
Saat para murid tingkat 4 pergi meninggalkan La Priens sementara selama 3 bulan, disitulah hanya murid laki-laki yang tersisa seolah kembali ke awal dimana hanya ada murid laki-laki saja.
Nampak sebuah kereta berhenti di stasiun La Priens membawa seorang wanita paruh baya yang lengkap mengenakan baju musim gugur dan seorang ajudan wanita yang menemaninya. Nampak dari apa yang ia bawa, wanita itu bukanlah seorang yang biasa.
“Nyonya, saya tunjukkan jalannya.” ucap sang ajudan mengarahkan jalan masuk ke kawasan akademi La Priens.
“Berjalan jauh seperti ini rasanya menyegarkan setelah sekian lama terkurung di dalam rumah.” ucap Dandelia menatap gerbang besar yang merupakan pintu masuk ke La Priens, baik akademi maupun asrama.
Karena hari ini libur, maka kawasan akademi tidak terlalu ramai.
“Nyonya, jika anda lelah saya bisa meminta seseorang membawakan kereta kuda untuk anda.” tawar sang ajudan karena wajah Dandelia terlihat sangat pucat.
Dandelia tidak ingin hal berlebihan seperti itu, ia ingin berjalan santai menuju asrama tempat putranya berada. Mungkin sangat tiba-tiba bagi Servio menerima kedatangannya nanti, namun itu lebih baik karena akhir-akhir ini wajah Servio selalu tegang.
“Tenang saja… angin musim gugur sangat dingin, lebih baik kita bergegas menuju asrama. Terlebih kedatangan kita sangat mendadak seperti ini, takutnya Servio tidak ada di asrama.” ucap Dandelia.
“Nona muda, terima kasih sudah mengantar saya ke sini.” ucap Dandelia pada wanita muda yang sedang merangkul lengan Dandelia untuk membantu wanita itu berjalan menuju asrama.
“Tidak nyonya, ini hanyalah cara saya menebus kesalahan saya dan Servio hari itu.” ucap Henny yang ternyata ikut bersama dengan Dandelia pergi menemui Servio.
Henny terkejut mendengar semua yang terjadi pada Ree setelah temannya ingin menemui Servio. Henny tidak menyangka keputusan yang Servio ambil akan segila itu. meski ia sudah tahu alasan sebenarnya dari Dandelia, tetap saja Henny tidak berdiam diri dan ingin menemui Servio secara langsung.
“Setidaknya nyonya, saya ingin berbicara dengan putramu itu sebelum saya pergi dari Crystallo.” geram Henny.
Henny sendiri tahu luka Ree dan dapat memahaminya. Ia tahu betapa menderitanya Ree selama bertahun-tahun dan hal yang Servio lakukan adalah ketakutan Henny ketika Ree mengenal Servio.
*
*
*
Akhir pekan merupakan hari yang mana tidak ada kegiatan akademis di La Priens, terlebih saat kelas berburu sedang istirahat, membuat pada murid yang biasanya menginap di gunung termasuk Servio hanya menghabiskan waktunya di asrama karena mereka bisa sembarangan keluar asrama begitu saja.
“Ahh… akademi menjadi sepi karena tidak ada kakak perempuan di sini.” sungut teman sepermainan Servio.
“Kamu benar, tak lama lagi mereka akan lulus dan acara kelulusan itu di akademi ini. Jika program percobaan itu berhasil, tahun depan kita akan mendapatkan junior perempuan.” sambut yang satu.
“Meskipun begitu, tidak akan ada yang mengalahkan aura dewasa dari senior perempuan.”
“Kamu benar, terlebih aku dengar ada anak angkatan kita yang berpacaran dengan salah satu murid perempuan.”
“Benarkah? dia pasti sulit ketika akan mendekat kelulusan, terlebih saat ini mereka sedang magang. Bagaimana menurutmu Servio?”
Pemilik surai hitam panjang itu sedari tadi hanya menyimak pembicaraan dengan membersihkan anak panahnya yang selalu ia pakai saat mengikuti kelas Berburu, mulai mengalihkan pandangannya pada teman-temannya.
“Hah?? Aku tidak tertarik.” ucap Servio dingin sembari menaikkan kerah sweater rajutnya berwarna coklat itu sampai ke mulut karena angin pagi ini cukup dingin. namun, ia bosan jika selalu berdiam di dalam kamar.
Terlebih, Ree sudah tidak ada di asrama dan pergi dalam waktu cukup lama.
“Tapi, bukankah kamu ada dekat dengan salah satu senior yang berasal dari Litore itu? Aku lihat ia cukup cantik.”
Ree, wanita itu yang hanya Servio sapa dari sekian banyak senior yang mencoba mendekatinya. Namun, karena Servio selalu berada di gedung B, membuat rata-rata senior wanita menyerah akan dirinya.
Ketika mengingat wajah kesusahan Ree akhir-akhir ini karenanya membuat Servio selalu menyesali segala perbuatannya.
“Servio, nampaknya pengurus asrama memanggilmu.”
Terlihat dari arah pintu masuk nampaknya seorang pengurus asrama putra itu menunggu Servio.
“Kalau begitu aku pergi dulu.” ucap pria yang selalu mengenakan cincin tunangannya dengan Ree itu.
Ternyata Servio kedatangan tamu, namun Servio sendiri belum tahu karena tamunya sedang menunggu di ruang tamu dan duduk di sana. tanpa diberitahu, saat Servio melihat punggungnya saja ia sudah tahu bahwa yang datang adalah ibunya.
“Ibu!?” seru Servio kaget karena melihat ibunya mengunjunginya di hari yang tak terduga.
Saat ia terpanggil, Dandelia langsung bangkit berdiri dan tersenyum, menyambut kedatangan Servio dengan pelukannya yang hangat.
“Servio! Apa kabarmu?”
Servio seolah masih tak percaya dengan apa yang ada di depan matanya saat ini. Benar-benar ibunya datang dan memeluknya. Ia bahkan sangat familiar dengan aroma ibunya sendiri.
__ADS_1
Tangan Dandelia yang melingkari tubuh Servio perlahan turun menggenggam kedua tangan besar putra bungsunya yang sudah sangat tinggi darinya itu.
“Bagaimana bisa kamu masih mempertahankan rambutmu seperti ini?” tanya Dandelia terheran-heran dengan panjang rambut putranya yang tidak pernah dipotong itu.
“Tentu saja, ibu suka dengan rambut panjang, bukan begitu? Dari pada itu, lebih baik ke kamarku saja dan bicara di sana.” ajak Servio.
Namun Dandelia menggeleng.
“Ibu sudah meminjam tempat untuk bicara denganmu Servio.” Ucap Dandelia membawa suasana obrolan mereka semakin serius.
Dandelia sudah meminjam ruangan rapat pengurus asrama untuknya berbicara empat mata dengan Servio.
Mungkin sangat tiba-tiba bagi Dandelia yang datang, namun Dandelia cukup senang melihat putranya menikmati kesehariannya sebagai seorang murid akademi tanpa memusingkan apa yang terjadi dikeluarga.
“Jadi apa yang ingin ibu bicarakan?” tanya Servio yang sudah duduk di samping ibunya.
Dandelia cukup lama menatap Servio yang tengah menunggu jawaban darinya. Tangannya naik menyingkap surai Servio yang berada di wajah putranya itu, lalu menepuk kepala Servio dengan lembut.
“I-ibu??” Servio sendiri bingung dengan perlakuan ibunya yang tak biasa saat ini.
“Ada apa? Apa ibu tidak boleh menepuk kepalamu saat sudah dewasa seperti ini?” tanya Dandelia sembari terkekeh.
Servio selalu ingat, saat dimana ia masih kecil, ibunya selalu menepuk kepalanya dengan lembut agar ia bisa tidur saat malam. Kebiasaan itu sampai dimana Servio menginjak remaja dan ketika harus tinggal di asrama, mungkin ibunya rindu memperlakukan Servio seperti ini.
“Servio, Apa kamu ingat bahwa ibu pernah bilang jika kamu tumbuh jangan pernah menyakiti wanita?” tanya Dandelia sembari mengalihkan pandangannya pada jendela ruangan yang mengantarkan cahaya matahari hangat ke dalam ruangan.
Tepukan di pucut kepala Servio terhenti, dan Dandelia kembali menatap wajah putranya. Tatapan itu terlihat sendu dan membuat Servio terdiam.
“Berhentilah Servio. Penyakit ibu memang sudah harus seperti ini dan tidak ada cara untuk menyembuhkannya.”
“Ibu!”
Tentu saja Servio tidak terima ibunya mengatakan hal seperti itu padanya.
Dandelia meraih tangan Servio dan menggenggam erat kedua tangan itu.
“Sejak awal ibu sudah merasakannya. Apa yang ada di dalam ibu bukan salahmu atau siapapun. Kembali lagi, ibu tidak ingin kamu menjadi seorang pria yang menyakiti seseorang di sekitarnya. Bukan begitu putraku?” tanya Dandelia.
“Ibu… bagaimana ibu bisa mengatakan hal tersebut? bukankah keluarga Lumen sudah berjanji akan mengambilkan obat itu untuk ibu? Kenapa ibu malah pesimis seperti ini?” tanya Servio tak terima.
Mengesampingkan perasaan pribadinya terhadap Ree, apa yang sudah dijanjikan dalam pertunangan bukanlah sembarang janji. Bagaimana mungkin Servio bisa menerima begitu saja keadaan ibunya yang semakin memburuk ini.
“Bisnis adalah bisnis Servio, namun ibu bukan orang yang ingin bahagia di atas penderitaan orang lain. Seharusnya kamu sendiri yang bisa memahami siapa yang sebenarnya menderita di dalam kasus ini?” Dandelia tidak menunjukkan dirinya yang paling menderita saat ini melainkan perasaan Ree.
Sejak awal Dandelia tahu bahwa satu-satunya yang jelas menolak pertunangan adalah Ree itu sendiri. Bukan masalah suka atau tidak, yang memberi penderitaan adalah tidak adanya kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.
“Nyonya Dandelia benar, memang sudah ada janji yang disepakati. Namun mereka akan terus berpacu dengan waktu dimana semuanya tergantung pada nyonya Dandelia itu sendiri.”
Henny muncul dari ambang pintu dan ikut masuk ke dalam ruangan. Ia sudah menunggu sejak awal pembicaraan di depan pintu dan menunggu saat dimana ia masuk dan ikut memberi penjelasan seperti yang Dandelia lakukan.
“Kamu… kenapa kamu ada di sini?!” guman Servio dan terbelalak karena kaget akan kehadiran Henny.
Arti kehadiran Henny tak lain adalah sebagai pendukung Dandelia. Henny juga turut bersedih akan kesehatan Dandelia, namun apa yang bisa ia lakukan untuk menebus kesalahannya adalah dengan membantu Dandelia.
“Ibumu sangat menyayangimu dan tidak ingin kamu menjadi pria yang kurang ajar. Apakah setidaknya kamu bisa mengabulkan keinginan sederhana ibumu tanpa harus menyakiti orang lain?” tanya Henny geram.
“Memangnya kamu tahu apa dengan perasaanku?” tanya Servio membalas pertanyaan yang menyerang dari Henny.
“Servio…” lirih Dandelia menatap putranya nampak sangat membendung kesedihan dan amarah dalam hati.
“Saat semua orang melimpahkan kesalahan padaku ketika melihat ibu jatuh sakit selama bertahun-tahun. Lalu saat dimana aku bisa berharap akan kesembuhan ibu, tapi malah seperti ini jalannya? Apa kamu mengerti perasaan seperti itu?” tanya Servio pada Henny.
Tatapan Servio terangkat, menatap tajam ke arah wanita yang merupakan sahabat karib Ree. Henny tidak takut sedikitpun, ia tidak pernah takut pada Servio.
Henny maju beberapa langkah untuk mendekati Servio. Ia tidak lagi peduli akan adanya Dandelia di ruangan ini. karena satu hal yang penting adalah memberi penjelasan pada putra bungsunya yang sangat keras kepala itu. maka dari itu, tenanga Henny cukup kuat untuk menarik sweater Servio sampai pria itu berdiri di hadapannya dan beradu tatap dengannya.
“Perasaan itu, apa perasaan tersakiti yang harus kamu bagikan dengan Ree? Caramu membagikannya sangat tidak menyenangkan. Lalu, meskipun begitu apa kamu tetap ingin melukai perasaan ibumu, padahal kamu sadar telah melukai Ree. Ujung-ujungnya kamu tidak menyembuhkan siapapun diantara ibumu dan Ree.”
Ini menyesakkan, ucapan Henny terdengar menyakitkan namun benar adanya dengan keadaan saat ini. Saat ia menginginkan segalanya, bukannya ada yang sembuh melainkan malam semakin menyakiti orang-orang yang ia sayangi.
“Nyonya Dandelia, nampaknya aku harus minta maaf padamu.” timpal Henny saat menatap mata Servio yang nampak berkaca-kaca dan mulai mengeluarkan lelehan air mata dari sudut matanya.
__ADS_1
Dandelia cukup terkejut ketika Henny mampu membuat Servio yang keras kepala itu menangis.
Servio langsung sadar dan melepas cengkraman Henny dengan paksa dan cepat menghapus lelehan air matanya.
Sial, ia kecolongan di depan Henny. Pikir Servio.
“Pertama, kita tetap akan berusaha mendapatkan obat ibumu itu. lalu, masalah perjanjian lain pada keluarga Lumen seharusnya bisa kamu diskusikan lagi dengan ayahmu. Ibumu akan membantumu.” ucap Henny sembari menatap Dandelia yang masih nampak terkejut dengan ulah Henny menangani Servio.
“Juga… Ree pasti bisa mengerti dan menjelaskan pada keluarganya. Risiko mendapatkan obat itu sangat besar bukan?” lanjut Henny.
“Servio…” Dandelia ikut berdiri dan kembali meraih lengan anaknya. Entah mengapa melihat Servio terdiam sambil mengeluarkan air matanya membuat Dandelia tersenyum kecil.
Ia mengingat Servio kecil yang sering menangis.
“Jika kamu ingin ibu hidup lebih lama, hanya kebahagiaan yang membuat hidup lebih lama. Jika kamu membuat ibu tersakiti dengan menyakiti orang lain, itu selalu membuat ibu tidak bisa tidur. Tindakanmu ingin menyelamatkan ibu memang adalah caramu mencintai ibu, bukan begitu?”
Dandelia meraih wajah Servio dan menatap anaknya penuh kasih. Tanpa terasa waktu membuat anaknya sudah sangat tinggi seperti ini dan tumbuh dengan baik. Ia tahu rasa cinta pada ibunya dan mungkin sedikit kesulitan saat membuat keputusan. Satu-satunya adalah dengan berbicara baik-baik.
Servio langsung memeluk ibunya erat dan menghirup aroma yang sangat ia cintai itu. Servio sendiri tak tahu bayangan kehidupan saat harus ditinggalkan ibunya. Apa yang ia lakukan saat ini tak lain adalah untuk ibunya sendiri. Namun Servio malah mengambil langkah dimana ia menusukkan duri ke kehidupan orang lain secara sadar.
Setelah berbincang hal ringan lainnya, Dandelia memutuskan untuk kembali lebih dulu ke kediaman, sementara Servio hanya mengantar sampai ke stasiun dengan Henny yang masih tinggal karena ia ingin bicara atau menghajar(?) Servio.
“Jangan bilang kamu mengacaukan kediaman lagi untuk bertemu ibuku?” tanya Servio saat kereta kota yang ibunya tumpangi sudah pergi meninggalkan stasiun.
Saat ini hanya ada mereka berdua di stasiun kecil itu dan duduk di bangku menatap rel kereta yang kosong.
“Bicara apa kamu? Apa aku segila itu? Ibumu lah yang mendatangiku ke pelabuhan saat aku tengah magang.”
Henny mengingat saat ia baru saja kembali dari patroli, seorang tamu wanita paruh baya datang ingin menemuinya. Tak lain adalah Dandelia.
Mengejutkan memang, namun kehadiran Dandelia merupakan harapan Henny untuk tahu apa yang sedang terjadi akibat kekacauan yang pernah ia buat dengan Servio.
“Sudah jelas jika seorang ibu tidak ingin anaknya menjadi laki-laki kurang ajar.” sindir Henny sembari menatap tajam ke arah Servio.
“Memangnya kamu tahu apa tentang diriku? Tiba-tiba saja datang dengan ibuku… memangnya kamu anak perempuannya?”
Entah mengapa kalimat yang keluar dari mulut Servio saat ini terdengar sangat konyol. Henny sampai menatap Servio terheran-heran.
“Kenapa kamu menatapku?”
Servio sendiri sampai risih karena ditatap oleh Henny dalam waktu cukup lama.
“Aku katakan padamu. Jika kamu menyukai Ree, bukan begini caranya. Kamu sendiri tahu keadaan perempuan itu seperti apa. Sikapmu seperti ini adalah penambah luka, bukan penyembuh.”
Tanpa diberitahu oleh orang lain bahkan tanpa bisikan setanpun, Henny tahu bahwa Servio menaruh rasa pada sahabatnya. Henny sendiri tidak mempermasalahkan perasaan Servio. Namun, cara Servio untuk mendapatkan Ree adalah salah besar di mata Henny.
“Siapa yang mengatakan aku punya perasaan padanya?!” elak Servio tak terima.
“Hoo… benarkah? kenapa kamu tiba-tiba mengubah calon istri ketika ada Brina yang sejak awal menjadi calon istrimu??”
Pertanyaan Henny seolah menjadi skakmat bagi Servio.
“Ayo… berusahalah mencari alasan yang jelas…” goda Henny.
Servio tak menjawab dan memilih diam. Tentu saja sudah Henny putuskan jawabannya seperti apa.
“Tapi, aku tidak peduli dengan perasaanmu pada Ree. Aku hanya ingin kamu meminta maaf padanya dengan benar sebelum kamu di masukkan ke dalam catatan hitam hidupnya.”
Hal itu sudah terjadi pada Luceat, dimana Ree tidak akan pernah ingin bertemu dengan Luceat lagi. Meskipun mereka adalah saudara.
Servio tidak tahu Ree akan menjadi seperti itu ketika ada seseorang yang bermasalah.
“Aku tidak bercanda Servio. Kamu juga bukanlah pria yang mudah bercanda… Masalahnya kamu sudah memulai sesuatu yang cukup serius dengan hidup Ree, aku hanya khawatir padanya yang mana sulit untuk sembuh.”
Henny pun memutar pandangannya dari arah rel kereta kepada pria yang duduk di sebelahnya saat ini. nampaknya Servio juga sedang memperhatikan Henny dan menyimak dengan baik kalimat yang Henny ucapkan.
“Minta maaflah dengan baik padanya atau kamu tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk memilikinya.”
Sejak awal Henny memang tidak peduli dengan Servio dan sangat menentang pertunangan Servio dan Ree.
__ADS_1
To Be Continued.