We And Problems

We And Problems
Chapter 83 : Makam Kosong


__ADS_3

Senja di wilayah pesisir adalah yang terbaik, dimana ufuk barat tempat matahari akan tenggelam membuat dunia menjadi sedikit oranye. Sinar itu cukup kuat dan menyilaukan, tapi udara tak lagi hangat dan berangsur-angsur dingin disusul oleh angin laut yang semakin kencang.


Semakin dekat dengan tujuan tak memperlambat langkah dan melemahkan genggamannya membuat Frigid takjub akan ketetapan hati seorang Ree untuk membawa Frigid pergi ke laboratorium.


Tentu saja kehadiran dua manusia sebaya itu mengejutkan semua orang di laboratorium terutama Yohan dan Yohanna yang masih berada di sana meski sudah sore.


“Kami datang…” ucap Ree sembari melepas genggamannya dari lengan Frigid dan nampak terengah-engah karena membawa anak orang buru-buru ke laboratorium. Senyum Ree tak lebar namun menampakkan bahwa perempuan itu cukup bersemangat dan menunjukkan pada Yohan serta Yohanna bahwa ada secercah harapan dari teman mereka satu ini.


“Frigid kamu datang!” seru Yohan bersemangat dan tak menyangka akan kehadiran Frigid.


“Uhm… kupikir tidak ada salahnya mencoba dan kalian sudah bekerja sangat keras…” ucap Frigid yang juga sedang mengatur napasnya karena diajak marathon belum lama ini oleh Ree.


Yohan tak mengerti bagaimana Ree menyeret Frigid, namun nampaknya keduanya menempuh jarak yang tak dekat.


Setelah beristirahat sedikit, Frigid dibawa ke ruangan Wizzle dan dokter yang bertanggung jawab atas penelitian obat alternatif Frigid itu untuk memeriksa keadaan Frigid.


Frigid bahkan membawa obat yang diberikan Agnesia pada Wizzle agar dapat diteliti lebih lanjut agar dapat menyesuaikan dengan tubuh Frigid ketika menerima obat baru.


“Kamu sudah berjuang sampai saat ini untuk bertahan dengan obat ini. Jelas saja ini adalah obat terlarang di Pulchra dan risiko efek sampingnya lebih parah. Karena itu, kamu akan dikarantina terlebih dahulu sebelum memulai pengobatan. Kami harus melihat reaksi tubuh dan kesehatanmu dalam beberapa hari ke depan.” jelas Wizzle setelah memeriksa keadaan Frigid.


Setelah berbincang dengan Wizzle sebentar, akhirnya Frigid keluar dari ruangan dan menemui teman-temannya yang masih menunggu di koridor.


“Masalah magang, kamu tidak perlu khawatir, aku akan mengurusnya dengan Yohan. Lakukan saja karantinanya dengan baik di sini.” ucap Ree setelah mendengar penjelasan Frigid terkait konsultasinya dengan Wizzle.


“Tapi sebelum aku bersedia di karantina, aku ingin menetapkan sesuatu.” ucap Frigid.


“Sesuatu? apa itu?” tanya Yohanna bingung.


“Iya… kamu…” tunjuk Frigid dengan menatap Ree.


“Aku?” tanya Ree bingung.


“Ree harus tetap di Leafa selama aku karantina dan selama masa pengobatanku. Kamu harus ada di sampingku.”


Bukan karena menyampingkan orang lain yang juga ikut andil dalam usaha menemukan obatnya, tapi Frigid merasa Ree adalah orang yang paling bertanggung jawab atas pilihan hidupnya ini. wanita itu mengatakan kata-kata dorongan serta omelan untuk Frigid, menjelaskan segala kerja keras teman-temannya sampai membuat Frigid sendiri kenyang akan ucapan Ree.


“Tentu saja kamu harus bertanggung jawab atas hidupku.”


Yohan dan Yohanna bahkan tak mau berkomentar karena sepertinya urusan ini di luar kehendak mereka dan membiarkan Ree serta Frigid yang menyelesaikan masalah mereka berdua.


Ree memang menyadari ia banyak menceramahi Frigid, tapi jika ia ikut diseret seperti ini, bagaimana ia bisa kembali ke Litore secepatnya dan melaporkan ini pada Smith?


“Lalu bagaimana dengan di Litore? Ada yang harus aku sampaikan…”


Frigid mengerti apa yang dimaksud.


“Aku akan meminta orang-orangku menemuinya. Kamu tetap disini bersamaku. Kamu tahu, bahwa hidup dan matiku kini berada ditanganmu. Karena kamu yang bersikukuh membuatku melakukan ini semua.”


Seperti yang Margaretha katakan bahwa Frigid punya caranya sendiri menarik perhatian orang yang ia sayangi dan sayangnya Ree sendiri tak menyadari akan maksud dari keputusan gila Frigid itu.


*


*


*


Di saat Frigid mulai membuka dirinya untuk lepas dari belenggu, di sisi lain ada Smith yang masih termanggu di dalam kamarnya menatap dunia luar melalui jendela besar di kamarnya. Ayahnya masih mengamati pergerakannya dan tidak memperbolehkan Smith pergi bekerja. Bahkan sampai absensi Smith di tempat kerjanya sudah diurus oleh ayahnya.


Padahal sebentar lagi Smith harus ke Litore untuk menerima kabar dari Ree tentang kemajuan obat alternatif Frigid.


“Tidak… aku tidak bisa berdiam seperti ini.”


Smith mulai resah, pria bersurai hitam pendek itu beranjak dari kursi nyamannya dan bangkit berdiri. Dia tidak bisa duduk diam dengan mengenakan pakaian rumahan serta bersantai melihat para pelayan rumahnya sibuk mengerjakan pekerjaan rumah, sementara ia berdiam seperti orang bodoh.


Smith tidak mau kalah dari pelayan rumahnya yang punya kesibukan itu.


Karena hanya tidak bisa pergi ke luar kediaman, setidaknya Smith masih bisa menemani ibunya dan menjadi rutinitas barunya, yaitu menemani ibunya hampir seharian.

__ADS_1


“Apa kamu tidak bekerja lagi?” tanya nyonya ibunya, Bianca Cali saat Smith lagi-lagi datang mengunjunginya dan menemaninya minum teh.


Ibu dari dua putra Cali dan nyonya kediaman Cali itu memiliki kulit putih pucat seperti yang ia turunkan ke kedua putranya, rambutnya juga hitam dan panjang meski sudah ada beberapa uban di sana, ia sering disanggul rapi dengan hiasan jepit rambut yang sederhana dan Bianca sangat menyukai mengenakan gaun dan rok yang memiliki lipatan sederhana tanpa ornamen atau corak berlebihan, contohnya pola kotak-kotak adalah yang ia sukai.


“Saat ini aku hanya cuti panjang untuk menyambut musim dingin, terlebih aku jarang menghabiskan waktuku dengan ibu.” timpal Smith. Ia tidak ingin kondisi ibunya semakin menurun kalau tahu bahwa Smith sedang dikurung oleh ayahnya sendiri.


“Benarkah?! kalau begitu kamu bisa menemani ibu hari ini!” dengan bersemangat Bianca bangkit berdiri dan menutup bukunya karena ingin mengajak Smith ke suatu tempat.


“Kemana??” tanya Smith bingung.


“Apa kamu lupa? Setiap hari ibu harus mengunjungi makam Frigid dan memastikan tidak ada kotoran di nisannya.”


Tubuh Smith langsung menegang karena Bianca dengan ringan mengatakan makam orang yang sebenarnya belumlah meninggal. Ia hampir lupa akan sesuatu di rumahnya. Kondisi ibunya sudah memburuk sejak lama dan karena itu, terbangunlah sebuah makam kosong di belakang kediaman Cali dimana nama Frigid terukir di sana.


Makam kosong itu selalu dirawat oleh Bianca setiap hari, memastikan tidak ada rumput atau kotoran di sekitarnya dan selalu mengganti bunga di vas yang ia taruh di sana.


“Kemarin sempat hujan dan membuat nisannya menjadi kotor… kamu pasti tidak menyukainya Frigid. Maafkan ibumu yang payah ini…” ucap Bianca sembari mengelap batu nisan yang terukir nama putra keduanya itu.


Ini memang gila, tapi nyata di mata Smith.


Ibunya yang berbicara dengan makam kosong itu nyata di matanya saat ini.


Smith menggigit bibirnya karena merasa sangat geram akan keadaan yang menimpa keluarganya saat ini. seseorang yang masih bernapas dengan baik, bisa-bisanya dibuatkan makam seperti ini.


Tapi, Smith tidak bisa menyerang ibunya begitu saja. Mengeluarkan kata-kata fakta bahwa Frigid masih baik-baik saja rasanya akan membuat ibunya semakin tak terkendali dan frustasi.


“Ibu…” panggil Smith dari belakang ibunya.


“Hmm??” tanya Bianca yang masih mengganti bunga di vas.


“Bisakah ibu berhenti pergi ke sini??” tanya Smith.


Tangan Bianca langsung berhenti dan tanpa melihat wajah Smith, ia sudah tahu wajah ibunya pasti langsung terlihat seperti orang yang syok.


“Bagaimana bisa ibu berhenti? Dia akan kesepian di sini…” timpal Bianca.


Smith berjalan mendekat dan ikut berjongkok disamping ibunya, merangkul wanita yang ia cintai itu.


Setidaknya Smith ingin, ibunya keluar dari rumah barang sebentar untuk menghirup udara yang lain selain rasa frustasi dan rasa bersalah karena membenci diri sendiri serta keluarga.


“Kemana? Apa ada tempat yang bagus untuk dikunjungi?” tanya Bianca ikut menepuk punggung Smith pelan.


“Bagaimana kalau pantai? Nampaknya menyenangkan.” tawar Smith sembari menatap ibunya untuk mendapat persetujuan.


Smith juga tahu, ibunya menganggap Frigid sudah mati karena keputusan ayahnya menjadikan Frigid sebagai selir dan Frigid dengan maunya juga menggunakan obat yang diberikan Agnesia. Bianca menentang dengan keras dan tak ada yang mendengarkan pendapatnya hingga membuatnya depresi dan membenci suaminya sendiri serta membuang putra keduanya.


Terlebih Agnesia, Bianca tidak akan pernah memaafkan ratu yang memimpin Agnus itu.


*


*


*


Tak mudah bagi Smith akhirnya bisa keluar dari kediaman utama karena membawa ibunya berlibur. Tapi karena Bianca juga, membuat Smith bisa keluar untuk berlibur dan membawa Bianca ke vila keluarga Cali di Litore.


Ya, Smith pergi ke Litore membawa ibunya berlibur di kota pesisir itu.


“Ibu hampir lupa kalau kita memiliki vila di Litore.” ucap Bianca saat mereka sudah turun dari kereta dan melihat kota Litore yang menyambut senja di hari kedatangan mereka berdua.


“Itu karena ibu selalu berdiam di rumah tanpa niat untuk jalan-jalan.”


Tak sulit bagi Smith dan ibunya bepergian ke Litore, karena di sana ada orang-orang Smith yang siap melayani keduanya hingga tiba selamat sampai ke vila keluarga yang tak jauh dari pusat kota dan lebih dekat lagi dengan pantai pribadi mereka dimana Smith dan ibunya bisa menghabiskan waktu sebebas dan seaman mungkin.


Malamnya, Smith menyempatkan dirinya untuk mengunjungi rumah Margaretha. Hal ini bukan tanpa alasan, karena Smith sedang mencari keberadaan Ree dan Frigid yang mana tidak dapat ia temui di Litore. Akan tetapi, ternyata Margaretha tidak tahu dimana keberadaan dua anak itu, hingga saat Smith kembali ke rumah dinas dan bertemu dengan Liliana serta Servio di sana.


“Mereka saat ini sedang menjadi relawan di Leafa dan akan kembali dalam beberapa minggu, atau mungkin dalam dua-tiga minggu lagi…” jelas Liliana saat ia ditanya oleh Smith yang mengunjungi rumah dinas mereka.

__ADS_1


Liliana bahkan sampai mempersilahkan Smith masuk dan menyuguhkan teh untuk kakak Frigid. Karena entah mengapa Liliana merasa pembicaraan mereka akan sedikit panjang. Servio sendiri tidak ingin menginterupsi obrolan itu dan memilih memisahkan dirinya dengan mengurung di dalam kamar.


“Benarkah? Frigid menjadi relawan?” tanya Smith tak menyangka.


Jika Ree, mungkin Smith tidak akan heran, tapi Frigid membuat Smith tidak menyangka karena niatan adiknya itu diluar ekspetasi Smith, terlebih Leafa. Kota itu merupakan tempat obat alternatif Frigid ditemukan.


“Ya… entah apa yang menjadi motivasinya, ia mendaftarkan diri di detik-detik terakhir.” Jelas Liliana.


Penjelasan Liliana sudah sangat cukup bagi Smith untuk memastikan keberadaan dan keadaan Ree dan Frigid. Jika begitu, pastilah keduanya baik-baik saja.


Smith berterima kasih akan itu.


“Tapi aku tidak bisa menebak bagaimana perasaan Frigid, karena sebenarnya ia tidak tahu bahwa ada Yohan dan Yohanna di sana tengah meneliti obatnya. Tapi, di luar itu aku yakin Ree bisa mengatasinya…” entah mengapa Liliana menganggap Ree bisa mengatasi masalah yang ada di Frigid.


“Tidak apa-apa, Ree pasti bisa menangani anak itu… ia tidak secerewet itu meski sedikit keras kepala… nona Liliana aku sangat berterima kasih atas info yang kamu berikan.” ucap Smith senang dan bangkit berdiri untuk kembali ke vilanya karena Smith merasa sudah cukup lama di luar meninggalkan ibunya di vila.


“Tidak masalah, selama itu membantumu.”


Tak lama setelah Liliana menutup pintu rumah, Servio terlihat tengah berada di tangga untuk turun ke lantai dimana Liliana berpijak.


“Kamu mengatakan tidak ingin mendengar percakapan kami, kenapa kamu berada disitu?” tanya Liliana heran.


“Aku baru saja menuruni tangga, bagaimana bisa kamu menuduh aku menguping? Apa kamu gila?”


Sebenarnya Liliana sudah gila sejak dulu, tapi kegilaan yang Servio maksud adalah satu hal yang berbeda.


“Hey,” panggil Liliana saat Servio ingin menuju dapur untuk mengisi ulang teko air putihnya.


“Kenapa?” dengan santainya Servio menoleh.


“Apa perasaanmu pada Ree masih sama sampai saat ini?” tanya Liliana.


Tak disangka oleh Servio bahwa wanita mungil satu itu mengangkat topik yang cukup canggung untuk keduanya bicarakan.


“Memangnya kamu berekspetasi seperti apa? Aku bukanlah remaja tanggung yang bingung dengan perasaan sendiri. Tentu saja tidak mudah berubah begitu saja.”


Meski Ree sudah menolaknya, tapi tidak menjadi alasan bagi Servio untuk menyerah.


Mencintai seseorang seperti Ree memang menjadi tantangan tersendiri untuk Servio. Meluluhkan hati keras dan penuh dengan ketakutan itu tidak semata dilakukan hanya dengan berbuat baik dan banyak berkontak fisik semata, banyak hal yang harus Servio lakukan.


“Tapi aku tidak memaksakannya atas perasaanku. Dibenci oleh Ree adalah hal terburuk bagiku.” ucap Servio apa adanya tanpa menutupi perasaannya yang sebenarnya pada Liliana yang masih di depan daun pintu.


“Seperti yang kamu tahu, saat ini ia dan Frigid tengah bersama. Apa kamu tidak masalah akan hal itu, karena kamu tahu sendiri, bahwa Ree lebih banyak menaruh perhatian pada Frigid. Ya.. aku sendiri tak terlalu menyukai pria pecinta buaya itu.”


Liliana, merupakan wanita bertubuh mungil dan berhati dingin, tapi ucapannya seolah seperti pemantik yang memicu api besar.


“Kamu memancingku?” tanya Servio sedikit kesal.


Liliana tersenyum tipis, namun tidak manis sama sekali. Melainkan menyeramkan, seolah ia merasa sangat senang melihat Servio tersulut akibat ucapannya.


Tapi pria itu tidak membiarkan api bertambah besar dan cepat memadamkannya.


“Aku hanya mengatakan apa yang aku lihat dari Ree. kalau begitu aku harus tidur… selamat malam.”


Kata-kata salam itu sama sekali tidak membuat Servio tersentuh, malah merasa kesal karena tingkah wanita yang tinggal seatapnya saat ini benar-benar membuat kesal Servio, sampai-sampai teko yang ia genggam itu hampir saja dilempar ke dinding untuk pelampiasan amarah.


Tentu saja Servio sudah waspada sejak awal.


Tapi apa daya ketika Frigid dan Ree saling bertemu sebelum dirinya ada di kehidupan Ree.


Frigid juga menjadi perhatian Servio saat seharusnya ia menjalani kehidupan tanpa arti itu, tiba-tiba banyak terlibat banyak hal, bahkan ia dan Servio pernah bertengkar cukup besar karena satu orang.


Servio tahu, gelagat Frigid tidak seperti biasanya.


Pria itu, terlalu sering bersama dengan Ree.


Tidak tahu apa alasannya yang sebenarnya, Servio sendiri tahu bahwa ada yang berbeda dari Frigid.

__ADS_1


Malam itu, Servio sendiri lupa mengisi ulang air tekonya.


To Be Continued.


__ADS_2