
Bagaimana ini, apa yang harus Ree lakukan dengan keadaan seperti dunia akan berakhir ini. apa yang ada di kepalanya hanyalah ingin cepat sampai ke tempat pengungsian dan menyelamatkan Lie yang tengah ingin bersalin.
“Nyonya Lie, bertahanlah sebentar!! Kita akan secepatnya sampai!!” seruan Ree mengisi kesunyian di antara mereka.
Wajah Ree terlihat sangat pucat karena panik dan tak ingin terjadi apa-apa terhadap Lie. Karena bagaimana pun juga, Ree malah ikut bersama Lie ke tempat berbahaya seperti ini.
“Nona Ree… tenanglah… ini masih pembukaan pertama…huuffhh…”
Dan satu lagi permasalahannya, bagaimana bisa Lie malah terlihat santai sementara bayinya akan keluar sebentar lagi.
“Nyonya Lie… meskipun demikian, tapi saya tidak bisa membiarkan anda bersalin di atas perahu terlebih saya bukan orang yang memiliki pengalaman dalam membantu orang bersalin.” ucap Ree heran.
“Hufftt… nona Ree, fokus saja mendayung. Saya masih bisa bertahan… tenang saja…”
Meski diminta untuk tenang, Ree tetap sulit mengatur perasaannya. Saat ini terdapat dua nyawa dalam bahaya. Oleh karena pertimbangan itu, Ree memaksa dirinya untuk tidak tenggelam dalam ketakutan dan menguatkan diri untuk bergegas membawa kembali Lie.
*
*
*
Cuaca dari arah desa nampak sangat buruk dari arah dermaga tempat perahu-perahu milik satuan penyelamat disandarkan. Hal itu jelas di mata Frigid yang akan ikut menyelusuri desa yang terkena banjir itu untuk mencari Ree dan Lie yang diketahui pergi ke arah desa.
Angin yang bertiup tak kalah kencang hingga membuat gelombang sungai menjadi besar. Belum lagi angin itu datang membawa rintik hujan kecil yang mana akan menjadi deras dalam waktu yang dekat ini.
“Apa semua lokasi pengungsian sudah ditelusuri?” tanya salah satu komandan angkatan laut yang akan ikut turun bersama beberapa orang.
“Sudah pak! Dapat diyakini bahwa dua orang wanita masuk ke arah desa.” Jawab salah satu anak buahnya.
Ree, kali ini masalah besar malah dirimu yang terlibat di dalamnya, pikir Frigid.
Kehilangan satu relawan wanita dan seorang ibu hamil tentu menghebohkan para relawan lainnya. Dalam situasi bencana ini semua orang mengharapkan dapat meminimalisir korban dan dampak yang dibuat bencana. Oleh karena itu, separahnya korban jika masih ada harapan hidup dan tidak ditemukan meninggal, pasti akan diselamatkan.
Namun situasi yang dihadapan Frigid saat ini malah terlihat kacau.
Bagaimana bisa wanita itu hilang dan pergi menuju lokasi bencana??
“Lapor pak! Satu perahu nomor 14 tidak ada!”
Dari laporan itu sudah semakin menguatkan bahwa benar adanya orang yang pergi menuju desa.
“Baiklah! Bersiap berangkat!!” titah sang komandan yang memimpin pasukan, termasuk Frigid di dalamnya.
“Tunggu pak!! Saya meliha satu perahu melaju ke arah dermaga dari jalur masuk desa!” seru seorang prajurit yang tengah mengawasi sekitar sungai dengan teropongnya dan menangkap objek dari kejauhan itu.
Semua orang tidak jadi masuk ke dalam perahu mereka dan memusatkan perhatian pada objek yang dimaksud.
Benar saja, perahu bernomor 14 itu nampaknya tengah melesat mengikuti arus sungai yang sudah cukup deras dan mengarah lurus menuju dermaga.
“Berapa orang di atas perahu?!”
“Tiga orang pak! Satu wanita hamil, satu anggota relawan dan satu seorang nenek!”
Tiga?! Frigid ikut menatap kedatangan perahu yang didayung Ree itu dengan sangat cepat. Benar saja, tiga orang di atasnya dan wajah Ree nampak sangat pucat sekaligus bahagia bisa mendayung sampai ke dermaga.
“Oh!! dermaga!!! Nyonya Lie!! Nenek!! Kita sudah hampir sampai di dermaga!!! Bertahanlah sebentar lagi!!!” seru Ree bersemangat tanpa peduli ia seperti tidak merasakan apa-apa dari tangannya karena sibuk mendayung dan sudah nampak basah kuyup karena sempat terkena hujan.
Sejujurnya Ree bisa lebih cepat sampai dalam keadaan kering, namun di tengah perjalanan ia dan Lie malah mendengar suara minta tolong dari sebuah rumah di ujung desa. Karena kesunyian desa yang terendam banjir, membuat suara itu sampai ke telinga mereka. Meski awalnya takut, namun keduanya cukup memberanikan diri dan malah menemukan seorang nenek yang berada di lantai dua rumahnya yang sudah terendam banjir.
Mungkin itu suatu kebetulan yang dikatakan untunglah Ree pergi ke sana. jika tidak, Ree bahkan tidak mau membayangkan apa yang terjadi pada nenek yang tengah membantu Lie yang mau bersalin saat ini dengan menenangkannya.
__ADS_1
“Maaf atas keteledoran saya!! Tapi tolong ibu yang mau bersalin ini dan nenek yang baru kami evakuasi!!” sesampai di dermaga Ree harus dikejutkan dengan ramainya orang seperti menunggu kedatangannya. Ree merasa bahwa tatapan yang diberikan padanya sangat tidak nyaman karena bagaimana pun juga ini merupakan kesalahan telak Ree.
Ree sudah memikirkan ini dari awal dan sedang menyiapkan mental dirinya.
“Wanita itu…” cibir Frigid geram.
*
*
*
“Nona Lumen, ini merupakan peringatan pertama dan terakhir. Perbuatanmu tadi sama sekali tidak dibenarkan. Apapun alasanmu membawa nyonya Lie kembali ke desa itu merupakan kesalahan besar. Situasi bencana sedang parah-parahnya, bahkan pihak yang patroli rutin ke sana mengatakan tempat itu belum dapat dikunjungi.”
Tanpa menunggu lama, setiba Ree di lokasi pengungsian ia langsung di sidang oleh beberapa orang yang berwewenang terutama komandan angkatan laut yang membawanya dari Litore. Ree tentu tidak akan bicara hal yang tidak perlu sebagai pembelaan, karena saat ini apapun alasannya tidak akan diterima.
“Meski begitu, kamu berhasil mengevakuasi seorang warga yang merupakan ketidaktelilitian petugas sebelumnya. Namun, bukan berarti itu bisa menjadi pembelaanmu, kamu akan dipindahkan tugaskan dari tenda ibu hamil ke bagian umum dan tentu saja diawasi oleh seseorang yang saya tunjuk. Bersyukurlah kamu tidak kami pulangkan hari ini juga.”
Jujur saja, perasaan Ree bercampur aduk saat ini. jantungnya begitu berdebar, dimana ia mendengar Lie melahirkan bayi perempuannya dengan selamat dan nenek yang mereka selamatkan itu sudah melewati masa kritisnya.
Setelah satu jam diceramahi di dalam tenda petugas, Ree keluar dengan merasa pikiran dan hatinya terasa berat. Saat ia menyibak pintu tenda, wajahnya yang tertunduk menatap ujung sepatu yang mirip dengan dirinya, namun memiliki ukuran lebih besar. Setelah perlahan ia angkat wajahnya baru ia paham siapa yang sedang menatapnya dengan mata seperti ikan mati, namun juga menyimpan rasa marah?? Atau semacamnya, begitu??
Orang itu jelas saja Frigid. Berdiri di depan tenda petugas, seolah menunggu keluar Ree dan langsung berada di hadapan wajah Ree saat wanita itu keluar dari ruang sidang.
Apa lagi ini? apa sidang ronde kedua? Begitulah yang ada dipikiran Ree saat ini ketika melihat wajah Frigid nampak tak bersahabat.
Ree sendiri tidak pernah mengingat kapan wajah Frigid tampak bersahabat.
“Nampaknya banyak hal yang ingin kamu katakan, ehe…?” dan dengan canggungnya Ree malah tersenyum menghadap wajah Frigid yang sudah dipastikan bahwa pria itu ingin memberi peringatan pada Ree.
Pantas saja seluruh murid di La Priens segan dan tak ingin memiliki masalahnya dengannya.
*
*
*
“Tentu saja, akademi La Priens itu selalu siap dalam menyediakan tempat untuk para murid magang. Jadi Ree pasti tinggal di sini.” jelas Servio mengenalkan Henny pada sebuah tempat tinggal yang mana biasanya dipakai para murid La Priens untuk tinggal ketika melaksanakan magang atau pekerjaan akademik.
Sesampai di Litore, Henny sendiri tidak sempat pergi ke asrama karena ia mengantar Servio terlebih dulu lalu akan pulang setelahnya. Hari sudah cukup gelap dan Henny lelah hingga berpikir hanya ingin tidur saja.
“Tunggu dulu, kenapa kalian ada di sini?” tanya Liliana pada dua orang yang berdiri di depan pagar tempat ia tinggal di Litore.
Servio yang sudah tahu Liliana berada di Litore nampak tak terkejut.
“Terlebih kamu! Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Liliana langsung menunjuk Servio dan menatap pria itu tajam.
Liliana nampak baru saja kembali dari laboratorium, itu terlihat dari jas putih panjangnya yang ia letakkan begitu saja di atas bahunya dan tas jinjing yang biasa ia bawa kemana-mana.
Henny nampak menyadari situasi Liliana dan Servio tidak akrab membuatnya maju menengahi mereka.
“Maaf, aku adalah Henny temannya Ree. Kamu pasti mengenalnya. Aku hanya mengantar pria ini menuju tempat tinggal para murid La Priens saat magang.” Jelas Henny.
“Henny, kamu tidak perlu menjelaskan sedetail itu.” cibir Servio malas.
Henny tersenyum canggung pada Liliana yang tengah bingung, lalu melirik tajam Servio untuk menyuruhnya diam dan menutup mulut saja. Menyadari kode itu, Servio hanya mengikut saja meskipun ia tidak tahu kenapa ia harus melakukannya.
“Henny, ahh… Ree pernah bercerita tentangmu. Salah kenal, aku Liliana.” Ucap Liliana menjabat tangan Henny dengan akrab, lalu tak lama matanya kembali menatap tajam pria yang berdiri di belakang Henny itu.
“Lalu, kenapa kamu malah bersedia mengantar pria ini? seharusnya biarkan saja ia sendiri dan tersesat.” ucap Liliana tak bisa dikatakan menyambut keadatangan Servio dengan ramah.
__ADS_1
“Ceritanya panjang, daripada itu apa Ree ada di sini?” tanya Henny sedikit ingin mengalihkan perhatian Liliana dari hasrat membunuh Servio itu.
“Ree? Ahh… ia dan Frigid tengah menjadi relawan di sebuah pulau saat ini. Kira-kira seminggu baru mereka akan kembali ke Litore. Frigid sialan!! Jika saja aku tidak menerima projek di laboratorium…” ucap Liliana yang masih tak terima keberangkatan Ree dan Frigid baru-baru ini karena ia sebenarnya tidak rela jika Ree harus pergi dan terlebih pergi bersama Frigid.
“Apa!!? Bersama Frigid?!” tanya Servio yang tiba-tiba saja meninggikan suaranya hingga membuat kedua wanita yang bersamanya itu menatapnya heran.
“Itu benar? Apa kamu punya masalah dengan itu? seingatku, aku yang ingin membereskan suatu masalah denganmu karena sudah membuat Ree seperti mayat hidup akhir-akhir ini.” ucap Liliana geram sembari meregangkan jari-jarinya.
“Tunggu dulu Liliana, kedatangan Servio ke sini juga bukan hanya ingin magang semata.” Lagi-lagi Henny mencegah Liliana untuk menghajar Servio.
“Henny, sudahlah, itu merupakan urusanku dan Ree.” ucap Servio malas.
Henny langsung memutar tubuhnya dan menarik kerah baju Servio.
“Haa… masalah tidak akan selesai jika kamu bertindak sendirian. Setidaknya diam dulu, atau aku akan membiarkan Liliana menghajarmu.” ancam Henny geram.
Ada satu waktu dimana Servio sedikit menyesali kedatangannya ke Litore meski untuk yang pertama kalinya.
“Itu benar!! Masuklah dan jelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya atau aku akan membedahmu saat ini juga!!!” bahkan saat ini Liliana sudah mengeluarkan sebuah pisau bedah dari tasnya pada Servio.
Sampai-sampai aksi ketiga orang ini malah menjadi perhatian orang-orang lewat.
Servio tidak mempermasalahkan jika dirinya dihajar oleh Liliana dan Henny secara bersamaan, namun jika melakukan di luar seperti ini akan jadi hal yang memalukan.
Jadi, ketiganya sadar diri dan langsung masuk ke dalam rumah.
*
*
*
Entah bagaimana Henny bisa menggambarkan kekacauan di depan matanya saat ini dengan kata-kata.
Liliana sudah meraih kerah sweater Servio dah hampir menempelkan jidat mereka berdua, sementara Servio ikut menatap tajam wanita yang nampaknya benar-benar akan membunuhnya saat ini.
“Kamu mengambil keputusan gila itu dan tidak memikirkan perasaan orang, lalu dengan tidak tahu malunya kamu datang kemari dengan alasan magang, Servio…” Liliana semakin merasa geram ketika perasaan khawatirnya selama ini benar-benar memiliki alasan yang sangat kuat.
Henny dan Servio sudah menceritakan apa yang terjadi pada Ree dan Servio, juga apa yang menjadi trauma bagi Ree. Hal itu tak dapat lagi menahan Liliana untuk langsung naik ke atas meja tamu dan meraih baju pria yang duduk bersebrangan dengannya saat ini.
Sejak awal Henny sudah khawatir jika Liliana akan seperti ini, namun ia juga tidak menyangka, kemarahan Liliana sangat mirip dengannya. Membuat Henny yang awalnya takut memberitahu Liliana menjadi sedikit lega.
“Aku tahu dan sadar atas kesalahanku. Oleh karena itu aku kemari dan ingin meminta maaf dengan caraku.” jawab Servio masih dapat dikatakan tenang.
“Liliana, tidak akan selesai jika kamu murka saat ini. setidaknya sisakan porsi untuk Ree menghajarnya nanti.” Mau tidak mau Henny kembali melerai Liliana dan Servio agar tidak terjadi kekesaran dalam bentuk apapun.
Tapi, sudah terjadi saling perang kata.
“Kenapa kalian berharap sekali aku dihajar? Apa masalah kalian denganku?!” protes Servio dan mendapat respon kompak dari Liliana serta Henny langsung menatapnya tajam.
“Diam! Kami sedang menahan diri saat ini!” ucap Henny.
“Lebih dari itu, Ree akan berada di pulau yang jauh dari sini selama seminggu atau bahkan lebih tergantung dengan situasi di sana. selama itu kamu harus pikirkan cara meminta maaf yang baik padanya… dan aku tidak bisa membiarkan pertunangan kalian terjadi…” timpal Liliana cukup serius dalam menentang pertunangan antara Servio dan Ree.
Liliana pun pergi meninggalkan Henny dan Servio di ruang tamu menuju ke kamarnya berada. Tentu saja hal seperti ini membuat Liliana terkejut. Kekhawatirannya pada Ree selama beberapa hari belakang benar adanya, bahwa terjadi sesuatu antara Servio dan Ree. Sayangnya Ree tidak ingin memberitahu kesusahan wanita itu dan malah menyimpan segala perkara dalam hatinya sendiri.
Benar-benar mengherankan hati Liliana, kenapa wanita itu sampai menyakiti diri tanpa mau meminta bantuan dari orang-orang terdekatnya?
Liliana terus menatap resah dari jendelanya yang bertemu langsung dengan pemandangan garis pantai Litore yang sudah gelap itu, hanya ada ribuan bintang di langit serta bulan yang tak purnama. Meski suasana tempat ia tinggal cukup ramai, namun deburan ombak di pantai terdengar sampai ke telinga seolah menjadi temannya untuk merenung.
Orang-orang yang pernah kehilangan tentu tahu rasanya ketakutan akan kehilangan, contohnya Liliana.
__ADS_1
To Be Continued.