We And Problems

We And Problems
Chapter 28 : Henny dari Litore


__ADS_3

Ree berhasil membujuk Frigid untuk kembali meski ujung-ujungnya Ree yang kehabisan tenaga dan ketika kembali ke kamarnya Ree terkapar kelelahan mulai dari fisik hingga batinnya.


Masalah tadi, Frigid ingin Ree tidak membicarakannya pada Alexander. Cukup diam saja itu sudah cukup untuk menghargai privasi Frigid itu sendiri.


Karena bagaimanapun juga, meski tidak keseluruhannya, Ree saat ini juga memegang salah satu bagian dari rahasia hidup seseorang dan begitu sebaliknya, Frigid memegang rahasia hidup Ree yang cukup besar.


*


*


*


Suasana pagi ini cukup cerah dan membuat semangat bagi mereka yang akan menjalani hari-hari yang bisa saja melelahkan. Namun nampaknya tidak berlaku bagi Ree yang sebenarnya sulit untuk tidur nyenyak pada malamnya.


Bahkan Ree membenci sinar matahari hangat yang tidak ada salahnya sama sekali. Ree benci ini, namun tidak ada kata libur hari ini untuk mereka yang sudah berkemah di luar kota. Ree tidak ingin melangkah keluar gerbang asrama.


“Apa kamu punya masalah dengan matahari sampai menatapnya dengan tatapan terkutuk seperti ini?”


Siapa lagi yang akan mengajukan pertanyaan sekaligus menggoda Ree seperti itu meski dengan nada suara yang datar dan terdengar mengantuk jika bukan Servio?


Meski bukan pertama kali, Ree tetap saja akan terkejut ketika ditegur oleh lawan jenis di pagi hari seperti ini. Terlebih pikirannya sedang tidak karuan.


“Selamat pagi Servio, meski tidak nampak, kamu bersemangat sekali hari ini atau mataku yang salah ya?” cukup konyol bagi seorang Ree ketika bertanya pada dirinya sendiri tentang keadaan orang lain.


Tanpa aba-aba, keduanya mulai berjalan bersama keluar gerbang seolah hal tersebut sudah biasa bagi keduanya.


“Apa efek lelah kemarin belum juga reda? Nampaknya kamu perlu banyak waktu untuk memulihkan diri.” ucap Servio. Di mata Servio, nampak kantung mata Ree yang sedikit gelap dari biasanya, belum lagi sorot mata yang nampak tidak bergairah untuk hidup itu.


“Entahlah, aku tidak tahu.”


Rasa lelah akibat kelas Berburu Ree tidak merasakannya lagi, kali ini ia hanya sedikit memikirkan sikap Frigid semalam. Sadar tidak sadar Ree seperti bukan dirinya di hadapan Frigid semalam, meski Frigid mengatakan untuk melupakannya, Ree sendiri tidak tahu bagaimana caranya.


Sementara itu orang yang sedang dipikirkan Ree saat ini tak jauh berjalan di belakang. Bersama dengan Alexander disampingnya, Frigid hanya menatap lurus pada objek yang saling melempar ucapannya masing-masing.


Caranya berinteraksi,


Jarak itu,


Suasana di sekitarnya.


“Sudah sejauh mana mereka?” guman Frigid dan tidak sengaja Alexander mendengarnya namun tidak mengerti apa yang dimaksud.


“Apa kamu membicarakan sesuatu Frigid?” tanya Alexander.


“Ah, tidak.” jawab Frigid singkat.


Meski tidak sempurna, Alexander sedikit mendengar ucapan Frigid. Namun karena jawaban Frigid barusan seperti itu, berarti bukan hal penting untuk di diskusikan.


“Tunggu dulu, apa mereka sedekat itu? Apa Servio itu mengancam Ree atau semacamnya?”


Kini bukan suara Frigid, melainkan Liliana yang kebetulan berada di belakang Frigid dan Alexander.


Liliana berangkat bersama Maglina dan Marco di kedua sisinya dan menatap sangat tajam pada dua orang yang ia tatap dan ia cibir itu. Ucapan Liliana jelas terdengar oleh dua orang dihadapannya.


“Itu tidak terlihat seperti Ree sedang merasa terancam. Memangnya ada masalah apa diantara keduanya?” tanya Marco.


Jelas saja Marco dan Maglina tidak tahu apa yang pernah terjadi pada Servio dan Ree. Ini merupakan kecerobohan Liliana yang asal mengomentari.


“Tidak, hanya saja mereka berdua tidak pernah terlihat bersama. Aku hanya khawatir pada Ree.” ucap Liliana.


*


*


*


“Wuah! Ini yang namanya Crystallo!? Padahal dikelilingi pegunungan dan hutan, kenapa nampak maju sekali?! Profesor Roche! Crystallo sama ramainya dengan Litore!”


Wanita paruh baya yang dipanggil ‘Profesor Roche’ hanya bisa mengiyakan ucapan penuh semangat dari Henny yang berkesempatan bisa menjadi asisten Roche pada kunjungan kepala akademi ke La Priens yang terletak di ibu kota kerajaan Pulchra.


Saat ini ia dan Henny berada di sebuah kereta kuda yang mengantar mereka dari stasiun kereta hingga wilayah akademi La Priens untuk kepentingan kunjungan.


“Itu karena Crystallo merupakan ibu kota kerajaan juga kota administratif, sementara Litore merupakan pusat perdagangan maritim, membuat dua kota tersebut sama ramai dan sibuknya. Henny, jika kamu tidak bisa menjaga sikap di akademi, dilain kunjungan aku tidak akan mengajakmu.” timpal Roche.


Henny secepatnya memperbaiki sikap duduknya dengan rapi dan mengangguk patuh.


“Juga, saya tidak sabar ingin bertemu dengan Ree.” ucap Henny penuh rindu ketika mengingat sahabat karibnya yang sudah lama tidak ia jumpai.


Tidak lama kereta yang mereka tumpangi berhenti di tengah depan teras gedung administrasi La Priens yang tidak perlu dipertanyakan lagi tentang kemegahannya seperti apa. Bahkan Henny sudah menatap gedung itu dengan mata yang berbinar-binar dan ingin sekali menyelusurinya.


“Henny, kita akan pergi ke kantor kepala akademi untuk memberitahukan kehadiran kita. Selama itu, kamu harus tetap bersamaku.” ucapan Roche berhasil menahan semangat Henny untuk tidak terlalu bersemangat.


“Tapi profesor, selama hampir 4 bulan ini apa Ree baik-baik saja? Anda sudah mengunjungi La Priens sekali beberapa waktu lalu.” tanya Henny ketika mereka sudah berjalan menyusuri koridor gedung administrasi bersama Roche.


“Itu sudah pertanyaanmu yang kesekian kalinya nona muda Drownie, seharusnya kamu sendiri yang paling memahami Ree.” timpal Roche ketika mereka telah tiba di depan pintu ruangan Jeremy.


Roche pun mengetuk pintu dan tidak lama dipersilahkan masuk oleh pemilik ruangan. Ternyata Jeremy tidaklah sendirian melainkan bersama dengan Frigid yang sedang membahas sesuatu.


“Kita bisa lanjutkan pembicaraan nanti Frigid. Silahkan pergi.” ucap Jeremy.


“Baik profesor Jeremy.” Timpal Frigid sembari menyusun beberapa dokumen yang ia bawa dan sebelum ia keluar, ia memberi salam pada dua tamu Jeremy.


Jangan tanyakan reaksi Henny, karena wanita itu terpesona dengan penampilan pria seperti Frigid.

__ADS_1


“Selamat datang Profesor Roche! Bagaimana perjalananmu dari Litore?”


Sebelum menutup pintu, Frigid sempat mendengar sambutan Jeremy pada Roche dan Helena membuatnya tertegun sebentar.


“Aku seperti pernah mendengarnya.” guman Frigid.


“Tentang apa?”


Kali ini Frigid sedikit terkejut karena suara Alexander tiba-tiba muncul dari belakang dan menampakkan pria seperti bunga matahari itu.


“Kamu kenapa ada di sini?” tanya Frigid heran.


Alexander minggir sendikit dan menampakkan dua orang tamu Jeremy lagi. Seorang wanita paruh baya dan seorang wanita muda.


“Mereka dari akademi Liliana, aku hanya menjalankan tugasku untuk menunjukkan arah sebagai salah satu penghuni akademi.” jelas Alexander.


Frigid dapat memahaminya, tak lama lagi akan ada rapat evaluasi untuk program yang sedang dijalankan oleh La Priens dan Menteri Pendidikan, maka seluruh kepala akademi yang mengirim muridnya ke La Priens akan berkunjung kurang lebih lima hari untuk memantau.


“Lanjutkan pekerjaanmu Alexander, saya permisi dulu.” Frigid bahkan sempat menyapa para tamu Jeremy dan pergi dari hadapan mereka dengan tenang.


Nampaknya akademi akan sedikit ramai untuk beberapa hari ke depan, begitulah pikir Frigid ketika melihat banyaknya kereta kuda yang datang membawa para tamu dan barang-barang mereka.


*


*


*


Hampir setengah hari ini, meski sempat beberapa kali bertemu di kelas yang sama Frigid tidak terlihat aneh di mata Ree. Bahkan pria itu sudah kembali ke sifatnya yang seperti biasa dan memang Ree juga tidak menyapa akrab Frigid.


Hanya saja, yang mereka lakukan semalam seperti bukan yang biasanya dan Frigid dengan cepat melupakan hal tersebut.


Ree ingin menangis, padahal ia memberikan pelukan berharganya untuk seorang pria begitu saja dan hampir ia ingin pingsan di tempat. Lalu keesokan harinya pria yang ia peluk itu seperti orang tidak berdosa dan tidak ada ucapan terima kasih sama sekali.


Bukan berarti Ree sangat berharap dengan ‘terima kasih’ itu sendiri.


Sekujur tubuh Ree langsung merinding ketika sebuah telunjuk menyentuh pipinya dan pemiliknya jari telunjuk panjang itu adalah milik Servio yang sedang berbaring di samping Ree duduk sembari membaca buku.


“A-apa!? Kamu membuatku kaget!” Ree otomatis sedikit bergeser karena tidak ingin disentuh oleh Servio lagi.


“Jika kamu tidak makan rotimu, isinya akan tumpah dan mengotori alas kesayanganku.” ucap Servio menunjuk isian roti yang Ree tidak makan sejak tadi karena wanita itu sibuk melamun.


“Tidak, aku hanya menikmati angin.” jelas saja itu terlihat tidak masuk akal di mata Servio.


Ree rasanya sudah ‘sedikit’ terbiasa berada di sekitar Servio, karena sudah sering jika tidak bertabrakan kelas Servio akan mengajaknya piknik bersama di belakang gedung B dan dekat dengan kandang peliharaan milik Ree.


“Jika kamu lelah, aku bisa meminjamkan lenganku untuk dijadikan bantal kepalamu.” ucap Servio merentangkan lengan kirinya di belakang bokong Ree.


Servio nyatanya masih menatap Ree, ia penasaran apa yang mengganggu pikiran wanita itu karena hari ini Ree tidak nampak menikmati roti isi daging yang ia sukai itu. Servio pun mengangkat tubuhnya, menampakkan rambut panjang lurusnya sedikit kusut akibat tertimpa tubuhnya ketika ia berbaring.


“Apa kamu tidak memiliki hal untuk diceritakan? Jujur saja, kamu tidak pandai berbohong.” ucap Servio.


“Apa aku mudah dibaca?” timpal Ree heran.


Namun ia berhasil menghabiskan roti isinya.


Servio masih menunggu Ree melanjutkan ucapannya.


“Tidak ada yang perlu aku ceritakan padamu, hanya saja aku heran jika ada orang yang membenci dirinya sendiri ketimbang membenci orang lain, padahal itu tidak mudah.” ucap Ree kembali mengingat Frigid dan masalahnya.


“Pikirmu mungkin mudah untuk membenci orang lain, tapi itu juga akan melukai orang lain.” sambut Servio cepat.


Ree tidak dapat menyalahkan ucapan Servio karena ada benarnya juga. Hanya saja, jika hidup dan menyakiti diri sendiri, Ree jadi bingung.


Selama ini, lebih banyak orang yang saling menyakiti satu sama lain.


Bisa saja ada pemicunya.


Ree yakin akan hal satu itu.


“Lalu jika diri sendiri itu bagaimana?” tanya Ree bingung.


Servio diam sebentar, memilah kata-kata yang baik untuk ia keluarkan.


“Setidaknya ia berusaha untuk tidak menyakiti orang lain, maka ia memilih itu atau ada hal lain yang membuatnya tidak ingin hidup seperti ia merasa dirinya bukan dirinya sendiri.” jelas Servio.


“Wah aku tidak tahu akan serumit ini perkataanmu.” timpal Ree.


“Tentu saja, itu agar membuat kepalamu bisa sedikit berpikir.”


“Aku anggap itu pujian.”


*


*


*


Selesai dengan acara pikniknya bersama Ree, akhirnya Servio berpisah dengan wanita itu karena akan melanjutkan kelasnya. Sementara Servio yang tidak memiliki kelas setelahnya hanya berencana berdiam di sekitaran gedung B seperti biasanya.


Sembari membawa keranjang berisi buku dan alas duduk yang ia gunakan bersama Ree belum lama ini, Servio malah menemui seseorang yang sangat asing mulai dari wajah hingga pakaian yang dikenakan.


Benar-benar bukan pakaian milik La Priens terlebih ia adalah perempuan.

__ADS_1


Seragam dengan kemeja berwarna biru muda dipadukan dengan rok span pendek berwarna biru tua, belum lagi baret berwarna sepadan dengan roknya. Servio belum pernah melihat seragam akademi jenis satu itu. Sebenarnya yang lebih penting dari seragam adalah pemiliknya yang nampak bingung. Jelas saja jika orang itu sedang tersesat.


“Sedang apa kamu disini?” tanya Servio mengejutnya punggung pemilik surai pendek hitam di pertengahan lehernya.


terlalu pendek untuk akademi biasa, pikir Servio ketika melihat surai wanita didepannya.


Ternyata ia adalah Henny yang memang benar tersesat.


“Maaf, saya sepertinya tersesat dan ketinggalan rombongan.” ucap Henny menjelaskan bagaimana ia bisa ada di lorong gedung B.


Awalnya Henny bersama dengan rombongan tamu untuk pergi ke penginapan yang disediakan oleh akademi La Priens, namun di tengah perjalanan menuju ke sana ia malah ingin pergi ke kamar kecil dan tidak dapat menahannya lagi. Padahal Henny sudah meminta Roche untuk menunggunya, namun ia malah tersesat seperti ini sampai bertemu dengan Servio.


“Kamu tinggal lurus saja lalu belok kanan dari jalur ini.” ucap Servio menjelaskan jalan mana yang harus dilalui Henny.


Henny mengikuti arahan tangan Servio lalu kembali menatap pria itu resah.


“Saya berterima kasih dengan kesediaanmu untuk menjelaskan jalannya, tapi kamu adalah orang ketiga dengan penjelasan seperti itu kepada saya.” ucap Henny jujur.


Henny menyalahkan luasnya gedung B dan La Priens, jika tidak seluas itu tidak mungkin ia bisa tersesat seperti ini.


Di sini Servio juga bingung jika Henny sudah mengatakan seperti itu, ia tidak mengenal wanita dihadapannya, namun nampak seperti seorang yang penting karena dari pakaiannya yang berbeda dari murid di La Priens, untuk mencurigai sebagai penyusup rasanya pun mustahil karena sampai lupa arah seperti ini.


Ya, lagi pula Servio tidak ada kelas setelah ini. Tidak ada salahnya menggunakan tenaganya sedikit untuk membantu orang asing.


“Saya akan mengantarmu ke tujuan, tinggal katakan saja kemana kamu akan pergi.” ucap Servio.


“Benarkah?! Saya sangat berterima kasih!” ucap Henny bersemangat karena akhirnya ada yang bersedia mengantarnya.


Servio juga tidak mempermasalahkannya karena ia hanya ingin berpatroli di sekitaran gedung B awalnya. Namun mengantar orang yang tersesat juga bagian dari tugasnya.


“Jika dilihat dari seragam yang kamu kenakan, kamu adalah murid disini ya?” karena tidak ingin terlalu sunyi dalam perjalanan, Henny berinisiatif membuka obrolan basa-basi dengan Servio.


Namun sama sekali tidak ada balasan dari pria yang berjalan disamping Henny itu.


‘benar-benar dingin’ pikir Henny.


“La Priens enak ya, muridnya bisa memanjangkan rambut. Jika di akademi kami hanya bisa sampai sebahu, itupun akan segera dipotong jika datang ujian.” Satu hal yang membuat Henny kembali membuka mulut walau sudah diabaikan adalah rasa kagumnya pada helai-helai rambut hitam lurus milik Servio yang terlihat sangat indah di mata Henny.


“Tidak perlu ada peraturan yang terlalu mengikat, asal tetap ada peraturan dasar sudah cukup untuk sebuah akademi.” ucap Servio singkat.


Henny sedikit terkejut karena Servio mau menanggapi perkataannya soal rambut.


“Berarti mereka yang pindah ke La Priens akan mengikuti aturan di sini?” tanya Henny yang sebenarnya mengarah pada Ree.


Henny tidak tahu apa yang akan Ree lakukan jika berada di La Priens yang Henny pikir cukup bebas seperti ini.


“Entah kenapa aku tiba-tiba merasa tidak enak.” ucap Henny sembari memeluk dirinya sendiri.


Servio tidak mengerti dengan ucapan Henny barusan karena wanita itu seperti membayangkan sesuatu yang tidak penting untuk diketahui.


“Di akademi kami, setiap pagi akan melakukan latihan pagi yang sangat berat, rasanya ingin muntah setiap hari karena melakukannya, belum lagi praktik menyelam dan menahan napas selama beberapa menit di bawah air.” jelas Henny mengingat hari-harinya di Akademi Wanita Litore, tempat ia dan Ree menempuh pendidikan.


Servio disini menjadi bingung karena tiba-tiba saja ada sesi curhat yang mendadak dari orang yang ia tidak kenal sama sekali. Servio pikir wanita di sampingnya ini adalah orang yang pendiam, ternyata cukup berisik juga.


“Bagaimana dengan kalian?! Aku dengar La Priens menawarkan banyak kelas sehingga bisa dipilih! Karena kami hanya ada satu fokus bidang pendidikan aku jadi penasaran dengan akademi yang menawarkan banyak bidang.” kali ini bukan hanya berbicara cukup banyak dan ceria, Henny bahkan sedikit mendekati Servio untuk menanti pria itu membalas ucapannya.


Haruskah Servio jelaskan sistem rumit akademinya dalam menyediakan fasilitas pendidikan, ia sendiri bahkan malas untuk mengikuti setiap kelas, jika diminta untuk menjelaskan, energi Servio bisa habis begitu saja.


“Haah, itu melelahkan.” ucap Servio mengeluarkan isi pikirannya dan terdengar oleh Henny.


Padahal jika bersama Ree yang tidak banyak bicara itu Servio bisa nyaman seperti biasa. Ia tidak biasa dengan wanita yang banyak berbicara seperti orang yang ada di sampingnya saat ini. Entah kenapa langkah kakinya terasa begitu lambat, apa ini tempo yang dibawakan oleh wanita aneh ini?


“Eh, benarkah? Bisa jadi juga jika memikirkan banyak kelas yang harus diambil.” Sambut Henny yang jelas tidak peka dengan suasana hati Servio saat ini.


Lagipula untuk apa peka? Mereka saja baru bertemu hari ini.


“Ah! Itu dia! Profesor Roche!”


Barulah Servio bisa merasa lega ketika wanita yang ia antar sudah bisa menemukan jalannya kembali. Setidaknya Servio tidak mengantarnya sampai ke luar gedung B, ia dan Henny malah bertemu dengan profesor Roche yang sedang mengobrol dengan Millesimun dan Kyle.


“Hey, siapa namamu? Aku ingin berterima kasih dan siapa tahu kita bertemu di suatu tempat atau waktu.” ucap Henny ketika ia ingin pergi.


“Servio Dominic Florence.” Ya, di dalam hati Servio tidak bisa memungkinkan ucapan Henny karena hari ini hanya kebetulan.


Henny tersenyum pada pria yang bersedia mengantarnya. Meski dengan wajah yang malas dan nampak mengantuk, ternyata pria itu bersedia berjalan bersamanya dan mengobrol sedikit dengannya.


“Terima kasih Servio, namaku Henny Hillea Drownie dari Litore. Sampai jumpa!”


Henny pun pergi menghampiri Roche dan tentu saja diomeli oleh wanita paruh baya itu karena kecerobohannya yang bisa tersesat.


Merasa tugasnya selesai, Servio memutuskan untuk kembali ke tempatnya semula dan masih dengan keranjang piknik yang ia bawa.


Asal wanita yang bernama Henny itu, tentu saja Servio jelas tahu wilayah kota Litore, kota pesisir yang paling sibuk di seluruh Pulchra.


“Henny!”


Benar juga, Servio baru tahu jika salah satu yang ada di sekitarnya juga berasal dari Litore yaitu Ree.


Punggung Servio langsung berputar ketika mendengar seruan suara yang tidak asing mendengar nama orang lain terpanggil. Belum jauh ia melangkah, bisa terlihat jelas Ree menghampiri wanita yang ia antar itu.


 


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2