We And Problems

We And Problems
Chapter 44 : The Reason


__ADS_3

Dalam diam, Ree terkejut dengan bunyi derit pintu ruang penyimpanan dokumen lalu melihat dua orang tak asing di matanya keluar dari ruangan yang sama. Tak lama mereka berada di dalam dan saat keluar, keduanya saling membelakangi dan tidak pergi bersama lagi. Sedari tadi ketika melihat Frigid dan Syricie pergi bersama, langkah kakinya yang biasanya tidak ingin tahu urusan orang lain, tiba-tiba ingin sekali mengikuti dan mengamati mereka dari jauh. Sayangnya Ree tidak berani untuk lebih dekat lagi, karena ia tidak berniat untuk mendengar apa yang mereka lakukan.


Rasa penasaran Ree memuncak ketika ia melihat Syricie keluar dengan wajah yang cukup serius dibanding wajah yang sering menggodanya di perkemahan.


“Kedua orang itu…” geram Ree.


Tak tahu mengapa, kenapa orang-orang di sekitar Frigid tiba-tiba saja datang padanya dan cara mereka hadir membuat Ree tak nyaman.


“Ree, kenapa kamu seperti ingin memeluk tiang? Apa kamu masih sakit?”


Jantung Ree hampir saja jatuh dari tempatnya ketika seseorang menegur perilakunya dari arah belakang.


“Alexander! Aku terkejut, tapi aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah. Mungkin efek dari obat yang aku konsumsi.”


Bagaimana tidak Alexander menegur, dari kejauhan Ree terlihat hampir memeluk tiang penyangga lorong, punggungnya sedikit membungkuk seperti orang aneh. Gelagat Ree yang jarang dilihat seperti itu tentu saja membuat Alexander kebingungan sekaligus khawatir. Bisa saja Ree masih merasakan efek racun di dalam tubuhnya dan tak mampu berdiri.


“Benarkah? Apa tidak istirahat saja?” tanya Alexander.


“Tidak, tidak… Alexander, aku baik-baik saja.”


Ree memperbaiki cara berdirinya dan kembali melanjutkan perjalanan. Alexander menatap kepergian Ree dengan rasa bingung dan cemas, harap-harap temannya satu itu baik-baik saja dan cepat membaik lukanya.


*


*


*


“Apa ini? Kenapa kalian menghalangi jalanku?” tanya Servio saat ia sudah membawa kopernya untuk bersiap kembali ke La Priens. Namun saat keluar dari kamarnya, ia dihadapkan dengan kepala pelayan keluarganya sekaligus orang kepercayaan ayahnya. Pria paruh baya itu berdiri tepat di depan daun pintu dan langsung menghadap Servio yang baru saja membuka pintu.


“Anda tidak diperbolehkan oleh tuan untuk kembali ke akademi.” ucapnya formal.


“Apa?” tanya Servio seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar.


“Orang tua itu, kenapa keras kepala sekali.” Guman Servio lalu kembali menatap wajah kepala pelayan rumahnya yang juga menatapnya datar.


Servio membuang kopernya sembarangan lalu pergi dari hadapan kepala pelayan keluarga Florence. Saat ini tujuannya sudah pasti, yaitu ruangan tempat ayahnya berada. Memang seharusnya tidak akan mulah meluluhkan perasaan orang tuanya dan Servio paham sekali terkait hal itu. namun, ia tak bisa berdiam di kediaman sementara banyak hal yang harus dilakukan di akademi terutama urusannya dengan Ree serasa belum tuntas karena mereka sama sekali belum bicara.


Tanpa mengetuk, Servio langsung membuka pintu ruangan dimana ayahnya berada dan benar, pria paruh baya yang menamparnya beberapa hari lalu tengah berdiri menghadap jendela besar ruangannya.


“Apa yang kamu lakukan dengan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu? Begitukah etikamu padahal kamu masuk akademi?”


Kedua tangan Servio mengepal keras di sisi pahanya, tanpa merasa bersalah sedikitpun menyinggung sikap Servio dan menghubungkannya dengan akademinya.


“Apa yang ayah pikirkan? Biarkan aku kembali ke akademi. Banyak yang harus aku selesaikan di sana!”


Perlahan tubuh ayahnya berputar, mata sayu pria paruh baya itu menatap lurus ke arah Servio, mulutnya sama sekali tidak membentuk kurva dan terlihat tidak senang mendengar ucapan yang barusan Servio katakan.


“Apa pentingnya di sana? Kamu akan kembali memungut wanita lagi lalu mengacaukan keluargamu? Begitu? Diam dan ikuti saja bisnis yang sudah keluargamu jalankan. Kamu sudah mengacaukan segalanya kemarin.”


“Apa pentingnya pertunangan itu? Kalian dengan seenaknya mengatur dan mengorbankan hidupku hanya untuk kepentingan kalian sendiri. Jika ingin memintaku menikah, tidak bisakah menyerahkannya padaku sendiri tanpa ikut campur tangan kalian?”


Servio mengatakannya, rasa geram dalam hati tanpa ingin ia pendam lebih lama. Hidupnya tak pernah seperti ini sebelumnya. Ia tidak peduli dengan bisnis keluarganya, namun setahunya tidak ada paksaan seperti yang ia alami saat ini di dalam keluarganya.


“Aku tidak ingin memberitahumu alasan terbesarnya atas segala keegoisan keputusan kami terhadapmu.” ucap ayah Servio.


“Jangan beralasan yang membuatku muak, aku sudah bisa mengerti segala sesuatu tergantung situasi.” Mata Servio menyelusuri wajah ayahnya apakah terdapat skenario buatan atau hal yang sesungguhnya ada mereka sembunyikan di balik rencana pertunangannya.


“Keluarga Lumen sudah lama dikenal sebagai keluarga pelaut dari dulu, meski mereka tidak seperti saudagar besar lainnya yang mana terlihat mencolok dengan gaya hidup mereka, namun keluarga Lumen salah satu yang disegani di dunia perdagangan.”


Secara setelah Servio mengenal Ree dan mengenal latar belakang keluarganya, diam-diam tanpa sepengetahuan Ree, ia menyelidiki sedikit tentang latar keluarga Ree. Tentu saja yang diucapkan ayahnya barusan tentang keluarga Lumen adalah benar. Namun Servio tidak melihat semangat keluarga itu dalam diri Ree, membuat Servio hampir tidak percaya Ree adalah salah satu anggota keluarga Lumen.


“Mereka bukan pedagang kotor. Bahkan ketika membawa barang langka, mereka tetap melakukannya sesuai dengan aturan. Karena kemampuan mereka yang seperti itu, ayahmu ini ingin meminta bantuan mereka mendapatkan obat untuk ibumu.”

__ADS_1


Ini sudah lama terjadi di dalam keluarga Florence. Ibu Servio, Dandelia adalah seorang nyonya rumah Florence yang luar biasa. Kemampuannya memimpin dalam kediaman membuat semua orang menghormati dan menyayanginya, termasuk Servio.


“Karena itu, keluarga Lumen yang memiliki jalur perdagangan barang langka sangat luas. Tak banyak pedagang yang mudah mendapatkan apa yang mereka jual.”


Kabar kondisi Dandelia yang semakin memburuk tidak dapat diabaikan. Sejak melahirkan Servio yang mana merupakan putra bungsu keluarga Florence, kondisi tubuh Dandelia menjadi lemah dan sering sakit-sakitan. Namun tak pernah Servio disalahkan terkait kondisi ibunya, meski kadang Servio sering kali merasa bersalah tiap kali menatap ibunya.


“Mungkin saat ini ia terlihat baik-baik saja, namun ia hanya memaksakan dirinya untuk terlihat baik-baik saja.” Pandangan ayahnya kembali menatap ke luar jendela, terdapat istrinya sedang berjalan-jalan santai sembari mengobrol dengan pelayan yang bertugas membersihkan kebun.


“Tunggu dulu, apa keluarga kita tak mampu mendapatkannya sendiri? Bukankah kita juga seharusnya mampu mendapatkan obat ibu?” tanya Servio heran. Apa yang dilakukan keluarganya selama ini menjadi pertanyaan besar bagi Servio. Ia tahu bahwa ayahnya juga tidak akan sulit untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Namun, kenapa satu hal yang terkait dengan ibunya sulit untuk didapatkan?


“Jika ayah mampu, ayah tidak akan melakukan semua ini. keluarga Lumen menyanggupi untuk memberikan bahan baku obat itu pada keluarga kita, namun sebagai gantinya kita akan memberikan mereka perlindungan dengan pasukan yang kita miliki.


Servio terdiam, kondisi ibunya tak lain semakin memburuk. Nyatanya bukan lagi masalah uang ketika ingin mendapatkan sesuatu. Terdapat hal-hal yang tak bisa dielesaikan dengan uang, apa yang diinginkan ayahnya untuk kesembuhan ibunya merupakan sesuatu yang sulit untuk didapatkan. Mungkin tidak ada di kerajaan ini melainkan di belahan dunia yang jauh.


“Itulah kenapa pertunangan yang kamu kacaukan kemarin merupakan sesuatu yang sangat penting.”


Servio tidak tahu jika akan sedalam ini arti pertunangan yang kedua orang tuanya atur untuk dirinya. Ia hanya menganggap bahwa semua hanya karena bisnis dan harta semata.


“Apa tidak ada pilihan lain di keluarga Lumen selain yang dikenalkan padaku kemarin?” tanya Servio.


Ayahnya melirik putra bungsu yang sempat ia marahi tempo hari, kali ini maksud dari pertanyaan Servio merupakan hal yang mencurigakan. Apa saja rencana yang ada di kepala anak itu.


“Keluarga Lumen bukan keluarga yang besar, putra dan putri keluarga itu tak jarang sudah ikut berlayar dan menikah. Namun, selain nona Brina ada satu lagi gadis yang masih belum menikah. Saat ini gadis itu masih ada di akademi untuk belajar.”


Servio tahu itu, Ree merupakan bagian dari keluarga Lumen.


“Kenapa kamu bertanya?”


Sempat Servio terdiam beberapa detik lalu menatap lurus ke ayahnya.


“Aku hanya memikirkan caraku bertanggung jawab tentang masalah yang telah aku buat.”


*


*


*


Cuaca pelabuhan hari ini cukup dingin, membuat Ree melangkah keluar dari stasiun dengan mengeratkan jubah beludrunya agar sedikit ia merasa hangat. Aroma bermacam-macam menyeruak masuk ke dalam hidungnya karena banyaknya aktivitas manusia di dalam  suatu pelabuhan sungai yang cukup besar.


Tak mengulur waktu lebih lama, wanita yang menggunakan boots itu langsung pergi meninggalkan stasiun, seolah hapal dengan jalanan pelabuhan tak sulit baginya menemukan markas militer tempat Henny magang.


Setelah menunjukkan kartu identitasnya ia diperbolehkan masuk dan menunggu di ruang tamu.


“Ree! Kamu datang!” sambutan hangat dari Henny setelah beberapa menit menunggu membuat Ree tersenyum. Ree sempat membeli beberapa roti dan memberikannya pada Henny agar wanita itu semangat menjalankan magangnya.


“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Henny cemas. Masih lekat dipikirannya wajah lesu dan penuh masalah dari Ree membuat Henny geram dan mendatangi Servio. Namun saat ini di depan matanya wajah Ree sudah kembali normal dan tenang.


“Apa yang kamu tanyakan! Tentu saja aku baik-baik saja. Dari pada aku, seharusnya yang ditanyakan baik-baik saja adalah kamu. Kamu tahu aku sangat cemas karena memikirkan rencana gila kalian.” Henny sudah lama tidak mendengar omelan dari mulut Ree karena tingkahnya yang sering kali ceroboh. Di sela kekehannya, Henny tak sengaja melihat tangan Ree yang diperban dan langsung meraih tangan itu dengan cepat.


“Ini kenapa?” tanya Henny cemas.


Ree menarik perlahan tangannya dari genggaman Henny sembari tersenyum canggung. Perbannya baru saja di ganti pagi ini dan sudah cukup kotor karena ia berpergian.


“Aku sedikit ceroboh di kelas Berburu minggu kemarin. Namun aku sudah baik-baik saja. Lukanya bahkan sudah mengering.” jelas Ree.


Kecelakaan seperti ini memang tidak bisa ditebak kapan terjadi. Setidaknya Henny lega jika Ree baik-baik saja.


“Luka ini tidak separah itu. lebih baik kamu menjelaskan tentang apa yang terjadi malam itu. Aku mencemaskanmu ketika kamu harus bertemu dengan keluargamu.”


Ree tidak tahu bagaimana kuatnya Henny ketika datang menghancurkan pertunangan orang lain. Servio yang juga terlibat pasti sudah pasrah karena tidak dapat melakukan apa-apa kecuali tindakan gilanya bersama Henny.


“Kami benar-benar mengacaukannya dan aku bertemu dengan kedua orang tuamu. Bibi Leona tidak menyalahkan kehadiranku meski raut wajahnya terlihat sangat kecewa. Aku juga bertemu dengan kakak sepupumu, yaitu Luceat.”

__ADS_1


Tubuh Ree seketika menegang ketika mendengar kembali nama Luceat di telinganya. Ingatan masa lalu yang terselimuti ketakutan menyeruak kembali ke permukaan. Henny yang melihat perubahan tingkah Ree menjadi sedikit ketakutan itu langsung duduk di samping wanita itu dan memeluk bahunya.


“Jika kamu tidak ingin namanya disebutkan, aku minta maaf. Aku sudah tahu apa yang ia perbuat padamu karena kemarin ia datang menemuiku dan menceritakan semuanya.”


Mata Ree terbelalak menatap Henny, kisah masa lalu asal dari segala ketakutannya belum secara rinci ia ceritakan dengan Henny. Lalu Luceat datang dan menceritakannya pada Henny, membuat Ree malu.


“Ma-maaf, aku sangat malu dan merasa tak percaya diri hingga sulit mengatakan apa yang terjadi padaku.” ucap Ree terbata-bata.


“Apa yang kamu bicarakan? Aku tidak marah ataupun kecewa ketika kamu tidak cerita kenapa kamu bisa takut pada laki-laki. Itu adalah rahasiamu, sesuatu yang tidak mungkin untukmu terbuka dengan orang lain. Masalah Luceat menceritakannya padamu juga bukan kesalahanmu. Ia mengaku bersalah namun tak bisa bertemu muka denganmu.” Sejak Henny mendengar pengakuan Luceat, ia tidak tahu bagaimana rasanya menjadi Ree yang hidup dalam bayangan rasa takut, jijik, dan semacamnya selama bertahun-tahun hingga sekarang.


Masa lalu memang sangat menakutkan. Ree pikir ia sudah jauh melangkah meninggalkan masa lalu, namun nyatanya kenangan yang membawa ketakutan itu mengikutinya dari belakang dan belum menghilang.


“Lalu, bagaimana dengan keadaan Servio? Ia belum juga kembali ke akademi dan ini sudah hampir dua minggu berlalu.” Ree menatap wajah Henny, menunggu jawaban hasil dari perbuatan mereka beberapa hari lalu.


Awalnya Henny hanya saling bertatapan dengan mata Ree, ia hanya menggigit bibir bawahnya, karena apa yang menjadi hasil nampaknya bukan sesuatu yang keduanya harapkan akan terjadi.


“Servio terkurung di kediamannya dan tidak boleh keluar dari pagar kediaman oleh kedua orang tuanya.” Sebenarnya sebelum Ree menemuinya, di hari sebelumnya Henny sudah mencoba menghubungi Servio. Namun perlakuan orang-orang kediaman Florence padanya sangat tidak baik. Henny mengerti jika akan diperlakukan seperti itu karena citranya di hadapan orang-orang keluarga Florence sudah buruk, meski hanya sandiwara belaka. Namun tetap membuat Henny sedikit merasa sakit hati.


“Kalian berdua… apa-apa saja yang sudah kalian lakukan… Henny, apa kamu tidak apa-apa setelah hari itu? tidak ada yang mencoba melukaimu, bukan begitu?” tanya Ree cemas sembari memeriksa tubuh Henny satu persatu.


“Hahaha, kamu terlalu banyak membaca novel percintaan… mereka tidak sampai melakukah hal jahat padaku. Kami berdua hanya tak direstui saja dan dilarang bertemu satu sama lain.” Henny merasa lucu karena cara Ree mencemaskannya dan hampir menyamakan situasi di dalam kenyataan dan fiksi. Tentu saja Henny tidak ada mengalami hal-hal yang Ree cemaskan, ia hanya dilarang bertemu dengan Servio saja.


“Meski begitu, Servio yang tidak ada kabar dan dilarang untuk ditemui… aku tetap saja cemas. Apa ia baik-baik saja?” tanya Ree.


“Aku tidak tahu bagaimana dirinya saat ini, kami bahkan sulit untuk saling bertemu.”


Ree kembali terdiam. Situasi Henny saat ini juga tidak nyaman, padahal Henny sudah membantu Ree.


“Memang tidak bisa dibiarkan begitu saja Henny.” ucap Ree tiba-tiba.


“Ada apa Ree? Apa yang tidak bisa kamu biarkan?” tanya Henny bingung.


“Aku memahami niatmu menggantikanku saat itu dan benar kalian sudah melakukan apa yang sesuai dengan rencana kalian. Namun tetap saja, karena ini masalah keluargaku dan keluarga Servio tetap ada hal yang mana aku juga harus ikut turun ke dalamnya.”


Bukan Ree tidak berterima kasih pada bantuan yang Henny berikan, akan tetapi seperti yang ia katakan tetap saja ada satu hal yang mana dirinya juga terkait dan bisa turun tangan juga. Ree tidak menyalahkan Henny karena kekeruhan situasi saat ini, hal itu karena yang diinginkan oleh Servio.


“Kamu sudah melakukannya dengan baik Henny, aku bahkan salut dengan keberanianmu untuk pergi.”


“Ree, jangan bilang kamu turun lagi ke dalam masalah yang tidak kamu ingin melibatkan dirimu sendiri.”


Ree mengangguk.


“Kemarin aku sempat lari karena kakak Luceat yang membuatku takut. Kamu sudah menawarkan diri untuk mewakiliku membantu Servio, itu merupakan hal yang luar biasa. Tetapi Henny, tetap saja… aku perlu melakukan sesuatu karena Servio juga banyak membantuku.”


Henny tidak mencemaskan bagaimana keadaan Servio saat ini, ia lebih khawatir tentang langkah seperti apa yang mau Ree ambil.


“Oleh karena itu Henny, aku akan menemui Servio hari ini.”


Tidak ada pilihan lain bagi Ree kecuali langsung bicara dengan Servio langsung untuk menanyai kabarnya. Ree tidak ingin Servio malah mendapat dampak buruk dan menyakitinya. Pria itu, selama ini selalu datang menghampiri Ree. Melatih dan membuat Ree terbiasa dengan kehadirannya. Bagaimana mungkin Ree bisa hidup nyaman-nyaman saja ketika ia tidak tahu apa yang Servio rasakan sekarang.


Mata Ree teralihkan pada langit-langit ruangan yang berwarna abu itu, menatap lampu gantung yang sangat cantik. Pikirannya melayang kemana-mana dan tak tahu bagaimana menyusunnya agar satu persatu dapat terselesaikan.


*


*


*


Sementara itu, di waktu yang sama namun tempat yang berbeda. Dimana di kediaman Florence yang tenang di salah satu wilayah kota Crystallo, Servio masih berdiam di dalam ruangan ayahnya. Niatnya untuk kabur ke akademi terhenti ketika saat ia mendengar alasan perbuatan ayahnya pada dirinya.


“Ayah, tolong undang keluarga Lumen malam ini sebagai permintaan maaf.”


Servio tidak bisa membiarkan orang yang ia cintai serta hormati itu hidup menderita. Jika uang tak dapat menyelesaikannya, maka seharusnya ada hal lain yang bisa ia gunakan untuk menyembuhkan ibunya.

__ADS_1


 


To Be Continued.


__ADS_2