We And Problems

We And Problems
Chapter 74 : Interogasi


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Ree bangung dan pergi dari asrama. Bahkan Ree bisa melihat jalanan masih sangat sunyi dan tentu saja udara sangat dingin. bahkan Ree ingin cepat-cepat masuk ke dalam rumah saat ini karena ia harus pergi magang setelahnya.


Ree tidak pernah merasa selelah ini sebelumnya, meski ia ketakutan seperti biasa itu hanya menguras tenaga karena takut. Saat ia kelelahan karena beraktifitas hanya saat ia mengikuti pelatihan atau kelas berburu.


 Tapi ini lelah karena dikejar orang yang tidak ia kenal hingga rasa takutnya tertutupi hingga Ree merasa ia lebih frustasi dibanding sebelumnya.


Keputusannya menemui Smith memang sudah Ree perhitungkan dengan hati-hati. Ree sudah menduga-duga akan ada hambatan, namun tak ia sangka akan datang secepat ini.


“Aku ingin tidur lagi…” sungut Ree sembari membuka pintu rumah.


Ia ingin tidur, tapi ia tidak bisa karena harus bersiap untuk berangkat magang.


“ouch!” masih merasa ngantuk membuat Ree tanpa sengaja menabrak tubuh seseorang yang lebih tinggi darinya.


“Ree!!” serbuan Liliana membuat Ree sadar bahwa ia menabrak Frigid yang baru saja dari kamar mandi dan Liliana datang dari arah dapur karena mendengar pintu rumah dibuka.


“Aku pikir kamu hilang! Kamu tidak bilang ingin menginap di asrama! Apa kamu sudah sarapan!? Aku sedang membuat roti lapis!!” Ree kewalahan karena pertanyaan beruntun dari Liliana langsung membuat kantuknya hilang. Sementara Frigid yang sudah tersingkirkan dari depan Ree hanya menghela napasnya melihat tingkah berlebihan Liliana yang tidak ada habisnya itu.


“Lihat, bukankah ia baik-baik saja dan kembali dengan keadaan utuh? Sikap berlebihanmu itu jangan pernah libatkan aku lagi di dalamnya.” ucap Frigid lalu kembali naik ke lantai dua menuju kamarnya untuk bersiap-siap pergi magang.


Ree menatap Liliana dengan tatapan bingung karena ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara Liliana dan Frigid sampai-sampai pria itu terlihat kesal.


“Ehehe… aku akan pergi melanjutkan kegiatanku.” ucap Liliana lalu melesat ke dapur secepatnya.


Baiklah Ree tidak ingin mengambil pusing apa yang terjadi, ia hanya ingin pergi ke kamarnya secepatnya.


Akan tetapi nampaknya tidak mudah karena ia melihat Frigid dengan handuknya yang masih ia lampirkan di bahu kanannya itu berdiri di depan pintu kamarnya yang tepat menghadap pintu kamar Ree.


“Apa teman yang kamu maksud itu Smith?” Ree tidak jadi membuka pintu kamarnya karena pria yang ada di sampingnya ini menegurnya.


“Apa maksudmu?” tanya Ree bingung dan belum menghadap Frigid.


Frigid tidak terlalu dalam mengenal Ree, namun jelas saja gelagat wanita itu tidak bisa menyangkal bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu.


“Jadi sesuatu terjadi, bukan begitu?”


Ree langsung memutar tubuhnya dan menatap Frigid tajam.


“Apa aneh dipandanganmu ketika aku berteman dengan tuan Smith?” tanya Ree heran.


Frigid tiba-tiba menyeringai kecil.


“Untuk seseorang sepertimu tentu saja itu aneh.” Frigid menyinggung tentang kelainan Ree.


Itu memang aneh, atau sangat aneh karena tiba-tiba saja Ree menganggap Smith itu sebagai teman.


“Memangnya apa yang ingin kamu ketahui?” tanya Ree heran.


“Smith semalam pergi ke sini, ia tidak mungkin menjalin hubungan biasa denganmu.”


Jadi begitu, Ree baru tahu bahwa sepertinya Smith juga diganggu oleh orang-orang asing itu. keputusan Ree pergi ke asrama karena ia merasa lebih aman saja dan tidak ada Frigid di asrama. Jika Smith sampai menyusul Ree, itu berarti ada seseorang memprovokasi pria itu.


“Benarkah? aku rasa lupa memberitahunya bahwa aku kembali ke asrama dan tidak pulang tadi malam ke rumah dinas.”


Tapi yang menjadi masalah, siapa orang-orang itu. apakah berasal dari kelaurga Cali atau bahkan dari kerajaan Agnus?


Mereka pasti memasang mata pada Smith dengan sangat ketat sehingga sulit bagi Smith untuk berinteraksi secara bebas dengan Ree.


Terlebih, apa mereka tahu Ree siapa dan apa yang dilakukan Ree?


Jika sudah, sejauh mana mereka tahu?


“Aku kurang mengerti denganmu.” ucap Ree.


“Kejahatan seperti apa yang Smith buat padamu hingga kamu tidak menyukai apapun yang kakakmu lakukan? Padahal tuan Smith adalah orang yang ramah dan pecinta barang antik.”


Baiklah, Ree menyampingkan julukan pecinta barang antik itu karena ia juga memiliki minat yang sama dengan Smith. Tapi, alasan terbesar Ree bingungkan adalah Smith hampir tidak pernah mencampuri urusan Frigid dan hanya bertindak di belakang tanpa diketahui siapapun itu.


Terlebih, Smith adalah seorang kakak yang baik dan ramah pada Ree.

__ADS_1


Hal itu membuat Ree tidak takut bertemu dengan Smith kemarin meski hanya berdua saja.


“Kamu tidak tahu orang seperti apa dia…” Frigid tiba-tiba menurunkan padangannya dan menatap lantai kayu dengan geram.


Baiklah, Ree juga tidak mengaku mengenal Smith dengan baik.


“Seseorang yang berharga bagi orang lain ia ambil begitu saja tanpa adanya penjelasan…”


Hmm, Ree juga tahu orang berharga bagi Frigid itu yang tak lain adalah Margaretha yang memberitahukan siapa Smith sebenarnya pada Ree.


Entah kenapa Smith tidak memberitahukan kebenaran yang terjadi pada Frigid sehingga membuat salah paham berujung kebencian seperti ini.


“Sikapmu ini sama saja dengan berlebihan. Caramu memberi peringatan padaku juga aneh…” ucap Ree.


“Bisakah kamu berhenti membenci kakakmu seperti ini?” tanya Ree.


Frigid langsung mengangkat kembali pandangannya dan menabrakkan pupil matanya tetap pada pandangan Ree yang terkesan datar dan hambar itu.


“Bukankah aku sudah tidak mengurusi masalahmu lagi dan aku tidak berminat menerima bantuanmu.” Tidak sepenuhnya ucapan Ree itu benar karena hubungannya dengan Smith berjalan karena adanya Frigid itu sendiri.


Tapi, Ree merasa geram.


Kebencian Frigid itu ada karena ia memiliki alasan yang mendasar. Tapi, Ree tahu apa yang ada dibalik tindakan Smith itu.


Meski mulutnya dilarang untuk dibuka mengungkapkan apa yang sebenarnya Smith rasakan terhadap Frigid.


Frigid diam, Ree diam.


Keduanya akhirnya tidak lagi membuka mulut dan Ree langsung masuk ke dalam kamarnya karena ia bisa saja terlambat berangkat magang.


Sementara itu Frigid masih berdiri di depan kamarnya dan merenungkan ucapan Ree barusan.


Memang benar, Ree tidak lagi mengurusi masalah Frigid dan tidak Frigid minta untuk membantunya.


“Apa kalian berdua selalu seperti ini?” sambut Servio yang baru saja keluar dari dalam kamarnya yang terletak di sebelah pintu kamar Frigid.


Servio baru muncul dan tidak tahu apa yang terjadi, ia hanya mendengar ujungnya saja dan melihat Ree sedikit kesal pada Frigid.


Frigid tidak menjawab dan mengusap wajahnya kasar.


“Haahhh… nampaknya aku sedang gila.” ucapnya lalu masuk ke dalam kamar meninggalkan Servio kebingungan sendirian di koridor.


Ya, mau itu Frigid atau Ree sama-sama gila saat ini dan menyesali semua perkataan dan perbuatan yang baru saja mereka keluarkan.


Sorenya, Ree dan Frigid yang sudah berbeda unit tempat magang tetap memiliki waktu yang sama ketika mereka pulang.


Semenjak pagi tadi, keduanya tidak berkomunikasi sama sekali dan hanya berdiam diri berjalan berdampingan.


Ree sebenarnya merasa tidak enak telah mengatakan kata-kata yang mungkin saja menyakiti atau memang sudah menyakiti perasaan Frigid.


Sementara Frigid merasa kebingungan karena ia tidak tahu kenapa ia harus kalut dengan Ree. mungkin karena simpatinya yang cukup besar dan tidak ingin Ree menderita karena ulah Smith, tapi kembali lagi pada dirinya yang membenci Smith dan tidak ingin Ree ikut campur dengan masalahnya membuat Frigid terus berputar-putar pada pikiran yang sama.


“Ree!”


Orang yang dipanggil langsung tersentak kaget tepat setelah kedua kakinya keluar dari gerbang pangkalan militer angkatan laut itu.


Bukan Liliana yang biasanya langsung menyerbunya sambil memanggil namanya tapi ini suaranya lebih berat dan terkesan cukup bersemangat itu berasal dari seorang pria tampan dengan surai panjang hitam seperti iklan salon di kota Litore yang tak lain adalah Servio.


“Servio!?” rasa tak percaya Ree melihat Servio muncul di depan gerbang.


Sementara Servio dengan rasa senangnya akhirnya bisa menunggu Ree dan Ree benar-benar muncul setelah sekian lama ia selalu mencoba menunggu di depan gerbang dan tidak mendapati Ree keluar dari sana karena saat itu Ree sedang berada di sebuah pulau untuk menjadi relawan.


“Kenapa kamu di sini?” tanya Ree heran.


Servio menyingkap surai panjangnya yang menutupi wajahnya lalu tersenyum lembut menatap Ree.


Jelas saja, Servio tidak akan menutupi perasaannya di depan Ree dan mungkin itu sedikit membuat Ree lega karena kejujuran Servio.


“Tentu saja aku menunggumu agar bisa pulang bersama.” ucap Servio.

__ADS_1


Sejak kejadian kemarin, sebenarnya Servio juga merasa khawatir karena Ree tidak kembali ke rumah dinas dan tiba-tiba saja Smith mendatangi rumah mereka.


Servio tidak mengerti apa yang ada di antara Ree dan Smith, ia hanya tidak ingin Ree kembali membuat seluruh masalah membebani pikiran wanita itu saja.


“Oh-oh… nampaknya kamu sama saja dengan Liliana, aku biasanya pulang bersama Frigid… jadi tidak apa-apa…” jelas Ree meski orang yang ia maksud sudah lebih dulu berjalan di depan sana.


Iya, Servio juga mengerti akan itu. Ree dan Frigid sering pulang dan berangkat bersama. Namun setelah apa yang terjadi tadi pagi bisa membuat Servio tenang? Jelas saja mereka sedang tidak baik-baik saja dalam hal komunikasi.


“Meskipun begitu aku akan tetap datang ketika aku lebih dulu pulang darimu.”


“Tapi itu akan membuatmu lelah, terlebih tempat magang kita bersebrangan arah jalannya dan membuatmu harus pergi lebih jauh dari pada langsung pulang ke rumah dinas.” Jelas Ree.


Servio juga tahu akan hal itu.


“Tapi tidak ada salahnya ketika aku hanya ingin menjagamu.”


Servio mungkin akan langsung pulang ke rumah dan menunggu Ree di sana, tapi ia juga memiliki rasa khawatir akan wanita itu.


“Wahh… kamu jujur sekali…” Ree sangat tidak percaya dengan apa yang Servio tampilkan saat ini di depan matanya.


“Bukankah itu lebih baik dari pada aku menyembunyikannya dan malah membuatmu ketakutan?”


Iya, memang lebih baik tidak disembunyikan dan membuat Ree ketakutan. Namun Ree juga sedikit aneh jika Servio seperti ini terus.


“Apa kalian berdua bertengkar?” Servio menyinggung hubungan Ree dan Frigid saat ini.


Memang kelihatan demikian, namun Ree merasa tak nyaman dengan jarak yang ada di antara ia dan Frigid. Di lain sisi Ree juga tidak berminat mendekatkan dirinya pada orang yang selalu saja mencampuri urusannya tapi ini seperti ada yang harus Ree selesaikan dengan Frigid.


“Kami memang tidak seakrab itu… jadi wajar saja kami saling berdiam seperti ini.” Ree harap Servio bisa mengerti dan tidak lagi mengusik itu.


Sementara itu di laboratorium yang Yohanna sewa, di situ ia, Brina serta Wizzle bersama beberapa peneliti yang Yohanna bawa dari ibu kota sudah hampir selesai dengan obat alternatif.


Kemajuan penelitian itu karena adanya kenekatan dari Yohanna yang tidak menggubris situasi Leafa saat ini. ia sudah sepenuhnya percaya dengan Yohan yang bisa membersihkan pemberontak agar tidak mengganggu penelitian Yohanna dan lainnya.


“Kalian benar-benar hebat bisa mengubahnya menjadi bubuk seperti ini…” Wizzle tidak percaya bahwa getah pohon yang ia biasanya gunakan untuk pengobatan itu sudah menjadi seperti tepung dan lebih praktis.


“Itu karena kemajuan dan ilmu pengetahuan di laboratorium nyonya… saat ini yang harus kita lakukan adalah menguji kelayakannya.”


Untuk digunakan ke manusia, tentu saja harus di uji dulu atau barang yang mereka telili ini menjadi obat terlarang karena tidak di uji coba.


Sementara itu Yohan masih berada di lapangan terutama di daerah perbatasan kota menyaksikan banyaknya pemberontak yang berhasil mereka ringkus dari berbagai titik persembunyian.


“Saat ini sudah seluruh daerah yang dicurigai sudah kami telusuri dan sebagian besar memang benar ada di sana. beberapa titik yang tidak ditemukan seorang pun kemungkinan ada kebocoran informasi atau mereka sudah mewaspadainya.” jelas seorang komandan prajurit pada Yohan.


“Baiklah, aku mengerti. Kemungkinan besar mereka membaginya menjadi kelompok kecil dan membaur dengan masyarakat. Setidaknya kita harus tetap waspada karena pergantian wali kota akan sebentar lagi akan dilaksanakan.”


Yohan tidak akan membiarkan siapapun mengacau peralihan kekuasaan ini dan mengacaukan wilayah yang akan menjadi miliknya.


Setelah semua ini tentu saja Yohan tidak akan hanya berfokus pada obat alternatif Frigid, melainkan melakukan hal lain untuk membangun wilayahnya.


Situasi yang dirasakan oleh Yohan nampaknya tidak sesenang yang sedang dialami Luceat saat ia masih berada di wilayah hutan perbatasan antara Pulchra dan Agnus.


Tentu saja ia belum mendapatkan tanaman obat yang berada di wilayah Agnus itu karena tidak semudah yang dipikirkan untuk tembus ke sana sementara pertahanan tentara perbatasan mengawasi dengan ketat. Luceat tidak ingin membahayakan rombongannya yang termasuk orang-orang dari keluarga Florence.


Tidak ada pilihan lain selain kembali ke kota.


Namun Luceat juga merasa enggan pergi meninggalkan hutan ketika ia kembali hanya dengan tangan kosong saja.


Perjalanan sejauh ini dan kembali dengan tangan kosong membuat Luceat tidak bisa melakukannya.


“Segera cari tanah lapang di hutan ini untuk kita membangun kemah. Karena sudah mau gelap.” Karena itu, Luceat masih memutuskan untuk menetap di tengah hutan sementara waktu.


Saat ia dan beberapa orang rombongannya berjumlah 10 orang itu menyelusuri hutan untuk mencari lokasi untuk mendirikan kemah, Luceat menemukan seorang wanita yang tengah berjalan menuju kearahnya dengan penampilan yang kacau seperti orang yang tidak pulang-pulang kerumahnya.


“Siapa kamu?” tanya Luceat menatap wanita berambut panjang hitam dan dikepang itu.


 


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2