We And Problems

We And Problems
Chapter 11 : Kelas Berburu Pertama Alexander


__ADS_3

Dia terlahir dari keluarga yang dapat dikatakan sempurna, entah itu dari segi materi atau kasih sayang semuanya dapat didapatkannya. Semua orang di lingkungannya tidak pernah kekurangan dalam memberi perhatian sehingga hampir segala hal bisa ia dapatkan. Hidupnya semakin sempurna ketika semua hal dapat ia lakukan dan memiliki rupa yang tampan.


Menjadi pusat perhatian sudah menjadi hal biasa baginya. Mendengar namanya dibisikkan oleh semua orang sudah membuat tebal telinganya. Bahkan ia tahu tidak sedikit orang menjadi pengagumnya. Namun semuanya hanya sebatas itu, sangat jelas seolah hanya dirinya yang menjadi sorotan seorang diri dan tidak ada satupun mendekat dengannya.


Bahkan sebelum akademi berubah.


Setiap hari seolah sangat sunyi bagi Alexander ketika menjalani hari-harinya di akademi dan asrama. Semua orang seolah langsung meminggirkan diri dan memberi ia jalan ketika hanya ingin lewat dari koridor.


Apa ia benci? Ia tidak bisa menerima maupun menolaknya karena hal ini bukan sehari saja dalam hidupnya.


Terlebih ketika La Priens menjadi akademi campuran.


Lampu sorot itu semakin terang dan mulai keluar seruan namanya yang melengking dari para pengaggum yang tidak lagi menyembunyikan diri.


Bagaimanapun juga, ia ingin berjalan dan berbaur dengan orang-orang. Bukan mereka yang mengaguminya dan merasa rendah diri, melainkan mereka yang berani menyambut perkataannya dan tidak merendah.


Adakah orang yang akan seperti itu padanya?


Setidaknya satu orang saja.


*


*


*


Ree bersyukur tidak tertinggal ketika waktu makan malam sudah tiba atau ia akan kelaparan karena melewatkan makan malam. Ia bahkan belum mengganti seragamnya karena terburu-buru dan baru sempat kembali ke kamar setelah makan malam selesai.


“Aku pulang.” ucap Ree sembari membuka pintu kamarnya dan langsung menampakkan Ghea dan Liliana makan roti bersama di atas kasur milik Ghea.


Pertanyaan yang ada di kepala Ree saat ini.


“Kalian berdua saling mengenal?” tanya Ree.


“Aku menemukannya berkeliling dengan wajah yang kebingungan di sepanjang koridor. Karena kami terlambat ikut makan malam, jadi kuputuskan untuk mengajaknya makan bersama di kamar ini.” jelas Ghea dengan wajah tanpa dosanya.


Ree tahu jika Ghea adalah orang yang aneh, tapi ia tidak tahu sisi kemanusiaan perempuan itu cukup tinggi.


“Benarkah? Jika mau, aku juga ada beberapa biskuit.” ucap Ree sembari menaruh kotak berisi biskuit di atas meja samping kasur Ghea.


“Terima kasih Ree.” ucap keduanya kompak.


“Sama-sama. Lalu Liliana, kenapa Ghea bisa menemukanmu dengan wajah kebingungan?” tanya Ree sembari membuka semua seragamnya dan langsung mengganti baju untuk bersiap mandi. Untungnya terdapat kamar mandi di masing-masing kamar.


Liliana yang masih mengunyah roti tiba-tiba terdiam.


“Aku mencari jurnalku yang hilang lalu tiba-tiba ku temukan di toilet umum asrama dalam keadaan sangat basah.” ucap Liliana sembari menunjuk sebuah buku bisa dikatakan sudah sangat rusak di atas meja belajar Ghea.


Menanggapinya, Ree pun melihat lebih dekat dan benar yang dikatakan Liliana. Bukunya sudah basah kuyup hingga tinta bolpoin yang terdapat pada setiap lembar sudah tidak terlalu nampak dan buram.


“Aku tidak mempermasalahkan jika mereka menyenggolku atau bahkan memukulku, namun jika sudah melibatkan jurnal anatomi hewan yang susah payah aku buat itu sudah membuatku sangat sedih.” jelas Liliana murung.


Ghea yang berada di samping gadis itu sudah mengusap punggung Liliana agar tetap tenang.


“Aku juga akan seperti ini jika ada yang merusak buku sihirku.” sambut Ghea.


“Tidak, kamu tidak boleh dipukul.” protes Ree.


Ree langsung duduk di pinggir kasurnya dan menghadap kedua gadis itu.


“Apa kamu tahu siapa yang melakukannya?” tanya Ree.


Liliana menggeleng.


“Aku tidak tahu Ree.”


Tangan Ghea yang mengusap punggung Liliana tiba-tiba mengeras dan meremas bahu gadis itu sambil menatap dengan tatapan kosongnya.


“Dia mulai.” timpal Ree.


“Eh? Apa?” tanya Liliana bingung dengan situasi aneh di kamar Ree.


“Seperti pedang bermata dua, yang mana kedua bilahnya tidak mengarah pada arah yang sama jika terdapat satu keputusan yang diambil. Jika bisa menyatukan kedua bilah itu pada alur yang sama, maka kamu akan menang.” ucap Ghea dengan tatapan kosong dan nada yang sangat datar.


“Ree?? Bisa kamu jelaskan Ghea kenapa?” tanya Liliana heran.


Ree mengangkat kedua bahunya.


“Dia selalu seperti itu jika ada sesuatu yang mengganjal atau ketika ia ingin.” jelas Ree.


Bahkan Ree tidak tahu kapan Ghea akan bersikap dan berbicara aneh. Semua terjadi sangat tiba-tiba.


“Ghea??” tanya Liliana.


Tiba-tiba Ghea mengedipkan kedua matanya berulang kali dan langsung melepas cengkramannya pada bahu Liliana sembari menatap gadis di depannya itu dalam diam.


“Apa aku melakukan sesuatu yang aneh?” tanya Ghea.


Liliana tiba-tiba menyeringai dan Ree tahu, bahwa gadis itu sudah mengembalikan suasana hatinya.


“Ree, aku rasa di sekelilingmu terdapat banyak orang yang menarik.”


“Jika kamu merasa demikian, baguslah.”


Ghea hanya menatap kedua temannya dengan kebingungan karena ia benar-benar tidak mengingat apa yang telah ia lakukan beberapa detik yang lalu.


*


*


*


Rasanya seolah sudah sangat lama Ree tidak mengikuti kelas Berburu. Padahal baru minggu lalu ia pertama kali bertemu dengan teman-temannya. Rombongan kelas di bawah arahan Millesimun dan Kyle yang selalu menjadi sorotan perhatian, kembali menjadi lebih terpusat dengan hadirnya salah satu murid yang baru bergabung hari ini.


Ree berada di antara tahu dan ketidaktahuannya tentang kehadiran Alexander pada kelas Berburu hari ini. Bahkan sepanjang jalan mereka menuju hutan tempat minggu lalu mereka berkemah, Liliana hanya berjalan di antara Ree dan Maglina tanpa mempedulikan Alexander yang terus mengajak bicara Liliana.


“Liliana, kira-kira apa yang akan kita lakukan hari ini?” tanya Alexander yang berjalan di belakang Liliana.


“Tanyakan saja pada Profesor Millesimun.” jawab Liliana sembari memeluk lengan Maglina cukup erat.


“Benarkah? Aku pikir aku mungkin agak terlambat masuk kelas ini dan ketinggalan.” timpal Alexander.


“Liliana, apa kita nanti akan satu kelompok?” tanya Alexander lagi.


“Aku tidak tahu.” jawab Liliana dingin.


“Alexander.” panggil Maglina yang sudah merasa risih dengan situasi sementara Ree hanya membungkam mulutnya karena tatapan Alexander yang lembut pada Liliana seketika langsung berubah ketika Maglina memanggil namanya.


“Ada apa?” tanya Alexander.


Maglina hanya menghela napasnya sembari menjauhkan Liliana dari Alexander.


“Kamu dan Liliana bisa jatuh jika berjalan terlalu dekat, apa lagi ini di hutan.”


Masuk akal apa yang dikatakan oleh Maglina karena jika Alexander terlalu mendekat pada Liliana ketika mereka sedang berjalan menuju tempat kemah, keduanya bisa saja jatuh karena ceroboh.


“Baiklah.”


Ajaibnya Alexander langsung mengerti dan langsung berjalan mendahului ketiga gadis itu.


“Liliana, kamu tidak apa-apa?” tanya Maglina.


“Aku baik-baik saja, tetapi bagaimana denganmu Maglina?” tanya Liliana khawatir.


“Aku biasa menghadapinya di kelas Berpedang, meski kadang sedikit sulit karena situasi yang bahkan tidak ku ketahui kenapa.”


“Jika kamu bingung, begitu juga aku.” ucap Ree heran.


Maglina hanya menyengir karena respon Ree terhadap ucapannya.


“Yang harus kalian lakukan adalah mengabaikannya saja. Sejak dulu selalu ada yang dikucilkan ketika berinteraksi dengannya. Apa kamu mau mendengar sesuatu terkait Alex?” tiba-tiba Antonio dari arah belakang menyambung obrolan para gadis.


“Apakah kamu salah satu dari yang mengucilkan itu?” tanya Maglina tanpa dosa.

__ADS_1


“Maglina, apa kamu benar-benar tidak ingin berbaikan denganku?” tanya Antonio dan akhirnya kedua manusia itu saling beradu tatap seolah menantang satu sama lain.


“Memangnya apa yang kamu ketahui?” tanya Ree menengahi keduanya.


Antonio pun menyamai langkahnya dengan Ree dan berjalan di samping gadis itu.


“Ku dengar ia terkena kutukan sehingga semua orang tidak bisa berada di sekitarnya.” bisik Antonio namun bisa di dengar oleh ketiga gadis itu.


“Jangan sembarangan Antonio!!” ucap Maglina.


“Aku hanya mendengar rumor! Untuk lebih jelasnya aku tidak tahu!”


Liliana dan Ree menatap satu sama lain dalam diam namun seolah tahu pikiran masing-masing karena belum lama ini mereka membicarakan manusia yang sedang mereka bahas.


Selagi Maglina ingin meraih kerah baju Antonio sementara Marco mencoba menengahi, dari belakang Frigid yang berjalan dengan rekannya hanya diam menatap Ree dan teman-temannya.


*


*


*


Setiba di lapangan tempat mereka akan berkemah, Millesimun dan Kyle mengumpulkan para muridnya dan ingin membagi dalam beberapa kelompok acak seperti minggu lalu namun pastinya tiap anggota akan berubah.


“Seperti yang kalian tahu, mulai hari ini Alexander Northway akan bergabung di kelas Berburu bersama kalian.” jelas Millesimun pada murid-muridnya.


“Baiklah, sebelum kita membagi kelompok saya akan menjelaskan apa yang akan kita lakukan hari ini. karena minggu lalu kita sudah berburu dan kami membebaskan kalian untuk berburu apa saja dengan menggunakan metode apapun, maka hari ini kita akan membuat perangkap.” jelas Kyle.


“Seperti yang kalian tahu, sejak dahulu metode dalam berburu di hutan itu banyak sekali, terlebih melihat dari medan, target, bahkan situasi yang ada. Kelompok akan di bagi seperti biasa.” lanjut Kyle.


Memakan waktu selama lima menit untuk pembagian kelompok dan akhirnya Ree mendapat teman satu kelompok yang menurutnya luar biasa sampai ia sulit untuk berkata-kata.


Ada Liliana, Marco, Frigid dan Alexander di kelompoknya untuk minggu ini. Ree yang tahu bagaimana situasi antara Liliana dan Alexander harus bertahan menjadi tameng bagi Liliana yang menghidar dari Alexander sebisa mungkin.


“Liliana! Aku senang bisa satu kelompok denganmu.” ucap Alexander senang.


Liliana sibuk menyembunyikan tubuh mungilnya di belakang Ree tanpa mau menyambut ucapan Alexander yang ada di depan Ree.


“Alexander, bisa kamu membantuku sebentar?” tanya Frigid yang membawa beberapa peralatan untuk membuat perangkap.


“Baiklah.”


Di lain sisi, Ree hanya menatap punggung Frigid yang pergi menjauh bersama Alexander untuk mengambil beberapa perlengkapan.


“Liliana, apa kamu takut dengan Alexander?” tanya Marco ketika hanya ada mereka bertiga yang tersisa.


Liliana pun keluar dari belakang Ree dan menghela napas.


“Aku tidak takut dengannya.” jawab Liliana.


“Hanya saja, ia merupakan spesies yang harus aku hindari agar hidupku tenang.” ucap Liliana.


“Liliana, kamu seperti tidak menganggapnya sebagai sesama manusia.” timpal Marco.


“Akhir-akhir ini Liliana seperti diganggu oleh beberapa orang. Namun tidak tahu penyebab pastinya.” ujar Ree.


“Mereka bahkan merusak jurnal anatomi hewan milikku.” sambung Liliana.


“Aku tidak ingin menuduh sembarangan. Maka aku hanya bisa menghindar.”


Marco mengangguk mengerti, pasti berat bagi Liliana untuk menghindari seseorang. Terlebih Liliana sebenarnya adalah gadis yang mudah bergaul meski memiliki watak yang pendiam.


“Aku hanya penasaran, kenapa kamu bisa terlibat dengan Alexander bahkan dia sampai terus mengajakmu bicara.” ucap Ree sembari mengelap panah yang akan ia bawa nanti ketika mereka mulai masuk ke dalam hutan.


“Aku hanya menegurnya karena melakukan sesuatu yang salah dan itu bukanlah satu hal yang penting.”


Ree dan Marco saling menatap satu sama lain lalu kembali memusatkan perhatian pada Liliana untuk tahu kisah selanjutnya.


“Apa itu?” tanya Marco.


*


*


*


Tidak ada yang berubah dari kehidupan biasa Alexander meski ia sudah di luar pagar kediaman utama Northway. Dengan segala kemampuannya dalam akademi, para profesor yang mengajar tidak pernah bosan memberi pujian terkait hasil kerjanya.


Hari ini Liliana mendapat banyak hasil dari kelas Berburu yang ia ikuti. Karena kelompoknya yang berhasil menangkap rusa jantan hidup-hidup ia tanpa peduli langsung membeli rusa itu dan membedahnya untuk melihat anatomi bagian dalam rusa lalu ia gambar untuk perlengkapan kelas Biologi yang akan ia hadiri.


Namun sebelum pergi ke kelas, Liliana berniat pergi ke toilet terlebih dahulu. Nampak di depan matanya, seperti kerumunan yang ramai di depan toilet perempuan. Banyak bisikan yang bahkan tidak dapat Liliana dengar dengan jelas apa yang sedang terjadi. Namun dengan tubuhnya yang mungil, ia mudah saja untuk menerobos dan langsung berada di depan barisan dan apa yang terjadi sangat aneh di depan matanya.


Seorang murid laki-laki terdiam di depan toilet perempuan.


Apa yang sedang ia lakukan?


Liliana tidak mempedulikan sekelilingnya dan langsung maju menghampiri murid laki-laki lalu mencolek lengan bajunya.


“Apa yang kamu lakukan di depan toilet perempuan?” tanya Liliana tanpa basa-basi.


“Toilet perempuan?”


“Benar, toilet perempuan.” Liliana bahkan menunjukan tanda toilet yang menempel pada tembok.


“Mungkin dulu adalah toilet laki-laki, tetapi sejak akademi berubah. Beberapa fasilitas juga sudah berubah.” jelas Liliana.


Murid laki-laki yang merupakan Alexander itu hanya sedikit bengong dengan kehadiran gadis mungil yang berani berbicara dengannya. Awalnya ia berdiri di depan toilet karena bingung apakah ia harus masuk atau tidak karena tidak melihat tanda yang ada. Berkat Liliana yang berani menegurnya, ia menjadi tahu. Padahal banyak orang di sekelilingnya, namun tidak satupun memberitahunya dan membuatnya menjadi bahan tontonan.


“Benarkah? Terima kasih sudah memberi tahu.” ucap Alexander sembari menepuk pucuk kepala Liliana sambil tersenyum lembut.


*


*


*


“Apa kamu terpesona dengannya?” tanya Ree penasaran.


Liliana menatap Ree dengan jelas menampakkan raut wajahnya yang sangat tidak suka dengan ucapan barusan.


“Sejak masuk akademi, ia memang sendirian kemana-mana. Mungkin ada beberapa anak yang mendekatinya namun tidak akan sanggup karena di diamkan terus-terusan.” jelas Marco.


“Apa yang kalian bicarakan?” tiba-tiba Alexander datang menghampiri dengan membawa beberapa perlengkapan untuk membuat perangkap bersamaan dengan Frigid.


Kedatangannya otomatis membuat Liliana langsung menyelip ke belakang Ree.


“Kami hanya mengobrol biasa, jadi apa kita bisa mulai?” tanya Ree.


“Ehh, Benarkah?” tanya Alexander.


Memang Alexander adalah orang yang tidak mudah untuk di hindari, pikir Ree.


“Lebih baik kita langsung pergi untuk memasang perangkap.”


Tiba-tiba Frigid datang menengahi Alexander dan Ree dengan tatapannya yang langsung mengarah pada Alexander. Seolah langsung paham arti tatapan kosong yang Frigid berikan membuat Alexander membuang mukanya.


“Baiklah, kemana kita akan pergi?” tanya Alexander.


Untuk kesekian kalinya Ree bingung dengan apa yang ada di dalam diri Frigid hingga mampu membungkam seorang yang cukup berpengaruh seperti Alexander.


*


*


*


Sementara itu, di sebuah ruangan yang hanya di isi oleh berbagai peralatan musik dan satu orang yang hanya sibuk memainkan jari-jarinya tuts piano tanpa peduli seseorang memutar knop pintu dan masuk ke dalam ruangan itu.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya gadis pemilik rambut pirang itu.


“Hanya mengisi waktu.” jawab kembarannya, Yohan.


Yohanna pun memutuskan untuk bersandar pada sisi jendela dengan menatap punggung Yohan yang masih sibuk dengan pianonya. Akhirnya Yohanna pun menoleh pada langit yang terpampang jelas melalui jendela akademi itu.

__ADS_1


“Wah, sepertinya kelas Berburu hari ini akan sedikit sulit.”


Yohan otomatis  melihat objek yang sama dengan saudari kembarnya. Awan hitam yang muncul dari arah pegunungan belakang akademi dengan perlahan membuat wilayah gunung dan akademi menjadi gelap meski masih siang hari.


“Apa yang akan dilakukan Frigid ya? Apa kamu mengkhawatirkannya?” tanya Yohanna sembari menatap Yohan.


“Hei, apa kamu tidak tahu seperti apa Frigid? Meski ia memiliki kebencian, ia sedang berusaha menangani kebencian itu saat ini.” jawab Yohan.


Yohanna mendelik, ia seolah bisa memahami apa yang dimaksudkan oleh Yohan. Meski dalam benak gadis itu ia ingin berkomentar sedikit.


“Aku sudah tahu jika program ini hanya untuk kepentingan orang-orang tertentu saja dan hanya memuaskan pihak-pihak lain.” timpal Yohanna.


“Jika kamu tidak ingin, bukankah bisa menolak?” tanya Yohan heran.


Yohanna menghela napasnya.


“Kami di sini merasa tidak memiliki pilihan. Ini seperti bahan percobaan untuk mencapai tujuan ayah.” tutur Yohanna.


Jika Yohanna menolak program ini secara tidak langsung bisa dianggap pemberontakan pada raja dan itu akan menjadi sangat merepotkan.


Yohan memilih bungkam, ia tidak ingin terlalu memperdebatkan hal yang tidak ia ketahui dengan jelas bagaimana situasinya.


“Lalu apa kamu tidak merasa kesepian?” tanya Yohanna.


“Apa yang kamu maksud?”


Yohanna hanya tersenyum tipis.


“Tidak, hanya bertanya. Sampai jumpa.”


Tanpa memberi jawaban yang jelas, Yohanna langsung pergi meninggalkan ruangan dengan sisa perasaan Yohan yang sedikit kesal dengan saudarinya itu.


*


*


*


Seperti yang dibicarakan kedua bersaudara kembar Solistela itu, awan hitam secara perlahan menutupi daerah gunung hingga membuat siang hari itu terasa seperti petang. Karena rindangnya pepohonan membuat gelap dan dingin karena angin yang bertiup cukup dingin.


“Nampaknya akan hujan sebentar lagi. Apa kita bisa memasang di sini saja?” tanya Alexander pada Ree dan Marco.


Kelompok yang diketuai oleh Frigid itu terbagi menjadi dua bagian, yang mana Liliana akan mengikuti Frigid pergi ke wilayah rawa sementara Ree, Marco dan Alexander pergi ke tengah hutan karena mereka akan memasang dua perangkap yang berbeda.


“Sebentar lagi, kita ingin menangkap rusa jadi sedikit masuk lagi ke dalam hutan.” ujar Ree sembari melangkah maju membuat jalan untuk kedua laki-laki yang berjalan di belakangnya dengan membawa perangkap yang akan mereka pasang.


“Kenapa harus rusa? Bukannya ada hewan lain yang mudah di tangkap jika kita memasangnya di sini?” tanya Alexander.


Ree tidak terlalu mendengar karena sudah cukup jauh di depan.


“Tidak apa-apa, sesekali kita ikuti saja.” jawab Marco.


Tidak lama Ree pun berhenti karena merasa sudah berada di tempat yang pas untuk memasang perangkap.


“Kita akan pasang di sini. Setidaknya seekor rusa jantan harus kita dapatkan.” ucap Ree.


Mengikuti apa yang diucapkan Ree, Marco langsung mengeluarkan peralatannya dan Alexander hanya terdiam menatap kedua teman kelompoknya itu hingga membuat mereka yang diperhatikan bingung.


“Ada apa?” tanya Ree.


“Ah! Tidak, ada yang bisa aku bantu?” tanya Alexander pun ikut bekerja.


Ree menatap Alexander sekilas sambil tangannya sibuk bekerja.


“Apa karena tidak ada Liliana?” tanya Ree memberanikan diri.


Marco yang berada di tengah keduanya mendengar sambil bekerja.


Alexander menghentikan gerakan tangannya dan menatap Ree yang ada di depannya. Gadis itu tidak menatapnya dan sibuk bekerja, namun sempat membuka pembicaraan.


“Aku juga bisa membagi kepentingan, tenang saja.” jawab Alexander dan melanjutkan pekerjaannya.


“Meski aku terkejut ia mengikuti kelas ini.” timpal Alexander.


“Tenang saja, Liliana itu cekatan dan tanggap meski tubuhnya mungil. Minggu lalu, ia memimpin kelompoknya untuk mendapatkan rusa jantan tanpa luka sedikitpun. Bahkan teman kelompoknya memujinya.” sambung Marco mencoba mencairkan suasana.


Alexander mengangguk mengerti, ia tahu Liliana pasti bisa mengendalikan situasi atau malah sebaliknya, gadis itu tidak peduli dan hanya melakukan yang terbaik.


Ree sempat melirik ke arah wajah Alexander yang tiba-tiba saja sumringah ketika Marco memberi pujian terhadap Liliana.


“Kamu sepertinya baik hati.” timpal Ree yang sudah menatap tangannya yang masih menyimpul tali.


“Maksudnya?” tanya Alexander bingung.


Tiba-tiba Ree bangkit berdiri dan menatap perangkap yang sudah ia kerjakan bersama Marco dan Alexander.


Perangkap lebih memfokuskan pada tali dengan tujuan tidak melukai hewan buruan agar dapat ditangkap hidup-hidup. Ree berharap cukup tinggi pada perangkap yang mereka pasang itu.


“Tidak ada maksud di baliknya, aku mengatakan apa yang ada.”


*


*


*


Sementara itu tim rawa yang dipimpin oleh Frigid sudah siap dengan perangkap yang mereka pasang.


“Apa yang akan kita tangkap dengan ini?” tanya Liliana.


“Kita akan menangkap buaya.” jawab Frigid.


Liliana menatap pria yang berdiri di sampingnya itu dengan tatapan heran. Masih lekat di kepalanya tentang minggu kemarin ketika melihat semua hasil buruan, kelompok Frigid menangkap buaya hidup-hidup.


 “Boleh aku bedah buayanya?” tanya Liliana.


Frigid langsung melirik gadis mungil yang berdiri di sampingnya.


“Tidak boleh.”


Liliana sudah bisa menyimpulkan bahwa ia tidak akan pernah bisa akrab dengan Frigid.


*


*


*


Kembali ke lokasi tempat Ree dan dua pria yang bersamanya berjalan untuk kembali ke perkemahan sebelum hujan memperburuk situasi. Meski rintik-rintik kecil sudah mengalir dari dedaunan pohon besar, setidaknya jarak pandang masih terlihat untuk menemukan jalan pulang. Akan lebih buruk ketika rintik hujan sudah membesar dan semakin lebat, selain jarak pandang mereka akan disulitkan dengan banyaknya pohon yang bisa saja mematahkan dahan atau hal lain.


“Ree, apa kamu baik-baik saja? Aku akan memberimu mantel.” ucap Marco sedikit khawatir dengan Ree yang sudah mengusap jemarinya karena kedinginan.


Bagaimanapun juga, meski belum lebat namun mereka sudah cukup basah.


“Tidak. Aku tidak apa-apa, selain itu jangan dekat-dekat.” timpal Ree dingin.


Seharian ini Ree sudah susah payah mengendalikan diri untuk tidak panik dan gelisah ketika pergi bersama Marco dan Alexander.


“Apa kalian dengar?” tanya Alexander.


Marco dan Ree berhenti melangkah.


“Nampaknya hujan sangat deras dari arah tempat kita memasang perangkap dan perlahan menuju ke sini.” ucap Alexander.


Ree dan Marco menatap satu sama lain.


“Perangkapnya!!” seru Marco.


Sama-sama mengkhawatirkan hal yang sama, Ree bisa memperhitungkan jika hujan terlalu deras, bisa saja perangkap yang mereka bisa berpindah posisi bahkan rusak. Rasa ingin kembali memenuhi perasaan Ree.


“Apa kita harus kembali untuk memeriksanya?” tanya Ree.


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2