We And Problems

We And Problems
Chapter 35 : Kunjungan Henny


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu,


“Aku tidak ingin menikah.” ucap Servio pada Ree.


“Apa? Maksudmu itu apa? Kenapa tiba-tiba?!”


Tentu saja Ree kaget dengan pernyataan Servio yang sangat aneh itu.


“Ini memang terdengar aneh, sebelum kamu lihat ini.” Servio langsung menunjukkan surat yang berasal dari keluarganya.


Ree pun mengambil selembar surat itu dan membaca dengan seksama isi surat.


“Ini hanya berisi undangan makan malam keluarga.”


Hal itu lah yang Ree tangkap dari surat Servio.


“Ree kamu terlalu polos. ‘makan malam’ itu memiliki maksud lain. Lagi pula kenapa mereka mengundangku makan malam ketika aku tidak libur? Aku masih berada di akademi dan aktif belajar.”


Setelah mendengar penjelasan Servio, barulah Ree bisa merasa ada yang janggal dari isi surat itu. Ree mengembalikan surat yang ia baca pada Servio.


“Lalu apa yang bisa aku bantu?” tanya Ree mantap.


Servio tidak menyangka bahwa Ree dengan percaya diri bertanya demikian.


“Aku tidak akan bertele-tele, jadilah kekasihku untuk hari itu saja. Setelah acara ‘makan malam’ itu hancur, kita akhiri hubungan pura-pura malam itu juga. Bagaimana?” tanya Servio.


Rencana Servio memang terdengar gila di telinga Ree, karena pria itu sangat nekat ingin memalsukan hubungan mereka berdua.


Ree sempat lama berpikir dan akhirnya mengangguk.


“Aku akan membantumu. Meskipun sebenarnya aku tidak enak jika harus ikut dan menghancurkan ‘makan malam’ keluargamu.” ucap Ree pelan.


Servio tersenyum tipis.


“Keluargaku memang menyebalkan, maka dari itu aku akan menghancurkan acara keluargaku ini.”


Dari ucapan Servio barusan, Ree menangkap bahwa pria dihadapannya adalah anak yang cukup bandel.


*


*


*


Disinilah Ree, ia baru saja turun dari kereta kuda yang membawanya bersama Servio ke sebuah restoran mewah di kawasan pusat kota. Masalah perijinan asrama, Servio dengan mudah meminta ijin. Entah bagaimana pria itu menjelaskan pada penjaga asrama hingga Ree bisa dengan mudah mendapat ijin juga.


Seperti yang diberikan Servio tadi siang, Ree mengenakan sebuah gaun malam berwarna merah berlengan panjang dengan panjang gaun yang terbuat dari sutra itu semata kaki Ree.


“Apa ini tidak terlalu ketat?” ucap Ree risih menyinggung gaunnya yang sebenarnya sangat pas ke tubuhnya ketika ia mengenakannya.


Servio yang berada di samping Ree hanya tersenyum tipis melihat wanita yang akan membantunya itu. Jarang-jarang bisa melihat Ree bisa berdandan, karena di akademi wanita itu hanya berpenampilan sederhana tanpa berniat mendandani dirinya sendiri.


“Tidak masalah, kamu cocok mengenakannya. Aku harap gaun itu tidak kamu buang setelah ini.” timpal Servio.


Ree tiba-tiba meraih lengan jas Servio saat pria itu ingin masuk ke dalam restoran.


“Tunggu dulu,” ucap Ree maju merapikan dasi Servio yang sedikit miring di matanya.


Pria yang mengenakan setelan jas serba hitam itu hanya melongo menatap wajah wanita yang sudah dengan santainya menyentuhnya. Terlebih mata Servio sempat turun pada bibir Ree yang dipoles dengan lipstik merah senada dengan gaun malam yang wanita itu kenakan hingga matanya langsung membuang ke arah lain.


“Apa rambutmu tidak ingin kamu ikat?” tanya Ree setelah ia merapikan dasi Servio.


“Apa kamu berniat mengikatkannya untukku?” tanya Servio sedikit menggoda.


Ree menatap sinis ke arah junior akademinya itu.


“Tidak.” tolak Ree mentah-mentah.


*


*


*


Ree dan Servio pun masuk ke dalam restoran lalu naik ke lantai dua dan mengatakan meja yang sudah dipesan pada pelayan. Tanpa menunggu lama, pelayan restoran langsung menunjuk sebuah meja besar yang berada di sudut ruangan dan sudah terisi oleh beberapa orang.


“Ayo Ree.”


Servio merasa lengan yang terpaut di lengannya malah menahannya dan tidak ingin maju mendekati meja yang ditunjuk oleh pelayan restoran. Servio terkekeh, Ree memang sulit ditebak. Di sana memang ada beberapa laki-laki dan orang tuan Servio serta orang tua wanita yang akan dijodohkan dengan Servio.


“Ree, apa kamu gugup?” Servio memutar pandangannya pada wanita yang berdiri di sampingnya tengah mematung menatap meja yang sama dengan Servio maksud.


Cepat-cepat Ree memutar tubuhnya. Tubuhnya terlihat tegang namun bergetar, wajah wanita itu panik dan nampak pucat. Tentu saja Servio bingung dengan kondisi Ree yang tidak pernah ia lihat sebelumnya ini.


“Servio, aku tidak bisa.” ucap Ree tiba-tiba.


Servio ikut memutar tubuhnya, menatap Ree dan merasa tidak menyangka jika Ree akan mundur.


“Ikut aku.” Ree langsung pergi dari tempat mereka berdiri menuju balkon restoran.


“Ree, ada apa? Apa kamu merasa tidak enak badan?” tanya Servio khawatir.


Takutnya Ree malah memaksakan diri dan membuat dirinya tidak nyaman. Ree cepat menggeleng.


“Servio, aku tidak tahu bagaimana semua ini terjadi. Aku sungguh tidak tahu.” ucap Ree resah dan berjalan bolak-balik di hadapan Servio.


“Ree??”


Ree berhenti bergerak dan menatap Servio, lalu mengajak pria itu mengintip ke arah meja yang ingin mereka tuju belum lama ini.

__ADS_1


“Kamu lihat wanita muda itu.” tunjuk Ree.


Seperti yang Ree tunjuk, Servio dapat jelas melihat seorang wanita muda yang memiliki surai coklat lurus, berwajah oval dengan bola mata coklat itu sedang berhadapan dengan kedua orang tuanya dan nampak berbincang ringan.


“Dia adalah sepupuku.”


“Apa!?” seru Servio cukup keras.


“Sttt!!!” Ree menaruh telunjuk kanannya di antara wajahnya dan Servio.


Ree dan Servio kini saling bertatapan. Ree dengan tatapan meyakinkannya bahwa wanita yang mereka tunjuk adalah sepupu Ree, sementara Servio dengan tatapan kagetnya.


“Kamu bercanda. Kenapa bisa? Keluargamu mengenal keluargaku?”


Servio bahkan tidak pernah bertemu dengan Ree sebelumnya, karena mengingat bahwa keluarganya tidak mungkin menjodohkan Servio dengan wanita dari keluarga yang tidak ia kenal.


“Di suratmu kemarin tertulis ‘makan malam’ dan kamu sendiri langsung tahu maksud dari isi surat itu.” ucap Ree.


“Kamu benar, jika mereka langsung menyebutkan nama keluarganya, itu akan membuatku jelas tahu dan tidak akan datang. Tapi ini keluarga Lumen!”


Servio terperangah dan menatap wanita di hadapannya. Servio tidak mungkin tidak tahu identitas keluarga yang duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya saat ini.


“Ree Iunae Lumen, itu nama lengkapku.” tiba-tiba Ree dengan polos malah menyebutkan nama lengkapnya di hadapan Servio.


Bagaimana mungkin Servio tidak langsung peka, ia seharusnya sudah tahu nama lengkap Ree yang sering bersama dengannya.


“Ini akan rumit Servio.” ucap Ree sembari menatap ke arah meja pertemuan itu.


“Aku tidak bisa membantumu jika begini ceritanya. Ini seperti aku mempermalukan diriku dan keluargaku.”


Tidak enak rasanya gagal dalam membantu seseorang yang sudah berbaik hati pada kita. Namun itulah rasa yang harus Ree hadapi malam ini. ia menatap langsung mata Servio dengan perasaan campur aduk. Ketakutan dan kekhawatiran akibat ia tidak bisa membantu pria itu memenuhi diri Ree saat ini.


“Tapi Ree,”


Ree langsung kembali ke sisi balkon sembari ingin mendinginkan kepalanya saat ini. Servio dengan cepat menyusul Ree karena wanita itu nampak sangat resah.


“Dari pada itu, apa kamu baik-baik saja?” tanya Servio khawatir.


Ree memegang pembatas balkon dengan perasaan campur aduknya. Dalam hati Ree kecewa berat karena ia tidak bisa membantu Servio. Tangan yang memegang pembatas balkon nampak tidak bisa diam menampakkan keresahan yang hatinya sedang rasakan.


“Aku minta maaf…” lirih Reani dan tidak sanggup menatap wajah Servio.


“Ree? Wah! Apa kamu benar Ree?”


Tubuh Ree menegang, kepalanya menoleh ke arah sumber suara di dekat pintu keluar balkon dan nampak seorang pria dewasa yang ada di depan pintu berjalan mendekati Ree dan Servio. Pria itu memiliki surai ikal coklat kemerahan dengan bola mata abu-abu. Senyumannya sangat lebar dan ditambah lesung pipi di kedua pipinya.


Servio menatap malas pria yang mengenakan setelan jas abu-abu itu. Kenapa bisa menyapa Ree dengan seakrab itu? Apa hubungan pria tidak dikenali ini dengan Ree?


“Ka-kak Luceat. Kenapa kamu disini?” tanya Ree gugup dan tidak ingin menatap wajah pria yang ia panggil kakak itu.


Pria yang bernama Luceat itu menyingkap poni Ree agar dapat melihat wajah wanita itu dengan jelas. Namun Servio dengan cepat menangkap lengan Luceat agar tidak menyentuh wajah wanita yang sedang bergetar itu. Servio sendiri tidak tahu apa hubungan kedua manusia di depannya ini dan kenapa Ree terlihat lebih ketakutan dari biasanya.


Servio menjauhkan Ree dengan menarik wanita itu ke belakang punggungnya.


“Aku adalah Servio Dominic Florence. Anda siapa?” tanya Servio memperkenalkan diri.


“Servio?! Kamu adalah pria yang ditunangkan dengan Brina? Hey, kenapa kamu bisa bersama dengan Ree?”


Servio bahkan tidak tahu dengan siapa ia ditunangkan, lalu wajahnya menoleh pada Ree di belakang untuk meminta penjelasan Ree yang sejak tadi terdiam dan menunduk itu.


“Biar aku yang memperkenalkan diri dengan jelas. Seperti yang Ree katakan, namaku Luceat Femen Lumen, kakak sepupu Ree dan kakak dari tunanganmu Brina Femen Lumen.”


Servio menatap datar pria yang bernama Luceat dihadapannya ini. Pria itu dengan santai memperkenalkan dirinya secara lengkap, namun kenapa Ree di belakangnya mencengkram kuat punggung Servio dengan tangannya yang bergetar hebat? Jelas saja ketakutan Ree saat ini berbeda dari sebelumnya.


“Keberadaan kalian berdua sangat mencurigakan, apa kalian mengenal satu sama lain?” tanya Luceat penuh selidik.


Ree melepas cengkramannya di punggung Servio dan langsung berlari pergi dari balkon tanpa menghiraukan Servio maupun Luceat yang kebingungan.


“Tunggu, apa kamu ingin pergi dari makan malam ini?” Luceat dengan cepat menahan lengan Servio agar pria itu tidak pergi mengejar Ree.


Servio menatap Luceat tajam dan menghempas pegangan Luceat.


“Apa makan malam itu penting? Aku bahkan tidak berminat sejak awal untuk hadir.”


“Dia tidak akan mau kembali dan bertemu denganku, jadi biarkan saja ia pergi.”


Lagi-lagi langkah Servio terhenti. Luceat, pria itu. Meski Servio baru bertemu dengannya malam ini, kesannya sudah sangat buruk.


“Jadi kamu tahu kondisinya? Begitu?”


Servio kembali menghampiri Luceat.


“Tentu saja aku jelas tahu, karena yang membuatnya seperti itu adalah aku. Tapi, aku tidak bisa menyalahkan apa yang aku rasakan terhadapnya.” jawab Luceat santai.


Kalimat itu yang membuat darah Servio seolah mendidih dan ingin memberi kepalan tangannya pada pria yang baru ia kenal saat ini juga.


Nampaknya adegan balkon itu menjadi pusat perhatian seseorang yang juga ada di dalam restoran itu. Bukanlah seorang yang asing dan jarang dilihat.


“Tuan muda, saya akan mengantar anda.”


Frigid langsung memutar tubuhnya menghadap seorang pelayan restoran yang menghampirinya. Mata dan raut wajah tanpa ekspresi itu telah merekam apa yang ia lihat dari munculnya Ree dan Servio hingga kehadiran Luceat yang nampaknya berpengaruh besar terhadap kondisi Ree saat ini.


“Baik.”


Kebetulan? Frigid rasa hari ini kebetulan yang luar biasa baginya.


*


*

__ADS_1


*


Semuanya jadi rumit saat ini. Ree tidak bisa tidur semalaman dan kembali begitu saja ke asrama tanpa mengatakan apa-apa pada Ghea ketika ia kembali malam itu juga. Pertemuannya dengan Luceat membuat semuanya semakin berat. Perasaan Ree menjadi tidak tenang dan tak mampu menutup matanya untuk tidur tadi malam.


Ree bangun dengan perasaan kacau. Kepalanya penuh dengan rasa kecewa, ketakutan, serta kekhawatirannya. Bahkan Ghea menawarkan Ree teh hijau kesukaan Ree, wanita itu tidak berminat dan menolak tawaran Ghea. Bahkan Ree harus ijin dari kelas hari ini karena tidak mampu keluar dari kamar asrama.


‘Tok! Tok! Tok!’


Di tengah lamunannya Ree beranjak dengan malas pergi membuka pintu kamarnya dan dari depan itu nampak seorang wanita paruh baya dengan seorang wanita muda yang tak asing.


“Ree, ada tamu ingin menemuimu.” ucap pengurus asrama putri yang biasanya dipanggil ‘madam Denise’ oleh para penghuni putri dan putra.


“Henny?” tanya Ree lemah karena tidak menyangka sosok di hadapannya ini merupakan Henny.


Sahabat karib Ree, wanita berambut pendek hitam itu merentangkan tangan dan menghamburkan pelukannya pada Ree yang benar-benar terkejut karena tidak menyangka melihat kehadiran Henny di hadapannya ini.


Tak perlu menunggu lama, Ree membawa Henny masuk ke dalam kamarnya.


“Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Ree heran.


“Apa yang kamu katakan, apa kamu lupa jika akademi kita juga memiliki program magang untuk anak tahun terakhir? Hanya karena kamu sudah berada di akademi yang berbeda, bisa-bisanya kamu lupa akan itu!” protes Henny pada wanita yang sedang menyeduhkan teh untuknya.


“Apa yang kamu bicarakan? Tentu saja aku tahu tentang program itu. Kami juga sedang mempersiapkannya.” elak Ree dengan tawanya.


Mata Henny menatap Ree tajam dengan memperhatikan setiap rinci wajah wanita yang duduk berhadapan dengannya saat ini.


“Kenapa wajahmu pucat sekali? Belum lagi lingkaran hitam di bawah matamu itu?”


Ree takjub dengan Henny yang memiliki penglihatan tajam tentang penampilannya. Tangan Ree menyentuh wajahnya dan tersenyum.


“Bukankah lingkaran hitam ini sudah biasa bagiku?” tanya Ree.


Henny memicingkan matanya. Perasaannya mengatakan ada yang tidak beres dari Ree ini. Mata Henny seolah menangkap banyaknya aura gelap di sekitar Ree hingga membuat Ree tidak secerah biasanya.


“Kamu menimbun masalah lagi?” tanya Henny curiga.


Ree merasa tertohok. Kenapa dari segala pertanyaan, Henny harus menanyakan hal itu padanya??


“Menimbun masalah? Apa kamu kira aku adalah agennya masalah? Apa yang kamu maksud? Ini hanya lelah karena kelas saja.”


Henny meletakkan cangkirnya, ia tidak tahan dengan senyum palsu yang terus Ree keluarkan dengan mengelak semua dugaannya begitu saja.


“Kamu tahu, aku paling tidak suka dengan kebohongan darimu. Masalahmu itu tidak pernah ada yang sepele.”


Ree merasa tertangkap basah karena kejelian mata Henny. Ketika omelan sudah keluar dari mulut Henny, barulah Ree merasa tersadar bahwa ia terlalu larut dalam permasalahan orang lain yang tidak sengaja melibatkan dirinya.


“Setiap masalah itu selalu memiliki nilainya sendiri Henny.” jelas Ree.


“Aku baik-baik saja… jangan khawatir denganku, selesaikan saja magangmu ini. Jarang-jarang kamu bisa menikmati ibu kota dalam waktu yang lama.” lanjut Ree.


*


*


*


Henny keluar dari pagar asrama lalu memutar tubuhnya menghadap gedung tempat Ree tinggal untuk sementara itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Henny ingin percaya dengan ucapan Ree, namun perasaannya mengatakan ada hal yang harus diperjelas disini.


Henny kembail memutar tubuhnya dan langsung menatap kedua orang yang berjalan menuju gerbang masuk kawasan asrama dengan seksama. Matanya tak salah lagi, bahwa pria itu adalah orang yang pernah ia temui saat menemani Profesor Roche rapat di La Priens.


“Ah, siapa kamu, pria berkulit pucat dengan wajah datar!?” tanpa ragu Henny langsung menghampiri Frigid dan Alexander yang baru saja kembali dari akademi.


Frigid ingat betul wanita tinggi di hadapannya ini, merupakan teman Ree yang pernah menemani Profesor Roche untuk menghandiri pertemuan antar kepala akademi di La Priens.


“Ada apa?” tanya Alexander bingung.


Henny tidak kenal dengan Alexander dan langsung menghadap Frigid.


“Aku tidak akan berbasa-basi, dimana aku dapat menemukan orang bernama Servio?” tanya Henny langsung pada intinya.


Entah mengapa perasaan Henny langsung mengarah pada Servio. Alasan terbesar adalah karena pria itu tahu kelemahan Ree.


“Dia tidak ada di asrama dan sedang ijin.” jawab Frigid.


“Ja-jadi?!” tanya Henny kaget.


“Tentu saja, di kediaman keluarga Florence.”


*


*


*


“Ini kediaman atau hotel? Kenapa jendelanya banyak sekali?” Henny terheran-heran dan sekali lagi mengecek kertas berisi alamat rumah Servio di Crystallo. Hari ini adalah hari liburnya, maka dari itu Henny menikmati jalan-jalan keliling Crystallo dengan caranya.


Frigid dengan baik hati memberikan Henny alamat rumah Servio karena perempuan itu ingin bicara dengan Servio secara empat mata terkait keadaan Ree.


Henny tahu, bahwa nampaknya ada yang salah dalam hubungan Servio dan Ree ini. kenapa Ree terlihat tidak baik-baik saja dan kenapa Servio tidak kembali ke asrama? Apa yang terjadi dengan pria itu?


“Maaf, tuan Servio tidak bisa menerima tamu untuk saat ini.”


Henny mendengar penuturan salah satu pelayan rumah itu padanya terkait kehadiran Henny yang tidak di terima Servio untuk mengunjunginya. Tangan Henny meremas kuat kertas alamat rumah Servio sembari menatap geram ke arah rumah berwarna putih itu.


“Apa-apaan ini? apa otak pria itu ketinggalan di suatu tempat?” tanya Henny geram.


 


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2