
Seusai kelas Berburu selama tiga hari diluar La Priens, rombongan kereta kuda yang mengangkut rombongan kelas Ree hadir memenuhi jalanan dan lapangan asrama. Sontak menjadi perhatian hampir seluruh murid yang sedang ada kegiatan di sekitaran.
“Wah, wajah-wajah itu bukan seperti manusia lagi.” komentar Yohanna takjub ketika ia melihat orang-orang yang keluar dari bilik kereta rata-rata nampak kelelahan berlebihan.
Ia dan Ghea kebetulan sedang duduk di bangku taman yang tak jauh dari tempat para kereta kuda parkir menatap wajah Frigid yang keluar dengan kedua kantung mata di wajahnya, bersamaan dengan Alexander yang berkali-kali menguap.
“Ree, kita sudah sampai.” ucap Liliana membangunkan temannya yang sudah terlelap dari awal perjalanan sampai mereka tiba di kawasan akademi.
Perasaan Ree, mereka berangkat cukup pagi dan kini ia merasa panas matahari tidak terlalu menyengat menandakan hari hampir sore. Terpaksa ia mengangkat kelopak matanya meski lelah sekali dan beranjak pergi dari bilik kereta.
Ree tidak bisa membayangkan betapa melelahkannya kelas yang ia ikuti selama lebih dari tiga hari diluar pagar akademi. Ia harus bolak-balik bersama frigid untuk mengecek jebakan dan belum lagi berhati-hati dengan serangan beruang yang mereka serang.
Namun, dalam hati ia bersyukur sukses melewati semua itu dan dapat kembali memijakkan kakinya pada rumput hijau La Priens.
“Nampaknya kelas kali ini sangat melelahkan.” tegur seseorang saat Ree baru saja turun dari kereta.
Ree langsung sadar sepenuhnya ketika menatap ujung sepatu kulit hitam ada di hadapannya dan tengadah untuk menatap pemiliknya, yaitu Servio.
“Kami diberi libur hari ini, jadi aku ingin tidur.” Ree jujur dengan apa yang saat ini ia pikirkan.
Servio tidak bisa melarang Ree untuk istirahat ketika melihat sorot mata yang tidak tertarik pada sekitar dan hanya ingin segera menutup kelopak matanya.
“Hei, Ree. Ayo kita kembali ke asrama.” panggil Liliana yang sudah bersiap.
“Jadi, aku pergi dulu.” ucap Ree pada Servio.
Ree berterima kasih dengan sambutan servio, namun ia terlalu lelah untuk meladeni pria itu.
*
*
*
Sama seperti murid lain yang baru kembali, Frigid juga berniat istirahat di kamarnya setelah tiba. Semua barang-barangnya sudah ia susun pada tempatnya dan sudah membersihkan diri. Hari memang belum gelap, namun Frigid merasa tidak ada salahnya untuk tidur lebih awal.
Perlahan pria itu membaringkan tubuhnya pada kasur untuk mendapat kenyamanan. Namun tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka oleh seorang tamu yang tidak di sangka akan hadir, atau memang diterka akan hadir namun tidak diketahui kapan ia akan tiba?
Mata Frigid yang terlanjur menangkap sosok yang masuk ke dalam kamarnya dan Alexander membuatnya kembali bangun dan berdiri.
“Saya menghadap Yang Mulia Ratu Agnesia.”
Wanita yang nampak lebih dewasa itu membuka topi yang menutup kepalanya dan mulai menggeraikan rambut pirang bergelombangnya, membiarkan Frigid meraih jemari tangannya dan mencium punggung tangan Agnesia.
“Nampaknya kamu sehat-sehat saja Frigid.” ucap Agnesia sembari mengelus pipi Frigid dengan lembut.
“Keadaan saya saat ini tak lain adalah berkat anda.” ujar pria muda itu sembari menundukkan pandangannya.
Agnesia mungkin memiliki jarak usia yang cukup jauh dengan para murid La Priens termasuk Frigid itu sendiri, namun wajah wanita paruh baya itu sama sekali tidak nampak memiliki garis keriput satupun. Bola mata safir itu menatap senang wajah pria yang akan ia angkat menjadi selirnya beberapa bulan ke depan.
Tangan yang berada di wajah Frigid perlahan turun ke leher hingga dada bidang pria itu dan Agnesia terlihat takjub dengan apa yang ia sedang sentuh.
“Kamu membentuk tubuhmu dengan bagus.” puji Agnesia.
Mendengarnya Frigid memilih diam saja, meski kedua tangan Agnesia meraba hampir ke seluruh tubuhnya. Mulai dari dada perlahan menuju perut atasnya dan maju melingkari pinggang pria muda itu bahkan hampir meraih bokong Frigid.
“Yang Mulia, sudah waktunya kita pergi ke istana.” Tiba-tiba seorang prajurit pria masuk menginterupsi Agnesia dan Frigid di dalam kamar itu.
Frigid yang sedari tadi hanya menutup mata dan terdiam menatap Alexander yang sudah berada di ambang pintu dengan wajahnya yang sebetulnya sangat resah, berbeda dengan Frigid yang terlihat tenang dan masih bisa bertahan.
“Benarkah?” Agnesia menarik tangannya yang hampir saja menyentuh kedua bokong Frigid.
“Sampai jumpa lagi Frigid.” ucap Agnesia menarik wajah Frigid dan mengecup pipi pucat pria itu dengan lembut lalu pergi meninggalkan Frigid dan Alexander di dalam kamar.
Frigid masih berdiri di tempatnya semula, rasanya kedua telapak tangan Agnesia meninggalkan sisa sentuhan yang masih bisa Frigid rasakan. Tubuhnya bahkan pikirannya sama-sama dibuat merinding, namun Frigid tidak bisa lari kemana-mana dan hanya bisa diam dengan mengepal kedua tangannya di sisi tubuh serta menutup mata untuk tidak melihat apa yang orang lain lakukan dengan tubuhnya.
Meski tahu ia masih berpakaian lengkap, entah mengapa Frigid merasa dirinya sudah ditelanjangi.
“Frigid?” Alexander menyentuh pundak pria yang mematung itu.
“Ah, iya. Aku ingin mandi dulu.” ucap Frigid segera mengambil handuknya dan pergi meninggalkan kamar.
Alexander tahu, meski Frigid ingin menolak, namun pria itu tidak bisa dan Alexander juga tidak dapat melakukan apa-apa untuk Frigid.
*
*
*
Yohanna benar-benar tidak menyangka tentang siapa yang ada dihadapannya saat ini.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian seperti pria tua, begitulah yang Yohanna pikirkan tentang Agnesia yang ketika mereka berpas-pasan di jalan pulang menuju asrama.
__ADS_1
Agnesia baru saja keluar dari pagar asrama dan bersiap menaiki kereta kuda yang akan mengantarnya ke tempat ia tinggal di Crystallo.
“Wah, saya tidak menyangka akan bertemu dengan tuan putri.” ucap Agnesia menyapa Yohanna yang sudah lebih dulu dongkol hanya dengan melihat ratu kerajaan tentangganya.
“Saya menyapa Yang Mulia Ratu. Tidak biasa seorang ratu mengunjungi calon selirnya dan berpakaian seperti seorang pria.” Yohanna membalas sapaan Agnesia dengan menyindir.
Agnesia tersenyum lembut, kesan elegannya tidak akan hilang hanya karena ia sedang menyamar.
“Saya tidak ingin membuat keributan. Saya hanya ingin menyapa orang-orang saya. Terlebih Frigid, karena ia tidak bisa hidup tanpa saya.” Agnesia menatap Yohanna lurus dan cukup tajam.
Yohanna tahu apa yang dimaksud wanita paruh baya dihadapannya ini. Ia tahu bahwa hidup Frigid sampai saat ini karena bergantung dengan apa yang diberikan oleh Agnesia.
Namun, tetap saja Yohanna tidak dapat menerimanya.
“Kalau begitu, saya harus pergi karena masih banyak yang harus saya kerjakan.”
Yohanna tahu benar jika Frigid tidak bisa bertahan hidup tanpa pemberian Agnesia, namun di matanya cara Frigid membalas kebaikan itu terlihat salah.
Meski tidak terlihat, Yohanna tahu bahwa Frigid tersiksa.
Pria bodoh satu itu hanya terlihat kuat di depan semua orang, namun lemah di hadapan dirinya sendiri.
Saat ini pria yang disebut Yohanna bodoh itu sedang berada di kamar mandi dan tengah mengguyur dirinya pada shower sembari mengusap tubuhnya berkali-kali hingga meninggalkan bekas kemerahan akibat ulahnya sendiri.
Frigid ingin berhenti, namun benaknya tidak bisa. Ingatannya akan sentuhan itu membuatnya ingin mengelupas kulitnya sendiri.
Apa sesulit ini untuk hidup di dunia?
Frigid puas bertanya dengan dirinya.
Apa ia tidak bisa tinggal di dunia? Sudah lama ia merasa jika dirinya mati.
Napas saat ini hanya sebagai formalitas pada orang-orang agar tahu bahwa ia adalah masih hidup, sementara sebenarnya ia bukan lagi milik dirinya sendiri melainkan milik orang lain.
Frigid mencengkram kedua lengannya, memeluk dirinya sendiri. Merasakan dinginnya air yang mengguyur seluruh tubuh telanjangnya.
Ketakutan, resah, khawatir, kesedihan itu berkumpul menjadi satu dalam dirinya sendiri dan melebur bersama segala emosinya yang terbawa oleh angin yang mengalir saat ini.
Dinginnya air tidak kunjung mendinginkan kepalanya.
“Mau sampai kapan kamu berada disini? Apa kamu tidak takut jika ada orang lain melihat keadaanmu seperti ini akan terkejut bahwa Frigid yang beribawa itu ternyata adalah orang yang lemah?”
Jantung Frigid terasa sakit ketika seseorang menginterupsinya dan tahu tentang keadaannya. Tidak lain adalah Servio yang baru saja tiba di kamar mandi dan bersiap untuk mandi.
Servio yang berada di sisi Frigid menatap seluruh tubuh pria itu dan tidak perlu ditanyakan lagi kenapa.
“Apa kamu benar-benar akan menguliti diri sendiri?” tanya Servio heran, pria itu pun mulai menghidupkan keran showernya.
“Jika kau takut kenapa tidak kau hindari saja? Apakah sulit menerima takdir?” tanya Servio.
Saat ini di kamar mandi hanya ada Servio dan Frigid, murid lain belum ada yang mandi sore.
“Apa takdir itu benar-benar harus diterima? Lagipula apa itu takdir?” tanya Frigid entah pada dirinya atau pada Servio.
“Takdir ya? Apa hidupmu saat ini karena takdir? Apa kamu tidak berpikir bahwa ada jalan yang bisa mengubahnya jika kamu sedikit bergerak?” Servio juga bertanya-tanya apa ada seseorang yang bisa mengubah takdir.
Lagipula, takdir itu apa?
*
*
*
“Takdir itu seperti garis yang sudah di atur oleh yang Maha Kuasa. Garis yang ia gambarkan dalam bentuk seseorang dan perjalanan mereka. Tuhan menggambar garis itu tidaklah lurus, Ia menggambarnya dengan seluruh kehendakNya yang tidak pernah ada yang tahu ujung garis atau bentuk garis itu seperti apa. Tapi kamu tahu, Tuhan tidak menggambar garis dengan memasukkan cobaan di dalamnya.” jelas Ghea ketika ada seorang gadis bertanya padanya dengan mengunjungi kamar Ghea dan Ree.
Gadis itu berasal dari kelas lain dan penasaran dengan kemampuan Ghea.
“Lalu, dari mana asal cobaan itu?”
Ghea tersenyum dan menggeleng.
“Misteri kehidupan, cobaan, keberuntungan, tidak semuanya bisa terungkap. Tapi, kamu harus tahu, bahwa di setiap cobaan Tuhan selalu menyertaimu untuk melewatinya.”
“Benarkah? Terima kasih penjelasannya. Sampai jumpa Ghea.”
Ghea hanya melambai kecil gadis pengunjung itu dan kini hanya ada Ree dan Ghea di kamar. Biasanya kamar mereka akan ramai, namun malam ini Liliana dan Maglina memutuskan untuk istirahat di kamar mereka karena terlalu lelah.
“Takdir itu ada banyak macam, bukan begitu Ghea?” tanya Ree yang sedang duduk di kasurnya.
Ghea menatap Ree dan tersenyum.
“Itu benar,” gadis bersurai coklat bergelombang itu ikut duduk di atas kasur Ree.
__ADS_1
“Tuhan menggambar banyak jenis garis takdir, layaknya seperti garis yang ada di telapakmu ini.” Ghea tiba-tiba meraih telapak tangan Ree dan membaliknya. Menaruh telunjuknya pada garis tangan Ree.
“Lihat, banyak cabangnya. Ini seperti keputusan kita. Tuhan tidak seegois yang orang-orang pikirkan. Pada dasarnya Tuhan selalu ada saat kita menderita. Kita selalu diberi pilihan Ree, Tuhan itu murah hati.”
Ree mengakui bahwa kekurangannya saat ini sering kali menyulitkannya, namun itu juga yang mampu membuatnya mengambil pilihan dan ingin berubah menjadi lebih baik.
“Apa ada satu takdir yang tidak bisa kita rubah Ghea?” tanya Ree penasaran.
Ghea hanya tersenyum.
“Itu adalah misteri kehendak Tuhan.”
Malam ini rasanya tidak cepat berlalu, Ree padahal sudah yakin bahwa ia akan cepat terlelap karena kelelahan. Besok mereka tidaklah libur dan Ree ada kelas di pagi hari.
Namun masalahnya adalah ia tidak bisa menutup mata untuk terlelap meski sebentar.
Tidak ada yang mengganggu pikirannya dan batinnya. Saat ini yang salah adalah fisiknya sendiri yang tidak bisa tidur.
Ree menyingkap selimutnya pelan dan memperhatikan Ghea sudah berada di alam mimpi. Saat ini penghuni asrama sudah sepenuhnya terlelap, kecuali dirinya.
Ree memutuskan untuk turun dari ranjangnya dan perlahan berjalan menuju jendela kamar mereka untuk melihat betapa gelapnya lingkungan sekitar karena tidak ada kegiatan seorang pun malam ini.
Iya, itu dugaan awalnya sebelum melihat seseorang membawa sebuah lentera dan berjalan menuju gerbang pintu masuk asrama. Ree seperti mengenal siluet di tengah kegelapan malam itu membuatnya memutuskan untuk membuka jendela untuk memastikan tentang siapa yang ia lihat.
“Alexander?” ucap Ree ternyata sampai pada telinga orang yang memang adalah Alexander itu sendiri karena ia belum terlalu jauh dari pintu masuk gedung asrama.
“Sssttt…” Alexander menaruh telunjuknya pada mulut untuk meminta tidak bicara lagi.
Ree tidak tahu kenapa Alexander bisa keluar malam-malam dari gedung asrama yang pasti sudah dikunci, menyampingkan pikiran itu, Ree sedikit mencondongkan tubuhnya.
“Apa yang kamu lakukan?” samar-samar Alexander dapat mendengar suara Ree yang sangat pelan itu.
Tidak sepenuhnya jelas di mata Ree tentang bagaimana penampilan Alexander saat ini, yang jelas dapat ia tangkap adalah pria itu masih mengenakan piyamanya sembari membawa sebuah lentera dan raut wajahnya nampak begitu resah.
“Frigid,” lirih Alexander dan tentu saja Ree dari lantai dua tidak dapat mendengar sedikitpun meski tidak ada suara manusia lain selain mereka berdua.
Tiba-tiba Ree mengingat sesuatu dan meraih buku catatan di mejanya lalu menuliskan sesuatu yang membuat Alexander menunggu meski tidak diminta.
Ree pun meremas kertas putih itu dan melemparnya pada Alexander.
“Apa kamu perlu bantuan dan semacamnya? Aku bisa turun jika kamu ingin. Tolong silangkan tanganmu jika tidak dan mengangguklah jika jawabanmu ‘iya’.” Alexander membaca tulisan Ree yang dilemparkan padanya.
Ree tidak bisa menangkap ucapan Alexander sebelumnya, namun raut wajah pria itu nampak sangat gelisah seperti mencari sesuatu dan pasti hal itu sangat penting baginya. Ree sadar jika ia bisa saja melanggar aturan asrama jika ia keluar pada jam tidur.
Namun ternyata jawaban Alexander adalah tidak. Ia tidak ingin melibatkan Ree dalam pencariannya dan membuat wanita itu melanggar aturan asrama hanya karena ingin menolongnya.
Baiklah, Ree mengangguk menandakan dirinya mengerti dengan apa yang Alexander maksud. Ree pun memutuskan untuk menutup jendelanya karena angin malam ini sangatlah dingin. Ree khawatir jika angin tersebut dapat mengganggu Ghea yang tengah terlelap.
“Haah, Frigid. Kamu ada dimana saat ini?” tanya Alexander mengitari seluruh pandangannya pada halaman luas dan gelap milik asrama tempat mereka tinggal.
Begitulah, Alexander memang sedang mencari seseorang yang penting. Sejak sore bahkan tidak ikut makan malam, Alexander tidak tahu kemana perginya Frigid. Kecemasannya tidak sebatas karena ia hanya mengawasi Frigid semata, karena Alexander tahu bagaimana seorang Frigid makanya ia begitu mencemaskannya.
Alexander tahu meski tidak dinampakkan, bahwa ada satu hal yang sangat dibenci oleh Frigid.
Putra kedua keluarga Cali itu membenci hidup dirinya sendiri.
“Apa kamu akan berdiri sampai pagi?”
“Ree?! Apa?! Bukankah aku menolakmu untuk pergi?! Kenapa kamu ada disini?”
Ree sudah menutup pintu masuk asrama dengan sangat tenang. Salahkan Alexander tidak mengunci pintu itu ketika keluar dan tentang bagaimana bisa Ree rela keluar di tengah malam ini adalah karena Ghea itu sendiri.
*
*
*
“Ree, aku ingin kamu turun dan menolong Alexander. Aku merasa ada yang tidak beres.”
Cukup membuat Ree hampir serangan jantung karena setelah ia menutup jendela, ia sudah melihat Ghea bangun dan duduk di pinggir ranjang sembari menatap Ree datar. Nampak setengah sadar ia mengucapkan kata-kata itu, awalnya Ree mencoba untuk menolak karena mengingat Alexander sendiri sudah menolak tawarannya.
*
*
*
“Ada satu hal yang membuatku ada disini. Lalu, apa yang membuat wajahmu nampak pucat seperti ini? Apa benda itu sangat penting?” tanya Ree heran dengan wajah Alexander yang tidak berubah-berubah dari tadi.
“Ini bukan barang Ree, ini tentang seseorang dan kemungkinan dalam bahaya. Ini tentang Frigid yang tidak kembali sejak sore.” ucap Alexander dengan suaranya yang terdengar sedikit bergetar.
Ree tahu bahwa Alexander adalah teman sekamar dengan Frigid. Namun nampaknya hubungan keduanya lebih dari itu karena rasa cemas yang dirasakan Alexander saat ini bukanlah sebatas rasa cemas pada teman sekamar.
__ADS_1
To Be Continued.