We And Problems

We And Problems
Chapter 72 : Tidak Sendirian Berjuang


__ADS_3

Meski disambut dengan sangat tidak menyenangkan, akhirnya Yohan berhasil menginjakkan kakinya di tanah Leafa yang sangat subur itu. Ia juga bertemu dengan Yohana di pelabuhan dimana saudaranya sudah menyerang dengan segala rasa kekhawatiran yang tidak Yohan duga. Juga bersamanya, Yohan mengenal saudara sepupu Ree yaitu Brina.


Menyampingkan tugas magangnya, Yohan datang dengan membawa catatan-catatan yang berkaitan dengan Walikota Leafa. Terlebih keesokan harinya ia sudah terjun langsung ke lapangan untuk melihat situasi secara langsung.


“Banyak dari mereka adalah pengelola tanah milik Viscount yang menjadi walikota sebelumnya. Namun seperti yang diketahui, laporan dan kenyataan tidak relevan. Keadaan mereka terlalu jauh dari apa yang laporan sebutkan.” Seorang prajurit yang Yohan kirim lebih dulu untuk mengamati melaporkan bahwa hasil yang rakyat terima sangat berbanding jauh dari apa yang dilaporkan di istana.


Ini terlalu jauh, dilaporkan bahwa mereka mendapatkan upah yang layak, namun situasi yang serba kekurangan ini membuktikan bahwa catatan itu bisa dengan mudah dimanipulasi.


“Bahkan tanah mereka terlihat sulit untuk bercocok tanam.” Yohan memperhatikan tanah pertanian yang digunakan terlalu gersang hingga tanaman pangan saja sulit untuk tumbuh.


“Kami sudah menyelidiki bahwa kepemilikan lahan ini memiliki catatan yang ilegal, pangeran.”


“Mendengarnya aku merasa tidak lagi heran… kalau begitu periksa asal-usul tanah ini dan dari mana mereka bisa menguasainya.” jelas Yohan pada orang suruhannya.


“Ta-tapi… bagaimana kami takut jika memberitahu semuanya, mereka akan datang dan merampok kami lagi…”


Ketakutan akan terancam itu membuat tidak lengkapnya bukti yang ada. Ketidaklengkapan itu akan menyulitkan penyelidikan untuk membuktikan siapa yang sebenarnya bersalah.


Tapi Yohan tidak akan membiarkan. Ia sudah menginjakkan kaki di sini, ia sudah paham sejak paham bahwa situasi tidak mudah redam begitu saja. Setiap keputusan selalu ada pihak yang mendukung dan menentang.


“Saat ini aku melihat mereka hanya ketakutan saja… tindakan pemberontak memang gila sehingga membuat mereka merasa terancam. Nampaknya kamu harus menampakkan kekuatan kerajaan dimana setidaknya mampu membuat mereka merasa dilindungi oleh kerajaan.” timpal Maglina yang berdiri di samping Yohan sebagai prajurit pribadi pria itu.


Meski mengatakan kata-kata serius itu dengan santai, Maglina selalu nampak siap ketika mengantisipasi serangan yang tertuju pada Yohan. Ia selalu berdiri di samping Yohan dan selalu menggenggam kepala gagang pedannya di pinggang kirinya.


“Kamu benar… aku akan meninggalkan beberapa pasukan di wilayah ini, aku merasa markas persembunyian mereka tidak jauh dari sini, namun kembali lagi nampaknya harus kita sisir wilayah hutan lebat itu dengan hati-hati. Beberapa pasukan terluka saat kembali.” Yohan tidak bisa berharap bahwa semua dilakukan dengan tidak terluka.


“Kamu harus tahu selama kita magang di tempat para prajurit elit istana dalam beberapa minggu ini bahwa tidak ada yang harus kita takutkan untuk melindungi orang penting kerajaan. untuk itulah pasukan elit kerajaan dibentuk.” timpal Maglina.


“Ah… tapi aku termasuk di dalamnya jika begitu.” ucap Yohan menunjuk pada dirinya sendiri.


Maglina melirik Yohan lalu tersenyum.


“Itu benar, tapi saat ini anda adalah orang yang harus kami lindungi pangeran.” Ucap Maglina menggarisbawahi peran Yohan saat ini.


Tidak peduli bagaimana Yohan di akademi atau di tempat magang. Saat-saat itu Maglina menganggap Yohan sebagai teman satu akademinya. Namun keadaan saat ini berbeda, dimana Maglina bertugas melindungi Yohan yang bernotabene sebagai pangeran negerinya.


Mungkin itu berbeda, namun Maglina tidak akan setengah-setengah dalam menjalani tugasnya.


*


*


*


[Situasi Leafa memang tidak menyenangkan saat ini. aku dan Yohan sedang membersihkan nama baik keluarga kerajaan dan melenyapkan semua orang yang berkaitan dengan pemberontak. Tapi, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Nyonya Wizzle dan Brina sepupumu akan selalu kami lindungi. Salam, Yohanna]


“Ia memang menuliskan untuk tidak khawatir, tapi tetap saja membuat kepikiran.” Timpal Ree pada Liliana saat ia sudah selesai membaca surat dari Yohanna di Leafa.


Baru saja Ree kembali dari tempat magang dan ia melihat sebuah amplop surat di kotak surat depan rumah ditujukan untuknya.


“Tapi si pangeran itu ternyata mengambil langkah yang cukup besar…” ucap Liliana cukup mengapresiasikan keberanian Yohan dalam menumpas pemberontakan.


“Meskipun ia jarang terlihat, tapi sebenarnya Yohan memiliki keberanian yang cukup besar.” Sambut Frigid yang melintas ruang tamu tempat dimana Ree dan Liliana mengadakan diskusi terbuka di sana. lagipula tidak ada yang mereka tutupi lagi dari Frigid maupun Servio.


“Itu benar… bahkan ia memelihara seekor kuda di akademi.” Ree mengingat pertemuan pertamanya dan Yohan di kandang kuda masa itu.


Benar-benar bau, kandang kudanya.


“Ah… itu jelas pelanggaran.” ucap Liliana.


“Aku bisa mengutus orang untuk menyelidikinya jika kamu mau.” tawar Servio sembari duduk di hadapan dua wanita itu.


“Tidak, kenapa kamu melakukannya?” tanya Frigid menyela.


“Kenapa? Tentu saja untuk membantu Ree. Apalagi alasanku?”

__ADS_1


“Alasanmu sangat blak-blakan Servio… seperti perasaanmu.” timpal Liliana heran.


Ree sendiri sudah tak ambil pusing, itu hak Servio yang berterus terang tentang perasaannya.


“Saranmu memang bagus Servio, tapi bukankah orang-orang juga ada di pasukan yang Yohan bawa ke sana? Bukankah sama saja dengan pemborosan tenaga?”


Seperti yang diketahui, pasukan kerajaan ditopang oleh dua keluarga besar di Pulchra yaitu keluarga Cali dan Florence, jika keluarga Cali mencetak prajurit yang siap bertempur di barisan paling depan, maka keluarga Florence mencetak orang-orang intelegen yang bergerak di bawah bayangan.


“Ahh… benar juga.” ucap Servio.


“Lagi pula kamu tidak perlu membantunya Servio, Yohan sudah lebih dari cukup.” ucap Frigid lalu pergi ke kamarnya meninggalkan tiga rekan serumahnya di ruang tamu.


Dalam hatinya, Frigid pun cukup bangga akan langkah besar yang Yohan ambil. Teman masa kecilnya satu itu selalu saja sibuk dengan bermain piano dan berlatih pedang mengejar jejak kakaknya. Frigid tahu kenapa Yohan sampai seperti ini, tentu saja tidak ada alasan jika bukan untuk Frigid. Karena kepekaan itulah Frigid merasa tidak enak.


Meski Servio mengatakan untuk membantu Ree dan Ree sendiri tidak melakukannya untuk Frigid, tetap saja perasaan berat dalam hatinya saat ini sangat tidak nyaman.


Semua orang tengah berjuang dan dia hanya bisa terdiam tak peduli.


Bagaimana mungkin Frigid mengacuhkan teman-temannya seperti ini?


Bukankah sudah jelas baginya untuk pergi? Tapi kenapa?


Semua orang seolah sedang berjuang mempertahankan hidup mereka.


Itu membuat dada Frigid sesak.


*


*


*


Mungkin perasaan Frigid tengah terbebani, mungkin pria itu merasa tidak nyaman. Tapi tidak membuat Ree menggubrisnya. Ia tahu langkahnya berawal dari mana, meskipun semuanya terjadi karena ketidaksengajaan dan kepeduliannya pada orang lain.


Jujur saja, Ree merasa tidak begitu senang ketika melihat Frigid tidak ada rasa antusiasnya sedikitpun ketika melihat teman-temannya yang lain.


“Ini pesanannya… satu kopi dan satu teh.”


Pelayan kafe itu langsung meletakkan sebuah cangkir kopi di hadapan seorang pemuda dan cangkir teh di hadapan Ree. Nampak asap masih mengepul di masing-masing cangkir itu memberitahu bahwa air di dalamnya masih sangat panas. Namun, panasnya menjadi penghangat obrolan yang sangat diinginkan Ree belum lama ini.


Yaitu bertemu dengan Smith.


“Seharusnya kamu bisa memesan lebih saat ini karena saya yang akan membayarnya.” ucap Smith sembari tersenyum menatap wanita yang baru saja selesai dari tempat magannya itu.


“Tidak… saya cukup dengan teh ini.” ucap Ree sembari mulai menyeruput tehnya secara perlahan.


Begitu juga dengan Smith.


“Aku sangat kaget menerima surat darimu nona Ree… Itu benar-benar mengejutkan dan sangat berterus terang.” Smith masih mengingat perasaan bingung dan kagetnya ketika mendapat surat dari Ree sebelum ia kembali lagi ke Litore.


Ya, Ree sendiri yang menulis saja sudah seperti orang gila lalu mengirim tanpa berpikir terlebih dahulu. Sampai akhirnya ia berpikir bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan.


“Terlebih tiba-tiba saja Margaretha memberitahukannya padamu begitu saja. Aku jadi penasaran tentang apa yang Margaretha lihat darimu.”


Ree juga kurang mengerti, kenapa Margaretha menceritakan kisah hidup Frigid padanya. Tapi Ree tidak ingin Margaretha disalahkan di sini.


“Apa anda marah? Terkait nyonya Margaretha memberitahukan pada saya?” tanya Ree sedikit takut.


“Awalnya mungkin seperti itu… tapi jika saya pikir-pikir lagi, bahkan saat kamu tidak tahu apa-apa tentang hidupnya, kamu malah melanjutkan penelitian itu bersama teman-temanmu. Itu artinya kamu peduli dengan Frigid meski saya tidak tahu alasannya apa.”


Bagaimana cara Ree menjelaskan perasaannya yang sebenarnya pada Smith tentang Frigid bahwa ia masih kesal dengan pria itu.


“Saya tidak bisa mengatakannya peduli. Karena meskipun bukan dimulai dari Frigid, mungkin saya tetap akan melakukannya…” Ree terlalu kesal dengan pria yang suka mencampuri urusannya itu. Sesekali Ree berbuat seperti ini selalu dilarang atau dikomentari pedas. Karena rasa kesal itu, bukannya Ree mengabaikannya, ia malah melanjutkannya.


Smith merasa lucu dengan apa yang diakui Ree. Meski nampak tidak peduli, tapi sebenarnya seperti itulah cara orang-orang menampakkan kepeduliannya.

__ADS_1


“Tapi aku merasa lega karena kamu menyadari pergerakanku yang mengikutimu juga. Siapa yang bisa menyangka akan berakhir seperti ini.” Smith menatap Ree lembut, setidaknya selain dirinya ada orang-orang tak terduga peduli terhadap adiknya.


“Entahlah… saya kurang mengerti akan tindakan saya sampai saat ini meski sudah sejauh sekarang… jika saja Liliana tidak bertindak diam-diam… tapi, itu semua berawal dari dia yang merasa kesakitan… orang sakit memang tidak bisa disalahkan, tapi yang obat untuk meredam rasa sakit itu masih bisa dipilih.”


Wajah kesakitan Frigid di pangkuan Ree waktu itu tentu masih jelas diingatan. Ia merasa sakit, memilih untuk berhenti tapi sulit untuk berhenti.


“Terlebih caranya yang selalu muncul di saat-saat yang tidak tepat membuat saya geram ingin mengusiknya.” Niatan itu terdengar seperti dendam Ree pada Frigid yang selalu saja muncul ketika ia sedang merasa sedih dan dalam situasi yang kacau.


“Ahaha… aku tidak mengerti apa yang terjadi, tapi hubungan kalian berdua nampak tidak biasa.” Komentar Smith.


Iya, tidak biasa dan saling ingin mengusik urusan satu sama lain. Entah secara sengaja maupun tidak sengaja.


“Kalau begitu sangat senang bisa bekerja sama denganmu nona Ree… sampai saat ini pergerakanku tidak seaman itu dan diawasi oleh orang-orang yang menyebalkan… aku bahkan harus memeriksa jadwal kerjaku agar bisa ke Litore secepatnya.” Smith tiba-tiba bersungut dan terlihat seperti orang yang sangat kelelahan di depan Ree saat ini.


Ah, benar juga. Sudah berapa tahu Smith mencarinya?


“Itu pasti benar-benar menyulitkan anda ketika pergerakan anda tidak sebebas itu.” Ree benar-benar tidak bisa membayangkan betapa melelahkannya jadi Smith.


“Tapi, menyerah tidak ada di kamusku. Saat ini sebelum ia benar-benar pergi, setidaknya keputusan itu dapat di cegah ataupun dia bisa menggunakan obat yang lebih aman itu sudah melegakan.” tutur Smith terlihat lega.


Smith tidak bisa menyerah begitu saja. Mungkin ia sudah diciptakan untuk keras kepala seperti ini, yang mana ia tidak menggubris ancaman dari manapun, termasuk dari ayahnya hanya untuk menyelamatkan Frigid.


Duri yang membelenggu adiknya itu, tangan Smith bahkan belum terasa berdarah karena merasa belum melakukan apa-apa untuk melepasnya.


“Itu semua tergantung pada Frigid itu sendiri… dia terlalu pasrah dengan kehidupannya yang seolah akan berakhir itu… padahal ada kakaknya mati-matian selama bertahun-tahun berusaha mencari jalan keluar dan ia malah membencimu.”


Iya, tak habis pikir Ree ketika melihat pola pikir Frigid yang terlalu pasrah seperti itu. Jika Ree adalah Smith, mungkin Frigid sudah sejak lama Ree ajak pergi kemanapun obat alternatif itu berada.


“Wahh… nampaknya Frigid banyak melakukan sesuatu yang membuatmu kesal.” ucap Smith kagum dengan betapa jujurnya Ree mengeluarkan isi hatinya terkait dengan adiknya itu.


Sekali lagi Smith bersyukur bahwa ada orang seperti Ree memikirkan tentang adiknya, meski adiknya sendiri tidak memikirinya diri sendiri itu.


Tak lama setelah dua orang itu berbincang di dalam kafe, nampaknya sudah agak malam ketika mereka keluar dari tempat yang masih ramai itu.


“Aku ingin mengantarmu, namun nampaknya itu bukan pilihan yang bagus jika mengingat Frigid juga berada di tempat yang sama denganmu.” ujar Smith sangat tidak nyaman membiarkan Ree pulang sendirian.


“Tidak apa-apa… aku sering kali di tarik tiba-tiba olehnya untuk menjauhi anda karena perasaan pribadinya itu.” ucap Ree merasa lebih baik ia pulang sendiri dari pada terjadi perang dadakan di depan rumah dinas.


“Kalau begitu, saya pergi dulu…” ucap Ree duluan pergi dari hadapan Smith.


Smith cukup lama memperhatikan Ree pergi hingga tak lagi nampak karena ditelan oleh kerumunan.


Obrolan hari ini berjalan cukup lama dan sangat menyenangkan bagi Smith ketika ia merasa bahwa ia sendirian berjuang ternyata ada orang-orang tak terduga. Mereka muncul karena pertemuan yang kebetulan, namun terlihat seperti terhubung satu sama lain di awalnya meski tidak disadari.


Akan selalu ada orang-orang seperti Ree yang mana Smith tidak pernah terpikirkan muncul begitu saja.


Smith ingin tertawa.


Atau bahkan menangis, ketika saat detik-detik seperti ingin berakhir.


“Jadi nampaknya kalian mengikutiku meski aku hanya menjalani pekerjaanku saja. Bukan begitu? Apa ayah yang mengirim kalian? atau bahkan sampai orang-orang Agnus yang meminta?”


Smith bukan orang bodoh.


Jika ia sebodoh itu tidak menyadari terdapat beberapa orang yang mengikutinya, tentu saja ia tidak bisa menyelamatkan Margaretha dari ayahnya atau bahkan bertahan untuk mencari obat Frigid selama ini.


Karena Smith tahu situasi teramat tidak menyenangkan karena banyaknya mata yang terpasang padanya, itu juga membuat Smith selalu berhati-hati.


“Tapi, kami perlu menanyakanmu tentang hubunganmu dengan nona muda Lumen itu.”


“Apa?” tanya Smith mencium sesuatu yang tidak beres.


“Mungkin saat ini orang-orang kami sudah membawanya ke suatu tempat untuk berbicara santai.”


 

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2