
Karena sudah memasuki musim gugur di Litore, dan beberapa kota di Pulchra yang memiliki musim sub-tropis membuat udara semakin dingin dari hari ke hari, terlebih di pesisir seperti saat ini.
Henny yang baru saja selesai dari akademi, langsung pergi mengunjungi markas angkatan laut untuk mengunjungi Liliana karena Henny memiliki janji dengan wanita itu. karena sudah terbiasa sejak masuk akademi, Henny tak kesulitan untuk menunggu Liliana yang belum keluar dari laboratorium di kawasan itu.
Namun, sepertinya ada yang sedang kesulitan di depan pagar.
“Di tengah musim gugur begini, Litore adalah tempat terburuk untuk berdiam di luar ruangan. Menyangkut hal itu, aku melihat seorang pria dengan bodohnya malah berada di luar ruangan.” Ucap Henny jelas menyinggung keberadaan Servio di depan pagar angkatan laut.
Alasannya cukup jelas, ingin mengetahui kabar tentang Ree yang sedang berada di luar pulau. Henny sendiri tak habis pikir dengan apa yang ada di depan matanya. Biarpun wajah pria itu terlihat pucat dan jelas menahan dingin, jika diluar jam magang, hampir setiap saat ia kemari untuk menanyakan kabar.
“Henny, kamu tidak perlu menghiraukan pria aneh itu. Anggap saja itu hukumannya dengan apa yang sudah dilakukannya selama ini terhadap Ree.” sambut Liliana yang baru saja keluar dari dalam pagar.
Mendengar ocehan kedua wanita di hadapannya tak membuat Servio peduli sedikitpun. Sedikit sulit baginya untuk mendapat informasi terkait apa yang sedang Ree lakukan di luar pulau, setidaknya Servio ingin mengetahuinya sedikit, namun para petugas tak mudah memberinya informasi terkait privasi orang lain. Mereka yang memberitahukan pada Servio bahwa Ree baik-baik saja di sana.
“Apa kamu akan membiarkan anak orang membeku di sini? Aku sudah bilang kalau musim gugur di Litore adalah yang terburuk.” bisik Henny pada Liliana ketika melihat Servio tak bergeming sedikitpun dari tempatnya di depan pagar.
“Memangnya kenapa jika ia begitu? Itu adalah penebusan dosa baginya.” timpal Liliana seolah tak lagi menaruh simpati pada Servio.
Henny tak menyangka jika niatan Liliana berteman dengan Ree tak sedangkal itu, meski ia sudah lama bersama Ree dan tahu keseluruhan yang ada pada Ree, Henny tak pernah ingin menghajar orang yang telah membuat Ree menjadi seperti ini.
Saat melihat Servio pun, karena Henny juga tahu situasi Servio yang sebenarnya itu sangatlah sulit.
Henny juga merasa sakit hati, ketika melihat temannya menderita, namun Henny juga bukan orang yang jahat. Sudah ia pahami Litore lebih dari dua orang yang bersamanya saat ini.
“Kali ini saja. Aku tidak ingin ibunya mencariku karena mendapat kabar anaknya sakit.” bisik Henny.
“Haaahh… Baiklah…” Liliana kali ini mengalah, karena bagaimanapun baik Ree maupun Henny, rasanya Liliana menghadapi orang yang sama.
Pada akhirnya kedua wanita itu menghampiri Servio pada kedua sisinya.
“He-hei!! Apa yang kalian berdua lakukan?!” tanya Servio panik ketika Henny dan Liliana dengan kompak mengait lengannya dan mengajaknya pergi dari depan pagar.
“Diamlah… kami tidak akan menculik atau melakukan hal yang buruk padamu.” ucap Liliana pada Servio yang tengah kebingungan saat ini.
“Henny, apa yang kalian pikirkan, jika kalian tidak nyaman melihatku di depan pagar, setidaknya abaikan saja aku dan pergi. Kenapa kalian menyeretku seperti ini?” tanya Servio meminta penjelasan dari Henny.
“Kamu tahu, pemandanganmu ada di sana sangat tidak nyaman. Aku dan Liliana berencana mengunjungi akademi kami, karena laki-laki tak bisa masuk sembarangan, aku yang menjadi penjamin, dari pada kamu sendirian seperti orang bodoh dan membuat malu ibumu, lebih baik ikut kami dan kita bertiga berkencan.” jelas Henny tanpa dosa mengajak Servio kencan.
“Dengar! Ini bukan seperti yang aku inginkan!! Ini karena Henny adalah teman baik Ree dan otomatis teman baikku juga!” ucap Liliana yang masih tidak bisa menerima Servio.
Kencan macam apa ini ketika ia harus di jepit oleh dua wanita yang sejak awal ingin membunuhnya. Servio bahkan tidak habis pikir dengan itu. Tapi, ketika mendengar akademi yang menjadi tempat Ree bersekolah membuat Servio penasaran dan ingin juga melihatnya, Akademi Wanita Litore itu seperti apa.
“Apa tak masalah mengunjungi akademimu?” tanya Liliana ketika mereka sudah masuk ke dalam kawasan umum milik Akademi Wanita Litore.
“Hmm? Itu tak masalah, taman yang ada di depan akademi adalah untuk umum. Sengaja akademi membuatnya agar kami para murid tidak bosan berada di dalam pagar akademi karena tak jarang pengunjung berupa masyarakat umum datang dan bersantai.” ucap Henny menjelaskan halaman luas yang mereka bertiga pijak saat ini.
Halaman luas berupa taman dengan pusatnya air mancur itu merupakan wajah depan akademi perempuan yang terbesar di kota Litore. Dihiasi banyak pepohonan yang rindang dan bunga di sekeliling taman, membuatnya lebih seperti fasilitas umum dibanding milik sebuah lembaga pendidikan.
“Dibanding La Priens, tamu tidak boleh masuk kawasan La Priens tanpa alasan jelas dan wajah depan akademi itu pun dikelilingi oleh pagar tinggi.” ucap Servio yang masih takjub dengan ‘terbukanya’ akademi tempat Henny dan Ree menempuh pendidikan karena gedung utama mereka sama sekali tidak di pagar.
“Namun untuk masuk ke dalam kawasan asrama, kami harus masuk melalui gedung utama, itulah yang merupakan pagar sebenarnya.” jelas Henny menunjuk sebuah gedung besar yang menjadi gedung administrasi sekaligus gerbang masuk menuju wilayah belajar dan asrama.
Wilayah itulah yang tak bisa Frigid tembus saat pertama mengunjungi Akademi Wanita Litore.
“Tapi kamu bisa masuk jika memiliki undangan atau memiliki janji dengan salah satu penghuni.” lanjut Henny.
“Tak aku sangka kalian berada di akademi yang cukup ketat. Padahal bukan campuran.” timpal Liliana tak habis pikir.
“Aahaahhaa… itulah mengapa saat kami murid di sini keluar untuk magang ataupun pertukaran pelajar akan sangat canggung dengan orang lain terlebih para pria karena kami tidak biasa menemuinya.”
Di luar dari kelainan yang Ree alami, selayaknya murid normal yang lain pasti akan sangat merasa canggung ketika terjun ke dalam lingkungan campuran seperti yang telah Ree maupun Henny alami. Mereka terbiasa bebas di dalam pagar yang mana isinya wanita semua, saat keluar dari pagar akan ada beberapa batas yang tidak boleh mereka lakukan.
“Hmmm… aku dapat memahaminya, meskipun akademi kami juga seperti itu, namun akademi putra tepat bersebelahan dengan tempat kami. Jadi tak jarang para murid laki-laki itu sangat nakal dan merusak beberapa properti umum dan sangat berisik, aku bahkan lebih iri dengan akademi yang seperti ini karena lebih tenang.” timpal Liliana.
Entah mengapa mendengarnya Henny dan Servio kompak berpikir pantas saja watak Liliana ketika menghadapi laki-laki sangat santai dan berani. Nampaknya pengalamannya di akademi asal agak kacau.
“Ahh… ada satu tempat yang boleh kalian kunjungi lagi…” ucap Henny.
“Apa itu?” tanya Servio yang sejak tadi diam.
“Tentu saja tempat makan!! Kafetaria kami selalu buka sampai malam karena boleh dikunjungi oleh orang luar!!!” seru Henny bersemangat dan langsung menarik Liliana Servio menuju salah satu gedung terpisah dari gedung utama yaitu kafetaria.
“Henny benar, berkeliling Litore itu melelahkan padahal aku sudah sekali di ajak Ree ke sini, tapi kami tidak sempat pergi ke kafetaria.” ucap Liliana yang takjub dengan keramaian yang ada di kafetaria meski hari sudah sore.
“Bukannya semua kafetaria sama saja? Rata-rata hanya akan menyajikan makanan yang monoton.” Ucap Servio heran akan semangat para wanita yang ada di depannya saat ini.
“Ck… ck… itulah mengapa aku jarang melihatmu di kafetaria La Priens, ternyata kamu tidak suka pergi ke kafetaria.” timpal Liliana.
Memang benar apa yang dikatakan Liliana, bahwa Servio sangat jarang ke kafetaria karena terbiasa membawa makanannya sendiri dari asrama. Bahkan tak jarang Servio mengajak Ree untuk makan bersamanya. Alasan lain adalah karena Servio sama sekali tidak berminat untuk pergi dari kawasan gedung B.
“Simpan saja kritik dan saranmu nanti Servio… kita harus mencoba sup kerang yang ada di sini, saat cuaca dingin adalah waktu yang pas untuk memakan sup.” Henny datang menghampiri Servio dan menarik lengan pria itu untuk pergi ke bagian sup.
“Cukup ikuti saja kami Servio, jika kamu mengunjungi akademiku, waktumu hanya akan habis berdebat dengan para murid laki-laki di sana.” timpal Liliana sembari masih memilih menu.
__ADS_1
“Oh!! tunggu sebentar!” ucap Henny tiba-tiba pergi dari depan kios makanan meninggalkan Liliana dan Servio yang masih sibuk memilih menu.
Servio yang sudah selesai memesan makanannya langsung melihat kemana arah Henny pergi dan terkejut untuk detik itu juga.
“Liliana, bisa kamu jaga makananku sebentar?” ucap Servio yang berniat pergi menyusul Henny.
“Tentu saja, jangan terlalu lama perginya… aduh… apa yang harus aku pesan, semuanya terlihat enak…” ucap Liliana yang masih sibuk berkutat dengan pikirannya karena bingung memilih makanan,
Langkah kaki Servio semakin mendekat membawanya menuju ke arah dimana Henny sedang menyapa seorang wanita yang nampak lebih dua darinya dan Servio, terlihat sangat tidak asing di matanya, karena Servio masih ingat wajah terakhir sebelum pergi.
“Nyonya Margaretha…?”
Rasa tak percaya bagi Servio, wanita yang dulunya selalu menghabiskan waktu di gedung B dan menjadi seorang pengajar muda di La Priens, setelah lama menghilang dan tidak pernah lagi Servio dengar kabarnya, kini ada di hadapannya dengan penampilan yang sama persis namun terkesan lebih dewasa bahkan Servio sendiri sampai tidak percaya bahwa ia bertemu dengan wanita yang membuatnya selalu berada di gedung B.
Cinta pertamanya yang masih sangat labil itu.
“Servio?? Kamu mengenal nyonya Margaretha??” tanya Henny sembari menyikut lengan Servio yang tiba-tiba saja muncul di sampingnya dan menyebut nama salah satu pengajarnya.
“Ahh… Nampaknya salah satu mantan murid saya dari La Priens… siapa namamu??” tanya Margaretha pada Servio yang masih terpaku.
Tentu saja, Servio bukanlah orang yang spesial bagi Margaretha untuk diingat. Ia pun dengan canggung tersenyum dan kembali memperkenalkan dirinya.
“Nama saya Servio Florence, saat ini saya sedang menjalankan program magang khusus dari akademi. Senang bertemu dengan anda lagi nyonya Margaretha.”
Anggapan Servio dan Frigid selama ini adalah Margaretha menghilang karena seseorang menekan hidupnya, membuat wanita itu memutuskan untuk pergi secara diam-diam dan hidup dalam bayangan penderitaan. Bahkan bagi Frigid yang sudah lama mengenalnya, mungkin sangat menyakitkan melihat orang yang telah merawatnya dengan baik tiba-tiba menghilang begitu saja dengan banyak luka yang di bawa. Mungkin itu dalam ingatan Frigid yang mana tidak akan bisa Servio pahami.
“Ah, saya ingat kamu! Kamu adalah tuan mudah Florence yang sering mengunjungi kandang kelinci saya dulu. Saya tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi.” Ucapan Margaretha mengejutkan Servio yang tengah melamun, dengan canggung Servio mengiyakan tindakan memalukannya semasa itu. Karena hanya ingin bersama lebih lama, Servio sering mengunjungi kandang kelinci Margaretha di La Priens.
“Senang bisa bertemu dengan anda kembali.” ucap Servio sedikit malu-malu menurut pandangan Henny saat ini.
Sejak bertemu dengan Margaretha, Servio menjadi sedikit lebih tenang dari sebelumnya yang selalu saja risih dengan kelakuan Liliana serta Henny. Melihat ketenangan pria yang sedang menikmati sup kerang di hadapannya saat ini membuat Henny tersenyum.
“Apa ini, kenapa kamu tiba-tiba berubah setelah bertemu dengan nyonya Margaretha?” tanya Henny.
Servio menatap Henny bingung.
“Apa maksudmu? Aku tidak merasa ada perubahan pada diriku.” Elak Servio secara jelas.
“Jika aku hitung-hitung, sudah dua tahun lebih nyonya datang ke Litore dan mengajar kami. Ia menikah dengan seorang pengusaha di Litore dan memiliki seorang putra saat ini. Yaahh… meskipun keluargamu kaya, kamu tidak ada tandingannya dengan suaminya…”
Entah mengapa mendengar omongan Henny tentang kehidupan Margaretha membuat Servio ingin mematahkan sendoknya saat ini. Benar-benar terdengar menyebalkan.
“Henny berhentilah bicara yang tidak penting.” ucap Servio geram.
Menyadari emosi Servio membuat Henny langsung membungkam mulutnya. Liliana yang tidak tahu apa-apa memilih untuk tidak peduli, selama bukan tentang Ree dan hewan atau hal lain yang bisa dibedah, Liliana kurang menaruh perhatiannya.
“Apa benar… ia bahagia?” tanya Servio.
Henny masih sepenuhnya menaruh perhatian dalam ucapan Servio.
“Siapa? Nyonya Margaretha? Apa kamu tidak bisa membaca raut wajah seseorang? Tidak ada beban berat yang tersirat di wajahnya saat tadi, aku yakin ia baik-baik saja.” jelas Henny.
Apa bisa seperti itu menyimpulkan kebahagiaan seseorang? Servio sangat heran dengan teman Ree satu ini karena pola pikirnya yang jauh lebih sederhana dari apa yang dikira.
*
*
*
“Besok sore kita sudah akan pergi dari pulau ini.”
Ucapan Ree membuat Frigid yang tengah terdiam di meja depan tenda penyimpanan barang tersadar bahwa ia sudah cukup melamun. Ree datang membawa dua cangkir berisi kopi untuk Frigid dan coklat panas untuk Ree sendiri, lalu ia meletakkan dua cangkir itu di atas meja dan duduk di samping Frigid sembari memandang kesunyian malam di lokasi pengungsian yang saat ini terasa lebih tenang di banding sebelumnya.
“Itu karena hampir semua pengungsi sudah pergi ke rumah kerabat mereka dan desa pun sudah semakin membaik. Tak ada alasan khusus untuk tetap di sini sementara di markas pusat, banyak yang harus di kerjakan.” jelas Frigid dengan senang hati menerima kopi yang Ree bawa.
“Terlebih, kenapa kamu ada di sini dan tidak istirahat saja?” tanya Frigid menyinggung keberadaan Ree di sampingnya.
“Terima kasih atas perhatianmu… bukankah malam ini adalah jadwalku juga untuk berjaga di tenda penyimpanan?”
Faktanya begitu, tapi Frigid tidak ingin direpotkan oleh Ree yang sulit ditebak isi kepala dan hatinya itu.
“Tapi kamu ini ya… meski sudah seminggu kita di sini, tetap saja apa yang keluar dari mulutmu terlalu sering mengeluarkan kata-kata kejam.” ucap Ree sembari menatap langit malam yang sangat cerah itu.
“Hm…” Tak mau mengelak, karena Frigid juga secara tidak sadar atau karena sudah terbiasa meski sering kali ia harus di tegur Ree ataupun komandannya agar bersikap lebih lembut lagi dan mengeluarkan kata-kata yang lembut dan hangat.
“Tapi… nampaknya aku bisa mengerti kenapa ada orang yang membenci hidupnya…” Tiba-tiba Ree mengangkat topik yang cukup berat.
Itu jelas saja menyinggung Frigid, meski Ree juga tahu perasaan benci itu.
“Apa yang kamu ketahui? Seolah kamu juga mengalaminya.”
Itu benar, tidak semua hal bisa dibagikan, termasuk perasaan.
__ADS_1
Tak semua perasaan bisa dibagikan bahkan dirasakan bersama.
Ree tersenyum tipis, memandang langit dengan hamparan bintang dari ruang terbuka merupakan hal yang luar biasa meskipun situasi sedang tidak nyamannya.
“Kamu tahu, meski aku membenci pikiran itu. namun saat ini aku merasa bahwa aku membenci hidupku juga.”
Frigid tidak mengerti kenapa Ree mengatakannya dengan sangat mudah sementara ia butuh bertahun-tahun untuk menetralkan pikirannya dari rasa benci. Tapi, bisa disimpulkan bahwa perasaan itu timbul karena hidup perempuan itu nampaknya tidak mudah akhir-akhir ini.
“Apa sampai kamu bisa menyimpulkan membenci hidupmu sendiri? Bukankah kamu memiliki banyak solusi?” tanya Frigid juga ingin tahu.
“Apa yang kamu bicarakan? Solusiku memang banyak, namun tak mudah diterima begitu saja… aku… dan Servio benar-benar berada dalam hubungan yang serius dan tidak menyenangkan.” ucap Ree menatap cincin yang ia kenakan di jari manis kirinya dan itu juga menjadi objek yang Frigid lihat dan barulah ia bisa mengerti apa yang terjadi.
“Jika kamu membencinya, kenapa kamu memakainya?” tanya Frigid heran.
“Kamu pikir aku senang? Aku berniat menghilangkannya saat aku beraktivitas, namun cincin ini tak mau hilang.” ujar Ree tanpa dosa.
Dalam hari-hari menjadi seorang relawan, banyak yang harus Ree lakukan mulai dari mengerjakan hal kecil sampai harus bergerak untuk kegiatan cukup besar. Bahkan lumpur banjir yang Ree bersihkan di desa tak sanggup menyeret cincin itu untuk tenggelam.
Sisi konyol Ree lainnya adalah ia tidak tega membuang dengan sengaja cincin itu. Maka dari itu, Ree bertekad memakainya dalam segala kegiatannya agar bisa hilang tanpa di sengaja.
“Apa kamu pikir menghilangkannya dapat menyelesaikan masalah?” tanya Frigid sangat masuk akal.
Akhirnya Ree menertawakan dirinya yang sempat berpikir dengan konyol seperti itu.
“Aku jadi membenci diriku berkatnya…” ujar Ree dengan tawanya yang terdengar menyakitkan itu.
“Padahal aku tahu, Servio juga berada dalam situasi yang membuatnya bertindak seperti ini.”
Ree sesungguhnya tidak ingin membenci Servio, namun rasa sakit hatinya seolah mengalahkan segalanya.
Sejak tadi Ree terus berbicara dan Frigid nampak mendengarnya sampai akhir meski hanya diam.
Tiba-tiba wanita di sampingnya itu meletakkan kepalanya ke atas meja dan menoleh pada Frigid.
“Ada apa?” tanya Frigid heran dengan tatapan lurus Ree tanpa kata itu.
“Ah… aku baru sadar, kenapa aku malah bercerita denganmu perihal hubunganku dengan Servio ya…?” tanya Ree baru sadar bahwa ia malah memberitahukan masalahnya pada orang seperti Frigid.
Jangankah Ree, Frigid yang mendengarnya saja bingung dan mempertanyakan kenapa Ree malah mengobrol hal seperti itu.
“Meskipun begitu, apa kamu dapat menampung semuanya sendirian?” tanya Frigid.
Menyimpan rasa sakit hati dalam diri sendiri tanpa meminta pertolongan orang lain dan hanya menambah luka, bukanlah tindakan yang bagus.
Malah akan menghancurkan diri sendiri.
“Tak masalah bagiku… sejauh ini kamu masih bertahan.” ucap Frigid setelah sekian lama berdiam.
Ree menatap Frigid takjub, ia tidak menyangka Frigid akan membalsa ucapannya. Sampai saat ini tak ada seorangpun yang Ree percayai untuk menjadi wadah ceritanya, ia terlalu khawatir akan dirinya dan orang lain yang mendengar masalahnya yang sebenarnya cukup berat.
“Sejujurnya kata-kata yang keluar dari mulutku sangat buruk, terlebih aku bukanlah tipe penghibur. Hanya saja, jika kamu ingin bicara… silahkan bicara.” ucap Frigid sedikit canggung, bahkan matanya ia larikan untuk menatap ke arah lain sementara Ree masih menatap pria yang sedang malu-malu itu.
Apa ini? kenapa Frigid terlihat berbeda dari biasanya. Pria itu sama sekali tak pernah Ree pikirkan akan mau mendengar cerita orang lain.
“Juga… seseorang sepertimu, aku masih tidak mengerti…” timpal Ree heran.
Akhirnya Frigid menatap Ree setelah lama ia mengalihkan pandangannya.
Mata Ree sama sekali tidak ketakutan seperti yang biasa ia lakukan pada pria lain, sorot mata itu justru terlihat dalam dan menyimpan rasa penasaran yang cukup besar.
“Bukannya kamu mau bercerita tentang masalahmu? Jangan libatkan hidupku dalam pembicaraan kita.” timpal Frigid risih.
“Masalahnya adalah, aku tidak pandai membagi cerita… sampai saat ini aku hanya mendengar teman-temanku saja dan bertindak begitu saja. Namun setelah masalah datang padaku, aku justru seperti orang bodoh.”
Hal itu bisa Frigid lihat dari betapa anehnya Ree hari ini.
“Apa kamu tidak merasa takut saat ini? kamu sedang bersamaku.” ucap Frigid menyinggung kelainan Ree yang punya batas itu.
“Sayangnya kamu tidak bisa menyembunyikannya dariku. Setiap malam kamu selalu kehabisan energi karena sudah mencapai batasmu. Tidakkah lebih baik kamu beristirahat saja?” tanya Frigid.
Ree tersadar, ia pikir sampai saat ini ia selalu sendiri dan berhasil menyembunyikannya dari orang lain. akan tetapi lagi-lagi, Frigid selalu menemukannya entah dalam keadaan apapun sampai-sampai Ree sendiri terheran-heran dengan situasi mereka berdua.
“Lantas kenapa kamu harus peduli? Bukannya kamu tinggal abaikan saja… orang sepertiku.”
Frigid juga ingin melakukannya, namun matanya tak bisa melepas dan mengabaikan seperti itu saja keadaan Ree yang cukup serius itu. Frigid hanya tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali di depan matanya.
“Jika begitu kenapa kamu tidak meninggalkan aku saja di danau hari itu tepat setelah menemukanku?” tanya Frigid yang membuat Ree menjadi diam.
Apa yang Frigid lakukan saat ini, diam dan mendengar Ree bercerita rasanya tak akan berbeda dari apa yang telah Ree lakukan padanya. Meski malam itu terasa sangat dingin, namun dengan tubuh bergetarnya tak ragu meraih tubuh Frigid masuk ke dalam pelukannya yang terbilang hangat itu.
Jika Frigid tiba bisa membalas pelukan hangat itu, hanya ini yang bisa ia lakukan untuk Ree.
__ADS_1
To Be Continued.