
Hari-hari di kelas Berburu habis seperti biasa. Ketika sore menjelang, seluruh murid kembali dengan hasil buruannya. Namun tidak bagi kelompok Ree, mereka kembali dengan tangan kosong dan keadaan Ree yang terluka.
“Apa separah itu keadaannya?” tanya Marco cemas setelah mendengar kabar Ree terluka dan sedang beristirahat di tenda kesehatan.
“Awalnya ia hampir pingsan, namun ternyata tuan Syricie merupakan seorang dokter. Jadi ia sudah mendapatkan pertolongan pertama yang layak.” jawab Liliana ketika ia sedang menyiapkan makan malam dengan membantu kelompok Marco dan Maglina.
“Sulit untuk mengantarnya kembali ke asrama karena wilayah gunung sudah gelap. Jika ia sudah mendapat pertolongan pertama, aku rasa Ree akan baik-baik saja mengingat konsentrasi racun pada panah hanya sedikit.” Maglina datang membawa daging ikan yang sudah ia bersihkan dan siap untuk di bakar.
Masih di lokasi yang sama namun sisi yang berbeda, Frigid dan Alexander nampak sedang menjaga api yang sedang memasak sup untuk makan malam mereka hari ini.
“Aku harap Ree baik-baik saja.” ujar Alexander jelas tertuju pada pria yang sedang memperhatikannya mengatur kayu bakar agar tak membuat api terlalu besar.
“Terluka sewaktu mengikuti kelas wajar saja.”
Alexander tidak mengerti kenapa bisa tercipta seseorang yang dingin seperti Frigid. Luka yang di dapatkan itu, bukankah karena ulah diri sendiri hingga bisa mendapatkannya? Begitulah yang Frigid pikirkan.
Sudah menjadi risiko ketika mengikuti kelas yang tak jauh dari benda tajam seperti saat ini.
Jelas saja, kesadaran diri itu telah Ree rasakan dan pahami. Sejak mendapat luka dan segala efek racun yang masuk ke dalam tubuhnya melalui luka itu, Ree hanya bisa berbaring di tenda kesehatan seorang diri. Saat ini yang ia rasakan dari lukanya selain rasa sakit, juga ada rasa pegal dan kaku. Ree juga kelelahan karena darahnya banyak keluar dan membuatnya sedikit pusing sembari menunggu makan malam tiba.
Matanya melirik ke bawah, dimana tangannya sudah di balut perban kain putih, ia menerima beberapa jahitan di mulut luka berkat Syricie. Siapa yang sangka salah tamunya adalah seorang dokter, Ree sempat merasa ketakutan namun niat menolong Syricie dapat ia rasakan.
Sebenarnya apa yang tengah mengacau dipikiran Ree sehingga ia mendapat luka seperti ini? Ree sendiri tak habis pikir, akhir-akhir ini masalah orang di sekitarnya juga ikut menyeret dia ke dalam. Bahkan orang-orang yang tidak Ree kenal tiba-tiba muncul dan membuat semuanya berantakan. Ree sempat memikirkan Smith yang sebenarnya mencurigakan tingkahnya, lalu tentang racun yang mereka gunakan hari ini di bahas dengan Elleina beberapa hari yang lalu, serta kemunculan Syricie yang Ree pikir sangat tidak wajar tindakannya.
Alasannya untuk berada di kelompok Ree sangat janggal menurut Ree.
“Orang-orang menjadi menyebalkan akhir-akhir ini atau diriku yang sebenarnya bodoh?” tanya Ree pada dirinya sendiri.
*
*
*
“Terlalu banyak awan yang menghalangi matahari serta bulan.” ucap Ghea tiba-tiba.
Yohanna mengalihkan pandangannya dari kartu ke langit sore yang hampir gelap. Bulan dan matahari berdampingan di langit yang sama dan terlihat bersebrangan. Saat ini ia dan Ghea tengah menghabiskan akhir pekan dengan bermain kartu di halaman depan asrama dengan Yohan yang tak jauh sedang berlatih pedang bersama patner latihannya.
“Aku tidak melihat awan di sekitar mereka. Tapi, sore hari ini terlihat cerah” ujar Yohanna bingung sekaligus mengaggumi indahnya cakrawala yang ada di depan mata.
“Saat ini hanya ada awan tipis, akan ada awan besar yang menutupi keduanya dan membuat semuanya menjadi gelap.”
Yohanna kembali fokus dengan permainan yang sedang ia lakukan bersama Ghea, ia menarik satu kartu dari milik Ghea dan mencocokkan miliknya.
“Apa itu ramalan cuaca?” tanya Yohanna basa-basi.
Ghea menggeleng.
“Itu persepsiku tentang kehidupan seseorang yang aku kenal.”
Tiba-tiba keduanya mendengar sebuah pedang yang sudah disarungnya terjatuh ke atas rerumputan sisi alas duduk mereka, pemiliknya menyusul dan langsung duduk di sisi Ghea. Karena sehabis latihan berpedang, wajar jika Yohan nampak agak berantakan dan berkeringat.
“Apa kamu bisa meramal tentang hidupku?” tanya Yohan penasaran.
“Yohan, berhentilah mengganggu kami bermain dan berbicara.” sambut Yohanna risih, terlebih melihat Yohan berkeringat seperti itu membuat kembarannya ingin segera menyiram dengan air pada wajah Yohan.
Yohan nampak tak peduli dengan ucapan kembarannya dan dengan setia menanti jawaban Ghea tentang pertanyaannya.
“Aku tidak tahu.” jawab Ghea setelah sekian lama dan menatap Yohan dengan tatapan mengantuknya. Tawa Yohanna pecah dan membuat Yohan kesal dengan respon saudarinya itu.
Ghea melihat tingkah si kembar yang saling beradu argumen hingga membuat kartu Yohanna jatuh berantakkan. Mereka selalu ramai di sekitar Ghea dan itu tak jarang membuat Ghea tersenyum tipis melihat tingkah keduanya. Jawabannya barusan sebenarnya berarti setengah, Ghea tidak ingin banyak bicara tentang penglihatannya terhadapan kehidupan orang di sekitar. Itu hanya akan berdampak buruk bagi mereka. Hal yang Ghea takutkan sebenarnya adalah ketamakan manusia saja.
Mata Ghea terangkat menatap langit jingga, sebentar lagi gelap dan suhu udara semakin dingin dan lembab, mereka yang mengikuti kelas Berburu tentu saja menginap di luar pagar asrama. Ghea tidak tahu apa yang sebenarnya Ree pikirkan akhir-akhir ini, namun Ghea berharap Ree akan baik-baik saja dan bertindak sewajarnya dalam menghadapi segala masalah.
__ADS_1
“Ghea, ayo masuk ke dalam. Manusia bodoh ini mengacaukan permainan.” ujar Yohanna yang sudah menghajar Yohan hingga saudaranya tak bangun dari tempatnya dalam posisi telungkup. Ghea tidak tahu apa yang Yohanna perbuat hingga membuat Yohan tak bisa bangun.
*
*
*
Waktu makan malam di perkemahan sudah tiba, Liliana sudah menyiapkan nampan berisi makanan untuk Ree dan dirinya agar bisa2 makan bersama di tenda kesehatan. Namun saat ia ingin berangkat, tiba-tiba Syricie datang menghalangi jalannya.
“Biar saya saja yang mengantar. Saya juga ingin memeriksa lukanya.” Tawaran bantuan Syricie memang tidak aneh, namun Liliana tidak merasa bahwa harus sampai seperti ini cara Syricie memperhatikan Ree.
“Terlebih saya ingin berbicara dengan nona Ree beberapa hal.” lanjut Syricie sembari mengedipkan mata kanannya pada Liliana dan dengan lugas tangannya mengambil nampan makanan Ree.
Liliana terdiam, ia tidak ingin menciptakan keributan dan memilih menyimpan segala pertanyaan dalam kepala.
“Kamu tidak jadi makan bersama Ree di tenda kesehatan?” tanya Maglina bingung karena Liliana kembali membawa nampan makanannya ke meja kelompoknya dan Maglina.
“Ada yang mengantar untuknya.” jawab Liliana singkat lalu mulai makan dengan senyap.
Marco dan Maglina saling menatap satu sama lain dengan perasaan bingung sekaligus penasaran. Namun tidak ingin mereka tanyakan dulu atau Liliana akan marah.
seseorang di dalam tenda makan yang sama dengan Liliana nampak diam-diam meletakkan garpunya setelah melihat serta mendengar hal yang tidak ingin ia harapkan ada.
*
*
*
Ree sudah duduk di kursi karena lelah dan bosan berada di satu tempat yang sama selama berjam-jam. Perbannya sudah lusuh dan lembab, Ree rasa akan mengganti perbannya. Matanya menyusuri seluruh isi tenda kesehatan, mencari kotak obat yang menyimpan alat dan bahan untuk mengganti perban.
Baru saja Ree ingin berdiri, ia mengurungkan niatnya ketika seseroang menyibak pintu tenda dan membawa nampan penuh berisi makanan.
Kelopak mata Ree sempat terbelalak karena kaget dengan kedatangan seseorang yang tidak ia sangka akan datang membawakannya makanan. Syricie muncul dengan nampan berisi makanan Ree dan langsung meletakan nampan tersebut ke meja yang tak jauh dari tempat Ree duduk, setelahnya barulah ia menyeret sebuah kursi dan duduk di hadapan Ree.
“Saya pikir Liliana yang akan datang karena ia ingin makan bersama saya.” Rasa aneh yang samar-samar, menjadi semakin kuat. Benak Ree puas bertanya tentang Syricie. Siapa orang ini? Apa ia merencanakan sesuatu?
“Saya hanya menawarkan diri untuk membantu nona Flown, terlebih saya akan memeriksa kembali lukamu.”
Tangan Ree tidak ingin bergerak, tentu saja karena dirinya tidak ingin di sentuh sembarangan meski tahu bahwa Syricie merupakan dokter. Namun cara Syricie berbicara dan datang padanya membuat Ree tidak bisa membiarkan dirinya di sentuh begitu saja.
“Saya berterima kasih karena pertolongan anda tadi siang, sekarang luka saya sudah baik-baik saja. Saya juga bisa mengganti perban sendiri.”
Ree tersenyum sembari melambai kecil dengan tangan kirinya yang terluka pada Syricie. Meski masih terasa perih dan gatal, Ree tidak ingin rasa tidak nyaman itu diketahui oleh Syricie.
“Sudah menjadi tugas saya untuk bertindak sampai akhir, itu adalah tanggung jawab yang saya tanamkan sendiri, jadi jangan sungkan.”
“Tidak perlu tuan, saya bisa menggantinya sendiri.” ucapan Ree menunda Syricie untuk bangkit mencari kotak obat.
“Apa kamu ragu akan sesuatu?” tanya Syricie penuh selidik.
Ragu? Jelas saja, namun tidak mungkin Ree katakan. Mata Ree seolah tak bisa lari dari tatapan Syricie.
“Ragu? Tidak, saya tidak bermaksud demikian.” Ree tertawa canggung dan menghindari tatapan Syricie yang membuatnya merasa waspada. Bola mata biru safirnya memang terlihat indah, namun arti sorotan padanya itu membuat Ree merasa tidak nyaman.
Tatapan itu seolah berarti sedang ‘mencari’ sesuatu dari diri Ree. Terasa seperti menguliti dalam diam dan membuat yang ditatap merasa ngeri tanpa alasan yang jelas.
“Katakan saja nona, saya selalu mendengarkan ucapan pasien saya.” bujuk Syricie halus.
Di banding ingin bercerita, Ree mengharapkan Syricie agar lebih peka untuk pergi dan meninggalkannya sendirian. Rasa lapar yang tadi terus meraung menjadi terlupakan akibat perasaan gelisah.
‘srak’ pintu masuk tenda kembali di buka, kali ini seseorang yang tidak asing muncul dengan wajah dinginnya dan tatapan khas ikan mati seperti yang selalu Ree katakan. Ree sendiri kaget, kehadiran Frigid sama sekali tidak ia pikirkan untuk datang ke sini, meski sempat terpikir bahwa adanya Syricie berakar dari Frigid juga.
__ADS_1
“Tuan Syricie, bisakah kamu keluar? Aku ingin berbicara dengan nona Lumen.” ucapnya dingin tanpa peduli bagaimana wajah terkejut Ree dengan mulutnya sedikit menganga.
Ree mungkin tidak tahu, bahwa saat ini Frigid dan Syricie saling melempar tatapan penuh arti dan bisa saja menciptakan arus listrik di antara mereka. Syricie menyeringai kecil, kehadiran Frigid mungkin bisa dikatakan 30 banding 100 nilainya, kenapa ia berpikir demikian? Jelas saja tujuannya mengantarkan makanan ke Ree sepertiga adalah ingin ‘memancing’ sesuatu.
“Bisa tunggu saya mengganti perbannya terlebih dahulu?”
Frigid maju, pintu tenda sudah tertutup seperti sedia kala dan menghentikan udara dingin di luar masuk ke dalam tenda.
“Bukankah ia sudah bilang akan menggantikannya sendiri? Anda terlihat sedang memaksa seorang wanita dan sebagai seorang tamu, itu bukan perbuatan yang etis.”
Syricie tersenyum kecil, ia bangkit berdiri lalu menghadap pria yang muda beberapa tahun darinya. Pria bersurai pirang itu mengubah air wajahnya dari yang terlihat ramah menjadi terselimuti oleh rasa kekesalan seketika saat membelakangi Ree.
“Baiklah, saya akan pergi. Silahkan berbicara senyamannya.”
Persetan dengan siapa Syricie sebenarnya, Frigid tidak tertarik dengan siapapun yang berhubungan dengan kerajaan Agnus.
Seperti orang bodoh, Ree tidak tahu memahami apa yang sebenarnya terjadi. Syricie datang dengan segala kemisteriusannya, dan Frigid muncul meminta Syricie pergi dengan alasan untuk berbicara dengannya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Ree setelah Syricie pergi meninggalkan mereka berdua.
Ree menatap Frigid penuh selidik, rasa penasaran memenuhi kepalanya ketika melihat orang yang seharusnya tidak mempedulikan orang lain datang ke tenda. Ah! Apa pria yang masih mengenakan seragam berburunya itu ingin membicarakan tentang kekurangan Ree dan mengaitkannya dengan apa yang Ree dapatkan hari ini? jantung Ree bisa dikatakan berdebar, ia menunggu respon Frigid namun pria itu malah diam seperti patung.
Tanpa bicara, Frigid mendekati sebuah meja lalu mengeluarkan kotak kayu yang berisi obat-obatan dan bahan pertolongan pertama. Ia pun duduk di tempat Syricie sebelumnya dan menatap Ree.
“Mana lukamu, biar aku yang mengganti perbannya.”
Apa kepala Frigid terhantam sesuatu saat berada di hutan, rupanya yang sakit bukan hanya dirinya saja, tetapi Frigid.
“Sekaligus, bisakah kamu menghentikan tatapan seperti kamu tidak mempercayaiku.”
Tentu saja Ree demikian, ia sepenuhnya sadar tentang siapa yang berbicara saat ini.
“Wajar saja aku tidak percaya, apa yang kamu lakukan? Pergi saja dan biarkan aku mengganti perbanku sendiri.” Ree menarik kotak obat di hadapan Frigid dan menatap pria itu sembari tersenyum hambar agar Frigid segera pergi meninggalkan dirinya.
Tatapan Frigid turun ke telapak tangan kiri Ree, dimana perban kain yang putih kini sudah berubah warna, lusuh, dan terlihat lembab karena sisa obat dan darah.
“Diam saja, biarkan aku yang melakukannya.”
Giliran Frigid menarik kotak kayu itu dan menjauhkannya dari jangkauan Ree agar wanita itu tidak mencoba mengambilnya lagi.
“Apa yang kamu perbuat!?” seru Ree kesal.
Napas Ree naik-turun dan menatap tajam pria di hadapannya. Apa ini? kemarin pria itu meminta Ree untuk melupakan hal yang sudah terjadi di antara mereka berdua. Ree tentu saja menuruti karena tidak ingin merepotkan dirinya, namun Frigid saat ini. Bukankah ia sudah melewati garis?
“Kenapa aku harus menuruti ucapanmu?! Bukankah kamu mengatakan untuk tidak ikut campur urusanmu, kenapa kamu datang padaku dan bertindak sebaliknya?”
Masih dengan suara tingginya, Ree cukup membuat Frigid terkejut. Tangannya mengepal di atas paha, mulutnya masih terkatup sementara matanya masih bertabrakan dengan tatapan kesal dan bingung dari Ree.
Alasan? Kira-kira apa yang membuat Frigid sampai seperti ini?
“Berikan tanganmu.”
Satupun pertanyaan Ree tidak ingin ia jawab dan masih seperti seorang yang tidak memiliki perasaan maupun pikiran. Ree merasa tidak bisa berseru lebih dari ini atau membuat seisi perkemahan panik akibatnya.
“Apa ini? Apa aku melihat seseorang yang kosong hidupnya? Bahkan satupun pertanyaanku tidak terjawab.” sindir Ree.
“Kamu sudah memahaminya dengan baik, seharusnya kamu tidak perlu lagi bertanya dan biarkan aku mengganti perbanmu.” ucap Frigid mengulurkan tangannya terlebih dahulu mengingat Ree tidak suka di sentuh tiba-tiba.
Berulang kali mata Ree menatap tangan Frigid lalu ke tangannya, maju-mundur lengannya karena masih merasa ragu. Hingga akhirnya ujung jarinya bertemu dengan ujung jari Frigid, lantas dengan cepat pria itu meraih pergelangan Ree serta menggenggamnya erat agar wanita penakut kaum adam itu tidak menarik secara tiba-tiba.
Luka akibat anak panah itu cukup membuat garis luka di telapak tangan kiri Ree panjang, berkat Syricie yang bisa menjahit dan memberi penawar racun pada Ree membuat darah yang terus mengalir keluar dari luka menjadi beku di sekitar mulut luka. Pendarahan ternyata sudah dihentikan dengan baik, Frigid sendiri memang sudah tahu bahwa Syricie juga merupakan salah satu dokter terbaik di Agnus, namun tak menutupi fakta bahwa pria itu merupakan salah satu selir dari ratu Agnesia.
To Be Continued.
__ADS_1