
Deru bisingnya mesin yang menyala serta asap uap dari bahan bakar yang menggerakkan kereta itu perlahan menghilang ketika perjalanannya telah tiba di tempat tujuan. Banyaknya orang yang dibawa, ada seseorang yang keluar dari gerbong kelas satu tempat dimana orang penting berada.
Tak lama setelah kereta berhenti, kedua telapak sepatu kulitnya menapaki lantai stasiun sembari membawa koper kulit cukup besar di sisinya. Pria itu nampak tersenyum memandang keramaian stasiun di Crystallo yang selalu sibuk ini sembari merapikan topi bundar hitam yang menutupi setengah wajahnya yang berkulit pucat itu.
Tiba-tiba pria itu langsung dihampiri oleh seorang pria cukup tua darinya dengan mengenakan setelah jas rapi sembari memberi hormat atas kedatangan di Crystallo.
“Tuan, saya adalah pemandu anda di Crystallo.”
Pria yang di panggil ‘Tuan’ itu tersenyum sembari mengitari pandangannya ke sekeliling.
“Sudah semakin ramai saja Crystallo.” ucapnya senang.
“Lewat sini tuan Cali.”
*
*
*
“Hatchi!”
Ree langsung terkejut mendengar Frigid bersin, meski tidak kuat namun saat mereka sedang menyusun beberapa dokumen lama senat cukup membuat Ree terkejut.
“Frigid, apa kamu tidak apa-apa? Apa di sini terlalu dingin?” tanya Alexander khawatir.
Alexander langsung melepas tumpukkan dokumen yang telah ia susun demi menghampiri Frigid untuk memberi pria itu perhatian.
“Wah, ketua divisi kita ternyata sangat perhatian.” timpal Servio yang berada di sisi Ree.
Ree hanya diam menatap pria yang barusan bersin di belakangnya lalu kembali fokus dengan pekerjaan yang belum selesai. Dibanding dengan dingin, di sini lebih terasa berdebu bahkan sempat membuat hidung Ree gatal.
“Tidak, aku hanya terkena debu saja.” ucap Frigid lalu meminta Alexander untuk melanjutkan pekerjaan.
Ree menyetujuinya dalam hati karena mereka sedang membersihkan ruangan senat setelah sekian lamanya. Terlebih lemari dokumen lama yang tidak pernah disentuh merupakan hal yang paling dihindari oleh beberapa anggota yang tidak tahan dengan debunya. Karena Ree tidak pilih-pilih kerja, ia pun memilih menyusun lemari dokumen lama sementara Servio hanya mengekornya.
“Setelah ini, senat akan kembali dibagi. Karena besok adalah hari terakhir rapat evaluasi para kepala akademi, maka Profesor Jeremy akan mengadakan perjamuan makan dan para pengurus senat diminta untuk menyiapkan aula dan berbelanja.” Seluruh pengurus senat mendengar apa yang dikatakan oleh sekretaris senat bernama Michael. Meskipun pria itu baru menginjak tahun kedua di La Priens, namun wibawanya tidak dapat diremehkan karena keuletannya bekerja di samping Frigid.
“Ree, kamu akan pergi kemana?” tanya Servio.
“Jika bisa dipilih, aku ingin tetap di akademi saja.” Jawab Ree.
Namun, nampaknya tidak bisa dipilih dengan bebas seperti itu saja. Karena anggota divisi keamanan cukup banyak dan perjamuan akan diadakan di sebuah aula di gedung B, maka Servio akan menjadi tim tetap di akademi sementara sebagian pergi ke kota untuk membeli bahan-bahan.
“Kak Ree, karena aku harus tetap mengawasi persiapan aula, aku percayakan catatan belanja pada kakak. Karena kak Alexander mengatakan bahwa kakak bisa dipercayai untuk tim belanja.”
Ree rasanya tidak dapat menolak ketika Michael datang memberinya daftar belanja yang harus mereka beli di kota. Wajah Michael yang sangat serius itu tidak bisa Ree tolak atau pria itu akan terus menatapnya.
“Kakak tidak perlu khawatir, kak Frigid akan ikut ke kota.” ucap Michael.
Mungkinkah Michael mengkhawatirkan Ree yang tidak tahu tempat belanja di kota karena wanita itu jarang keluar.
“Ehh!! Jika Frigid juga ikut, aku ingin ikut juga.”
“Aku juga! Michael curang. Aku juga ingin belanja saja.”
Tiba-tiba saja anggota senat perempuan protes karena keputusan Michael.
Junior Ree yang mengenakan kaca mata minus persegi panjang itu langsung menatap para senior perempuannya yang pertama di akademi dengan tatapan lurus nan serius.
“Tidak bisa, aula gedung B adalah yang terbesar di La Priens. Waktu membersihkannya tidak sebentar dan masih banyak dipersiapkan. Aku dan kak Frigid sudah membagi tim dengan adil, karena belanja kali ini banyak mereka cukup membawa kereta bersamanya jadi mohon pengertiannya.”
Sayangnya tidak ada yang menyambut penjelasan kompleks milik Michael itu dan membuat mereka yang protes menjadi diam.
__ADS_1
“Baiklah jika itu keputusan Michael.”
“Kita juga tidak bisa mengecewakan kepala akademi kita.”
“Terima kasih pengertiannya.”
Baiklah, keputusan akhir Ree akan ikut tim belanja yang berjumlah enam orang. Masing-masing berpasangan akan berpencar mencari barang yang sudah di daftar dan Ree bertugas memberi daftar belanjaan itu pada tim belanja.
*
*
*
Pasar rakyat Crystallo adalah pasar tersibuk di Crsytallo dan salah satu yang terpadat di seluruh Pulchra. Hal itu cukup membuat Ree takjud dengan letak pasar di dekat sebuah sungai terbesar di Pulchra bernama sungai Lata yang menjadi salah satu pencaharian utama masyarakat.
“Dermaganya hampir sebesar dilautan.” puji Ree ketika ia mendapat bagian untuk berbelanja di sekitar pesisir sungai sibuk itu.
“Tentu saja, Sungai Lata adalah salah satu jalur perdagangan penting Crystallo.” sambut Frigid yang berdiri di belakang Ree sembari menatap pemandangan yang sama.
Pemandangan sibuknya dermaga di depan mata Ree ini memang sangat indah, belum lagi suasana pasar yang ramai dan beragam barang dijual disini membuat Ree takjub karena ada hal lain yang dapat ia lihat selain hutan dan gedung akademi di Crystallo. Wanita itu menghirup napasnya dalam dan merilekskan tubuh serta pikirannya, karena pemandangan di depannya saat ini sangat rugi jika ia habiskan untuk memikirkan kenapa rekan belanjanya adalah Frigid.
Namun jika dipirkan, hal itu bukanlah terburuk bagi Ree.
Ree pun berbalik menghadap Frigid yang sedari tadi tetap berdiri di belakangnya menunggu pergerakan Ree.
“Baiklah, kita mendapat bagian membeli tirai dan beberapa taplak meja.”
Ree memeriksa daftar belanja mereka kali ini, cukup rinci ketika Michael menyusun daftar tersebut sehingga membuat Ree mudah menemukan barang belanjaan mereka.
“Michael ternyata hebat, dia bahkan memberitahukan dimana tokonya. Apa dia memang sehapal ini dengan pasar Crsytallo?” ucap Ree takjub ketika hampir seluruh barang sudah mereka kemas ke kereta kuda.
“Tentu saja Michael hapal, keluarga mereka adalah salah satu pondasi perdagangan pusat. Barang-barang ini berkualitas tinggi bisa kita dapatkan dengan harga rendah karena Michael itu sendiri.” jelas Frigid.
“Kamu pasti sangat menyayangi sekretarismu satu itu ya.”
Frigid menatap Ree bingung.
“Dibanding kata sayang, aku lebih suka kata menghargai atau menghormati. Keluarga Michael memiliki reputasi sangat bagus di kerajaan. Tidak ada salahnya untuk membangun relasi penting ketika belajar di akademi.”
Ree mendengar perkataan pria yang sedang menghitung kembali barang-barang yang mereka beli dan memastikan tidak ada barang dalam daftar yang ketinggalan. Setelah memastikan semuanya ada, barulah Frigid dan Ree bisa kembali ke akademi.
“Kita masih punya waktu satu jam di pasar, apa kamu ada barang yang ingin di cari?” tanya Frigid.
Ree juga tidak menyangka jika waktu belanja ia dan Frigid akan secepat ini. Memang hal langka bagi Ree untuk pergi ke luar pagar La Priens. Hari ini ia tidak memerlukan surat ijin dari asrama untuk pergi keluar, melainkan menjalankan tugas dari senat.
“Apa kamu ada yang ingin dicari juga?” tanya Ree.
“Jika kamu tidak keberatan, aku akan pergi ke toko buku langgananku. Kebetulan tak jauh dari kawasan ini.”
Sebetulnya Ree tidak ada tujuan lain, jadi ia memutuskan untuk mengikuti punggung Frigid. Jika dipikir itu lebih baik dibanding sendirian di tengah pasar yang asing baginya.
“Aku akan menunggu di toko itu.” tunjuk Ree pada toko barang antik di depan toko buku yang akan dimasuki Frigid.
Awalnya Frigid sedikit ragu jika ia meninggalkan Ree sendirian, namun jika dipikir dua kali, untuk apa ia ragu dan takut. Bukankah Ree sendiri sudah dewasa?
Frigid tidak menjawab, namun pria itu juga tidak melarang Ree pergi dengan kehendaknya sendiri. Setelah Frigid masuk ke dalam toko buku, barulah Ree menyeberang jalan batu bata abu-abu selebar 2 meter itu untuk mencapai toko barang antik.
“Selamat datang.”
Ree tersenyum menyambut sapaan hangat seorang wanita paruh baya penjaga toko yang menjual barang-barang antik dan lama. Begitu masuk Ree seolah ditarik ke dalam dunia lain ketika melihat beragam macam barang-barang unik yang pasti tidak lagi diproduksi saat ini.
Mata Ree menyeret langkah kakinya menuju sebuah mangkok keramik dengan pola bungan matahari. Terlihat menarik di mata Ree, terlebih bentuk mangkok tersebut masih bagus dan mulus.
__ADS_1
“Nona, nampaknya kamu memiliki mata yang bagus.”
Lamunan Ree ketika memandang lama mangkok antik tersebut dibuyarkan oleh suara teguran suara pria yang asing ditelinganya. Namun ketika menyadari yang menegurnya adalah seorang pria membuat Ree terkejut dalam batin. Ia memutar tubuhnya menghadap sosok yang dibelakanginya. Bahkan Ree tidak menyadari langkah kaki ketika ada yang menghampirinya.
“Apa kamu tertarik dengan mangkok itu?”
Seorang pria semampai dengan mengenakan mantel beludru coklat panjang hingga setengah kakinya, dengan kemeja hitam dan celana selaras, lalu dibawah topi bundar hitam terdapat kulit pucat dan sorot mata yang tidak asing rasanya bagi Ree.
Cepat-cepat Ree mengalihkan pandangannya karena tidak sopan menatap lama orang yang baru ia temui. Intinya ia tidak bisa terlalu lama di toko ini karena kenyamanan Ree sudah terganggu.
“Aku hanya tertarik dengan polanya.” ucap Ree sembarangan, padahal ia memang suka dengan peralatan makan yang unik.
Pria asing itu kembali menatap mangkok berdiameter 10 cm di belakang Ree sembari tersenyum tipis.
“Mangkok itu merupakan karya seorang seniman yang aku sukai, namun karena sepertinya aku didahului, aku lebih menghormati keputusanmu tentang mangkok itu.”
Ree tahu ini, meski pria dihadapannya ini mengatakan menghormati keputusan Ree tetap saja pria itu pasti sedang membujuk Ree agar mengalah. Baiklah, saatnya Ree belajar untuk menguatkan dirinya. Ia sering kali ketakutan dan mengalah begitu saja ketika barang yang ia inginkan juga diincar orang lain.
“Aku tidak tahu apa-apa tentang seniman, namun aku juga tidak bisa melepasnya. Kalau begitu aku permisi dulu.”
Ree mengambil mangkok bergambar bunga matahari itu dengan santai lalu membawa ke meja kasir dan membayar sejumlah harga.
“Terima kasih sudah berkunjung.”
Lonceng pintu perlahan berhenti seiring dengan kepergiaan Ree dari toko dan meninggalkan pria yang tidak ingin Ree ladeni tawar-menawarnya. Ree tahu, jika ia tidak cepat bertindak ia akan lemah dan berujung pada mengalah.
“Nyonya! Apa tidak ada lagi yang seperti diambil wanita tadi?” tanya pria itu pada pemilik toko yang sedang berada di meja kasih.
“Maaf tuan, ini adalah toko barang antik, apa yang dijual disini merupakan satu-satunya. Jika anda berminat, ada set cangkir teh buatan seniman C tahun xxx.”
Namun nampaknya tawaran pemilik toko tidak menyemangati pria bernama Smith Kennie Cali itu, akan tetapi di tengah rasa terpuruknya tiba-tiba saja ia teringat sesuatu ketika bertemu dengan Ree dan tersenyum.
“Nyonya, tolong bungkuskan set cangkir teh yang anda tawarkan itu.”
Karena sepertinya ia tidak hanya bertemu dengan Ree secara kebetulan setelah ini.
*
*
*
Ree menatap bungkusan barang yang ia beli dengan bangga. Hari ini meski sederhana, ia bisa mengatasi rasa takutnya ketika berpas-pasan dengan seorang pria asing. Meski sebentar, Ree merasa seperti pernah melihat pria itu namun tidak tahu dimana, di La Priens tidak ada murid seperti pria itu. Ree berharap semoga ia tidak bertemu orang seperti itu lagi di kemudian hari.
Tanpa Ree sangka ternyata Frigid lebih dulu keluar dari toko buku dan sedang berhadapan dengan seseorang asing bagi Ree. Meski Ree tidak tahu apa hubungan keduanya, nampaknya Frigid tidak suka dengan pria paruh baya itu.
“Frigid, maaf. Apa kamu menunggu lama?” tanya Ree memecah keheningan antara Frigid dan seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas lengkap dengan bawaan sebuah koper cukup besar.
“Katakan, apa yang kamu lakukan disini? Mana orang itu?” Frigid tidak menggubris perkataan Ree dan malah bertanya pada pria dihadapannya ini.
“Saya hanya memandu tuan Smith dan beliau berada di toko seberang.”
Frigid langsung mengalihkan pandangannya pada pintu toko yang terbuka tak jauh dari belakang Ree karena dari pintu toko itulah Ree keluar. Terperangah wajah Frigid lalu menatap Ree yang saat ini kebingungan.
“Ayo pergi Ree.” tanpa aba-aba dan kata permisi, Frigid meraih lengan Ree, menarik wanita itu menjauh dari sosok yang tidak ingin ia temui.
Namun, sosok yang Frigid hindari itu tak sengaja menangkap pemandangan yang tidak biasa dimatanya. Siapa sangka wanita yang ia temui di toko sedang ditarik oleh saudaranya sendiri.
“Pemandangan apa ini? apa ia sedang berkencan?”
To Be Continued.
__ADS_1