
Suasana sekitaran akademi beberapa hari yang akan datang cukup ramai karena akan diadakannya evaluasi dan rapat terkait pertukaran pelajar yang dilakukan oleh La Priens. Hal tersebut tak terkecualikan dengan adanya keberadaan Henny dan Roche sebagai perwakilan dari Akademi Wanita Litore.
“Aku tidak menyangka kamu akan berada di akademi seluas ini. bahkan akademi kita hanya setengahnya saja.” ucap Henny kagum ketika berjalan bersama Ree mengitari sekitaran akademi sementara Roche sudah mereka antar ke ruang pertemuan.
“Tapi tidak ada yang nyaman selain tempat asal kita.” timpal Ree.
“Kamu benar, apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang menganggumu?” tanya Henny penasaran.
“Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja.” Tapi tidak dengan ketenangan, lanjut Ree dalam batinnya.
“Aku dengar, kamu juga ikut senat. Bukannya itu merepotkanmu?” tanya Henny heran.
Ree tidak mengelak, memang merepotkan ketika bergabung dengan senat akademi.
“Tapi aku punya alasan khusus ketika bergabung.” timpal Ree.
Keduanya berhenti di sebuah bangku taman dan duduk di sana, kebetulan Ree tidak memiliki kelas karena seluruh pengajar sedang ada pertemuan membuat Ree bisa leluasa bermain dengan Henny.
“Apa itu? Apa ada yang kamu sukai, jadi kamu nekat masuk ke senat?”
“Itu sangat tidak mungkin Henny. Kamu tahu sendiri keadaanku seperti apa.” timpal Ree.
Henny terkekeh, ia tahu apa yang tidak Ree sukai.
“Jadi bagaimana kesanmu? Kamu masuk ke medan perang yang sebenarnya sangat merugikan dirimu sendiri.”
“Hm, dikatakan rugi juga tidak, aku bisa belajar banyak di sini.” ucap Ree.
“Hooo Ree sudah dewasa, jadi coba ceritakan kesanmu.”
Henny nampak sangat penasaran dengan apa yang telah Ree jalani di La Priens.
“Tidak semudah itu dan tidak juga sesulit sampai ingin mati, aku di sini aman karena Ghea, Liliana, dan Maglina selalu bersamaku. Juga aku sedang berusaha menyembuhkannya. Agar tidak ada keterbatasan lagi ketika aku terjun di masyarakat.” ucap Ree sembari menatap dua telapak tangannya yang selalu saja keringat dingin ketika menyentuh pria. Belum lagi perasaannya selalu saja gelisah dan ketakutan.
Seolah-olah kaum adam akan menyakitinya saja.
Namun, itulah yang membekas dalam diri Ree.
Tiba-tiba telapak tangan Ree ditimpa oleh sepasang telapak tangan milik Henny. Ini sudah menjadi kebiasaan bagi Henny maupun Ree untuk menggenggam tangan satu sama lain ketika ingin menyalurkan rasa nyaman.
“Kamu tidak perlu terburu-buru, aku yakin kamu pasti bisa sembuh. Luka lama memang tidak mudah pudar, namun selalu ada obatnya.”
Apa yang dikatakan Henny tidaklah salah, meski Ree masih belum menemukan obat yang bisa menyembuhkan kelainan dari dirinya sampai saat ini. Jujur saja, keterbatasannya ini membuatnya serba salah dan seringkali kesulitan.
Meski tidak seberapa, Ree setidaknya yakin dirinya masih bisa berguna untuk sesama tanpa memandang siapapun itu.
Maka dari itu, Ree ingin sekali sembuh.
“Ree, apa yang kamu lakukan disini?”
Obrolan ringan Ree dan Henny terinterupsi dengan kehadiran sosok yang tak asing bagi Ree dan Henny sekaligus.
Ia adalah Servio, rekan yang Ree percayakan untuk menyembuhkan dirinya sekaligus orang yang membantu Henny ketika tersesat.
“Wah! Kita bertemu lagi! Sudah kuduga!”
Bukan Ree yang menyambut pertanyaan Servio melainkan Henny dengan bersemangat menyambut kedatangan pria itu yang tidak mampu menandingi energi dari Henny.
Melihat Servio yang mengantuk adalah sudah biasa bagi Ree, namun ketika melihat pria itu sedikit kerepotan karena ulah Henny, membuat Ree hanya tersenyum geli menatap interaksi dua orang di hadapannya satu ini.
“Jadi Servio yang membantumu terapi?” tanya Henny setelah mendengar penjelasan Ree terkait kehadiran Servio.
“Itu benar, untuk saat ini aku dibantu Servio, sedikit banyak tapi ada kemajuan. Namun aku belum memikirkan balasan atas jasa yang Servio berikan padaku.”
Henny mendengar ucapan Ree dengan seksama sembari menatap pria yang duduk di sampingnya kini.
Keberadaan Henny diantara Ree dan Servio tak lain adalah demi kebaikan Ree itu sendiri dan Henny biasa melakukannya ketika mereka berada di lingkungan campuran.
Pria pucat misterius dengan wajah lesu dan jarang berekspresi serta berbicara, terlebih surai panjang lurusnya itu jika tidak dirapikan akan menutupi wajahnya.
“Ree, kamu yakin orang ini aman?” tanya Henny ragu dengan Servio.
Pertanyaan blak-blakan itu sangat terdengar jelas ditelinga Servio dan sedikit membuat pria itu kesal dengan kejujuran hati serta pikiran Henny.
“Awalnya juga seperti itu, terlebih pertemuan pertama kami tidaklah bagus.” Di sisi Ree, ia juga tidak ingin membual tentang kesannya pada Servio.
“Haah?! Apa yang diperbuat pria malas ini padamu?!”
Tanpa ragu Henny langsung meraih kerah Servio sembari menatap tajam pria itu.
“Akh! Apa yang kamu lakukan!!?” tanya Servio bingung sekaligus kaget dengan sikap frontal Henny yang tidak kenal takut.
“Ree mengatakan kesan pertama kalian tidak bagus, apa yang kamu lakukan pada Ree?” kali ini bukan Henny yang bersemangat melainkan seorang wanita yang berubah menjadi sedikit galak.
“Henny, hentikan. Servio sudah meminta maaf dan sekarang baik-baik saja. Jika kamu mengajak Servio berkelahi, aku yakin Profesor Roche tidak akan diam saja.” Ucap Ree sembari menarik lengan seragam Henny untuk segera melepas cengkramannya pada kerah jubah Servio. Perlahan Henny menuruti ucapan Ree karena ia juga tidak ingin ada keributan di wilayah orang.
“Meski aku tidak melarangmu untuk pergi ke sini, tetap saja sebenarnya aku khawatir.” timpal Henny berdiri dan bersiap untuk menjemput Roche.
“Aku tahu, Servio adalah pria yang baik.” Henny menatap Servio yang tengah merapikan jubahnya yang sedikit kusut akibat sahabatnya Ree itu.
__ADS_1
“Apanya yang kamu ketahui tentang aku? Jangan mengatakan jika kamu seolah mengenalku.” Servio masih jengkel dengan perbuatan Henny yang menurutnya sangat tidak menyenangkan baginya.
Henny bukanlah wanita yang punya rasa takut seperti Ree, membuatnya sekali lagi maju mendekati pria yang membuatnya hanya setinggi leher pria itu namun tetap saja tidak ada rasa getir sedikitpun bagi Henny.
“Begitukah? Tak aku sangka kamu cukup menjengkelkan, bagaimana bisa Ree mau menerima tawaranmu yang tidak jelas itu, biar ku tanya. Apa maksudmu membantu Ree? Jujur saja padaku apa yang kamu pikirkan, Ree juga merupakan orang yang terbuka.”
Henny menghujam Servio dengan rasa penasaran serta kecurigaan yang cukup besar, hingga dapat sedikit membuat pria itu sedikit mundur dari posisinya karena ‘dorongan’ pertanyaan dari Henny.
“Henny, jangan menekannya. Aku baik-baik saja.” Ree tepat berada di belakang Henny sudah harap-harap cemas jika Henny tidak melayangkan tinjunya pada Servio.
“Ree, apa yang kamu miliki itu bukanlah sesuatu yang sepele, jika pria ini tidak memiliki kejelasan alasan itu sangat tidak masuk akal. Aku tahu kamu sejak dulu selalu sulit. Jika kamu terluka lagi, bukan kamu saja yang sakit, aku juga demikian.”
Henny tidaklah sebentar bersama Ree, ia sudah bertemu wanita itu sejak berusia 13 tahun di akademi yang sama. Tak jarang karena fisik Henny yang cukup tinggi dari anak perempuan biasanya menjadi guyonan sekitar dan semua anak-anak seumurannya takut bermain bersamanya, namun tidak bagi Ree yang dengan senang hati menemani Henny dalam setiap keadaan apapun.
Henny selalu melindungi Ree ketika wanita itu ketakutan dan ketika mereka berada di tempat yang ramai. Kekurangan Ree memang memprihatinkan bagi Henny, namun bukan berarti Henny terdiam begitu saja.
Ia juga ingin melihat Ree berubah dan nyaman dengan dunia normal selayaknya dirinya.
Karena itu, meski akhir-akhir ini Henny tak dapat selalu berada di sisi Ree untuk melindungi wanita itu, Setidaknya Henny ingin ada yang bisa ia percayakan.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Frigid yang sudah ada di belakang Servio.
Ia kebetulan melewati taman tempat ketiga insan itu berada, dan melihat seorang wanita asing seperti memojokkan murid akademinya. Meski Frigid tahu itu adalah Servio, namun pemandangan ini tidaklah nyaman jika dilihat dari orang lain.
Henny pun memilih mundur dan Ree langsung dengan cepat meraih lengan Henny agar wanita itu tidak bertindak terlalu gegabah. Terlebih di depan mata Frigid, Ree tidak ingin itu terjadi.
“Tidak ada, hanya sedikit perbedaan pendapat.” ucap Servio.
Ia sedikit lengah karena keberanian Henny yang tidak bisa ia tebak, namun kehadiran Frigid sedikit membantu agar tidak terlalu membuat situasi menjadi semakin keruh.
“Siapa dia?” bisik Henny pada Ree.
Henny sendiri bahkan lupa jika mereka berpas-pasan kemarin di kantor Jeremy.
“Dia tidak penting, ayo kita pergi ke tempat Profesor Roche.” Ree berusaha meminimalisir kontaknya dengan Frigid seminim mungkin karena rasanya sangat canggung ketika melihat sosok pria itu ada dihadapannya.
“Ree, aku ada perlu denganmu.”
Langkah Ree dan Henny otomatis terhenti ketika ucapan Frigid meluncur tak lama ketika kedua wanita itu ingin memutar badan.
“Kamu mengatakannya tidak penting, kenapa ia malah ada perlu denganmu?” tanya Henny sekali lagi.
Ree juga tidak tahu jika Frigid datang mencarinya. Pria itu datang pada saat yang sangat tidak tepat.
Frigid tidak tahu apa yang terjadi, ia pun maju mendekati Ree dan tanpa perlu ditanyakan lagi, Henny sudah memasang badan dengan menghalangi Frigid untuk mendekati Ree.
“Aku merasa pembicaraan kami sedikit privat, itu mengapa aku hanya ingin bicara dengan Ree.” jawab Frigid dingin.
Berbeda dengan sorot mata malas milik Servio barusan, Henny kali ini bertemu dengan ruang hampa dalam tatapan milik Frigid.
Gelap dan dalam, seolah tidak tahu apa yang ada di sana. Begitu misterius, pikir Henny.
“Kamu baik-baik saja Ree?” tanya Henny.
Sebelum Henny membiarkan pria tak ia kenal ini mendekati Ree, ia harus pastikan bahwa Ree nyaman.
“Henny, dia tahu situasiku. Aku baik-baik saja. Lagipula apa kamu lupa jika kamu harus menjemput Profesor Roche?”
Meski tidak cukup mendengar ucapan dari Ree barusan, Henny memilih pergi tanpa kata dan meninggalkan Ree bersama Servio dan Frigid di tempat itu tentu saja dengan diselimuti situasi yang sangat canggung.
Lupakan rasa canggung itu, karena tidak akan pernah habisnya.
“Jadi ada perlu apa?” tanya Ree.
“Aku pikir aku hanya ingin bicara denganmu saja.” ucapan Frigid menyindir adanya keberadaan Servio saat ini.
“Baiklah! Baiklah! Aku pergi! Tapi,” sebelum Servio memilih pergi pria itu lebih dulu menyentuh bahu kanan Frigid dan menatap Frigid dengan tatapan yang terbilang cukup tajam dan dalam.
“Aku harap kamu tidak macam-macam, kamu tahu yang aku maksud.”
Selain Frigid, Ree disini tidak mengerti kenapa Servio mengatakan hal demikian pada Frigid. Ree mengapresiasikan sisi perhatian Servio yang tidak jelas itu.
“Aku tidak berpikiran seperti itu, untuk apa aku melakukan hal aneh-aneh di lingkungan akademi.” ucap Frigid sembari mengibaskan tangannya pada bahu yang sempat di cengkram oleh Servio belum lama ini.
Ada benarnya juga, pikir Ree. Tidak ada alasan untuk seseorang seperti Frigid melakukan hal aneh.
“Jadi saat ini hanya ada kita. Katakan apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Ree.
Meski berada di taman yang berada di tengah akademi, namun suasana cukup tenang karena tidak ada murid yang berada di sekitar Ree dan Frigid, kalaupun ada mungkin mustahil bagi mereka untuk mendengar karena Ree sendiri tahu bagaimana suasana sekitar Frigid ketika pria itu sedang serius.
Ada aura menyeramkan tersendiri muncul begitu saja.
“Aku akan memberimu kesempatan.”
Ree langsung bisa tahu maksud ucapan Frigid barusan. Meski yang dipertanyakan adalah alasannya, namun itu terdengar seperti angin segar bagi Ree.
“Ini aneh, beberapa hari kebelakang kamu sangat ini aku pindah begitu saja? Tapi hari ini kenapa? Kamu membenturkan kepalamu pada sesuatu? Atau ada yang melemparmu dengan batu?”
Ini aneh, meski Ree mensyukurinya, Ree merasa sedikit ngeri dan ia bahkan merinding.
__ADS_1
“Maaf, tapi aku baik-baik saja.” jawab Frigid.
Sayangnya Ree tidak bisa menyentuh Frigid begitu saja, padahal ia ingin memeriksa kepala pria dihadapannya saat ini siapa tahu ada yang tergores atau berdarah.
Namun, hal itu dengan cepat Ree urungkan.
“Apa kamu benar baik-baik saja?”
Kali ini pertanyaan Ree diluar topik pembahasan mereka dan Frigid dengan cepat memahaminya. Bahkan karena itu, Frigid tidak bisa menatap Ree untuk beberapa hari ini.
“Seharusnya kamu tidak perlu memaksakan dirimu.” Frigid membicarakan pelukan yang Ree paksakan untuk menenangkan dirinya kala itu.
“Aku benci disentuh seperti itu.” ucap Frigid lagi.
Hal tersebut mengingatkan ada sentuhan yang lebih menjijikan dari apa yang Ree berikan. Frigid tidak membenci sentuhan Ree, namun ada satu bagian hatinya mengingat kenapa ia sampai menerima pelukan adalah karena kelemahan hati Frigid itu sendiri.
“Ucapanmu barusan bertolak belakang dengan apa yang kamu lakukan padaku dahulu. Apa kamu pikun?” tanya Ree cukup tajam tanpa memikirkan perasaan Frigid.
Ree ingat betul, bagaimana Frigid memeluknya di ruang kesehatan bahkan sampai Ree menampar kedua pipi Frigid sebagai akibat perbuatan pria itu pada Ree.
“Tidak, ucapanku barusan adalah untuk hal lain.” elak Frigid.
“Jangan menambah pertanyaan dikepalaku.” timpal Ree.
“Aku tidak mengerti apa yang salah dari hidupmu, apa tidak ada sedikitpun rasa syukurmu untuk bisa hidup sampai saat ini? kamu tidak tahu bagaimana pucat dan nekatnya Alexander keluar di tengah malam itu?”
Sejujurnya Ree sedikit kesal dengan Frigid, seenaknya ingin mengakhiri hidupnya sementara masih ada orang yang menaruh rasa khawatir pada pria itu.
Frigid tidak pernah memperhitungkan ucapan orang lain selama ini, karena orang-orang tidak tahu dirinya yang sebenarnya. Hanya karena sedikit kekurangan Frigid bocor dan diketahui oleh Ree, wanita itu tanpa canggung menghujani Frigid dengan kata-kata dalam kepalanya saat itu juga tanpa canggung.
“Padahal kamu tidak perlu sampai seperti itu. Jika dilakukan dengan terpaksa itu tidak akan berguna.” timpal Frigid menyinggung pelukan yang Ree berikan malam itu.
Apa telinga Ree tidak salah? Frigid bilang terpaksa? Tubuhnya memang bergetar hebat, bahkan sampai persendian Ree sendiri sampai lemas dan sulit baginya untuk tenang kala itu.
Namun niat menolongnya malah diartikan dengan kata ‘terpaksa’?
Ree merasa sedikit dongkol, ia memang menyadari bahwa dirinya dan Frigid tidak jarang berbeda arah jalan pikiran. Pria itu menyimpulkan apa yang terlihat di depan matanya, tidak peka bahwa Ree berusaha keras menenangkannya waktu itu.
Ree menghela napasnya, memeluk kedua lengannya di depan dada dan menatap Frigid kesal.
“Aku memang memiliki keterbatasan ketika berhubungan dengan kaum kalian dalam hal apapun itu, tapi kamu tidak bisa menghapus rasa kemanusiaan yang ada pada diriku. Aku tidak mengerti kenapa kamu mengartikan perbuatanku sebagai paksaan. Mungkin ada unsur memaksa disitu karena aku mendorong diriku sendiri untuk menyentuhmu. Namun, kamu harus tahu, tidak semua orang terpaksa menenangkan orang lain ah! Maksudku, niatku tidak sedangkal itu ketika menolong.”
Rasanya Ree ingin bertepuk tangan pada dirinya sendiri karena berbicara panjang lebar di hadapan pria dingin seperti Frigid tanpa tahu malu.
Semuanya kembali pada niat hati. Di mata Frigid jelas saja Ree memaksakan dirinya untuk menyentuh Frigid, wanita itu bahkan lama berpikir untuk mengambil keputusan hingga akhirnya niat serta rasa simpati mendorongnya untuk maju menuju Frigid dan memberi pelukan.
Terlihat sederhana namun butuh perjuangan untuk Ree melakukannya dan Frigid yang menerima.
Sekali lagi Frigid masih menatap wanita yang tengah kesal dengan ucapannya baru-baru ini. Frigid rasa ia tidak bisa akur dengan siapapun itu dalam ruang lingkup wanita. Jangankan Ree, ia bertemu Yohanna saja sudah malas. Sekarang malah wanita yang belum lama ia kenal sudah berani mengomelinya panjang lebar hampir seluas lapangan berkuda milik La Priens.
“Aku tidak peduli apapun dibaliknnya, tapi akan sangat tidak sopan bagiku jika tidak berterima kasih padamu.”
Meski ingin Frigid sangkal berjuta-juta kali, ketika mengingat tindakan Ree berhasil membuatnya tenang dan kembali ke asrama adalah sesuatu yang sama sekali tidak pernah Frigid pikirkan sebelumnya.
*
*
*
Apa sebegitu luar biasanya menyentuh orang-orang yang tidak pernah berani untuk disentuh atau berada di sekitar mereka? Debaran kali ini bukanlah debaran ketakutan dan kegelisahan yang biasanya Ree rasakan ketika berada di lingkungan campuran. Sejak menerima rasa terima kasih Frigid yang sederhana belum lama tadi Ree terus menatap kedua telapak tangannya.
Malam itu, sama sekali dalam hati Ree, ia tidak menyesalinya.
Karena tingkah teman wanitanya satu ini sedikit berbeda dari biasanya, tiba-tiba senyum sembari menatap kedua telapak tangan tanpa henti cukup membuat rentetan pertanyaan di kepala Servio yang tengah berjalan bersama Ree sepulang dari akademi menuju gedung asrama.
Servio tidak tahu apa yang Ree bicarakan dengan Frigid sampai memakan waktu setengah jam karena ia hanya menatap interaksi keduanya dari kejauhan demi menghormati permintaan Frigid dan memang ia tidak pernah ingin mencampuri urusan diluar dirinya.
“Apa Frigid sempat menganggumu atau bagaimana? Aku rasa kedua telapak tanganmu tidak akan hilang jika kamu mengalihkan pandanganmu sebentar saja dari mereka.” tegur Servio.
Barulah Ree sadar ia terlalu lama melamun dan tidak tahu jika ada Servio sedang berjalan bersamanya.
Tiba-tiba Ree tersenyum.
Senyuman wanita satu ini terasa sangat ringan dan menenangkan di sisi lain, juga terlihat polos ketika sadar jika Ree jarang tersenyum begitu saja pada pria.
“Aku hanya membayangkan jika aku bisa menjadi normal, apa aku berguna untuk menolong orang lain atau melakukan hal-hal baik untuk orang lain?” tanya Ree.
Tidak rumit dan muluk. Sederhana namun tidaklah mudah untuk dilakukan. Keinginan Ree berarti luas, namun hal tersebut jelas merupakan impian sederhana seorang wanita.
Servio menatap dedaunan pepohonan di sekitar jalan terbang tertiup angin sore hari yang cukup kencang hingga lembar-lembaran daun kuning kecoklatan itu menghampiri dua orang yang berjalan dengan tempo pelan menuju asrama. Lalu tiba-tiba Servio mengangkat tangannya ke atas kepala Ree, sedikit mengejutkan Ree namun wanita itu tahu bahwa Servio tidak sedang ingin menyentuhnya melainkan menghalangi lembaran daun-daun itu mengenai Ree dengan melindunginya dengan tas jinjing milik Servio.
Meski tangannya terangkat, namun sorot mata Servio menurun dan menabrakkannya pada wanita di bawah lengannya saat ini sembari tersenyum tipis.
“Tenang saja, meski semua orang mencurigai perbuatanku, aku akan tetap membantumu.”
Meski ucapan Servio selembut itu dan sampai di telinga Ree, saat ini juga kepala Ree dipenuhi dengan pertanyaan, dengan apakah Ree membalas semua kebaikan Servio padanya?
To Be Continued.
__ADS_1