
“Semua undangan sudah pasti sampai ke Pulchra melalui utusan anda. Untuk persiapan perayaan, semuanya akan dipersiapkan oleh saya sendiri.” jelas Syricie pada Agnesia saat memberikan laporan terkait kemajuan perayaan ulang tahun Agnesia.
“Juga jangan lupa perkenalan Frigid di hari itu juga, semuanya harus berjalan dengan lancar tanpa cacat sedikitpun.” tuntut Agnesia.
Syricie memahami titah itu dan tentu saja ia tidak akan setengah-setengah dalam bertindak. Sementara itu, Agnesia juga tak ingin mengulur waktu lebih lama lagi untuk menahan Frigid di Pulchra. Pria itu secepatnya harus ke Agnus dalam waktu dekat ini.
“Karena Smith nampaknya tidak dapat bekerja sama dengan baik, Syricie kamu juga adalah yang paling aku andalkan di sini. Kalau kita gagal mendapatkan Frigid, sama saja aku gagal cetakan terakhir untuk kumpulan sumber daya manusia luar biasa di Agnus.”
Setelah laporan itu selesai, Syricie pun pergi meninggalkan ruangan Agnesia. Di tangannya, ia menggenggam lembaran-lembaran laporan yang mana akan kembali di evaluasi. Sepanjang perjalanannya menuju ruangan pribadi yang diberikan oleh Agnesia, pikiran Syricie kembali membawanya ke masa lalu.
Dimana ia baru saja menjadi selir setelah bertemu dengan Agnesia di rumah sakit tempat ia bekerja dan belum lama itu ia diberitahu akan menjadi selir namun bukan untuk memberikan keturunan bagi Agnesia melainkan untuk menjadi orang suruhannya yang harus mengabdi.
Syricie tak dapat lagi kembali ke masa lalu dimana ia sebenarnya diberi pilihan untuk ikut atau melawan.
Namun, ia tidak bisa mengorbankan orang-orang yang ia cintai untuk melawan perintah ratunya.
Kini ia mengabdikan seluruh masa hidupnya untuk menjadi dokter pribadi ratu dan orang suruhannya dalam hal apapun.
Di masa lalu juga, Syricie mendengar kenapa Agnesia memilih Frigid untuk menjadi selirnya saat anak itu beranjak dewasa.
Tidak seperti dirinya, Frigid adalah calon selir untuk urusan keturunan ratu.
Pemicu untuk segala tindakan dan keputusan itu tak lain adalah apa yang ada dalam keluarga Cali. Keluarga yang sudah lama mengabdikan dirinya untuk kerajaan Pulchra memiliki segalanya, tapi tak pernah merasa cukup dengan apa yang dimiliki.
“Kenapa harus dengan keluarga Cali?”
“Padahal Yang Mulia sudah memiliki segalanya, meski kita tidak semaju Pulchra, tapi hidup kita sudah lebih dari cukup.”
Pertanyaan demi pertanyaan dulu sering Syricie ajukan pada rekannya sesama selir.
“Aku pernah mendengarnya dari selir yang pernah tidur dengan Yang Mulia. Alasannya tidak ingin mengandung dari orang lain kecuali dari keluarga Cali karena keinginannya ingin memiliki keturunan keluarga Cali.”
Alasan itu sejujurnya belum menjadikan alasan kuat untuk Syricie percayai. Seolah-olah perasaan pribadi dan melibatkan dua kerajaan harus kerepotan karena ulah satu orang.
“Keluarga Cali adalah keluarga kuno dan mememang peranan penting antara Pulchra dan Agnus. Leluhur merekalah yang membuat Pulchra dan Agnus tak bersatu serta menetapkan ketentuan yang sekarang menjadi peraturan kerajaan. Yang Mulia yang sekarang bertakhta memang mengubah banyak peraturan dan membatasi eksploitasi kerajaan lain di Agnus.”
Syricie juga mendapat informasi itu ketika ia mempelajari sejarah sewaktu ia berada di akademi.
“Tetapi, jika Dekrit Tiga Permata itu bisa didapatkan, maka Yang Mulia bisa memulai perang dan menjatuhkan Pulchra menguasai sumber daya manusia di sana.”
Dekrit Tiga Permata, merupakan surat perjanjian kuno yang leluhur kerajaan Agnus, Pulchra serta keluarga Cali sebagai mediator menulis perjanjian yang tidak membuat kedua kerajaan saling menjatuhkan dengan beberapa ketetapan yang ada.
Di dalam itu juga, ada tertulis dimana keluarga kerajaan Agnus dan Pulchra tidak boleh menikah dengan salah satu anggota keluarga Cali.
Seharusnya demikian, hingga saat kakek dari Yohan dan Yohanna atau raja sebelum raja menikahi salah satu putri keluarga Cali dan itu membuat murka ibu dari Agnesia karena menganggap itu sebagai kerja sama untuk menjatuhkan Agnus.
“Sebenarnya itu jatuhnya perasaan pribadi seorang Yang Mulia ingin mengabulkan permintaan Yang Mulia Ibu Suri, tapi jika dipikirkan lagi, tindakannya juga mempertimbangkan kerajaan. jika ia tidak menikah dengan keluarga Cali. Sementara Dekrit itu masih dipegang oleh keluarga Cali yang juga ada sebagian darahnya di keluarga kerajaan Pulchra kemungkinan pemusnahan Dekrit itu bisa terjadi. Entah itu di waktu yang akan datang atau dalam waktu yang lama. Sebelum itu terjadi, setidaknya Yang Mulia juga harus memegang kartu As untuk bertarung.”
Syricie hanya terdiam di masa itu saat rekannya menjelaskan apa yang terjadi. Semua rangkuman cerita itu berasal dari sejarah, gosip, dan cerita ratu pada para selirnya.
Selayaknya seperti manusia yang dikhianati, Agnesia juga harus melakukan sesuatu untuk melawan yang menurutnya tidak adil.
*
*
“Bagaimana keadaanmu?” Ree membuka pintu kamar rawat Frigid dan melihat pria itu berdiri sembari melihat keluar jendela.
Siang ini cukup cerah dan terik cahaya mataharinya, sehingga membuat wajah Ree kemerahan dan berkeringat karena ia baru saja selesai magang dan langsung pergi menjenguk Frigid sesaat setelah makan siang selesai.
Tidak, Ree tidak berlari dan hanya berjalan santai meski kepanasan.
Namun sebelum Ree pergi ke kamar Frigid, ia sebenarnya berbelok ke ruangan Wizzle untuk menanyakan keadaan Frigid.
“Meski ia sudah bertahun-tahun bertahan dengan obat berbahaya itu. Tubuhnya sebenarnya juga saya ragukan keadaannya. Untuk masa peralihan pengobatan, pasien mengalami perubahan yang bagus. Meski sesekali kesakitan, tapi pereda sakitnya tidak lagi kami berikan obat terlarang itu. sejujurnya saya juga terkejut. Tubuhnya beradaptasi dengan baik.”
Jika Ree bertanya pada Frigid, penjelasan pria itu tidak akan serinci nyonya Wizzle.
“Aku baik-baik saja. Seperti biasa.” Jawab pria itu sembari mengalihkan pandangannya pada Ree.
Lihat? Tidak ada informasi yang bisa Ree ambil dari orang satu ini.
“Jika kamu bosan, kamu bisa berjalan-jalan keluar. Bukankah masa karantinamu sudah selesai?” tanya Ree heran.
Padahal masa-masa karantina telah usai dan Frigid hanya berdiam diri di kamar saja.
“Karena magang kita dipercepat, setidaknya kunjungi beberapa tempat di Leafa. Karena sebentar lagi kita akan pergi.”
__ADS_1
“Menurutmu tempat apa yang bagus untuk dikunjungi?” tanya Frigid.
Ree juga baru di Leafa, ia juga tidak tahu mana tempat yang bagus.
Tidak tahu disini adalah karena belum mengunjunginya.
“Kamu ingin mengunjungi bazaar di dekat pelabuhan. Banyak makanan enak di sana.” saran Ree.
Itu bukan pilihan yang buruk.
*
*
“Undangan tersebut juga diperuntukkan untuk seluruh anggota keluarga Cali.”
Smith dan ibunya tengah menikmati waktu bersantai di teras belakang vila dengan memandang lautan luas Litore yang tak pernah sepi karena selalu banyak kapal yang datang dan pergi.
“Omong kosong macam apa itu? Ulang tahunnya? Dia pikir perayaan semacam itu layak ia rayakan.” Tentu saja Bianca tidak akan berkomentar baik untuk undangan itu.
Seluruh hidupnya terasa hancur ketika menemui Agnesia. Wanita yang menghancurkan keluarganya itu dengan persiapan meriah untuk merayakan perayaan ulang tahun tentu saja membuat Bianca makin merasa geram.
Dibalik perayaan itu, banyak terdapat luka dan kebencian yang tak dapat diukur lagi.
“Karena itu kegiatan magang para murid akademi dipercepat.” ujar Smith mencoba memahami situasi yang terjadi.
Smith bangkit berdiri, seolah ia tidak bisa duduk dan diam saja sementara orang-orang ayahnya sudah mulai bergerak. Pertaruhan ini mungkin akan sulit ke depannya. Semuanya sebenarnya tergantung pada Frigid, Smith hanya berbuat semampunya untuk melepas adiknya dari belenggu Agnesia.
“Smith, kamu mau kemana?” tanya Bianca saat melihat Smith tiba-tiba saja beranjak dan ingin pergi.
“Ah, aku ingin pergi sebentar. Ibu di sini saja.” ujar Smith sebelum ia benar-benar pergi.
Bianca tidak tahu apa yang Smith lakukan, meski ia sebenarnya merasa ada yang tidak beres dengan tingkah laku Smith. Anak-anaknya menyimpan banyak masalah sendiri dan ingin menyelesaikannya dengan cara mereka sendiri seperti ayahnya. Bianca tidak tahu apa hidupnya akan berakhir sendirian tanpa orang yang peduli padanya.
*
*
*
Kecemasan itu nampaknya tak tampak di wajah Ree maupun Frigid saat keduanya mengunjungi bazaar makanan di Leafa dekat dengan pelabuhan.
“Selama beberapa hari kamu dikarantina, ternyata di kota ada perayaan seperti ini.” ucap Ree sembari menunggu makanannya di masak oleh pedagang.
Frigid memang tak menyangka akan ada perayaan besar meski keadaan kota sebenarnya sedang kritis pemimpin. Ya, pihak-pihak tertentu yang haus akan kekuasaan mana tahu hal yang disenangi banyak orang seperti ini, pikir Frigid.
Bagaimanapun juga, semua orang perlu merasa santai sesekali dalam hidupnya.
“Apa makananmu tidak terlalu banyak?” tanya Frigid menyinggung beberapa kantong makanan yang Ree beli.
“Ah… tentu saja, aku menyadarinya. Aku berencana akan memberikannya pada Brina juga nanti. Bagaimana denganmu? Apa tidak ada yang ingin kamu cari?” tanya Ree heran karena sejak tadi Frigid hanya berjalan mengikutinya dan tidak berminat mencicipi makanan yang Ree tawarkan untuknya.
“Aku tidak merasa lapar sedikitpun.”
Sikap Frigid yang berterus terang seperti inilah yang membuat Ree lelah.
“Besok kita akan kembali ke Litore, kamu harus bersenang-senang setidaknya.” Ree sebenarnya sejak tadi tidak ingin membicarakan kepulangan mereka ke Litore besok.
Terdengar buru-buru namun itulah keadaan yang sebenarnya. Seluruh murid akademi yang ada di Leafa akan kembali bersama besok dengan kapal yang sudah dipersiapkan oleh akademi.
“Kira-kira makanan apa yang kamu sukai?” tanya Ree.
“Menurutmu bagaimana?” tanya Frigid ingin menggoda Ree sedikit karena wanita itu sejak tadi banyak bertanya padanya.
Bahkan Frigid mengeluarkan senyuman tipisnya yang membuat Ree kesal.
“Yaa, aku tidak mungkin tahu!”
Ah! Sudahlah, pikir Ree begitu karena Frigid makin ditanya makin terasa menyebalkan untuk diajak bicara. Ree tidak ingin tahu lagi dan memilih berjalan mendahului Frigid.
Dikiranya niat Ree mengajak Frigid jalan-jalan seperti ini untuk mengusili Ree. pria itu benar-benar tidak tahu caranya refreshing.
Mungkin menurut Ree demikian, sikap acuh tak acuh Frigid dan sikap menyebalkannya terlihat nampak tak peduli dengan jalan-jalan ini adalah karena Frigid tidak tahu caranya menikmati suasana, namun sebenarnya sejak awal Frigid sudah menikmatinya.
“Hey, kamu benar-benar akan meninggalkanku??” Frigid terkejut bahwa Ree sama sekali tidak menunggunya dan terus berjalan meninggalkannya.
Punggung wanita itu sama sekali tidak nampak ingin berhenti meski mendengar suara Frigid.
__ADS_1
“Apa dia benar-benar merajuk? Dasar.” Frigid menggerutu sembari melangkah untuk mendekati Ree.
Benar saja, Ree sama sekali tidak menunggu. Tapi seolah tahu bahwa Frigid ada tepat di belakangnya mengejarnya. Langkah kaki yang tak terburu-buru itu meski bercampur dengan keramaian, Ree masih tahu langkah kaki siapa yang terus mendekat hingga Ree meruntuhkan sikap keras kepalanya dan berbalik untuk melihat siapa yang sedang tertangkap basah ingin menyentuh ujung rambut sebahunya.
“Oh.” ucap Frigid saat ia tertangkap basah dan langsung menurunkan tangannya ke ujung rambut Ree karena melihat ada benda asing di sana.
“Lihat? ada sampah di sini, apa kamu baru berguling di tempat sampah?” tanya Frigid memecah suasana.
Teguran itu bukannya membuat Ree senang, malah semakin kesal. Frigid benar-benar buruk dalam membangun suasana yang bagus.
“Ah! Aku kesal denganmu!” Ree kembali berjalan.
Hatinya memang sedikit kesal karena ulah Frigid, tapi jika diingat-ingat Frigid memang selalu membuat Ree kesal. Baik tindakan bahkan kehadiran pria itu disekitarnya saat dimana Ree mendapat sesuatu kejadian. Pria itu hampir selalu ada di situasi yang memalukan itu. entah itu saat Ree dibully bahkan sampai saat sedang menangis pun.
“Sehari saja kamu tidak membuatku merasa kesal, apa kamu bisa?” tanya Ree pada pria yang sudah menyamakan tempo jalan Ree di sampingnya.
“Apa? Aku tidak merasa berbuat demikian? Tindakanku yang mengganggumu, aku rasa karena tidak sengaja.”
Manusia ini tidak peka atau memilih acuh saja.
Frigid menatap Ree yang memilih memandang sekeliling festival setelah menoleh pada Frigid.
Memang awal dari semuanya itu tidak sengaja.
Frigid tidak tahu jika Ree memiliki kesulitan berinteraksi dengan laki-laki, semua murid wanita yang diseleksi adalah mereka yang terbaik dalam bidangnya dan stabil dalam hal apapun, termasuk Ree sendiri.
Tetapi ketika rasa ketakutan itu tidak bisa ditambahkan dalam dokumen, Frigid bisa apa.
“Tetapi di kelas berburu kita pertama kali, kamu bisa langsung menebak hewan apa yang ingin aku tangkap waktu itu.”
Ree mengernyitkan dahinya dan menatap Frigid heran.
“Kenapa tiba-tiba membicarakan kelas berburu?” tanya Ree heran.
Memang rasanya sudah lama tidak berburu.
“Kita terlalu sering berada di kelompok yang sama. Jika tidak salah, aku berbicara denganmu pertama kali saat kelas berburu.” Ree juga masih ingat tentang perdebatan keputusan Frigid yang ingin menangkap buaya rawa hidup-hidup.
Ree itu wanita yang cukup berani. Cukup tanggap membaca situasi, begitulah pandangan Frigid terhadapnya.
Pada intinya adalah Frigid sangat bersyukur bisa bertemu seseorang seperti Ree.
Seseorang yang berani masuk ke dalam kehidupan Frigid yang penuh dengan masalah, menjadi seseorang yang menentang Frigid untuk mati dengan cepat, meski mengesampingkan kekurangan yang ia miliki dan sering memaksakan dirinya. Menjadi seseorang yang menghubungkan semua orang untuk membantu Frigid.
Jika hidup tak bisa membuat Frigid bersyukur, setidaknya sosok seperti Ree membuatnya bersyukur masih bisa bernapas sampai saat ini.
“Entahlah, aku hanya menyukainya.” ucap Frigid sembari menatap Ree yang juga membalas tatapannya.
Ree memiringkan kepalanya, tak menangkap maksud dari perkataan Frigid barusan ketika ia berbicara tentang pertemuan pertama mereka dan pertama kali mereka saling berbicara satu sama lain.
“Apa yang kamu sukai?” tanya Ree bingung.
Nampaknya yang ada dipikiran Frigid berbeda dengan konteks pembicaraan.
Bukannya menjawab, Frigid hanya tersenyum tipis.
“Kamu bisa mencari jawabannya sendiri.”
Entah itu buaya atau hal lain, biar Ree yang memikirkannya.
“Tapi satu hal yang tidak perlu cari tahu adalah perasaanku untuk rasa terima kasih sampai sejauh ini.”
Setidaknya rasa terima kasih itu ingin Frigid sampaikan meski terdengar seperti orang yang tak tahu berterima kasih karena ucapannya terdengar tanpa emosi.
“Apa yang kamu bicarakan? Bukan padaku, tapi pada semua orang. Aku tidak melakukan apa-apa. Hanya menemanimu seperti orang bodoh dan kadang terdengar membujukmu dengan suara paksaan.” Belum lama merasa kesal karena keusilan Frigid dalam menggodanya, perasaan Ree dikacaukan lagi dengan perasaan segan.
Sungguh, ia malah merasa banyak membuat kesal Frigid karena ia juga kesal. Ree hanya ingin menyampaikan bahwa banyak orang yang ingin mendukung Frigid. Ree merasa tak banyak melakukan hal untuk membantu Frigid.
“Intinya itu yang aku katakan. Mau tidak mau kamu harus menerimanya. Aku tidak peduli dengan komentarmu.”
Mungkin Ree merasa ia tidak melakukan banyak hal, tapi yang merasa pertolongan itu adalah Frigid. Seberapa banyak pengorbanan Ree, mungkin sulit untuk diukur dan dibandingkan dengan orang lain. Tetapi, yang ternekat mungkin ada pada diri Ree.
“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Karena itu, setidaknya kamu mendapat ucapan terima kasih yang layak dari orang sepertiku ini.” ucap Frigid sembari menatap langit yang tak lagi terik seperti sebelumnya karena sudah memasuki sore hari.
“Kamu mengatakannya seolah saat berada di perpisahan.”
Mendengarnya Frigid hanya terkekeh. Suara tawa itu tidak terdengar terbani dan malah terdengar sangat ringan di telinga Ree. jarang mendengar Frigid dapat terkekeh dengan ringan seperti itu. menyikapinya, Ree membalas tersenyum saja.
__ADS_1
Jalan-jalan itu berakhir dengan cepat dan anehnya malam juga berlalu begitu saja hingga pagi-pagi sekali Ree dan semua teman-teman satu akademinya sudah berada di kapal akademi yang akan memberangkatkan mereka ke pelabuhan Litore.
To Be Continued.