
Keresahan itu mencapai perasaan semua orang, termasuk Brina yang sedang berada di kereta yang menuju ibukota kerajaan Agnus.
Dua hari perjalanan dari Litore melintasi berbagai medan yang dilalui oleh rel kereta api uap antar kerajaan itu cukup membuatnya lelah baik jiwa dan raga. Kepalanya lemah tersandar di jendela kereta melihat perubahan pemandangan yang berbagai macam. Namun pikirannya kini melayang tak tahu kemana arahnya memikirkan segala kemungkinan terburuk terjadi pada kakaknya.
Mungkin seluruh keluarganya mengatakan untuk tidak terlalu berpikir buruk dan lebih baik menenangkan diri agar menghadapi keputusan sang ratu dengan bijak dan berkepalan dingin.
“Sekitar dua jam lagi kita akan tiba ke gerbang ibu kota dan langsung menaiki mobil yang sudah mereka siapkan untuk pergi ke istana.” ujar ayahnya mengingatkan rombongan keluarga.
*
*
*
Seperti yang diberitahukan pagi-pagi tadi oleh ayahnya, kini mereka sudah berpijak di dalam pagar istana kerajaan Agnus dan bersiap menghadap ratu demi mengeluarkan Luceat dari negeri itu.
Tanpa menunggu lama, rombongan keluarga itupun masuk ke dalam gerbang besar aula pertemuan untuk mendengar segala keputusan akhir.
“Sangat mengejutkan jika harus berurusan dengan keluarga Lumen, aku tidak bisa mentolerir dalam bentuk apapun, meski keluarga Lumen telah banyak membantu dalam perdagangan di Agnus.” Ucap Agnesia ketika ia berhadapan secara pribadi dengan ayah dari Luceat dan Brina sekaligus kepala keluarga Lumen, Avou.
“Kami datang untuk meminta perdamaian yang bisa Yang Mulia berikan dan mohon ampuni kesalahan putra kami.” Dengan pasrah Avou menundukkan badannya di hadapan Agnesia sementara Luceat menonton dari samping dan dikawal oleh prajurit kerajaan.
Melirik sebentar keadaan putranya yang tidak terdapat goresan sedikitpun di wajahnya dapat membuat Avou mengerti bahwa Agnesia masih menghargai hubungan lama kerajaan Agnus dengan keluarga pedagang Lumen.
“Aku mempertimbangkan dan sangat menyayangkan jika aku membuat keputusan ini, namun aku sudah bulat dan tidak bisa aku rubah lagi.” Agnesia sempat menghela napasnya menatap pucuk kepala Avou yang masih menunduk kepadanya sebagai tanda permintaan maaf.
“Hubungan keluarga kerajaan sejak dulu dengan keluarga Lumen bukanlah hubungan yang tercipta setahun-dua tahun saja… kalian sudah memberikan barang-barang terbaik untuk kami dari generasi yang dulu sampai saat ini, namun aku akan tetap pada peraturan yang telah aku tetapkan.”
“Mulai saat ini hingga ke depannya, keluarga Lumen akan dilarang berkunjung ke kerajaan Agnus dalam bentuk kunjungan apapun bahkan berdagang. Barang-barang yang berasal dari keluarga Lumen akan dilarang diperjual-belikan di kerajaan ini.”
Avou menutup matanya dengan erat ketika harus mendengar keputusan berat sang Ratu. Keputusan itu tidak semata menutup keuntungan yang telah mengalir lama, melainkan penghasilan diluar keluarga utama juga akan berpengaruh. Dampak ini akan dirasakan oleh semua yang terlibat dengan keluarga Lumen dan Avou meminta maaf akan semua hal itu sebagai seorang kepala keluarga.
“Karena itu, pergilah bawa putramu kembali ke negaramu.”
Keputusan sebesar itu, mungkin tidak akan berarti karena yang ia selamatkan adalah sesuatu yang lebih berharga dari pada uang dan kekayaan.
Begitulah cara keluarga Lumen menyambut kehadiran Luceat ketika keluar dari aula pertemuan itu bersama sang ayah.
“Maaf ayah, hampir setengah sumber pendapatan keluarga kita hilang begitu saja.” Luceat sungguh menyesalinya.
“Apa yang kamu bicarakan, nak?” ucap Avou menepuk pundak Luceat.
“Dari sini kita akan lihat siapa yang sebenarnya kehilangan itu… ada yang melepas kekayaan untuk menyelamatkan anaknya, ada juga yang melepaskan persahabatan karena peraturannya sendiri… lambat laun, kita akan melihat siapa yang merasa rugi itu.”
Luceat tertegun mendengar ucapan ayahnya.
“Itu benar, Kamu tidak sebanding dengan apa yang telah ayahmu lepas itu.”
Jika Agnesia dan keluarga Lumen saling melepas satu sama lain dan sama-sama kehilangan, lantas bagaimana yang terjadi pada gadis yang ditemui Luceat itu?
Ia ditangkap, diperiksa tentang hubungannya dengan Luceat serta rombongannya kini sudah dilepaskan dan diberi hukuman untuk tidak menginjakkan kakinya di negeri Agnus.
“Apa? Diasingkan?” Luceat cukup terkejut mendengarnya dan langsung bergegas menuju ruangan bawah tanah dimana para penjahat di tahan.
Gadis itu bahkan bukan penjahat, namun ia harus mendekam di sana. Benar-benar negeri yang tidak masuk di akal, pikir Luceat.
Namun sebelum Luceat menemuinya, gadis itu sudah berhadapan dengan seorang pria muda yang menjadi dokter muda serta selir termuda sang ratu, yaitu Syricie.
“Kenapa kamu memberikan tumbuhan itu pada mereka?” tanya Syricie seolah tak percaya dengan mata kepalanya sendiri melihat orang yang sudah lama tak ia jumpai kini berdiri dan menundukkan kepalanya menatap permukaan tanah.
Wanita berambut panjang hitam bergelombang itu hanya diam.
Pria tampan dihadapannya kini dulu pernah berada di sisinya, selalu mendukungnya dan mencintainya. Namun kini semuanya telah berubah, membuat dirinya merasa tak layak untuk ditatap. Status pria itu lebih tinggi dan aturan kerajaan adalah tidak boleh menatap wajah pria bangsawan jika kamu adalah seorang rakyat biasa.
Kesenjangan itu, dulu tak pernah dirasakan, namun kini terasa sangat nyata.
“Biarkan aku sendiri dengan keputusanku, aku mohon tinggalkan aku.” Memilih tak menjawab wanita itu mengelak pertanyaan Syricie.
“Asteria! Aku tidak ingin kamu hidup dalam pengasingan! Katakanlah jika mereka memaksamu maka pria itu tidak akan bebas dengan mudah!” Syricie meraih kedua tangan wanita yang ia panggil Asteria itu. Sebenarnya hatinya begitu geram ketika keputusan ratu sangat lunak pada keluarga Lumen sementara pada rakyatnya sendiri diperlakukan kejam.
“Bagaimana aku bisa melawan sementara itu kenyataan yang ada!! Aku tidak ingin meletakkan tuan Luceat dalam keadaan yang berbahaya karena ia lebih berjasa dalam hidupku! ia menyelamatkan ibuku dan orang-orang desa yang kesakitan di saat semua dokter harus pergi menjadi milik Yang Mulia!!”
Asteria mengeluarkan kegeraman hatinya.
Syricie tidak tahu menahu bagaimana kehidupan mereka di desa setelah Syricie sebagai satu-satunya tenaga medis diambil oleh Agnesia untuk menjadi selir dan melayani ratu seumur hidupnya. Bahkan sampai membatalkan pertunangan dengan Asteria untuk hidup di istana yang megah.
Hati Asteria yang sudah hancur sejak lama ketika orang yang ia cintai pergi dan ibunya yang sakit-sakitan tak ada yang mengobati rasanya cukup membuatnya tahan hidup di perasingan tanpa peduli apapun.
__ADS_1
“Aku, tidak akan hidup sepertimu, aku tidak akan hidup di bawah kebohongan dan membohongi perasaanku sendiri. Apa yang dilakukan tuan Luceat tidaklah salah, justru akulah yang berlari ketakutan menyusuri hutan, pergi keluar wilayah Agnus, demi mencari obat yang ada di Pulchra, namun rasa takut itu seolah sirna begitu saja ketika melihat rintihan orang-orang sakit seolah berbisik ditelingaku sepanjang waktu, siang dan malam.” Sambil mengeluarkan air matanya akhirnya Asteria mengangkat wajahnya menatap Syricie.
“Inilah hidupku dan kamu tidak perlu mengkhawatirkannya. Kamu sudah mengikuti apa yang menjadi keputusanmu, hidup dan layanilah Yang Mulia sepenuh hati. Biarkan aku menjalani apa yang telah aku pilih!”
Kehidupan yang Syricie pilih? Kebahagiaan dalam bentuk apa yang ia peroleh di istana megah ini?
“Maaf menginterupsi…”
Sepasang mantan tunangan itu sama-sama terkejut melihat siapa yang ngos-ngosan di belakang Syricie dengan beberapa kancing kemeja yang terbuka di atas serta peluh yang cukup banyak mengalir dari hasil lari terburu-burunya itu.
“Tuan Luceat?!”
Luceat melambaikan tangannya menyapa Asteria.
“Aku… biarkan…hhgg.. aku bernapas dengan tenang dulu…”
Seperti yang diminta, Asteria dan Syricie memberikan waktu untuk Luceat mengatur napasnya dan menenggakkan tubuhnya dengan benar.
Pria itu langsung berlari meninggalkan rombongan keluarganya di depan aula pertemuan, mengelilingi istana dengan berlari hingga tiba ke sisi belakang istana dimana setiap tahanan istana dilepas di sana.
“Apa yang kamu katakan? Keputusan apa itu? Kenapa aku baru diberitahukan hari ini?” Luceat masih tidak bisa terima dengan keputusan kerajaan tentang Asteria yang akan diasingkan.
“Tuan Luceat.” Lirih Asteria tak bisa lagi berkata-kata bahwa Luceat sampai berlari untuk bertemu dengannya.
“Aku tidak bisa membiarkannya seperti ini.” timpal Luceat tak terima.
“Ini sudah keputusan Yang Mulia, tidak ada yang bisa menghentikannya. Kalaupun dapat, saya tidak bisa tinggal di negeri ini lagi.”
Apa harus sampai seperti itu? mau kemanapun Asteria pergi, ia tidak bisa menjadi dirinya lagi dan hidup dengan tenang.
“Aku tidak bisa membiarkanmu mengorbankan dirimu seperti ini.”
“Saya tidak merasa mengorbankan diri tuan, saya hanya melanggar peraturan kerajaan sehingga saya harus menanggung kesalahan itu dan dihukum.”
“Lalu, kenapa ada salah selir ratu di sini?” tanya Luceat tak mengerti kenapa ada syricie mengantar kepergian seseorang yang harus diasingkan.
Karena keduanya hanya terdiam tanpa mau menjawab luceat. Geram dengan situasi sunyi ini membuat Luceat akhirnya memutuskan sesuatu yang mungkin cukup gila.
“Asteria, jika memang sudah tidak ada lagi tempat untuk kamu kembali, maka ikutlah denganku pergi dari Agnus ke Pulchra.”
“A-apa?! Yang benar saja?” tanya Syricie kaget.
Syricie mengatakan tentang peraturan kerajaan yang sangat ketat.
Konsekuensi itu, tentu saja diketahui oleh Asteria.
Namun, yang menjadi masalah adalah apa Luceat bisa ia percayai?
Asteria sadar bahwa tiada lagi tempatnya untuk kembali. Ia akan seperti mayat hidup di tempat perasingan dan identitasnya diambil selamanya.
Pilihan hidup yang sungguh buruk.
Namun, apa jadinya jika ia pergi keluar dari Agnus? Apa Pulchra bisa membuatnya hidup lebih baik?
“Jika kamu merasa bahwa diasingkan adalah hukuman untukmu yang telah melakukan kesalahan, lantas kenapa aku harus menerima hukuman yang tidak sama denganmu? Kita sama-sama melakukan kesalahan dan aku yakin kamu sadar juga akan hal itu. seharusnya kamu protes, kenapa kamu diperlakukan seperti ini dan aku tidak.” jelas Luceat.
“Tentu saja berbeda tuan!” Asteria untuk pertama kali meninggi.
“Saya tidak memiliki kelebihan seperti apa yang tuan miliki, saya tidak memiliki materi, kehormatan keluarga, dan lainnya. saya hanyalah saya, yang ada pada saya hanya diri saya yang berasal dari daerah terpencil yang mana tak tahu dunia luar itu seperti ini.” Asteria tidak tahu bagaimana ia harus mengeluarkan emosinya. Semua tercampur aduk dan dirinya tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah orang-orang berkuasa.
Bahkan jika ia berteriak meminta pertolongan, Asteria tidak yakin apa akan ada orang membantunya untuk keluar.
“Setidaknya setelah semua ini, saya tidak mengkhawatirkan keluarga saya yang sudah disembuhkan oleh teman-teman tuan, saya sangat berterima kasih dan bahkan tidak bisa membalas kebaikan tuan dengan layak.” Asteria mengusap air matanya yang sempat terjatuh dengan menatap Luceat.
“Saya akan baik-baik saja, menghabiskan sisa hidup diperasingan mungkin akan ada banyak hal yang bisa saya ketahui…”
Luceat menggeleng.
“Aku tidak bermaksud demikian, sepertinya kau katakan bahwa kita telah melakukan kesalahan dan aku membuat seluruh keluargaku menanggung kesalahanku, lantas bagaimana denganmu yang diperlakukan seperti ini? layaknya keluargaku yang sanggup datang, aku juga mengejarmu ke sini untuk menebus kesalahanmu. Begitulah aku bertanggung jawab.”
Setiap orang punya cara untuk memperbaiki kesalahan yang telah mereka perbuat. Luceat merasa sangat bertanggung jawab atas kelanjutan hidup Asteria. Dia ingin membuktikan bahwa meski Asteria tidak memiliki apa-apa lagi, setidaknya apa yang ada pada Luceat dapat dimanfaatkan.
*
*
*
__ADS_1
Di tempat yang berbeda, Ree kembali ke laboratorium sendirian. Frigid ia tinggalkan begitu saja di markas dan ia tidak begitu peduli. Sejauh mata Ree memandang, semua pasien dalam keadaan yang membaik.
“Kamu sendirian?” tanya Yohan dari belakang Ree.
“Kamu benar… aku sendirian ke sini untuk melihat apa yang telah kalian hasilkan selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan di sini… sejauh ini, tidak ada yang sia-sia…” ucap Ree menatap Yohan.
“Kamu benar, obatnya bekerja dengan baik dan minim efek samping… tapi aku tidak tahu jika pada Frigid yang mana menggunakan obat terlarang, apa bisa tubuhnya menerima perawatan ini… karena semua pasien ini aku bawa berkat bantuan kakakku.” Jelas Yohan menatap pasien dari pintu kaca yang juga menjadi pusat perhatian Ree sejak tadi.
“Dia terlalu keras kepala… Jika bisa, aku ingin membiusnya dan menyeretnya ke sini.” ucap Ree dingin hingga membuat Yohan bergidik karena tiba-tiba saja perempuan satu ini mengeluarkan aura yang cukup menyeramkan.
“Aku rasa kau tak perlu sejauh itu bertindak… jika Frigid percaya pasti ia akan datang sendiri. Aku hanya perlu meyakinkannya lebih dari biasanya…” timpal Yohan.
“Tetapi kekuatan membujukku mungkin tak sekuat dirimu…” Yohan menatap Ree.
“Aku? Hah?! Kami hanya akan bertengkar satu sama lain saja…”
Pada akhirnya setelah berbincang dengan Yohan sebentar dan bertemu dengan Yohanna, Ree memutuskan untuk kembali ke markas militer dimana ia melihat Frigid yang baru saja kembali seperti dirinya. Ree tidak sedang dalam suasana hati yang baik untuk menyapa pria pucat itu dan memilih melewatinya saja.
Harusnya begitu, tapi langkah Ree berhenti tepat di depan pria yang tengah menikmati bacaannya dengan secangkir teh hangat.
Bukankah mereka ke sini untuk menjadi relawan, kenapa pria ini nampak seperti sedang berlibur?
“Kamu perlu sesuatu dariku?” Frigid tak mendiami Ree dan menyinggung tindakan wanita itu.
“Bukankah segalanya sudah kamu ketahui?” tanya Ree.
Segala alasan kenapa Smith bertindak di belakang ayahnya untuk margaretha. Kenapa Margaretha berpisah dari Frigid dan kenapa Smith sulit membangun hubungan baik dengan Frigid.
*
*
*
Sebelum mereka berlabuh di Leafa, beberapa hari sebelum berangkat Ree tidak bisa menahan diri lagi dengan apa yang terjadi di sekitarnya.
Akhirnya ia membawa Frigid bertemu dengan orang yang selama ini pria itu cari.
Margaretha.
Ree membawa Frigid ke rumah Margaretha tanpa memberitahu pemilik rumah dan orang yang ia bawa terlebih dahulu.
Kejutan.
Tanpa niatan untuk memberikan kejutan, pertemuan yang Ree adakan ini untuk menghapus kesalahpahaman antar satu sama lain yang sudah menumpuk bertahun-tahun.
Pertemuan itu menjelaskan semuanya.
*
*
“Smith selalu mendukung dan tidak ingin gerakannya diketahui. Setelah pertemuanmu dengan nyonya Margaretha, kamu tidak mengatakan apa-apa…” Ree mengingat betapa syoknya Frigid hari itu.
“Diluar perasaanmu yang sulit aku mengerti. Aku lebih ingin kamu menghargai usaha dari Smith yang tidak kamu ketahui itu. Nyatanya ia adalah satu-satunya tidak menyerah…”
Ree merasa malu dalam dirinya saat ini. menceramahi Frigid seolah ia sudah bertemu sejak lama membuat Ree merasa tidak tahu diri.
Tapi, ia kembali menyalahkan Smith yang terlalu diam.
Kini ekspresi Frigid lebih menyebalkan ketika pria itu hanya menatap lurus bukunya meski tidak ia balik ke halaman selanjutnya membuat suasana keduanya canggung.
Frigid memikirkannya.
Dimana emosinya saat ini sulit ia tentukan.
Ia tidak tahu harus marah, sedih atau bahkan bahagia.
Smith dengan rapi menyembunyikan Margaretha, melindunginya bertahun-tahun sampai dimana Margaretha bisa memilih hidupnya sendiri. Bergerak dalam bayang-bayang, mencari jalan keluar untuk adiknya yang terjebak dalam belenggu oleh orang lain.
Ree masih berdiri di hadapan Frigid, teh hitam yang sudah diseduh itu tak disentuh oleh pemiliknya dan tidak lagi mengepul asapnya, mungkin sebentar lagi akan dingin. Dari balik gedung markas tempat Ree dan Frigid tinggal untuk sementara ini, Ree bisa melihat jelas matahari terbenam karena letak gedung mereka tak jauh dari pelabuhan.
“Lantas, apa kamu peduli?” tanya Frigid sembari meletakkan bukunya. Sorot mata yang sudah biasa Ree lihat itu begitu dingin menatap matanya.
“Tentang apa?” tanya wanita yang wajahnya saat ini ditimpa oleh sinar matahari senja.
“Tentang hidupku? apa kamu peduli?”
__ADS_1
Sejauh ini bertindak, dengan bodohnya Ree masih kebingungan menjawab pertanyaan sederhana dari Frigid itu. terlebih saat ia bertanya, Ree menggigit bibirnya karena pria itu hanya menarik ujung bibirnya sedikit seolah ia tersenyum antara ingin jawaban dari Ree atau hanya iseng menggoda perempuan itu.
To Be Continued.