We And Problems

We And Problems
Chapter 50 : Seseorang dan Topengnya


__ADS_3

Luceat mengunjungi Akademi Wanita Litore bukan tanpa alasan. Tak lain adalah orang yang ada di belakangnya yaitu putra sulung keluarga Cali, Smith.


Tidak ada yang tahu aktivitas antara mereka berdua. Smith saat itu juga berada di Litore dan bertemu dengan Luceat. Sebelum ia kembali ke Crystallo, Smith menitip pesan pada Luceat untuk mengunjungi akademi tempat Ree menempuh pendidikan sekaligus tempat dimana wanita bernama Margaretha bekerja.


“Tuan Smith, ini surat yang anda butuhkan.” Lamunan Smith saat berada di ruang tunggu di La Priens dikejutkan oleh seorang staf administrasi yang memberikan surat yang ia inginkan. Pekerjaannya sebagai orang kementerian membuatnya harus mengunjungi akademi hampir di seluruh negeri dan tak jarang bolak-balik ke La Priens.


Setelah mendapat apa yang ia inginkan, Smith pikir pekerjaannya di La Priens hari ini selesai dan ia berniat untuk kembali ke kementrian. Matanya beralih ke arlogi analog yang melingkar di pergelangan kirinya.


“Ini masih terlalu awal. Aku berkeliling saja.” Smith dengan senang memutuskan apa yang harus ia lakukan.


Langkahnya pun memasuki kawasan yang cukup ramai dengan para murid laki-laki dan perempuan itu. Halaman tengah akademi membuatnya bernostalgia karena ia pernah menghabiskan waktu mudanya di sini. Hampir seluruh seluk-beluk akademi ia masuki sebelum lulus dan itu menyenangkan ketika mengingatnya.


Termasuk juga gedung B yang saat ini menjadi primadona tempat Servio berjaga dan menetap setiap waktu di akademi.


“Benar juga, wanita itu pernah menjadi staf pengajar magang di sini. 2 tahun lalu kah? 3 tahun lalu kah?” Smith mengingat-ingat seorang wanita yang pernah menjadi pengajar di La Priens ketika ia melihat gedung B.


“Margaretha, wanita itu. Apa kabarnya?”


Di usianya yang sudah menginjak 18 tahun ia lebih banyak menghabiskan waktu di akademi dari pada di kediamannya. Namun setiap musim dingin, Smith akan kembali ke kediaman utama Cali di Crystallo.


Suasana kediaman selalu sunyi dan tenang seolah tidak ada yang tinggal di dalamnya. Namun keadaan rumahnya selalu bersih sepertinya para pelayan rumahnya mengerjakan tugas-tugasnya yang sewajarnya. Smith setidaknya menghabiskan masa liburnya dua minggu di kediaman sebelum ia sibuk dengan kegiatannya di akademi.


Malam sudah larut dan salju di luar sana sudah berjatuhan dan menumpuk memenuhi bumi dengan warna putihnya. Smith bisa melihatnya dari jendela besar yang ada di sepanjang koridor lantai dua kediamannya. Karena bulan di malam itu tertutupi awan membuat lorong rumahnya begitu gelap. Namun, Smith tidak membawa apa-apa sebagai penerangnya. Matanya yang melamun menatap cahaya lilin dari kejauhan semakin mendekat. Tidak ada suara langkah kaki yang membawanya namun Smith bisa tahu siapa yang ada di hadapannya itu.


Tanpa ragu Smith berjalan mendekati pemilik cahaya lilin itu dan melihat wajahnya lebih dekat.


“Bukankah kamu adalah pelayan yang selalu bersama Frigid? Namamu Margaretha, bukan begitu?”


Smith berbicara pada wanita yang membawa wadah lilin itu, menatap lurus wajah wanita yang jarang ia lihat karena keberadaannya di kediaman saja sudah jarang. Namun Smith bisa tahu begitu saja. Margaretha adalah pelayan muda yang berusia sama dengan Smith. Pelayan itu diperintahkan untuk menjaga Frigid dari sekian banyaknya pelayan di rumah mereka.


“Tuan muda... kenapa??” nampaknya wanita bernama Margaretha itu tak menyangka akan berpas-pasan dengan Smith di lorong gelap pada tengah malam seperti ini.


“Tentu saja tempat ini tak jauh dari kamarku. Lagipula, apa yang kamu lakukan di tengah malam di sini dan kenapa kamu berasal dari ruang kerja ayahku?”


Wanita yang masih menggunakan baju seragam khas pelayan keluarga Cali itu nampak kaget. Smith merasa ia tidak menanyakan hal lebih, ia hanya berpikir bahwa Margaretha tidak berasal dari kamar Frigid karena arahnya bertolak belakang.


“Kenapa kamu diam?” mungkin berselang waktu 30 detik dari pertanyaan yang Smith lontarkan namun tidak mendapat jawaban dari Margaretha. Mata Smith mulai menyelusuri Margaretha dari bawah sampai pada wajahnya secara seksama. Wajah Margaretha tak nampak seperti orang yang baik-baik saja, lebih nampak ketakutan dan gelisah.


Seolah mengerti, Smith langsung menatap tajam Margaretha untuk meminta penjelasan tentang apa yang sedang ia lihat saat ini. tanpa aba-aba Smith langsung mengangkat rok panjang Margaretha hingga sepaha dan melihat lebam biru di sana. Wanita bersurai coklat bergelombang panjang itu mulai berlinang air matanya dan menatap Smith yang masih berlutut di hadapannya.


Smith terdiam. Seburuk ini kah keadaan keluarganya? Pikir Smith. Ia memiliki adik yang sakit-sakitan dan telah ‘dijual’ ke orang lain, lalu ayahnya bertingkah seperti ini?


“Tuan muda… maafkan saya…”


Dengan segala paksaan akhirnya Margaretha mau mengatakan apa yang terjadi padanya. Selama ini ternyata terdapat beberapa malam akan di panggil oleh tuan Cali yaitu ayah Smith dan Frigid untuk melayaninya. Margaretha sendiri tak bisa menentangnya dan juga sekaligus merasa paling berdosa karena menyetujui hubungan gelap antara dirinya dan tuannya sendiri. Bahkan Margaretha sendiri di ancam oleh kepala keluarga Cali itu jika tak menuruti perkataannya.


“Apa kamu ingin keluar dari kediaman ini?” tanya Smith pada Margaretha keesokan harinya.


Margaretha yang sedang menuangkan teh dan menyiapkan camilan untuk salah satu tuannya itu terkejut mendengar tawaran Smith. Saat ini Smith sedang berada di ruangannya dan mengajak Margaretha untuk berbicara, hal itu wajar saja karena mereka seumuran.


“Kamu bukanlah orang yang bodoh, bukan begitu? Jadi aku rasa aku tidak ingin dua kali mengatakannya.” ucap Smith pada wanita yang berdiri di sampingnya saat ini.


“Ta-tapi tuan Smith, saya tidak yakin saya bisa hidup di luar…” Margaretha terlihat begitu resah, ia selalu mengenakan seragam dengan lengan panjang. Bukan tanpa alasan, ada luka yang disembunyikan di sana. mungkin tidak terlihat begitu parah, namun Smith tahu, perasaan wanita itu sangat tersiksa.


“Dengan kekuatanku saat ini tidak sulit untuk meloloskan satu pelayan sepertimu. Jika kamu mau, kamu bisa masuk akademi dan melanjutkan pendidikanmu.” Tawaran Smith memang sangat tidak terduga. Margaretha tak menyangka akan bertemu dengan tuan seperti Smith. Tak terasa baginya, air matanya jatuh begitu saja dan mengangguk.


“Tuan, tolong lepaskan saya…” wanita muda itu sesegukan seperti anak kecil yang merengek, melihatnya cukup membuat Smith kewalahan dan merasa lucu sekaligus.


Smith tidak takut apapun, bahkan ayahnya sekalipun. Ia tidak bodoh dan tidak berpatokan dengan keluarga. Apa yang ia lakukan hanya untuk dirinya tanpa ingin melibatkan satupun keluarganya. Apa yang ayah perbuat mungkin itu urusan para orang dewasa dan Smith tidak ingin membuka mulutnya terkait fakta yang sudah ia ketahui. Untuk masalah Margaretha, dengan mudah Smith menangkan. Mungkin sedikit sulit baginya untuk melawan ayahnya di awal, namun Smith tahu apa yang terjadi menjadi kartu andalannya untuk mengambil Margaretha dari ayahnya dan tentu saja Frigid mau tak mau Smith korbankan perasaan anak itu.


Smith tidak peduli bagaimana Frigid memandangnya. Anak kecil yang penyakitan itu menangis keras melepas kepergian Margaretha, satu-satunya pelayan yang peduli serta merawatnya dengan baik.

__ADS_1


“Mungkin saya akan merindukan Frigid.” ungkap Margaretha di kereta saat ia pergi dari kediaman Cali. Smith yang duduk di hadapannya hanya memasang senyum tipis.


“Jangan pikirkan anak manja itu. Pikirkan saja bagaimana kamu memanfaatkan kesempatan yang sudah aku berikan.”


Berkat Smith, Margaretha ia masukkan ke akademi dan wanita itu berniat menjadi seorang guru. Sampai dimana Margaretha bisa menghasilkan uang sendiri, Smith menjadi orang yang menopangnya dari belakang, bahkan saat Margaretha ingin magang, Smith membantunya agar bisa magang dan bekerja di La Priens.


Saat-saat awal mungkin mudah, meski terdapat beberapa hambatan dimana ayahnya yaitu Leonard Cali tahu keberadaan Margaretha dan membuat wanita itu merasa tidak nyaman karena mengenang luka lama.


Tentu saja Smith tidak ingin semuanya kacau dan bertindak dalam kehidupan cinta Margaretha.


“Aku tidak akan membiarkanmu diganggu orang tua itu. Temui orang ini dan jadilah pengantin yang baik.”


Kata-kata itu merupakan terakhir kalinya Margaretha dengar dari Smith ketika membantu Margaretha untuk pergi dari kota Crystallo. Dimana Smith hanya mengantar sampai stasiun kereta dan memberikan sebuah foto pemuda serta alamatnya untuk Margaretha.


“Tuan Smith, sampai saat ini saya tidak tahu bagaimana cara saya berterimakasih untuk apa yang telah anda lakukan untuk saya…”


“Apa yang kamu katakan, ini semua agar kamu tidak perlu lagi merepotkanku. Aku kenal orang ini dan ia pasti bisa menerimamu. Cara untuk membalasku? Tidak aku tidak menginginkannya. Cukup hidup di tempat yang jauh dariku saja.”


Margaretha terkekeh geli mendengar ucapan tuannya yang tidak ada manis-manisnya. Kereta itu pergi membawa Margaretha menuju Litore, Smith tidak tahu kenapa ia melakukan sampai sejauh ini. namun, satu hal yang ia tahu alasannya adalah tak jauh dari ibu dan adiknya.


Ia tidak ingin kedua orang itu tersakiti karena keegoisan ayahnya.


Litore, lagi-lagi kota besar itu menjadi sasaran satu pria ini. ia menatap selembar surat yang baru ia terima pagi ini dari tukang pos yang mengantar ke asrama. Isi surat itu bukanlah surat resmi dari keluarga besar, hanya berasal dari kenalannya.


“Tak lama lagi, aku akan bertemu denganmu Margaretha.” ucap Frigid menatap selembar surat yang ia terima dari orang suruhannya dalam mencari Margaretha. Sudah bertahun-tahun ia mencari keberadaan pelayan yang baik itu, namun karena selalu dihalangi pencariannya oleh banyak hal membuat Frigid sulit menemukannya.


Salah satu hambatannya tak lain adalah Smith.


Niatnya ini bukan tanpa alasan, saat ia melihat kepergian Margaretha begitu saja. Frigid masih belum bisa apa-apa dan hanya mengandalkan orang-orang disekitarnya. Margaretha pergi tidak seperti hal yang wajar baginya. Semuanya terlalu terburu-buru dan terdapat luka dalam diri wanita itu.


Setidaknya sebelum Frigid pergi dari Pulchra, ia ingin memastikan bahwa orang yang baik padanya di masa lalu itu hidup dengan nyaman.


Smith masih terlihat menyelusuri lingkungan La Priens. Pekerjaannya sudah ia selesaikan belum lama ini dan ia sama sekali belum berniat untuk pergi. Bukan tanpa alasan pria yang memiliki wajah tampan itu berjalan-jalan hingga menarik perhatian para murid di sekitarnya. Mata Smith seolah mencari seseorang yang membuatnya masih berada di La Priens.


“Ree, kemanakah wanita itu…?” tutur Smith mengitari matanya ke seluruh lingkungan dan berjalan-jalan santai mencari keberadaan Ree.


Baru saja mulutnya berbicara, matanya menatap sosok yang berjalan seperti wadah kosong dan tak bersamangat. Mulut Smith hanya bisa tersenyum ketika melihat Ree berjalan seolah menganggap ia sendirian di dunia ini.


Smith langsung memposisikan dirinya tepat di hadapan wanita yang melamun itu. refleks langkah Ree terhenti dan terkejut menatap wajah orang yang berhenti di hadapannya.


“Mau bicara denganku sebentar?” tanya Smith dengan senyum ringannya.


Ree nampak tak percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar. Wajah Smith tidak terlihat bingung sama sekali dengan melihat keadaannya, dalam benak Ree kenapa Smith hadir dan mengajaknya bicara tiba-tiba?


“Apa ini? Anda bicara seolah tahu sesuatu.” Ree merasa tidak nyaman ketika permasalahan miliknya malah diketahui orang seperti Smith. Ia tidak merasa sering bicara dan bertemu dengan Smith, namun tiba-tiba saja pria itu mengajaknya bicara.


“Hahaha, anda terlihat tidak bertenaga saat ini. Kita mengobrol ringan saja bagaimana? Saya masih tidak ingin pergi dari La Priens.”


Ree masih tidak mengerti, namun ada satu hal yang ia bisa tahu bahwa Smith dan Frigid benar-benar saudara kandung.


Pada akhirnya, Smith mengajaknya ke sebuah taman akademi yang tak jauh dari danau tempat Ree pernah menemukan Frigid waktu itu. karena tempatnya yang teduh, membuat Ree sedikit nyaman melepas lelahnya begitu saja ketika ia menduduki dirinya di bangku taman. Smith ikut duduk di samping Ree dan melepas syalnya karena merasa sedikit gerah karena berjalan-jalan mencari keberadaan Ree.


“Tempat ini semakin rindang saja.” ucap Smith memandang pepohonan yang menutupi hampir seluruh permukaan tanah karena dedaunannya yang rindang.


Smith menyandarkan punggungnya pada bangku kayu itu dan menghirup dalam-dalam udara segar yang dihasilkan oleh dedaunan pepohonan. Karena masih siang, terdengar samar-samar aktivitas para murid lainnya. Entah itu ada di dekat gedung akademi maupun yang berada di danau.


“Sejauh mana anda tahu tentang pertunangan saya?” tanya Ree melirik pria yang lebih terlihat ingin tertidur itu.


“Ah, padahal aku ingin mengajakmu mengobrol santai. Kenapa kamu yang membawa topik berat itu?” tanya Smith heran.


Ree tidak habis pikir tentang apa yang ia lakukan saat ini. kehadiran Smith benar-benar mendadak dan tidak pernah ia sangka akan berbincang berdua dengan kakak Frigid itu. ia cukup mengulik masalah Frigid akhir-akhir ini, tapi Ree sama sekali tidak berniat berhubungan dengan orang-orang di sekitar Frigid.

__ADS_1


Tapi apa ini? layaknya ombak lautan yang tak pernah hilang dan muncul satu persatu lapisan ombak yang lain bahkan mungkin lebih besar dan bisa mendatangkan gelombang. Ree sendiri sudah sulit untuk berpikir jernih.


“Satu hal yang mungkin saya ingin katakan pada anda tuan Smith.” Ucap Ree tak habis pikir dan memasang wajah datarnya pada Smith. Smith terlihat membuka matanya dan menatap Ree dengan tatapan bingung.


“Apa itu?” tanya Smith.


“Tentang bagaimana anda muncul ketika saya memiliki masalah yang hanya saya sendiri ketahui sangat mirip dengan Frigid lakukan pada saya. Kalian benar-benar saudara kandung.” ucap Ree sembari menggelengkan kepalanya.


Mendengar ucapan jujur Ree, membuat Smith tiba-tiba menyemburkan tawanya yang terdengar renyah. Ree sendiri bingung bagaimana ia harus bereaksi pada tawa Smith. Ajaibnya tawa orang seperti itu sedikit meringankan hati Ree.


“Apa itu?! Jika Frigid mendengarnya kamu sendiri tahu apa yang akan ia lakukan dan bagaimana ekspresi wajahnya.” timpal Smith merasa geli.


Ree sendiri paham maksud Smith, bahkan saat Ree bertemu dengan Smith tetap di depan mata Frigid, pria itu menjadi bukan seperti dirinya yang biasa dan sangat tidak ingin melihat keberadaan Smith.


“Saya tidak tahu masalah kalian seperti apa. Tapi anda tidak buruk di pandangan saya.” ucap Ree.


Smith berhenti tertawa dan menatap Ree tak percaya. Bagaimana bisa ia terlihat baik di mata seorang Ree sementara di mata adiknya sendiri sudah seperti musuh satu kerajaan.


“Kamu terlalu berlebihan menilai saya.” ucap Smith canggung.


“Benarkah? Nampaknya begitu…” Ree jadi mengingat-ingat awal ia bertemu dengan Smith yang terlihat lebih mencurigakan dari pada saat ini.


“Dari pada itu, situasimu cukup rumit saat ini karena kamu tidak terlihat ingin menerima pertunangan itu begitu saja.”


Ree tertegun. Kini topik pembicaraan cukup berat kembali Smith angkat.


“Benar, saya tidak menyetujuinya.” Ree akui bahwa ia kurang setuju dengan pertunangannya dan Servio. Kekhawatiran dalam hatinya menyeruak kembali dan membuat sekujur tubuhnya merasa ketakutan.


Mata Smith masih mengamati gerak-gerik Ree. Ia belum tahu apa yang ada dalam wanita itu, namun dilihat dari wajahnya yang sangat kesulitan itu membuat Smith tidak bisa berdiam saja.


“Karena nyawa seseorang di bawa dalam kesepakatan ini membuat aku yakin kenapa Servio tidak ingin melepasmu. Namun, satu lagi alasan yang belum aku ketahui kenapa harus kamu.”


Smith masih belum mengetahuinya, jika Servio hanya ingin menyelamatkan nyawa ibunya maka pertunangan tidak harus dengan Ree dan cukup dengan Brina sepupu Ree.


“Ketika uang tidak memiliki kekuatan dalam satu hal, itu akan cukup merepotkan.” timpal Smith.


“Anda benar, cukup mengerikan dan merepotkan.”


Ree tidak tahu, arus masalah semakin deras dan menyeretnya ke pusaran. Saat ia sudah terseret dan masuk, kecil kemungkinan akan lepas.


“Saya tidak suka perasaan yang dipaksa seperti ini. Hal itu membuat saya ketakutan. Bahkan membayangkan akan hidup bersama dengan orang yang membuat saya memaksakan diri adalah mimpi buruk.”


Apa ucapan Ree ini seolah membuat Servio seperti antagonis dalam hidupnya? Sampai saat ini Ree hidup, berpura-pura menjadi wanita normal tanpa ketakutan yang berarti juga memaksakan dirinya. Namun, ada perasaan terkhianati yang sudah menjadi luka dalam hatinya.


“Kamu tahu, orang tidak akan bisa hidup sendiri. Setidaknya carilah orang yang mampu menarikmu keluar. Tapi, satu hal yang harus kamu tahu. Setiap tindakan tidak akan lepas dari suatu pengorbanan. Ada harga yang harus di bayar di dalamnya.” ucap Smith.


Kasus Ree yang Smith dengar tidaklah sama dengan apa yang Margaretha alami. Meski keduanya memiliki gejala sama dalam bersosialisasi, namun setidaknya Margaretha bisa sembuh tanpa ada paksaan karena Smith hanya mendorong wanita itu untuk tetap melanjutkan hidup.


Tanpa perlu diberitahu, Smith memiliki indera yang cukup tajam untuk melihat seseorang sedang kesulitan dalam dirinya. Wajah yang Ree tampakkan sebelum berbicara dengannya sebelum ini sangat persis seperti sorot mata Margaretha pada malam itu. Benar-benar kosong dan menyimpan banyak kesedihan di dalamnya.


“Apa ini, aku tidak tahu bahwa kalian berdua saling mengenal satu sama lain.”


Smith dan Ree yang sedang mengobrol ringan dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang sempat masuk ke dalam topik pembicaraan mereka berdua. Tidak tahu kenapa ia bisa datang menemukan Smith dan Ree, namun dari wajah dingin pria itu nampak tak senang akan kehadiran Smith yang bisa duduk di samping Ree serta mengobrol ringan dengan wanita yang akhir-akhir ini nampak sangat tidak bersemangat.


“Ah, tuan muda Florence. Apa yang anda lakukan di sini??”


Ree terdiam dan langsung menundukkan wajahnya ketika ia sadar bahwa tatapan tajam Servio tepat mengarah pada dirinya.


 


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2