
Akademi La Priens awalnya merupakan akademi khusus putra. Tempat dimana calon penerus kepala keluarga kerajaan, bangsawan bahkan pedagang belajar. Di akademi ini semua hal akan dipelajari, baik ilmu pemerintahan, ekonomi bahkan sampai bela diri dan militer. Karena kebijakan raja yang baru, maka akademi La Priens dirubah menjadi tempat percontohan.
Semuanya dengan tujuan untuk menghapus kesenjangan sosial dalam masyarakat.
“Maaf, kamu pasti marah padaku.” sesal Marco ketika ia sudah mengangkat paksa tubuh Ree untuk dibawa ke ruang kesehatan.
Kini Ree masih menghadapkan punggungnya pada Marco dan memilih menatap jendela yang membuat sinar matahari sore menembus sampai ke ruangan dan mengenai dirinya.
“Tidak, aku tidak marah. Kamu tidak ada salah.” ucap Ree sembari mengeringkan tangannya yang sudah sangat basah karena keringat, bahkan tubuhnya juga. Ree tidak sedang marah dengan Marco, hanya saja ia menghindar untuk tidak menatap laki-laki itu.
Meski ia tahu apa yang dilakukannya sangat tidak sopan.
“Terima kasih, kamu telah mengantarku ke sini. Kamu boleh pergi.” ucap Ree.
Marco nampak sedikit tersentak, kali ini Ree bukan hanya tidak ingin menatapnya. Marco menganggap Ree tidak ingin berada di tempat yang sama dengannya.
“Baiklah.” jawab Marco setelah sekian lama berdiam dengan suara beratnya.
Merasa ada yang tidak beres Ree langsung berbalik dan menatap Marco yang sudah berkaca-kaca matanya.
“Marco.”
Baik Ree dan Marco kompak terkejut ketika orang ketiga datang dan menampakkan batang hidungnya. Marco dengan cepat mengelap sudut matanya dan Ree memperbaiki posisi duduknya di atas kasur ruang kesehatan itu untuk menatap siapa yang datang.
“Kamu meninggalkan bukumu di lorong.” ucap Frigid sembari menampakkan tiga buku tebal di tangannya dan langsung menyerahkannya pada si pemilik.
“Aku melihatmu tiba-tiba membawa Ree dan meninggalkan bukumu di lorong. Lalu, bagaimana keadaanmu Ree?” tanya Frigid menoleh pada gadis yang ada di ruangan itu.
“Aku baik-baik saja. Berkat Marco aku bisa ada disini.”
Iya. Jika bukan karena Marco, ia pasti sudah di kamar asrama dan beristirahat disana tanpa seorangpun mengiterupsi. Namun ia tahu niat Marco adalah untuk menolongnya karena tidak tahu kondisi Ree yang sebenarnya.
“Terima kasih Frigid. Aku pergi dulu.” ucap Marco dengan suara pelannya lalu pergi tanpa mengatakan sepatah kata pada Ree dan tidak melirik gadis yang sudah ia tolong itu sedikitpun.
Bahkan setelah tiga menit kepergian Marco dari ruang kesehatan, kini Ree dibuat bertanya-tanya pada orang di depannya ini.
Sejak tadi Frigid hanya berdiri sembari menatap Ree tanpa mengatakan sepatah kata untuk memecah sunyi atau sekedar basa-basi.
“Ada apa?” tanya Ree risih.
“Kulihat kamu tidak memiliki hal aneh untuk disebut sakit.” jawab Frigid sembari maju mendekati ranjang Ree.
“Berhenti disitu. Jangan mendekat.” ucap Ree langsung membuat Frigid berhenti melangkah ketika jarak ia dan ranjang sudah tinggal satu meter.
“Kenapa?” tanya Frigid sembari memiringkan kepalanya ke kanan sedikit.
Jelas saja jika tidak nampak ini bukan penyakit fisik, pikir Ree sembari menatap Frigid risih.
__ADS_1
“Bisa saja kamu tertular penyakitku.” Ree jelas berbohong. Ia tidak mau mengatakan sesuatu yang frontal seperti apa yang telah ia katakan pada Marco tadi.
Ree harus minta maaf ketika kondisinya sudah stabil dan terkendali.
“Karena itu, biar aku memastikannya. Jika penyakitmu menular, kamu bisa saja langsung dipulangkan ke akademi lamamu. Karena itu berbahaya untuk orang lain di sini.”
Tanpa ragu Frigid kembali melangkah maju dan langsung ingin meraih dahi Ree namun dengan cepat telapak tangan pria itu ditampar Ree untuk menjauh dari wajahnya.
Ree sangat berterima kasih dalam arti sebaliknya pada Frigid yang telah membuat kondisinya menjadi kembali buruk. Padahal ia masih belum bisa menenangkan detak jantungnya dan baru bisa bernapas dengan normal. Namun berkat Frigid yang polos-polos menyebalkan itu membuat napas Ree menjadi berat secara perlahan seperti orang yang baru saja berlari.
Dengan tangannya yang berangsur-angsur kembali bergetar, Ree berniat pergi dari ranjang namun langsung dihentikan oleh Frigid dengan menahan lengan gadis itu untuk tidak langsung terjun atau akan terjatuh dan menciptakan cedera yang baru.
“Lepaskan aku!” Ree sempat meronta karena lengannya harus digenggam oleh orang asing dan membuat tubuhnya semakin mewaspadai tentang apa yang akan dilakukan.
“Lepaskan! Lepaskan! Lepaskan! Lepaskan! Arrg-.”
Baik mulut dan tubuh Ree langsung terkunci dalam sekejap ketika Frigid tiba-tiba menariknya cukup keras ke dalam pelukan pria itu. Meski begitu tetap saja napas Ree serta detak jantungnya tidak diam begitu saja. Ia masih sedikit meronta meski mulutnya dibungkam oleh dada Frigid.
Rasanya? Ree ingin mati. Ia tidak ingin berada di situasi tidak menyenangkan seperti ini. Pikirannya penuh dengan bentuk-bentuk yang tidak jelas dan abstrak lalu membuatnya sangat gelisah dan harus lepas saat ini juga.
Ia seolah semakin ditenggelamkan ke dalam palung memori lama yang tidak ingin ia ingat lagi dan membuatnya berpikir ia akan dihabisi saat ini juga. Membuat dirinya semakin benci dan benci terhadap sosok yang memeluknya.
“Tenanglah.”
Suara lembut dan halus itu langsung masuk ke dalam telinganya serentak dengan telapak tangan besar yang kini mengelus rambutnya secara perlahan dan berulang-ulang.
Ree tidak tahu apa artinya tenang saat ini. Rasanya sama saja ketika ia membuka maupun menutup matanya, semuanya terlihat mengerikan dan membuatnya sangat takut.
“Apa kamu bisa mendengarku saat ini?” suara Frigid memang sangat tenang dari pertama Ree bertemu dengan pria itu. Tidak terlalu berat seperti kebanyakan suara laki-laki namun tidak juga cempreng.
Frigid bisa merasakan gerakan Ree tenang ketika tubuh gadis yang ia peluk saat ini tidak meronta dan sedikit bergetar.
Marco berjalan pelan dengan buku yang dikembalikan Frigid beberapa waktu lalu. Ia menapaki jalan bebatuan datar menuju gedung asrama putra karena hari sudah semakin sore. Kembali ia menatap gedung akademi yang sudah berjarak ratusan meter itu dari tempatnya berdiri dengan resah.
Apa Ree sudah kembali? Apa gadis itu baik-baik saja? Lalu di detik selanjutnya Marco teringat, bahwa Ree tidak sendiri melainkan terakhir kali ada Frigid di ruang yang sama dengan gadis itu.
“Apa kamu mengkhawatirkan seseorang? Tidak biasanya dari seseorang yang acuh tak acuh sepertimu.”
Langkah Marco terhenti ketika melihat di depannya terdapat Viovarand yang sedang bersandar di batang pohon tak jauh dari gerbang asrama putra. Entah apa yang ia sedang lakukan, namun tidak mengenakkan ketika harus berhadapan saat ini bagi Marco.
“Maaf, aku tidak seperti itu.” jawab Marco.
“Sudahlah, jangan bertele-tele. Kamu tidak perlu melakukan apapun untuk membuang tenaga dan waktu karena aku tidak tertarik dengan posisi di keluarga.” timpal Viovarand sembari memperbaiki posisi berdirinya menjadi menghadap Marco dan menatap tajam adik tirinya itu.
“Bukannya di sini kamu yang demikian? Jelas sekali bahwa ayah mengandalkanmu untuk menjadi penerusnya.”
Marco merasa cukup geram, ia tidak pernah berpikir demikian atau tentang hal ‘posisi’ dalam keluarga. Sejak kecil, meskipun Viovarand merupakan anak dari istri kedua ayahnya, ia tidak pernah memperlakukan Viovarand sebagai orang asing. Bahkan ibunya sendiri yang merupakan istri pertama dari keluarga Heittblood juga memberi kasih sayang yang setara.
__ADS_1
“Kamu yang duluan hadir di rumah, sudah selayaknya kamu meneruskan apa yang menjadi harapan ayah. Aku hanya bisa mendukung dan ingin melakukan sesuatu dengan kemampuanku.” lanjut Marco.
Ia hadir ketika Viovarand sudah lebih dulu datang ke rumah.
“Aku tahu, karena ibumu dan ibuku berbeda membuatmu merasa tidak nyaman. Namun bagaimanapun juga kamu merupakan bagian dari keluarga.”
“Cih! Persetan dengan keluarga.” rutuk Viovarand lalu pergi meninggalkan Marco sendirian di jalanan itu.
“Apa masih terasa sesak?” tanya Frigid dengan kedua pipinya yang sudah merah padam dengan bekas cap lima jari di sana dan terlihat perih. Ia menatap punggung seorang gadis yang sedang memasang sepatu di pinggir ranjang.
Benar, setelah dipeluk seperti tadi. Membuat Ree langsung menampar kedua pipi Frigid secara bersamaan dan cukup keras. Laki-laki itu memang menenangkannya juga sekaligus menakutinya.
“Maaf, aku benar-benar minta maaf.” ucap Ree ketika melihat wajah datar Frigid yang cukup merah itu.
“Aku memang tidak sopan dari awal, terlebih aku tidak tahu kondisimu yang sedikit spesial itu. Aku tidak akan bertanya hari ini karena sudah terlalu sore. Kembalilah ke asrama sebelum makan malam.” ucap Frigid lalu pergi meninggalkan ruang kesehatan.
“Kupikir ia akan bertanya lebih lanjut.” timpal Ree heran.
Dibanding itu, Ree merasa ada yang tidak beres. Entah dirinya atau orang lain.
Tanda kemerahan di pipi Frigid perlahan-lahan sudah menghilang meskipun masih meninggalkan sisa rasa perih dipermukaan kulitnya.
Apakah ia marah? Tidak sepenuhnya demikian, karena ia sadar tindakannya salah di mata orang lain. Namun kondisi Ree dari apa yang ia lihat bukanlah sesuatu yang sepele.
Jelas-jelas gadis itu memiliki masalah terkait kontak fisik dengan lawan jenisnya. Bisa Frigid simpulkan bahwa Ree tidak bisa menyentuh atau disentuh oleh laki-laki. Frigid masih ingat betapa tubuhnya Ree yang ia peluk tadi bergetar dengan hebat dan berusaha untuk lepas darinya.
“Frigid!”
Suara tidak asing memanggil namanya dari arah belakang.
“Aku mencarimu kemana-mana untuk kembali ke asrama bersama. Kamu dari mana saja?” tanya Yohan.
Nampaknya laki-laki bersurai keemasan itu latihan piano berjam-jam lagi.
“Aku hanya patroli untuk melihat apakah masih ada murid belum kembali ke asrama untuk makan malam.” jawab Frigid seadanya lalu ikut berjalan dengan Yohan yang memang sengaja menunggu temannya itu.
Jika Frigid dan Yohan sedang berjalan untuk kembali ke asrama sebelum gelap, berbeda dengan Ree yang saat ini seperti sedang diuji kesabarannya oleh orang-orang disekitarnya.
Belum lama beberapa waktu yang lalu ia tanpa canggung menampar ketua senat akademi mereka, apakah kali ini ia juga akan melakukan hal yang sama dengan pria di hadapannya saat ini?
“Ree, apa kamu bisa pulang sendiri?” tanya Marco yang nampak masih mengatur napas karena sehabis berlari untuk kembali ke gedung akademi.
“Kondisiku tidak sampai seburuk itu, aku ingin pulang saat ini. Kenapa kamu kembali ke akademi? Apa ada sesuatu yang tertinggal?” tanya Ree yang masih menjaga jarak untuk tidak mendekati Marco dulu meski kondisinya sudah membaik dan tenang.
Ia tidak tahu isi kepala Marco. Bisa saja mirip dengan apa yang Frigid pikirkan itu, jika begitu maka ia tak segan melakukan hal yang sama.
“Tidak, a-aku hanya ingin menemuimu sebelum makan malam.”
__ADS_1
To Be Continued