We And Problems

We And Problems
Chapter 27 : Percakapan di Tengah Danau


__ADS_3

Langit berbintang dan gemerisik dedaunan ketika angin malam menerpa menjadi tempat dan suasana yang membuat seorang pria yang tengah berbaring menyamping itu tidak ingin pergi kemana-mana. Suara katak disekitar pinggir danau nyatanya lebih berisik dari yang diperkirakan.


Frigid memang tidak pernah membayangkan jika ia bisa terlelap dengan suasana hati dan situasi lingkungan yang tidak singkron seperti ini. Terlebih objek tempat ia merebahkan diri tidak senyaman itu.


Ia sendirian, dayung yang membawanya ke tengah danau sudah berenang menjauhi perahu kecil tempat ia berada saat ini, sementara gelombang air danau sama sekali tidak bisa diajak kerja sama dan semakin mendorong perahunya ke tengah danau.


Frigid tidak peduli, bahkan jika perahu yang ia tumpangi saat ini tenggelam. Ia bisa berenang dan mungkin saja ia tidak ingin melakukan itu dan memilih menenggelamkan dirinya bersama dengan perahu.


Selama bisa menghilangkan dirinya dari dunia ini, Frigid selalu merasa hal itu yang terbaik.


Selalu sejak pertama kali mengenal kelas Berburu, Frigid selalu berharap buaya yang ia tangkap akan memakannya atau menyerangnya. Karena itulah alasan terbesar Frigid yang selalu menangkap buaya ketika ia mengikuti kelas Berburu. Bagi orang lain mungkin alasan itu terdengar konyol, namun itu adalah secercah harapan Frigid untuk mengakhiri hidupnya.


*


*


*


Ree terdiam, meski ia memiliki sedikit masalah dengan Frigid bukan berarti hubungan ia dan Frigid sangatlah buruk. Nyatanya tidak seburuk itu dan ketika Alexander mengatakan bahwa Frigid tidak menampakkan batang hidungnya sejak sore, Ree jadi ikut kepikiran.


“Apa kamu tahu tempat biasa yang ia kunjungi?” tanya Ree.


Alexander cepat mengangguk.


“Ada satu wilayah di belakang pagar asrama sebelah barat, disitu ada hutan dan danau kecil. Ia biasanya menghabiskan waktu sendirian disana. Maka dari itu aku ingin melihat ke sana sebentar dan memastikan keberadaannya, mengingat ia suka dengan air.”


“Suka dengan air? Aneh sekali.” Ree sempat-sempatnya mencibir kesukaan Frigid, namun di detik kemudian Ree nampak mengingat sesuatu.


“Alexander, bagaimana jika kita berpencar?” saran Ree.


“Saranmu tidak salah sih, setidaknya dua jam lagi kita kembali ke sini. Jika tidak menemukan Frigid…”


Alexander kembali murung dan tidak dapat melanjutkan perkataannya. Ia bahkan tidak bisa membayangkan jika dirinya tidak menemukan Frigid. Menyampingkan apa yang akan terjadi pada dirinya, Alexander lebih mencemaskan keadaan pria itu saat ini.


Ree menggenggam keras tangannya yang tidak memegang lentera dan perlahan naik ke bahu Alexander serta menepuk bahu pria itu perlahan dengan canggung.


“Kita pasti menemukannya. Ayo kita bergegas.”


Ucapan Ree ada benarnya, jika cepat mereka bergerak harapan pasti ada. Alexander kembali sadar dan setuju.


“Berhati-hatilah Ree.” ucap Alexander ketika mereka sudah berada di persimpangan jalan.


Alexander akan pergi ke arah barat asrama dan Ree memutuskan untuk pergi ke sekitar wilayah dekat gedung akademi.


“Haah, apa yang sebenarnya aku pikirkan.” ucap Ree pada dirinya sendiri sembari menatap jalanan yang di terangi lampu taman di sepanjang jalan. Meski remang-remang cahaya, setidaknya Ree bisa melihat jalan.


Mendengar dan telah menyimpulkan kemana arah Ree pergi berdasarkan ucapan Alexander membuat Ree membuka satu opsi tempat di dalam pikirannya. Ia memang tidak sedekat itu dengan Frigid seperti Alexander. Menyampingkan rasa penasaran tentang hubungan Alexander dan Frigid, Ree memutuskan untuk pergi ke danau belakang akademi tempat ia menemani para pengunjung dari Agnus beberapa pekan yang lalu.


Lokasi taman itu tidaklah jauh dari asrama, Ree hanya tinggal berjalan masuk ke wilayah gedung B dan sedikit ke arah belakangnya dengan mengikuti jalan setapak yang terbuat dari bata yang rapi hingga membawa wanita itu pada sebuah lokasi taman yang dipenuhi pepohonan tinggi, beberapa jenis bunga yang tidak di atur posisinya karena lebih mengarah ke alam liar. Namun dermaga danau yang tidak terlalu luas itu cukup bagus menurut Ree.


Ia pun mulai pencariannya.


“Jika ia suka dengan air, tidak mungkin ia berendam di danau pada jam segini?” Ree bertanya-tanya dan membayangkan betapa gilanya jika Frigid dengan santainya berendam di air danau di tengah malam seperti ini.


Cepat-cepat Ree menghapus pikiran buruknya dan kembali mengitari sekeliling danau namun tidak menemukan sosok yang ia cari.


“Ya, tidak mungkin juga…eh?”


Lentera api yang ia bawa menyoroti sesuatu yang terapung di pinggir danau. Nampak sebuah dayung yang terbuat dari kayu. Ree tidak tahu siapa yang bodoh membuat dayung seperti ini, ia pun memutuskan untuk mengambil dayung itu lalu pergi meletakkan ke dermaga tempat semua sampan disandarkan.


Kembali Ree mengitari pandangannya ke sekeliling danau, hingga menangkap sebuah bayangan dan gelap berada di tengah-tengah danau. Tidak terlalu jelas terlihat karena bukanlah malam purnama dimana sinar bulan dapat membantu untuk melihat di malam hari. Hanya berbekal lentera minyak yang ia bawa Ree menyodorkan lenteranya ke depan agar dapat memastikan apa yang ia lihat.


Setelah lama mencoba menajamkan pandangannya, Ree baru bisa mengkonfirmasi bahwa yang ada di hadapannya beberapa meter di depan adalah sebuah sampan yang terapung.


“Ulah bodoh siapa lagi ini hingga tidak mengikat sampan dengan benar.” Mengingat perannya di senat sebagai bagian keamanan, hal seperti ini tidak dapat Ree lewatkan.


Menambah tugas saja, pikir Ree.


Hingga ia sadar bahwa ada yang berbeda dari sampan itu.


Ree mengedipkan matanya beberapa kali dan mencoba memastikan bahwa sampan itu bergerak karena ada sesuatu di atasnya. Ingin rasanya mundur karena tengkuknya sudah merasa merinding lebih dulu karena situasi ini.


Namun ia kembali mengingat tujuannya ke tempat seperti ini adalah untuk menemukan Frigid.


Ree menelan ludahnya perlahan dan melangkah masuk ke salah satu sampan.

__ADS_1


Ia memutuskan untuk pergi memastikan meski seluruh tubuhnya terasa lemah dan tangannya bergetar cukup hebat hingga sulit untuk membuka tali pengikat sampan.


Ree tidak begitu mengerti kenapa ia melakukan ini.


Ia sudah cukup jauh meninggalkan dermaga kayu di pinggir danau dan semakin mendekati sampan yang terapung begitu saja. Semakin ia mendekatinya dengan mendayung, objek yang terlihat makin jelas dengan bantuan lentera dan baru bisa Ree pastikan apa itu.


“Frigid? Kamu kah itu?”


Mata Frigid yang tertutup tiba-tiba saja terbuka dan jantungnya hampir saja lepas dari tempatnya ketika mendengar namanya terpanggil dan merasakan sebuah objek keras menabrak sampan tempat ia berada serta cahaya lentera menerangi punggungnya yang sebenarnya sudah basah karena air sampan yang sudah cukup banyak masuk ke dalam sampan.


“Kamu? Kenapa bisa?” Frigid bangun dengan cepat dan sama terkejutnya dengan wanita yang terdiam menatap keadaan Frigid saat ini.


Benar-benar kacau dan sulit untuk diartikan.


Kemeja putihnya yang dikenakan sudah hampir semuanya basah kecuali bagian atas, wajah yang lebih pucat dari biasanya, bibirnya yang mengering.


Jelas saja pria itu sedang memiliki masalah dan Ree tidak tahu apa itu.


“Aku membantu Alexander, hey!! Apa yang kamu lakukan saat ini?! Kamu tidak tahu wajah Alexander sudah seperti kehabisan darah karena mencarimu tengah malam! Kamu tahu itu?!” awalnya suara Ree pelan tiba-tiba menjadi tinggi dan mengejutkan Frigid karena wanita itu berani mengomeli Frigid.


Frigid tertegun, ia sudah menebak jika Alexander akan seperti yang Ree beritahukan padanya saat ini. Namun yang menjadi pertanyaan adalah kenapa Ree yang ada di sini dan bisa menemukan dirinya.


“Pulanglah, beritahu Alexander jika aku baik-baik saja.” ucap Frigid acuh.


Angin malam kembali berhembus cukup kencang hingga membuat Ree sedikit meringis kedinginan. Angin itu juga kembali mendorong perahu Frigid menjauh.


Namun tidak Ree biarkan begitu saja karena dengan sigap tangannya meraih tepi perahu Frigid yang sudah cukup banyak terendam air. Beberapa menit lagi akan tenggelam seutuhnya.


“Baik-baik saja apanya? Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi di mataku kamu tidak bisa dibiarkan begitu saja.” ucap Ree menatap tajam Frigid.


“Apa segininya kamu tidak menyukai keberadaanku di akademi hingga ingin membunuh diri sendiri?” tanya Ree penuh percaya diri.


Tentu saja bukan itu alasannya bagi Frigid.


“Tentu saja bukan, kamu percaya diri sekali.” timpal Frigid heran.


Ree juga merasa alasan itu terlalu sepele untuk seorang Frigid frustasi.


Frigid kembali terdiam dan membuat Ree bertanya-tanya tentang apa yang membuat pria dihadapannya ini seperti mayat hidup.


Kadang simpati Ree menutupi segala ketakutannya itu yang membuat Ree heran. Karena itulah yang membuat Ree mampu berhadapan dengan Frigid saat ini.


“Jika kamu terus diam, perahumu bisa tenggelam. Setidaknya jika ingin sendirian buanglah air di sampanmu.” ucap Ree.


“Aku memang ingin tenggelam, jadi kamu tidak perlu peduli dan pergilah.”


“Mana mungkin.”


Tolak Ree dengan cepat dan tegas.


“Memang apa pedulimu!?” tanya Frigid kesal.


“Aku tidak ingin jadi tersangka pembunuhan! Jadi cepatlah naik ke perahuku agar bisa kembali ke asrama.” Ree kembali membujuk Frigid.


Ree bahkan tidak percaya jika ia saat ini sedang membujuk seorang pria. Benar-benar luar biasa akademi La Priens.


“Mana mungkin bisa.” Frigid menatap Ree.


Sorot mata hampa itu kembali masuk ke dalam pandangan Ree.


Hati Ree sedikit terenyuh melihatnya dan ini adalah salah satu dari banyak kelemahan Ree.


“Apa kamu bisa bersamaku di satu sampan yang sama sementara kamu memiliki keterbatasan?”


Jelas saja Frigid menyinggung kekurangan Ree yang sudah ia ketahui dan karena ia adalah bentuk dari wujud yang tidak disukai Ree, maka ia sedikit sadar diri.


Ree memang tidak bisa membohongi dirinya dan orang yang sudah mengetahui kelemahan utamanya satu ini. Sejak tahu siapa yang ia temukan, jantung Ree sudah berdetak tidak normal dan rasa takut itu menjalar ke seluruh tubuhnya melalui sinyal yang diberikan oleh otaknya.


Namun seperti yang Ree rasakan sebelumnya adalah ada dimana ketika simpatinya lebih besar dari rasa takut itu sendiri.


Ree memutuskan untuk mengambil langkah dari simpati yang ia rasakan dengan mengulurkan tangannya ke hadapan Frigid.


“Karena ini, aku membulatkan tekadku untuk tetap berada di La Priens.” ucap Ree penuh keyakinan.


Itu benar, karena untuk saat-saat seperti inilah Ree tetap berada di La Priens meski apapun akan terjadi. Hari-hari dimana ia akan berjabat tangan, menolong seseorang, berada di sekeliling orang-orang yang ia takuti, Ree ingin sekali menghadapi hari-hari itu dengan normal tanpa harus kalut mempedulikan jantungnya yang berdetak tidak normal, getaran tubuh karena ketakutan yang berlebihan hingga kesulitan untuk menarik udara masuk ke dalam paru-parunya.

__ADS_1


Jemari itu jelas berada di hadapan Frigid dan terulurkan dari seorang wanita yang pernah menampar kedua pipinya. Meski terlihat sedikit bergetar, namun tidak terlihat mundur sedikitpun ketika jemari Frigid perlahan mendekatinya.


“Tolong sentuh perlahan dari ujung jarinya. Aku belum terbiasa dengan sentuhan tiba-tiba.” Ree tiba-tiba meminta Frigid untuk menyentuh ujung jarinya seperti yang Servio ajarkan padanya beberapa hari yang lalu.


Seperti yang Ree minta, Frigid mulai dengan perlahan menyentuh telunjuk Ree, namun tiba-tiba saja jemari Ree dengan cepat menggenggam seluru telapak tangan Frigid.


Kali ini yang terkejut adalah Frigid.


“Tanganmu dingin sekali dan berkeriput, sudah berapa lama kamu berada disini? Cepatlah naik dan hangatkan tanganmu sementara dengan lentera.”


Tanpa banyak bicara Frigid bergerak begitu saja berpindah dari sampan yang hampir tenggelam itu masuk ke dalam sampan milik Ree. Jemari Ree yang sempat ia genggam sebentar tadi sudah terlepas dan meraih dayung untuk memutar sampan mereka kembali ke pinggir danau.


Frigid bahkan hampir lupa jika wanita yang di hadapannya saat ini adalah Ree.


Tak lama bagi Ree untuk membawa mereka berdua ke tepi danau dan menyandarkan perahu lalu membantu Frigid untuk naik ke dermaga.


Ree sendiri bahkan heran, tanpa ragu ia mengulurkan tangannya pada Frigid untuk membantu pria itu naik ke dermaga untuk segera kembali ke asrama.


“Baiklah, ayo kembali. Aku rasa sudah hampir dua jam. Takutnya Alexander tambah khawatir jika aku juga tidak kembali.” ucap Ree gusar.


Namun nampaknya pria dihadapannya saat ini benar-benar diluar dunia yang mereka pijak, pikirannya entah melayang kemana saja. Ree sampai sedikit memajukan lentera yang ia pegang pada wajah Frigid untuk memastikan pria satu ini baik-baik saja atau sebaliknya.


Di sisi Frigid, bukannya ia tidak mendengar perkataan Ree. Hanya saja tubuhnya benar-benar tidak ingin bergerak kemana-mana. Hal ini jelas berkaitan dengan sisa-sisa perasaan tidak sukanya Frigid dan ketika harus mengingat kamarnya yang menjadi tempat Agnesia menyentuh tubuhnya, semakin membuat Frigid tidak ingin pulang ke asrama.


Ree tidak sehebat Ghea dalam membaca perasaan orang lain atau tiba-tiba saja meramal. Wajar saja Ree menjadi bingung dengan Frigid yang tidak biasa ini. Rasanya kepalanya ingin ia garuk meski tidak gatal karena kebingungan.


Lantas kenapa Ree terlalu memikirkan hal itu?


Memangnya kenapa jika ia pergi lebih dulu dari Frigid? Lagipula Ree berhasil membawa Frigid kembali ke daratan.


Tiba-tiba saja Frigid terduduk, memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya pada kedua lengannya.


Disini yang bertanya-tanya adalah Ree.


Lalu, Ree juga memutuskan untuk berjongkok di hadapan Frigid.


“Frigid? Kamu tidak apa-apa? Apa ada yang sakit?” tanya Ree khawatir.


Ia ingin menyentuh Frigid namun bingung bagaimana caranya memulai sentuhan itu sementara ia masih takut-takut.


Padahal Ree sendiri sadar jika dihadapannya ada orang yang sangat perlu sentuhan hangat, namun Ree malah kebingungan seperti orang bodoh.


“Aku hanya lelah.” ucap Frigid perlahan terduduk di atas dermaga dan menatap Ree dengan sorot mata yang tidak biasa.


Begitu sendu dan hampa hingga mampu menusuk perasaan Ree ketika matanya bertabrakan dengan tatapan menyedihkan itu.


Frigid tidak mengerti, perasaannya saat kacau hingga ia mengatakan hal tersebut pada Ree dihadapannya.


Lalu Frigid menatap kedua telapak tangannya yang sudah keriput karena kedinginan itu.


“Aku ini, sangat benci hidup dengan tubuhku.”


Ree terdiam, ia masih duduk di hadapan Frigid. Menatap tak percaya pada pria bersurai hitam di hadapannya saat ini. Bibir pucatnya mengatakan apa yang sebenarnya ada pada dirinya.


Setiap manusia itu memiliki hal yang mereka benci, mulai dari hal terkecil hingga besar dan berdampak pada orang lain. Kebencian itu selalu tumbuh di antara kehidupan dan tidak pernah akan berakhir.


Hanya saja, kali ini Ree baru bertemu dengan orang yang benci dengan hidup dirinya sendiri. Orang itu yang Ree pikir adalah seseorang dengan hidup sempurna dalam segala hal ternyata menyimpan kebencian sebesar ini terhadap nyawanya yang berharga.


Seumur-umur sampai saat ini dengan segala banyak kekurangan Ree hidup, tidak sekalipun ia menyesal menghembuskan napasnya di dunia ini.


Ree memutuskan untuk meletakkan kembali lenteranya diantara ia dan Frigid.


“Aku takut, tapi…” perlahan Ree maju mendekati Frigid dengan tubuhnya yang nampak bergetar. Jemarinya kembali menghampiri tubuh Frigid dengan mulai melingkari leher Frigid, menyandarkan dagunya pada bahu kekar pria itu meski keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya.


Setidaknya Ree ingin menyalurkan kehangatan yang ia miliki dan ia pikir harus diberikan pada pria di hadapannya saat ini.


“Aku takut, tapi aku tidak bisa membiarkanmu.” ucap Ree dengan suaranya yang bergetar.


Sedikit terkejut dengan keberanian Ree, namun anehnya Frigid tidak membenci sentuhan wanita ini.


Kepalanya yang terasa sangat kosong tiba-tiba saja terasa begitu ringan, beban dalam hati seolah terangkat begitu saja meski dalam kebingungan ia menerima sentuhan yang diberikan oleh Ree dengan mengangkat kedua lengannya untuk melingkari pinggang wanita itu serta membungkam wajahnya pada lekukan leher Ree.


Angin malam terasa sangat dingin, namun hati Frigid justru terasa begitu hangat.


 

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2