
“Ugh…”
Kepala Ree terasa sedikit pusing ketika seluruh tubuhnya sedang terombang-ambing oleh gelombang, baik itu gelombang kehidupang maupun gelombang air. Sudah lama rasanya tidak ia pijaki dek yang terbuat dari kayu yang berkualitas tinggi, tangan Ree berpegangan pada sisi kapal yang seperti pagar baginya itu agar ia tak jatuh.
“Bagaimana bisa kamu ini seorang putri pelaut, jika menginjakkan kaki ke kapal saja sudah seperti orang sakit.”
Ree menatap ibunya yang baru saja keluar dari kabin dan langsung saja mengomel.
“Mau bagaimana lagi, inilah diriku.” Ree juga tidak habis pikir, kenapa fisiknya berbeda dari saudaranya yang lain. bahkan Brina yang jarang ikut berlayar tidak mabuk laut seperti Ree.
Leona tidak ingin terlalu protes dengan keadaan salah satu putrinya itu, meskipun wajah Ree kerap kali pucat jika sudah dibawa naik kapal, tetap saja Ree adalah putrinya yang memiliki perbedaan dalam menjalani hidup di keluarga pelaut seperti mereka.
“Lalu, tumben kamu pergi di saat akademi tidak libur?”
Tentu saja mengagetkan seluruh isi kapal ketika melihat seorang yang anti dengan kapal tiba-tiba hadir dan ingin bertemu dengan ibunya. Ree sendiri juga sadar bahwa ia akan mengunjungi keluarganya ketika libur akademi dan saat mereka berlabuh di Litore. Meski jarang, namun tidak seburuk itu hubungannya dengan keluarga. Ree adalah Ree, seorang putri dari keluarga Lumen namun memiliki kelemahan mabuk laut. Rata-rata anak dari keluarga Lumen akan tetap berlayar dan berdagang meski tidak di bawah nama Lumen, akan tetapi inilah Ree, tidak perlu dijelaskan lagi kenapa jalurnya berbeda.
“Ibu, apa sesulit itu mencari obatnya?” tanya Ree.
Kehadiran Ree ke pelabuhan Crystallo karena ia tahu orang tuanya masih belum pergi, jika Servio sekarang sulit untuk diajak bicara, maka Ree akan bertanya pada orang tuanya.
Meski suasana sore ini pelabuhan cukup ramai, namun Leona jelas mendengar apa yang putrinya ucapkan. Akhir-akhir ini masalah bisnis cukup mempengaruhi hidup orang-orang di keluarganya termasuk Ree yang tidak mengetahui apa-apa.
“Obat apa? Ibu bisa membantumu jika kamu ingin mencari obat.” tanya Leona yang tidak ingin terlalu percaya bahwa Ree akan mengangkat topik pembicaraan tentang pertunangannya.
“Obat nyonya Dandelia Florence. Sesulit apa mencarinya? Apa tidak ada di sekitar sini?” tanya Ree.
“Ah! Jika ada, mungkin tidak akan terjadi semua ini…” guman Ree.
Leona terus menatap pilu putrinya, wajah Ree tidak terlihat cemas maupun ketakutan, namun ia tahu bahwa putrinya ini merasakan ketakutan yang amat luar biasa. Sebagai seorang ibu, Leona merasa kecewa.
“Ree, situasi saat ini tidak bisa kita rubah begitu saja. Bahkan ibumu ini sulit menghentikannya.”
Ree tidak tahu kemana lagi ia harus protes dan mengeluarkan keluhannya, semua orang seolah tidak ingin menghentikan laju kereta masalah ini, tujuan semua orang sebenarnya tidak merugikan Ree itu sendiri, namun jauh di dalam lubuk hati Ree, ia merasa begitu pilu dengan hidupnya sendiri.
Ia sudah tertipu oleh kebaikan Servio.
Membiarkan semuanya berjalan begitu saja, Ree benar-benar malu dengan dirinya yang sudah berusaha mencari tahu kemana-mana tentang obat Frigid agar pria itu tidak lagi membenci hidupnya.
Lantas saat ini, Ree hampir saja berpikir bahwa ia juga membenci hidupnya dan merasa dirinya bukan milik diri sendiri melainkan orang lain.
“Keadaan nyonya Florence saat ini mungkin lebih parah dari yang dibayangkan, jika melewati jalur perdagangan keluarga, kita bisa mendapat obat itu meski dalam jangka waktu yang lama dan cara mendapatkannya tidak semudah yang dipikirkan. Akan banyak waktu serta tenaga untuk mencarinya. Maka dari itu, keluarga Florence menjamin keselamatan orang-orang kita dengan kekuatannya.”
Ree bahkan sulit untuk peduli, nyawa seseorang menjadi taruhan, meski Dandelia mengatakan ia baik-baik saja, nyatanya Servio dan keluarganya tidak berpikir demikian.
Ree pulang dengan perasaan kacau dan kecewa berat. Ia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini, seluruh tubuhnya terasa lemas karena tenaga yang terkuras akibat kepalanya memikirkan hal-hal yang berulang kali tidak akan dapat terselesaikan dengan mudah.
Leona tidak dapat berbuat apa-apa ketika ia sudah mengatakan keputusan keluarga dan melihat putrinya pulang dengan punggung yang terlihat lemas, seluruh gerak-gerik Ree tidak menampakkan bahwa ia bersemangat seperti biasa dan itu menyakiti perasaan Leona.
“Ree, maafkan ibu…” lirih Leona pada angin pelabuhan yang kencang sore itu.
*
*
*
Beberapa jam sebelumnya,
Sebelum Ree datang mengunjungi Leona dan suaminya, nyatanya mereka kembali bertemu dengan putra bungsu keluarga Florence, yaitu Servio. Kehadiran Servio cukup mengejutkan, ia tersenyum dan mengunjungi kapal dengan membawa beberapa camilan untuk kedua orang tua Ree.
“Nyonya, saya ingin berbicara sebentar dengan anda.”
Leona mempersilahkan Servio untuk masuk ke dalam kabin dimana terdapat ruang seperti ruang tamu di sana. Setelah menyuguhkan minuman hangat untuk Servio, barulah Leona duduk dan bertanya maksud kedatangan calon suami anaknya itu.
“Nyonya Lumen, sebelumnya saya minta maaf atas kedatangan saya yang mendadak ini. Saya merasa harus mengunjungi anda mengingat kekacauan yang saya perbuat kemarin.”
Leona terlihat tersenyum, senyuman itu persis dengan senyuman yang pernah Servio temui sebelumnya. Senyuman Ree benar-benar mirip dengan wanita paruh baya dihadapannya saat ini begitu hangat dan nampak menenangkan.
“Sejak awal rencana pertunangan ini tidak menentukan dengan siapa, namun tetap harus dijalankan. Saya cukup kaget dengan keputusanmu memilih Ree putri saya.” Cemas, takut, dan banyak perasaan bercampur aduk ketika Leona dihadapkan dengan kenyataan bahwa salah satu putrinya yang masih belum menikah akan dipilih oleh pemuda seperti Servio.
__ADS_1
“Dia adalah putriku yang berbeda dari putriku yang lain, dia tidak bisa berlayar karena mabuk laut, sifatnya baik dan mudah berteman dengan siapa saja, meski begitu dengan segala yang ada pada dirinya ia tetap putriku yang cantik.” Leona selalu mengingat hari-hari dimana ia harus meninggalkan Ree sendirian di Litore, wajah Ree selalu tenang dan tidak pernah menangisi keberangkatannya. Selalu mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja dan belajar di akademi dengan baik.
“Mungkin tidak aneh jika ia menikah di usia saat ini, namun rasanya aku baru melihatnya lahir kemarin.” Air mata haru Leona tak sengaja terjatuh, membuatnya malu jika harus menangis di hadapan pemuda tampan seperti Servio.
“Maafkan aku.” ucap Leona.
“Tidak nyonya, ucapan anda benar.”
Leona menatap pria dengan rambut panjang sepinggannya itu, tersenyum tipis dan terlihat tenang, Leona sendiri tidak menyangka bahwa Servio bisa tersenyum. Saat-saat pertama kali berjumpa, wajah Servio selalu datar dan bahkan saat makan malam terakhir kemarin, tidak ada senyuman seperti di hadapannya saat ini.
“Saya mengenalnya ketika ia tiba di La Priens. Seperti yang anda katakan, Ree sangat mudah mendapatkan teman. Ia peduli dengan orang-orang di sekitarnya, bahkan untuk saya sendiri, ia adalah wanita yang luar biasa.”
Leona terlihat terkejut, mendengar seorang pria mengatakan kata-kata baik terkait putrinya.
“Nyonya, saya tahu semuanya terjadi sangat cepat. Namun, niat saya tidak sedangkal itu. Saya ingin anda percaya bahwa saya juga serius ingin meminang putri anda dan menjaganya seumur hidup saya.” ucap Servio penuh dengan percaya diri.
Kepekaan seorang ibu dalam menilai seseorang untuk putrinya tidaklah tumpul meski ia tidak selalu bersama dengan Ree. Namun, Servio berhasil membuat hatinya yang sedikit gundah itu menjadi tenang. Meski demikian Leona tidak ingin Ree menjalani kehidupan pernikahan dengan terpaksa. Namun Leona serahkan pada Servio bagaimana caranya untuk meyakini Ree.
“Servio, aku tidak pernah berpikir untuk memaksa Ree. Saat ini aku tahu ia pasti sangat terkejut dan temukan caramu sendiri bagaimana untuk menghadapinya. Tapi satu hal yang harus kamu ketahui, bahwa jika Ree menderita karenamu, aku tidak akan segan menjauhkannya darimu.”
Bagaimanapun Leona tidak ingin mencampuri urusan keduanya, namun akan ada saat dimana ia harus turun tangan. Saat-saat itu adalah ketika Ree benar-benar tidak lagi mampu menghadapi segalanya.
*
*
*
Sepatu boots itu perlahan menuruni tangga stasiun kereta yang berada tak jauh dari Akademi La Priens. Perlu berjalan setidaknya 15 menit untuk tiba di depan gerbang utama akademi. Saat-saat ini udara semakin dingin dengan banyak dedaunan kuning berguguran memenuhi jalanan. Tak peduli, berapa kalipun pemilik boots coklat tua itu menendang tumpukan dedaunan di trotoar bata abu-abu di sepanjang jalan. Tangannya hanya menggenggam erat tali tas selempang hitamnya dan tak bisa di tebak apa yang ada di kepalanya saat ini.
Pembicaraannya dengan ibunya hari ini tak satupun memuaskan hatinya. Semuanya semakin memberatkan perasaannya dan rasanya pantang baginya untuk mengeluarkan setitikpun air mata.
“Tidak, ini belum berakhir. Semuanya belum berakhir.” Keyakinan itu terus ia tanamkan dalam-dalam meski sesulit apapun keadaan.
Ree memasang senyumnya, menatap jalanan sunyi dan sesekali hanya ada kereta yang lewat dan beberapa orang berlalu-lalang berjalan kaki menjalani keseharian mereka dengan berbagai masalah berbeda.
“Aku harus tahu penyakit nyonya Dandelia, agar aku tahu bagaimana solusinya.” ucap Ree memotivasi dirinya dan tiba-tiba berlari ingin segera tiba ke akademi.
Tiba-tiba wanita yang menggunakan mantel beludru coklat selutut itu berhenti. Menatap kosong jalanan bata yang ada di bawahnya. Pupil matanya terlihat bergetar dan tubuhnya langsung berkeringat deras di tengah hari yang dingin. pandangan Ree seolah menjadi kabur dan ketika ia mengangkat kedua tangannya, terlihat seluruh jemarinya ikut bergetar.
Ree terjatuh, baik siku dan lututnya terasa lemas secara bersamaan.
“Ini tidak mungkin…” gumannya sendiri.
Ree melihat seluruh arah di sekitarnya dan tak ada satupun orang melihatnya saat ini. itu bagus, Ree tidak ingin diketahui kondisinya saat ini.
Ia masih sulit untuk mengangkat tubuhnya, kakinya sulit bergerak dan terus bergetar tak karuan. Keringat dinginnya meski berapa kalipun ia seka, tak kunjung kering. Belum lagi debaran jantungnya yang perlahan muncul dan menjadi cukup kuat.
Ia memejamkan matanya, mencoba menghapus semua kegelisahan dan berharap dapat menenangkan detak jantungnya, perlahan Ree menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara pelan. Mensugestikan ke dalam dirinya bahwa tidak ada yang harus ia takuti sekarang.
Ree tidak bisa membiarkan dirinya seperti ini, semua rasa sakit ini tak lain adalah rasa takutnya yang kembali muncul setelah bertahun-tahun ingin ia lupakan, yaitu perasaan takut untuk pertama kalinya saat ia berhadapan dengan Luceat.
Selang dua menit Ree terduduk di atas jalanan, barulah ia perlahan bangkit berdiri dan membersihkan debu di bajunya.
“Semua akan berakhir jika aku mati. Karena itu, selama aku hidup aku akan melakukan apa yang bisa aku lakukan.”
*
*
*
“Sebentar lagi kita akan pergi dari akademi ini untuk pergi magang. Aku rasa akan merindukan kalian.” Maglina mengangkat tubuhnya bangkit berdiri dengan nampan makanan makan siang yang sudah kosong, menatap kedua teman perempuan yang sering bersamanya saat kelas Berburu.
“Apa yang kamu katakan? Kami tidak pergi sejauh perbatasan negara.” timpal Liliana heran.
“Jika ingin, kamu bisa berkunjung ke Litore atau bahkan sebaliknya.” lanjut Ree.
Maglina terkekeh, rasanya ingin ia lempar kedua temannya itu ketika mudah berbicara seolah keluar istana itu seperti masuk pasar. Hal itu karena Maglina akan magang di istana menjadi salah satu prajurit keluarga kerajaan di sana.
__ADS_1
“Itu tidak mudah ketika aku sudah masuk ke dalam pagar tinggi istana. Terlebih ku dengar jenderal prajurit istana sangat galak. Kamu tahu, mereka berasal dari keluarga Cali.”
“Ahh… keluarga si ketua senat itu ya.” Liliana tampak tak ingin membahas tentang keluarga Frigid. Entah apa yang ada dalam pikiran Liliana, namun nampaknya kesannya terhadap Frigid sudah lama rusak.
Ree sendiri hanya terkekeh kecil. Melihat sikap Liliana tiap kali menanggapi orang yang tidak ia sukai selalu saja lucu. Ia sudah tahu dari Brina terkait keluarga Cali dan Florence, membuatnya tidak heran dengan peran mereka di istana.
“Ree, apa kamu benar-benar tidak apa-apa? Wajahmu akhir-akhir ini terlihat lesu.” ucap Liliana setelah mereka mengembalikan nampan dan berniat kembali ke kegiatan individu. Kelas Ree hari ini nampaknya akan berakhir dengan cepat, sementara Liliana akan pergi ke laboratorium kimia dan Maglina akan berlatih bersama murid laki-laki.
“Kadang aku sulit mengatakan bahwa aku baik-baik saja, namun aku yakin masih bisa aku lakukan sendiri. Aku tidak ingin membuat keributan.”
Liliana dan Maglina terdiam mendengar ucapan Ree, ada dimana sebuah garis yang tidak bisa dilewati seenaknya.
Ree berhenti berjalan, matanya berfokus pada halaman akademi yang dipenuhi oleh rumput hijau dan orang-orang yang melakukan berbagai aktivitas di sana. Liliana dan Maglina ikut berhenti, menatap teman seperjuangannya itu dengan bingung.
“Tapi kamu tahu Ree, tidak semua masalah bisa selesai dengan sendirinya. Jika saja kamu ingin memberitahu dengan siapa kamu bermasalah, mungkin aku akan bisa membantu.” Saran Liliana.
“Justru aku lebih khawatir kamu akan menghajar orang itu.” timpal Maglina menyindir Liliana.
“Itu benar, aku akan menghajarnya untuk Ree.”
“Jangan Liliana, aku merasa kasihan pada korbanmu.” ucap Ree tak habis pikir.
Tentu saja tidak akan Ree biarkan Liliana bertindak, membayangkan Liliana mendengar nama Servio keluar dari mulut Ree saja sudah ngeri bagaimana reaksinya. Apalagi Liliana tahu tentang pertunangan antara Ree dan Servio.
“Aku harus pergi ke suatu tempat, kalian berdua pasti ada kegiatan sehabis ini. Aku duluan…”
Sebelum hari berakhir, Ree akan mencoba sekali lagi berbicara dengan Servio.
*
*
*
“Bukankah semuanya sudah jelas dan tidak perlu lagi kita bicarakan? Aku tahu semuanya terkesan mendadak, tapi kamu tidak berada di posisi yang benar-benar merugikan dirimu sendiri.”
Sekali lagi dan jika gagal, Ree akan terus mencoba berunding dengan Servio. Hari ini, setelah ia pamit dengan Liliana dan Maglina, Ree memutuskan untuk menemui Servio dan berbicara di tempat yang sering mereka kunjungi bersama, yaitu belakang gedung B tepatnya di dekat kandang rusa milik Ree.
Ree tahu tidak akan mudah, Servio lagi-lagi mengucapkan kata-kata dingin tanpa perasaan.
“Servio, jika kamu terbuka dengan keadaan ibumu padaku. Bisa saja aku mencari tahu dengan caraku dan dapat menghindari ikatan seperti ini.” Ree menatap cincin permata merah muda di jari manis kirinya. Ia ingin melepas benda itu dari jarinya, namun tak bisa ia lakukan. Servio tidak bisa membiarkannya begitu saja dan bersikeras memaksa Ree untuk tetap memakainya.
Ree memutar wajahnya menatap pria yang berdiri tak jauh dari hadapannya, pria yang selalu saja mengurai surai panjangnya itu terlihat rapi dengan menguncir rambutnya, tatapan malas-mengantuk itu tetap ada meskipun kini terasa begitu dingin di mata Ree. Ia coba tersenyum, mengajak berbicara dengan lembut tanpa merasa harus terburu-buru untuk menyelesaikan semuanya.
“Ree, apa kamu pikir penyakit yang ibuku derita itu main-main?”
Ree tertegun, senyumannya dengan cepat turun, tak menyangka Servio akan mengatakan kata-kata seperti itu padanya.
“Aku tahu apa yang ada padamu. Segala kekuranganmu saat ini. Aku minta maaf telah menipumu, tapi aku tidak bisa menarik keputusan hanya untuk mendengar solusimu yang kurang matang itu.”
Bukan, bukan itu yang Ree maksud. Sekalipun ia menentang pertunangannya dan Servio, tak pernah Ree meremehkan kondisi ibu Servio. Karena seserius itu penyakitnya, Ree juga mempertimbangkan segala cara yang bisa ia lakukan.
“Servio, bukan itu maksudku. Aku tidak menganggap hal itu bercanda.” elak Ree.
“Hah, Ree bukankah sejak awal kamu datang ke sini untuk merubah kelemahanmu itu?” tanya Servio.
Ree yang masih terdiam mengangkat wajahnya dan menatap Servio. Itu benar, arti kehadirannya ke La Priens untuk dirinya sendiri adalah menghilangkan kelemahannya selama ini.
“Bertunangan denganku, menjalin hubungan lebih dekat denganku, bukankah itu tidak merugikanmu sama sekali? Apa yang ada di hadapanmu saat ini adalah salah satu caramu untuk berubah. Jika kamu tidak menerimanya, akan sulit bagimu untuk berubah.”
Apa benar demikian? Mungkin bagi Servio itu merupakan hal mudah, namun situasi seperti ini malah memperburuk keadaan Ree yang sebenarnya. Ree tidak tahu kata-kata apa yang harus ia balas pada ucapan bernilai kejam itu padanya. Servio langsung pergi begitu saja tanpa tahu wajah Ree sudah seperti orang yang kehilangan nilai hidupnya.
Berbeda dengan apa yang Ree rasakan saat ini, Servio pergi dengan meninggalkan emosi bercampur aduk dalam benaknya. Kepalan tangannya begitu keras memendam perasaan bersalah. Wajah kecewa Ree terus-menerus terbayang di kepalanya.
“Bagaimana bisa aku membahagiakannya jika ia terus memasang wajah seperti itu.” geram Servio pada dirinya sendiri.
To Be Continued.
__ADS_1