We And Problems

We And Problems
Chapter 77 : Perusak Kencan Orang Lain


__ADS_3

Ree masih menunggu Frigid menjawab pertanyaannya. Mungkin sepele dan tidak biasa bagi Ree untuk tahu masalah Frigid, hanya saja pria itu masih menahan diri untuk berbicara dengan Ree.


“Tidak… bukan apa-apa…” ucap Frigid langsung pergi keluar lebih dulu dari Ree.


“Bisa-bisanya ada orang tidak jelas seperti dia…” guman Ree lalu menyusul Frigid keluar dari ruangan.


Ree sedikit terburu-buru keluar dari gerbang karena hari ini ia memiliki janji dengan seseorang dan benar saja, Ree bahkan tidak menyangka bahwa orang yang memiliki janti pertemuan dengannya sudah menunggu di depan gerbang dan langsung tersenyum sembari melambai pada Ree ketika melihat wanita itu muncul dari dalam gedung yayasan.


“Tuan Smith…” seru Ree senang sembari ia sedikit berlari menghampiri pria yang ia panggil itu tengah menunggu di samping gerbang yayasan.


“Ree, maaf karena ingin bertemu denganmu lagi.” ucap Smith sedikit tidak enak dan diselingi rasa khawatir akan apa yang Ree alami beberapa hari terakhir.


“Tidak, aku tidak apa-apa… apa kita akan pergi ke suatu tempat?” tanya Ree pada Smith ketika mereka secara otomatis mulai berjalan dan saling mengobrol satu sama lain.


Sementara itu, nampaknya interaksi mereka cukup menarik bagi orang-orang yang juga pulang dari yayasan termasuk Frigid.


“Oh, apa itu kekasih Ree? Dia terlihat dewasa…”


Untungnya Smith menggunakan syal yang cukup tinggi sehingga separuh wajahnya tertutupi oleh syal berwarna abu-abu itu. jika tidak, mungkin wajah Smith yang cukup mirip dengan Frigid itu akan membuat orang berpikir lebih jauh lagi.


“Mereka nampak serasi sekali…”


Dibanding rasa iri yang orang-orang disekitar Frigid rasakan, Frigid justru merasa marah dan bingung akan interaksi antara Ree dan Smith semakin menjadi.


Apa peringatan Frigid terhadap Smith selama ini hanyalah pemanis obrolan semata tanpa diindahkan sama sekali?


Tetapi sekali Ree berkata kenapa Frigid harus membenci Smith.


Frigid tak sanggup menjawabnya dan memilih membungkam serta menyimpan semua perkara dalam hati.


Namun entah mengapa, kakinya yang ingin membawanya pergi ke arah yang berlawanan dari dua orang itu malah berputar mengikuti langkah kedua orang yang pergi menuju pusat kota.


Kira-kira 5 meter jaraknya dimana Ree dan Smith tengah menikmati pertunjukkan musik jalanan dan Frigid berada tak jauh dari belakang keduanya.


“Meski aku tinggal di sini, aku jarang melihat pertunjukan seperti ini.” ucap Ree pada Smith yang berdiri di sampingnya.


“Padahal sesuatu yang bagus untuk ditonton.”


Itu benar, pertunjukkan musik di pinggir jalan seperti ini sangat menyenangkan. Namun Ree selalu membatasi dirinya ketika keluar. Ia hanya akan pergi bersama Brina atau Henny, selebihnya jika ia pergi sendirian, ia tidak akan pergi jauh-jauh.


“Bagaimana kita pergi ke toko barang antik di sekitar sini? Kemarin aku bertanya pada rekan kerjaku tentang tempat yang menjual barang bekas.” tawar Smith.


Ree mengangguk, rasanya tidak ada canggung ketika ia berbicara dengan Smith. Selintas rasa resah merasuki dirinya saat pertama bertemu dengan Smith, namun setelah tahu siapa Smith sebenarnya, Ree tidak keberatan berjalan di samping pria itu.


“Nampaknya anda banyak tahu tempat di sini dibanding denganku.”


Smith hanya tertawa, suaranya sangat ringan dan renyah sehingga membuat Ree yang melihat untuk pertama kalinya cukup takjub.


Orang-orang itu memiliki perbedaan. Sebelumnya, Ree hanya bertemu dengan orang-orang seperti Frigid dan Servio, lalu Marco dengan sifat malu-malunya dan nyatanya mereka semua memiliki karakter yang sangat unik dan Ree sendiri merasakan banyak perasaan bercampur aduk ketika berhadapan dengan mereka semua.


“Nampaknya kamu sedang berada di suasana hati yang senang… apa kamu senang bisa berjalan bersamaku?” tanya Smith iseng menggoda Ree.


Ree tersenyum.


“Kenapa tidak? Ini tentu saja menyenangkan…” Ree tidak merasa sedikit kesusahan seperti biasa dan menikmatinya.


“Hahaha… padahal kita bertemu untuk membahas sesuatu yang agak berat, tapi mau tidak mau kita harus merubah suasana menjadi sedikit berbeda…” bisik Smith tepat di depan telinga Ree.


Secara refleks Ree langsung menghindar dan menatap wajah yang tengah tersenyum manis padanya. Hingga terlintas di benak Ree jika Frigid bisa tersenyum lebar dan ringan seperti ini, apa wajah mereka akan mirip?


Smith dan Frigid memang mirip satu sama lain, meskipun nyatanya Smith lebih tua beberapa tahun. Namun wajah mereka memiliki struktur yang hampir saja. Mungkin jika mereka berdiam diri dan bersebelahan, lebih nampak seperti saudara kembar.


“Kamu nampak terkejut dan pucat… itu menggemaskan.” Smith mengangkat kepalanya dan mendorong gagang pintu masuk toko antik yang ingin mereka kunjungi.


“Ahaha… benarkah begitu?” tanya Ree sembari mengusap tengkuknya yang sempat merasa merinding.


Sepertinya Smith benar-benar berbeda dengan Frigid. Aura yang mereka miliki sangat bertolak belakang.


“Bisa-bisanya anak itu membenci kakaknya…” guman Ree sembari menggelengkan kepalanya lalu menyusul langkah Smith untuk masuk ke dalam toko antik tersebut.


*


*


*


Jadi, apa itu kencan antara Ree dan Smith?


Kenapa Frigid sama sekali tidak merasa mengerti ketika ia sudah mengikuti kedua orang itu sampai ke depan toko antik dan kini Frigid masih berdiri tak jauh dari toko antik itu.


Hal yang menjadi masalah adalah, kenapa bisa?


Dari sekian wanita dan pria yang berkencan, kenapa harus kedua orang itu?


“Tidak… pasti bukan itu…” Frigid dengan cepat menghapus perkiraan itu.


Tapi, jika ia melangkah lebih dekat dan dipergoki tengah mengikuti mereka itu akan membuat situasi lebih buruk dan merepotkan.


Ditengah rasa penasaran dan marah, membuat kaki Frigid beku dan kepalanya bingung memutuskan tindakan apa yang harus dilakukan.


“Permisi… tuan, kami baru saja membuka kafe dan terdapat promo, silahkan berkunjung…” tiba-tiba seseorang datang dan menyodorkan sebuah kartu berisi keterangan diskon dan nama kafe pada Frigid.


“Kafenya terletak dimana?” tanya Frigid.


“Ah… kalau itu, ada di lantai dua gedung ini…” tunjuk wanita yang memberikan promo kafe itu ke sebuah gedung yang sama dimasuki oleh Ree dan Smith. Dimana di lantai satu adalah toko barang antik dan diatasnya terdapat kafe yang baru dibuka.

__ADS_1


*


*


*


“Kamu benar-benar hebat…” ujar Smith ketika ia dan Ree tengah memperhatikan sebuah replika kapal di dalam botol kaca dan nampaknya sangat indah.


“Apa itu?” Ree mengalihkan pandangannya dan menatap Smith.


Pria itu jelas nampak tersenyum meski kedua bibirnya hanya tertutupi oleh syal.


“Dia sampai mengikuti kita, bukankah kamu menarik perhatiannya?” tanya Smith.


“Apa yang anda bicarakan? Sejak awal kesannya terhadapmu sangat buruk dan aku hanyalah orang yang sedikit tahu tentang masalahnya, ketika kita bersama seperti ini, tentu saja membuatnya penasaran… nampaknya aku akan mengambil cangkir itu.” tunjuk Ree kepada sebuah cangkir keramik yang bergambar bunga mawar merah.


Sebenarnya Ree dan Smith saling bertemu adalah untuk membahas perkembangan yang ada di Leafa. Sayangnya mereka tidak sebodoh itu, ketika mereka menyadari seseorang mengikuti tentu saja Ree dan Smith langsung merubah rencana dengan menjadikan pertemuan mereka sebagai kencan biasa.


“Waah… matamu jeli sekali terhadap barang bagus. Nampaknya cangkir itu ada pasangannya, aku akan menanyakannya…” Smith langsung menuju ke seorang petugas dan menanyakan barang.


“Kenapa harus dicari pasangannnya?” tanya Ree heran hingga matanya tak sengaja menatap keberadaan punggung Frigid yang sedang bersandar di lemari pajang.


“Dia benar-benar benci kakaknya…” guman Ree geli.


“Apanya?” tanya Smith yang datang sembari membawa sebuah cangkir dengan corak mawar biru.


“Oh! anda menemukan pasangannya.” ucap Ree takjub karena biasanya toko barang antik akan memajang semua barang tanpa menyimpan barang yang mirip.


“Beberapa tempat memang seperti ini… tapi aku tidak bisa menyerah dan menanyakan sesuatu yang aku inginkan… ini.” Smith menyerahkan cangkir mawar biru itu pada Ree.


“Kenapa?” tanya Ree bingung.


“Ambil saja dua-duanya… itu adalah hadiah.” timpal Smith.


“Tidak… anda tidak perlu…” Ree ingin mengembalikannya ke tangan Smith, namun pria itu langsung menolak.


“Jika kamu protes, aku akan langsung menarik Frigid ke tengah-tengah kita sekarang juga.”


“Kamu ingin membuat keributan?”


Apa itu jenis ancaman yang baru dan tidak dimengerti oleh Ree.


“Baiklah, aku akan meminta membungkusnya dan kita akan pulang.” ucap Smith sembari mengedipkan matanya sebelah.


“Tunggu dulu! Kita bahkan-.”


“Ssttt… bukankah kamu tidak ingin membuat keributan di sini?”


Ree langsung mengatupkan mulutnya saat Smith menjulurkan telunjuknya tepat di depan kedua bibir Ree.


“Frigid??” juga kompak kedua orang itu memanggil namanya.


Frigid, ia sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya dan maju begitu saja ketika semua yang terasa janggal menjadi perasaan aneh.


Ia tidak suka itu dan memutuskan pergi menghentikan Smith.


“Tingkahmu menggelikan, hentikan itu.” mengesampingkan pikirannya yang tak nyaman, Frigid membelakangi Ree seolah menghalangi wanita itu untuk bertatap muka dengan Smith.


“Frigid, apa yang kamu bicarakan?” tanya Ree heran.


Frigid sudah kesal dengan rasa dingin dan syalnya yang ketinggalan, tapi ia masih bisa menahan rasa kesal itu, tapi jika berhubungan dengan Smith membuat Frigid sulit berpikir dengan jernih.


“Apa kamu diancam untuk pergi dengannya?” tanya Frigid pada Ree.


Punggung pria itu sangat terlihat dingin, namun pertanyaan yang bernilai perhatian itu seolah menyuarakan bahwa Frigid adalah pribadi yang hangat.


“Tidak, apa kamu tidak melihat wajahku?” bagaimana bisa Frigid menyimpulkan hal seperti itu.


Jika Ree diancam, ia tentu akan jelas menampakkan wajah tidak nyaman.


“Aku melihatnya dan kamu merasa tertekan.”


“Nampaknya kamu salah paham.” sambut Ree cepat.


Smith benar-benar tidak bisa menahan senyumnya ketika melihat interaksi Ree dan Frigid lebih aktif dari biasanya.


Ree tidak habis pikir dan hanya bisa menghela napasnya, lalu tangannya menyentuh bahu Frigid untuk minggir sebentar agar ia bisa menatap Smith.


Nampaknya pembicaraan berat yang ingin mereka bahas akan tertunda.


“Ayo pulang.” Frigid tanpa basa-basi meraih tangan Ree dan menarik wanita itu keluar tanpa peduli orang-orang tengah memperhatikannya.


“Apa ketahuan selingkuh?”


“Nampaknya diperebutkan…”


“Wah…kasian sekali…”


Smith hanya bisa tersenyum tipis ketika mendengar para bisikan dari pengunjung toko dan kafe yang ada di dalam toko.


*


*


*

__ADS_1


Ree benar-benar tak paham dengan Frigid.


Saat ditarik seperti ini, meski tangannya bergetar dan berkeringat sama sekali tidak dilepas sama sekali. Kaki mereka terus melangkah tanpa henti dan tak menghiraukan banyak mata yang menatap dan bertanya-tanya tentang apa yang tengah terjadi.


“Frigid, ini bukan yang seperti kamu pikirkan...” meski berulang kali Ree mengatakan hal yang sama namun genggaman dijemarinya tak dilepas sama sekali.


Frigid membenci kenyataan ini.


Kenyataan dimana ia datang menghancurkan kencan yang mencurigakan itu lalu menarik pergi Ree dari hadapan Smith ditengah pandangan orang-orang. Namun ia tidak bisa melepas jemari hangat wanita itu dan padangannya tak ingin ia alihkan kemanapun selain jalan pulang. Telinganya yang memerah itu seolah menyangkah bahwa ia mendengar ucapan dari Ree.


Dari segala tindakannya, ia tidak mempermasalahkan jika ia dibenci oleh Ree sama sekali.


Apapun itu tidak ia mempermasalahkannya asal jangan berhubungan dengan Smith di depan matanya.


Namun, Ree tidak bisa menahan semua ini. ia terlanjur penasaran dan hatinya tidak bisa menahan untuk tidak bertanya.


Hingga akhirnya setelah keduanya berada di jalanan sepi dan Frigid masih seenaknya menarik Ree, tangan kiri Ree maju dan meraih kerah baju Frigid dari belakang hingga akhirnya malah wajahnya terantuk ke punggung Frigid akibat pria itu berhenti mendadak karena ulah Ree.


Itu sakit dan sesak, Frigid sempat beberapa detik tidak bisa bernapas.


“Akhirnya kamu melepasnya.” Ree merasa kasihan dengan tangannya yang nampak kemerahan akibat digenggam erat oleh pria gila di hadapannya saat ini.


“Tidakkah ada sesuatu yang harus kamu jelaskan di sini? Jelas-jelas kamu merusak acara kencan kami.” Meski sudah malam, Ree bisa melihat jelas ekspresi wajah Frigid berkat dari lampu jalan yang ada di sepanjang bahu jalan.


Ekspresi itu tak menyiratkan bahwa pria ini sedang merasa senang. Seolah merasa terusik dan tidak nyaman, wajahnya berkerut dan memilih memalingkan pandangannya untuk tidak bertatapan mata dengan Ree.


Tunggu dulu, sebenarnya yang takut di sini siapa? Kenapa malah Frigid yang menghindari kontak mata.


“Kita bahkan tidak berbicara akhir-akhir ini dan kamu bertingkah aneh malam ini. Apa ada yang mengganggumu?” tanya Ree heran.


“Aku juga tidak tahu…” ucapan pelan itu yang keluar dari mulut Frigid dan membuat Ree tidak puas mendengar penjelasan yang terdengar seperti seorang pengecut itu.


“Perasaanmu terhadap tuan Smith adalah perasaan pribadi yang seharusnya tidak kamu kaitkan denganku.”


Tangan Frigid mengepal dengan kuat, seharusnya ia paham dengan hal itu namun ia malah bertindak bodoh seperti ini.


“Berhentilah menemuinya, ia lebih berbahaya dari yang kamu lihat.”


Ree tahu itu, berhubungan dengan Smith sangat berbahaya dan ia sudah merasakannya sendiri.


Pria yang hanya mengenakan satu lapis jaket itu terlihat kedinginan dan hawa dingin itu sampai membuatnya bodoh.


Tidak, bukan hawa dingin itu yang membuat Frigid bertindak bodoh. Ia seharusnya sudah menyadari bahwa itu hanya alasannya untuk menutupi perasaan yang sebenarnya dalam hati.


“Aku sangat menyukai akademiku.” ucap Frigid setelah sekian lama ia berdiam.


“Hmm? Lantas?” tanya Ree bingung.


“Begitu juga orang-orang di dalamnya, aku tidak ingin teman-teman akademiku mengalami kesulitan, meski masalah sekecilpun aku akan tetap memutuskan sesuatu yang adil agar tidak ada rugi.”


Itu merupakan perasaan yang patut diapresiasikan, menurut Ree.


“Bahkan ketika kalian datang di hari itu dan mengikuti kelas berburu… aku selalu merasa khawatir jika teman-temanku membuat para murid baru merasa tidak nyaman…”


Jujur saja, Ree tidak pernah melihat Frigid berbelit seperti ini dalam hal berbicara.


Sudah pasti pria itu sulit mengungkapkan apa arti Ree baginya.


Karena menganggap hidupnya tak berarti dan bukan miliknya, membuat Frigid merasa bersalah karena tidak bisa merasakan apa-apa dan sulit menggambarkan perasaannya pada orang lain.


Simpati? Kasihan? Suka? Benci?


Ia berada di tengah kesulitan dalam menentukan perasaan yang masih samar itu.


Bayang-bayang Margaretha pergi dari hidupnya justru mempersulitkan Frigid untuk menentukan perasaannya.


Hatinya terasa panas ketika orang yang ia kenal berhubungan dengan Smith, juga kadang merasa sakit karena mengingat Margaretha.


“Nampaknya kamu harus yang cerita tentang alasan terbesarmu membenci Smith. Kamu tahu, itu seperti belenggu yang tidak jelas, aku tidak mengerti kenapa kamu membencinya…”


Sebenarnya jika Frigid membenci Smith, bukankah itu cukup membenci Smith, tanpa harus menarik Ree pergi menjauh dari Smith.


“Aku membencinya… dan tak ingin berbicara apa-apa tentangnya.”


Lagi-lagi jawaban berupa garis besar tanpa penjelasan itu membuat Ree menghela napasnya.


“Haahh… baiklah jika begitu… bukankah itu sudah jelas? Jadi aku bisa kembali padanya.”


Ree sangat tidak nyaman meninggalkan Smith begitu saja di toko barang antik karena ditarik oleh adiknya sendiri.


Bisa-bisanya seperti ini dan kacau sekali.


“Jangan pergi!” seru Frigid.


“Aku akan pergi, karena alasanmu sama sekali belum aku terima.” Bahkan dikejar sekalipun, Ree akan tetap berlari dan pergi.


Ree tidak berminat membongkar apa yang ia ketahui dari Margaretha dan Smith. Tapi, di dalam hati kecil Ree sebenarnya ingin mendengar dari sisi Frigid.


“Dia merenggut kebahagiaanku dengan menyiksa orang yang aku sayangi.”


Ree tidak jadi pergi dan memusatkan seluruh perhatiannya pada Frigid.


Nampaknya pria itu mau bercerita.


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2