We And Problems

We And Problems
Chapter 58 : Menjadi Bantuan Untuk Orang Lain


__ADS_3

Dari sekian banyaknya pertemuan yang diatur oleh manusia, tidak akan pernah sekompleks pertemuan yang di atur oleh takdir. Karena takdir itu tidak terduga, meski sudah berencana dengan matang, nyatanya banyak hal yang menghalangi pertemuan antar manusia meski sudah di atur dengan baik.


Di hari pertama Frigid di Litore ia tidak bisa bertemu dengan Margaretha nyatanya tak semudah itu. banyak penghalang yang ada di depan mata Frigid. Ia tahu bahwa waktu tak akan pernah menunggunya, karena itu setidaknya Frigid ingin bertemu dengan wanita yang pernah merawatnya itu sekali lagi.


Senja di pesisir nyatanya lebih lambat dari pada mereka ada di Crystallo yang dikelilingi oleh pegunungan itu. Dimana kegelapan akan datang ketika matahari sudah sepenuhnya tenggelam dan menyinari belahan lain dunia.


Bukan suatu kebetulan, karena memang mereka memiliki waktu pulang yang sama. Dimana Frigid pulang bersama Ree yang tengah berjalan lebih dulu darinya di depan.


“Kira-kira apa yang enak untuk makan malam ya…” guman Ree ketika di sepanjang jalan pulang yang ia lihat banyak toko yang menjual makanan.


Mungkin ia bisa mencari makan saat Liliana sudah kembali dari laboratorium, atau bisa saja temannya satu malah tidak pulang. Dari pada itu, kadang Ree harus memutar pandangannya dan menatap Frigid yang berjalan di belakangnya hingga membuat yang dilihat menjadi risih.


“Kenapa kamu terus melihatku?” tanya Frigid yang sudah mampu mengejar langkah Ree.


“Aku pikir kamu hilang di telan kerumunan.” jawab Ree terus terang tentang kekhawatirannya pada orang baru seperti Frigid.


“Kamu pikir aku buta arah atau semacamnya?” tanya Frigid tak habis pikir ketika ia malah dikhawatirkan oleh seseorang seperti Ree.


Meskipun Frigid terpisah dari Ree, ia sudah tahu jalan pulang kemana. Hal itu membuat Frigid tak takut menyelusuri kota yang baru ia tempati sekarang.


“Haah… kamu terlalu meremehkan kota Litore. Oh!!” baru saja ingin melanjutkan ocehannya nampaknya perhatian Ree teralihkan oleh sesuatu, atau bisa ia katakan seseorang?


Ree langsung pergi dari hadapan Frigid dan menghampiri seorang wanita di belakang Frigid.


“Nyonya Margaretha!!” seru Ree kaget ketika ia bertemu dengan salah satu pengajarnya di akademi.


Pendengaran Frigid tentu tidaklah sakit atau bermasalah, jelas sekali suara Ree menyerukan nama wanita yang ia cari selama ini. Frigid langsung memutar tubuhnya memusatkan perhatian pada orang yang Ree panggil dengan bersemangat itu.


Mata Frigid terbelalak kaget.


Wajah, tubuh, bahkan suaranya adalah sesuatu yang sudah lama tidak Frigid dengar. Tanpa sadar, langkah kakinya menariknya dan menghampiri kedua wanita yang sedang berbincang.


“Ree! Apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah kamu sedang ada program pertukaran pelajar di La Priens?”


Benar, suara ini. suara yang selalu mengatur dan menasehati Frigid saat ia masih kecil. Tanpa terasa, wajah yang dulu masih seperti seorang remaja sudah berubah menjadi seorang wanita dewasa.


“Margaretha…” guman Frigid kecil.


Ree tersadar bahwa Frigid sudah ada di belakangnya dan menatap ke arah Margaretha.


“Eh? Ada apa ya? Apa kamu mengenal saya?” tanya wanita dengan rambut coklat bergelombang itu pada Frigid.


Tubuh Frigid seolah membatu ketika Margaretha tidak lagi mengingatnya. Tidak, tidak mungkin seperti itu bukan? Ini bukan mimpi dan Margaretha tidak memiliki saudara yang mirip dengannya. Tidak mungkin Margaretha melupakan Frigid begitu saja.


“Bukan… itu… Margaretha…”


“Margaretha, apa yang kamu lakukan?” tanya seorang pria dewasa yang muncul dari arah belakang Margaretha dan membawa beberapa kantong belanja.


“Apa mereka murid-muridmu?” tanya pria itu lagi sembari menatap Frigid dan Ree.


Margaretha nampak terkekeh lalu mengenalkan Ree yang merupakan muridnya di akademi.


“Jadi kalian magang rupanya… Ree saya pergi dulu!!” ucap Margaretha setelah mengenalkan Ree pada suaminya yang ikut berbelanja.


Ree membalas Margaretha dengan lambaian tangannya hingga kedua orang itu tertelan kerumunan.


“Haah, siapa sangka akan bertemu dengan salah satu pengajarku.” Timpal Ree tak habis pikir karena terlalu banyak kebetulan di dunia itu.


Tapi, dari pada itu. Ree nampaknya sedikit kepikiran dengan sikap Frigid saat ini dan teringat akan ucapan Servio tentang alasannya selalu ada di gedung B akademi La Priens.


Apa Frigid memiliki hubungan dengan wanita yang dimaksudkan oleh Servio itu?


“Apa kamu mengenal nyonya Margaretha?” tanya Ree setelah melihat Frigid sejak tadi hanya berdiam diri di samping Ree.


Mengenal? Mungkin tak sekedar mengenal bagi Frigid. Ia sudah menganggap Margaretha adalah orang yang spesial dalam hidupnya dan ingin setidaknya bertemu dengan wanita itu setelah sekian lama.


Namun, entah mengapa hatinya terasa sangat sakit ketika ia tidak dikenal oleh orang yang selama ini ia cari.


Frigid seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang hidup Margaretha setelah keluar dari kediaman. Mungkin ia sudah memiliki suami saat ini, namun apakah benar ia berbahagia dengan kehidupannya saat ini?


Wajah Frigid nampak tak biasa di mata Ree. Keningnya berkerut, pria itu bahkan hanya menatap lurus arah perginya Margaretha belum lama ini.


Pria satu ini, Ree menjadi menduga-duga alasan kedatangan Frigid datang ke Litore.


“Kamu bisa bertanya tentang nyonya Margaretha padaku.”


Kata-kata Ree mengetuk pikiran Frigid yang sedang tertutup dari dunia luar itu.


Tersadar akan sikapnya yang tidak biasa, Frigid menoleh pada Ree yang sejak tadi tengadah demi menatap wajah Frigid secara langsung. Wajah wanita itu terlihat sangat percaya diri dengan ucapan yang ia tawarkan pada Frigid, seolah tahu bahwa ada hubungan Frigid dan Margaretha di masa lalu.


“Tidak perlu, aku lebih tahu darimu.” ucap Frigid sembari memutar tubuhnya dan melanjutkan langkahnya untuk kembali ke tempat mereka tinggal.


“Hee… Lebih tahu katanya??” cibir Ree merasa geli.

__ADS_1


Baiklah, mungkin memang ada hubungan di antara Frigid dan Margaretha, namun tidak cukup membuat Ree untuk penasaran. Hanya saja, kenapa bisa Margaretha malah tak mengenal Frigid dan sebaliknya malah Frigid yang mengenal Margaretha.


*


*


*


Kira-kira sudah berapa minggu Henny tidak mendengar deburan ombak di kota asalnya? Lamanya sudah tak betah lagi Henny hitung karena jika ia melakukannya ia akan menjadi rindu.


Baik kota dan orang-orang di dalamnya.


Karena itu, hari ini Henny sudah menyelesaikan magangnya di Crystallo dengan membawa banyak sekali kenangan berisi masalah-masalah mulai dari yang terkecil hingga sangat besar.


Seminggu sudah berlalu ketika ia dan Dandelia mendatangi Servio. Berbicara banyak hal-hal yang emosional. Dari hari itu, Henny tidak mendengar apa-apa lagi. Ia pikir seharusnya Servio tahu apa yang harus dilakukan.


Ya, walaupun saat ini Ree tengah ada di Litore selama 3 bulan kedepan.


Henny hanya diam menunggu di stasiun kota kedatangan kereta yang akan membawanya ke Litore hari ini. barang-barangnya cukup banyak ketika seisi kantor memberinya berbagai bingkisan sebagai kenang-kenangan. Setidaknya itu menjadi hal baik ketika Henny datang ke Crystallo.


Dalam hati, Henny juga tak sabar menemui Ree di Litore. Meski sudah beberapa kali bertemu di Crystallo, rasanya kurang jika belum bermain di kota asal mereka.


“Dingin sekali… apa dengan memeluk tas itu membuatmu hangat?”


Lamunan Henny yang tenang ketika memikirkan rencana yang harus ia lakukan dengan Ree di Litore terpecah begitu saja ketika menyadari seseorang dan sebuah koper besar hadir di sampingnya.


Orang itu mengambil tempat duduk di samping Henny dan nampak mengenakan pakaian yang cukup hangat di musim gugur ini. Dari sudut mata Henny, ia dapat melihat bahwa seorang pria itu sedang merapikan rambutnya yang panjang dengan menguncirnya seperti ekor kuda.


“Aku bisa mengepangnya jika kamu mau.”


Tawaran Henny sempat membuat pria yang sedang mengikat rambutnya itu kesal.


“Tidak terima kasih, dari sekian banyaknya gaya rambut panjang, aku hanya menyukai gaya ini.” timpalnya.


Henny nampak terkekeh, ia pun menatap kedatangan kereta yang akan meluncur ke Litore pagi ini dan bangkit berdiri diikuti oleh pria di sampingnya.


“Servio, aku pikir kamu adalah pria yang malas dan menyebalkan. Nyatanya kamu adalah pria gila di balik wajah tampan yang tak berguna itu.”


Mungkin antara terkejut dan tidaknya ketika Henny melihat kehadiran Servio di sampingnya saat ini.


Servio nampak menyemburkan kekehan pelannya ketika mendengar pujian sekaligus hinaan dari Henny.


“Apa yang kamu katakan? Aku hanya ingin berangkat magang di luar program murid tingkat 4. Akhir-akhir ini aku kurang tidur karena mempersiapkan ujiannya dan seleksi ketatnya membuat aku harus benar-benar kerja keras.”


“Begitukah? Karena ini perjalanan panjang, kamu bisa tidur di kereta. Aku harap orang yang duduk di sebelahmu tidak keberatan menjadi sandaranmu.”


*


*


*


Namun, nampaknya yang akan berangkat ke Litore bukan Henny dan Servio saja. Dari sekian banyak penumpang yang ada di dalam kereta, khususnya di gerbong kelas atas, terdapat seseorang yang sedang menikmati koran paginya di dalam kereta.


“Haah… lagi-lagi perjalanan dinas.” Ucap Smith setelah ia cukup jengah dengan berita artis ibukota di dalam koran yang menurutnya tidak begitu penting bagi pribadi Smith.


“Tuan Smith, anda selalu mengatakan hal itu saat melakukan perjalanan dinas.” timpal rekan kerjanya yang duduk di sampingnya.


“Karena perjalanan dinas itu sangat melelahkan.” Ucap Smith sembari menatap pepohonan yang dilalui dengan cepat oleh kereta yang membawanya saat ini.


“Bukankah anda yang ingin menggantikan dalam perjalanan dinas kali ini? Padahal tidak ada yang memaksa.”


Itu benar, Smith sangat membenci jenis pekerjaan satu ini. dimana ia harus pergi ke luar kota dengan tujuan bekerja bukannya liburan. Smith jarang sekali dikenal untuk mau ikut perjalanan dinas, namun kali ini tujuan perjalanan dinas adalah Litore.


“Nampaknya aku belum puas menelusuri Litore. Untuk itu aku putuskan untuk mengunjunginya sekali lagi.”


Sampai semuanya puas.


Bukan tanpa alasan hanya ingin menelusuri semata, nyatanya Smith telah kembali dipanggil oleh ayahnya dan diminta untuk mengunjungi ke Litore dengan sebuah tugas.


Mengawasi Frigid.


Mungkin tak sampai 3 bulan Smith harus di Litore, setidaknya ia harus memberi laporan dasar terkait apa yang Frigid lakukan di sana.


Tentu saja mau tidak mau harus Smith lakukan agar tak membuat orang-orang mencurigai dirinya. Terlebih dirinya juga ingin melihat Ree yang ia ketahui juga magang di Litore.


Bagaimana kabar anak itu?


Apa ia tetap menjalani magangnya dengan baik ketika ia memiliki masalah dengan Servio yang belum ada titik terangnya saat ini?


Smith cukup di buat penasaran.


*

__ADS_1


*


*


Ini dimana?


Apa dunia masih berputar?


Apa ia masih ditubuhnya yang asli atau bagaimana?


Kenapa suara ombak sangat tidak menyenangkan dan membuat semakin pusing saja?


kira-kira seperti itulah menjadi pertanyaan Ree ketika ia hanya bisa berbaring di atas tempat tidur di dalam dek kapal yang menuju ke sebuah pulau.


Seperti yang sudah diketahui oleh Ree sendiri yang mana meskipun ia memiliki satu keluarga besar yang merupakan pelaut, namun ia memiliki perbedaan dari mereka semua.


Yaitu mabuk laut.


Ree bahkan tidak tahu kenapa ia bisa terlahir seperti ini sementara saudaranya sudah bisa memimpin armada dalam pelayaran pribadi mereka masing-masing.


Juga, Siapa sangka Ree akan menjadi salah satu anggota tim relawan yang dikirim ke sebuah pulau yang mana terkena bencana dalam seminggu kedepannya.


Ree juga tidak bisa menyalahkan bencana yang datang karena alam tidak ada yang tahu.


“Apa kamu sudah mendingan?”


Ree masih tersadar meski kepalanya sangat pusing. Ia mengangkat sapu tangan merah pemberian Viovarand yang menutupi matanya agar bisa tidur lalu melirik pria yang berdiri di samping ranjang tempat ia tidur.


Siapa lagi jika bukan Frigid.


Satu-satunya relawan yang seumuran dengan Ree di dalam kapal berisi para tenaga medis dan angkatan laut.


“Aku bahkan tidak bisa membahas keadaanku saat ini.” ucap Ree pelan.


Ree bangkit perlahan dari tidurnya, kepalanya sungguh pusing dan sulit membuatnya untuk berdiri nantinya. Terlebih ia merasa mual dan mungkin harus kesekian kalinya untuk muntah.


“Tapi, aku sudah terlanjur ikut. Ini tidak akan lancar jika aku sendiri sakit saat ingin membantu mereka yang kesusahan.” Ree melirik ke arah jendela dimana tak lama lagi kapal yang mereka tumpangi selama dua hari ini akan berlabuh di sebuah pulau, dimana sebuah kota yang ada di pulau tersebut terkena bencana yang cukup besar.


“Aku dengan di pulau itu memang sering terjadi tanah longsor dan cuacanya yang tidak stabil.” ucap Frigid membahas situasi lapangan yang akan mereka masuki sebentar lagi.


Ree pun bangkit berdiri meski ia merasa seperti terombang-ambing. Menatap Frigid yang mendatanginya itu dengan datar.


“Aku tak yakin kamu bisa bertahan.”


Jelas saja Frigid sedang menyindir Ree dan itu membuat Ree kesal. Rasanya ingin menonjok wajah Frigid saat ini.


“Haah… iya… iya… terima kasih atas perhatianmu.” ucap Ree dingin.


Ree dan Frigid bersama para rombongan relawan yang tiba dari Litore langsung bergegas masuk ke kereta kuda yang menjemput mereka setelah mereka berlabuh di pelabuhan.


Puluhan kereta kuda itu membawa banyak barang bantuan segala obat-obatan dan kebutuhan sehari-hari. Memang seperti ini risiko bekerja di angkatan laut, mereka tak hanya menjaga keamanan maritim kerajaan semata. Saat ada bencana seperti ini, jika diperlukan maka mereka akan memberi bantuan.


Di tengah perjalanan karena memang cuaca yang buruk di pulau itu membuat hujan kembali mengguyur rombongan. Tentu saja hal ini semakin mengkhawatirkan ketika mengingat lokasi bencana jika terus-menerus diguyur hujan akan semakin besar kerusakan yang ada.


Sesampai di lokasi evakuasi, Ree dihadapkan dengan kekacauan dan keramaian orang-orang yang sibuk dengan masing-masing tugas mereka. Para tenaga medis langsung bergegas mengambil peralatan dan para perwira bersiap membantu dalam segala kegiatan yang berkaitan dengan tenaga fisik, hal itu termasuk Ree dan Frigid.


Mereka berdua sudah bersiap dan berganti baju menjadi seragam relawan agar bisa dikenali.


Ree tidak tahu bagaimana bentuknya dalam seminggu ke depan, semua situasi seolah berbanding terbalik dari kesehariannya.


“Apa kamu sanggup?” tanya Frigid ketika mereka sedang memasang tali sepatu.


“Maksudmu? Aku sudah tidak pusing lagi.” Ree sendiri sudah siap untuk pergi ke tempat ia bertugas.


“Bukan itu.” ucap Frigid yang juga selesai dengan tali sepatunya lalu menatap Ree datar namun terkesan serius.


“Kelainanmu, bukankah akan menjadi penghambat dirimu dan bisa jadi semua orang?”


Pertanyaan yang Frigid lemparkan memang tidak menyenangkan untuk Ree dengar karena itu kenyataan. Sampai saat ini karena Servio kembali membuka luka lamanya membuat Ree kadang membuat batas kemampuannya untuk bertahan itu menurun cukup drastis.


Tapi, bukan Ree jika tidak memiliki solusi. Ia sudah mempersiapkan segalanya sebelum ia turun.


“Kenapa demikian? Aku baik-baik saja di tenda khusus wanita hamil.” jawab Ree santai dan langsung bergegas keluar dari tenda khusus relawan karena seseorang memanggil bantuannya.


Frigid cukup dibuat terkejut dengan respon Ree. Wanita itu terlihat rileks dan tak merasa akan menjadi penghambat dalam kegiatan saat ini.


“Cih… Frigid, apa yang kamu pikirkan?” Frigid menertawakan dirinya karena merasa sangat konyol saat ini.


Frigid sendiri bingung kenapa ia malah ingin tahu perasaan Ree maupun orang lain yang akan saling berinteraksi.


 


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2