
Yohanna nampak melangkah dengan ringan di sepanjang koridor akademi yang mana dipenuhi oleh para murid campuran. Gedung tempatnya berada memang khusus untuk murid tingkat 4. Di tangan kirinya ia menenteng sebuah tas biola berwarna putih, ia baru saja pergi dari kelas Musik. Saat ini Yohanna ingin mencari keberadaan Ree dan Liliana.
Hal yang ia ingin sampaikan tentu saja tak jauh dari permasalahan obat Frigid.
Tak lama bola mata birunya menangkap keberadaan dua wanita yang berjalan menuju arahnya. Nampaknya keduanya baru saja selesai dari kelas mereka dan bersiap untuk pergi ke kafetaria.
“Kalian berdua. Aku ingin bicara.” ucap Yohanna menahan langkah Ree dan Liliana.
Keduanya saling bertatapan.
“Ikut aku.” Pinta Yohanna memimpin jalan untuk pergi ke tempat yang nyaman.
Yohanna membawa kedua wanita itu ke sebuah bangku taman yang cukup sepi dan berjarak dari orang-orang lain. di situ Yohanna mulai duduk di atas bangku, sementara Liliana dan Ree masih berdiri.
“Aku sudah bicara dengan Yohan terkait kota Leafa.”
Yohanna membuka pembicaraan mereka dengan kabar yang baik.
“Benarkah, apa yang terjadi selanjutnya?” tanya Liliana.
“Tenang saja, sampai saat ini semua berjalan lancar. Kami sudah mengutus seseorang untuk mengambil sampel dan mengujinya di laboratorium istana. Kemungkinan peralihan pemerintahan di kota itu masih diusahakan Yohan agar membicarakannya lebih lanjut dengan ayahanda.” jawab Yohanna dengan tenang.
Jujur saja, itu merupakan kabar yang sangat baik bagi Ree. Ia merasa senang ketika Yohanna melakukannya tanpa kesulitan sedikitpun.
“Itu kabar baik Yohanna, entah bagaimana aku berterima kasih atas kerelaanmu.” timpal Ree canggung.
Yohanna melirik Ree, ia masih heran dengan sikap Ree yang terlihat canggung seperti itu.
“Tidak bisakah wajahmu bersemangat sendikit?” sindir Yohanna.
“Ree, sudah aku katakan. Ini bukan kesalahan kita ketika ingin tahu. Mungkin semua berakar dari Frigid dan urusan pribadinya. Tetapi tetap saja, kita tak mengusik kehidupannya sedikitpun.” sambut Liliana menepuk-nepuk punggung Ree agar tidak lagi teman wanitanya itu murung.
“Ree, sekali lagi aku mengatakan ini padamu. Jangan pedulikan Frigid, masalah ini bukan hanya untuk dia seorang. Secara pribadi mungkin aku melakukannya karena ingin menyelamatkan Frigid. Tapi bagi kamu dan Liliana, bisa saja untuk orang lain.”
*
*
*
Seminggu sebelum berangkat magang, nampak sudah kesibukan yang dilakukan oleh para murid tingkat 4 di akademi La Priens, termasuk Ree dan teman-temannya.
“Bagaimana ini… bagaimana ini…”
Nampaknya di meja makan mereka di kantin, Ree terus memperhatikan salah satu teman laki-lakinya itu sejak tadi selalu mempertanyakan bagaimana dan berguman beberapa kali hingga membuat perhatian Ree, Liliana, serta Maglina fokus ke Marco seorang.
“Apanya yang bagaimana? Kamu hanya tinggal menyuap makanannya ke mulut dan mengunyahnya seperti biasa.” omel Liliana geram ketika Marco belum menyentuh makanannya sama sekali.
“Err… Liliana, nampaknya Marco tidak kesulitan akan hal itu.” ucap Ree heran.
“Benar, lagi pula apa yang kamu pikirkan Marco? Aku tidak merasa orang seperti memiliki masalah berat.” Timpal Maglina yang pertama kali menghabiskan makanannya.
“Bukan itu… dasar kalian. Kenapa tidak peka terhadapku…” sungut Marco kembali meletakkan sendok dan garpunya ke dalam nampan makanan.
Ketiga teman perempuannya itu menatap Marco heran, tapi benar juga. Apa yang Marco harapkan dari ketiga temannya yang tidak seperti perempuan biasa itu.
Ree orang yang terbilang santai dan agak masa bodoh,
Liliana yang selalu sibuk membedah hewan dan menulis jurnal ilmiahnya,
Dan Maglina yang lebih suka berlatih pedang dan bela diri seperti ksatria, nyatanya Maglina adalah calon ksatria wanita.
“Kami tidak akan tahu masalahmu jika kamu tidak memberitahu kami. Bagaimana mungkin kami sembarangan ikut campur urusan perasaanmu.” timpal Liliana heran.
“Itu benar, Marco. Apa yang membebani hatimu saat ini? Kamu bisa cerita padaku.” ucap Ree dan Maglina hanya mengangguk setuju.
“Aku… aku hanya takut memulai magang.” ucap Marco nampak sangat resah ketika mengingat ia akan berpisah dari teman-temannya yang baru ia kenal dalam beberapa bulan ini.
Ree dan Liliana akan pergi ke Litore, lalu Maglina akan masuk ke istana.
Sementara Marco, ia sudah mendapat tempat di usaha keluargaku di Crsytallo.
“Ohh…” Ree nampaknya bisa mengerti kenapa Marco frustasi.
“Apa karena ada Viovarand di sana?” tanya Ree menebak-nebak.
Sepertinya tebakan Ree benar dan membuat wajah Marco terlihat takjub akan terkaan Ree.
“Waah, apa ini? Si Viovarand yang sudah lulus lebih dulu itu bukan? Apa kamu memiliki masalah dengannya?” tanya Liliana penasaran.
“Haahaha… Nampaknya ia baik-baik saja sampai saat ini.” Ree ingat saat Viovarand mengucapkan salam perpisahan padanya dengan memberikan sapu tangan yang masih Ree simpan sampai saat ini.
“Wajar saja jika kamu takut, aku nampaknya bisa memahami perasaanmu Marco.” lanjut Ree ketika ia ingat bagaimana hubungan antara Marco dengan Viovarand, terlebih Ree juga tahu sifat si Viovarand itu seperti apa.
“Tapi, tenang saja. Semua akan baik-baik saja.”
Ree rasa tidak akan ada masalah lagi antara dua bersaudara itu, karena Ree tahu bahwa Viovarand sebenarnya menyayangi Marco meskipun wataknya agak keras.
__ADS_1
“Aku akan merindukan kalian…” ucap Marco seperti merengek.
Rengekan Marco berhasil membuat ketiga wanita itu tertawa keras.
“Jangan bicara seolah kita akan berpisah selamanya. Kamu tahu bahwa kami memang tidak berasal dari La Priens.” timpal Maglina.
Meskipun bukan berasal dari La Priens sejak awal, Ree sudah merasa bahwa La Priens juga merupakan akademi yang patut ia banggakan selama belajar di sini. Banyak hal yang baru ia pelajari dan bertemu dengan bermacam-macam orang. Meski sudah di penghujung tahun dan sebentar lagi akan lulus, Ree merasa apa yang sudah ia lakukan di La Priens sangat luar biasa.
Dari pada itu, kekhawatirannya saat ini hanya satu. Dimana ia merasa resah ingin berangkat magang sementara ia dan Servio belum berbaikan.
“Ree, ada yang mencarimu.”
Lamunan Ree pecah begitu saja ketika Liliana yang duduk di sampingnya menyikut lengannya dan menunjukkan orang yang mencari dirinya.
Lagi-lagi Servio.
Jika sebelumnya, Ree yang terus ingin berbicara dengan Servio, akhir-akhir ini malah Ree yang dicari.
Namun, bukan berarti Ree senang dengan keadaan yang berbalik seperti ini.
“Aku ingin bicara denganmu sebentar.” ucap Servio lalu lebih dulu pergi.
Pria itu, bahkan ia tak menunggu Ree menyelesaikan makanannya. Terpaksa Ree bangkit berdiri, menyusun nampannya dan mengantar pada tempat yang seharusnya. Ree melihat Servio menunggu di depan pintu kafetaria dan setelah Ree keluar barulah pria itu melanjutkan jalannya.
Tak perlu menebak-nebak kemana ia akan dibawa karena sudah pasti di tempat dimana mereka selalu menghabiskan waktu saat masih akur satu sama lain.
Belakang gedung B.
Ree tidak nyaman dengan situasi seperti ini meski berulang kali terjadi.
“Ada apa?” tanya Ree setelah mereka sampai di depan kandang tempat dimana rusa dan kelinci hutan Ree dipelihara.
“Bagaimana dengan dua ekor peliharaanmu itu?” tanya Servio menyinggung rusa betina dan kelinci betina dalam satu kandang itu.
Ree menatap Servio heran, ia pun mengalihkan pandangannya pada dua peliharaannya.
“Apanya? Mereka baik-baik saja.” ucap Ree bingung.
“Kamu akan pergi magang dan apa kamu akan meninggalkannya di La Priens?” tanya Servio.
Oh, begitu. Meski terdengar aneh, namun Servio rupanya menaruh perhatian pada keberlangsungan hidup peliharaannya.
“Aku akan melepasnya kembali ke alam.”
Sebenarnya sejak awal Ree tidak berniat memelihara hewan ketika ia hanya menjadi murid sementara, namun itu terjadi begitu saja dan sampai saat dimana Ree akhirnya memutuskan untuk kembali melepas kedua peliharaannya.
“Jika aku melakukannya, aku merasa seperti orang bodoh. Untuk apa khawatir pada mereka yang sudah biasa hidup di hutan. Mungkin saja aku malah menyelamatkan mereka. Saat kembali nanti, mereka bebas mengatur hidup mereka, bersembunyi dan tinggal sesuka hati mereka.” jelas Ree.
Tidak seperti manusia, hewan itu kadang tidak terikat pada apapun. Mungkin tidak semua hewan. Namun kebebasan mereka itu melampaui manusia. Cara mereka memilih hidup dan tinggal, mereka hidup tanpa adanya aturan.
Hewan itu sederhana dalam hidupnya.
Yang kuat akan tetap memakan yang lemah.
Sementara itu, manusia yang memiliki cara berpikir lebih dari para hewan malah tak jarang memperumit diri sendiri dengan berbagai macam aturan dan perjanjian.
Terlebih yang mengerikan lagi, ketika cara mereka berkehendak digabungkan dengan hukum kuat-lemah itu.
“Aku ingin kamu menjalani hari-hari magangmu dengan lancar tanpa memikirkan masalah akhir-akhir ini. Jika kamu melakukannya dengan perasaan tertekan seperti itu, bukankah kamu akan kalah dari Frigid?”
Jelas saja, Servio tetap tidak akan menarik keputusannya dan kembali memberi tekanan pada Ree. Mungkin itu terdengar masuk akal pada mereka yang mau saja ikut dengan alur cerita yang sedang Servio rangkai itu.
Namun, logika itu tak mampu membuat Ree berpikir dengan tenang.
Ia justru mempertanyakan kenapa ia harus menerima pertunangan ini dengan pasrah?
Memangnya ia tidak bisa menentukan hidupnya sendiri?
“Kamu membicarakannya seolah itu mudah untuk diterima. Sementara kamu menutup mata dan telinga terhadap perasaan yang sebenarnya dari lawan bicaramu.”
Kalimat sindiran itu bukan berasal dari Ree yang masih terdiam, orang ketiga itu muncul sambil mengeluarkan pendapatnya terhadap ucapan egois Servio.
Wajah Servio menjadi kesal, melihat sosok yang ikut campur urusannya dan Ree begitu saja tanpa tahu apa-apa.
“Apa hobi ketua senat akademi ini adalah menguping pembicaraan orang lain?”
Servio jelas menyinggung kemunculan Frigid dan cara ia menyambut perkataan Servio. Tanpa keduanya sadari, Frigid sudah mengikuti mereka berdua dan berdiam di balik dinding lalu muncul dengan wajah datarnya yang tak bersalah.
Frigid menatap punggung Ree yang terlihat seperti dikelilingi awan mendung itu lalu beralih pada Servio yang sedang menatapnya tajam.
Jelas saja pria itu kesal dengan kehadiran Frigid, namun siapa peduli.
Ada yang lebih penting di sini dari pada mempedulikan kekesalan orang lain, yaitu penderitaan yang sedang dirasakan Ree.
“Frigid, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Ree bingung dan kaget sekaligus.
Mata Ree kembali nampak berat di pandangan Frigid. Wanita itu, ia pasti menahan tangisnya lagi, pikir Frigid.
__ADS_1
Untuk itu, Frigid maju dan mensejajarkan dirinya di samping Ree lalu menatap lurus Servio.
“Apa yang kamu lakukan saat ini bisa dikatakan perundungan. Sebagai ketua senat, tentu saja ranahku tetap ingin apa yang ada di akademi aman dan tentram bagi seluruh murid.”
Ree tak habis pikir, bagaimana bisa di mata pria itu ia malah seperti orang yang dirundung. Apa seburuk itu penampilan Ree saat bersama Servio akhir-akhir ini.
“Apa ini? kamu datang seolah seperti pahlawan. Sayangnya ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Pergilah, karena aku merasa tidak memiliki urusan apapun denganmu.”
Servio maju dan mendekati Frigid, menatap lekat pria di samping Ree itu seolah menantang berkelahi.
Ini bukanlah apa-apa bagi Frigid, juga bukan untuk pertama kalinya jika berkelahi dengan Servio. Karena mereka berdua sudah cukup parah berkelahi.
“Hey, kalian berdua. Jangan berkelahi…” Ree sendiri sudah terlihat kalut ketika dua orang pria malah saling menantang di depan mukanya. Ia sendiri sudah tahu batasannya akhir-akhir ini semakin parah, jika Servio dan Frigid kembali berkelahi, Ree tidak tahu bagaimana harus melerainya.
“Aku tidak merasa menjadi seorang pahlawan di sini, aku hanya merasa aku menjalani tugasku.” kata Frigid masih menatap Servio lurus.
Frigid pun memutuskan untuk mundur sedikit lalu menatap Ree.
“Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kalian berdua lakukan. Tapi memaksakan diri itu ada batasnya. Entah saat ini adalah konsenkuensi atas perbuatanmu dan mungkin kamu sudah berusaha untuk menyelesaikannya dengan berunding. Namun, apa yang ada di hadapanmu saat ini bukanlah orang yang sama yang mungkin membantumu di masa lalu.”
“Frigid! Apa yang kamu bicarakan!?” Servio geram mendengar perkataan Frigid tanpa emosi itu hingga membuatnya maju meraih kerah seragam Frigid.
Servio menarik kuat kerah itu hingga membuat Frigid sedikit kesulitan untuk bernapas.
“Bukankah sudah aku katakan, kamu tidak tahu apa-apa jadi jangan ikut campur.” Teriak Servio di depan wajah Frigid.
“Servio!!” seru Frigid tak kalah kuat.
Interaksi seperti ini yang merupakan ketakutan terbesar Ree. Dimana kedua pria malah berkelahi di hadapannya.
Servio tidak berteriak dan mulai melempar Frigid ke arah dinding hingga menimbulkan suara benturan yang cukup keras.
“Cih! Apa ini, nampaknya kamu mulai emosi akibat apa yang kamu inginkan tidak berjalan dengan lancar, bukan begitu!!??” Frigid langsung bangkit menghampiri Servio dan melayangkan tinjunya pada wajah pria itu tanpa perhitungan.
“Kalian berdua!! Hentikan!!” seru Ree panik saat Servio tersungkur tetap di depan kakinya, bekas pukulan Frigid di pipi kirinya menciptakan lebam kemerahan di sana.
Servio tak merasa akan selesai begitu saja, ia mulai bangkit dan kembali meraih kerah Frigid, menatap tajam pria itu seakan ingin menghancurkannya saat ini juga.
Frigid tak kalah akan itu, ia juga ikut mencengkram kerah seragam Servio dan memberi cara tatapan yang sama dengan lawannya.
“Aha, kamu pasti menganggap dia sama dengan orang masa lalumu, bukan? Kamu tidak mungkin sampai seperti ini jika bukan.” sindir Servio.
Tindakan Frigid tidak mungkin hanya berdasar pada ia adalah ketua senat. Sangat tidak mungkin sampai ia bertindak seperti ini jika bukan karena simpatinya pada Ree.
Rasa simpati itu tak akan jauh dengan apa yang pernah ia rasakan di masa lalu, Servio hanya tahu bahwa Margaretha pernah bekerja di kediaman Frigid dan menjadi staf pengajar di La Priens dengan bantuan Smith. Namun selengkapnya Servio tidak tahu.
“Berhenti mengaitkan masa lalu dengan yang sekarang, Servio. Kamu juga seharusnya sadar, bahwa tak segalanya menjadi milikmu.” ucap Frigid.
Entah itu Margaretha maupun Ree, mereka berdua bukanlah wanita yang harus dimonopoli oleh seseorang yang egois seperti Smith ataupun Servio. Frigid tidak ingin hal itu terulang kali pada seseorang yang memiliki karakter seperti Ree.
Setidaknya setelah ia pergi dari Pulchra, Frigid ingin orang-orang yang peduli padanya hidup dengan kehendak mereka sendiri.
Ree tidak tahu apa yang sebenarnya Frigid maupun Servio pikirkan. Interaksi mereka bagai mimpi buruk ini membuat Ree kelabakan dan sulit berpikir jernih, ia sangat ingin menghentikannya, namun teriakannya rasanya tak sampai pada dunia yang sudah kedua pria itu ciptakan sendiri.
Kakinya bergetar dan sulit untuk melangkah maju, namun jika ia tidak bertindak, seseorang akan datang dan membuat masalah semakin runyam.
Akan tetapi, Ree tidak bisa seperti ini saja. Ia masih berada di titik awalnya datang. Dimana ia kakinya tak ingin keluar dari zona nyamannya selama ini. sesuatu harus ia lakukan dan menjadi roda penggerak perubahan dirinya.
Hingga saat dimana kedua pria itu saling ingin melempar tinjunya pada masing-masing wajah, dalam diri Ree serasa mendorong dan memaksa Ree untuk maju, telinganya seolah kehilangan pendengaran dan arah matanya tak lain hanya tertuju pada dua orang pria yang sedang berkelahi itu hingga kedua tangan Ree terulur dan ia menabrakkan dirinya tepat di antara dua pria yang masih mencengkram kerah seragamnya masing-masing.
Pada akhirnya ketiga manusia itu tumbang bersama-sama ke permukaan rumput dengan Ree yang telungkup menimpa lengan Frigid dan Servio.
“Ree?!” kedua pria itu terkejut, perlahan Ree berusaha bangkit untuk duduk meskipun tangan yang menopang tubuhnya terlihat bergetar hebat, Ree masih bisa bertahan.
Kedua mata Frigid dan Servio kompak terbelalak kaget ketika melihat hidung Ree yang mengeluarkan darah dari dalamnya. Nampaknya Ree tak sengaja menabrak siku kedua pria gila itu hingga terbentur ke hidungnya.
“Ree… hidungmu…” ucap Servio khawatir.
Namun bukan hidung Ree yang berdarah menjadi suatu hal yang membuat Frigid kaget, melainkan air mata yang mengalir deras menatap rerumputan yang ia tabrak itu.
“Kalian berdua ini bodoh sekali!! Apa yang kalian berdua lakukan ini malah membuat situasi semakin runyam!!” seru Ree di tengah isakkan tangisnya karena kesal dengan Frigid maupun Servio yang tidak mau dihentikan.
“Huhuhu… hidungku malah berdarah pula! Apa harus ada yang mengeluarkan darah seperti ini baru kalian berhenti?! Atau sampai ada yang mati salah satunya!? Begitu!” omelan Ree benar-benar membuat Frigid dan Servio terdiam. Mereka hanya melihat Ree bangun secara perlahan sembari mengelap mimisannya dengan tangan.
Baru saat Servio ingin meraih tangan Ree, tiba-tiba suara langkah kaki yang berlari menghampiri lokasi mereka datang membawa Liliana dan Alexander.
“Ree!!! Aku mendengar keributan dari luar!! Ada apa!? Hey!! Hidungmu kenapa!!” seruan panik Liliana langsung menghujani lokasi sementara Alexander menatap Frigid dan Servio yang masih terduduk di permukaan tanah dengan keadaan yang dapat dikatakan sangat kacau itu.
Apa yang telah terjadi? Kenapa bisa seperti ini? Ree bahkan sampai terluka?
“Liliana, aku hanya terjatuh, aku tidak apa-apa. Dari pada itu ayo pergi.” Ree menyeret lengan Liliana untuk menjauh dari Frigid dan Servio sebelum temannya itu membedah perut dua laki-laki yang seperti orang bodoh saat ini.
“Kalian berhutang penjelasan padaku.” ucap Liliana menatap tajam Frigid dan Servio.
“Liliana, sudahlah…”
__ADS_1
To Be Continued.