We And Problems

We And Problems
Chapter 13 : The Bad Day


__ADS_3

Sinar matahari hari ini sangat cerah dan menghangatkan ketika masih berada di pertengahan musim semi. Karena semilir angin yang sepoi-sepoi, Ree menjadi malas beranjak dari tempatnya yang sedang bersandar di sebuah pohon pinus yang cukup besar. Wilayah gedung belakang sekolah benar-benar sangat sepi karena jarang ada orang-orang yang akan betah berada di dekat dengan pagar gunung tempat banyak hewan buas.


Lalu apa apa yang dilakukan Ree seorang diri di sini? Penampilan Ree bisa dikatakan sangat kacau dengan seragamnya yang basah dan sedikit berbau aneh. Belum lagi tas jinjingnya yang terdapat beberapa buah buku pelajarannya juga basah.


“Apa kamu sangat menyukai sinar matahari hari ini sampai membolos?”


Ree tersentak kaget karena lamunannya yang tidak penting menjadi terganggu oleh suara seseorang yang sudah sangat ia kenali dan sangat mengherankan karena selalu bertemu dengan Ree dalam keadaan apapun.


“Hari ini aku benar-benar yakin kamu memang mengikutiku kemana-mana.” tutur Ree sembari bangkit berdiri hingga menampakkan seragamnya langsung mengalirkan air dari kakinya.


“Bukankah Liliana sudah mengatakan untuk tidak berhubungan dengan orang itu?” tanya Frigid heran.


Seperti yang terlihat, sudah sangat jelas bahwa orang-orang mengetahui alasan Alexander dan Ree melewati makan malam kemarin. Mungkin saja ada orang yang melihat mereka bersama dan saling berbicara satu sama lain lalu menganggap keduanya akrab.


Sudah jelas bahwa penampilan kacau Ree saat ini adalah ulah dari mereka yang iri dan mungkin saja meningkat menjadi kebencian.


“Kenapa kamu bisa di sini? Sepenting itukah kehadiranku pada kelas?” tanya Ree.


“Karena kamu salah satu dari murid program akademi ini, akan lebih baik jika kamu mengikuti semua kelas tanpa adanya bolos.” jawab Frigid.


Ree memang tidak percaya jika Frigid datang karena sesuatu seperti ‘khawatir’ pada keadaan orang lain. Pria itu hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri.


“Baik-baik, aku akan kembali ke kelas. Kamu bisa pergi lebih dulu.”


Ree tidak ingin terlalu banyak terlibat dengan Frigid. Ia akan mencari cara sendiri untuk memperbaiki keadaannya ini. Sangat mengejutkan bagi Ree yang baru saja keluar dari kamar mandi di akademi setelah selesai mengikuti kelas tiba-tiba saja tersiram hingga basah seperti ini. Terlebih ia pun tidak tahu siapa yang melakukannya dan hanya mendengar suara cekikikan serta langkah kaki cukup ramai.


“Apa kamu memiliki seragam cadangan ?” tanya Frigid yang ternyata masih mengikuti langkah kaki Ree.


“Tidak ada, semua murid perempuan hanya diberikan satu seragam saja.” jawab Ree acuh.


“Kalau begitu, aku ada.”


Ree berhenti berjalan lalu menoleh pada laki-laki yang berjalan di belakangnya heran.


“Apa yang kamu barusan katakan?” tanya Ree memastikan.


Tampang Frigid yang sangat datar itu membuat Ree sangat sulit untuk mempercayai ucapan pria yang memiliki kulit sepucat awan putih itu.


“Aku ada seragam cadangan namun untuk laki-laki.”


Ree sudah bisa menebak jika jawaban Frigid benar-benar akan terdengar menyebalkan di telinganya.


“Setidaknya itu tidak sebau seragammu saat ini.”


Belum mulut Ree ingin mengeluarkan protesnya, Frigid seolah tahu dan langsung menyinggung betapa baunya seragam Ree saat ini sekaligus solusi yang bisa ia tawarkan.


“Bagaimana? Aku hanya ingin semua murid di sini dapat merasa nyaman ketika mengikuti kegiatan akademi.”


Ree terdiam, bagaimana apanya. Ia tidak memiliki cadangan seragam dan sulit menemukan baju seragam baru karena jumlahnya terbatas.


*


*


*


Meski di atas memiliki seragam yang serupa dengan orang-orang disekitarnya karena jubah para murid tidak terdapat perbedaan, namun yang menjadi penarik perhatian orang-orang adalah apa yang dikenakan Ree sedikit berbeda dari para murid perempuan kenakan. Namun bukan berkecil hati, Ree dengan santai melangkah menuju kelas yang harus ia ikuti siang ini.


Terpaksa Ree mengiyakan bantuan dari Frigid untuk mengenakan seragam cadangan pria itu. Ree tidak tahu alasan Frigid meminjamkan, namun ia juga tidak bisa terus-menerus menerima tekanan dari Frigid yang terasa tidak nyaman.


“Ree! Ayo ke sini!” panggil Liliana ketika Ree sudah masuk ke dalam kelas.


Baru saja Ree ingin menghampiri Liliana, tiba-tiba saja beberapa murid perempuan berkumpul di depan meja tempat Liliana berada. Ree pikir mereka ingin mengganggu Liliana lagi dan benar-benar sudah sangat keterlaluan jika demikian maka Ree tanpa pikir panjang langsung cepat melangkah mendapati Liliana.


“Liliana, apa kami boleh bergabung bersamamu?”


Langkah Ree terhenti, dugaannya berbanding terbalik dengan apa yang ada di depan matanya. Ree masih ingat betul siapa saja yang pernah mengganggu Liliana sewaktu kelas Kimia dan kini mereka malah dengan ramahnya mengajak Liliana bersama.


“Maaf, namun kursi ini sudah milik Ree.” jawab Liliana santai meski tatapan orang lain ke arah Ree terlihat tidak santai sama sekali.


Perasaan Ree menjadi sangat tidak enak, namun ia tidak tahu akan duduk dimana selain berada di sisi Liliana.


Ini kesempatan Liliana, pikir Ree begitu pada awalnya. Ia ingin Liliana bisa akrab dengan orang-orang sekelasnya agar ia tidak sendirian ketika Maglina maupun Ree tidak bersamanya. Namun Ree juga bisa merasakan bahwa Liliana sudah berbaik hati untuk menyisakan tempat duduk untuknya.


Berada di tengah-tengah kegelisahan, sebuah bayangan yang berasal dari sosok tidak asing muncul di samping Ree.


“Ree, kamu bisa duduk bersamaku.”


Muncullah Alexander dengan wajah ramah dan senyum sumringahnya mengajak Ree duduk bersama namun terdengar seperti meriam perang bagi orang lain.


Tanpa persetujuan dan pengetahuan Ree, di sini Alexander sudah menjadikan Ree sebagai pembebas Liliana dari gangguan orang-orang yang mengagumi Alexander.


“Maaf, aku akan melindungimu.” sesal Alexander.


Siapa yang tidak akan kecewa jika diperlakukan seenaknya seperti ini. Mungkin hanya ada beberapa orang melihat Ree bersama dengan Alexander dan melewati makan malam hingga membuat Ree harus mengenakan seragam laki-laki. Penyebabnya tidak lain adalah orang yang barusan mengatakan akan melindungi Ree.


Semua orang akan marah, namun Ree tidak bisa meneriaki Alexander dengan mudah.


Ini berat, antara bisa dan tidak untuk percaya pada kata-katanya. Meski bermakna dalam, tetap saja rasanya akan berat untuk menjalani hari-hari.


Bukankah mudah jika tinggalkan saja Alexander sendirian?


Posisi Ree saat ini tidak mudah, selain sudah cukup banyak tahu cerita Alexander. ia juga berada di tim yang sama dalam senat.


Bukankah ini seperti mimpi buruk yang menjadi kenyataan? Apa yang seharusnya dihindari malah selalu berada di dekat kita. Bisa dikatakan menghindar itu sama saja dengan melarikan diri dari kenyataan dan selama ini Ree berbuat sedemikian rupa.


“Lebih baik kamu mencari jalan keluar yang netral dan tidak merugikan siapapun.” timpal Ree sembari mulai membuka bukunya.


Keresahan itu bermula ketika Ree sudah dihampiri oleh Alexander dan tiba-tiba saja mengajak untuk duduk bersama dengan frontalnya di depan orang-orang. Liliana mengkhawatirkan Ree, mereka belum lama mengenal dan tiba-tiba saja menjadi akrab seperti ini rasanya sangat tidak mungkin.


Cemburu? Ia cemburu pada Alexander yang merebut Ree dari sampingnya. Selama ini ia selalu sendirian dan tiba-tiba saja teman akrabnya direbut. Liliana tidak merasa senang meski ia dikelilingi oleh beberapa gadis yang menurutnya berisik sedari tadi.


“Liliana, kami minta maaf telah memperlakukanmu dengan tidak baik. Semuanya hanya salah paham. Kamu adalah orang yang tidak bersalah di sini.”


Penjelasan itu seakan tidak memiliki arti bagi Liliana yang sudah merasakan kesusahan dari awal. Ia hanya menegur dan Alexander yang terus mendekat padanya, membuatnya harus kerepotan dan sakit akibat orang lain.


Bukan berarti Liliana menerima begitu saja posisinya saat ini. Meski tidak nampak kesusahan seperti dirinya menghadapi Alexander sendirian, kali ini Liliana ingin tahu kenapa Ree yang ada di sisi pria itu. Apa alasannya hingga mampu mengubah atmosfer di sekitar Liliana?


“Ree, apa kamu ingin pergi ke ruang senat bersama?” tawar Alexander.


Kelas hari ini sudah usai dan Ree sebagai tugas barunya adalah menjadi anggota senat dan bekerja di bawah arahan Alexander sendiri.


“Aku akan menyusul, silahkan duluan.” ujar Ree.


“Ree.”


Ree tahu bayangan dan suara siapa yang menghampirinya saat ini.


“Ada apa Liliana?” tanya Ree tengadah menatap gadis yang berdiri di depannya.


“Aku ingin bicara denganmu.” ucap Liliana terus terang dan dapat Alexander dengar sendiri.


Ree mengangguk setuju.


“Aku juga ada.”


Ree bangkit berdiri perlahan. Ia tidak ingin menyembunyikan hal yang memang berkaitan dengan Liliana.


“Ree.” panggil Alexander.


Nampaknya keresahan pria itu belum usai.


“Jangan ikut campur, ini urusanku dan Ree.” timpal Liliana dingin lalu menyeret sorot mata taja mnya tepat pada Alexander.


“Maaf, tapi aku tidak ingin melihatmu lama-lama.”

__ADS_1


Terdengar dingin dan tajam, tepat menusuk batin orang yang dituju. Ree hanya melirik Alexander yang terdiam, ia tidak tahu apa yang pria itu pikirkan namun raut wajahnya seakan benar-benar tertekan.


Ree harap hal seperti ini tidak berjalan lama karena ia lelah tidak sengaja berada di tengah-tengah ombak yang saling beradu dan malah membentuk pusaran air.


*


*


*


Tidak ingin menarik perhatian, Ree menarik Liliana untuk berbicara di sudut belakang sekolah yang sepi. Karena keadaan di sekitar Liliana sudah membaik, Ree tidak ingin mengacaunya.


“Ree, apa kamu tidak apa-apa?” tanya Liliana cemas.


Ree bisa mengerti, karena Liliana sudah pernah mengalami apa yang akan terjadi jika berhubungan dengan Alexander, bisa saja Ree juga diperlakukan demikian.


“Apa kamu tidak melihat yang ku kenakan saat ini?”


Liliana langsung mundur dan menatap penampilan Ree.


“Kamu mengenakan celana?! Kenapa bisa? Jelaskan!!”


Telinga Ree benar-benar di beri hantaman dengan suara panik Liliana karena melihat Ree bukan mengenakan seragamnya.


“Panjang ceritanya, namun ada yang menolongku.” Jawab Ree.


Ia malas menjelaskan rincian tentang bagaimana ia diperlakukan setelah malam itu oleh orang lain yang bahkan tidak kenal.


“Ini karena Alexander bukan?! Kenapa kamu malah bersamanya malam itu?!”


“Dugaanmu memang benar, tapi kami hanya mengerjakan pekerjaan senat tidak lebih dan kurang.” jelas Ree.


“Ree, kamu tidak menyembunyikan sesuatu dariku bukan? Kamu tahu, aku sudah bicara pada Alexander saat kelas berburu. Seharusnya ia bisa berpikir sendiri untuk menemukan jawaban dari permasalahannya itu.”


Ree terdiam, ucapan Liliana barusan adalah jawaban dari kenapa gadis itu mau mengantar makanan pada Alexander malam itu. Ree tidak ingin tahu sejauh mana keduanya berbicara, namun ada satu hal yang harus Ree berikan komentar.


“Selama ini dia sudah sendirian, apa ia bisa?” tanya Ree.


Liliana mengernyit heran, ia merasa ada yang tidak beres di pandangannya terhadap Ree.


“Ree, kenapa kamu tiba-tiba simpati dengan Alexander?” tanya Liliana.


Setelah mendengar pertanyaan itu, Ree masih bisa mendengar jelas pepohonan yang daun-daunnya di sapu angin dan suara para penghuni akademi.


“Simpati? Aku?”


Liliana mengangguk.


“Apa kamu menyukainya atau menjadi salah satu penggemarnya lalu mencari kesempatan untuk mendekat padanya dengan cara seperti ini?”


Awalnya Ree merasa hampir saja terpojokkan karena cara Liliana bertanya cukup agresif, namun dari hal itu Ree juga merasa ada yang salah dengan Liliana.


“Liliana, berhentilah. Kamu jadi terdengar seperti ‘mereka’ yang pernah menyakitimu.”


‘mereka’ adalah para penggemar Alexander.


Liliana tertegun, meski maksud hatinya tidak demikian namun dari sudut pandang Ree hal itu sama saja.


“Aku tidak berpikiran untuk demikian, kami hanya rekan kerja di senat. Akan sangat aneh jika aku hanya diam berdiri di belakangnya tanpa memberitahu apa yang tidak matanya lihat ketika kami sedang bekerja bersama.” jelas Ree.


“Apa kamu harus seperti itu ketika mengikuti organisasi?” tanya Liliana.


“Mungkin harus seperti itu, sampai aku harus ikut juga di akademi ini.”


*


*


*


“Jadi bagaimana prosesmu menjadi ‘biasa’ itu?” tanya Frigid pada rekannya yang sedang duduk di hadapannya.


Alexander terkekeh, ucapan Frigid seolah menjadikan apa yang sedang Alexander lakukan ini adalah sebuah program yang harus terlaksana.


“Apa maksudmu? Seperti yang kamu lihat aku menjalani hari-hari dengan seperti biasa.” jawab Alexander.


Jawaban sederhana itu tidak seperti yang Frigid harapkan.


“Saat ini mungkin sedang prosesnya, mungkin eh? Ternyata Ree cukup aktif di akademi lamanya.”


Pembicaraan Alexander langsung teralihkan dengan formulir milik Ree yang mencatat seluruh informasi pribadi dalam lingkungan akademi.


“Aku harap kalian berdua dapat bekerja sama dengan baik.” timpal Frigid lalu kembali ke meja tempat ia seharusnya berdiam diri.


Tidak lama kemudian Ree muncul ke dalam ruangan dan sudah mengenakan pakaian seragam miliknya sendiri karena sudah kering.


“Ree.”


Panggilan Alexander tidak digubris Ree karena gadis itu langsung mendekat pada meja Frigid sembari meletakkan satu set seragam pria.


“Terima kasih.” ucap Ree lalu menghampiri Alexander yang sedang bingung.


Kenapa Ree mengembalikan seragam pada Frigid? Apa mereka seakrab itu dan tidak diketahui oleh Alexander?


“Kenapa seragam Frigid bisa di tanganmu?” tanya Alexander penasaran.


Ree duduk tak jauh dari tempat Alexander dan ikut mengerjakan apa yang pria itu kerjakan.


“Hanya mengantarkan miliknya yang dipinjam oleh orang lain.” jawab Ree berbohong.


Ree dapat menyimpulkan bahwa Alexander tidak menyadarinya saat mereka berada di kelas yang sama tadi.


“Kalau begitu, ayo kita patroli.” ajak Alexander tiba-tiba.


“Patroli?” tanya Ree.


Alexander mengangguk.


“Itu merupakan tugas dari divisi kita.” jawab Alexander.


Ree mau tidak mau menuruti jika sudah merupakan tugas utamanya di senat.


Bersama dengan ketua divisi setelah dibagi dalam beberapa tim patroli, Ree mendapat bagian bersama Alexander dan salah satu murid kelas satu yang merupakan junior mereka.


Di sini juga Ree bisa merasakan atmosfer akan sangat berbeda ketika Alexander lewat. Tiba-tiba saja suara lorong menjadi sedikit sunyi dengan banyak bisikan dan jalan seolah telah di siapkan untuk si pemeran utama yang menjadi sorotan banyak orang.


Jalan ini, tatapan orang-orang, suara-suara yang memiliki banyak arti. Ree tidak pernah melihat punggung rekannya itu melemah. Selalu nampak tegak dan tegar meski sendirian.


Apa ia bisa melakukannya sendirian? Ree bertanya-tanya dalam benaknya ketika melihat bagaimana ‘spesialnya’ seorang Alexander diperlakukan oleh orang-orang di sekitar.


“Hey, percepat langkahmu.” ucap Ree mengajak satu juniornya itu.


“T-tapi kak, aku tidak bisa.” tolaknya ragu ketika melihat Alexander berjalan sendirian dan cukup jauh di depan.


“Tidak usah banyak berpikir, lakukan saja apa yang aku katakan.” ujar Ree sembari memaksa junior itu untuk tidak berpikiran macam-macam dan langsung mengejar langkah pemimpin mereka.


Ree sedikit kesal dengan dirinya, padahal ia yang meminta Alexander untuk mencari jawabannya sendiri dan sama sekali tidak berniat untuk membantu. Ia ingin menikmati hari-harinya sebagai kelinci percobaan pada sistem campuran ini dengan tenang, namun malah ada saja orang-orang unik di sekitarnya yang tidak jarang membuat ia ingin sakit kepala.


Ketika melihat punggung tegap yang berjalan sendirian itu, Ree menerka-nerka wajah seperti apa yang ditampakkan. Mungkin tidak mudah karena manusia itu berbeda-beda, namun jemari Ree yang biasanya selalu menjaga jarak pada para kaum adam mau tidak mau harus ia tempelkan pada bahu Alexander hingga membuat empunya menoleh dan kaget.


“Jangan jalan terlalu cepat, kami ketinggalan.”


Bisa tebak bagaimana wajah Alexander ketika Ree berani menyentuh bahunya?


Meski tidak dengan senyuman, telapak tangan yang menyentuh bahunya sama sekali tidak bergetar atau tegang hingga sampai Ree sudah menyamakan langkahnya dengan Alexander.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Ree sembari melirik Alexander yang masih seperti orang bodoh.


“Tidak, bukan apa-apa. Ayo, kita lanjutkan.” ucap Alexander yang sempat menyadarkan dirinya karena terlalu lama kaget dengan perlakuan Ree.


Lalu Ree menoleh kepada junior yang ikut dengan mereka itu.


“Lihat, tidak ada yang menyeramkan ketika kamu menyentuhnya.” timpal Ree menjelaskan pada junior itu.


“Ree.” guman Alexander tidak habis pikir.


“Benar?” tanya Ree memastikannya langsung pada Alexander tentang pernyataannya barusan.


Alexander juga ikut melirik pada junior mereka yang nampak menantikan jawaban dan penjelasan. Perlahan Alexander mengangguk mengiyakan bahwa ia tidak menyeramkan atau sebagainya hingga harus merasa sangat segan berhadapan dengannya.


“Jangan memikirkan hal yang tidak berguna, ayo patroli.” ucap Alexander.


*


*


*


Tidak jauh dari kawasan gedung utama akademi La Priens, tempat dimana seluruh kuda milik akademi tinggal dan dirawat dengan baik oleh penjaganya. Beberapa ekor kuda di pakai untuk latihan dan kelas, namun tetap ada yang tersisa di kandang.


Langkah seseorang dengan mengenakan bootsnya masuk ke dalam kandang dan menghampiri bilik terakhir dari kandang yang dihuni oleh seekor kuda berbulu putih dan besar.


“Max, apa kamu tidak kesepian disini?” tanya Yohan sembari mengelus wajah kuda putih itu dengan lembut dan hanya direspon oleh suara khas seekor kuda.


“Aku ingin mengendaraimu, namun ada kelas yang harus aku ikuti.” Suara frustasi Yohan hanya bisa direspon oleh kuda-kuda yang ada di dalam kandang itu.


“Nampaknya aku yang harus mengatakan hal itu karena tidak seekorpun kuda yang aku kenal.”


Sepertinya ada salah satu yang bisa merespon dengan ucapan manusia.


Mengenakan seragam murid perempuan, berdiri tidak jauh dari tempat kandang Max berada dan sedang menatap Yohan.


“Tu-tunggu! Siapa kamu?! Kenapa kamu bisa di sini?! Dan kenapa seragammu kotor sekali!?” tanya Yohan dengan wajah pucatnya. Siapa yang mengira di kandang kuda ada seseorang lagi selain dirinya.


Deretan pertanyaan tidak berjeda terus masuk ke dalam telinga Ree ketika bertemu dengan Yohan di kandang kuda.


Keberadaan Ree di tempat yang tidak biasa ini juga bukan hal diinginkan oleh dirinya sendiri, hanya saja ia sudah hampir tiga jam terjebak di kandang ini karena ulah orang-orang yang tidak ia ketahui. Beruntung bisa mendengar suara keluhan Yohan dapat membangunkan dirinya ketika tertidur di dekat jerami untuk makanan para kuda.


“Maaf mengagetkanmu, namaku Ree. Aku juga bersekolah di sini.” ujar Ree sembari menepuk-nepuk roknya yang terdapat beberapa helai jerami, begitu pula dengan rambutnya yang sedikit berantakan.


“Kalau begitu aku pergi dulu, terima kasih sudah membukakan pintu.” ucap Ree lalu pergi dari kandang kuda, meninggalkan Yohan yang sedang kebingungan.


“Aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana?” tanya Yohan pada dirinya sendiri lalu kembali mengobrol dengan kuda kesayangannya itu.


*


*


*


Ree menghela napasnya cukup panjang setelah berhasil bebas dari kandang kuda yang ia anggap cukup bau itu. Terkurung selama hampir tiga jam membuatnya mengantuk dan lapar dalam satu waktu.


Kenapa ia bisa seperti ini? Ree sadar betul penyebabnya berasal dari mana namun ia tidak bisa menyalahkan orang yang berkaitan itu.


“Nona Ree, bisa ikut sebentar?”


Di hadapan Ree sudah ada beberapa murid perempuan yang nampak tidak ramah, secara frontal mereka menyiratkan seolah tidak menyukai diri Ree.


“Aku tidak bisa, ada urusan lain tolong besok saja.” jawab Ree lelah.


Sudah hampir sore dan Ree masih harus kembali ke ruang senat lalu pulang ke asrama untuk makan malam maka ia tidak memiliki waktu untuk meladeni beberapa orang yang mendahului keegoisan pribadi.


“Apa kamu ingin menyombongkan diri karena bisa berada di sekitar Alexander?”


Alis Ree naik, ia tidak pernah merasa sombong karena melakukan hal yang jarang orang lakukan karena Ree merasa apa yang ia perbuat adalah hal yang wajar.


“Tunggu sebentar, kenapa aku harus sombong?” tanya Ree heran.


Wajah gadis di depannya menegang, tidak menyukai jawaban Ree yang justru terdengar sebaliknya dari pertanyaan yang diajukan.


“Jika iri atau tidak suka, kenapa tidak kalian saja yang melakukannya? Aku melakukannya karena aku sekelas dan satu organisasi.” tanya Ree lebih lanjut.


“Tidak bisa. Mana bisa kami pantas menyapanya.”


Ree masih menunggu penjelasan lebih lanjut dari gadis-gadis di depannya.


“Alexander itu seperti matahari, hanya bisa dilihat dari jauh namun tidak bisa di dekati.”


“Tidak, aku tidak demikian.”


Obrolan Ree dan para gadis itu terpotong karena orang yang sedang dibicarakan muncul. Bahkan para gadis yang berada di hadapan Ree tiba-tiba saja menyingkirkan diri untuk memberi tempat bagi Alexander.


“Aku bukan matahari, bukan hal yang spesial. Aku hanya manusia biasa seperti kalian dan Ree.” ucap Alexander.


Padahal Alexander datang untuk menjelaskan apa yang menjadi salah paham bagi orang-orang, namun di mata para gadis kedatangan Alexander sangat menyilaukan hingga membuat kagum kecuali Ree yang merasa heran dan lelah dengan hal yang ia tonton saat ini.


“Maka dari itu, tolong berhentilah mengganggu orang-orang yang menyapaku maupun orang yang aku ajak bicara. Aku merasa sedih jika teman-temanku merasa tidak nyaman di sekitarku.” Jelas Alexander.


“Ba-bagaimana bisa kami menolak, kami tidak berniat melakukan hal demikian. Ka-kami permisi dulu.”


Para gadis itu pamit pergi dengan tersipu malu karena Alexander melambai untuk kepergian mereka hingga saat tidak nampak barulah Alexander menurunkan telapak tangannya dan menghadap Ree, menatap penampilan kacau gadis yang baru saja bebas dari kandang kuda itu.


“Ree, kamu tidak apa-apa?” tanya Alexander sedikit ragu.


Ree ingat apa yang pernah Alexander janjikan padanya, pria itu akan melindunginya ketika ada orang yang mengganggunya dengan Alexander sebagai alasannya.


“Tidak apa-apa, hanya sedikit sulit keluar dari kandang kuda.” jawab Ree santai.


“Lalu, kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Ree lagi.


Karena posisi letak kandang kuda cukup jauh di belakang gedung akademi, Ree tidak menyangka Alexander bisa sampai ke sini dan bertemu dengannya.


“Se-.”


“Ree!!!”


Ree dan Alexander kompak menoleh ke arah seruan yang berasal dari seorang gadis mungil yang bernama Liliana. Ia datang bersama Maglina dan Marco dengan wajah yang cukup khawatir.


“Sebenarnya Liliana memintaku untuk mencarimu karena kamu tidak terlihat sebelum makan siang tadi. Maka kami berpencar mencari keberadaanmu.” jelas Alexander.


“Aku sudah dengar kesepakatan yang kalian berdua buat, tapi kamu tidak bisa seenaknya menanggung semuanya sendirian terlebih itu adalah kesalahan Alexander.” ucap Liliana khawatir dan langsung menatap tajam Alexander yang sudah memasukkan Ree ke dalam situasi bahaya.


“Sudah ku katakan untuk menjauh dariku, bukan berarti kamu juga bisa mendekati teman-temanku.” timpal Liliana sembari maju mendekati Alexander.


Namun, Ree dengan tanggap meraih lengan Liliana untuk menghentikan gadis itu.


“Aku hanya ingin menjadi orang biasa, apa itu salah?” tanya Alexander pada Liliana.


“Liliana, aku baik-baik saja. Tidak semuanya adalah kesalahan Alexander.” bisik Ree.


“Ree! Tapi kamu tahu bagaimana tidak enaknya diperlakukan dengan tidak adil padahal bukan kesalahanmu.”


Liliana melirik Alexander yang masih terdiam di hadapannya, ia tersenyum tipis pada pria itu.


“Tidak semua orang bisa menjadi apa yang ia inginkan, Ree ayo pergi.”


Tanpa perhitungan, Ree langsung ditarik oleh Liliana dan tidak diberi kesempatan untuk tinggal sebentar. Meninggalkan Alexander sendirian di jalan itu.


 


 To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2