
“Permisi, Tuan. Ada surat yang datang dari Agnus.”
Kepala keluarga Cali itu, langsung mengentikan pekerjaan saat seorang pelayan kepercayaannya masuk dan membawa selembar amplop yang jauh-jauh datang dari Agnus.
“Hmm, situasi akan semakin serius ke depannya. Aku ingin kamu memanggil Smith besok untuk pulang.”
*
*
*
Seperti yang sudah dikabarkan padanya, esoknya Smith datang mengunjungi kediaman utama Cali di kota Crystallo itu. Rasanya sudah lama ia tidak menginjakkan kakinya ke dalam mansion megah yang menjadi rumahnya sejak ia lahir.
“Tuan Smith, ayah anda sudah menunggu di ruangan.” ucap sang perwakilan dari pelayan yang melayani ayahnya.
Tak sulit bagi Smith untuk menuju ke ruangan ayahnya karena ia sudah tahu seluk beluk kediamannya meski sudah lama tidak lagi tingga di kediaman utama. Meskipun Smith sendiri merupakan penerus dari kepala keluarga Cali tersebut.
Smith memutar knop pintu dari tembaga itu lalu membukanya, terlihat seorang pria paruh baya atau sudah dikatakan seperti seorang kakek-kakek karena kepalanya lebih banyak uban dari pada helai rambut hitam.
“Nampaknya kamu bertindak yang mencurigakan akhir-akhir ini.” ucap Leonard menyambut kedatangan Smith putra pertamanya.
Smith menutup pintu perlahan dengan sembari tersenyum kecil lalu dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya seketikan memutar tubuhnya menghadap ayahnya.
“Apa yang ayah bicarakan? Aku hanya melakukan pekerjaanku.”
Smith sendiri tidak merasa melakukan sesuatu yang berarti, sampai saat ini hanya melihat pergerakan orang-orang dan bukan dirinya sendiri yang bertindak.
“Yang Mulia Agnesia menaruh kecurigaan padamu, meski aku tahu semua tindakanmu. Namun, bukan berarti semuanya sempurna tanpa ada cela sedikitpun.” Leonard menatap lurus putranya dengan memelankan suaranya.
“Apa ini? Apa ayah mencurigai putramu sendiri? Dari sekian yang waras di kediaman ini, apa aku terlihat seperti orang yang akan melakukan hal gila?” tanya Smith.
Semenjak Frigid menjadi calon selir, Smith lah yang diperintahkan untuk mengawasi Frigid, setelah itu baru datang Alexander. Sampai saat ini Smith tidak pernah melepas matanya dari adik satu-satunya itu.
“Haah, meski begitu. Perhatikan sikapmu, karena mata Yang Mulia tidak hanya ada dua, di kerajaan ini Yang Mulia selalu mengawasi keluarga kita hingga Frigid sampai ke tangan mereka.”
Menyikapinya Smith hanya tersenyum, ia tidak tahu harus berekspresi apa lagi selain menampakkan senyum di wajahnya. Ayahnya memang kejam seperti ini, meski merupakan orang tuanya.
Semua ini tak jauh dari arti membuang Frigid dari keluarga Cali karena tidak dibutuhkan. Semua berkat Agnesia, itulah yang menjadi alasan Leonard tetap mempertahankan hidup adiknya.
Sekaligus mengorbankan ibu mereka.
“Apa perjanjian itu sama dengan ayah mendapatkan sebuah wilayah di Agnus?” tanya Smith.
Smith sudah lama tahu, bahwa bukan kehidupan yang Leonard ingin dari Frigid. Ia mengincar sesuatu yang berbeda. Perjanjian yang dibuat itu, terlihat dari luar saja bahwa ayah mereka tidak ingin Frigid mati, namun sebenarnya ia memiliki perjanjian lain.
Bahwa ayahnya menginginkan sebuah wilayah di perbatasan dan bersepakat dengan Agnesia karena wilayah tersebut menyimpan sebuah sumber alam berupa batu permata.
Terdengar klise, namun keserakahan ayahnya hanya Smith yang tahu.
Obrolan ayah-anak itu dengan cepat Smith selesaikan, ia merasa tidak perlu memaksa ayahnya dan mata-mata Agnesia untuk percaya padanya. Ia juga tentu saja tidak akan memberitahukan apa yang sudah ia lakukan pada ayahnya.
Semuanya memang memiliki risiko yang berat, namun Smith tidak takut akan hal itu.
“Aku mendengar Smith berkunjung ke rumah, tapi kenapa kamu tidak mengunjungi aku?”
Smith yang berjalan di lorong rumahnya terkejut akan suara teguran halus dari arah belakang. Saat ia memutar tubuhnya, terlihat seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat anggun dan tenang, berjalan bersama seorang pelayan dan memeluk sebuah foto anak kecil.
“Ibu, aku baru saja akan mengunjungimu.” ucap Smith langsung memeluk erat wanita yang ia cintai itu.
“Bagaimana bisa kamu jarang pulang ke rumah? Seolah-olah kamu sudah menikah dan meninggalkan rumah.”
Omelan sang ibu sukses membut Smith terkekeh dan mengisi lorong itu dengan suaranya seorang.
“Kalaupun aku menikah, aku akan tetap menjadi putra ibu dan tinggal di sini bersama ibu.” Smith menatap ibunya lembut.
Tentu saja Smith tidak akan membiarkan ibunya bertahan sendirian.
“Juga jangan lupakan satu hal penting lagi, musim dingin ini kamu harus datang ke hari peringatan adikmu.”
“Baiklah-baiklah… Jika aku tak datang, apa ibu tidak bisa melaksanakannya?” tanya Smith heran.
Nyonya Cali itu hanya mendengus, salah satu tangannya naik mengelus pipi putra sulungnya itu.
Sementara tangan yang lain memeluk erat bingkai foto persegi seorang anak laki-laki yang tak lain adalah adik dari Smith, yaitu Frigid.
“Meskipun ia sudah tiada, kita tetap harus memperingati setiap tahun agar ia tenang di sana.”
Sudah Smith katakan, di kediaman ini hanya ialah yang waras.
Keputusan ayahnya sudah merusak segala yang ada di rumah. Smith akan kehilangan adiknya ketika ia tidak bisa menyelematkan Frigid sebagai benda transaksi keserakahan ayahnya, sementara ibunya sudah terlanjur jatuh sakit dan semenjak hari itu, ia sudah menganggap putra bungsunya itu meninggal.
__ADS_1
Kepahitan itu hanya bisa Smith telan ketika ia harus tetap hidup. Ia tidak ingin kehilangan segalanya, ia membuat perjanjian bisnis dengan keluarga Lumen untuk mendapatkan obat bagi ibunya, karena ayahnya sendiri tidak peduli, sekaligus ia juga akan menemukan cara untuk menyelamatkan hidup Frigid.
*
*
*
Mungkin hidup orang yang Smith khawatirkan itu nampak sangat baik-baik saja untuk saat ini, dimana pria itu tengah mengerjakan tugas-tugasnya di atas meja administrasi dan letak meja itu tepat di hadapan Ree yang juga berada di satu divisi dengannya.
Bayangkan saja, jika sepanjang harimu, kamu harus menatap dinding es yang bergerak secara monoton tanpa ada sedikitpun mengajakmu berkomunikasi.
Mungkin lebih baik jika tidak ada komunikasi, namun Ree rasa mau apapun yang Frigid lakukan di hadapannya, tidak akan pernah benar.
“Bukankah kamu harus menyerahkan dokumen itu sebelum makan siang?” tanya Frigid ketika ia menyadari wanita di hadapannya hanya bengong menatap dokumen yang harus mereka susun dan arsipkan itu.
“Ka-kamu benar.” ucap Ree menyadari kelalaiannya dan segera dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya sebelum ia dimarahi.
Dalam awal minggu ini pekerjaan Ree dan Frigid disamakan di divisi administrasi, setelahnya baru mereka akan dibagi ke tiap divisi yang berbeda. Syukurnya ditetapkan seperti itu, Ree menjadi sedikit lega.
Setelah keduanya selesai menyelesaikan pekerjaan, kedua manusia itu secara naluriah akan pergi ke kafetaria untuk mengambil makan siang, karena memang sudah waktunya.
“Frigid, boleh aku bertanya padamu tentang pilihanmu ke Litore itu kenapa?”
Iseng. Ree sendiri takut-berani menatap ekspresi Frigid setelah mendengar pertanyaan bodoh Ree.
Tak jauh lagi mereka berdua akan tiba ke kafetaria karena terletak di ujung lorong yang sedang mereka lalui saat ini.
“Kota Litore adalah salah satu kota besar di Pulchra, di sini kamu akan menemukan banyak tempat yang bagus bagi murid akademi untuk magang. Sederhananya seperti itu. bukankah kamu sudah bertanya tentang hal itu di kereta?” Frigid melempar tatapannya tepat ke arah bola mata Ree yang sejak tadi meliriknya.
“Apa bagimu keberadaanku di sini mencurigakan?” tanya Frigid yang masih menatap Ree.
Jawaban Frigid berhasil membuat Ree terdiam dan mengerutkan dahinya karena Frigid jarang berbicara panjang lebar untuk menjelaskan sesuatu kecuali sedang marah. Rasanya sangat aneh mengobrol hal biasa dengan pria itu.
“Bagaiman-.”
“Ree!!!”
Baik Ree dan Frigid sama-sama dikagetkan ketika seruan kencang berasal dari lorong yang mengarah pada laboratorium, dimana di sana terdapat Liliana yang masih mengenakan jas putihnya dan bersama beberapa orang berjalan untuk makan siang.
“Liliana!?”
Ree sampai kewalahan ketika Liliana langsung menyerbunya dengan pelukan erat, seolah mereka baru saja bertemu setelah sekian lama. Padahal baru setengah hari tak bertemu.
Mendengarnya malah membuat Ree terkekeh. Entah mengapa secara alami Frigid dan Liliana tidak akan akur.
“Apa yang kamu pikirkan Liliana? Apa keberadaan Frigid adalah masalah bagimu?” tanya Ree heran.
Entah kebetulan atau memang sudah ada rencana, Ree kembali betapa tidak pentingnya ia berpikir yang macam-macam akan keberadaan Frigid di Litore dan di tempat ia magang. Bukankah semua itu karena murid dibebaskan untuk memilih tempat magang?
Pertanyaan Ree pada Liliana sukses membungkam mulut Liliana, selama ini pun tidak pernah keduanya terlibat masalah yang berarti.
Liliana hanya kurang suka dengan Frigid yang sering bersama dengan Ree dalam beberapa kejadian.
*
*
*
“Jadi ini… apa ini bisa dikatakan sebagai toko??” tunjuk Yohanna pada sebuah toko obat yang terletak di pinggir kota dengan keadaan bangunan tunggal itu hanya beratapkan jerami dan berdinding kayu, belum lagi keadaannya sudah lapuk seolah seperti tempat tinggal dari pada toko.
“Itu merupakan tempat tinggal sekaligus toko obat tradisional tuan putri.” Jelas ksatrianya pada Yohanna.
Yohanna memperhatikan seluruh seluk-beluk penampilan luar. Pantas saja sulit mendapatkan ijin, Yohanna yakin proses pembuatannya tidak sesuai dengan prosedur standar.
“Nyonya Wizzle, tidak bisakah anda pertimbangkan lagi usulan saya?”
Yohanna langsung dikejutkan dengan suara dari arah belakang rumah, dimana ia pikir tidak ada yang tinggal di tempat seperti ini. karena penasaran, Yohanna pun langsung menuju ke belakang rumah meski sedikit kesulitan akan semak-semak. Terdapat seorang wanita tua dan seorang wanita seumuran seperti dirinya tengah berbicara. Meski sang wanita muda tersebut nampaknya menginginkan sesuatu.
“Seperti yang sudah anda tahu, getah pohon itu tidak mudah untuk mendapatkannya. Masyarakat tidak sembarangan menebang pohon di sini. Untuk mendapatkannya dalam jumlah besar merupakan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip masyarakat di sini.”
Wah, nampaknya wanita muda itu sudah banyak makan hati dan diceramahi saat datang kemari. Yohanna cukup penasaran kenapa dan apa yang bahas mereka sehingga ia masih mengintip tontonan menarik seperti ini.
“Bukan seperti itu nyonya Wizzle, saya hanya ingin meminta ijin mengambil penilitia dengan tumbuhan itu karena sebenarnya dapat menyelamatkan banyak orang yang punya penyakit keras.”
Tumbuhan? Telinga Yohanna semakin terbuka lebar ketika wanita muda itu mengatakan niat kedatangannya.
“Tumbuhan itu adalah racun, jangan berani-berani bermain dengannya kalian para orang muda. Obat tradisional juga tidak sembarangan membuatnya.”
Semua orang mungkin tahu bahwa tidak mudah mengolah racun, pikir Yohanna.
__ADS_1
“Dan juga! Anak jaman sekarang nampaknya suka menguping pembicaraan orang lain lalu menyebarkannya dengan menambah hal-hal lain yang tidak sebenarnya sedang dibicarakan!”
Yohanna langsung terkejut karena keberadaannya sudah diketahui oleh wanita tua bernama Wizzle itu. ternyata yang mengobrol bersama Wizzle adalah Brina sepupu Ree, namun baik Brina maupun Yohanna belum mengenal satu sama lain.
“Maafkan saya nyonya, saya hanya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini.” ucap Yohanna canggung menampakkan dirinya.
“Ada apa? Apa kamu sama seperti wanita muda ini ingin mengolah racun juga?” tanya Wizzle sudah langsung menyerang Yohanna tanpa mau tahu tujuan Yohanna apa.
“Ba-bagaimana mungkin anda bisa tahu??” tanya Yohanna canggung karena apa yang dikatakan benar adanya.
“Apa anda Putri Yohanna?” tanya Brina tiba-tiba karena akhir-akhir ini ia menerima surat dari Ree yang mana mengatakan akan datang orang yang mengurus lebih lanjut permasalahan obat alternatif untuk Frigid.
“Eh? Tunggu dulu, kenapa kamu tahu? Aku sudah jelas menyamar menjadi seorang murid!” ucap Yohanna ketika ia sedang berpakaian layaknya sebagai rakyat biasa, bahkan ia juga menggunakan topi yang menutupi setengah wajahnya.
“Hah? Tuan putri?” tanya Wizzle menatap Yohanna dengan jelas dan mengerutkan dahinya karena tak percaya orang kerajaan akan mengunjungi kediamannya.
“Dari pada itu maaf telah membuat kekacauan atas kedatangan saya yang mendadak seperti ini. Namun nyonya, saya datang memang untuk menyelamatkan teman saya dan merupakan salah satu harapan kerajaan.” jelas Yohanna tak ingin mengulur lebih banyak waktu lagi hanya untuk berbasa-basi.
“Mungkin nona muda yang berbicara dengan anda sebelumnya adalah orang yang saya utus, untuk itu saya mohon maaf atas ketidaksopanannya pada anda.” Ucap Yohanna sembari menunduk meminta maaf.
Yohanna tak akan membiarkan penyembuhan Frigid terhambat karena pertikaian kecil seperti ini. nampaknya ia harus meminta maaf pada sepupu Ree nanti karena menjual namanya sembarangan.
“Tu-tuan putri, jangan menunduk seperti ini. Racun yang kalian maksud itu merupakan bahan terbatas di alam, bukan tidak mungkin untuk membuatnya namun membuat obat tradisional setidaknya harus meminta persetujuan dari pasiennya.” jelas Wizzle pada Yohanna.
Hal itu juga yang membuat Brina kesulitan dalam berunding karena ia tidak mungkin menyeret Frigid begitu saja ke tempat ini hanya untuk berobat.
Jangankan menyeret, kenal saja tidak. Brina bahkan tidak tahu bagaimana bentuk Frigid itu sendiri.
“Kalau begitu, besok kami akan datang lagi nyonya Wizzle!!” Brina langsung pamit pergi dengan menyeret Yohanna dari tempat itu karena ada yang ingin didiskusikan.
Tak jauh dari toko obat tradisional milik nyonya Wizzle, Brina mengajak Yohanna untuk pergi ke sebuah restoran.
“Apakah kamu Brina Lumen?” tanya Yohanna yang sebenarnya tidak perlu lagi dipastikan karena sekilas mereka terlihat mirip.
“Itu benar. Aku adalah adik sepupu kakak Ree, yang mana dimintai bantuan darinya untuk mencari kota yang memproduksi getah pohon Antiaris toxicaria itu.” jawab Brina.
“Benar… tidak salah lagi, kamu adalah orangnya. Perkenalkan aku adalah Yohanna, abaikan saja statusku di kerajaan. karena yang lebih penting aku sudah menemukanmu.” ucap Yohanna lega.
“Baiklah, aku sudah mendapat surat dari kakak Ree bahwa kamu akan tiba ke Leafa dalam beberapa minggu. Tak aku sangka akan secepat ini.” timpal Brina tak percaya.
Yohanna hanya tersenyum ketika mengingat perjalannya sebenarnya tidak semulus yang dibayangkan karena ia harus menghabiskan hari-harinya di atas kapal sampai bosan.
“Daripada itu, bagaimana kamu bisa menemukan kota ini?” tanya Yohanna penasaran. Karena dari banyaknya kota di kerajaan Pulchra rasanya tidak akan sebentar kalau mencari sesuatu.
“Itu adalah hal yang wajar bagi kami keluarga Lumen untuk mendapatkan sesuatu dengan cepat. Kami sudah banyak menjalin hubungan perdagangan pada seluruh kota di Pulchra, itu membuat kami mudah mendapat informasi tentang hal seperti ini.”
Meski bukan keluarga yang besar, namun armada perdagangan laut keluarga Lumen yang sangat besar. Tersebar di berbagai kota dan bahkan lintas kerajaan, membuat Brina langsung mendapat kota Leafa ketika diberitahu tentang tumbuhan yang ingin Ree cari.
“Aku jadi merasa bersalah dengan Ree yang ingin menyerahkan semua ini padaku.” ucap Yohanna sedikit sedih karena dari usaha sebesar ini, Ree malah menyerahkannya pada Yohanna yang sejujurnya kurang tahu.
“Hal itu, juga kakak Ree jelaskan di surat bahwa aku diminta untuk tak lagi melanjuti penelusuranku di kota Leafa. Terlebih kakak Ree khawatir karena aku memimpin sebuah armada sendirian.”
Brina meremas jemarinya karena geram, bagaimana mungkin Ree melakukan setengah-setengah seperti ini? Rasanya bukan seperti kakak Ree yang ia kenal.
Pertunangannya dengan Servio pasti membuat tekanan yang sangat besar pada Ree.
“Lalu, apa kamu benar-benar akan pergi?” tanya Yohanna.
Sebenarnya Brina tidak yakin juga, karena ketika ada jiwa bisnisnya bergejolak membuatnya tak bisa meninggalkan kota Leafa dan tumbuhannya begitu saja.
“Atau… bagaimana kalau kita saling bekerja sama?!” tawar Yohanna penuh semangat.
“Kerja sama?” tanya Brina bingung.
Kenapa harus kerja sama? Mereka saja baru mengenal satu sama lain.
“Kenapa begitu? Anda kan pasti mampu melakukannya?” tanya Brina tak percaya akan bertemu dengan seorang tuan putri yang memiliki kepribadian ramah seperti Yohanna.
“Apa kamu tidak merasakannya? Kamu sendiri kesulitan berunding dengan nyonya Wizzle, sementara aku tidak tahu apa-apa dan baru saja datang. Aku akan menggunakan kekuatanku dan kamu dengan kekuatanmu. Kita bisa membuat obat itu tanpa membawa Frigid ke sini.”
Penjelasan Yohanna ada benarnya juga. Mungkin karena tak mengenal Frigid membuat Brina kesulitan dalam mendiskusikannya dengan nyonya Wizzle sementara Yohanna mungkin belum tahu apa-apa terkait tumbuhannya.
“Terlebih wajahmu nampak seperti orang yang tak rela menyerahkan usaha dari kakakmu untuk orang lain, bukan begitu?”
Kalimat terakhir Yohanna memang fakta bahwa Brina tidak rela usaha dari Ree malah diserahkan begitu saja pada orang lain.
Brina pun mengangkat wajahnya, menatap Yohanna mantap dan langsung saling bersalaman dengan erat dan berjanji akan menyelesaikan apa yang harus mereka lakukan di kota Leafa.
“Demi kakak Ree!” ucap Brina.
“Demi Frigid!” balas Yohanna.
__ADS_1
To Be Continued.