
Apa ini? Kenapa perasaan dalam hati Ree terasa begitu berat? Ia merasa sangat sulit baginya untuk bernapas dan seolah jantungnya berat dalam memompa darahnya ke sekujur tubuh. Setelah hampir dua minggu, apa yang sebenarnya Servio alami dan lakukan? Kini pikiran Ree bukan lagi satu dua macam, semuanya seolah langsung di obrak-abrik.
Tidak diberi kesempatan untuk mendapat penjelasan yang jelas terkait keputusan sepihak itu lalu dengan penuh rasa penasaran tentang kenapa ia sudah di tempatkan di sebuah kamar tamu tanpa bertanya lebih dulu membuat Ree tidak tahu harus mulai dan melanjutkannya dari mana.
Setelah ucapan egois dari Servio yang kembali ingin bertunangan dengan salah satu putri keluarga Lumen yaitu Ree, pria itu langsung pergi dan meminta para pelayannya untuk membawa Ree masuk ke dalam kediaman dan ditempatkan di sebuah kamar tamu yang cukup luas untuk Ree seorang.
Saat Ree bertanya kenapa ia harus seperti ini, tak satupun pelayan itu menjawab dan mengatakan cukup ikuti saja perkataan tuan rumah mereka untuk menunggu dengan tenang di dalam kamar.
Arus yang datang terasa sangat deras bagi Ree, dimana Servio seharusnya menutup jalur derasnya malah membuka pintu lain dan membuat arus masalah sulit untuk diatasi. Ree yang sempat meminggirkan diri ke tepian dan membiarkan Henny masuk ke dalam arus sebagai penghalang nyatanya tidak mampu menahan hal tersebut dan kembali menyeret Ree ke tengah-tengah arus.
Tidak hanya tak bisa kembali ke asrama malam ini, Ree juga tidak bisa berenang keluar dari arus deras itu dalam hidupnya.
Apakah Ree ikuti saja atau melawan sampai ia lelah? Dua pilihan tersebut memiliki hal yang akan mati dalam diri Ree, tak peduli bagaimana pun Ree memilih salah satu solusi.
Jika Ree ikuti arus itu, ia akan menjalani hidup pernikahan tanpa dasar bagi dirinya sendiri karena hidupnya seolah berada di atas telapak tangan orang lain dan jika ia memilih melawan arus, ada kemungkinan ia tak mampu dan mati karena kelelahan.
Sementara Ree tengah melamun, ia dikejutkan oleh ketukan pintu kamar tempat ia berada. Tidak ada suara manusia kecuali bunyi ketukan, Ree tidak memikirkan hal yang aneh dan langsung membuka pintu kamar. Saat ia membukanya dua orang pelayan wanita yang asing datang membawa sebuah pakaian untuk Ree.
“Hari ini akan ada makan malam dengan kedua keluarga. Kami diminta oleh tuan muda untuk membantu anda memakai pakaian.”
Mengejutkan, bagaimana bisa keluarganya datang tanpa Ree ketahui sedikitpun alasan mereka hadir ke kediaman Florence.
“Silahkan masuk.” Ree tidak bisa berontak saat ini, suasana hatinya memang tengah kacau namun pikirannya masih bisa ia saring berkali-kali agar tidak keruh. Jika hati dan pikirannya sama-sama keruh, Ree tidak tahu sampai batas mana ia akan menahan diri.
Tak perlu menunggu waktu lama bagi Ree mengganti pakaian sehari-harinya dengan sebuah gaun sederhana yang terlihat cantik. Warnanya seperti langit malam karena kerlap-kerlip permata kecil di sekitaran bawah gaun setumit Ree itu. Selera ini, bagaimana mana bisa Servio pilih dan tidak membuat Ree merasa risih ketika mengenakannya. Setelah menata rambut coklat sebahunya yang terurai, Ree memilih untuk menyisir rapi saja surainya karena ia tidak ingin berlama-lama membuat keluarganya menunggu.
*
*
*
Ree pikir, di meja makan akan mereka akan sangat canggung. Namun nampaknya para orang tua menanggapinya secara santai. Bahkan kedua orang tua Ree tidak terlihat kebingungan sama sekali.
Ini menyedihkan, apa mereka tidak merasa kebingungan ketika salah satu putri mereka mendapat hal seperti ini? Bukan hal sepele dalam mengatur pertunangan.
Tiba-tiba kepala pelayan keluarga Florence menaruh sebuah kotak kayu yang terukir motif cantik dengan permata merah di antara sisi kotak itu.
“Itu adalah cincin pertunangan, sudah menjadi tradisi keluarga Florence untuk memberikan calon pasangan anak kami cincin pertunangan.” jelas tuan Florence ketika Servio dan Ree kompak terlihat kebingungan dengan apa yang dihadapkan di depan mereka.
“Sayang, bukankah ini terlalu cepat?” tanya Dandelia cemas.
Bukan lagi terlalu cepat, pikir Ree. Ini terlalu kilat. Bahkan tak genap sehari, ia sudah menerima cincin tunangan.
“Tentu saja tidak, pernikahan ini sudah mencapai kesepakatan. Mereka harus cepat terikat satu sama lain.”
“Ahahaa, anda mungkin benar. Jika mereka tidak di akademi, mungkin pernikahan akan di gelar secepatnya.” sambut ayah Ree.
Ibu Ree, Leona hanya menatap wajah putrinya yang tidak terlihat seperti menikmati hal ini. Siang ini, ketika seorang pelayan dari rumah Florence mengantarkan undangan makan malam, Leona pikir hanya untuk permintaan maaf. Namun, ternyata tetap dijalankan pertunangan bisnis itu dengan salah satu putrinya yang dikorbankan.
Jujur saja Leona sangat terkejut dan khawatir dengan perasaan Ree. Meski Ree dan Servio saling mengenal di akademi, tetap saja wajah Ree yang Leona lihat saat ini bukan mencerminkan bahwa wanita muda itu berminat dengan pertunangannya.
Anaknya yang malang, Leona sendiri bahkan bingung dengan cara menyelamatkannya bagaimana.
__ADS_1
*
*
*
Makan malam itu dengan cepat Ree sudahi, ketika ia sudah menerima cincin pertunangannya ia langsung meminta ijin untuk kembali ke kamar. Karena sudah larut malam, ia tidak bisa kembali ke asrama. Ree sendiri tidak peduli dengan pandangan keluarganya tentang sikapnya. Saat ini Ree sangat ingin sendiri dan tidak akan bisa jernih pikirannya jika ia melihat orang lain.
“Kakak Ree.”
Jalan Ree terhenti, padahal sebentar lagi ia akan mencapai anak tangga yang akan mengarah pada lantai dua tempat dimana kamarnya berada. Ia memutar kepalanya ketika mendengar suara lembut memanggilnya kakak. Tidak ada yang memanggilnya seperti itu kecuali Brina seorang. Karena hanya Brina adik yang sering bersamanya.
“Brina,” Ree tanpa ragu menghampiri wanita yang terlihat cantik mengenakan gaun coklat dengan banyak renda di sekitaran pinggangnya itu. wajah yang lama tak Ree jumpai, membuat Ree memasang senyum manisnya lalu seketika pudar ketika apa yang telah ia lakukan pada Brina.
“Maafkan aku Brina.” sesal Ree. Sejak awal, Brina lah yang diminta untuk bertunangan dengan Servio. Namun, Ree malah membantu pria itu mengacaukan pertunangan hingga ia sendiri yang terseret arus masalah.
“Apa yang kakak bicarakan? Sejak awal ini semua hanya bisnis dan aku dipaksa untuk melakukannya karena ayah ibu serta paman bibi memikirkanmu yang masih ada di akademi.” Brina mengangkat tangan kanannya dan menepuk bahu Ree berulang kali, menyadarkan Ree bahwa semua bukan kesalahannya semata. Senyum Brina terlihat ringan seperti angin musim semi yang menyegarkan. Raut wajahnya sama sekali tidak sedih.
“Kamu terlihat sangat lega.” ledek Ree yang langsung tahu bahwa Brina juga tidak menyukai pertunangan seperti ini.
Brina terkekeh, hatinya begitu transparan jika sudah berbicara dengan Ree. Kepekaan Ree terhadap pola pikirnya membuat Brina merasa ngeri meskipun sudah tidak berjumpa selama bertahun-tahun. Brina memindahkan tangan kanannya, memeluk lengan kiri Ree dan menyeret langkah wanita itu mendekat padanya menuju luar teras dimana ada tempat duduk di sana. lalu ia mendudukan kakak sepupunya pada bangku dan Brina mengambil tempat di sisi Ree.
“Ini tidak akan mudah ke depannya. Kakak tahu sendiri keluarga kita seperti apa jika sudah ingin melakukan sesuatu pada orang lain.”
Ree juga heran dengan keluargannya, keluarga Lumen tidak pernah menolak permintaan bantuan selama masih dalam jangkauannya. Masalahnya hampir tidak ada yang tidak bisa mereka jangkau. Ree tidak tahu mengapa keluarganya malah terkesan mengerikan seperti ini.
“Kesepakatannya adalah nyawa seseorang di rumah ini.” ucap Brina membuka topik alasan pertunangan antar dua keluarga terjadi.
“Seperti yang kamu tahu sendiri, keluarga Lumen tidak mengenal keluarga Florence sebelumnya bahkan kerabat jauh pun bukan. Beberapa bulan yang lalu, saya kami kembali ke Litore, tiba-tiba kepala keluarga Florence bertemu dengan paman dan ayahku. Kamu tahu sendiri sejak kakek tiada, paman Angues dan ayah yang menjalani bisnis keluarga secara bersamaan.”
“Aku tidak akan berlama-lama, apa yang keluarga Florence inginkan adalah sebuah obat yang sangat langka, berada di belahan dunia yang lain dari tempat kita berada saat ini, bisa dikatakan di seberang lautan sana.”
“Obat? Untuk apa?” tanya Ree bingung.
“Untuk nyonya keluarga Florence, nyonya Dandelia Florence. Bisa dikatakan nyonya Dandelia sudah sakit keras sejak lama saat ia melahirkan anak bungsu mereka yaitu Servio.”
Terdiam, Ree tidak bisa mengatakan apa-apa. Seolah Ree sedang berada di ruang hampa yang sangat hampa. Servio, apa yang ia pikirkan ketika sudah tahu fakta ini. Kini Ree seolah tahu alasan tindakan buru-buru Servio.
“Obat yang mereka inginkan tidaklah mudah mendapatkannya, sebagai gantinya keluarga kita menginginkan kekuatan militer keluarga Florence yang terkenal itu.” jelas Brina.
“Hey, kenapa aku tidak tahu tentang kekuatan keluarga Florence?” entah kenapa Ree merasa tiba-tiba merasa bodoh.
“Tentu saja! Mereka adalah keluarga yang dipercayai oleh raja untuk membentuk dan melatih prajurit mata-mata milik kerajaan, mana mungkin dibeberkan begitu saja, hal ini bersifat rahasia. Satu hal yang harus kakak tahu, pertahanan kerajaan berpatokan pada dua keluarga ini, keluarga Cali sebagai tameng depan keamanan kerajaan dan keluarga Florence adalah bagian yang ‘tidak terlihat’.”
Kembali Ree menyalahkan dirinya yang terlalu tidak mempedulikan sekitarannya. Padahal untuk sekedar cukup tahu pasti bisa Ree lakukan, namun ia hanya berfokus pada apa yang sudah ia rencanakan sejak awal, yaitu belajar di akademi.
“Lalu, bagaimana dengan keluarga Cali, apa kita memiliki sesuatu yang berkaitan dengan mereka?” tanya Ree. Pertemuannya dan Smith di pelabuhan ketika Smith terlihat santai menyapa kedua orang tuanya membuat Ree tidak ingin tertinggal sesuatu lagi.
Ia sudah terlanjur bodoh dan tidak tahu seperti ini, pasti bisa ia perbaiki agar ia tahu bahwa cara memecahkan suatu masalah tidak hanya berpatok pada satu kunci jawaban.
“Ah, itu karena tuan Smith sudah menjadi pelanggan tetap. Aku sering melihatnya bersama kakak Luceat.”
“Hanya itu?” tanya Ree tak habis pikir.
__ADS_1
“Iya, hanya itu. Ada apa kakak? Apa kakak tahu sesuatu?” tanya Brina penasaran.
Ree menggeleng, ia pikir Smith tidak terlihat begitu mencurigakan ketika Brina menjawab pertanyaannya. Mungkin hanya hubungan Frigid dan Smith saja yang sangat tidak akur dengan normal.
Tak lama mereka mengakhiri pembicaraan. Ree kembali ke kamarnya dan Brina bersiap untuk kembali ke penginapan. Entah mengapa setelah berbicara dengan Brina, perasaan Ree sedikit lebih tenang. Saat ini titik permasalahan sudah ia ketahui, bisnis memang kadang mengerikan seperti ini. Di lain sisi, Ree juga memikirkan bagaimana perasaan Servio ketika ia harus memutuskan semuanya menjadi seperti ini.
Ini seolah menjadi secercah harapan bagi Ree untuk lepas dari pertunangan ini. ia merenungkan akan mendiskusikannya pada Servio. Masalah obat itu dan kesepakatan, semuanya. Ree merupakan orang yang selalu percaya bahwa akan ada banyak jalan untuk satu masalah.
Langkahnya dengan ringan membawa diri menuju suatu tempat dimana terdapat orang yang ia cari di sana. acara makan malam sudah berakhir dan Ree sudah bertanya tentang keberadaan Servio. Meski tidak ia beritahu alasan kenapa ingin bertemu, namun tidak ada yang bisa menolak permintaan tunanngan tuan muda mereka.
Bukan seperti perpustakaan, juga bukan kamar. Langkah Ree terhenti tepat di sebuah ruangan yang terlihat nyaman. Terdapat sofa santai dan beberapa rak buku di sisi dinding. Cahaya lampu kristal di langit-langit membuat ruangan nampak begitu hangat dan nyaman. Tak perlu berlama-lama mata Ree menyusuri seluruh sisi ruangan karena orang yang ia cari sedang berdiri menghandap jendela menatap langit dengan bulan yang tidak sempurna.
“Servio aku ingin bicara denganmu.”
Punggung itu terlihat begitu dingin dan asing bagi Ree. Sebelumnya perasaannya tidak pernah setakut ini dengan Servio. Apa karena perubahan sikap yang begitu drastis dan efek apa yang telah terjadi padanya akhir-akhir ini membuat Servio tampak asing di mata Ree?
“Bicaralah, aku akan mendengar dari sini.” Bahkan kata-kata yang keluar dari sepasang bibir merah muda alami itu membuat Ree hampir membeku di tempat.
Ree memantapkan hati dan mentalnya, maju setidaknya beberapa langkah demi menepis jarak yang cukup jauh hingga ia berdiri kurang lebih setengah meter dari punggung pria dingin satu ini.
“Kenapa kamu melakukan ini tanpa bicara padaku terlebih dahulu?” tanya Ree tanpa ingin basa-basi.
Angin malam yang berhembus dari mulut jendela yang terbuka menyapu wajah Servio yang memang sudah dingin, ia memutar pandangannya menatap wajah wanita yang rasanya sudah sangat lama tidak ia pandang. Kira-kira sudah hampir 3 minggu ia tidak mengacau ataupun menggodanya dengan melihat berbagai ekspresi yang membuat Servio sendiri ingin tertawa. Namun, di hadapannya saat ini tidak seperti hari-hari yang lalu, Ree mungkin terlihat resah menunggu jawaban Servio, akan tetapi sedikitpun tidak ingin Servio berubah pikiran.
“Kenapa aku harus bertanya, bukankah kamu yang mengatakan bahwa kamu akan membantuku tanpa harus aku minta ijin padamu terlebih dahulu?”
Ree tampak terkejut. Memang benar ia pernah mengatakan itu bahkan sangat marah ketika Servio tak nyaman meminta bantuannya. Namun bukan itu maksud dari pertanyaan Ree sebelumnya. Ia bukannya tidak ingin membantu, ia hanya tidak tahu kenapa ini merupakan pilihan Servio.
“Servio, bukankah kita harus berdiskusi dulu? Bukannya kamu juga mengatakan padaku bahwa tidak ingin menikah dengan diatur seperti ini? Bagaimana bisa kamu memaksakan dirimu seperti ini? Servio aku tahu kamu berada dalam tekanan, tapi bukan berarti tidak ada solusi lain.”
Servio memejamkan matanya, mengepal kuat tangannya menahan rasa hati yang sangat menyakitkan baginya. Perkataan Ree memang benar, ia tidak ingin di atur dalam kehidupannya. Namun saat ini di kepalanya tidak ada solusi lain yang bagus selain pilihan saat ini.
“Jangan naif Ree, ini adalah aku yang sebenarnya. Sangat bohong ketika orang menawarkan bantuan tanpa menginginkan suatu imbalan.” ucap Servio terpaksa mengeluarkan alasan yang sangat tidak masuk akal baginya.
Pikirannya saat ini dipenuhi oleh ibunya. Bayang-bayang keadaan ibunya yang semakin memburuk terus menekan Servio untuk berbuat sesuatu yang cepat.
“Itu tidak benar bukan? Servio, kenapa kamu seperti ini?” Ree terus menyangkal kebenaran dari ucapan Servio barusan. Kenapa ia mengatakan kata-kata menyakitkan seperti itu di hadapan Ree yang sudah menganggap bahwa Servio benar-benar ingin membantunya. Ree tidak percaya pola pikir Servio seperti itu.
“Sayang sekali Ree, hatimu itu lemah dan mudah terpedaya oleh orang lain. Bantuan yang aku berikan bukan semata tanpa alasan, setidaknya aku harus melakukan sesuatu yang menguntungkan untuk kita berdua.”
Ia mengatakan dengan wajahnya yang tanpa bersalah seperti itu semakin membuat Ree tidak percaya saja. Bahkan Ree tidak sepolos yang Servio katakan, mungkin hatinya memang lemah terhadap orang-orang di sekitaran namun bukan berarti tidak Ree perhatikan gelagat orang di sekitarnya.
“Untuk kebaikan kita berdua, aku akan tetap menikahimu. Maka dari itu…”
Tidak ingin lagi Ree dengar satupun kata dari mulut Servio, ia memilih pergi sebelum Servio menyelesaikan kalimat terakhirnya. Hatinya terlanjur sakit karena merasa terkhianati. Penipuan yang Servio lakukan padanya telah membuat Ree sepenuhnya kecewa. Ia tidak ingin terlihat menangis di depan Servio membuatnya langsung berlari begitu saja meninggalkan Servio sendiri di ruangan itu.
Servio belum menyelesaikan kata-katanya, mungkin ia terlalu bodoh tanpa menyaring kata-kata yang sebelumnya hingga sulit baginya untuk berbicara dengan baik dengan Ree hingga akhirnya wanita itu pergi dari hadapannya tanpa ingin melihat wajahnya.
“… Maka dari itu, biarkan aku hidup bersamamu dan menjagamu seumur hidupku Ree.”
Bisikkan itu hanya Servio sampaikan pada angin malam yang masuk, orang yang ingin ia sampaikan kata-kata itu sudah terlanjur pergi dengan perasaan kecewa.
__ADS_1
To Be Continued.