We And Problems

We And Problems
Chapter 33 : Rasa Sakit Frigid


__ADS_3

10 menit sebelum kedatangan Ree,


Frigid hanya sendirian berada di ruang senat sembari menatap kepergian para rombongan tamu yang akan pergi meninggalkan gedung akademi beserta menatap interaksi antara Smith dan Ree yang tak sengaja tertangkap oleh matanya.


Mulut Frigid diam, namun kedua tangannya mengepal kuat menahan kegeraman dalam hati. Bukankah sudah jelas bagi Ree bahwa Frigid menentang interaksi mereka? Apa perlu sejelas itu Frigid nampakkan bahwa Smith bukan orang yang bisa dia ajak berinteraksi seperti biasa?


Itu menunjukkan sisi kelembutan hati pria itu dimana tidak ada yang tahu bahwa ia memilikinya.


“Masa bodoh! Untuk apa aku peduli! Ugh!!” baru saja Frigid ingin berbalik kembali ke kursinya melanjutkan pekerjaannya, tiba-tiba saja dada kiri pria itu terasa begitu nyeri hingga membuatnya terjatuh. Rasa nyeri itu membuatnya kesulitan bernapas dan seluruh persendiannya tiba-tiba saja terasa kaku dan membuatnya sulit untuk bergerak.


Alexander tidak ada disini dan tidak ada yang boleh tahu keadaannya kecuali Alexander itu sendiri. Di tengah kesakitannya Frigid berusaha menyeret tubuhnya dengan menggunakan tangan kanannya untuk bergerak ke arah kursinya agar ia bisa meraih tas yang terdapat obatnya di dalamnya.


Rasa sakit itu, bukan berarti tiba-tiba saja. Ini merupakan hasil dari perbuatan Frigid sendiri yang memutuskan untuk tidak meminum obat dari Agnesia. Tidak perlu dipertanyakan alasannya kenapa, namun setelah merasa sakit seperti ini rasanya Frigid refleks mencari penghilang rasa sakit itu secara naluriah. Namun baru saja ingin meraih tasnya, kembali sekali lagi Frigid merenung ditengah kesakitan.


Apa ia biarkan saja hingga ia tidak sadarkan diri dan mati?


Bukankah kematian itu sendiri yang Frigid inginkan?


Namun, rasa yang ia alami saat ini begitu sakit. Bertahun-tahun, ia hanya memiliki tubuh yang lemah dan selalu menahan sakit seperti ini di kamarnya.


Seluruh punggungnya telah basah dengan keringat dingin dan tangan yang ingin meraih tas itu bergetar hebat, pandangannya sudah tidak jelas dan berkunang-kunang menahan rasa sakit serta air mata pasrahnya.


Hingga samar-samar sudut matanya menangkap bayangan pintu ruangan terbuka lebar dan langsung kembali tertutup ketika seseorang yang membuka pintu itu menangkap basah keadaan Frigid yang sedang kritis.


Ia adalah Ree, perempuan itu baru saja ingin mengantar dokumen ke atas meja Frigid dari Michael. Bukan ruangan kosong yang ia temukan melainkan sang ketua tengah berada dalam keadaan yang sulit dideskripsikan namun dapat disimpulkan bahwa pria itu sedang kesakitan.


Kini tanpa keraguan, Ree sudah menghampiri Frigid yang sudah terkapar dengan rintihan sakit sembari tangan kirinya masih mencengkram dada kirinya.


“Frigid?! Apa kamu bisa mendengarku? Ini aku Ree!” dokumen yang ia bawa sudah ia lempar begitu saja karena prioritas perhatian Ree sudah berganti.


Ree berusaha menyentuh tangan kiri Frigid, namun ternyata tangan itu begitu keras dan kaku sehingga sulit bagi Ree untuk melepasnya dari dada pria itu.


“Tolong… Tas milikku…” rintih Frigid menunjuk sebuah tas yang masih ada di atas kursi dan Ree langsung meraih tas tersebut.


“Apa yang harus aku cari?! Katakan saja!” ucap Ree ditengah kepanikannya.


“Sesuatu…botol kaca…kecil…”


Tanpa menunggu lama Ree langsung membuka tas Frigid dan merogoh tas tersebut, mengeluarkan seluruh isi tas dengan menumpahkannya hingga sebuah botol kecil berisi bubuk berwarna putih. Ree meraih botol yang terbuat dari kaca itu dan menunjukkannya pada Frigid.


“Apa ini?”


Frigid mengangguk.


“Sebentar, bagaimana menggunakannya?” tanya Ree bingung.


Tangan Frigid yang mencengkram dadanya terangkat dan berusaha meraih botol di tangan Ree akan tetapi tubuhnya malah jatuh tersungkur karena fisiknya tak mampu menahan sakit.


Ree tidak bisa membiarkan Frigid sekarat seperti ini. Ia pun memutuskan untuk mengambil tindakan, Ree langsung menghampiri Frigid dan menaruh kepala pria itu dikedua pahanya, setelahnya kedua tangannya membuka tutup botol obat Frigid.


“Berapa banyak dan bagaimana cara menggunakannya?” tanya Ree.


Napas Frigid tak lagi beraturan dan ia terus meringis menahan sakit yang luar biasa, saat ini ia hanya bisa melihat Ree dengan samar karena kesadarannya hampir hilang namun ia paksakan agar tetap terjaga.


“Sedikit…saja… masukkan ke mulut…ku.”


Sedikit saja bagaimana?! Ree kebingungan, namun Frigid terlihat tidak mampu lagi untuk membalas kata-katanya. Ree pun mengambil sejumput dari botol dan membuka mulut Frigid, lupakan tentang segala ketakutan karena ada nyawa yang perlu diselamatkan saat ini, hanya itu yang ada di kepala Ree saat ini ketika ia membuka mulut pria itu perlahan kemudian menaruh sejumput obat itu ke permukaan lidah Frigid agar pria itu tidak tersedak karena obatnya berbentuk bubuk.


Setelah menelan obatnya, tubuh Frigid menegang dan pria itu hanya bisa meringis sembari keringatnya membasahi seluruh permukaan kulit. Tangan Frigid hanya bisa mencengkram seragam Ree cukup kuat dan menenggelamkan wajahnya pada perut Ree.


“Ugh!!!” erang Frigid.


“Frigid?!” Ree tidak tahu apa yang ada dalam obat Frigid hingga pria ini malah kejang-kejang seperti ini setelah mengonsumsinya.


Rasa sakit yang Frigid rasakan adalah hasil dari kontraksi tubuhnya yang baru saja menerima obat keras meski dalam jumlah sedikit.


Ree benar-benar dibuat bungkam ketika ia berhadapan dengan Frigid yang seperti ini. Sosok pria itu tidak pernah terpikirkan oleh dirinya memiliki sisi kesakitan saat ini. Apa yang dapat Ree lakukan hanya mengusap belakang Frigid berharap pria itu dapat tenang.


Ini seperti bukan Ree, seketika Ree lupa akan dirinya sendiri.


*

__ADS_1


*


*


Servio baru saja menyelesaikan kelasnya dan berencana ingin pergi ke ruang senat menemui Ree. Servio pikir hari ini bukanlah hal yang buruk untuk membantu wanita itu latihan. Sejak kepergian Henny, Servio sudah berulang kali diberitahu Henny sampai ia jenuh bahwa ia harus menjaga Ree namun tidak boleh membuat Ree sampai tidak nyaman. Sebelum langkahnya ingin mencapai depan daun pintu ruangan senat, tiba-tiba ruangan itu terbuka dan muncul Alexander yang nampak terburu-buru dan hampir saja menabrak Servio.


“Apa kamu tidak bisa tenang? Ada apa?” tanya Servio heran karena Alexander pergi meninggalkan ruangan dengan wajah kepanikan.


“Servio! Aku baru saja mencarimu kemana-mana.” ucap Alexander sembari mengangkat sebuah amplop surat yang masih tersegel dengan lambang yang di cap pada lilin yang mengunci penutup amplop surat tersebut. Lambang itu jelas Servio kenal karena merupakan lambang keluarganya sendiri.


“Ada surat dari rumahmu.” ucap Alexander sembari menyerahkan surat tersebut ke tangan tujuan surat.


Servio langsung menyambutnya dan merasa bahwa kedatangan surat di tangannya saat ini bukan menunjukkan sesuatu yang menyenangkan.


“Lebih baik kamu lekas membacanya.” saran Alexander.


“Sebelum itu, apa kamu melihat Ree?” tanya Servio.


“Ree? Aku belum melihatnya dimanapun. Bisa saja ia sudah kembali ke asrama terlebih hari ini tidak ada kelas untuk murid tingkat empat.” jelas Alexander sembari mengajak Servio untuk pergi dari daun pintu ruang senat.


Benar juga, karena pertemuan dari kepala akademi perempuan baru saja selesai maka para murid yang berasal dari akademi perempuan dikosongkan kelasnya untuk hari ini saja. Daripada itu, di tangan Servio saat ini ada hal yang lebih penting untuk ia urus.


Namun, keberadaan Ree tidaklah di asrama. Saat ini setelah berhasil memastikan Alexander keluar dengan tidak memberitahukan keberadaan ia dan Frigid diruang senat, barulah Ree mengunci pintu tersebut dan kembali menghampiri Frigid yang sudah terbaring tak sadarkan diri di sofa dengan jubah yang Ree pinjamkan untuk menyelimuti pria itu.


Kemeja Ree saat ini masih kusut akibat Frigid yang mencengkramnya dan jantung Ree masih samar-samar berdebar, terlebih tangannya belum berhenti bergetar. Untung saja kehadiran Alexander tepat waktu hingga saat Frigid sudah terlelap di pangkuan Ree, pria itu langsung memindahkan Frigid ke sofa dan berjanji akan menjelaskannya pada Ree nanti.


Ree tidak mengerti apa yang terjadi pada Frigid, di matanya pria yang selalu seenaknya itu tiba-tiba sakit menjadi sangat aneh. Seolah menyadarkan Ree bahwa setiap orang memiliki rasa sakit dan luka masing-masing pada dirinya.


Sembari menunggu Alexander kembali, Ree memutuskan untuk membereskan tas Frigid yang sejak tadi sudah berserakan seluruh isinya di lantai akibat dari kepanikan yang mereka rasakan. Tidak ada yang spesial dari isi tas tersebut kecuali obat milik Frigid yang saat ini sudah dalam keadaan seluruh isinya tumpah semua.


“Bagaimana ini??” barulah Ree sadar di seluruh rok dan kemeja Frigid sudah berwarna putih akibat bubuk dari obat Frigid akibat kecerobohan mereka berdua.


Di tengah rasa frustasi Ree, perempuan dikejutkan dengan suara ketukan pintu dan membuat Ree bangkit berdiri menghampiri pintu.


“Ini aku Alexander.” Ree masih mendengar jelas dari daun pintu yang ia tempelkan telinganya disana. Barulah setelah yakin bahwa yang diluar adalah Alexander, Ree memberanikan diri membuka pintu dan benar ada Alexander di depan daun pintu ruang senat.


“Aku berhasil membawa Servio pergi dan tidak ada siapapun akan datang.” jelas Alexander.


“Lalu bagaimana dengan Frigid?” tanya Alexander.


Ree menggeleng dan menunjuk pria yang sedang terbaring di sofa sedang tertidur.


Alexander langsung menghampiri sisi Frigid dan menatap wajah pria yang sedang terlelap itu resah.


“Ia belum sadar dan masih tertidur… lalu Alexander, nampaknya ada masalah satu lagi.” ucap Ree takut-takut.


“Masalah? Apa itu?” tanya Alexander ketika sadar bahwa rok yang Ree kenakan dan sebagian kemeja Frigid yang berwarna coklat sudah menjadi putih dan berbau cukup tajam.


“Seperti yang kamu pikirkan, nampaknya kami tak sengaja menumpahkan obat itu.” jelas Ree.


Wajah Alexander dengan cepat berubah menjadi pucat. Keberadaan obat itu sangatlah penting untuk hidup Frigid dan yang memberikan obat itu berasal dari ratu Agnesia.


“Itu jatah untuk 6 bulan.”


“Selama itu?!” ucap Ree tidak percaya bahwa Frigid mengonsumsi obat dalam jangka waktu yang cukup panjang.


Alexander menggeleng.


“Lebih lama dari itu, ia sudah mengonsumsinya sejak kecil.”


Raut wajah Ree lebih terkejut, matanya bergantian menatap Frigid dan Alexander lalu ke rok miliknya yang sudah habis dilapisi bubuk halus berwarna putih.


“Apa ia sakit parah?” tanya Ree setelah lama syok dan memelankan suaranya ketika bertanya tentang keadaan Frigid.


“Tidak perlu panik, mungkin memang sudah saatnya aku tidak perlu mengonsumsinya.”


Alexander dan Ree kompak berseru kaget akibat orang yang disangka sedang tidur nyenyak ternyata mendengar pembicaran dan menyambut pembicaraan mereka.


“Frigid, berbaringlah dulu.” Alexander mencegah Frigid untuk duduk karena kondisi tubuh pria itu masihlah lemah.


“Tidak perlu Alexander. Uhuk! Uhuk! Aku juga tidak tahan lagi jika harus mengonsumsinya.” ucap Frigid tidak peduli, lalu matanya naik dan bertemu dengan milik Ree yang masih menatapnya dengan tatapan heran dan kebingungan.

__ADS_1


“Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan, tapi lupakan saja apa yang telah terjadi.” ucap Frigid pada Ree sembari menepuk kemejanya yang kotor akibat serbuk obatnya sendiri.


Tidak perlu ditanya setelah apa yang terjadi, pria itu mengatakan dengan entengnya untuk melupakan. Mana mungkin begitu! Ree sendiri yang melihat wajah kesakitan pria itu hingga bagaimana tubuhnya meringkuk menahan rasa sakit yang luar biasa. Tentu saja dapat disimpulkan bahwa Ree merasa kesal mendengarnya dari mulut Frigid dengan sangat lancar.


“Pria ini benar-benar membuatku kesal.” cibir Ree dan langsung pergi meninggalkan ruang senat karena muak melihat wajah pucat milik Frigid.


Alexander bahkan tidak sempat menahan langkah Ree dengan suaranya.


“Haa!! Frigid, kamu benar-benar buruk dengan wanita. Padahal Ree sudah menolongmu.” ucap Alexander heran.


Frigid juga tidak lupa, ia masih ingat wajah siapa yang ia pertama kali lihat hari ini saat menolongnya ketika rasa sakitnya kambuh begitu saja. Frigid juga sadar bahwa Ree saat itu sedang memaksakan batas kemampuannya hingga sanggup menyentuh Frigid dan memberi pria itu obat.


“Namun, ia tidak perlu tahu tentang apa yang ada pada diriku.” ucap Frigid.


Iya, Alexander juga tidak menyalahkan ucapan Frigid karena privasi pria itu sendiri.


“Meski begitu, setidaknya kamu tahu bagaimana tata krama berterima kasih. Ree bahkan meminjamkan mantelnya karena mantelmu basah karena keringatmu sendiri.” Alexander menyindir mantel Ree yang ada di badan Frigid saat ini sementara mantel seragam miliknya sudah lusuh akibat keringatnya di dekat tas yang sudah Ree susun.


*


*


*


Ree sudah meninggalkan gedung akademi menuju asrama dengan rasa kesal memenuhi hatinya. Saat ini ia hanya ingin menendang bokong Frigid agar hatinya puas. Setelah berdebat dengan dirinya sendiri untuk memutuskan menyentuh pria itu, sedikitpun tidak ada tanda-tanda terima kasih dalam tindakan dan dari mulutnya.


“Sabar Ree, apa aku sesombong ini sampai mengharapkan terima kasih dari orang seperti itu?” tanya Ree pada dirinya sendiri sembari menghirup udara dengan tenang.


“Ree.”


“Huwaa!!” betapa kagetnya Ree ketika suara rendah berasal dari balik pohon memanggil namanya dan menampakkan wujudnya secara nyata padanya.


Ternyata Servio yang sedang bersandar di batang pohon dan menatap Ree lurus sehingga membuat Ree merinding ketika melihatnya.


Apa-apaan Servio, pikir Ree.


“Apa yang sedang kamu lakukan disitu?!” tanya Ree masih menenangkan detak jantungnya yang sempat berdegub kencang karena terkejut.


Servio memperbaiki posisinya dan menghampiri Ree.


“Aku hanya ingin bertanya darimana saja kamu.” tanya Servio sedikit membuat Ree merasa risih karena ia bertanya dengan suara penuh selidik itu.


“Dari akademi.” jawab Ree seadanya.


“Akademi? Bukankah Alexander mengatakan kamu sudah kembali ke asrama?”


Jadi itu alasan yang dipakai Alexander. Kini Ree mengerti situasinya dan ia juga mengiyakan pernyataan Servio.


“Ada sesuatu yang tertinggal dan aku pergi mengambilnya kembali.” Suara Ree masih tenang ketika mengatakan kebohongan itu.


“Aku pikir kenapa…” ujar Servio.


Namun yang ada disini sebenarnya adalah Servio itu sendiri, wajah pria itu memang selalu terlihat malas dan mengantuk, namun saat ini di mata Ree, wajah Servio lebih terlihat sedang memikirkan sesuatu yang cukup berat.


“Servio, kamu tidak apa-apa?” tanya Ree mencoba masuk ke dalam perhatian Servio.


“Kali ini saja, aku ingin menyentuhmu.” ucap Servio tiba-tiba dan tentu saja refleks Ree mundur sedikit menjauhi Servio.


Servio dan Ree hening seketika karena canggung.


“Maaf, aku tidak bermaksud.” ucap Ree menyadari sikapnya yang tidak sopan lalu kembali maju selangkah di posisi semula.


“Ikut aku.” ucap Servio langsung menarik lengan Ree untuk kembali ke balik batang pohon yang besar itu hingga ukurannya mampu menutupi tubuh Ree dan Servio dibaliknya.


Tanpa bicara dan menunggu lama bahkan tidak mempedulikan betapa terasa getaran tubuh Ree akibat ketakutannya, Servio langsung menarik wanita itu dan meletakkan kepalanya dibahu kanan Ree. Tindakan Servio memang mengejutkan Ree, namun tangannya tidak mampu menolak Servio ketika kepala pria itu tertunduk dan jatuh begitu saja ke bahunya dan membuat Ree harus menahan beban tubuh Servio seperempat dan hampir saja ia terjatuh karena itu.


“Jika bisa, aku ingin mati saja.” ucap Servio menimbulkan jutaan pertanyaan di kepala Ree detik itu juga.


 


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2