We And Problems

We And Problems
Chapter 89 : Akhirnya, Menyerah?


__ADS_3

“Apa yang sebenarnya ingin kamu kejar ketika datang ke sana? apa sebatas ingin menghentikannya mengonsumsi obat terlarang, lalu kamu pergi setelahnya??”


Ree tertegun, matanya perlahan turun memandang ujung sepatu pria yang berbicara dengannya saat ini. Mulutnya terasa kaku ketika pikirannya lari kemana-mana untuk mencari jawaban yang tepat.


“Viovarand,”


Entah mengapa akhir-akhir ini Ree merasa dirinya sedikit melankolis. Hatinya terasa begitu kecewa dan isi kepalanya terasa begitu kosong ketika harus menjawab tentang alasan yang sebenarnya. Tangannya hanya menggenggam gaun satin sebahu yang berwarna keabu-abuan itu dengan erat.


“Aku tidak bisa membawamu ke Agnus untuk alasan yang bisa saja membuat dirimu dalam bahaya Ree. Niatmu mungkin sangat baik untuknya, tapi apa kamu berpikir dia akan menghargai niatanmu ini? pikirkan lagi tindakanmu sebelum kamu benar-benar ingin melakukannya.”


Sebelum Ree membawa Viovarand untuk bicara berdua di beranda rumahnya, Ree sebenarnya mencuri dengar desas-desus tentang Viovarand yang akan pergi ke Agnus untuk berbisnis, karena keluarga Lumen tak lagi diperbolehkan menginjakkan kakinya ke Agnus, maka perusahaan keluarga Heittblood yang mengambil alih tugas keluarga Lumen itu.


Sebenarnya Viovarand tidak tega melihat Ree nampak murung seperti ini. Wajah wanita itu sejak tadi sama sekali tidak terlihat menikmati suasana ramai dirumahnya dan hanya tatapan kosong meski tersenyum menyambut tamu atau sekedar bercengkrama dengan saudaranya, akan tetapi pikirannya entah melayang kemana.


“Dinginkan kepalamu dulu Ree, jika ia benar peduli dan menghargai niat baikmu, dia pasti sudah lama mendengarmu.”


Ucapan itu menjadi kalimat terakhir Viovarand sebelum meninggalkan Ree di beranda sebelum kembali ke tempat perjamuan makan dilakukan. Kalimat itu juga yang menjadi perenungan Ree untuk kembali mengoreksi niatannya.


Seperti yang Viovarand katakan, jika memang menghargai, pasti sudah didengarkan dan tidak pergi seperti ini.


Akan tetapi, sejak awal apa pernah Ree merasa seperti itu. ketika dipikirkan lagi, yang Ree dapatkan hanya punggung dan respon dingin.


Ree pun beranjak untuk kembali ke dalam rumah karena merasa udara malam membuat tubuhnya tidak nyaman bahkan ia sampai merinding.


“Ree?? Kenapa wajahmu pucat? Kamu sakit?” baru saja Ree kembali ia sudah dihampiri oleh ibunya, seolah merasa ada yang tidak beres dengan salah satu anaknya membuat sang ibu sudah melihat gelagat Ree sejak tadi, meski nampak biasa wajah Ree jelas terlihat lelah di sana.


Benar juga, nampaknya Ree hampir mencapai batasnya.


“Aku ke kamar saja,”


Ree dengan cepat membalikkan badannya menuju tangga yang akan membawanya ke ruang pribadi tempat ia bisa merebahkan dirinya dengan tenang tanpa memikirkan apapun.


Benar saja, Ree tahu kondisinya sudah tidak nyaman seperti biasanya dan malah jatuh sakit. Tepat setelah memisahkan diri dari riuhnya acara di kediaman mereka, Ree dengan cepat mengganti gaun pestanya menjadi sepasang piyama yang nyaman lalu tanpa pikir panjang merebahkan dirinya dan menyelimuti dirinya karena merasa cukup dingin.


Padahal seharusnya Ree sudah terbiasa dengan cuaca dingin Litore ditambah lagi angin laut yang semakin kencang. Alih-alih tetap bertahan malah jatuh tumbang, namun ini semua bukan karena angin laut dan musim gugur di Litore.


Bolak-balik Ree mencari tempat yang nyaman di semua titik kasur namun matanya tak bisa terlelap sedikitpun dan malah sibuk menatap jendela kamarnya yang tertutup gorden putih menampakkan cahaya terang dari lampu diluar kamarnya.


*


*


*


“Apa kamu melihat Ree? sejak tadi aku tidak melihatnya.” Smith bersama ibunya datang ke perjamuan makan itu dan menghampiri Brina yang tengah berdiri sendirian di pojok ruangan melihat suasana pesta.


“Ree? ada apa?” tanya Brina bingung.


“Aku hanya ingin berpamitan dengannya sebentar, karena besok aku dan ibuku akan kembali ke Crystallo.”


“Ah, sebenarnya,”


Tak lama setelah menanyakan keberadaan Ree pada Brina, Smith diajak oleh Brina naik tangga menuju sebuah lorong dimana ruangan kamar Ree tidak jauh di sana.


“Aku hanya diberitahu oleh bibi bahwa Ree sudah lebih dulu naik ke atas karena tidak enak badan.” jelas Brina saat ia mengantar Smith untuk pergi menuju ruangan tempat Ree sedang beristirahat.


“Dibanding itu, apa tidak masalah jika aku langsung menemuinya seperti ini? bukankah itu mengganggu?” tanya Smith juga memiliki rasa tidak nyaman.


“Justru yang aku pikirkan adalah ketika kamu pergi dan tidak mengatakan padanya, hal itu yang membuatnya lebih terganggu.”


Sebelum memutar knop pintu kayu itu, Brina lebih dulu menatap Smith.


“Di sisi lain, aku juga merasa dia tidak masalah jika dijenguk olehmu tuan Smith.”


Brina pun mendorong daun pintu itu setelah ia memutar knopnya dan menampakkan suasana kamar yang gelap dan cukup sejuk. Aroma seperti kamar lama seperti sedikit berdebu yang tidak pernah dihuni menyeruak bercampur dengan aroma angin laut.


“Aku akan tunggu di dekat tangga, jadi jangan khawatir. Hampiri saja dia pelan-pelan.”

__ADS_1


Begitulah ucapan Brina sebelum ia benar-benar menutup pintu dan membiarkan Smith berdua dengan Ree.


“Huh??”


Jantung Smith hampir saja jatuh ketika ia bertemu dengan kesunyian kamar tiba-tiba sang pemilik kamar beranjak duduk dari timbunan selimutnya dan menatap siapa yang hadir dengan suara saling berbisik tadi.


Dahi Ree berkerut melawan kamar yang remang-remang dengan lampu tidur di sisi kasurnya menatap sosok yang masih berdiri di belakang pintu berjalan mendekati kasurnya. Sosok itu jelas seorang laki-laki tinggi nampak tak asing bagi Ree.


“Ree…?” suara ragu itu membuat Ree yang awalnya takut menjadi bingung karena kenapa Smith bisa di dalam kamarnya.


Tidak pernah terpikirkan oleh Ree sendiri untuk dijenguk Smith. Rasa sakit kepalanya yang berpindah ke jantungnya yang berdebar kembali ke kepala.


“Tuan Smith? Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Ree bingung.


Smith tersenyum kecil namun tak terlihat menakutkan bagi Ree, entah mengapa ia justru cukup nyaman dengan kehadiran Smith.


“Berbaring saja, aku tidak akan lama,” Smith memposisikan dirinya dengan nyaman duduk di pinggir kasur Ree sementara merapikan selimut yang menyelimuti Ree.


“Dilihat dari wajahmu, kamu memang sudah kelelahan. Seharusnya tidak perlu memaksakan diri.”


Bola mata Smith memang sama gelapnya seperti Frigid, namun lebih terlihat hidup dan bercahaya dibanding Frigid. Karena itu, dibanding merasa kesal Ree lebih merasa cukup nyaman.


“Besok dengan kereta sore, aku dan ibuku akan kembali ke Crystallo,”


Itu benar, tidak selamanya Smith akan Litore. Ree juga tidak bisa menahan Smith karena ia tidak memiliki alasan untuk itu.


“Hati-hati dijalan, aku senang bisa bekerja sama denganmu tuan Smith, entah aku tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaanku saat ini,” Ree menarik napasnya cukup dalam karena sulit baginya untuk bernapas saat ini ketika rasa sakit tubuhnya bertemu dengan rasa sulit di perasaannya.


“Haahh, masa-masa saat ini akan benar-benar membekas dalam ingatanku sampai kapanpun itu, bagaimana ini tuan Smith, aku merasa sangat bersalah.” tiba-tiba saja Ree merengek seperti anak kecil dihadapan Smith, perasaan melankolisnya menyeruak keluar begitu saja. Disaat imun tubuhnya melemah saat ini, tubuhnya membiarkan Ree untuk mengeluarkan perasaan yang tertahan untuk memberi ruang lega dalam hati dan pikirannya.


Perlahan jemari dingin Smith menyelinap masuk ke dalam selimut dan menggenggam erat jari-jari Ree yang terasa sangat panas. Awalnya Ree terkejut dan ingin menarik tangannya menjauh dari Smith, tapi ia tidak menarik tangannya dan terdiam.


Entah karena rasa sakitnya tak mampu melawan atau karena rasa percaya pada Smith.


“Nona Ree, tak ada yang harus kamu pikirkan sampai merasa bersalah seperti ini. Sejak awal semua kesalahan adalah tanggunganku. Sejak awal aku terlalu terlambat menyelamatkan dia sampai pada titik masalah mencapai akhir, pada akhirnya malah bertemu denganmu nona Ree,”


“Kenapa kamu harus menanggung rasa bersalah itu Ree?? sesampai di Crystallo aku akan memukulnya karena kamu menangis di depanku saat ini, kamu tahu itu?” Smith merogoh sakunya dengan tangan kirinya untuk mengambil sapu tangan lalu mengusap dengan lembut pipi Ree yang basah.


“Menangisi orang sepertinya tidak ada gunanya, akan lebih baik jika kamu melempar sepatu ke kepalanya dari pada merasa bersalah seperti ini.”


Disela tangisan dan rengekannya, kedua ujung bibir Ree sempat-sempatnya terangkat karena merasa geli dengan ucapan Smith. Tentu saja Ree ingin melakukan itu juga, sayangnya saat ia tadi pagi mengejar Frigid, ia tidak memakai sepatu melainkan hanya sandal piyama yang mana percuma melemparnya pada Frigid karena tidak membuat kepala orang itu benjol.


“Tuan Smith, terima kasih sudah mengunjungiku, padahal kamu tidak perlu repot seperti ini.”


“Apa yang kamu bicarakan? Kamu sudah aku anggap adik perempuanku.” tangan Smith masih menggenggam erat jemari Ree yang bergetar itu lalu satu tangannya mengelus rambut Ree dengan lembut sembari tersenyum.


“Kembalilah ke akademi dengan keadaan sehat… serahkan saja semuanya padaku, kamu tahu aku juga bisa kamu andalkan.”


Smith pun melepas genggamannya setelah Ree benar-benar terlelap, mereka cukup lama saling mengobrol hingga Ree merasa cukup lelah dan mengantuk. Setidaknya kini yang terlihat dimata Smith adalah Ree benar-benar melepas semua rasa lelahnya.


*


*


*


Kereta pagi dari Litore berhasil membawa Frigid tiba di Crystallo pada sore hari, sayangnya tak ada waktunya istirahat karena ia harus menemui kepala keluarga Cali atau ayahnya. Frigid dibawa ke sebuah ruangan pribadi milik ayahnya dimana sangat jarang ia berkunjung ke situ.


“Sudah lama tidak melihatmu, apa saja yang kamu kerjakan sampai saat hingga sepertinya kamu terlihat sangat sehat.”


Baru saja Frigid masuk dan duduk di sofa dalam ruangan itu, ia sudah dihujani dengan pertanyaan atau bisa dibilang seperti sindiran?


“Bukankah itu lebih baik?”


Apa seharusnya kondisi Frigid semakin buruk saja? Jika kondisinya semakin buruk, kira-kira jika kondisinya buruk siapa yang harus senang atau sedih? Jika seperti itu, tentu saja Frigid langsung tahu siapa saja yang akan merasa kecewa.


“Mengenai keberangkatanmu, tentu saja kamu tidak akan satu rombongan dengan keluarga kerajaan, kurang lebih sebulan banyak yang harus dipersiapkan.” ayahnya beranjak dari kursi kerjanya, membawa beberapa lembar dokumen yang berkaitan dengan proses imigrasi Frigid ke Agnus.

__ADS_1


“Lalu bagaimana dengan obatku?” tanya Frigid karena tahu bahwa ia menggunakan sesuatu yang terlarang di beberapa kerajaan.


“Pihak bea cukai tidak akan mengobrak-abrik barang-barangmu, kelulusanmu di akademi juga akan dipercepat dari murid biasa dan bisa saja salah satu utusan Yang Mulia Agnesia akan menjemputmu sendiri. Frigid sebelum hari besar itu tiba, ayah harap kamu tidak melakukan sesuatu yang aneh.”


“Tidak ada yang perlu kalian khawatirkan, lagipula aku sudah cukup menghabiskan waktu di akademi.”


Waktu hampir empat tahun itu cukup lama bagi Frigid untuk sejenak lepas dari kediamannya yang membuat sesak. Cukup baginya mengalami sesuatu yang umum dialami oleh orang-orang seumurannya, bertemu dengan bermacam-macam manusia dan sifat membuat Frigid sedikit tahu dunia luar seperti apa.


Bagaimana dengan perasaannya? Saat ini terisi kehampaan sama seperti sebelumnya. Sebelum semua perlawanan terjadi dan kini kembali menyerahkan diri seperti biasa.


Frigid berjalan santai kembali ke kamarnya yang berada di ujung lorong lantai dua mansion keluarga Cali itu, meski sudah malam masih dilihatnya beberapa pelayan yang sibuk berlalu lalang sebelum mereka kembali ke kamar mereka.


Semua orang langsung menunduk tak berani menatap wajah si tuan muda saat berpas-pasan, meski tak buruk rupa nyatanya tak ada yang berminat menatap wajah Frigid bahkan untuk menyapa sekalipun. Entah itu karena ketakutan atau terlalu segan, Frigid tidak mengerti akan perlakuan orang-orang dirumahnya.


Setelah sekian lama ketika ia selalu mendengar ocehan dari orang-orang disekitarnya, baru kali ini kesunyian di sekitarnya membuatnya hampir jengah dan terasa sangat sepi.


*


*


*


“Yohanna, aku ingin bertanya sesuatu padamu,” di malam yang sama dengan kedatangan Frigid Yohan dengan santai pergi ke kamar kembarannya yang sedang bersiap untuk tidur karena sudah mengenakan piyama katun terbaiknya sedang duduk di pinggir kasurnya sembari membaca buku untuk membuat mata perempuan itu lelah.


“Jangan bertanya sesuatu yang berat dan membuatku tidak dapat tidur malam ini atau aku akan membunuhmu.” Bunyi buku yang ditutup keras oleh Yohanna mengisi jeda keheningan diantara mereka berdua dan malam.


Semenjak beranjak dewasa, Yohan tidak lagi satu kamar dengan kembarannya itu. namun bukan berarti ia merasa canggung saat ini terlebih ia yang lahir terlebih dahulu dari Yohanna. Pria bersurai emas itu merangkak menaiki kasur Yohanna dan merebahkan dirinya diatas kasur empuk itu. dirinya juga sudah dengan setelan piyama sutra yang berwarna putih gading senada dengan milik Yohanna. Meski tidak perlu direncanakan, mereka akan memilih sesuatu yang mirip satu sama lain tiap kali ingin berpakaian.


“Apa anggapanmu tentang sebuah perang?”


Dan benar saja, Yohanna memasang wajah kesalnya karena pertanyaan yang dilontarkan oleh saudara menyebalkannya ini merupakan pembuka untuk pembicaraan yang cukup berat.


“Aku jelas tidak menyukai itu, terlebih jika perang terjadi, Yohan kamu yang akan duluan mati dariku.” Yohan terkekeh mendengar ucapan Yohanna, bagaimana bisa ia yang harus mati lebih dulu, keraguan Yohanna akan kekuatan dirinya nampaknya semakin menjadi.


“Akan terdapat banyak korban dari sebuah perang, dari berbagai kalangan akan mendapat dampaknya. Aku tidak menyukai itu.” Yohanna bukanlah orang yang suka mengambil jalan keluar ekstrim. Selama sesuatu bisa dilakukan dengan aman tanpa mengorbankan sesuatu yang besar seperti nyawa, Yohanna masih mau melakukannya.


“Menurutmu, apa aku bisa menciptakan sebuah peperangan?” bola mata biru safir milik Yohan terus menatap langit-langit kamar Yohanna yang polos berwarna putih dan hanya terdapat lampu gantung kecil di atas sebagai penerang utama kamar luas itu.


“Pertama-tama, siapa yang ingin kamu perangi?” mereka berdua bahkan tidak menatap satu sama lain” untuk terakhi kalinya Yohanna memeriksa wajahnya dicermin sebelum merebahkan dirinya di samping Yohan.


“Pertama-tama aku harus mengumpulkan orang-orangku.” Saat Yohanna merebahkan dirinya, Yohan malah beranjak bangun dan menatap kembarannya itu dengan bersemangat.


“Sikapmu saat ini terlihat begitu naif, seolah mudah melakukan itu semua. Kamu bahkan belum menjawab pertanyaanku tentang siapa lawan yang ingin kamu perangi itu? berhentilah menjadi bocah ingusan dan bersikap sesuai dengan realita yang ada.” Yohanna memiliki dua sumber kekesalan saat ini, pertama karena Yohan mengunjungi kamarnya saat ia ingin bersiap untuk tidur. Kedua, karena pria itu membawa pembicaraan cukup serius dengan menampakkan sikap yang naif.


“Benarkah? dimatamu sepertinya tidak pernah melihat keseriusanku. Kalau begitu selamat malam.”


Bagaimana bisa Yohanna percaya pada orang seperti itu. Orang yang datang tiba-tiba lalu mengajak berbicara tentang topik yang cukup berat dengan bawaan santai.


Yohan menutup pintu kayu besar itu dengan perlahan, awalnya ia tersenyum cukup lebar sesaat sebelum meninggalkan ruangan pribadi kembarannya, hingga perlahan kurva itu perlahan turun dan menyisakan senyuman tipis.


“Maglina,” suara pelannya cukup membuat seorang wanita bertubuh tegap yang berdiri tepat di sisi daun pintu langsung meresponnya.


“Iya pangeran Yohan, ada apa?” tanya Maglina yang masih berseragam lengkap khas prajurit istana sementara tuannya sudah mengenakan piyama.


“Bagaimana kabar perbatasan kerajaan dengan Agnus?”


Tanpa menunggu lama Maglina mendekat namun tak terlalu dekat dan hanya menyisakan jarak seperempat meter diantara mereka berdua, dimana ruang itu cukup menghantarkan bisikan informasi yang bisa Yohan terima dari orang suruhannya.


“Lumen? Seperti pernah mendengarnya.” Yohan mengernyit kebingungan ketika menemukan sebuah kata yang tak asing di telingannya.


“Tentu saja, itu adalah nama belakang Ree yang mana murid pertukaran pelajar dari Litore dan juga anda sudah bertemu dengannya beberapa kali di akademi dan Leafa.”


Yohan sebenarnya tidak terlalu menaruh perhatian pada orang-orang dan hanya tahu nama depan Ree saja.


“Ah… benar, Ree berasal dari keluarga Lumen.”


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2