We And Problems

We And Problems
Chapter 17 : Kehidupan Seseorang Yang Menyakitkan


__ADS_3

“Haa~,” Ree menghela napas untuk membuang hal-hal yang memberatkan dadanya sehingga sulit baginya untuk menarik udara ke dalam paru-paru. Kelas yang sudah lama usai beberapa jam lalu tidak membuat Ree kembali ke asrama secepatnya, ia ingin namun keanggotaannya dalam pengurus senat tidak bisa membuatnya pergi begitu saja.


Hal yang menambah masalah adalah kehadiran dua orang yang berbeda dalam ruang yang sama membuat Ree mengurungkan niatnya untuk pergi ke ruang senat meski ia memiliki jadwal patroli hari ini.


Ree memutuskan untuk duduk di kandang yang sudah ia isi dengan seekor kelinci dan seekor rusa hasil tangkapan dari Kelas Berburu yang ia ikuti. Melihat hewan liar itu lebih menenangkan dibanding bersama dengan orang pendiam, menurut Ree. Meski rusa yang Servio tangkap itu masih bergetar ketakutan dan hanya duduk berdiam di sudut kandang tanpa mau mendekati Ree.


Lingkungan dan makhluk hidup asing di sekitarnya membuatnya ketakutan. Lain halnya dengan kelinci yang sudah ingin disentuh oleh Ree itu, karena terbiasa hewan itu tidak ketakutan lagi.


Kelinci berbulu coklat itu bahkan ingin makan sayuran yang dibawakan Ree untuknya.


Apa sulit untuk membiasakan diri? Apa semua orang jahat, hingga sulit bagi Ree untuk belajar membiasakan dirinya dengan lingkungan baru? Ia sadar sepenuhnya memiliki sebuah kelemahan,


“Apa kamu tidak tahu bahwa murid di sini dilarang membawa hewan peliharaan?”


Hampir saja Ree berhasil mengelus bulu kelincinya jika saja tidak ada suara asing yang membuat kelinci itu pergi menjauh dari Ree.


“Aku tidak membawanya, tapi mendapatkannya. Dari pada kamu pergi ke sini, lebih baik istirahatkan kakimu di ruang kesehatan.” Ree menyerah untuk hari ini dan akan mencoba lagi pada esok hari ketika ia hanya sendirian, juga ia ingin mendekati rusa yang masih ketakutan itu.


“Tidak kusangka kamu sangat perhatian pada orang lain.” timpal Servio.


Ree tersenyum tipis menanggapinya, setelah memastikan pintu kandang terkunci baru ia memutar tubuhnya menghadap lawan bicaranya.


“Aku hanya basa-basi,” ucap Ree.


Apa lagi yang harus Ree katakan? Sejauh ini mengatakan hal sederhana seperti itu rasanya sudah lebih dari cukup untuk bersikap seperti manusia biasa. Ketika apa yang seharusnya normal orang lain katakan malah menjadi aneh ketika dirinya yang melakukan, juga ketika diri dengan kekurangan tak normal ditampakkan membuat hidup menjadi serba salah.


Salahkah Ree? Atau memang Ree tidak bisa mengatakannya?


“Tunggu dulu, aku belum selesai bicara.”


Tanpa menyentuh seperti pertemuan pertama mereka, Servio cukup menghentikan langkah Ree dengan ucapannya dan gadis itu menuruti. Akan lebih mudah jika dari awal seperti itu hingga Ree tidak memiliki kesan buruk terhadap Servio.


“Apa akan lama?” tanya Ree.


“Nampaknya kamu sibuk sekali.” timpal Servio.


Ree tidak begitu mengakui bahwa ia sibuk untuk saat ini.


“Kita bisa duduk di sana.” kata Ree sembari menunjuk sebuah bangku panjang yang berada tidak jauh dari kandang.


Ree tidak mengerti kenapa ada bangku di belakang gedung sekolah seperti ini, dilihat dari keadaannya masih layak untuk diduduki oleh dua orang atau mungkin lebih.


Meski masih tersisa rasa takut ketika berhadapan dengan Servio namun Ree berhasil duduk di bangku yang sama dengan jarak yang sangat lebar. Seolah tahu apa yang dirasakan Ree, tidak membuat Servio terlalu banyak membuka mulut saat ini.


Melihat seniornya yang mengajaknya duduk bersama setelah lama diabaikan karena tindakan kurang sopannya membuat Servio bungkam seketika dan hanya menatap Ree tanpa berkomentar seperti biasa atau memang wajah Ree yang terlihat tidak ingin diganggu saat ini?


Setidaknya cuaca cerah siang ini membuat suasana Ree sedikit lebih baik.


“Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Ree tenang.


Ada jarak beberapa jengkal diantara mereka hingga membuat Ree masih merasa nyaman untuk menatap Servio. Tidak seperti ketika mengikuti kelas berburu kali ini Ree cukup takjub dengan cantiknya rambut hitam Servio yang ia gerai begitu saja dan terlihat begitu lembut sehingga Ree ingin tersenyum geli namun ia harus menahannya karena tidak ingin memiliki masalah dengan Servio lagi.


“Uhm,” sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan canggung Servio membalas tatapan Ree yang sejak tadi hanya menatap kosong lawan bicara di depannya, meski tidak disadari Servio.


“Kenapa kamu bisa tahu tentang lukaku?”


Ree mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti kenapa pertanyaan semacam itu yang dikeluarkan oleh Servio. Padahal seingatnya belum lama pria itu suka menggodanya dan kini saat ini terlihat canggung dan sedikit menghindari kontak mata dengannya.


“Jika aku mengatakan insting, apa itu bisa diterima? Jika begitupun, apa ada yang salah dari melihat keadaan teman satu kelompok?”


Ketika di hutan seperti yang Ree katakan pada Alexander dulu, mereka memiliki hukum tersendiri saat berada di dalam hutan, membuat Ree memperlakukan semua orang sama dan akan berbeda jika sudah berada di dalam pagar akademi.


“Aku hanya merasa aneh. Padahal itu bukan apa-apa, lagi pula kenapa kamu memperhatikan orang lain yang sudah mengganggumu, aku tidak bisa memahaminya.”


“Jadi, ketika aku mengabaikan orang itu lebih baik?” tanya Ree.


Servio mengangguk spontan.


“Seharusnya kamu tidak perlu peduli dan pikirkan dirimu sendiri.”

__ADS_1


Apa harus begitu ketika hidup? Ree kurang bisa memahaminya. Servio tersenyum hambar, jemarinya perlahan menyisir beberapa helai rambut yang menutupi matanya dan masih menatap Ree yang nampak sedang mencerna maksud dari perkataan Servio barusan.


“Aku ingin bertanya, apa aku ada melewati suatu garis yang tidak boleh dilewati?” tanya Ree penasaran setelah lama berdiam.


“Garis?” tanya Servio heran lalu tak lama tersenyum penuh misteri


“Aku rasa begitu, jadi jangan terlalu mencampuri urusan orang lain dan sembarang menerima orang di La Priens ini. Di sini mungkin terlihat damai, namun seperti medan perang. Kira-kira itu yang dapat aku pesankan untukmu senior.” ucap Servio sembari bangkit berdiri karena dirasa sudah menyampaikan maksudnya mengajak bicara Ree ataukah ada satu hal yang lupa?


“Juga, terima kasih,-!?”


“Jangan sentuh aku.”


Sontak Ree langsung menghindar ketika telapak tangan Servio berniat mengacak pucuk kepala gadis itu sembagai salam perpisahan, melihat respon Ree membuat Servio terkekeh.


“Hati-hati juga dengan kelainanmu ini, aku rasa orang itu akan terus mengawasimu agar tidak mengacau ‘ketenangan’ di akademi.” timpal Servio lalu pergi.


Ree bisa tahu siapa ‘orang itu’ karena sebelum ia berbicara dengan Servio, ‘orang itu’ sudah beradu argumen dengannya.


*


*


*


Menyenangkan rasanya bisa menikmati sore hari dengan tiba di asrama lebih cepat dari biasanya, bagi Ree yang sudah bergabung dalam sebuah organisasi membuatnya sulit untuk kembali lebih cepat dari murid biasa.


Karena itu, Ghea sedang kebingungan karena menatap Ree yang sedang termenung di depan jendela kamar sembari menatap kosong arah lapangan tempat para penghuni asrama bertemu atau melakukan aktivitas luar ruangan seperti berolah raga atau bermain.


“Apa menyenangkan ketika melihat orang-orang?” tanya Ghea, ia pun ikut bergabung dengan Ree yang masih memandang objek yang sama sejak tadi.


“Karena aku jarang kembali dengan cepat ke asrama, aku rasa sesekali melihat orang-orang menjadi adalah hal baik. Aku bisa melihat apa saja yang orang lain lakukan ketika berada di lingkungan seperti ini dan bagaimana mereka dengan mudah membangun komunikasi.”


Ree dan Ghea sudah mengerti dengan sistem yang sedang dicoba oleh La Priens ketika menaruh gedung asrama berdekatan satu sama lain adalah untuk pemandangan yang sedang keduanya lihat. Ingin menciptakan situasi akademi yang nyaman untuk semua gender.


Benarkah begitu? Raut wajah Ree langsung berubah dan segera memalingkan mukannya lalu berniat beranjak dari tempatnya ketika melihat Frigid tiba-tiba hadir di lapangan bersama Yohan dan Yohanna.


“Ree, tunggu dulu.” ucap Ghea sembari menahan bahu Ree untuk tidak pergi dari tempatnya.


“Aku tidak bisa membaca bibir seorang ketika berucap seperti itu.” timpal Ghea ketika melihat mulut Alexander bergerak-gerak menyampaikan sesuatu namun tidak dapat didengar oleh Ree dan Ghea.


“Haa, nampaknya aku harus turun tangga untuk mendengarnya.” Ree langsung bergegas keluar kamar ketika mendapat konfirmasi bahwa ia yang Alexander tunjuk.


Setelah melihat Ree menghilang dari pandangannya membuat Alexander menghela napasnya, ia sudah banyak mengumpulkan keberanian ‘memanggil’ Ree untuk bertemu dengan gadis itu.


Siapa yang menduga, bahwa Ree akan datang secepat yang Alexander kira. Tidak mengenakan seragamnya dan hanya sweater coklat rajut panjang dengan rok hitam selutut sebagai pakaian sehari-harinya datang menemui Alexander.


“Ada apa Alexander?” tanya Ree.


“Uhm, apa kamu bisa ikut aku sebentar?” tanya Alexander sambil menunjuk arah kemana mereka harus pergi dengan telunjuk kanannya.


Ree bisa melihat sebuah bangku kosong yang ada di ujung halaman tepat di bawah salah satu pohon cemara yang ada di asrama. Gadis itu mengangguk lalu tanpa mengulur waktu lama langsung mengikuti langkah Alexander dari belakang.


“Apa kamu masih mencoba mendekati Liliana?” tanya Ree membuka percakapan. Sejak awal mereka berdua tidak akan berbicara hal-hal yang ringan topiknya.


“Aku rasa semakin menjauh dari target yang aku inginkan.” timpal Alexander.


Ia bahkan sulit mendeskripsikan kejelasan dari target yang ia maksud. Rasanya masalahnya miliknya tidak sesederhana langit biru hari ini yang bersih tanpa ada awan besar yang menghiasinya atau seperti genangan air jernih yang tenang. Terlalu banyak gelombang membuat Alexander sulit melihat apa yang menjadi dasarnya.


“Jujur saja, aku tidak ada di sini untuk mencari apa itu teman.”


Ree mengernyitkan dahinya, ia berada di antara paham dan tidak paham maksud dari pengakuan Alexander.


“Apa kali ini kamu akan mengatakan tujuan yang sulit untuk kamu katakan itu?” tanya Ree langsung menembak.


“Hmm, mungkin kamu bisa mengatakannya seperti itu. Seperti yang kamu tahu, aku berjalan selalu pada jalan yang telah dipersiapkan oleh orang-orang khusus untukku.” Ree mengangguk setuju, karena ia tidak jarang melihat dengan mata kepalanya sendiri sejak bertemu dengan Alexander.


“Aku tidak pernah merencanakan atau memikirkan tentang langkah apa yang harus aku ambil selanjutnya, akan jadi apakah aku kelak, apalagi apa yang harus aku buat. Terdengar nyaman, namun itu seolah membuat harga diriku jatuh.” Lanjut Alexander.


“Aku masih mendengarmu,”

__ADS_1


Alexander mengangguk dan melanjutkan ceritanya.


“Bisa disimpulkan, aku adalah manusia yang sudah teprogram, manusia yang sudah ditetapkan untuk jadi apa, berbuat apa, dan bagaimana hidupnya. Semuanya sudah disiapkan untuk orang sepertiku.”


“Apa yang membuatmu hidup seperti ini? Apa hidup seperti itu yang membuatmu serba bisa atau sebaliknya?” tanya Ree.


Ree tidak ingin mencela cara hidup Alexander dan pilihannya, ia tidak ingin mengomentari bahwa cara hidup seperti itu salah, namun untuk orang lain hidup Alexander memang tidak biasa dan unik. Sedikit membuat hati Ree menjadi renyuh ketika mendengarnya, menandakan ia memiliki simpati untuk itu.


“Apa aku boleh sombong jika aku istimewa?” tanya Alexander menoleh pada Ree.


“Aku suka membaca sejak usiaku 4 tahun dan masuk pembelajaran khusus ketika 5 tahun untuk mempelajari sejarah kerajaan, politik, bahkan bisnis. Ketika ayahku tahu aku cepat belajar dan memahami, semuanya menjadi di depan mataku. Jalan, pujian, tempat, dan bahkan orang-orang yang bisa berbicara denganku.” Alexander menceritakannya sembari mengingat masa-masa yang telah ia lewati sampai hari ini. Dimana ketika ia lebih nyaman sendirian dibanding harus berbicara dengan orang-orang yang lebih tua darinya dan membicarakan permasalahan-permasalahan berat kerajaan. Tubuhnya masih belia dan seharusnya bisa bermain bola atau piano lalu bersenang-senang dengan teman seusia.


Namun seperti yang sudah dijelaskan, Alexander merupakan manusia teprogram oleh orang tuanya untuk menjadi apa yang mereka inginkan. Tanpa perlu mencari dan membuat jalan, bermimpi, bahkan berteman. Sampai dimana ia melihat sebuah kesempatan di dalam sebuah pekerjaan yang harus ia lakukan.


Mengawasi Frigid, putra kedua keluarga Cali yang terhormat di kerajaan itu membuat Alexander bisa bergabung di La Priens sebagai seorang murid. Ia tidak akan pernah mendapatkan kesempatan ini jika bukan karena Frigid, karena mungkin ia hanya belajar di kediamannya dengan pengajar pribadi.


“Apa kamu menikmatinya?” tanya Ree setelah keduanya lama berdiam diri satu sama lain.


Setelah mendengar kisah dari Alexander membuat Ree semakin mengerti bahwa semua orang memiliki kisah kehidupan yang unik-unik dan cara mereka menjalaninya pun bervariasi.


Ada yang bersyukur dan berbahagia, bersedih dan terus mengutuk, juga ada yang mengalir beriringan dengan arus seperti Alexander saat ini. Itu membuat hati Ree sedikit nyilu karena tidak ada raut kebahagiaan yang terpancar dari wajah Alexander ketika menceritakan kehidupannya, bodohnya Ree, ia malah menanyakan perasaan Alexander.


“Heh, aku bahkan tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaanku ketika menceritakannya padamu.” Alexander tersenyum dan membuat Ree tersenyum tipis menanggapinya serta bingung bagaimana menyimpulkan perasaan yang sedang Ree rasakan saat ini. Begitu campur aduk dan membuat sakit kepala.


“Aku bingung,” ucap Ree setelahnya.


“Ceritaku sulit dipercaya ya?” Ree menggeleng.


“Aku tidak mengatakan cara hidupmu itu salah, tidak seperti itu. Namun aku hanya bingung dengan kehidupan yang kamu jalankan itu, lalu kamu ceritakan padaku hari ini. Lantas, tujuanmu masuk di La Priens tak kala ingin ‘kabur’ dari kehidupan rumahmu itu?”


Alexander mengangguk, mengiyakan apa yang ditebak Ree itu benar. Ia ‘kabur’, ingin pergi meski hanya sebentar dari rumah yang menurutnya tidak memberikannya arti dari hidup itu. Lari sejenak dari pembicaraan berat dan rumit orang-orang di rumah serta disekitarnya meski tidak sepenuhnya dapat ia tinggalkan ketika kaki Alexander sudah memijak ke La Priens dan tetap berdiri di belakang Frigid.


“Di sini, meskipun tidak seperti ekspetasiku, aku merasa lebih bisa bernapas dan bersyukur bertemu banyak orang termasuk Liliana dan dirimu Ree. Meski aku tidak bisa memenuhi janjiku, namun kamu sempat mempercayaiku dan bersamaku sebagai teman sebaya itu lebih dari cukup.”


Ree mendengarnya dengan jelas meski ia tidak menatap Alexander secara langsung. Rasanya memang menakutkan ketika apa yang dijanjikan malah teringkari dalam waktu yang tidak lama.


Manusia itu tetap manusia, sesempurna apapun hidupnya selalu ada kesalahan. Membuat Ree memahami tentang ketidaksempurnaan hidup dari berbagai rasa sakit yang ia rasakan sampai saat ini.


“Aku hanya ingin melindungi Liliana dan memilih jalan terbaik yang aku rasa aman untuk dipijaki. Dimana jalan itu, aku, Liliana maupun kamu Alexander bisa berjalan tanpa khawatir ada yang sakit. Aku rasa aku terlalu berlebihan memikirkannya.” Ree mengungkapkan alasannya kenapa ia ingin menjalin pertemanan dengan Alexander.


Tidak lain adalah mencari jalan tengah yang setidaknya tidak merugikan mereka. Mungkin sampai saat ini tidak semulus yang Ree bayangkan, terbukti ketika ia harus berhadapan dengan Servio yang tiba-tiba menyerangnya dan membawa nama Alexander.


“Itu Alexander,”


Obrolan Ree dan Alexander terpotong karena beberapa murid wanita membisikkan nama lawan bicara Ree saat ini sembari melihat ke arah pria itu dengan tersipu malu lalu melambai kecil mencoba menyapa Alexander dan tanpa ragu Alexander membalas sapaan malu itu hingga membuat tiga gadis yang lewat langsung kabur karena kegirangan dan malu sekaligus.


“Kepolosan Liliana dan keberanian dirimu seolah menyelamatkanku,” Alexander beranjak dari duduknya dan Ree ikut bergerak karena hari tidak lama lagi akan menjadi gelap, oleh karena itu ia ingin naik ke kamarnya dan bersiap makan malam.


“Jadi aku berterima kasih kepada kalian dan meminta maaf karena menyulitkan kalian.” Dengan canggung Alexander mengutarakan maafnya setelah mengingat kembali bagaimana Ree mendiaminya beberapa hari karena kesalahan dari kecerobohan Alexander.


“Hmm! Aku mengerti.”


“Tapi Ree!”


Ree tidak jadi memulai langkahnya karena nampaknya Alexander masih ingin mengatakan sesuatu padanya.


“Ada apa lagi?” tanya Ree.


Di ujung lidah Alexander seolah ingin bertanya tentang maksud Frigid mengembalikan Ree ke akademi asalnya pada gadis itu, namun lidahnya kelu dan pikirannya kacau ketika ingin bertanya. Alexander khawatir jika perkataannya bisa menyakiti perasaan Ree.


Ia tidak tahu apa masalah Ree dan Frigid, jika Frigid sampai berniat mengembalikan Ree, itu berarti terdapat masalah serius pada Ree meskipun sejauh ini terlihat baik-baik saja di mata Alexander.


Cepat-cepat Alexander membuat pikiran itu dan kembali melihat kearah gadis bersurai coklat itu.


“Kamu akan di La Priens sampai akhir, bukan begitu?” tanya Alexander.


Raut wajah Ree kebingungan dan tidak mengerti kenapa Alexander menanyakan hal itu padanya tiba-tiba.


“Iya, tentu saja. Aku tidak suka melakukan hal yang setengah-setengah.” dengan santainya Ree menjawab pertanyaan Alexander lalu pamit masuk ke asrama lebih dulu dari pria itu.

__ADS_1


Meski terdengar dingin, jawaban Ree cukup untuk membuat Alexander lega.


To Be Continued.


__ADS_2