
Selalu, ketika menatap kepergian sebuah kapal galleon meninggalkan pelabuhan kota pesisir yang membawa keluarganya mengarungi lautan hanya bisa Ree tatap dengan menahan diri untuk melarang semua keluarganya pergi meninggalkannya di dermaga. Ree tidak suka berlayar, ia takut dan pusing ketika harus memijakkan kakinya di dek kapal yang selalu terombang-ambing karena gelombang laut. Namun, kedua orang tuanya mengerti dan memutuskan untuk meninggalkan Ree dalam setiap pelayaran mereka.
Oleh karena itu, Ree yang ditinggal kedua orang tua serta saudaranya selalu merasa sendirian dan sepi. Meski ia dititipkan di kediaman salah satu bibinya yang juga menyandang nama keluarga yang sama dengannya.
Ada Brina yang muda setahun darinya dan Luceat yang lebih tua 4 tahun darinya, menjadi teman Ree dalam kesehariannya. Tak jarang Ree selalu ditemani Brina entah itu dalam belajar maupun bermain, sementara Luceat akan mengawasinya dan Brina di tempat yang sama.
Saat ini Ree sangat senang dengan apa yang ia miliki sehingga rasa sepi itu sedikit demi sedikit sirna.
Namun, hari ini untuk pertama kalinya ia mendapat tatapan tajam dari kakak yang ia sayangi. Ree tidak tahu apakah perbuatannya masuk dengan seenaknya ke kamar Luceat membuat pemilik kamar tersebut marah padanya. Tindakannya mungkin tidak sopan dan Ree ketakutan ketika Luceat tidak dengan tatapan lembut seperti biasa serta menegurnya untuk hari ini.
“Apa yang kamu lakukan??” geram Luceat. Niatnya ia ingin pergi menyendiri dan menenangkan perasaan yang tidak masuk akal dalam dirinya. Namun kehadiran Ree yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya membuat Luceat tak habis pikir.
“Ka-kakak, aku hanya ingin memastikan apa kamu sakit atau tidak.” jawab Ree gugup. Cengkraman di pergelangan tangannya makin lama makin kuat. Ia tak berani menatap mata Luceat dan memilih memejamkan matanya. Tubuhnya bergetar karena kaget dan takut akan situasi yang tidak pernah ia alami sebelumnya.
Luceat masih tidak bisa melepaskan Ree, desiran dalam tubuhnya sulit ia kendalikan. Ia juga tak menyukai wajah Ree yang ketakutan seperti ini.
“Maafkan aku, tapi aku baik-baik saja dan hanya sedikit lelah.” Redam sudah rasa geram dalam diri Luceat. Perlahan ia melepas pergelangan tangan Ree hingga pemiliknya baru berani mengangkat wajahnya menatap Luceat.
“Ree…” lirih Luceat nampak gelisah.
“Kakak? Ada apa? Apa kakak membutuhkan sesuatu?” tanya Ree sigap.
Nyatanya Luceat menggeleng dan hanya perlahan meraih wajah Ree. Membuat gadis belia itu kaget karena Luceat sama sekali tidak berniat untuk menjauhkan dirinya sehingga jarak antara wajahnya dan Ree semakin menipis.
“Dibandingkan sesuatu, aku lebih membutuhkanmu.”
Luceat tahu dan sadar sepenuhnya tentang perbuatannya saat ini. Namun, semakin menyangkal, Luceat merasa semakin menderita menahannya. Usianya dan Ree masih muda namun perasaan itu datang dengan cepat padanya.
Mulai dari itu sampai waktu yang tidak Luceat ketahui, gejolak dalam hati ketika memikirkan Ree sama sekali tidak berubah.
*
*
*
Tercengang, terdiam, dan tak mampu bagi Henny untuk memberi komentar. Cerita itu terdengar panjang dan sangat menyakitkan.
“Mulai hari itu, ketika aku mencium bibirnya untuk pertama kali… ia lari dari kamarku dan di hari berikutnya ia tidak lagi menatap wajahku bahkan orang-orang di sekitarnya.”
Ketakutan, kaget, dan tak tahu kemana lagi Ree harus berlindung kala itu. membuatnya sering mengurung di kamar. Bahkan kedua orang tua Ree sampai menyelesaikan pelayarannya dengan cepat karena kondisi Ree.
“Dia pasti takut sekali… karena seorang pria yang ia anggap kakak, melakukan hal yang tak wajar menurutnya.” ucap Henny menatap tajam Luceat yang duduk dihadapannya.
“Kamu bahkan tak nampak untuk menebus kesalahanmu. Ia masuk ke asrama putri dalam usia belia hanya untuk menghindari kalian para pria.”
“Aku tak tahu bahwa akan sampai sejauh itu, aku hanya menciumnya saj-!”
Alasan Luceat langsung dipotong oleh suara gebrakan meja oleh Henny.
“Pikirmu mungkin hal yang kamu telah lakukan adalah hal sepele, apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaannya?”
Mulut Luceat terkatup, pertanyaan Henny cukup tajam menusuk perasaannya. Rasanya geram ketika mengingingkan seseorang yang tak bisa dimiliki meski berada di jarak yang dekat.
“Terlebih lagi, kenapa kamu dengan santainya mengaku dosamu padaku? Apa kamu tidak memikirkan bahwa kamu bisa saja aku habiskan di tempat ini juga?” Henny heran pada Luceat, pria itu datang mengunjunginya dan tiba-tiba menceritakan masa lalunya dan Ree yang terdengar menjijikan di telinga Henny.
Luceat juga kurang mengerti kenapa ia melakukan ini. Bertahun-tahun tidak bertemu dengan Ree meski masih menyimpan rasa di dalam hati. Ketika tak sengaja bertemu dengan Ree yang ikut dengan Servio malam itu di restoran merupakan sesuatu yang mengejutkan. Luceat tidak tahu sedalam apa hubungan Ree dan Servio. Ia pikir Ree hadir dengan Servio karena sudah sembuh dan normal seperti wanita lain.
“Aku tidak ingin di cap sebagai seorang kriminal, meski mungkin pandangan kalian padaku demikian. Aku jujur padamu karena aku tahu kamu adalah teman dekat Ree. Meski aku yang menyebabkannya seperti ini, aku harap dengan ceritaku dimana kamu mengetahui penyebabnya, kamu dapat menemukan sesuatu untuk membantunya kembali normal.”
Sebelum ini, Ree memang belajar dengan Servio dan ketika ia bergabung di La Priens, Ree juga banyak berinteraksi dengan orang lain. semakin memikirkannya, semakin Henny sakit kepala. Ia sedih, marah dan sulit untuk bagaimana ia memperlakukan Luceat yang jelas ada di hadapannya saat ini. ketika mengingat segala kesulitan Ree selama bertahun-tahun, mungkin tamparannya sudah melayang di pipi Luceat. Namun, saat ingat bahwa Ree sedang berjuang saat ini tanpa pernah memberitahukan kenapa ia bisa menjadi seperti itu, membuat Henny tidak ingin memperkeruh situasi.
Ree mungkin ingin melupakannya dari dalam lubuk hatinya, maka dari itu jika Henny memukul Luceat dan menuntut permintaan maaf darinya, bisa saja memori yang seharusnya ingin Ree lupakan kembali menyeruak keluar.
“Ah, iya… kamu berasal dari akademi Litore bukan begitu?” tanya Luceat ketika ia bersiap untuk pergi.
__ADS_1
“Ya, begitulah. Ada apa?” respon Henny dingin.
“Apa ada pengajar yang bernama Margaretha di sana?” tanya Luceat lagi.
“Ibu Margaretha merupakan salah satu staf pengajar yang sudah mengajar selama 4 tahun di Litore. Saat ini beliau baik-baik saja. Dari pada itu, kenapa kamu mengenalnya?” tanya Henny penasaran karena setahunya pengajarnya yang bernama Margaretha itu tidak berasal dari Litore ataupun berasal dari akademi yang sama dengan Luceat karena ia merupakan seorang pengajar.
“Ada kenalanku yang ingin memastikan keadaannya. Aku hanya membantunya untuk bertanya pada anak akademi Litore.” ucap Luceat sembari merapikan syalnya sebelum ia benar-benar pergi dari hadapan Henny.
*
*
*
“Aku tidak membayangkan akan mengistirahatkan tanganku dalam seminggu.” ucap Ree melihat tangan kanannya yang baru saja diganti perbannya oleh dokter akademi di ruang kesehatan. Sehari setelah kembali dari kelas Berburu, dengan cepat Ree langsung memeriksa lukanya lebih lanjut. Ree merasa ia sudah baik-baik saja, yang masih mengkhawatirkan luka miliknya itu adalah orang lain.
“Kamu ini, apa yang kamu pikirkan? Yang dokter katakan adalah benar. Mulut lukamu cukup besar dan dalam, belum lagi sisa-sisa racun yang masuk ke dalam tubuhnya tidak keluar dalam waktu yang sama.” sambut Liliana yang berjalan di sisi kanan Ree.
“Itu benar, kamu harus istirahat Ree. Luka saat mengikuti kelas adalah hal yang wajar.” Maglina ikut menyambut ucapan Ree dari belakang.
“Hahaha… tentu saja aku akan istirahat. Namun aku tidak biasa menggunakan tangan kiriku di segala keseharian.”
“Itu tidak masalah Ree!” Marco maju beberapa langkah dan berhenti tepat di depan ketiga teman perempuannya itu.
“Aku bisa membantumu! Aku bahkan tidak bisa membayangkan betapa sakit yang kamu rasakan dengan luka di tanganmu. Pasti selalu perih meski sudah diobati.”
Ree tidak habis pikir, sifat lembut Marco tidak pernah ada habisnya.
“Kamu ini, kenapa kamu malah seperti ibu Ree?” ucap Liliana heran.
Ree dan Maglina kompak terkekeh, ketika Liliana mengomeli Marco untuk tidak terlihat seperti orang yang lemah. Padahal pada dasarnya Marco memang memiliki hati yang lembut dan peduli dengan teman-temannya.
“Kamu tidak memahami betapa khawatirnya aku ketika mendengarnya. Ree tak jarang lebih peduli dengan orang lain dibanding dirinya sendiri, saat itu aku berpikir apa ia melakukan sesuatu untuk orang lain.”
Liliana dan Maglina mengerti maksud dari ucapan Marco. Ree sendiri hanya terkekeh mendengar perkataan Marco. Masalah tentang dirinya dari padangan Marco, Ree tidak terlalu merasa bahwa dirinya demikian. Selama ia masih bisa membantu dengan kemampuannya ia tidak mempermasalahkannya dan menganggap itu yang bisa ia lakukan agar hidupnya sedikit berguna untuk orang lain.
“Marco, boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Ree.
“Hmm, tentu saja. Apa itu?”
Liliana dan Maglina tampak penasaran, Marco menunggu pertanyaan yang akan keluar dari mulut Ree dengan tenang.
“Apa Servio belum kembali ke asrama?”
Satu hal yang masih mengganjal adalah bagaimana keadaan Servio saat ini setelah hampir seminggu mereka tidak bertemu. Perasaan bersalah tidak semudah itu sirna dan terlupakan. Meski Henny yang maju menggantikannya, namun rasanya tidak setuntas itu, pikir Ree.
“Haa, bagaimana aku mengatakannya. Sampai saat ini Servio belum kembali ke asrama dan kemungkinan besar akan cuti.”
Ree terdiam, Liliana langsung menatap Ree resah. Ia tahu bagaimana Servio memperlakukan Ree saat pertama kali bertemu, namun ia tidak tahu sejauh mana keduanya saling berkomunikasi.
“Begitu ya…”
“Ree, kamu baik-baik saja? Apa kamu ada masalah dengannya?” Liliana tidak peduli tentang siapa Servio. Ia tidak ingin wajah ketakutan Ree akibat ulah Servio terulang kembali. Rasanya tidak nyaman baginya melihat teman baiknya tersakiti seperti itu.
Namun, Ree menggeleng. Ia memasang senyum tipis di wajahnya dan mengatakan tidak ada yang menjadi permasalahan dalam dirinya serta Servio. Mereka hanya satu divisi dalam senat dan Servio merupakan petugas tetap untuk berpatroli di gedung B.
*
*
*
Ree harus berpisah dengan ketiga temannya karena ia ingin pergi ke ruangan senat barang sebentar.
Masalah tentang Servio memang tidak mudah selesai seperti yang Ree khawatirkan. Jika mereka dapat menyelesaikan dengan damai, maka kemungkinan Servio dapat kembali ke asrama dan beraktivitas seperti biasa. Namun jika mereka dapat skenario terburuk dimana pertunangan gagal ataupun tetap dijalankan, bisa saja ada pemberontakan dari Servio ke keluarganya dan membuatnya tertahan di kediaman sehingga tidak dapat pergi ke akademi.
__ADS_1
Ree tidak tahu harus dari mana dan sampai sejauh mana ia berekspetasi. Perasaannya selalu terombang ambing dan sulit untuk menetralkan pikirannya seperti biasanya. Nyatanya, meski ia sudah menyerahkan pada Henny tetap saja Ree tidak bisa setenang itu. Rasanya jika tidak terjun ke dalam lumpur itu dan membuat tubuhnya penuh dengan lumpur, sulit untuk mengetahui kenapa harus sekeruh ini situasinya.
Di tengah perjalanan dengan pikiran kacau, mata Ree menangkap sesuatu yang sebenarnya sudah ia tebak namun masih ragu dengan keyakinan benar atau salah tebakannya. Namun, saat ini matanya meyakinkan bahwa apa yang ia terka memiliki jawaban.
Tentang Frigid dan Syricie. Mungkin Ree sudah tahu bahwa Smith adalah saudara Frigid, namun tidak dengan Syricie. Ketika kedua pria itu menjadi tamu di kelas Berburu, Ree tidak menaruh curiga apa-apa setelah dengan frontalnya ingin satu kelompok dengan dirinya. Aneh, namun kenapa semua orang tidak menganggap hal itu aneh ataupun menaruh curiga.
Saat ini, tidak menjadi pusat perhatian karena bukanlah sesuatu yang aneh di mata orang lain, melainkan Ree seorang.
Frigid dan Syricie, kedua pria itu pergi bersama dan terlihat tidak terlalu dekat satu sama lain.
Namun mereka berdua tidak terlihat ingin berbasa-basi semata.
Hanyalah ruangan dokumen biasa milik senat akademi, dimana di dalamnya berderet lemari yang terisi dengan buku-buku lama yang sedikit berdebu. Padahal Frigid sudah mengajak para anggota senat untuk membersihkannya belum lama ini, mungkin sekitar beberapa minggu yang lalu. Faktor jarang dikunjungi membuat lapisan debu dari hari ke hari menumpuk.
“Jadi apa yang ingin kamu bicarakan denganku?” tujuan Frigid membawa Syricie ke tempat sepi seperti ini tak lain karena Syricie ingin membicarakan sesuatu padanya. Entah itu penting atau tidak, Frigid tidak ingin interaksinya dengan Syricie dilihat oleh orang lain.
“Frigid, kamu dingin sekali. Ya, meskipun aku tidak peduli padamu. Aku datang ke Pulchra tak lain ingin mengatakan pesan padamu dari ratu Agnesia.”
Mungkin sudah biasa, namun tubuh Frigid selalu bergidik ketika mendengar wanita yang memimpin kerajaan besar itu. Setiap detil apa yang telah wanita itu lakukan padanya membuat Frigid tidak ingin mendengar namanya.
“Katakan apa mau Yang Mulia?”
Meski membenci, namun Frigid bisa apa? Tidak ada yang bisa ia lakukan dengan hidupnya. Terbelenggu seperti ini, bahkan membuat Frigid tidak ingin memikirkan apa yang terjadi padanya kelak. Ia tak dapat memberontak karena semua orang tak ada yang dapat membantunya.
Ia terlalu lemah, bahkan orang-orang di sekitarnya hanya melakukan pekerjaan mereka karena nama ayahnya. Ia tidak memiliki kekuatan yang besar untuk mengubah hidupnya.
“Yang Mulia memintamu untuk magang di Agnus tepatnya di pusat kerajaan.”
Syricie dengan tenang menunggu respon dari Frigid, ia tidak ingin menunggu terlalu lama karena ia sudah harus kembali ke Agnus untuk melaporkan apa saja yang ia lakukan di Pulchra, terutama mengawasi salah satu calon selir ratu yaitu Frigid.
“Namun nampaknya aku akan menolak itu.”
Mata Syricie terbelalak, seseorang baru saja menolak permintaan ratu yang mereka segani. Terutama yang menolak itu adalah orang yang akan menjadi salah satu seperti dirinya.
“Apa kamu pikir permintaan ratu adalah candaan? Berani sekali kamu menolak beliau seperti ini.”
Bukan tanpa alasan, namun Frigid tidak bisa merubah sesuatu yang telah ia putuskan dari awal. Permintaan seorang ratu merupakan sesuatu yang penting, bahkan kemungkinan bisa atau tidaknya dikabulkan adalah hal belakang. Namun Frigid dengan frontal menolaknya.
“Aku tidak bisa mengubah semudah itu. Keputusan lembaga tetap utama. Terlebih pemerintahan tak dapat mengusik lembaga pendidikan semudah itu. sampaikan maafku pada Yang Mulia, karena Akademi sudah memutuskan aku akan magang dimana selama tahun terakhirku di La Priens.”
Kementerian Pendidikan Pulchra seperti yang dikatakan Frigid merupakan lembaga yang berhak mengatur pendidikan seluruh masyarakat kerajaan Pulchra. Lembaga itu merupakan salah satu yang tidak boleh ada campur tangan politik di dalamnya. Bahkan raja kerajaan sekalipun tidak bisa sembarangan mengusik sistem dan ketetapan di dalam kementerian. Frigid tahu meskipun Smith adalah orang kementerian ia tidak memiliki kekuatan untuk menyalahgunakan hubungannya dengan orang-orang Agnus.
Syricie juga tahu tentang hal tersebut, karena integritas dan kedisiplinan yang tinggi di Kementerian Pendidikan Pulchra membuat sumber daya manusia di kerajaan Pulchra merupakan salah satu yang terbaik. Contohnya adalah akademi La Priens itu sendiri yang memiliki kualitas tinggi dalam hal pendidikan.
“Ah, nampaknya sudah agak terlambat. Namun setahuku, kalian sendiri yang mengajukan magang. Boleh aku tahu dimana kamu akan magang sebagai laporanku pada Yang Mulia?”
“Tentu saja.”
“Dimana itu?” tanya Syricie.
Seseorang yang memiliki potensi tinggi seperti Frigid, bukan hanya kemampuan berpikirnya, fisiknya juga di atas rata-rata. Tak ada alasan bagi Frigid untuk magang di tempat yang biasa saja.
“Kota pesisir, Litore.” jawab Frigid.
Syricie tahu letak Litore itu dimana, sebuah kota pesisir yang besar dan setara dengan ibu kota kerajaan yaitu Crystallo. Kota dengan jalur perdagangan besar dan pertahanan militer yang ketat membuat kota itu lebih berkembang dibanding dengan kota disekitarnya.
“Kenapa Litore? Apa ada hal menarik di sana?” tanya Syricie.
“Aku tidak mengerti kenapa harus sedetail itu, aku hanya melakukan magang di sana selama beberapa bulan dan untuk alasan khusus aku tidak memilikinya. Terlebih itu bukan urusanmu ketika menanyakan kegiatanku selama masih menjadi murid La Priens.”
Lama Syricie bungkam lalu ia menyeringai.
“Jika kamu bukan salah satu calon selir ratu yang aku sayangi. Aku tidak akan berdiam saja dengan caramu berbicara dengan orang lain.”
__ADS_1
To Be Continued.