We And Problems

We And Problems
Chapter 36 : Kekasih Servio??


__ADS_3

Seharian ini Ree banya berpikir, tenaganya habis hanya karena hal-hal yang sebenarnya bisa saja Ree abaikan. Ree telah mendengar dari Liliana bahwa Servio tidak ada di asrama dan ijin dari Akademi karena masalah kesehatan. Jemari Ree hanya sibuk bermain satu sama lain sementara matanya lurus menatap langit-langit kamar dan tidak peduli dengan teman-temannya yang sedang mengobrol satu sama lain saat ini. seperti biasa, Liliana dan Maglina akan mengunjungi kamar Ree untuk bermain setelah makan malam, ditambah dengan Yohanna yang selalu mencari Ghea.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Liliana duduk di pinggir kasur Ree dan menegur temannya yang sejak tadi ia datang kerjanya hanya melamun menatap langit kamar.


Liliana jadi bingung dan sedikit khawatir karena Ree sering kali membuat dirinya masuk ke dalam masalah yang tidak terduga.


Perlahan Ree beranjak dan menatap Liliana serius.


“Apa aula makan masih dibuka?” tanya Ree.


“Hmm, tentu. Ini belum jam tidur. Ada apa? Apa kamu lapar?” tanya Liliana.


Ree menggeleng lalu pergi keluar dari kawasan kasurnya dan langsung pergi dari kamar.


“Apa ia baik-baik saja?” tanya Maglina menyinggung keadaan Ree.


Liliana menatap resah kepergian Ree yang penuh dengan tanda tanya itu lalu menggeleng ketika merespon pertanyaan Maglina. Sungguh ia tidak tahu, apa ini berhubungan dengan obat yang Frigid pakai atau hal lainnya, Liliana tidak tahu.


“Akhir-akhir ini banyak murid perempuan yang sedang banyak pikiran karena persiapan magang. Mungkin saja ia seperti mereka juga.” terka Yohanna sembari menyeruput teh hitamnya.


Maglina nampak setuju, karena program magang terakhir ini menjadi salah satu poin penting untuk lulus dari akademi. Beberapa murid perempuan yang diutus menjadi sedikit tertekan karena tidak ingin mengecewakan akademi yang mengutus mereka.


“Meski demikian, nampaknya Ree terlalu banyak menghabiskan energinya untuk orang-orang disekitarnya. Sisi kanan dan kirinya cukup memberinya tekanan hingga Ree terhimpit di antaranya. Inilah yang aku rasa pada orang seperti Ree.” sambut Ghea yang sedang membaca buku astrologinya.


“Kedua sisi?” ucap Liliana bingung.


*


*


*


Langit malam hari ini cukup cerah karena Ree bisa menatap banyak bintang yang bertaburan di atas sana. Ia berdiri dan menyandarkan dirinya pada salah satu bingkai jendela yang terbuka di aula makan. Suasana yang tidak lagi ramai dan hanya ada beberapa murid sibuk belajar dan mengobrol ringan. Ree nampak sedang menyendiri dari orang lain di sisi Aula yang mengarah pada hutan di belakang asrama.


“Ree??”


Merasa ada yang memanggil namanya, perempuan itu memutar tubuhnya dan menatap orang yang sebenarnya ia tunggu untuk datang padanya.


Alexander yang tidak bertemu dengan Ree hari ini, cukup terkejut dengan wajah Ree yang memancarkan suasana hatinya sedang buruk. Kulit wajah Ree yang biasanya nampak hangat itu, terlihat pucat dan belum lagi kantung mata Ree sudah seperti kantung air minum ketika mereka pergi berburu.


“Ree, apa kamu baik-baik saja?” tanya Alexander khawatir.


“Aku tidak baik-baik saja karena kurang tidur.” jawab Ree jujur.


Alexander memang tidak heran jika Ree dingin ketika menjawab pertanyaan, perlahan ia maju mendekati Ree dan bersandari pada bingkai jendela yang sama serta memandang pemandangan hutan gelap di belakang aula makan itu.


Ree merogoh saku jaketnya dan langsung mengeluarkan selembar kertas lalu memberikan kertas itu pada Alexander. tanpa tahu itu apa, Alexander menerima saja dan langsung melihat isi dari kertas putih yang sudah dilipat-lipat itu. tidak perlu waktu lama Alexander terkejut, kertas itu bukanlah berisi hal biasa, melainkan hasil penelitian Liliana tentang obat yang dikonsumsi Frigid.


“Maaf, nampaknya aku melangkah terlalu jauh.” timpal Ree dingin.


Bukan hanya Liliana saja yang penasaran, Ree juga ingin tahu apa yang dikonsumsi Frigid ketika pria itu sakit. Nyatanya tidak dapat di terka akan seburuk itu hasilnya.


“Ree, apa yang kamu lakukan?” tanya Alexander masih belum percaya dengan ulah pekerjaan Ree di belakangnya.


Ree menoleh pada Alexander lalu tersenyum tipis.


“Aku ingin diam, namun aku dipergoki Liliana dan seperti ini hasilnya.”


“Bukan, maksudku. Aku tidak pernah tahu apa yang terkandung dalam obat Frigid karena ia tidak pernah mengonsumsinya di hadapanku.”


Ree menatap Alexander datar namun dalam hati ia cukup terkejut dengan pernyataan Alexander terkait Frigid.


“Apa kamu tidak tahu?” tanya Ree memastikan pendengarannya tidak salah.


“Aku memang selalu bersamanya, namun tidak segala hal tentangnya aku ketahui.” ucap Alexander terus terang.


Benar juga yang Alexander katakan, setidaknya Frigid masih memiliki privasi terkait hal-hal pribadinya.


“Tapi Ree, lebih baik kita tidak perlu tahu tentang ini.” ucap Alexander setelah keduanya lama saling diam.


Mata Ree menoleh dari arah luar jendela ke pria yang ada di depannya.


Sejuk angin malam membuat kulit kedua manusia itu merasa dingin dan sebentar lagi adalah jam tidur dimana keduanya akan terpisah ke gedung asrama masing-masing.


“Aku mengatakannya seperti itu, tidak lain karena privasi Frigid itu sendiri. Ia tidak akan senang jika kehidupan pribadinya di usik.”


Sungguh perasaan Ree sangat kesal ketika Alexander mengatakan privasi seseorang. Selama ini, Ree tidak merasa bahwa ia ada mengganggu orang sekitarnya, namun Frigid muncul dan protes dengan keberadaannya. Kini, ketika mendengar Alexander mengatakan sesuatu tentang privasi Frigid, ingin rasanya Ree tertawa.


“Aku tidak menjamin itu Alexander, karena ia yang memulai semuanya, hehehe...”


Setelah Ree terkekeh, sorot matanya memicing menatap Alexander kemudian pergi tanpa mengucapkan salam.

__ADS_1


Ree pergi dengan meninggalkan perasaan penuh tanya dari Alexander. Malam itu, Ree melewatkan malam harinya tidur dengan cukup nyenyak.


*


*


*


Tidak seperti wilayah pesisir yang langsung berhadapan dengan lautan luas dan tidak dapat melihat sisi seberang. Wilayah pelabuhan kota Crystallo sangat luar biasa besar dan sibuknya. Namun aroma disini berbeda, terlebih untuk seorang perempuan muda seperti Henny yang terbiasa dengan bau asin dari air laut, dan kicauan burung camar nampaknya menjalani pagi hari yang asing baginya.


“Henny! Sudah saatnya kamu turun dan ikut berpatroli!!”


Pagi yang luar biasa ramai, begitu pikir Henny ketika ia turun bersama seorang kapten wanita untuk patroli di sekitar pelabuhan yang sangat sibuk karena beragam kegiatan mulai dari perdagangan sampai transportasi untuk orang-orang.


“Saat ramai seperti ini jangan sampai kamu lengah.”


“Baik!” Henny menjawab tegas nasehat atasannya.


Dari akademi Henny sendiri memang terbiasa dengan situasi ramainya pelabuhan dan kemampuannya bukanlah yang terburuk dari kelas. Tidak seperti Ree, Henny memiliki proporsi tubuh yang tinggi serta tegap, keahliannya adalah bela diri dan mempunyai kekuatan fisik di atas rata-rata dari perempuan lainnya. Alasan kenapa Henny tidak dikirim ke La Priens meski ia memiliki kelebihan-kelebihan itu tak lain karena kemampuan akademis Henny yang cukup buruk. Namun, bukan berarti Henny adalah wanita yang bodoh.


“Tolong!! Ada yang terjatuh!!”


Refleks Henny dan kaptennya kompak menoleh ke pusat suara yang mana menunjuk pada seorang anak kecil yang terjatuh ke dalam sungai.


“Henny!!”


Henny tanpa pikir panjang langsung berlari dan menceburkan dirinya ke dalam air hingga membuat kaget orang-orang disekitar karena tiba-tiba saja ada seseorang menerobos kerumunan untuk menyelamatkan anak perempuan itu.


Tak lama untuk Henny menyeret anak kecil itu ke pinggir pelabuhan beserta anak anjing yang ada di pelukannya. Ya, semua itu terjadi tak lain karena anak kecil itu ingin menyelamatkan anak anjingnya yang terjatuh ke dalam air. Karena ini pelabuhan, tentu saja ombak air sungai menjadi tinggi hingga sulit baginya untuk berenang dan berisiko tenggelam.


“Terima kasih nona!! Terima kasih!!”


Henny hanya tersenyum dan mengatakan agar anak itu berhati-hati serta tidak mendekati dermaga ketika bermain karena banyaknya kapal besar dan aktivitas orang.


“Apa kamu gila?”


Henny terkekeh ketika ditanyai seperti itu oleh kaptennya.


“Di banding gila, nampaknya aku terlalu bersemangat.” ucap Henny sembari memeras bajunya yang basah kuyup itu.


“Oh!” lanjut Henny ketika matanya bertemu dengan orang yang tidak asing. Henny pun langsung menghampiri orang yang ia kenal itu, tak lain adalah kedua orang tua Ree. Tuan dan nyonya Lumen.


“Bukankah kamu Henny!? Kenapa kamu basah begini?!”


“Saya sedang melaksanakan magang disini dan terjadi sesuatu yang tidak terduga.” ucap Henny.


“Benarkah? Jauh juga kamu pergi ke Crystallo dari Litore.” ujar pria paruh baya yang ada di samping ibu Ree atau dikenal Angues Starfish Lumen.


“Karena itulah merupakan kesempatan bagus untuk saya. Saya juga tidak menyangka akan bertemu dengan paman dan bibi di sini.”


“Kamu benar, kami disini tak lain karena pertunangan Brina. Sayang, siapa nama tunangannya?” tanya Leona pada suaminya.


Henny cukup terkejut, Brina sendiri merupakan adik sepupu Ree yang hanya berbeda satu tahun dari mereka.


“Bagaimana kamu bisa melupakan calon besanmu sendiri. Mereka dari keluarga Florence, anak bungsu dari keluarga itu, Servio.” sambut Angues.


Kali ini, bukan saja terkejut. Henny hampir kehilangan pikirannya karena mendengar nama yang tidak asing di telinganya itu.


“Servio?” tanya Henny seolah tak percaya.


“Iya, apa kamu mengenalnya?” tanya Leona.


Bagaimana Henny akan menjawab. Ia tidak terlalu dekat dengan Servio.


“Tidak, hanya saja saat menemani Profesor Roche mengunjungi La Priens, saya sempat mendengar namanya di senat.” jelas Henny canggung.


“Malam itu ia datang dan nampak tidak bersemangat. Aku pikir ia tidak menyetujui pertunangan ini, namun nampaknya memang itulah sifatnya.” Leona mengingat malam dimana Servio datang makan malam di restoran tanpa mengetahui apa yang sebelumnya terjadi sebelum Servio tiba di meja makan.


“Bagaimana mungkin ia tidak setuju, lagipula ia tidak memiliki kekasih.” sambut Angues.


*


*


*


Henny kembali ke markas tempat ia magang dengan masih menyimpan perkara terkait Servio dan apa yang sedang terjadi pada Ree. Kemarin saat ia mengunjungi kediaman Servio, pria itu tidak menerima satupun tamu untuk menemuinya.


Keadaan Ree, selama Henny mengenal wanita satu itu tentu saja Ree pernah sakit atau tidak enak badan. Segala macam keadaan Ree sudah hampir Henny ketahui seluruhnya.


“Wanita itu… jelas-jelas ia sedang stress karena terlalu memikirkan hal yang tidak penting.” ucap Henny geram.

__ADS_1


Karena itu, ada satu hal yang sudah Henny rencanakannya. Ia sudah melihat keadaan Ree, merasakan bagaimana Servio memperlakukannya dan mendengar pernyataan dari kedua orang tua Ree. Semuanya sudah dapat disimpulkan mengingat hubungan Servio dan Ree tidak sedangkal itu.


Selesai Henny mengganti pakaiannya yang basah dengan seragam baru, ia pun turun dan menemui kaptennya yang sedang berada di ruangannya.


Setelah Henny mengetuk pintu ruangannya, ia pun masuk ketika dipersilahkan,


“Kapten apa besok aku bisa digantikan shift jaga pada malam hari?” tanya Henny pada kapten wanita yang mengawasinya itu.


“Kamu yakin ingin shift malam?”


Mata Henny nampak bersemangat dan yakin bahwa ia sanggup melewati malam tanpa tidur demi berpatroli.


“Baiklah, lakukan tanggung jawabmu hari ini dulu.”


“Baik kapten!!”


*


*


*


Seperti yang Henny mantapkan kemarin, bahwa ia akan melakukan pekerjaannya di malam hari di markas militer wilayah pelabuhan kota Crystallo itu karena hari ini ia kembali lagi berdiri di depan pagar kediaman keluarga Florence yang sebenarnya terletak cukup jauh dari lokasi Henny magang. Cara Henny datang tak lain adalah menaiki kereta kota dan beberapa kali transit. Semua cara akan ia lakukan demi mendapat jawaban yang ia inginkan. Begitulah prinsip Henny.


Rumah megah dengan nuansa serba putih dengan taman bunga yang cukup luas di halaman depan. Mata Henny cukup dimanjakan dengan pemandangan arsitektur indah dari kediaman Florence ini, namun pikirannya hanya mengarahkannya pada sebuah jendela di sudut lantai dua sebelah kanan dengan gorden marun itu. Nampak tertutup rapat dan mencurigakan.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang pelayan wanita muda menghampiri Henny di depan pagar.


“Saya ingin bertemu dengan Servio Dominic Florence.” ucap Henny tenang.


“Maaf, apakah anda sudah memiliki janji dengan tuan muda?”


Henny tidak jadi membuka mulut, kemarin pria itu tidak menerima satupun tamu. Hari ini malah harus membuat janji.


“Tidak ada, tapi saya ingin berbicara penting dengan Servio.” jawab Henny seadanya.


“Jika begitu, maaf nona. Saya tidak dapat mempersilahkan anda masuk dan menemuinya.” jawab pelayan itu tegas.


Henny tidak akan berhenti di sini. Ia masih terdiam dan melongo ketika pelayan wanita itu kembali ke dalam pagar dan tidak menggubris Henny yang masih berdiri di depan pagar. Mata Henny melihat ke sekitar sementara otaknya sedang berusaha menyusun skenario agar ia bisa masuk dan bertemu dengan Servio.


Perempuan berambut pendek hitam itu langsung menghampiri pintu gerbang dan suara dobrakannya membuat pelayan wanita yang meninggalkannya tadi terkejut.


“Nona!! Tidak bisakah kamu membuat saya bertemu dengan Servio!??” tanya Henny panik sembari menggoyangkan pintu gerbang dan cukup membuat keributan.


“No-nona, saya hanya menuruti perintah tuan muda. Jangan seperti ini!!” tentu saja pelayan wanita itu panik ketika Henny dengan tenaganya mengguncang pintu gerbang dengan mudah.


Hal tersebut otomatis membuat seluruh perhatian para pekerja lainnya melihat apa yang terjadi.


“Tidak bisakah saya bertemu dengannya!? Kenapa dunia ini tidak adil!! Saya adalah kekasihnya!! Tapi tidak diperbolehkan menemuinya?!! Servio!! Apa ini yang disebutkan setelah manis, sepah dibuang?!” tiba-tiba saja Henny langsung menangis keras hingga tak hanya pelayan wanita muda yang meladeninya tadi, melainkan beberapa tukang kebun dan para pelayan wanita yang berada di sekitar halaman depan.


Tepat seperti insting Henny, di balik ruangan ujung kanan lantai dua yang tertutup golden marun itu adalah kamar milik Servio, dimana pemilik kamarnya sedang merebahkan dirinya di sofa kamar dengan menutupi buku di wajahnya. Mendengar keributan suara gerbang yang seperti terguncang membuatnya terusik dan bangun.


“Apa pagar rumah ini sudah terlalu tua sehingga angin mampu mengguncangnya?” tanya Servio heran sembari jalan menuju jendela dan menyibak gordennya.


Betapa terkejutnya gerbang rumahnya menjadi ramai hanya karena seorang wanita mudah sedang mengguncang pintu gerbangnya tak lain adalah Henny.


“Tuan muda!! Ada seorang wanita mengaku kekasih anda dan akan bunuh diri jika anda tidak menemuinya!” dua orang pelayannya berteriak dari balik pintu kamar Servio menyampaikan kekacauan yang mata Servio lihat saat ini.


“Wanita gila itu! sejak kapan kami menjadi kekasih!?” tanpa pikir panjang Servio langsung keluar dari kamarnya dan menuju gerbang depan rumahnya.


Sementara itu, kekacauan akibat ulah Henny masih belum ia hentikan dan wanita itu sibuk mengguncang pintu gerbang dengan air mata palsu yang nampak nyata.


“Servio!! Bagaimana bisa kamu meninggalkanku!! Setelah semuanya terjadi kamu membuangku!!??” seru Henny dengan tangisan tersedu-sedunya. Dampaknya seluruh pelayan rumah Servio tak mampu mengalahkan seruannya meski berapa kalipun ditenangkan.


“Nona, tenanglah… kami mohon tidak membuat keributan...”


Sayang sekali Henny tidak akan menuruti begitu saja sebelum apa yang ia inginkan hadir ke depannya.


“Servio!! Aku tidak akan pergi sebelum aku bertemu dengannya dan meminta pertanggungjawabannya!!”


“Memangnya apa yang harus aku pertanggungjawabkan padamu?”


Situasi yang ramai menjadi hening seketika, bahkan Henny berhenti mengguncang pintu gerbang dan menghentikan tangisan palsunya. Seluruh mata langsung mengarah pada pemeran utama yang dicari, pria itu muncul dengan mengenakan kemeja putih panjan dan celana hitam panjangnnya serta surai panjannya yang terurai begitu saja. Sorot mata pria itu tetap malas seperti biasa bertemu dengan mata Henny yang berair.


Seluruh pelayan yang menghalangi Henny membuka jalur untuk Servio maju mendekati Henny.


“Aku tanya sekali lagi padamu, apa yang harus aku pertanggungjawabkan padamu?” tanya Servio dingin.


Tangan Henny tak sulit langsung meraih kerah kemeja Servio dan mendekatkan wajah pria itu dengannya meski keduanya dibatasi oleh besi pagar.


“Tentu saja ada.” jawab Henny tak kalah dingin.

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2