We And Problems

We And Problems
Chapter 37 : Sesuatu Dalam Obat Frigid


__ADS_3

Kali ini, tidak lagi Henny menikmati pemandangan luar kediaman Florence dari luar, ia sedang melihat-lihat interior tempat Servio tinggal yang penuh dengan furnitur kayu dan beberapa senjata yang dipajang di dalam rumah itu. Servio yang tidak ingin membuat keributan lebih parah, memutuskan membawa Henny ke dalam kamarnya untuk berbicara.


“Rumahmu bagus.” ucap Henny santai.


Servio tidak habis pikir dengan gadis di sebelahnya ini, belum lama Henny menangis tersedu-sedu seolah dunia telah berakhir. Kini malah santai seperti tamu yang di undang.


“Aku jadi bertanya kemana perempuan yang mengguncang gerbang tadi.” timpal Servio.


Henny menatap pria yang menuntunnya saat ini sembari tersenyum.


“Tentu saja masih ada di sini bersamamu.” ucap Henny dengan senyuman manisnya.


Tak lama bagi Servio untuk membawa Henny menuju ruangannya, sebuah ruangan di sebelah kamar Servio, memiliki dua cara masuk ke dalam ruangan itu dengan menggunakan pintu di depan lorong dan melalui kamar Servio dimana hanya pemilik kamar yang tahu pintunya.


“Duduklah, aku akan membuatkanmu teh.”


Tanpa canggung Henny mendaratkan bokongnya pada permukaan sofa yang berlapis beludru berwarna marun itu sembari memperthatikan gerak gerik Servio dalam membuat untuknya.


“Padahal kamu tidak perlu repot, karena aku pikir pembicaraan kita tidak akan panjang.”


Servio mengangkat pandangannya pada wanita bersurai hitam pendek itu, sembari menaruh nampan yang membantunya membawa dua cangkir teh hitam di atas meja lalu duduk di hadapan Henny.


“Tapi akan sangat tidak sopan bagiku tidak menyediakan teh untuk seorang perempuan yang mengaku sebagai kekasihku.” ucap Servio pelan.


Henny hanya tersenyum, geli rasanya mengingat apa yang telah ia lakukan belum lama ini. Membuat keributan di depan rumah orang tanpa peduli efek apa yang akan di dapat akibat dari ulahnya ini.


“Itu hanyalah skenario kreatifku,” Henny mengambil cangkir teh miliknya, menyesap pelan air panas itu dan menghirup aroma wangi yang menyegarkan.


“Dibandingkan keadaan Ree saat ini, hal tadi bukanlah apa-apa bagiku.” Kata-kata itu keluar dengan membawa suasana menjadi cukup serius. Namun, Henny masih tenang. Ia tidak ingin melampiaskan kemarahan seperti biasa karena masalah antara Ree dan Servio kali ini rumit.


“Ree dihantui rasa bersalah, itulah yang aku simpulkan ketika mengunjunginya dua hari yang lalu dan aku bukan datang karena meminta pertanggungjawabanmu secara mentah.”


Malam itu, Servio tidak dapat menyusul Ree karena Luceat menahan dirinya untuk tidak meninggalkan restoran karena ia akan memberitahukan hubungan Servio dan Ree di depan meja makan jika Servio pergi.


“Aku menghargai keputusannya dan tidak memaksanya.” ucap Servio. Terdengar dingin namun, sebenarnya masih sangat mengganjal di dalam hatinya.


Henny masih memusatkan seluruh perhatiannya pada pria bersurai hitam panjang itu, nampak dari air mukanya sedikit sendu dan kebingungan. Semua ini terjadi begitu cepat dan ketika Servio membutuhkan pertolongan Ree, wanita itu tidak sanggup membantu Servio.


“Meski kamu berkata demikian, Ree tetaplah Ree, ia ingin membantumu dan tidak dapat melakukannya merupakan pukulan keras pada batinnya sendiri.” Henny menyibak surainya yang menutupi pandangan dan masih melihat Servio.


“Caramu mendekatinya aku tidak mempermasalahkannya,”


 “Lalu apa yang harus aku lakukan!?” suara Servio meninggi, air mukanya berubah menjadi lebih tegang, bahkan kulit wajah yang selalu pucat itu beransur menjadi merah seperti orang mabuk. Namun ia tidak mabuk, melainkan meluapkan amarahnya yang tidak diketahui pada siapa tertuju.


Pria itu, sejak awal Henny bertemu tidak pernah menampakkan emosi yang berlebihan, tidak tahu jika bersama Ree seperti apa, namun ia di mata Henny, saat ini Servio sedang meluapkan emosinya.


“Justru aku bingung, kenapa kamu menolak pertunangan itu.” lanjut Henny heran. Menurut Henny, keluarga Lumen merupakan keluarga yang baik-baik saja. Meski sering menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berlayar mengarungi lautan lepas, reputasi mereka sebagai keluarga pelaut cukup bagus dan dipercayakan banyak pedagang daratan.


“Orang dewasa itu seenaknya memutuskan hidupku bagaimana! Aku tidak tahu apa yang Ree pikirkan tentangku saat ini, tapi jujur aku tidak mempermasalahkan ketidakmampuannya dalam membantuku.” Servio melampiaskannya dengan mengacak surai lurusnya itu menjadi kusut. Oh, betapa sulit merapikannya kembali, pikir Henny.


“Intinya aku tidak akan bertunangan untuk mengikuti kehendak mereka.”


Apa ini? Siapa yang ada di hadapan Henny saat ini?


“Berhentilah merengek seperti bayi, dan kembalilah ke akademi.” ujar Henny.


Henny bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Servio.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Servio was-was karena tiba-tiba saja Henny mendekatinya, menyibak sedikit rambut yang ada di telinga pria itu.


“Apa yang kamu pikirkan? Dengarkan aku dulu.” Henny mendekatkan mulutnya tepat di depan daun telinga kanan Servio, membisikkan kata-kata yang membuat mata Servio terbuka lebar.

__ADS_1


*


*


*


Di hari yang sama, merasa suasana hati dan pikirannya kembali tenang, Ree memutuskan untuk kembali ke akademi. Dua hari berada di kamar asrama cukup membuat suasana hati bosan, saatnya kembali ke rutinitas seperti biasa, pikir Ree.


Meski demikian, hati masih terasa janggal. Ree tidak tahu, setelah malam itu, Servio rupanya tidak kembali ke akademi dan sedang ijin. Pikirannya yang semula sedikit tenang menjadi gundah kembali memikirkan sisa malam kemarin yang sebenarnya meninggalkan tanda tanya besar di benak Ree.


Apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana keadaan Servio. Ree ingin tahu, namun tidak dapat menghubunginya. Seakan menjadi kehilangan kontak dengan pria itu, Ree harap semuanya baik-baik saja dan Servio dapat memilih keputusan yang bijak untuk pria itu.


Lamunan membawa telapak kaki wanita itu menyusuri lorong akademi yang terbuat dari marmer menuju sebuah ruangan yang biasanya ia singgahi setelah kelas selesai.


Ruang senat.


Rasanya sudah lama bagi Ree tidak memegang knop pintu ini, padahal tidak sampai seminggu ia ijin dari akademi. Kira-kira apa di dalamnya ramai atau hanya ada beberapa orang saja, Ree tidak terlalu penasaran karena ia hanya mengunjungi ruangan itu sebentar untuk bertemu dengan Alexander.


Tidak sulit bagi Ree untuk membuka ruangan yang tidak terkunci itu, seluruh ruangan masih sama dengan banyaknya rak berisi dokumen senat serta meja dan beberapa sofa. Sekat-sekat yang menjadi tempat dokumen masing-masing divisi juga nampak rapi dan kosong, kecuali meja kayu besar salah satu sisi ruangan yang menghadapkan orang di dalam ruangan dengan pemandangan sebagian wilayah akademi. Penghuni meja itu masih di sana dan sibuk dengan tumpukkan kertas putih seperti kulitnya.


“Bagaimana keadaanmu? Aku dengar kamu ijin karena sakit.”


Basa basi, Ree sudah tidak heran dengan gaya basa-basi pria dingin itu.


“Begitulah,” Ree menjawab singkat dan menghampiri ruang kecil tempat divisinya berada lalu melihat daftar absennya. Memang tertulis keterangan sakit untuk dirinya dan ijin untuk Servio. Pria satu itu, kenapa tiba-tiba saja menghilang dan tidak menampakkan diri lagi? Semua ini terjadi, tak lain karena ketakutan dalam benak Ree tentang berhadapan dengan keluarganya. Tidak seluruhnya, melainkan seorang dari sana.


“Frigid.” panggil perempuan itu tiba-tiba, berkatnya apa yang sedang Frigid lakukan terhenti dan memusatkan seluruh perhatian pada punggung ramping yang berdiri tak jauh darinya. Perlahan punggung itu berputar dan Frigid menaikkan pandangannya pada mata Ree.


“Ada apa?” Frigid tidak memiliki banyak waktu saat ini, pekerjaannya sebagai ketua senat cukup banyak. Namun, panggilan tak biasa dari Ree cukup langka itu membuat Frigid rela menaruh pena yang semula ia genggam.


“Bolehkah aku berbicara denganmu, hanya kita berdua?” tanya Ree cukup serius namun ragu pada awalnya karena mempertimbangkan keadaannya sanggup atau tidak berhadapan dengan Frigid seorang.


“Baiklah, bicara di sini saja.” ujar Frigid.


“Apa kamu yakin tidak ada yang mendengar?” tanya Ree ragu.


Frigid menatap Ree, lalu melempar tatapannya ke daun pintu yang tak jauh dari mejanya. Keduanya sunyi dan hanya terdengar suara aktivitas orang-orang di luar jendela.


“Apa yang kamu bicarakan itu sangat rahasia?”


Baiklah, dari gaya pertanyaan barusan Ree tidak akan bertanya lagi atau ia akan merasa kesal sendiri. Ree maju mendekati meja kayu berwarna coklat itu dan menyodorkan sebuah lembaran yang sama dengan apa yang ia berikan pada Alexander tadi malam.


“Apa kamu sadar yang kamu konsumsi?”


Digitalis purpurea, tanaman beracun yang dapat membunuh orang ketika mengonsumsi dalam jumlah banyak dengan jangka panjang. Memiliki kuncup bunga keunguan nan indah dengan bentuk seperti lonceng kecil. Di kenal sebagai tanaman langka dan sulit untuk mendapatkannya di Pulchra, bahkan tumbuhan ini tidak tumbuh di Pulchra yang cenderung memiliki suhu rendah.


“Apa yang ada di dalamnya adalah racun.” ucap Ree setelah menunjukkan hasil uji laboratorium oleh Liliana dan Profesor kimiannya.


Entah kenapa lega rasanya meluapkan kata-kata itu tepat di depan wajah Frigid. Rasanya ada yang salah ketika Ree hanya terdiam sementara ia tahu bahwa salah satu orang yang ia kenal mengonsumsi semacam racun untuk bertahan hidup.


Jemari pucat milik pria itu meraih kertas yang nampaknya sudah berulang kali dibuka dan dilipat, tanpa mulutnya mengucapkan apa-apa, tangannya langsung merobek kertas itu lalu membuang robekannya ke tempat sampah yang ada di bawah mejanya.


Bungkam, mulut Ree terkatup sempurna dan tak habis pikirnya ketika melihat tindakan Frigid yang frontal tersebut. Setidaknya pria itu baca, namun matanya sama sekali tidak mengarah ke kertas itu melainkan wajah Ree yang rasanya seperti orang bodoh saat ini.


“Meski demikian, aku tidak bodoh. Aku sadar apa yang aku konsumsi. Jadi kamu tidak perlu berkomentar macam-macam dan lupakan saja apa yang terjadi.” Frigid mengatakannya dengan tangannya yang kembali meraih pena serta dokumen yang belum ia selesaikan.


“Tapi, apa kamu tahu bahwa itu dilarang mengonsumsinya di kerajaan ini?” tanya Ree sekali lagi.


“Aku sudah tahu sejak lama apa yang mereka berikan padaku. Oleh karena itu, hari ini kamu bisa mengerti bahwa tidak ada yang perlu kamu bicarakan lagi denganku.”


Sekarang Ree jadi bertanya, selama ini kenapa dirinya terlalu memikirkan keadaan orang lain? Rasa simpatinya apa dapat membuat dirinya sendiri bodoh? Malu, tapi tidak tahu apa yang menyebabkan adanya rasa malu itu. ucapan Frigid sesuai dengan apa yang pria itu alami, memberitahukan pada Ree bahwa perempuan itu tidak perlu tahu lebih dalam terkait apa yang ia konsumsi atau perbuat.

__ADS_1


“Aku pikir, yang aku ucapkan tempo hari sudah jelas agar kamu melupakannya. Jadi, apa hanya itu yang ingin kamu bicarakan empat mata denganku?”


Ree mengepal kuat kedua tangannya, membalas tatapan kosong pria di hadapannya yang tanpa gairah hidup itu. Mulutnya geram ingin mengeluarkan segala sumpah serapah tentang betapa menyebalkannya Frigid saat ini, namun rasanya tak rasional jika ia keluarkan semua itu.


“Kamu benar, seharusnya kamu juga demikian padaku.”


Hanya itu yang mampu Ree keluarkan untuk membalas ucapan Frigid. Dari pada hatinya semakin sakit, lebih baik ia pergi saja dari ruangan itu. Wajah Frigid terlalu menyebalkan untuk dilihat dan Ree tidak dapat menahan rasa geram dalam hati jika harus berlama-lama satu ruangan dengan pria itu.


*


*


*


“Pulang sebelum pukul 10 malam, jika lewat dari itu kamu akan mendapat hukuman.”


Ree mengangguk mengerti ketika ia mendapat ijin untuk keluar dari asrama. Tidak lama baginya untuk pergi karena Ree ingin mengunjungi Henny. Di hari yang sama, setelah kembali dari akademi, ia menerima sepucuk surat dari Henny. Dalam surat itu terdapat topik yang membuat Ree sampai ijin untuk keluar dari asrama sebentar.


Siang ini cukup bagus cuaca untuk Ree pergi, mengesampingkan segala rasa kesal sejak berbicara dengan Frigid, memang tidak ada salahnya keluar sebentar dari pagar asrama untuk mencari udara segar. Tak sulit bagi Ree pergi mengunjungi Henny, ia hanya perlu berjalan sebentar dari pintu gerbang akademi untuk menuju stasiun kereta kota yang akan mengantarnya ke pelabuhan tempat dimana Henny sedang magang.


Sesampai di pelabuhan, Ree langsung pergi menuju basecamp tempat Henny berada dan bisa ditebak wajah Henny ketika Ree datang mengunjungi wanita satu itu. Begitu senang dan tidak menyangka Ree akan datang dalam waktu yang dekat.


“Aku tidak menyangka kamu akan datang padanya.”


Kini Ree dan Henny sudah berada di sebuah kafe untuk bicara dan memesan minuman hangat sebagai teman bincang mereka berdua. Henny sudah menceritakan apa yang ia lakukan selama ini pada Ree terkait dengan Servio.


Ree tidak tahu jika Henny akan berbuat sampai sejauh ini.


“Tenanglah Ree, aku berbicara secara baik-baik dengannya. Jangan terlalu khawatir.”


Henny mengulur jemarinya meraih tangan Ree dan tersenyum lebar seolah mengatakan tidak ada yang perlu Ree khawatirkan.


“Tapi aku tidak bisa membalas kebaikannya.” sesal Ree.


Henny mengguncang jemari Ree yang ia genggam.


“Bilang apa kamu? Kebaikan yang kamu balas tidak harus dari kamu sendiri secara langsung, masih ada aku yang bisa membantumu.”


Dalam hati, Ree masih merasa janggal. Ia pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa, serta tidak mengatakan solusi terbaik untuk Servio.


“Lalu bagaimana keadaannya saat ini? sudah tiga hari Servio tidak datang ke akademi.” ujar Ree cemas.


“Tenang saja, dia baik-baik saja seperti biasa. Aku sudah mengunjunginya kemarin.” Henny menyembunyikan rapat-rapat bagaimana proses yang ia jalani hingga bisa menemui Servio.


“Terlebih itu, Ree. Ada yang aku ingin katakan padamu terkait bagaimana aku akan membantu pria itu agar rasa bersalahmu hilang.”


Kening Ree berkerut, ia kurang mengerti maksud dari ucapan Henny namun jantungnya berdebar karena penasaran dan merasa bahwa kalimat yang akan diucapkan akan sangat tidak masuk akal.


“Aku akan menggantikan posisimu, rencana kami seperti yang ia bicarakan padamu tempo hari.”


Benar saja, pilihan terburuk itu. Henny mau melakukannya.


“Tidak! Tidak! Apa kamu gila? Kamu sendiri tahu siapa yang dijodohkan dengannya!”


Henny terkekeh, wajah panik Ree sangat lucu ketika mendengar keputusan yang telah Henny dan Servio sepakati. Cara Ree membalas kebaikan Servio, biar Henny yang tuntaskan, begitulah Henny memikirkannya. Selama ini, Henny selalu sendiri dan hanya Ree yang ingin berbicara dengannya. Segala kebaikan Ree itu, tentu tidak akan Henny biarkan. Mungkin harus berhadapan dengan keluarga besar Lumen yang mana Ree adalah salah satu bagian dari keluarga itu, namun…


“Jangan pedulikan hal itu, bukan berarti aku meremehkan keluargamu. Namun ini adalah caramu bisa membalas apa yang Servio telah berikan padamu. Buang segala pikiran dan perasaan tak enak itu, biar kami berdua tuntaskan dan mengacaukannya.”


 


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2