We And Problems

We And Problems
Chapter 8 : Apology


__ADS_3

“Kenapa kamu mengikutiku?” tanya tanpa menoleh ke belakang, karena ia tahu Frigid dari bawah pohon sudah mengikutinya ketika menengahi Marco dan Viovarand.


“Kondisimu seolah mengatakan bahwa kamu tidak bisa ditinggalkan sendiri.”


“Jawabanmu terdengar aneh bagiku. Aku sudah baik-baik saja, terima kasih sudah membuatku keluar dari pusaran masalah mereka.” Ree berhenti berjalan lalu memutar tubuhnya menatap Frigid yang masih berdiri di belakangnya sejak tadi.


“Kamu bisa pergi dan melanjutkan patrolimu.”


*


*


*


“Viovarand, apa kamu bisa jelaskan kenapa kamu memperlakukan Ree dengan kasar seperti tadi?” tanya Marco sembari bangkit berdiri dan langsung memutar tubuhnya untuk menghadap saudaranya.


Raut wajah Viovarand memang tegas dan tidak memiliki aura kelembutan seperti Marco.


“Apa kamu ingin mempermalukan keluarga lagi dengan dimanfaatkan oleh orang-orang di sekitarmu?” tanya Viovarand lalu maju menepis jarak diantara ia dan Marco.


Ree memang meminta Marco untuk bicara terus terang pada Viovarand, namun tetap saja wajah Viovarand ketika sedang serius sangat menyeramkan.


“Aku sadar bahwa aku tidak sekuat dirimu, bahkan kepintaranku pun tidak seberapa.” tutur Marco sembari sedikit mundur menjaga jarak antara ia dan Viovarand sebelum kerah mantelnya juga diangkat seperti yang dilakukan Viovarand pada Ree.


Tiba-tiba Marco terdiam dan tidak melanjutkan ucapannya karena ia teringat tentang apa yang Ree katakan padanya belum lama ini.


Dengan sekuat hati ia mencoba menahan emosi dengan mengepal erat kedua tangannya.


“V-viovarand, a-apa kamu membenciku?”


Jeda itu hanya terisi dengan suara keramaian dari dalam gedung akademi dan di sekeliling mereka hanya terdengar gemerisik dedaunan karena angin yang sedikit kuat di siang hari.


“Apa yang kamu bicarakan? Apa itu penting saat ini?” tanya Viovarand bingung.


“Penting, bahkan sangat penting. Aku tidak bisa pergi sebelum mendengar jawaban darimu.” jawab Marco.


Laki-laki berkaca mata itu mengangkat wajahnya untuk membalas tatapan Viovarand yang selama ini ia takutkan ketika selalu berhadapan.


“Selama ini aku tidak tahu bagaimana aku harus bersikap ketika pada ujung-ujungnya aku selalu ditegur olehmu. Entah itu karena kelas bahkan sampai pada orang-orang yang ada di sekitarku. Maka dari itu, jika kamu membenciku tolong katakan dengan jelas!”


Tidak langsung memberikan jawaban melalui perkataan, Viovarand langsung menaruh kedua tangannya pada pundak Marco dan tetap memasang kontak mata dengan lawan bicaranya itu.


“Kamu adalah satu-satunya yang bisa meneruskan kepala keluarga, Marco.” ucap Viovarand setelah lama berdiam diri.


“Aku mengatakannya bukan karena kamu sebatas anak dari istri pertama ayah. Itu karena aku tidak akan pernah bisa menduduki posisi penting itu.”


“Jangan bicara omong kosong, jika tanpa alasan jelas membuatmu memperlakukan aku seperti ini, nampak sekali jika kamu berada dalam tekanan yang tidak bisa kamu tangani.”


Dengan perlahan Marco menurunkan kedua tangan Viovarand dari kedua pundaknya.


“Jangan samakan aku denganmu! Meski aku memiliki ayah yang sama denganmu jelas sekali aku berbeda karena status ibuku yang tidak kalian terima di keluarga!”


Marco terdiam, ia tahu bahwa keadaan keluarganya sedang panas dingin memperdebatkan siapa yang layak menjadi penerus keluarga. Viovarand memiliki semua syarat menjadi seorang penerus tanpa celah seperti dirinya, hanya saja masih banyak orang memandangnya sebelah mata karena lahir dari wanita simpanan ayahnya yang kini sudah menjadi nyonya kedua di kediaman Heittblood.


“Oleh karena itu, Viovarand. Aku akan berusaha dan bersaing denganmu. Bukan karena sedikit perbedaan itu, melainkan dengan kemampuan yang kita miliki. Aku akan mengalahkanmu maka aku akan tidak akan berhenti untuk belajar.”


Viovarand tertegun sebentar ketika mendengar keputusan Marco. Dalam dasar hatinya ia tidak mempermasalahkan jika ia bukan yang terpilih, ia tidak ingin menyombongkan diri dan kemampuan yang ada di dalam dirinya serta berusaha untuk mendapat perhatian.


Ia hanya ingin melakukan apa yang terbaik sesuai dengan harapan ayahnya ketika mengajaknya untuk bergabung di dalam kediaman sebagai putra tertua. Meski semua orang memandangnya sebelah mata, setidaknya apa yang bisa ia lakukan adalah tidak membiarkan orang-orang memanfaatkan hati Marco yang lemah itu. Ia tahu adik tirinya memiliki banyak dukungan, hal itu juga hampir sebesar kelemahan hatinya pada setiap orang sehingga mudah untuk dimanfaatkan lalu malah membawa keterpurukan entah bagi Marco sendiri bahkan pada keluarga.


Setidaknya jika bisa melakukan hal sekecil itu, Viovarand merasa sudah menjalankan tugasnya dengan baik.


Namun, ternyata tidak semua keinginan berjalan sebagaimana mestinya. Saat ini di hadapannya meski dengan mata yang berkaca-kaca memberanikan diri untuk menatap langsung pada matanya, Viovarand menarik senyumnya sangat kecil karena merasa geli dengan keberanian laki-laki yang ia ketahui sangat penakut itu.


“Haahh!! Kemanakah laki-laki kecil yang selalu mengekorku ketika berlatih pedang dulu?” tanya Viovarand heran.


Viovarand nampak hampir tidak bisa mengontrol ekspresinya saat ini hingga membuatnya menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Ia terlalu malu untuk menampakkan senyumnya pada Marco.


“Aku tidak pernah membencimu.” ucap Viovarand setelah berhasil menenangkan suasana hatinya.


Tatapannya saat ini terasa lebih lembut dan hangat dibanding beberapa waktu lalu.


“Aku hanya ingin dirimu memiliki karakter yang kuat dan mampu menentukan apa yang kamu mampu lakukan hingga tidak memaksakan diri.” lanjutnya.


Tiba-tiba terbesit sekali lagi dalam pikiran Marco tentang ucapan Ree, bahwa Viovarand peduli padanya hingga membuat Marco tiba-tiba saja terkekeh dan menjadikan situasi sedikit canggung bagi Viovarand.


“Kenapa kamu tertawa?” tanya Viovarand kembali bingung.


“Saat ini kamu terdengar seperti seorang kakak.” timpal Marco polos.


“A-apa!?”


Bahkan Viovarand sendiri tidak bisa mengontrol semburat merah di wajahnya karena ucapan Marco.


*


*


*


Seharian ini Ree berhasil menyelesaikan semua kelas meski terdapat sedikit masalah pada jam makan siang. Entahlah, Ree tidak tahu apa kabar selanjutnya karena ia tidak begitu peduli dengan masalah kedua saudara itu.


“Ree, apa kamu mau menitip sesuatu? Kamar sebelah sudah mengurus ijin untuk pergi ke kota pada malam ini.” ucap Ghea pada Ree yang sudah terkapar di atas kasur dengan menatap langit-langit kamar kosong.


Karena sistem asrama yang ketat membuat seluruh penghuni tidak dapat bebas keluar-masuk lingkungan akademi tanpa seijin pihak akademi. Untuk itu, mereka harus mengurus surat ijin yang wajib disertai tanda tangan kepala akademi agar punya akses untuk keluar dan didampingi beberapa penjaga.


“Apa mereka tidak kerepotan mengurusi barang titipan kita?” tanya Ree sembari bangkit duduk dan menatap lawan bicaranya itu.


“Maka dari itu, tidak ada salahnya memberi lebih.” jawab Ghea enteng.


Ree mengerti.

__ADS_1


“Apa yang ingin kamu titipkan ke mereka?”


Setelah mengantar kepergian teman-temannya yang pergi ke kota pada sore itu, Ree dan Ghea langsung berjalan menuju ruang makan seluruh penghuni asrama putra dan putri yang berada di antara kedua gedung asrama. Aula megah itu berada di tengah dan menjadi penghubung kedua gedung meski dilapisi dengan pintu yang terkunci di waktu tidur seluruh penghuni. Di sinilah menjadi tempat kedua setelah akademi untuk saling berinteraksi.


“Entah kenapa hari ini aku tidak berselera untuk masuk ke dalam gedung ini.” ucap Ree lemas ketika melihat dalam aula sudah dipadati seluruh murid termasuk para murid tahun pertama dan kedua yang merupakan laki-laki semua.


“Ree, jika bulan tidak bisa tinggal bersama matahari maka keseimbangan bumi akan kacau.”


Ree menatap Ghea dengan wajah kebingungannya.


“Ghea, siapa yang kamu maksud matahari itu? Apa kamu memposisikan aku sebagai bulan itu?” tanya Ree heran.


Ghea terdiam lalu kembali menatap Ree dengan senyum tipis di wajahnya yang penuh dengan misteri.


“Hanya pendapatku pada kelas Geografi.” jawab Ghea.


Baiklah, Ree bukan sekali ini saja merasa bahwa teman sekamarnya itu aneh.


Tanpa menunggu lama Ree dan Ghea langsung mengambil tempat duduk dan bergabung dengan para penghuni asrama perempuan tanpa menyadari dari beberapa meja di depan mereka seseorang sedang menatap gerak-gerik Ree sejak memasuki ruang makan.


“Viovarand apa yang kamu lihat?”


Laki-laki yang ditegur oleh temannya itu langsung tersadar, ia sudah menatap lurus pada meja murid perempuan dengan tajam dan tanpa mengucapkan sepatah kata.


“Viovarand.” Kali ini suara lembut yang tidak asing namun cukup melelahkan untuk terus-menerus ia dengar.


“Ada apa Frigid?”


Ia tahu siapa pemilik suara itu tanpa harus melihat kepada orangnya yang sudah duduk di sampingnya.


“Temui aku selepas makan malam di ruang pertemuan utama asrama.”


“Bagaimana jika aku tidak mau?” tanya Viovarand tidak suka.


Frigid hanya menoleh dengan senyum samar di wajahnya, sampai saat ini belum ada yang bisa memecah ketenangan di wajah laki-laki itu hingga kadang membuat teman-temannya merinding.


“Jika kamu bisa menyelesaikannya sendiri dengan baik-baik, aku tidak masalah.”


“Berisik, ini bukanlah masalah besar yang harus ketua senat sampai turun tangan. Tolong jangan membuat selera makanku menghilang.”


*


*


*


Ree tidak tahu saat-saat seperti ini akan tiba, dimana ia memiliki seseorang yang sedang ia ingin hindari. Ia pikir ketika tidak bertemu akan baik-baik saja dan selesai, meski kadang ia meragukan hal itu.


“Ree? Kamu baik-baik saja?” tanya Maglina ketika Ree jelas-jelas menyembunyikan diri di belakang punggungnya ketika mereka sedang ingin makan siang bersama di kafetaria.


“Tidak, hanya saja aku seperti menghalangi jalan jika berdiri di sampingmu.” jawab Ree tenang, ia menyembunyikan rasa takutnya pada pria yang ada di hadapan mereka.


“Begitukah? Kalian bisa lewat duluan.” ucap Maglina pada beberapa murid laki-laki di depannya mereka dan salah satunya adalah Viovarand itu sendiri.


Sementara Ree sudah jantungan ketika mendengar ucapan Viovarand yang terdengar seperti mengajak berduel.


Apa masalah mereka belum selesai? Apa Marco ada mengatakan sesuatu?


“Ree?” tanya Maglina seolah peka dengan situasi maka menanyakan kesediaan Ree terlebih dahulu.


Ree diam sejenak dan masih menatap nampan berisi makanannya yang belum ia sentuh sama sekali lalu perlahan keluar dari belakang punggung Maglina dan langsung menatap Viovarand yang sudah ada di hadapan Maglina.


“Hanya kita berdua.”


“Eh!!?”


Mereka yang kaget bukanlah Ree melainkan teman-teman Viovarand yang seperti melihat orang lain hari ini. Sungguh bukan seperti Viovarand yang biasa.


“Maglina, nampaknya kita tidak bisa bersama hari ini, sampaikan salamku pada Liliana.” ucap Ree lalu mengikuti langkah Viovarand yang membawanya menuju meja kosong di sudut kafetaria.


Jangan tanya bagaimana perasaan Ree saat ini, permukaan sup di nampannya saja sudah terdapat gelombang yang bukan karena ia sedang berjalan saja, melainkan tangannya yang sudah sedikit bergetar. Ingatannya masih sangat membekas bagaimana Viovarand memperlakukannya beberapa hari lalu. Ree pikir ketika ia tidak melihat Viovarand dalam beberapa hari ia tidak akan seperti ini, namun ternyata tidak seperti ekspetasinya.


“Kita duduk disini.”


Ree benar-benar terkejut. Suara Viovarand tidak sekeras kemarin, namun tetap saja sangat rendah dan penuh penekanan ketika menunjuk meja kosong untuk dua orang.


“Kita makan dulu.”


“Ah, baiklah.”


Dengan canggung Ree menyanggupi dirinya untuk duduk di hadapan Viovarand dan mereka makan dengan keheningan masing-masing. Meski berbeda alasannya namun sama memiliki kegelisahan dalam diri.


“Ini.”


Sejak tadi Ree tidak ingin mengangkat pandangan karena ia tidak ingin membohongi dirinya sendiri bahwa ia sedang takut menatap teman makannya saat ini, namun karena sebuah cangkir berisi jeli tiba-tiba disodorkan ke pinggir nampannya membuat Ree perlahan mengangkat pandangannya melihat, apakah benar orang di depannya ini yang mengangkatnya lalu menjatuhkannya ke tanah beberapa hari lalu?


“Marco mengatakan kamu menyukai jeli di kafetaria ini, maka ambil saja punyaku.” ucap Viovarand tanpa menatap ke arah Ree.


Ree memang langsung peka maksud dari tindakan Viovarand yang aneh hari ini, namun nampaknya ia ingin sedikit menikmatinya dengan perlahan.


“Kenapa? Apa kamu tidak suka jeli?” tanya Ree masih memperhatikan jeli buah-buahan yang nampak sangat menyegarkan itu.


Memang benar ia sangat menyukai jeli di kafetaria akademi dan ia sempat membicarakannya dengan beberapa temannya termasuk Marco.


“Iya aku tidak menyukainya, makan saja. Juga, aku minta maaf.” ucap Viovarand pelan sembari perlahan menatap Ree yang sudah sejak tadi menaruh perhatian padanya.


Ree sedikit tersentak karena sorot mata Viovarand memang tidak pernah berubah. Selalu tajam dan mengintimidasi meskipun ia tidak bermasuk demikian.


“Aku salah paham. Sejak awal kamu memang selalu membantu Marco, ia sudah menjelaskan padaku tentang hubungan kalian berdua. Syukurlah jika Marco bisa mendapat teman.”


Ucapan itu lebih terdengar gumanan namun dapat sampai ke telingan Ree dengan baik.

__ADS_1


Ree memang sudah menebak dua hal, jika Marco berhasil menyampaikan perasaannya dan berjalan dengan baik, maka dirinya memang harus menerima permintaan maaf. Namun, jika gagal dan kejadian semakin buruk maka yang terjadi adalah dirinya menjadi kembali terancam oleh keberadaan Viovarand.


“Ternyata kamu adalah kakak yang baik.” timpal Ree setelah ia lama berdiam.


Ia pun meraih jeli yang diberikan Viovarand untuknya.


“Kamu yakin tidak ingin?” tanya Ree menawarkan jeli yang sudah menjadi miliknya itu.


“Makan saja, aku tidak suka makanan penutup.” ucap Viovarand sembari membereskan nampannya untuk pergi, namun sebelum ia benar-benar meninggalkan mejanya sekali lagi ia menatap Ree yang sedang menikmati jeli yang ia berikan.


“Ada apa?” tanya Ree.


“Tidak, aku pergi dulu.”


Ree hanya menatap punggung Viovarand yang semakin menjauh dan bergabung dengan teman-temannya kembali.


“Jika ia sampai memberikan makanan penutupnya, itu berarti ia benar-benar merasa bersalah padamu.”


Tanpa menoleh pun, Ree sudah tahu siapa yang mengisi kursi yang sudah dikosongkan oleh Viovarand barusan.


“Frigid, nampaknya akhir-akhir ini kita sering bertemu satu sama lain.” timpal Ree sembari memutar kepalanya untuk menatap teman satu akademinya yang memiliki surai hitam itu.


Sorot mata Frigid tidak pernah berubah, selalu sama persis seperti ikan mati karena tidak terlihat tanda-tanda hidup di dalamnya. Itu yang membuat Ree heran setiap bertatapan dengan Frigid.


“Itu karena aku ingin kamu jadi anggota senat.” jawabnya tanpa pikir panjang.


“Kamu sangat berterus terang.” cibir Ree heran.


“Tentang Viovarand, aku rasa itu masalahnya. Kemarin aku cukup menikmati kesalahpahaman yang ada jadi aku biarkan.” lanjut Ree sembari menyusun nampan makanannya dan bersiap untuk pergi.


“Ternyata kamu licik.”


Ree terkekeh geli.


“Terima kasih atas pujianmu, berkatnya aku bisa makan dua makanan penutup siang ini. Lalu, tentang tawaranmu barusan aku rasa aku tidak bisa ikut Uwaa!”


Ree hampir saja jantungan untuk kedua kali di siang ini karena orang. Bagaimana tidak, saat ia ingin bangun dari kursinya ia mendapati seorang laki-laki berseragam seperti dirinya dengan surai keemasan dan bola mata biru sedang menatapnya dalam diam.


“To-.”


“Yohan, tolong menjauh darinya.” Frigid sudah lebih dulu menyelesaikan kalimat keramat Ree.


Mengikuti perkataan Frigid tanpa protes maka Yohan langsung menyingkir dari depan Ree agar gadis itu bisa pergi.


“Frigid, kamu serius ingin mengajaknya bergabung di senat?” tanya Yohan setelah Ree pergi meninggalkan meja.


“Nampaknya aku harus mendengar alasanmu terlebih dulu. Kamu tahu, aku tidak suka diarahkan oleh sembarangan orang.” sambut Yohanna yang muncul tiba-tiba dari arah perginya Ree.


Frigid terdiam mendengar si kembar yang selalu bersamanya.


“Karena dia yang akan sanggup melakukannya.” ucap Frigid sembari bangkit berdiri dan berniat untuk pergi.


“Bagaimana bisa kamu menilainya hanya dalam beberapa kali bertemu saja? Frigid, pikirkan lagi dan bukannya sudah banyak yang mendaftar untuk menjadi anggota senat?” tanya Yohan.


*


*


*


Hari ini Ree dapat bernapas dengan lega karena tidak bertemu dengan kakak-adik Heittblood. Apa yang terjadi di hari yang telah berlalu memang sepatutnya dilupakan saja karena tidak penting bagi kehidupan Ree.


“Ree?”


Awalnya Ree hanya terdiam melihat berbagai peralatan di atas meja sebelum seseorang memanggil namanya.


“Liliana!” seru Ree kaget. Terakhir kali ia bertemu dengan Liliana di kelas Berburu sementara ia sering berpas-pasan dengan Liliana di kafetaria atau di koridor saat pergantian kelas.


“Aku tidak tahu kamu juga ikut kelas Kimia.” timpal Ree sembari mempersilahkan Liliana untuk duduk.


“Ah!”


Tiba-tiba saja beberapa murid perempuan datang dan langsung menyenggol belakang Lilianan hingga membuat gadis itu hampir tersungkur menabrak meja jika tidak Ree tahan.


“Jangan berdiri menghalangi jalan orang lain.”


“Apa kamu melihatnya? Aku bahkan tidak tahu ada orang di situ.”


Entah apapun itu, Ree bisa langsung tahu bahwa situasi tidaklah sama dengan apa yang ada di kelas Berburu.


“Ree, kita duduk di situ saja.”


Sebelum Ree ingin bertanya, Liliana sudah lebih dulu menunjuk posisi meja praktek yang ada di tepi kelas.


“Liliana, apa kamu sering diperlakukan seperti tadi?” tanya Ree setelah mereka duduk bersama di kursi yang Liliana tunjuk.


“Mereka hanya suka bercanda. Biarkan saja, aku tidak punya waktu untuk meladeni perbuatan mereka. Memangnya kenapa jika tubuhku memang kecil?” ucap Liliana cukup cepat dan jelas menampakkan kekesalannya meski mungkin ia malu untuk mengakui.


“Pfft…”


Mau tidak mau Ree hanya bisa menahan tawa ketika ekspresi Liliana terlihat kesal namun lucu secara bersamaan.


“Ada apa Ree?” tanya Liliana bingung.


“Tidak, aku mengapresiasikan tanggapanmu terhadap perlakuan mereka sekaligus merasa sedikit geli ketika kamu menahan rasa kesal dalam waktu yang sama.” jawab Ree.


Tiba-tiba Liliana terdiam dan menegang lalu memegang lengan jas putih milik Ree. Gadis kecil itu mencengkram kuat lengan jas Ree hingga membuat si pemilik merasa heran karena ia tidak tahu sisi Liliana yang seperti ini.


“Liliana, apa aku boleh bergabung denganmu?”


Walaupun tidak dikatakan Ree bisa tahu penyebab dari perubahan sikap Liliana. Ia mengenal Liliana sejak di kelas Berburu, Ree tahu betul kemampuan Liliana yang cerdas dan meski sedikit unik, namun ia tidak tahu jika Liliana bisa terlihat sedikit takut saat ini di banding berada di dalam hutan.

__ADS_1


Apa itu karena seorang murid laki-laki yang datang menghampiri meja mereka? Murid laki-laki yang memiliki warna rambut kecoklatan dengan senyuman seperti melihat bunga matahari yang sangat indah dan tampak sangat ramah.


To Be Continued


__ADS_2