
Malam itu terasa sangat panjang dan sulit sekali untuk benar-benar terlelap, terlepas dari posisi yang paling nyaman sekali. Kegelisahan seolah tak mau meninggalkan sedetikpun dan membuat mimpi seseorang yang tidak sehat itu menjadi aneh.
Jika bisa Ree jelaskan, mungkin seperti sebuah pertemuan dan perpisahan yang digabung jadi satu. Ia tidak bisa mengeluarkan kata-kata larangan ataupun sapaan saat matanya hanya melihat sosok yang samar namun seolah tak mengenalnya. Anehnya saat ingin menghampirinya, terdapat rantai membelenggu setengah dari kakinya, dari tumit hingga lututnya tertahan oleh rantai yang tertanam di tanah. Tenaga itu, ia perlu dorongan. Sesuatu ataupun seseorang setidaknya harus mendorong Ree untuk mengejar. Hingga saat seluruh rantai terlepas dari tanah meski melukai sebagian besar betis Ree hingga berdarah-darah, Ree akhirnya berlari dan terus berlari namun anehnya tak dapat ia dekati ataupun jarak dengan punggung dingin itu tak sedikitpun terpangkas.
Hingga saat ia terus menerus berlari sampai harus terengah-engah, ia terus berlari. Suaranya tak bisa keluar meski sudah dicoba beberapa kali dan sekuat tenaga. Hingga saat sebuah memori dunia nyata mengingatkannya dalam dunia bunga tidur itu. pertanyaan yang mengarah pada tindakannya ini.
“Jika ia benar peduli dan menghargai niat baikmu, dia pasti sudah lama mendengarmu.” Rantai belenggu itu muncul lagi dalam tanah kembali melilit kedua betis Ree hingga membuatnya tersandung bersamaan ucapan Viovarand yang membekas dalam ingatannya.
Saat ia tersandung, disitulah Ree membuka matanya dengan cepat karena ia berhasil keluar dari dunia mimpi.
*
*
*
“Barang-barangnya sudah dinaikkan?” tanya Bianca saat Smith kembali setelah mengawasi barang-barang mereka yang akan dinaikkan ke kereta yang menuju Crystallo sore itu.
“Tentu saja ibu. Semua baik-baik saja. Bagaimana kalau kita naik saja? Sebentar lagi kereta akan berangkat.” Smith melihat arloji di pergelangan kirinya untuk memastikan kereta akan berangkat tepat waktu. Sengaja mereka mengambil kereta sore agar cukup larut malam mereka tiba dan tidak membuat keributan di kediaman.
“Smith, apa kamu ada meninggalkan sesuatu di kediaman Lumen?” sebelum berangkat Bianca tiba-tiba berbicara seperti itu dan membuat Smith bingung.
“Tidak,” Smith terlihat terkejut ketika melihat seorang wanita dengan menjinjing kopernya yang cukup berat tengah berlari melalui banyak orang dan mengatakan kata maaf ketika tak sengaja menyenggol seseorang lalu kembali berlari karena terlihat objek yang dituju sudah nampak.
“Nona Ree??” tanya Smith tak menyangka dengan wajah yang masih pucat dan berkeringat cukup banyak datang dihadapannya.
“Maafkan saya nyonya Cali dan tuan Smith, aku nampak terlihat memalukan seperti ini… haahh,” Ree benar-benar kehabisan napas dan mencoba mengatur agar lebih tenang. Selain koper, digenggaman tangan kirinya terdapat sebuah tiket kereta yang ronyok karena tangannya meremas terlalu keras.
“Biarkan saya ikut ke Crsytallo!” tegas Ree namun tidak ia mengeluarkan suara keras agar tak terlalu mengganggu orang disekitar.
“Setidaknya biarkan saya benar-benar menyampaikan perpisahan dengannya.”
Seolah langsung tahu siapa yang dimaksud oleh Ree, Bianca sempat tercengang. Tentu saja Bianca tahu apa yang terjadi.
“Ibu masuk duluan.” ucap Bianca tak ingin mendengar pembicaraan Smith dan Ree.
“Ree, apa yang kamu pikirkan? Kamu masih belum sehat. Bukankah sudah aku katakan untuk serahkan sisanya padaku?” tanya Smith masih tak menyangka akan tindakan Ree.
“Bukan begitu tuan Smith, aku juga percaya denganmu. Tapi diantara kami berdua ada yang harus diselesaikan. Sekali saja, aku harus bertemu dengan Frigid.”
Smith menjadi mengerti sebenarnya ada apa lagi yang ada diantara Frigid dan Ree sehingga keduanya nampak cukup terikat satu sama lain dan kini Ree datang untuk mengakhiri dengan jelas keterikatan diantara mereka berdua.
Ree seolah tahu prediksi yang akan terjadi lebih dari 70% prediksinya akan percuma. Meski begitu, ada sesuatu yang mengganjal di benak Ree.
“Tapi aku tidak ingin kamu menangis karena anak kecil itu. Itu membuatku merasa seratus kali bersalah.”
Meski tidak bisa menjamin akan ada air mata atau tidak, tekad Ree tidak akan berubah.
“Itu ulahnya, bukan dirimu tuan Smith. Itu salahnya, bukan salahmu. Mengapa kamu harus menanggung rasa bersalah itu? Jelas kamu sendiri yang mengatakannya padaku kemarin.”
Pada akhirnya Smith tidak bisa melarang orang yang telah membeli tiketnya sendiri dan berlari ditengah kondisi fisiknya sebenarnya tidak baik. Bahkan Ree yang seharusnya berada di gerbong ekonomi, Smith ajak untuk satu ruangan dengannya di gerbong VIP bersama dengan ibunya juga. Bianca sendiri sama sekali tidak mempermasalahkan kehadiran Ree dan meminta Ree bersikap senyamannya saja.
*
__ADS_1
*
*
“Apa Ree tidak akan berangkat dengan kita besok pagi?” tanya Servio saat ia selesai berkemas dan bertemu dengan Liliana di dapur tengah makan malam sendirian.
“Tadi siang Henny menemuiku dan mengatakan bahwa Ree sudah lebih dulu pergi ke kediaman utamanya. Ada yang ia urus di sana sebelum kembali ke akademi.” ucap Liliana acuh, sebenarnya ia sudah lelah dengan sikap Ree.
“Kamu tahu Servio, jika pria itu bukan sesuatu yang berharga untuk kerajaan, mungkin tidak perlu berpikir panjang aku akan membedahnya lalu mengeluarkan semua organ dalamnya karena berbuat terlalu egois seperti ini.” ucap Liliana sembari meremas sendok peraknya dan menatap tajam ke arah kulkas yang tak bersalah.
Itu mungkin sebuah kalimat omong kosong karena tak mungkin bagi Liliana untuk melakukannya, namun cukup membuat Servio tercengang dengan pandangan seseorang seperti Liliana terhadap Frigid.
*
*
*
Kereta yang membawa Ree sudah sangat jauh dari stasiun Litore dan hari pun sudah menjelang malam, saat ini hanya ada ia dan Bianca dalam ruangan VIP itu sementara Smith keluar sebentar ke kamar kecil. Tak mudah bagi Ree ingin membangun suasana yang nyaman meski ia diminta nyaman. Bagaimana bisa, ketika ia hanya membeli tiket ekonomi dan malah pindah ke gerbong VIP dimana setiap pemesan tiket memiliki ruangannya sendiri.
“Apa kamu cemas?” tanya Bianca saat melihat gelagat Ree yang sebenarnya sangat nampak karena beberapa kali Bianca menangkap Ree memainkan jemarinya dengan gelisah dan terus menatap ke arah jendela. Gadis muda yang duduk di seberangnya saat ini benar-benar memiliki mental yang cukup kuat hingga Bianca sendiri tidak percaya.
“Ah, tidak juga.”
Sebenarnya tidak begitu, Ree tahu kecemasan tidak akan menyelesaikan apapun, namun jika bisa ia berlari lebih cepat dari laju kereta yang didorong dari tenaga uap batu bara ini, mungkin sudah ia lakukan sejak tadi.
“Kenapa kamu ingin bertemu dengannya?” tanya Bianca yang sebenarnya tidak bisa menutup rasa penasarannya dari tindakan Ree.
Sampai detik dimana ia bertemu dengan Ree dengan segala niatan baik perempuan itu. akhirnya hari ini semenjak hari pertama ia mengabaikan dan menghapus Frigid dari ingatannya.
Segala pertemuan dan kejadian, sejujurnya Ree tidak tahu kenapa ia lebih sering terlibat dengan Frigid. Tapi, sejak ketakutannya orang yang pertama menyadarinya adalah Frigid, orang yang ingin mengusirnya juga Frigid, dan kadang orang yang menolongnya saat masa sulit adalah Frigid.
Ree tidak mungkin akan mudah beradaptasi jika ia tidak biasa dengan hadirnya Frigid meski kadang terasa sangat misterius kehadiran orang itu.
“Meski hanya beberapa bulan bertemu di akademi karena pertukaran pelajar, kami berdua lebih banyak bertengkar dan selisih pendapat satu sama lain. Tapi kadang juga saling membantu. Caranya pergi kemarin benar-benar buruk, karena itu saya ingin menemuinya lagi meski harus berusaha dengan keras.”
Frigid, putranya yang sudah Bianca abaikan selama bertahun-tahun. Di belakang punggung pria itu masih ada orang yang bersedia berdiri dan mendukungnya. Padahal seharusnya anaknya itu sudah mati, tapi sekelilingnya tidak menganggapnya begitu.
“Nyawa seseorang sepertiku sebenarnya terletak pada hidup anak-anakku dan keputusan itu sudah membunuh sebagian dari nyawaku.” Ree bisa melihatnya, separuh nyawa yang hilang itu cukup nampak mencolok di fisik Bianca, rambut hitam yang semakin tipis dan memutih dengan seiringnya usia menambah keriput di wajahnya yang jarang diterpa oleh sinar matahari, bahkan Ree yakin bahwa nafsu makan Bianca mungkin tidak seperti orang biasanya. Tubuh yang kurus itu bertahan sampai detik ini menahan segala penderitaan ketika separuh nyawa yang hilang. Menopang dengan keras untuk bertahan hidup.
“Aku sudah menganggap anak itu mati bahkan membuat sebuah makam untuknya. Karena semenjak hari itu, itulah hari kematiannya.” Ucap Bianca pelan mengeluarkan segala fakta yang terjadi di kediaman Cali.
Kegilaan yang didengar Ree seolah merupakan karangan cerita, tetapi jika melihat dari amarah Frigid ketika tahu Ree bertemu dengan Bianca, itu yang membuat Ree percaya.
“Bagaimanapun juga, rasa benciku tidak akan pernah berubah, baik itu pada suamiku sendiri, Agnesia, bahkan anak itu,”
Apa yang mata Ree lihat saat ini adalah seorang ibu yang sulit menerima kenyataan yang terjadi, seorang manusia yang tidak bisa mengalahkan manusia lainnya, berusaha menyembuhkan luka seorang diri dengan melupakan semuanya. Perasaannya sebagai seorang ibu terasa sudah mati, sejak hari dimana ia mengganggap anaknya tiada.
Itu menyedihkan, Ree tidak bisa menangis saat ini karena ia menghormati keputusan Bianca. Jika ia menangis, siapa yang terlihat kasihan disini? Ree ingin mencoba mengerti bahwa sebenarnya Bianca berusaha bertahan hidup dengan caranya sendiri.
“Kamu tahu nona Ree? bahwa tidak ada salahnya mengucapkan kata perpisahan dengan benar.” Tiba-tiba Smith muncul menyambung pembicaraan berat antara ibunya dan Ree.
“Sejak kapan kamu suka menguping pembicaraan wanita?” tanya Bianca terlihat risih ketika Smith muncul dengan senyuman isengnya lalu duduk disampingnya dengan santai.
__ADS_1
“Aku suka saja, ketika ada topik pembicaraan yang menarik, disitulah aku akan berada.”
Itu terdengar kurang aja di telinga Bianca, tapi menggelikan bagi Ree.
*
*
*
Seperti yang diprediksi, bahwa kereta api dengan tenaga uap itu datang ke Crystallo tepat setelah tengah malam berlalu. Sempat Ree tertidur sebentar di dalam kereta dengan nyenyak lalu dibangunkan secara pelan oleh Smith mengatakan mereka sudah tiba di Crystallo. Setelah sekian lama tidak menginjakkan kakinya di stasiun kereta Crystallo, akhirnya Ree bisa tiba meski udara dingin subuh itu membuatnya hampir mengigil.
Tak lama mereka menunggu, jemputan dari kediaman Cali yang diminta oleh Smith sudah tiba.
“Ini pertama kalinya kamu mengunjungi kediaman kami ya Ree.” ucap Smith saat mereka bertiga sudah tiba di depan pintu kediaman utama keluarga Cali.
“Itu benar.” Ree menatap Smith dengan tersenyum, dalam benaknya ia masih tak percaya akan datang dan ingin menemui Frigid langsung ke rumahnya seperti ini.
“Ibu akan siapkan kamar untuk Ree, Smith kamu tidak perlu khawatir.” ucap Bianca sembari meminta Smith pergi ke kamarnya saja.
“Ree, selama diperjalanan aku sudah memikirkan dimana kamu akan tinggal di rumah ini. Karena kedatangan kita di tengah malam pasti tidak banyak orang tahu. Apa besok kamu akan langsung menemuinya?” tanya Bianca.
Tidak terpikirkan oleh Ree sebelumnya tentang bagaimana ia bisa bertemu dengan Frigid di kediamannya ini. Pertengkaran kecil diantara mereka membuat Ree sadar bahwa ia sudah cukup jauh melangkah seperti ini.
“Saya rasa kamu tidak perlu terburu-buru Ree,” Bianca juga bisa melihat kecanggungan Ree dari gelagatnya.
“Kamu akan ada di kamar tamu di sekitar kamarku saja, karena di sana lebih aman dari orang-orang suamiku.”
Ree bahkan tak sempat untuk tercengang ketika mendengar ucapan Bianca, di kediaman sebesar ini, ternyata mereka memiliki wilayah masing-masing, pantas saja Smith diminta pergi karena wilayah kamarnya cukup jauh dari ruang tamu.
“Kamu adalah tamu pribadi Smith, jika di gedung tempat Smith kamu tinggal, itu akan membuat orang curiga dan menyebar gosip yang tak nyaman. Jadi tinggal bersamaku saja.” ucap Bianca.
Benar saja, Ree diajak masuk ke lebih dalam seluk-beluk kediaman Cali, sebuah gedung yang tersambung dengan ruang utama oleh koridor panjang membawa Ree dan Bianca ke sebuah tempat yang disebut dengan ‘wilayah’ Bianca. Terdapat dua kamar dan ruang bersantai dimana kamar kosong itu sudah disiapkan dengan baik oleh pelayan Bianca dan menjadi tempat beristirahat Ree di kediaman Cali.
“Nyonya Cali, terima kasih sudah menyediakan tempat untuk saya dan atas segala bantuan.” Sebelum Ree istirahat ia sempat menghampiri kamar Bianca sebentar untuk berterima kasih. Perjalanan panjang hari ini jujur membuat Ree merasa sangat lelah baik tubuh dan pikirannya.
Sudah sejauh ini dan Ree tidak tahu akhirnya akan seperti apa.
Bayangan-bayangan dimana ia akan kembali kecewa dan tidak lagi dipedulikan, sempat kadang membuat Ree kembali memikirkan ulang tindakan gilanya ini.
Lantas, memangnya kenapa jika benar akan begitu? Bukankah semua tindakan akan ada risikonya? Ree tidak peduli jika pada akhirnya Frigid tidak mau melihatnya lagi. Meski begitu, Ree sangat ingin mendengar dari mulut Frigid bahwa pria itu sebenarnya ingin hidup sampai akhir tanpa membenci hidupnya sama sekali.
Meski tidak akan bertemu lagi, setidaknya Ree ingin meyakini bahwa Frigid hidup dan tahu bahwa banyak orang yang mendukung dirinya.
Ree sempat berhenti berpikir dan lama terdiam.
Apa benar itu yang ingin ia dengarkan dari Frigid?
Lantas, sebenarnya apa yang ingin Ree katakan?
Cukup memalukan untuk mengakuinya, ketika Ree sebenarnya sadar bahwa ia tidak ingin kehilangan padangannya pada Frigid, bahwa sebenarnya ia tidak ingin pria itu hidup di belahan bumi lain.
Bahwa sejujurnya pada dasarnya Ree benar-benar tidak bisa melepaskan Frigid dari perhatiannya dan perasaan egois itu yang membuat Ree harus melangkah sejauh ini meski segelintir harapan bisa terjadi keajaiban.
__ADS_1
Lagi-lagi, malam itu Ree tidak bisa tidur dan suasana asing di kamar itu membuat rasa kantuk Ree sama sekali sulit untuk datang.
To Be Continued.