“Bukankah ini kota tempat Yohanna magang?” tanya Ree.


“Itu benar…” timpal Frigid.


Ree juga tahu bahwa Brina sempat berada di Leafa.


“Hmm, baiklah…” ucap Ree lalu mengeluarkan pulpennya dan menulis di atas formulir kosong itu.


“Kamu akan pergi?” tanya Frigid tak menyangka.


“Kenapa?” tanya Ree acuh.


“Ini bukanlah hal wajib dan kenapa kamu ingin pergi sejauh itu?” tanya Frigid.


Frigid pikir, Ree tidak akan peduli dan tidak akan mendaftarkan diri menjadi relawan di kota Leafa yang notabenenya cukup jauh dari Litore.


“Dan juga kamu mabuk laut, bukankah perjalanan ke sana cukup memakan waktu?”


Ree menyampingkan kenapa Frigid cukup banyak bertanya saat ini dan memilih menjawab saja.


“Itu benar, tapi kesempatan ini tak akan datang dua kali. Di sana ada Yohanna dan Yohan, kamu bisa bertemu dengan mereka…terlebih aku ingin tahu apa saja yang mereka lakukan.” Ree ingat tujuan Yohanna di Leafa tak sekedar magang


Tentang obat untuk penyakit Frigid, Ree ingin tahu perkembangannya sudah sampai mana.


Tapi orang yang memiliki kaitan erat dengan penelitian itu malah seperti masa bodoh.


Ree seharusnya tak menghiraukan orang seperti Frigid, pikirkan saja bahwa tidak ada perjuangan sia-sia. Banyak orang yang juga membutuhkan obat itu.


Tanpa pikir panjang Ree pergi mengumpulkan formulir itu dan keluar dari ruangan tempat mereka berkumpul untuk pergi makan siang bersama Liliana.


*


*


*


Sementara itu di ibukota Agnus, Luceat ditempatkan di sebuah ruangan yang cukup luas untuk seorang pelaku pencurian. Luceat tidak diperlakukan buruk oleh prajurit karena reputasi keluarga Lumen di Agnus cukup disegani dalam masalah perdagangan dan import bahan baku dari luar negeri.


Ya, Luceat mungkin mendapatkan perlakukan yang tak buruk dari pihak Agnus, namun ia lebih mencemaskan wanita yang ditangkap bersamanya ada di penjara istana saat ini. Tak mau duduk diam di dalam ruangannya, Luceat harus memikirkan dan menjalankan rencana yang mana dapat meminimalisir kerusakan.


Di tengah lamunannya, pintu ruangannya tiba-tiba dibuka oleh seorang pengawal berseragam kerajaan Agnus dan Syricie datang menghampiri Luceat.


“Kami mendapat pemberitahuan bahwa keluarga Lumen akan datang berkunjung menemui Yang Mulia untuk kasus anda tuan Luceat Lumen.” Ucap Syricie tanpa basa basi dan berniat langsung pergi.


“Tunggu!!” ucap Luceat.


“Bagaimana dengan wanita itu?”


Syricie sempat terdiam beberapa detik.


“Dia sedang berada di ruang tahanan dan akan diperiksa keterkaitannya denganmu.”


“Sungguh! Dia tidak melakukan kesalahan apapun!” Luceat tidak akan sampai hati jika wanita yang menolongnya malah mendapat musibah akibat dari dirinya yang nekat.


“Semua keputusan akan ditentukan oleh Yang Mulia, bagaimanapun wanita itu telah melakukan transaksi terlarang. Ia tahu dengan jelas peraturan negara ini.”


Mungkin sempat membuat lutut Luceat lemas ketika mendengar kata-kata itu.


“Aku tidak akan membiarkannya…”


Kali ini, jangan lagi Luceat menyakiti wanita.


*


*


*


“Apa yang kamu lamunkan Liliana?” tanya rekan Liliana di Laboratorium ketika melihat gadis mungkin itu menatap kosong api spiritus yang membakar cairan kimia milik Liliana.


“Aku yakin mereka sudah tiba di Leafa, butuh waktu 5 hari dengan kapal untuk pergi ke sana dari Litore.”


Seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Liliana, rekan kerja Liliana menghibur gadis itu dengan mengajak Liliana pergi makan siang di pusat kota.

__ADS_1


Masalahnya, bukan pada jalan-jalan yang dilakukan Ree serta Frigid, melainkan hasil yang Yohanna dan Brina perjuangkan di Leafa.


Sudah sejauh mana penelitian mereka tentang obat penyakit Frigid?


*


*


*


Di mata lelah Ree saat ini, bukan sebuah pantai dengan pasir putih dan lautan yang biru muda, melainkan sebuah dermaga besar yang mana pijakannya terbuat dari kayu yang keras dan ramaikan perahu serta kapal berjejer dan suara-suara ramai orang-orang.


Padahal setahu Ree, daerah yang ia pijaki saat ini adalah daerah konflik internal kerajaan dimana perebutan kekuasaan saat ini sedang terjadi.


“Jadi ini kota Leafa. Kota ini cukup ramai meski situasi pemerintahan sedang memanas.” Timpal Frigid yang ikut turun dari kapal militer yang membawa mereka dari Litore.


Mengejutkan.


Siapa yang menyangka Ree akan melihat orang yang tak bergairah itu akan ikut dalam perjalanan ke Leafa.


“Leafa tidak seperti Litore yang mana berfokus pada wisata dan industri, Leafa adalah wilayah yang fokus pada perdagangan. Daya tarik alam Leafa lebih ke pedalaman hutan dibanding pesisir.” Jelas Ree.


Tak lama keduanya berdiam di dermaga, seorang pria mengenakan setelah jas coklat datang menghampiri.


“Tuan muda Cali dan Nona muda Lumen, Putri Yohanna sudah menunggu kedatangan kalian.” ternyata pria itu adalah utusan dari Yohanna untuk menjemput Ree dan Frigid.


“Benarkah!? Baiklah, kami akan menemuinya.” Ree senang jika Yohanna sudah menunggu kedatangan ia dan Frigid.


“Frigid, ayo…”


Ree terdiam ketika melihat Frigid hanya termanggu di tempat ia berpijak. Seolah tak begitu menggubris ajakan Ree, pria itu hanya diam sementara orang-orang di sekelilingnya bergerak mengurusi urusan masing-masing.


“Aku tidak merasa perlu menemuinya.”


“E-eh?!”


Ree dan pria utusan Yohanna sama-sama kaget karena ucapan Frigid yang dingin itu.


Frigid tidak menggubrisnya dan pergi melanjutkan perjalanannya menuju pangkalan militer Leafa, tempat dimana mereka akan menginap bersama pasukan dari Litore.


“Ini mengejutkan, saya akan berbicara dengannya pelan-pelan… berikan saja alamatnya pada kami.”


“Ah, benar juga.” Pria itu pun menuliskan alamat laboratorium dan memberikannya pada Ree.


Tanpa menunggu lama, Ree langsung pergi menyusul punggung Frigid yang sudah hampir tak terlihat lagi dari kerumunan orang-orang.


Sesampai di markas militer, mereka yang datang sebagai relawan itu tak langsung beristirahat karena harus pergi ke balai kota untuk memastikan bantuan pangan tiba di balai kota dan siap didistribusikan ke daerah yang terkena dampak konflik.


Selama kegiatan Frigid nampak menghindari kontak mata dengan Ree ataupun interaksi dengan wanita itu karena tahu Ree akan mengungkit sikap kurang sopan Frigid yang kekanak-kanakan itu.


Puncaknya Ree tak tahan lagi dan langsung menghampiri Frigid ketika mereka selesai dan istirahat.


“Tak bisakah kau menghargai undangan orang lain?” tanya Ree heran.


Uniknya Ree datang menghampiri Frigid sambil membawa makanan untuk pria itu karena semua relawan dibagikan makanan setelah bekerja.


Karena sudah sore, angin di sekitar pesisir semakin kencang dan dingin. keringat yang dihasilkan karena bekerja siang tadi bercucur begitu saja dan menjadi sejuk di kulit Ree. Tangan kanannya menyodorkan sekotak makanan untuk Frigid karena semua orang mendapat satu jatah makanan.


Ajaibnya Frigid menerima kotak makanan itu namun tanpa sepatah kata lalu pergi melewati Ree.


Baru saja melewati tubuh Ree, Frigid kembali dihadapkan oleh seorang pria.


“Pangeran Yohan ingin menemui anda.”


Lagi-lagi?


Ya, kedatangan Frigid di Leafa mungkin mengejutkan Yohan maupun Yohanna.


Karena ingin tahu lebih lanjutnya Ree menghampiri Frigid.


Kali ini, apa yang akan diputuskan oleh Frigid?


*


*


*


Laboratorium itu tak jauh dari balai kota, kira-kira dengan mobil yang dibawa oleh utusan Yohan itu memakan 10 menit untuk tiba. Tak disangka ternyata Ree juga diminta untuk pergi ke sana karena alamat yang diberikannya adalah alamat laboratorium. Di samping wanita itu duduk seorang pria yang sejak tadi bersikeras tidak ingin pergi.


Keluarlah mereka dari mobil itu dan menghadap sebuah gedung bertingkat dua yang berwarna putih itu dan masuk ke dalamnya. Siapa sangka di belakang pintu masuk utama sudah ada Yohan di sana menunggu dan wajah pria bersurai blonde itu sangat senang melihat wajah pucat Frigid masuk ke dalam laboratorium.


“Frigid!! Kamu datang!” sambut Yohan dengan gembira.

__ADS_1


Ya pria itu tiba, pikir Ree.


“Jadi bagaimana?” tanya Ree yang langsung masuk ke dalam obrolan.


“Tentu saja semuanya berjalan dengan lancar… kami mengumpulkan orang-orang dengan gejala yang sama dan hampir dari 80 persen mengalami kemajuan… semua tak lepas dari usaha Yohanna dan Nyonya Wizzle selaku peneliti dari obat itu.” ujar Yohan memperkenalkan Wizzle ke hadapan Ree dan Frigid.


“Pencapaian yang luar biasa…” tak berhenti Ree takjub akan usaha Yohanna di Leafa hingga melibatkan cukup banyak orang demi seorang teman.


Ya, semua ini tak akan dimulai jika tidak didorong oleh suatu hal yang besar dan berarti.


Yohanna dan Yohan melihat kehidupan yang Frigid miliki sangat berarti dan berusaha dengan penuh untuk mencari jalan keluar dari permasalahan Frigid. Setidaknya untuk saat ini mereka berusaha.


“Dan… jika tidak keberatan, Frigid…” Yohan langsung mengalihkan pandangannya pada sahabat karibnya yang sejak dari tadi terus berdiam tanpa membuat suara sedikit pun.


“Aku pikir hanya untuk menemuimu saja, setelah melihat semuanya, nampaknya kamu baik-baik saja untuk memimpin sebuah wilayah, Yohan.”


Pria itu sama sekali tidak ingin membahas tentang penemuan obat.


“Aku akan kembali ke markas, semoga semuanya berjalan lancar.”


Kali ini Ree tidak bisa menahan kegeraman hatinya.


Maksud dari tujuan Yohan mengundang Frigid untuk bertemu di laboratorium bukan untuk bersapa saja, melainkan untuk melihat respon Frigid dan kesediaannya mencoba obat yang dibuat oleh mereka. Setidaknya obat itu lebih aman dari apa yang diberikan oleh Agnesia.


“Ah… iya, kamu pasti lelah selama perjalanan ke sini, setidaknya istirahatlah dulu…” dan bodohnya Yohan malah terlihat seperti orang bodoh.


*


*


*


Setiap saat, meski sedang berada di Litore atau di akademi, Frigid sangat jarang makan bersama orang lain kecuali Yohan dan Yohanna untuk di akademi. Maka setiap jadwal makan, Frigid akan mengambil waktu yang agak lambat untuk mencari meja kosong agar dirinya bisa makan sendiri.


Meskipun tindakannya sering kali ditegur oleh pengawasnya.


“Apa kamu sengaja? Membuatnya terlihat seperti orang bodoh?”


Nampaknya malam ini Frigid akan ditemani oleh omelan Ree untuk santapan sampingannya.


“Apa maksudmu?” Frigid nampak bingun dan semakin membuat Ree geram.


“Kamu tidak melihat wajahnya tadi? Ia benar-benar ingin membantumu dan responmu begitu dingin? setidaknya sedikit, apa kamu pernah memikirkan perasaan orang lain ketika mereka melakukan ini untukmu?” tanya Ree heran.


Jika Ree menjadi Yohan mungkin ia akan sangat kecewa dan tidak ingin bertemu dengan Frigid. Namun Yohan berbeda, ia tidak akan meninggalkan Frigid dan masih akan berusaha untuk membebaskan Frigid dari belenggu kehidupan pria itu.


“Apa yang bisa aku perbuat? Apa aku harus menerima begitu saja? Apa pertimbangan dari pasien sepertiku sangat tidak penting? Jujur saja, obat yang mereka temui adalah sesuatu yang baru dan baru 80 persen pasien yang menunjukkan kemajuan baik, bagaimana jika aku adalah 20 persen dari pasien yang tidak berhasil itu?”


Secara logika, pendapat Frigid tentang obat temuan itu masuk akal. Ia telah mengonsumsi obat dari Agnesia dalam waktu yang cukup lama hingga membuatnya ketergantungan saat ini. Ia tidak akan tahu bagaimana tubuhnya merespon ketika ia beralih ke obat yang Wizzle buat itu.


Cukup menjadi perenungan bagi Ree bagaiman akhirnya Frigid mengeluarkan pendapatnya.


“Tetapi, bukankah kamu ingin cepat mati?” tanya Ree dengan cepat.


Itu benar, selama ini Frigid hanya mencari cara agar ia cepat mati saja dan tidak usah hidup dalam kehidupan yang menjijikan seperti ini.


“Cara cepat mati adalah dengan mencoba obat baru itu…”


Rasanya tidak percaya jika Frigid mendengar kata-kata kejam itu dari seseorang yang pernah melarangnya untuk mati tenggelam di danau saat tengah malam yang lalu.


“Aku bukannya menyuruhmu untuk cepat mati, tetapi aku tidak bisa melihat caramu menanggapi usaha dan kerja keras Yohan serta Yohanna terhadapmu… Itu seperti kamu menghancurkan hati mereka berkeping-keping, menyakitkan.”


“Kamu terlalu mendramatisir kenyataan, apa kamu punya jaminan aku akan langsung mati ketika mengikuti pengobatan itu?” tanya Frigid.


Jujur saja, Ree tidak ada persiapan untuk menjawab pertanyaan Frigid itu.


“Segitunya kamu ingin cepat mati? Apa yang salah dari hidupmu? Tidak bukan itu seharusnya pertanyaanku!!” seolah tahu bagaimana orang yang ia ajak bicara itu, tiba-tiba Ree menyerah sendiri.


Jeda sunyi itu berlangsung selama 30 detik, dimana Ree dengan mulut setengah terbukanya menatap wajah tembok Frigid hingga tersadarlah perempuan itu mengatup sempurna bibirnya.


Mengevaluasi diri dan mempertanyakan pada diri sendiri, kenapa ia harus antusias seperti ini.


Ree ingin menertawakan dirinya.


“Lantas, mengapa kamu datang ke pulau ini? Apa hanya sekedar menjadi seorang relawan mengisi hari-harimu yang membosankan itu?” Ree menurunkan tatapannya pada Frigid yang sudah selesai menyantap makanannya.


Kali ini giliran Frigid yang mengevaluasi diri dan tindakannya.


Detik-detik terakhir mengumpulkan formulir relawan, ia datang ke ruangan membawa selembar kertas berisi data diri dan memberikannya kepada petugas yang bertanggung jawab. Ketika ditanya kenapa ia baru mengumpulkannya setelah orang lain, lantas bagaimanakah jawaban Frigid?


“Setidaknya, sebelum benar-benar pergi dari Pulchra, aku ingin melihat wilayah kekuasaan temanku dan bagaimana ia akan menjalankan pemerintahan di wilayahnya sendiri.”


Logika pertemanan Frigid dan Yohan mungkin tidak dapat dipahami oleh siapapun termasuk Ree itu sendiri. Yohan berjuang untuk hal lain dan tentang bagaimana Frigid ingin menghargai setiap perjuangan Yohan sedikit berbeda.

__ADS_1


“Kamu benar-benar menyebalkan.” Begitulah ucap Ree menutup makan malam bersama mereka dan pergi dari meja makan Frigid.


To Be Continued.


__ADS_2