
Sudah tiga hari, Ree masih belum kembali ke rumah dinas dan memilih untuk tetap di asrama. Meskipun demikian, tidak menjadi masalah untuk wanita berusia 21 tahun itu karena asrama juga tempat tinggalnya dari awal.
Ree sendiri tidak ingin membebani pikirannya dan lebih baik menyibukkan diri dengan kegiatan magangnya. Pembicaraannya dengan Margaretha kemarin sore juga membuat perasaannya lega sekaligus cukup kepikiran. Ia tahu bahwa Frigid sudah lama hidup dalam keadaan yang tidak biasa seperti orang lain, hidup pria itu bergantung pada sebuah benda yang bisa menjadi bumerang untuk dirinya juga.
Karena itu, Ree sudah tahu siapa Smith sebenarnya tanpa menaruh lagi rasa curiga akhirnya Ree memutuskan untuk mengirim sebuah surat untuk kakak Frigid itu yang saat ini berada di Crystallo terkait penelitian yang ia serahkan pada Yohanna saat ini.
“Ree, apa kamu sudah siap?”
Ree yang sedang menyusun beberapa dokumen dan barang di ruang penyimpanan harus dikejutkan oleh seorang perwira muda datang menemuinya.
Tanpa ragu Ree yang sudah selesai dengan pekerjaannya pun mengangguk.
Hari ini adalah hari yang spesial bagi sebagian orang, karena pangkalan militer kedatangan tamu dari Akademi Wanita Litore yang merupakan murid tahun pertama untuk berlatih dan belajar.
Ree sendiri sudah lama tidak melihat wajah juniornya, membuatnya juga bersemangat. Kadang ada rasa bangga tersendiri sebagai seorang senior.
Nampaknya rasa semangat itu juga dirasakan oleh kebanyakan angkatan laut yang mayoritas pria itu. dikunjungi oleh banyak gadis muda membuat suasan pangkalan tidak setegang biasanya.
“Jadi, Ree dan Frigid… kalian akan ikut mereka berlatih di tengah laut, bagaimanapun kalian adalah senior dan bisa memberi contoh.”
Ree sendiri baru sadar bahwa Frigid sudah ada di sampingnya dan memakai seragam lapangan sama seperti dirinya. Nampaknya Ree benar-benar memenuhi pikirannya dengan hal-hal yang berat sampai tidak menyadari keberadaan pria itu.
“Baik.” Ucap Frigid tanpa protes sedikitpun.
“Lalu, ini nyonya Margaretha yang merupakan pengawas dari akademi. Ree nampaknya sudah mengenal beliau bukan?”
Berbeda dari Ree yang terlihat santai, Frigid dalam beberapa detik terlihat menegang ketika melihat Margaretha kembali di hadapannya.
Ree dan Margaretha sudah tahu dan hanya melempar senyum pada masing-masing individu.
“Baiklah, kapal sudah siap! Waktunya berangkat!” seru salah satu anggota yang bertugas menyiapkan sebuah kapal untuk mereka pergi ke tengah laut demi berlatih.
Inilah alasan kenapa kemampuan fisik Ree maupun Henny cukup kuat bahkan mungkin untuk ukuran seorang Henny sangat kuat. Hal tersebut terbentuk dari cara mereka dilatih di akademi yang memiliki gaya semi militer ini. Akademi Wanita Litore tidak mendidik para muridnya untuk menjadi wanita yang anggun seperti kebanyakan akademi khusus perempuan lainnya, melainkan untuk membentuk karakter wanita yang kuat dan mandiri.
“Itulah mengapa, kami tak jarang berlatih berenang di lautan lepas seperti ini. tentu saja dengan pengawasan yang ketat dari angkatan laut.” Ree menjelaskan secara garis besar tujuan latihan di laut lepas pada Frigid yang bertanya tujuan latihan seperti ini.
Saat ini keduanya sudah berada di sebuah kapal kecil yang mampu mengangkut 30 orang untuk membawa mereka ke tengah laut lepas.
“Bukankah ini lebih tepat untuk latihan laki-laki?” tanya Frigid masih tak percaya.
“Umumnya mungkin begitu, tapi seleksi masuk akademi kami pun tidak mudah, sudah dapat dipastikan semua yang masuk memiliki fisik di atas rata-rata. Baiklah, kita membimbing kelompok yang berjumlah 10 orang Frigid… jadi kamu harus fokus.” ucap Ree sembari memasang alat bantu menyelamnya untuk mengawasi latihan.
Di samping rasa tidak menyangka itu, pikiran Frigid masih tertuju pada wanita yang sedang berdiskusi dengan kapten yang memimpin kapal. Frigid tidak tahu kenapa hari-hari seperti inilah ia bisa melihat Margaretha dengan keadaan yang sangat berbeda. Wanita itu terlihat lebih tenang dan santai, namun senyuman ramahnya tidak pernah berubah.
Tetapi, yang masih menjadi pertanyaan besar untuk Frigid adalah, kenapa Margaretha tidak mengenalnya? Apa yang telah terjadi pada wanita itu sampai tidak lagi mengenalnya sebagai seorang anak kecil yang pernah ia asuh? Apa ia terkena kecelakaan? Atau disengaja? Tapi siapa yang ada dibalik alasan kepergiannya?
Entah berapa kalipun Frigid berpikir akan tetap mengarah pada orang yang sama sejak awal.
Yaitu Smith, saudaranya sendiri.
Smith terlalu banyak menyimpan sesuatu yang tidak pernah Frigid mengerti, kepergian Margaretha juga karena ulah orang itu.
“Frigid, bisa kamu ambilkan tali di sana?” Ree menunjuk sebuah tumpukkan tali tambang yang akan digunakan untuk pembatas di air karena latihan sudah mau dimulai.
Tanpa menjawab Frigid hanya maju mendekati sisi kapal dimana tali tambang yang sudah diberi pelampung itu berada. Ree awalnya iseng saja meminta pria itu bergerak karena Ree sudah mengamati Frigid sejak kedatangan Margaretha dimana pria itu tidak nampak baik-baik saja. Akan tetapi jika Ree tanyakan sudah pasti pria itu menjawab dengan kata-kata yang menyebalkan.
“Kakak Ree, apa kakak bisa menjelaskan ini?” tiba-tiba bahu Ree ditepuk oleh salah satu junior yang berada di kapal yang sama dengannya. Ree nampak tak asing dengan buku manual yang berisi intruksi memasang alat bantu selam itu. Ree pun mengalihkan pandangannya dari Frigid dan memutar tubuhnya berniat untuk menjelaskan lebih lanjut.
“Ada yang terjatuh!!”
“A-apa?!” Ree refleks melepas buku manual yang ada di tangannya dan melihat bahwa tidak ada lagi Frigid di tempatnya semula.
Benar saja, pria itu jatuh ke dalam laut.
*
__ADS_1
*
*
Apa aku bodoh atau bagaimana? Bisa-bisanya saat ingin menarik tali yang tersangkut kakinya malah terpeleset di pinggir badan kapal dan membuatnya langsung tercebur ke dalam laut.
Begitulah Frigid merutuki kecerobohan dirinya saat apa yang ada di hadapannya hanyalah air laut dan permukaan yang cukup jauh untuk dijangkau.
Bukan karena ia tidak bisa berenang, ombak lautan dan keberadaan kapal menciptakan ombak yang berbeda membuat tubuh Frigid sulit untuk ia kendalikan. Bukannya sampai ke permukaan, ia malah terasa seperti terseret oleh arus laut.
Tidak, ini tidak baik.
Tapi… apa dengan begini ia bisa berakhir? Dengan cara konyol seperti ini, apa Frigid benar-benar akan mewujudkan keinginannya untuk mengakhiri hidupnya sendiri?
Frigid sudah lelah, ia sudah terlalu lelah. Meski orang-orang yang ia temui akhir-akhir ini sangatlah unik, tapi sejak awal ia sudah sangat lelah dengan dirinya.
Setidaknya ia bisa kembali bertemu dengan Margaretha meski tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan.
Masalah obat alternatif itu, Ree sudah mengatakan bahwa penelitian akan tetap berlanjut tanpa peduli dengan Frigid.
Satu-satunya orang yang mengharapkan dirinya saat ini hanyalah orang-orang yang ingin memanfaatkan hidupnya.
Ayahnya sudah lama berpaling dan tak lagi menampakkan punggungnya.
Ibunya sudah lama melupakannya dan menganggapnya tiada.
Kakaknya, bahkan Frigid sendiri tak ingin memikirkannya.
Frigid merasa, dinginnya air laut saat ini lebih baik dari pada ia selalu berada di tempat hangat yang menyesakkan. Jika ia tenggelam sampai ke dasar lautan, apakah semua belenggu duri itu dapat terlepas dari hidupnya?
Frigid pun perlahan menutup matanya, berharap napasnya habis nanti tidak terlalu menyakitkan.
Tapi tak lama, rasa dingin itu berganti dengan sebuah rasa hangat yang samar-samar di kedua pipinya. Tak jadi ia menutup matanya dan melihat siapa yang mengaitkan lengan ke lehernya sembari menyeretnya ke permukaan. Mungkin terlalu kotor untuk dipikirkan, tapi Frigid jelas tahu dada siapa yang menempel di pipinya saat ini.
Meski sering kali bergetar di permukaan air, namun apa yang Frigid rasakan saat ini sama sekali tidak ragu dan takut.
Lagi-lagi… Frigid merasa harus berhutang pada wanita satu ini.
“Bwuaah!!! Frigid!!” seru Ree panik ketika akhirnya mereka berhasil sampai ke permukaan air dan ia langsung dihampiri oleh beberapa anggota angkatan laut yang ikut terjun ke air untuk menyelamatkan Frigid.
Kejadian gila ini sama sekali tidak Ree sangka, dimana ia juga ikut terjun karena sudah memasang alat bantu selam dengan lengkap dan karena Ree sendiri percaya diri dengan menangani arus dan ombat lautan. Ree sempat panik ketika ia menyelam, keberadaan Frigid sudah cukup jauh terseret arus. Tapi, ia merasa cukup lega karena tak ragu sedikitpun Ree meraih kepala Frigid dan membawanya mendekat ke kapal.
“Bawa dia ke atas!” perintah kapten kapal.
Tanpa perlu waktu lama, Ree menyerahkan tubuh Frigid ke anggota yang lain agar pria itu di bawa naik. Sementara itu Frigid belum sadarkan diri karena air mungkin masuk ke dalam hidungnya.
“Frigid… dasar bodoh…” ucap Ree cemas saat ia sudah naik ke atas kapal dan melihat beberapa orang menangani pria itu dengan pertolongan pertama.
Saat Ree mau menghampiri Frigid, tiba-tiba jarinya di tahan oleh seseorang dan itu adalah Margaretha dengan wajah yang sangat khawatir. Ree yang sudah tahu cerita semuanya hanya bisa menatap Margaretha dengan tatapan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Dia baik-baik saja, saya yakin itu. Tenanglah.” ucap Ree lalu menghampiri Frigid yang baru saja tersadar setelah diberikan napas buatan oleh salah satu regu medis kapal.
Semua orang dalam kapal langsung merasa lega ketika Frigid dinyatakan baik-baik saja. Pria itu akhirnya diminta untuk beristirahat dan kegiatan latihan tetap berlanjut.
Ree yang tahu seperti apa situasi pria itu saat ini, masih tidak bisa percaya dengan Frigid. Betapa cerobohnya pria itu, bahkan hampir meregang nyawa. Meski sebenarnya Ree bisa mengerti, bahwa keinginan untuk mengakhiri hidupnya adalah tujuannya seorang.
Tapi, entah mengapa Ree tidak bisa membiarkannya.
“Pakailah ini, bajumu basah. Sesi latihan sebentar lagi akan dimulai dan memakan waktu cukup lama.” Ree mendapat tugas untuk menyerahkan setelan pakaian dari kapten kapal untuk Frigid yang seluruh bajunya basah kuyup dan hanya berselimuti dengan handuk yang basah juga.
Cuaca saat ini sedikit berawan, membuat angin kencang menerpa mereka dilautan, hal itu juga membuat ombak menjadi cukup tinggi dan berbahaya. Tapi, karena latihan diawasi dengan ketat membuatnya masih dijalankan.
“Seumur-umur akademi kami menjalani latihan seperti ini, tidak ada yang pernah jatuh konyol sepertimu.” ucap Ree heran.
Tapi entah mengapa jika Frigid tetap mengatakan bukan urusan Ree untuk ikut campur, Ree merasa ia tidak akan kesal kali ini.
__ADS_1
Frigid dalam diam meraih setelan baju yang diberikan Ree padanya.
“Perintah kapten, kamu tetap di sini. Aku akan bersiap kembali terjun ke air. Jangan berada di pinggir kapal dan duduk saja melihat kami.” ucap Ree yang ingin pergi kembali menyelam, sementara Frigid masih duduk di bangku yang ada di dalam kabin. Ia bisa melihat kegiatan yang berlangsung dari jendela kabin dimana kelompok yang berada di kapal lain sudah mulai.
“Baiklah, aku pergi dulu. Jangan berpikir yang aneh-aneh lagi.”
Sebelum Ree benar-benar pergi dari hadapan Frigid, tiba-tiba saja pria itu dengan cepat meraih lengan kanan Ree dan menahannya cukup kuat agar Ree tidak melepasnya.
Matanya yang sejak tadi tidak berminat melihat seorang pun, tertuju tepat menabrak pupil coklat milik Ree.
“Kamu tahu? Nampaknya kamu secara tak sadar terbiasa denganku…”
“A-apa??”
Dengan cepat Frigid melepas tangan Ree karena ia takut wanita itu akan refleks menamparnya. Namun bukannya menampar, Ree malah langsung kabur dengan menatap Frigid horor.
*
*
*
Baiklah, ini bukan berarti semuanya selesai begitu saja.
Ree cukup lama berdiam di depan pagar rumah dinas setelah sesi latihan hari ini selesai dan hari sudah menjelang malam.
“Apa kamu akan berdiri di depan pagar seperti orang gila?” tanya Frigid heran.
“Diamlah dan jangan pedulikan aku.” jawab Ree sembari mendorong perlahan pintu pagar agar ia dan Frigid bisa masuk.
Ree sendiri memutuskan untuk kembali tinggal di rumah dinas.
Alasannya? Apa ia perlu alasan untuk itu? ia tidak peduli dengan orang yang memiliki urusan dengannya di dalam rumah itu.
Begitulah pikir Ree untuk sementara ini.
“Baiklah.” Guman Ree terdengar oleh Frigid yang masih menatap tingkah wanita itu saat ingin memutar knop pintu.
“Cepatlah, aku ingin masuk.” ucap Frigid yang juga lelah setelah menjalani hari penuh hal-hal yang tidak terduga.
“Tunggu dulu!! Bagaimana jika ia ada di dalam?” bisik Ree.
“Ya, mau bagaimana lagi, bukankah ia juga magang di Litore?” Frigid juga ikut berbisik.
Ah, itu benar. Keberadaan Servio tentu saja juga magang.
“Benar… benar juga… aku tak seharusnya repot-repot… hahahaha…hhaa??” tanpa ingin basa-basi lagi Ree langsung memutar knop pintu dan mendorongnya.
Tawa garingnya seketika menurun menjadi tawa tanda tanya karena melihat seorang pria yang sedang mengeringkan rambut panjang hitamnya yang basah karena baru selesai mandi, menatap lurus ke arah pintu masuk ketika mendengar tawa seseorang yang tak asing baginya.
“Ah…” guman Servio langsung terasa kelu di ujung lidahnya seakan lupa apa yang harus ia katakan pada Ree ketika berhadapan dengan wanita itu.
“!!”
Sementara itu, Ree bukannya berbalik badan. Tanpa menunggu lama lagi ia langsung melaju menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya di lantai dua.
Benar-benar kurang dari 30 detik untuk Ree menghilang dari hadapan Servio.
“Apa yang kamu lihat? Apa kamu masih mengejarku?” Frigid mempertanyakan tindakan bodoh Servio saat ini yang benar-benar sulit berkutik ketika berhadapan muka dengan Ree.
“Cih! Tentu saja tidak bodoh!” tanpa pikir panjang Servio langsung mengejar kemana arah Ree pergi.
Tentu saja ia tidak akan membiarkan kesempatan untuk berbicara dengan Ree menjadi hilang. Menjadi seseorang yang diabaikan Ree merupakan hal tersulit yang pernah ia rasakan. Meski sebenarnya ia yang membuat sikap Ree seperti ini terhadapnya. Namun setidaknya sekali ini saja, ia ingin mengetuk dengan mudah daun pintu kamar wanita itu dan mengatakan perasaannya yang sebenarnya.
__ADS_1
To Be Continued.