
Setelah malam yang cukup panjang, tibalah pagi yang membuat semuanya harus kembali bekerja seperti biasa. Tak terkecuali Frigid yang sesungguhnya memiliki peliharaan buaya di kediamannya sendiri. Pagi-pagi sudah ia siapkan beberapa ember yang dibawa dengan troli didorong oleh salah satu pelayan pria yang bersamanya menyiapkan makanan untuk peliharaannya sejak pagi. Kandang peliharaannya cukup jauh dibelakang kediaman utama dan koridor yang membawanya keluar adalah koridor yang juga menghubungi gedung tempat ibunya tinggal.
Sampai saat ini, Frigid hanya bisa melihat dari jauh saja kegiatan yang ada di gedung bertingkat dua itu. Sudah sejak lama ibunya mengasingkan diri dan menjauh dari keluarga utama bahkan tak pernah ikut makan bersama lagi. Saat melamunkan hal itu, Frigid tak sengaja berpas-pasan dengan dua orang pelayan wanita yang mendorong dua troli makanan dari dapur utama untuk diantarkan ke kamar Bianca.
“Apa ibuku ada tamu?” tanya Frigid pada pelayan pria yang berjalan bersamanya sejak tadi.
“Saya dengar ada tamu pribadi nyonya. Detailnya saya kurang tahu, apa anda ingin saya mencari tahu detailnya?”
Meski sangat jarang, Frigid tidak tahu ada orang yang ibunya undang ke kediaman.
Anehnya Frigid pun tidak menaruh rasa curiga ataupun penasaran.
*
*
*
“Lalu bagaimana rencanamu nona Ree? apa kamu sudah memikirkannya?” tanya Smith saat ia datang berkunjung ke ruangan Ree setelah sarapan selesai.
Ree sendiri sudah bangun awal karena sulit untuk tidur, berkat makanan yang enak disajikan oleh kediaman Cali membuat suasana hatinya cukup tenang dan dapat berpikir lebih jernih.
“Aku masih punya beberapa hari sebelum kembali ke akademi, sebelum hari itu tiba aku akan menemui Frigid. Tapi waktu yang pas aku belum bisa menentukannya ketika memikirkan segalanya akan terasa sangat canggung.”
Smith bisa mengerti, kehadiran Ree juga bermaksud untuk memberikan kejutan bagi Frigid.
“Tidak perlu terburu-buru, mengubah pikiran orang yang teguh selama bertahun-tahun itu tidak mudah.”
Ree tersenyum tipis dan mengangguk setuju dengan ucapan pria yang duduk di sofa yang berhadapan dengannya saat ini.
Smith tiba-tiba bangkit dan merapikan sedikit kemeja putihnya.
“Aku harus pergi ke kantor dulu, jika bosan berjalan-jalan santai saja, aku akan minta seseorang untuk menemanimu.”
*
*
*
Seakan tidak memiliki waktu yang cukup lagi, Yohan kembali berniat menemui Joan lagi dan lagi. Meski berulang kali kehadirannya ditolak oleh kediaman Joan di istana. Hari-hari akan terus berlalu dan Yohan juga akan kembali ke akademi, setidaknya sebelum ia kembali ke akademi ia harus sudah mendapat sesuatu.
Sepulangnya Yohan dari kediaman Joan di istana, ia tak sengaja berpas-pasan dengan Alexander di koridor yang berhubungan dengan kediaman Yohan. Pria bersurai seperti warna kacang hazelnut itu magang di istana dan menjadi bawahan Joan.
“Nampaknya akhir-akhir ini anda mengalami berbagai kesulitan pangeran.”
Bukan sapaan yang ramah malah terdengar seolah seperti sindiran bagi Yohan. Ia sendiri tahu bahwa Alexander dan keluarganya adalah pendukung Joan, bahkan Alexander selama bertahun-tahun mengawasi Frigid dari dekat.
“Hari kelulusan memang tak lama lagi, tentu saja sebagai seseorang yang akan terjun ke masyarakat kita akan semakin sibuk. Kamu tahu sendiri bahwa menjadi orang dewasa tidak semudah itu.” balas Yohan dengan santai.
Alexander juga tahu itu, bahkan di lingkungan kehidupannya yang sudah rumit sejak ia kecil sudah memperlihatkannya bagaimana kerja di kehidupan kalangan atas yang melelahkan seperti ini. Terlalu banyak yang dikorbankan untuk kepentingan masing-masing dan harga yang dikorbankan itu nyatanya tak kecil.
“Bukankah sudah waktunya bagimu untuk merelakan semua yang akan terjadi? Lagipula kita tidak memiliki kekuatan yang mampu mengimbangi orang dewasa yang sudah lama bekerja.”
Mungkin mudah bagi Alexander mengatakan seperti itu, tanpa tahu bahwa sedikit banyak Yohan pernah berjuang untuk menyelamatkan temannya meski harus membuat dirinya lebih berani untuk mengambil suatu wilayah.
“Setelah lulus anda pun akan kembali ke Leafa yang mana menjadi wilayah anda sekarang, bukankah sehabis pesta itu, acara penobatan anda sebagai seorang pemimpin Leafa akan diselenggarakan?”
Mendengarnya seolah menjadi pencapaian yang luar biasa bagi Yohan.
“Senang mendengarnya karena dirimu mengingat sedikit dari pencapaianku Alexander. tapi untuk menambah beberapa cerita hidup, ada beberapa hal kecil yang harus aku lakukan.”
Setelah mengatakan kalimat terakhirnya, Yohan tersenyum singkat dan melangkah melalui Alexander yang juga berniat melanjutkan jalannya menuju ruangan Joan.
Sudah cukup jauh Yohan berjalan dari tempat dimana ia berpas-pasan dengan Alexander, hingga saat tiba di persimpangan lorong, Maglina sudah menunggu dengan seragam lengkap khas prajurit wanitanya dengan pedang yang selalu bertanggar di pinggul kirinya menunggu kehadiran Yohan.
“Utusan anda mengirim surat.” Maglina mengatakannya dengan sangat pelan dan terlihat cukup waspada meski gelagatnya masih santai untuk menyampaikannya pada Yohan.
“Kita bicara di ruanganku saja.” Yohan juga terlihat santai dan mulai memimpin langkah mereka ke ruangannya.
*
*
*
Maglina nampak sedang menikmati pemandangan dari balik jendela mobil dimana dedaunan hampir tidak ada lagi di ujung ranting pepohonan karena sudah waktunya mereka untuk gugur. Rasaanya seperti sudah sangat lama ia pergi dari akademi lamanya untuk menjadi murid di akademi La Priens. Selain teman-teman seangkatannya di akademi militer khusus perempuan dulu, kini ia bertemu dengan banyak jenis orang.
__ADS_1
“Pangeran, sebentar lagi kita akan sampai di kediaman Cali.” ucap Maglina pada Yohan yang duduk di kursi penumpang di belakang sementara ia dan supir kerajaan berada di depan.
Maglina merasa waktunya berlalu dengan cepat, padahal masih beberapa bulan bahkan hampir setahun lagi untuk benar-benar bekerja di istana. Kini ia malah haxrus menemani pangeran Yohan hampir kemana-mana.
Tapi ini semua bukan tentang sekedar pekerjaan.
Bukan sekedar ia harus berada di sisi Yohan sebagai penjaga bayaran.
“Maglina Heavring, apa alasanmu memilih akademi militer dibanding akademi lain di Southsea?”
Sampai saat ini, Maglina hanya melakukan apa yang ia lihat benar.
Setelah ia mengobrol dengan Yohan terkait tambang yang sedang mereka selidiki itu, Yohan memutuskan untuk mengunjungi kediaman Cali.
*
*
*
“Pangeran Yohan, kenapa anda memercayai saya untuk melakukan hal seperti ini?” Maglina sebenarnya cukup penasaran dengan sikap Yohan.
Sejak program magang dilaksanakan, Maglina memang sudah berniat akan masuk ke istana sebagai seorang prajurit wanita dan kebetulan sekali ia magang juga bersama sebagian teman-temannya dari Southsea yang datang ke ibukota.
Disaat Yohan juga akan menjalani kegiatan kerajaan dalam magangnya, disitu juga Maglina harus terlibat dan namanya ada didaftar susuna prajurit magang sebelum lulus.
Sebelum mereka berangkat ke kediaman Cali, Maglina sempat bertanya seperti itu. Seharusnya perihal kasus seperti ini sangat penting, namun kenapa Yohan ingin membaginya dengan Maglina dan mengerjakannya bersamanya?
“Maglina Heavring, kamu bisa jujur sekarang padaku. Berada di pihak mana kamu saat ini?”
Setelah semuanya terjadi dan mereka menjalani beragam macam masalah, barulah Yohan ingin tahu dimana Maglina berpijak saat ini. Bukankah itu sedikit terlambat?
“Pangeran, saya tidak-.”
“Jika kamu berniat mendukungku, tidak salahnya aku percaya begitu saja.”
Apa ini? kenapa Yohan terlihat naif sekaligus mencurigakan? Tapi itu bukan masalah Maglina.
“Maglina, apa alasanmu masuk ke akademi militer dan melakukannya sejauh ini bersamaku?”
Lagi-lagi pertanyaan itu yang Maglina dengar.
“Saya hanya berpikir bahwa tidak ada yang salah dari tindakan anda sampai saat ini.”
Maglina mengerti tentang makna kesetiaan seorang prajurit. Saat Yohan bertanya tentang berada dimana pihak mana Maglina saat ini berpijak, apa harus Maglina menjawab bahwa ia sepenuhnya percaya dengan tindakan Yohan sementara ia belum mengucapkan janji setianya pada kerajaan sebagai prajurit resmi.
“Pangeran, mari kita anggap saat ini tindakan kita sebagai kenakalan anak-anak seusia kita.” ucap Maglina tersenyum tipis sebelum mereka pergi.
*
*
*
Beberapa menit setelah pemberitahuan Maglina bahwa mereka sebentar lagi akan tiba ke kediaman Cali, Yohan dan Maglina turun dari mobil dan disambut oleh beberapa pelayan kediaman Cali sebelum mengantar kedua orang itu ke ruangan tempat Frigid berada.
“Tuan Frigid sudah menunggu di dalam.”
Sesampai di depan pintu ruangan pribadi Frigid, Yohan pun meminta Maglina untuk menunggu di luar. Mengerti dengan perintah Yohan.
“Bagaimana kabarmu Frigid?” begitu sapaan Yohan ketika ia sudah ditinggal berdua dengan Frigid yang berdiri di depan jendela ruangannya, kepala Frigid dengan cepat merespon suara Yohan di depan pintu.
“Seperti biasa, tidak ada yang berubah dariku.”
Yohan sudah menebak yang akan menjadi jawaban dari Frigid. Ia melangkah mendekat pada Frigid melihat pemandangan halaman kediaman yang ditata rapi oleh tukang kebun hampir setiap hari. Namun karena sudah memasuki musim gugur dan sebentar lagi akan musim dingin, banyak dedaunan sudah menguning dan meninggalkan tumbuhan yang mampu bertahan di udara dingin seperti pohon pinus.
Tiba-tiba Yohan merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah botol bening kecil yang berisi cairan cokelat yang tidak terlalu keruh namun nampak kental sembari mengulurkannya pada Frigid.
“Setidaknya untuk saat ini bertahanlah sedikit demi sedikit sembari menjalaninya.”
“Kini aku tidak memerlukannya Yohan, sebentar lagi semuanya akan usai.”
Yohan sudah hapal dengan sifat pesimis sepupunya satu ini. ia mendekat dan merangkul bahu Frigid, menggenggam erat ujung bahu kanan pria yang tingginya sedikit lebih dari Yohan.
“Kamu bicara apa? Saat kamu mati nanti, siapa yang akan menangis keras? Aku? Bukan! Tentu saja Yohanna! Dan siapa yang harus menenangkannya? Tentu saja aku! Aku tidak suka melakukan itu.”
Itu memang padangan ke masa depan yang cukup gelap, tapi kalau itu pilihan Frigid, maka Yohan mengatakan pendapatnya dengan jujur saja.
__ADS_1
“Kamu tahu Frigid, aku juga orang yang tidak mau kalah. Aku punya ambisi, sebagai anak kembar aku tidak bisa leluasa seperti Joan. Status tidak selamanya menjadi jaminan kekuatan, setelah lulus aku akan mencari kekuatan lain untuk membebaskanmu dari sana. Bahkan aku tak segan jika harus memulai perang.”
Yohan mengatakannya dengan senyuman yang cukup cerah.
“Kamu tidak akan mampu melakukannya Yohan, lawanmu sangat berpengalaman.”
Tidak bermaksud meremehkan, tapi secara objektif Frigid melihat seberapa persen Yohan mampu melakukannya.
“Secara fakta memang saat ini masih seperti hmm, bagaimana aku mengatakannya? Apa aku terdengar naif? Mungkin begitu. Tapi dari orang yang naif, bisa saja terlahir sebagai orang yang berpengaruh, karena aku sisipkan sedikit ambisi di dalamnya.”
Karena Frigid sejak tadi tak ingin menerima benda yang ingin ia berikan, Yohan memutuskan untuk meletakkan di atas meja belajar pria itu saja sembari melenggang keluar dari ruangan itu karena tujuan pertemuannya sudah selesai dan masih banyak yang harus Yohan kerjakan di istana.
“Senang bisa bertemu denganmu lagi Frigid. Sampai jumpa.”
Perlahan Yohan menutup pintu ruangan Frigid dan sudah ada di sana di samping daun pintu, Maglina yang masih berdiri tegak menunggu dengan setia Yohan dari dalam.
“Bagaimana reunimu?” tanya Maglina saat wajah Yohan keluar dari dalam ruangan terlihat cerah seolah tidak ada beban dalam pikirannya.
“Bagaimana bisa disebut dengan reuni? Kami baru saja tidak bertemu selama beberapa hari setelah dari Leafa. Tentu saja ia dan sifat pengecutnya tidak akan mudah berubah. Maglina, saatnya kita harus pergi menemui seseorang yang lebih penting lagi.”
Maglina mengangguk paham.
“Saya dengar, beliau masih berada di kantor saat ini dan belum kembali ke kediaman. Haruskah kita menyusul ke kantornya?” tanya Maglina.
“Aku rasa kita akan mengirim undangan makan malam saja. Aku tidak ingin menciptakan keributan dan kecurigaan dari beberapa pihak.”
Kedua orang itu berjalan menyusuri lorong yang akan membawa mereka keluar dari kediaman menuju teras dimana mobil yang dinaiki sudah kembali ke teras bersama supirnya.
“Pangeran, saya tidak yakin entah mata saya salah atau bagaimana.” Sebelum Yohan masuk ke dalam pintu setelah dibuka oleh Maglina, ia memutar pandangannya menatap ksatria wanitanya.
“Katakan saja apa yang mengganjal.”
“Sepertinya saya,” Maglina mendekat dan berbisik pelan pada Yohan hingga tak lama Yohan terlihat sedikit terkejut dan melihat Maglina tak percaya.
Sepersekian detik, Yohan malah terkekeh dan membuat Maglina bingung, namun menyadari ada yang harus ia ikut tertawakan juga disini seolah kedua orang itu berbagi pikiran yang sama.
“Aku baru ingat dia orang yang seperti apa! Astaga! Pangeran, mataku tidaklah salah, jika begitu.”
“Kamu benar Maglina, meski tak terlalu mengenalnya dengan dekat, dia adalah orang yang akan berbuat sejauh ini.”
Yohan lalu masuk ke dalam mobil sembari menahan rasa geli dalam benaknya. Maglina barusan membisikkan bahwa ada seseorang yang tak terduga berada di kediaman Cali saat ini.
*
*
*
Mata Maglina itu tidak salah ketika menunggu Yohan, ia sempat pergi berkeliling bersama beberapa pelayan kediaman Cali bahkan pergi ke kamar kecil. Hingga matanya menangkap sosok tak asing di taman halaman belakang sedang bercengkrama dengan beberapa pelayan wanita. Namun tatapan Maglina tak setajam itu hingga bisa Ree tahu bahwa yang menatapnya dari jauh dan tak berani untuk menyapanya.
“Jika berjalan lebih jauh lagi, akan ada kandang buaya milik tuan muda Frigid.”
“Kandang buaya?” tanya Ree cukup kaget bahwa kesukaan Frigid terhadap hewan reptil itu cukup besar.
“Apa aku bisa melihatnya? Apa berbahaya?” tanya Ree penasaran dengan salah satu pelayan kediaman Bianca.
Pelayan paruh baya itu terkekeh dengan rasa penasaran tamu tuannya yang cukup besar dan mengenal takut sama sekali.
“Kita bisa melihatnya dari jarak yang cukup aman nona. Tuan Frigid tidak melarang orang-orang untuk ke tempat itu. saya bisa tunjukkan jalannya,”
Sebenarnya cukup ragu Ree ingin pergi ke lokasi itu, takutnya ia malah bertemu dengan Frigid di sana. Tapi jika pertemuan canggung itu terjadi, hati Ree rasanya belum siap. Jika dipikirkan lagi, sampai kapan ia harus mengulur waktu?
“Biasanya tuan muda sendiri yang akan membawa troli berisi makanan untuk para peliharaannya, karena banyak pelayan yang tak berani mendekati lokasi itu karena takut.” Sembari berjalan santai, Ree dan satu pelayan wanita itu tiba di sebuah tembok batu dan pelayan itu menuntun Ree untuk naik ke atas melalui tangga agar bisa melihat lebih jelas apa yang ada dibalik tembok batu setinggi dua meter itu.
Sebuah kolam besar air tawar dengan beberapa tanaman air yang bisa Ree lihat. Dari atas bisa Ree lihat ada sekitar tiga ekor buaya dewasa yang cukup besar dan satu ekor kecil nampak sedang berjemur dan berdiam diri di pinggir kolam.
“Tuan tidak memperbolehkan tuan muda memelihara lebih dari lima ekor. Karena cukup membahayakan, saat ini tinggal empat, beberapa minggu yang lalu ada seekor yang mati karena sudah cukup tua.”
Ree terdiam melihat kawasan itu, seperti kebun binatang pribadi dan cukup berbahaya jika tak sengaja jatuh dari lantai dua karena dinding pembatasnya hanya setinggi satu meter setengah. Lucu sekali ketika Ree berpikiran bahwa jika Frigid sebenarnya berniat melemparkan dirinya ke tengah kolam dan mati di sana.
“Apa-’’
Baru saja Ree ingin menanyakan pertanyaan konyol lainnya, pergelangan tangan kirinya yang sedang memegang dinding pembatas tiba-tiba saja ditarik cukup kuat hingga mampu membuatnya berbalik menatap pelaku yang melakukan tindakan kurang sopan itu padanya.
“Tuan muda.” Sapa pelayan wanita itu dengan lembut lalu sedikit mundur menyisakan ruang untuk Ree dan sang tuan muda yang muncul tiba-tiba dari belakang.
“Haruskah sampai sejauh ini Ree?”
__ADS_1
Dari sekian banyak pertanyaan, Ree harus menerima pertanyaan menohok yang tak pernah ia ekspetasikan akan terlontar begitu saja secara tajam dan dingin dari orang yang sangat ia temui saat ini.
To Be Continued.