We And Problems

We And Problems
Chapter 24 : Frigid and Ree


__ADS_3

Lima menit sebelumnya,


“Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan, namun tindakanmu mencurigakan. Apa kamu berniat mengeluarkanku dari akademi dengan mengikatku begini lalu membuatku menjadi makanan beruang?!!” suara protes Ree cukup keras dan tepat pada belakang telinga Frigid.


Bukan tanpa alasan Ree protes, hal itu karena satu tangan kirinya kini terikat dengan lengan kanan Frigid yang berjalan di depannya. Pria itu sejak Mildes dan Irea pergi tiba-tiba saja menarik tangan Ree dan mengikat sebuah kain panjang dan menghubungkannya dengan lengan Frigid sendiri. Tindakan mendadak Frigid sedikit membuat Ree merasa direndahkan dan seperti seorang tahanan.


“Mana ada orang berburu dengan tangan terikat begini!!”


Ree berhenti dan membuat kain sepanjang dua meter itu menahan Frigid.


“Aku tidak tahu sebenci apa kamu padaku sampai nekat ingin mengembalikanku pada akademi lama, namun ini adalah kelas dan kita sedang ujian, tidak bisakah aku menjalaninya dengan tenang dan normal?” tanya Ree sembari mencoba melepaskan simpul pada lengan kirinya.


“Aku melakukannya karena aku menghargaimu.” jawab Frigid membuat Ree menunda melepas ikatan itu.


“Ketika hanya ada kita berdua disini, aku jelas tahu apa yang ada pada dirimu. Aku mengikatmu bukan karena aku ingin memperlakukan hal buruk padamu. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan bahwa bersentuhan dengan kami menjijikan? Aku hanya melakukan tindakan antisipasi.”


Sebenarnya Frigid masih ada yang ingin dikatakan pada Ree, namun fokus Ree dan Frigid teralihkan dengan cepat pada suara gemerisik dari arah seberang sungai dan erangan yang cukup jelas. Suara hewan bertubuh besar dengan berat lebih dari 100 kg menghasilkan suara langkah yang cukup berat dan semakin dekat.


Nampaknya protes yang dikeluarkan Ree belum lama ini tidak hanya mengusik pendengaran Frigid, terdapat penghuni lokal alam liar yang mendengarnya dan nampak ingin menghampiri Ree dan Frigid.


Hari ini bukanlah hari yang beruntung bagi Ree, sudahlah ia dipasangkan dengan Frigid, kini mereka berdua hanya berjarak kurang lebih 10 meter dengan seekor beruang coklat di hadapan mereka berdua dan jelas menatap keberadaan dua manusia itu dengan tidak senang.


“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Ree.


“Jangan lepaskan ikatanmu atau kita akan terpisah. Menghadapi beruang coklat seorang diri tidaklah menyenangkan.” jelas Frigid sudah mempersiapkan senapannya.


Baik di air, darat, serta pepohonan tinggi, Frigid dan Ree sangat tidak diuntungkan saat ini dengan kehadiran seekor beruang yang handal pada tiga jenis fisik alam tersebut.


Ree cukup dibuat kaget dengan situasi tidak terduga seperti ini, ia menunda melepas ikatan pada lengannya dan merogoh ransel Frigid untuk mencari sesuatu.


“Aku tidak bisa membunuhnya karena bukan hewan buruan kita, jadi tolong alihkan perhatiannya lalu aku akan menembakkan bius padanya, meski aku kurang tahu secepat apa efektivitas pembiusannya, setidaknya kita bisa lari ketika tenaganya melemah.” ujar Ree sembari mengambil sebuah botol berisi obat bius dan mengolesnya pada anak panah yang akan ia gunakan.


Frigid nampak mengerti dengan strategi yang Ree tawarkan serta bersiap menembakkan peluru yang ada di dalam senapan ke arah beruang yang perlahan maju menyebrang sungai untuk menyapa Ree dan Frigid. Begitu juga dengan Ree yang sudah bersiap dengan bidikan anak panahnya.


Ree dan Frigid sama-sama tahu sifat alami beruang coklat yang ada di hadapan mereka saat ini. beruang tersebut akan menyerang ketika mereka berdua jika berada di wilayah teritorialnya, mengancam dengan keberadaan mereka, serta menakuti anak-anak beruang. Hal tersebut menjadi faktor dalam kasus beruang menyerang manusia dan salah satunya mungkin adalah alasan kenapa beruang coklat setinggi 2 meter itu sedang menghampiri Ree dan Frigid dengan suasana hati yang tidak senang.


Mau tidak mau Ree dan Frigid harus mengambil langkah lebih dulu jika ingin nyawa mereka selamat. Mereka tidak akan membunuhnya karena tidak masuk dalam daftar kegiatan sekaligus menghargai habitat di hutan, karena itu pilihan selanjutnya adalah memperlambat kecepatan menyerang dari beruang dengan membiusnya.


“Ternyata kamu cukup tenang ya.” ucap Frigid.


“Diamlah, aku sedang membidiknya.” cibir Ree risih.


Dor!


Suara senapan lebih sedikit lambat dibanding dengan panah Ree yang lebih dulu melesat mengenai kaki kiri beruang, namun karena suara cukup keras dari tembakan itu membuat beruang itu semakin mempercepat langkahnya mendekati Ree dan Frigid meski sudah terkena panah bius membuat Ree dan Frigid harus segera berlari menyelamatkan diri.


“Gyaa!!!!”


Ditambah dengan teriakan lengking Ree menambah ramai keadaan hutan siang itu. hal tersebut bukan karena sengaja melainkan ketika Frigid langsung menggendong Ree di pundaknya dan membawa gadis itu berlari kencang tanpa perhitungan dan berunding sama sekali.


Kini, ada dua hal mengerikan bagi Ree terjadi dalam waktu yang sama. Ia berada di pundak seorang pria dan sedang di kejar oleh beruang yang semakin melemah akibat obat bius  yang Ree berikan. Namun langkah Frigid tak kian melambat dan terus melaju seolah beban yang ia bawa bukanlah apa-apa, akan tetapi lawan lari mereka adalah seekor binatang raksasa dengan kecepatan rata-rata 50 km/jam, karena diuntungkan dengan luka yang Ree berikan, membuat Ree dan Frigid bisa sedikit bernapas.


Ree tidak bisa berpikir apa-apa saat ini. ia jelas menggendong ransel yang cukup berat dan seluruh beban itu kini bertumpu pada pundak kanan Frigid yang sangat kokoh.


“Bagaimana beruangnya?” tanya Frigid tidak terlalu jelas terdengar di telinga Ree karena bercampur udara.


“Ia sudah hampir terjatuh!! Tidak bisakah kamu menurunkanku!? Aku pikir ini sedikit berlebihan!!”


“Diamlah sebentar dan pastikan jika beruang itu sudah lumpuh.”


Meski dalam penglihatannya yang terbalik, Ree masih bisa melihat bahwa perlahan beruang coklat yang ia panah belum lama ini semakin menjauh karena obat bius sudah bekerja.


Cukup memakan waktu dan tenaga melewati medan hutan yang tidaklah datar, akhirnya kedua orang itu tiba di sebuah pondok kayu yang terdapat di belakang kebun.


Ree tidak tahu apa jantungnya bisa bekerja dengan baik saat ini karena kontak fisiknya dengan Frigid tidak dapat dihentikan hampir seharian.


Sementara Frigid nampak sangat kelelahan dengan beban yang ia tanggung hampir setengah hari ini. Ia sedikit menyesali keputusannya untuk membopong Ree di pundaknya di tambah dengan barang-barang yang wanita itu bawa di punggungnya. Frigid merasa ia sudah tidak ada tenaga lagi untuk memasang perangkap di sekitar kebun.


“Aku rasa kita akan bermalam di sini.” ucap Frigid dengan sedikit tenaganya yang tersisa untuk bicara.


Ree yang awalnya melamun menatap langit biru langsung tersadar dan menatap horor patnernya.


“Jangan bercanda.” ucap Ree ngeri.

__ADS_1


Frigid menghela napasnya, ia pikir cukup sekali ia bicara dan tanpa ada komentar setelahnya, namun nampaknya ia harus kembali berdebat.


“Bukan karena aku ingin, namun aku mempertimbangkan apa yang telah terjadi. Besar kemungkinan beruang itu akan mengincar kita lalu akan lebih baik jika besok pagi kita mulai memasang perangkap.”


Penjelasan Frigid memang terdengar masuk akal, Ree tidak bisa menolak karena ia juga lelah. Banyak yang telah terjadi padanya hari ini, meski sulit namun hanya satu malam saja ia bisa bertahan.


Iya, Ree meyakini bahwa ia bisa melewatinya.


“Lalu, perihal memasang perangkap, bukannya sore ini kita bisa melakukannya?” tanya Ree.


Menurutnya hari masih begitu terang meski suhu udara sudah semakin mendingin dan tidak lama lagi senja akan tiba.


“Haa, aku tidak tahu sebanyak apa tenagamu. Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi karena tidak ada tenaga yang tersisa.”


Kata-kata Frigid terdengar begitu lemah dan pria itu pun terlihat lesu dengan duduk menyandar pada kursi dan seperti orang yang benar-benar habis tenaganya setelah melalui banyak kejadian besar.


Satu sisi unik Frigid satu ini cukup mengejutkan Ree setelah mengingat betapa kukuhnya pria ini ingin mengeluarkan Ree dari akademi akhir-akhir ini. Frigid terlihat seperti ingin meleleh di mata Ree.


“Kamu aneh juga.” timpal Ree masih menatap Frigid yang sudah memejamkan matanya untuk mengistirahatkan pikiran dan tenaga.


“Itu berlaku denganmu juga.” ucap Frigid tidak mau kalah.


Hal itu juga Ree tahu, tanpa Frigid memberi tahu, ia sudah lama menyadari bahwa ia memiliki keanehan dalam dirinya.


*


*


*


Millesium dan Kyle nampak sedang memperhatikan kehadiran setiap murid yang baru saja kembali dari hutan. Tidak hanya dengan tangan kosong melainkan dengan bawaan yang mana untuk makan malam. Tidak semua murid nampak bersih setelah kembali, ada yang penuh dengan lumpur, basah kuyup, hingga mendapat sedikit luka.


Hal tersebut bukanlah pemandangan buruk yang dapat dilihat, karena setidaknya mereka kembali dalam keadaan hidup dan masih sanggup melewati hari.


“Liliana, apa kamu melihat Ree dan Frigid?” tanya Maglina yang baru saja kembali dengan Alexander.


“Belum ada, aku bahkan baru kembali dari hutan. Namun tadi siang, aku dan Marco mendengar suara teriakan dari wilayah mereka.” jawab Liliana.


“Teriakan?!” sambut Alexander nampak khawatir.


“Memang wilayah mereka sedikit ribut tadi, namun kami tidak bisa mendekatinya karena jarak tempuh lumayan jauh.” timpal Marco.


Keempat pemuda-pemudi itu kembali diam dan merenungi nasib teman-temannya. Hingga mata Liliana pun melihat Millesium yang melewati mereka.


“Profesor! Frigid dan Ree belum kembali!” ucap Liliana.


“Benarkah? Nampaknya beberapa kelompok ada yang memutuskan untuk menginap di lokasi perburuan.” timpal Millesium yang sama sekali tidak nampak cemas.


“Apa anda tidak mencemaskan mereka?!” tanya Marco panik.


Millesium tersenyum,


“Huh, apa kalian melupakan satu pesan yang sudah disampaikan profesor sebelum kita berangkat?” tiba-tiba saja Antonio datang bergabung.


“Ha! Kamu benar! Aku baru ingat. Kelompok yang memutuskan untuk menginap di luar lokasi perkemahan harus mengirim sinyal keberadaan mereka dengan asap.” Ucap Marco seolah memberi harapan dan ketenangan bagi yang mencemaskan Ree dan Frigid.


“Kamu benar tuan Heittblood. Saat ini saya akan pergi ke puncak bukit untuk memastikan keberadaan yang tidak hadir setelah saya mengabsen para murid. Aturannya jika tidak dapat kembali melewati jam 5 sore, setiap tim boleh membangun kemah di luar lokasi. Meski itu memiliki risiko tersendiri, namun hal tersebut lebih baik daripada berkeliaran di hutan pada malam hari.” jelas Millesium.


Pada akhirnya Liliana, Maglina, Marco, dan Alexander pun mengikuti Millesium pergi ke atas bukit tempat mereka membangun kemah. Dataran tinggi menjadi pilihan yang ideal untuk membangun kemah, selain medan yang dilalui sulit, namun memudahkan untuk memantau lokasi dan keberadaan murid-murid.


“Wah! Ternyata benar! Kita bisa melihat keseluruhan hutan!” ucap Marco.


“Iya, lihat! Ada asap!” Alexander menunjuk asap mengepul ke permukaan hutan dari pepohonan dan cukup tebal.


“Itu dari arah timur laut, berarti kelompok ini, ini, hmm…” ucap Millesium sembari mengecek keberadaan kelompok melalui daftar yang sudah ia tulis.


“Lalu bagaimana dengan kelompok Frigid dan Ree?” tanya Liliana.


Millesium kembali mengecek daftar wilayah dan kelompok.


“Mereka berada di sebelah selatan perkemahan, itu asapnya.” tunjuk Millesium pada asap api yang mengepul tak jauh dari lokasi dan berada di sekitar kaki bukit.


Seperti yang ditunjuk Millesium pada teman-teman mereka, dari asal asap itu sedang ada Frigid yang membakar beberapa kayu untuk simbol keberadaan ia dan Ree di depan pondok dan Ree yang sibuk di dalam pondok.

__ADS_1


Tentang makan malam mereka tidak terlalu memusingkan karena sudah mendapat ijin dari Mildes serta Irea untuk menggunakan dapur pondok dan seluruh isinya. Hal tersebut sudah Frigid pasrahkan pada Ree untuk menyiapkan makan malam setelah ia pergi mencari bahan makanan keluar pagar kebun.


“Apa mereka mencemaskanku ya?” ucap Ree pada dirinya sendiri ketika sedang sibuk mengupas kentang.


“Setelah melihat tanda asap itu tidak mungkin mereka tidak tahu. Bukankah Profesor Millesium sudah berpesan sebelum berangkat.” timpal Frigid yang merasa sudah selesai dengan tugasnya.


Tentang mengirim pesan melalui asap. Ya, Ree juga tahu itu. Mungkin saat ini, dari pada terlalu memikirkan teman-temannya, ia harus lebih memikirkan dirinya sendiri yang berada di satu atap bersama seorang pria dewasa untuk satu malam.


“Juga jangan terlalu memikirkanku. Kamu sendiri tahu batasmu bagaimana, abaikan saja aku.” tambah Frigid yang sudah duduk di meja makan.


Ree tidak sejahat itu untuk tidak menyediakan makanan pada Frigid. Ia melakukannya dengan normal tanpa gugup sedikitpun.


“Aku bingung padamu namun aku tidak ingin merusak ***** makan seseorang ketika harus bertanya. Jadi, abaikan saja apa yang ada di antara kita agar aku dapat melewati malam ini dengan tenang.” timpal Ree yang sudah menyiapkan semangkuk bubur kentang untuk Frigid dan sepiring ikan bakar hasil tangkapan pria itu siang tadi.


“Aku tidak tahu ada wanita yang memiliki pola pikir sederhana sepertimu.” ucap Frigid pada wanita yang sudah duduk di hadapannya untuk menikmati makan malam.


Menanggapi ucapan Frigid, Ree hanya bisa tersenyum.


“Jika aku tidak begitu, bagaimana aku bisa bertahan dengan kelemahanku.”


Frigid tidak mengerti, kenapa Ree nampak bangga dengan kekurangan yang ia miliki. Padahal nyata di matanya jika Ree selalu memaksakan dirinya hingga menyakiti diri luar dan dalam. Pikiran Ree sederhana dan tidak terduga, meski ia ketakutan namun tetap ia jalankan dan anehnya wanita itu tidak pernah berhasil mengatasi ketakutannya.


Tidak pernah nampak, alasan Frigid sebenarnya kenapa. Keputusannya yang terkesan mendadak itu membuat semua orang mungkin bingung. Namun Frigid sendiri tidak pernah ragu dengan keputusan yang telah ia keluarkan, termasuk pada Ree.


Di balik wajah yang dingin, tatapan mata datar dan tanpa hasrat itu, serta pola pikir yang terkesan ‘dingin’ sebenarnya menyimpan suatu sifat yang tidak diketahui oleh orang-orang disekitarnya.


Sifat yang membuat ia dan Ree menjadi berselisih paham.


Frigid memiliki hati yang lembut dan hanya ia sendiri yang memahami maksud dari kelembutan hatinya sendiri.


“Keberadaanmu di akademi memang tidak pernah ada masalah, catatan kasusmu sangat bersih, meski aku tahu apa yang ada pada dirimu. Tetap saja aku tidak bisa membiarkanmu di La Priens.”


Ucapan dingin Frigid disela makan malam mereka yang tenang itu jelas merusak ***** makan Ree dan membuat Ree meletakkan sendoknya lalu menatap heran pria yang sibuk mengaduk-aduk bubur kentangnya dan sesekali ia suap ke dalam mulut yang mengucapkan kata-kata menyakitkan dengan wajah sedatar tembok asrama La Priens.


“Terima kasih atas pujianmu, namun aku tidak mau menandatangani surat pengunduran diri.”


Seseorang yang teguh dengan keputusannya memang tidak mudah. Apa lagi dalam bentukan seorang Ree.


“Masalah kekurangan dalam diriku, bukan berarti aku membiarkannya. Di La Priens adalah tempatku belajar menghadapi ketakutan.”


Ree memandang bayangan dirinya pada permukaan air di cawan keramik yang ia genggam saat ini.


“Banyak yang telah terjadi, tapi aku tidak bisa membiarkan semuanya sia-sia.” tambah Ree ketika mengingat tawaran Servio untuk membantu dirinya sembuh.


Frigid tidak tahu tentang kesepakatan Ree dan Servio, meski ia sudah mengendus hubungan mencurigakan antara keduanya, namun bukan dalam hal buruk.


“Keputusan yang telah aku buat semata-mata bukan hanya memihak padaku sendiri, aku bukanlah orang yang memikirkan kepentingan pribadi.” jelas Frigid setelah lama diam.


“Tidak mudah untuk membuat keputusan yang akan diterima orang lain, aku telah mengamatimu dan dapat menyimpulkan keadaanmu tidak dalam satu hari saja.”


Frigid mengatakan sejujurnya, sejak awal bukan sejak pertemuan keduanya di kelas berburu dan ketika Ree memiliki sedikit masalah dengan Marco dan Viovarand. Dari awal itu membuat Frigid sudah memasang mata pada Ree.


Mungkin tidak disadari kapan saat-saat matanya mengamati Ree.


Saat ini adalah masa-masa percobaan La Priens menjadi akademi campuran dan tahun ini adalah tahun terakhir Frigid sebelum ia lulus pada musim semi tahun depan dan pergi ke negeri orang. Ide akademi campuran bukan hal buruk, juga untuk mencapai kesuksesan percobaan itu jangan sampai ada yang mengacau.


Frigid sendiri tahu bahwa adaptasinya akan sulit, ia memikirkan murid-murid lama La Priens ketika kedatangan banyak murid perempuan dan juga sebaliknya para murid perempuan yang merasa seperti barang percobaan.


Proses adaptasi saja sudah sulit, belum lagi sifat-sifat masing-masing manusia yang memiliki tingkatan ego yang berbeda-beda.


Lalu, satu masalah ini ketika ada murid yang memiliki suatu perbedaan kontras dan sama sekali tidak cocok dengan program sedang mendobrak diri sendiri dan masuk ke dalam medan perang yang sama sekali tidak cocok dengannya.


Mungkin tidak diketahui oleh satu akademi, namun bagaimana jika semakin meluas? Meski waktu mereka tidaklah lama, akan tetapi mereka akan tinggal bersama-sama dalam satu pagar selama kurang lebih satu tahun.


Sisi Frigid yang selalu berpikiran berlebihan ini juga rahasia untuknya sendiri dan semua itu tertutupi oleh keputusan dingin yang seringkali ia buat sebagai seorang ketua senat.


“Kamu terdengar seperti menguntit.” timpal Ree ngeri.


“Aku tidak menguntit, aku hanya observasi. Lagipula aku selalu berada di kelas yang sama denganmu.” Frigid membela dirinya.


Ree tidak pernah habis pikir dengan pria yang tidak ingin disalahkan ini. dari ucapannya sendiri jelas saja jika ia menguntit Ree. Apanya yang observasi? Pria di hadapannya ini salah satu yang mengerikan yang pernah Ree temui.


“Aku akan membuktikannya padamu, bahwa orang yang memiliki keinginan dan tindakan untuk berubah adalah sesuatu yang nyata.” ucap Ree menyelesaikan makan malamnya dan bersiap untuk mencuci piring.

__ADS_1


“Tetapi, memaksakan diri ada batasnya.” sambut Frigid yang juga selesai dengan makan malamnya. Ree menyeringai kecil, nampaknya malam ini bukanlah malam yang damai bagi dirinya dan Frigid.


To Be Continued.


__ADS_2