We And Problems

We And Problems
Chapter 12 : Ree's Rule


__ADS_3

Gemuruh dari langit berbunyi seiring dengan hembusan angin kuat dan rintik hujan yang perlahan menutupi wilayah pegunungan. Siapa sangka cuaca bisa seburuk ini di lokasi kelas Berburu itu? Tidak ada yang bisa menghentikannya jika alam sudah berkehendak. Berkatnya, seluruh murid satu persatu kembali ke tanah perkemahan sebelum hujan bertambah deras. Begitu juga dengan Frigid dan Liliana yang sudah tiba lebih dulu di perkemahan dan belum melihat batang hidung ketiga teman sekelompoknya.


“Apa Ree belum kembali?” tanya Maglina menghampiri Liliana dan Frigid yang baru saja tiba itu.


“Nampaknya seperti itu, kami membagi kelompok menjadi dua bagian dan berpencar untuk memasang perangkap.” jelas Liliana.


“Nampaknya hujan sudah sangat deras dari dalam hutan.” ujar Maglina sembari mendengar betapa bisingnya air yang jatuh dari dalam hutan dan perlahan menuju perkemahan.


Liliana juga mendengar gemuruh itu, matanya menatap Frigid. Apa yang akan pria itu putuskan ketika ada beberapa anggotanya yang belum kembali dan masih di hutan belantara?


“Kita tunggu sebentar lagi.”


Bagaimana pun juga, setiap hal memiliki risiko yang pastinya sudah diketahui oleh masing-masing orang ketika mengambil kelas ini. Frigid ingin melihat, apa orang lain selain dirinya sadar akan hal itu.


*


*


*


“Apa kita harus kembali untuk memeriksanya?” tanya Ree dengan suara yang cukup keras karena derasnya hujan membuat suaranya seolah mengecil.


“Ree.”


Marco dan Alexander menatap satu sama lain.


“Tidak, kita harus kembali. Hujan akan mempersulit kita kembali dan menemukan perkemahan. Terlebih angin di sini cukup kencang, dahan yang rapuh bisa saja terjatuh dan melukai kita.” jelas Alexander menolak.


Ree bisa mengerti dari penjelasan Alexander.


“Baiklah, aku mengerti.” ujar Ree.


Marco di sini mengerti kenapa Ree ingin memeriksa kembali perangkap yang sudah mereka pasang. Perempuan itu jelas ingin mendapatkan apa yang telah ia targetkan. Namun mereka kini berhadapan dengan alam liar, tidak ada yang mengatur alam liar karena memiliki hukumnya tersendiri.


“Ree, kamu bisa berpegang padaku jika jalanan licin.” ucap Marco sembari mengulurkan tangannya pada Ree yang berjalan di belakangnya.


Ree menggeleng, mengatakan bahwa ia tidak apa-apa.


“Hwaa!!” seru Alexander yang tiba-tiba saja terpeleset karena tanah yang basah berubah menjadi sangat licin dihadapan mereka berdua.


“Karena sepertinya ada yang lebih  membutuhkannya dari pada aku.” ucap Ree geli dan melihat Marco langsung membantu Alexander untuk kembali berdiri.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Marco yang juga menahan tawa.


Sejujurnya Alexander sedang menahan malunya karena sedari tadi ia hanya melamun, ia mengkhawatirkan Liliana.


“Tidak, aku baik-baik saja. Nampaknya kita sudah menemukan jalan setapak menuju perkemahan Akh!.” timpal Alexander dan tiba-tiba saja pria itu meringis ketika mendapati kakinya sakit.


Nampaknya ia terkilir karena terpeleset barusan.


“Kamu bisa berjalan?” tanya Marco.


“Aku masih bisa menahannya.”


“Jangan.” potong Ree tidak setuju.


“Nanti bisa bengkak dan parah, biarkan Marco menggendongmu dan aku akan membawa barang kalian.” Lanjut Ree.


Alexander pun menatap Marco yang nampak tidak keberatan dengan pendapat Ree barusan.


Rasanya hujan masih saja sangat deras dan membuat ketiga manusia itu basah kuyup dan kedinginan. Namun rasa dingin itu lantas tidak membekukan perasaan orang-orang di sekitarnya. Alexander bingung, tentang apa yang baru saja ia dengar dan ia alami saat ini.


“Kenapa kalian melakukan ini?” tanya Alexander ketika ia sudah berada di punggung Marco.


Ree menatap Marco yang masih menggendong Alexander dengan tatapan kebingungan karena pertanyaan yang dilontarkan oleh Alexander. Siapa menyangka tiba-tiba saja Alexander menanyakan hal aneh.


“Maaf, melakukan apa?” tanya Ree tidak mengerti.


Alexander pun hampir tidak mengerti dengan apa yang sedang ia alami saat ini, hanya saja pertanyaan itu yang benar-benar mengganjal hatinya dan membuatnya ingin tahu.


“Kalian tidak perlu seolah tidak tahu dengan keadaanku. Terlebih kamu Marco, kita sudah berada di akademi yang sama selama hampir empat tahun.”


Marco diam, bunyi tanah yang basah akibat di pijak dan sedikit becek menjadi suara tambahan di derasnya hujan yang sedang turun.


“Meski kamu mengatakan hal itu, tetap saja kelas Berburu memiliki aturannya sendiri.” jelas Marco.


Mungkin ia sama dengan orang lain dalam memperlakukan Alexander, selalu berada di tepi dan tidak berani menyapa atau berdekatan dengan Alexander.


“Seperti yang Marco katakan, mau seperti apapun dirimu di dalam gedung akademi. Semuanya akan berubah ketika sudah masuk ke dalam alam liar. Kami berdua tidak mungkin membiarkan kamu berjalan di medan seperti ini ketika terluka.”


Alexander tidak menyangkal jika air hujan yang turun sangat dingin, namun dalam dadanya juga ada perasaan yang tidak bisa ia sangkal terdapat perasaan hangat dan nyilu di sana.


“Persis seperti Liliana.” timpal Alexander.


“Liliana?” tanya Marco.


Ree dan Marco yang mengetahui kisah yang sudah Liliana ceritakan. Mungkin terdengar sederhana dan sepele bagi orang lain, namun berbeda dengan Alexander.


“Dia berani menegur kesalahanku dan kalian bersedia merepotkan diri seperti ini tanpa maksud di baliknya.” jelas Alexander.


“Meski begitu, tolong jangan menakuti Liliana.” ucap Ree sembari menatap Alexander.


Gadis yang membawa barang-barang Alexander dan Marco itu hanya tersenyum.


“Jika ingin membuat pertemanan dengannya, kamu lakukan dengan perlahan dan juga perhatikan situasinya.”


Alexander berada di antara dua, ia sedikit mengerti dan ada hal yang tidak ia mengerti. Namun ketika ia ingin bertanya lebih lanjut, tanpa di duga para murid termasuk Frigid dan Liliana datang menjemput mereka. Berkat adanya jemputan yang datang, Ree bisa sedikit diringankan dalam membawa barang dan Alexander bisa di gendong oleh Frigid menuju perkemahan menggantikan Marco yang sudah kelelahan.


*


*


*


Hujan cukup lama mengguyur perkemahan, namun tidak dapat menghentikan kegiatan yang harus dilakukan terutama menyiapkan makan malam. Ketika semua murid sudah siap dengan hidangan mereka masing-masing, hal yang selanjutnya dilakukan adalah mulai makan malam dengan kelompok masing-masing di tenda makan.


“Marco, nampaknya Alexander tidak bisa bergabung. Maukah kamu mengantar makan malamnya?” tanya Frigid pada Marco.


“Biar aku saja.”


Tiba-tiba Liliana mengajukan diri, Ree pikir Liliana saat ini sama seperti pertama kali mereka bertemu. Liliana bukanlah gadis yang penakut, ia menghindar dari Alexander selama ini karena tidak nyaman dengan sekitarnya. Meski sedikit mengejutkan, Liliana pasti bisa menemukan jalan tengah permasalahannya dengan Alexander.


“Benarkah? Kamu baik-baik saja Liliana?” tanya Ree sedikit khawatir.


“Di sini tidak ada yang peduli dengan siapa dia.”


Sedikit pedas, namun hal tersebut memang kenyataan. Ucapan Liliana ada benarnya, kelas Berburu memiliki hukumnya tersendiri dibanding jika di dalam gedung akademi. Tidak ada yang peduli dirimu siapa, jika tidak bisa bertahan sendirian maka kamu harus mengandalkan temanmu dan hal itu dapat diwujudkan ketika kamu bisa membangun komunikasi yang baik dengan rekanmu.


“Baiklah, tolong antarkan padanya.” ucap Frigid sembari memberi nampan berisi makan malam untuk Alexander.


Sesampai di perkemahan setelah mengganti baju dan menghangatkan diri, Alexander pun menetap di tenda tempat orang yang sakit. Hanya ia sendiri yang cedera membuatnya harus merenung sendiri mendengar sedikit rintik hujan yang masih turun membasahi tanah perkemahan. Hingga tidak lama pintu masuk disibak dan menampakkan sosok yang mengejutkan baginya.


Seorang gadis mungil dengan membawa nampan di kedua tangannya dan tas selempang di bahunya.


“Liliana, kenapa kamu?”


Alexander benar-benar kaget dengan kedatangan Liliana yang masuk ke dalam tendanya. Biasanya gadis itu tidak pernah mau menatapnya kecuali sewaktu mereka pertama kali bertemu dan hari ini Liliana datang membawakannya makan malam.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Liliana sembari mendekati Alexander yang masih seperti orang bodoh karena tidak menyangka.


“Aku baik-baik saja. Tetapi, kenapa kamu datang?” tanya Alexander.


Liliana menaruh nampak berisi makanan di atas meja lalu merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan sebuah botol kecil.


“Tentu saja mengantarkan makan malammu.”


Liliana langsung duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat Alexander berbaring.


“Sekaligus ingin berbicara padamu.” ujar Liliana tanpa mengulur waktu.

__ADS_1


“Biasanya kamu yang selalu datang padaku, kenapa saat ini kamu terlihat kebingungan?” tanya Liliana ketika melihat ekspresi Alexander yang terkejut itu.


“Aku sudah mendengar cerita tentangmu dari Marco dan Ree.”


Alexander pun tidak bisa menyalahkan Ree dan Marco ketika berbicara tentangnya kepada Liliana.


“Hanya saja, aku benar-benar tidak bisa menjalin pertemanan denganmu.”


Alexander merasa dilambung lalu dihempas dengan keras mendengar pernyataan Liliana barusan.


“Kenapa?” tanya Alexander.


Liliana tersenyum.


“Itu, karena aku ingin.” jawab Liliana singkat.


“A-apa??”


Alexander tidak mengerti dengan alasan yang Liliana lontarkan padanya. Gadis itu dengan wajah sumringahnya mengatakan hal menyakitkan bagi Alexander tanpa canggung sekalipun.


Liliana pun bangkit berdiri dan merapihkan seragamnya sebelum ia kembali ke tenda makan untuk melanjutkan makan malam.


“Terdengar tidak jelas? Intinya jangan mendekati untuk menakuti.”


*


*


*


“Mendekati untuk menakuti?” tanya Ree.


Alexander mengangguk, ia menceritakan tentang obrolannya dengan Liliana pada malam perkemahan. Lalu menceritakannya pada Ree ketika gadis itu mengikuti pertemuan di ruang senat. Karena jika ia bercerita pada Ree di luar ruang senat, banyak mata yang melihat dan Alexander sadar akan pengaruh dirinya. Ia sudah tahu beberapa cerita yang menimpa Liliana dari Ree sendiri bahkan ketika Alexander tidak sengaja menolong Ree di perpustakaan.


Sedikit demi sedikit Alexander mengenal lingkungan di sekitarnya yang selama ini selalu ia tutup mata akan hal tersebut.


Ree sendiri bingung, kenapa Alexander mengajaknya bicara setelah rapat. Terlebih cara memintanya sembunyi-sembunyi hingga membuat Ree harus beberapa kali menenangkan jantungnya.


“Liliana hanya mengatakan itu lalu pergi dengan wajah yang tidak ada rasa bersalah sedikitpun.” kata Alexander.


Terdengar kejam, namun itulah Liliana. Akan tetapi ada hal yang bagi Ree terlihat mengejutkan ketika melihat Alexander di hadapannya saat ini.


“Aku pikir kamu sedikit menyeramkan.” timpal Ree lancar.


“Eh? Benarkah? Apa itu yang membuat Liliana mengatakan hal itu padaku?” ucap Alexander sembari merenungkan perbuatanya selama ini.


Frigid yang kebetulan ada di satu ruangan yang sama dengan kedua insan itu hanya diam dan sibuk dengan dokumen yang ia pegang meski telinganya mendengar jelas pembicaraan Alexander dan Ree. Sebaliknya bagi Ree dan Alexander pun merasa tidak masalah dengan keberadaan Frigid yang seperti patung hidup itu dan mengobrol saja tanpa peduli.


“Kita bertemu di kelas Kimia dan aku sadar bahwa cara kamu menatapku terlihat tidak enak. Maaf jika aku menyinggung.” ucap Ree pelan.


“Aku sengaja melakukannya.”


Ree menatap lawan bicaranya dengan pupil mata yang cukup terkejut dan Frigid yang duduk di meja ketua langsung sedikit tersentak.


“Alasannya?” tanya Ree penasaran. Mungkin akan sedikit menyakitkan hati namun Ree sudah mempersiapkannya dengan matang.


“Ini terdengar konyol, namun aku hanya cemburu.” ucap Alexander pelan sembari melirik Ree.


Ree bahkan sulit mengeluarkan ekspresi apa yang wajar untuk ia tampakkan saat ini ketika mendengar pernyataan Alexander yang sangat terus terang itu. Pria itu cemburu dengan keberadaan Ree yang mana baru pertama mereka bertemu namun Liliana sangat akrab dengan Ree.


“Bagaimana bisa aku yang hampir bertemu dengannya di setiap kelas akan kalah dengan orang yang hanya bertemu beberapa kali?!”


Ree tidak menyangka Alexander memiliki kekurangan dalam menjalin pertemanan dengan orang sebayanya hingga sulit menemukan teman.


“Namun, ketika aku kembali memikirkan perbuatanku padamu mungkin sangat membuatmu tidak nyaman. Bahkan perbuatan orang-orang Liliana dan padamu yang hanya sedikit beriteraksi denganku, aku benar-benar minta maaf.”


Alexander sudah menyadari tentang yang terjadi di sekitarnya.


“Apa kamu yakin?” tanya Ree.


“Yakin terhadap apa?” tanya Alexander.


Alexander tersenyum canggung dan menarik perhatian Frigid untuk melirik pada dua manusia yang sedang mengobrol itu.


“Aku tidak bisa banyak bicara dengan Liliana saat ini dan akan memperburuk situasinya ketika aku mencoba mendekatinya.”


Ree ingin menangisi situasinya yang sebagai pelampiasan Alexander karena tidak menemukan lawan bicara yang pas untuk mengobrol.


“Semoga kamu cepat menemukan jalan keluar.”


*


*


*


“Kamu yakin akan terus seperti ini?” tanya Ree pada Liliana yang kebetulan berada di dalam kamarnya karena ia tidak bisa masuk ke dalam kamarnya karena tidak nyaman dengan rekan sekamarnya yang membawa banyak teman. Terlebih tatapan mereka seperti ingin memakan Liliana saat itu juga.


“Aku sudah mengajukan pertukaran kamar dan akan sekamar dengan Maglina. Tenang saja.” jawab Liliana yang masih sibuk menulis jurnal.


“Bukan itu yang aku maksud, tentang Alexander. Dia benar-benar sedih.” timpal Ree.


Liliana berhenti menulis dan meletakkan penanya sembari memutar kepala menatap Ree.


“Aku tidak bisa mengurus orang lain sebelum masalahku sendiri terselesaikan. Meski Alexander benar-benar menuruti kemauanku, namun hari-hariku tidak bisa berlalu dengan mudah.” timpal Liliana.


Ree tidak menyangka situasi temannya akan serumit ini.


“Sebenarnya tugas Liliana sudah selesai, semuanya tergantung si populer itu.” timpal Ghea.


Semuanya tergantung pada Alexander? Liliana nampak mengangguk setuju dan Ree pun merasa mengerti apa arti dari perkataan Ghea.


“Jadi, kapan kamu akan pindah ke kamar Maglina?” tanya Ree.


“Malam ini.” ucap Liliana santai.


*


*


*


Beberapa hari setelah dilantik menjadi anggota senat, Ree ditempatkan di divisi Keamanan yang di pimpin oleh Alexander itu sendiri. Ree tidak ingin memikirkan apa-apa dan menganggap posisinya hanyalah kebetulan dan kebetulan.


Ree dan beberapa murid juniornya sudah mendapat arahan dari Alexander sebagai ketua divisi dan bisa kembali ke asrama. Namun Ree belum kembali karena masih melakukan beberapa hal di ruang senat bersama yang lain.


“Ree, aku ingin bicara denganmu setelah ini.” bisik Alexander di sela-sela pekerjaan dan langsung mengangkat barang yang sudah disusun rapi oleh Ree.


Ree tidak tahu jika hukumnya akan begini. Ketika kamu memiliki sesuatu yang ingin kamu hindari, kamu akan terus berhadapan dengan hal itu. Hari-hari Ree memang menjadi tidak mudah setelah masuk ke akademi La Priens, apa Ree harus jujur dengan keadaannya? Namun apa hal tersebut tidak terkesan memaksa orang lain? di lain sisi, ia juga selalu memaksakan dirinya hingga batas yang bahkan tidak bisa ia ukur.


Mau tidak mau Ree mengiyakan, karena tidak ingin membuat orang melihatnya berbeda walaupun sedikit menyusahkan dirinya.


Lorong gedung akademi menjadi sangat sepi setelah semua orang dipastikan kembali ke gedung asrama untuk bersiap makan malam dan istirahat dari rutinitas seharian di akademi. Berbeda dengan para murid yang sudah kembali, Ree masih berdiri di tepi jendela di lorong lantai dua gedung sembari menatap langit jingga yang perlahan akan berubah menjadi gelap.


“Apa kamu menunggu lama? Aku sudah memastikan tidak ada siapa-siapa lagi selain kita.” ujar Alexander sembari melangkah menghampiri Ree.


“Berhenti, tetaplah di situ dan jangan mendekat.”


Berjarak satu jendela besar dari tempat Ree bersandar dan langsung menghentikan langkah Alexander agar tetap menjaga jarak dengannya.


“Kenapa?” tanya Alexander bingung karena sebelumnya sosok Ree tidak pernah sedingin ini. Bahkan untuk mengobrol dengan jarak kurang lebih hampir dua meter ini sangat aneh.


“Karena tidak ada orang di sini, jadi tidak masalah jika kamu bicara dari situ.”


Tidak ingin mengulur waktunya, Alexander hanya menuruti.


“Bagaimana keadaan Liliana?” tanya Alexander membuka obrolannya tanpa basa-basi menanyakan keadaan Liliana.


“Kenapa tidak kamu tanyakan sendiri padanya?”

__ADS_1


Tiba-tiba Alexander langsung murung dan terlihat seperti orang yang putus asa.


“Dia bahkan tidak ingin menatapku di setiap kelas.”


Ree bisa melihat seorang yang dikagumi oleh satu akademi sedang putus asa saat ini.


“Semua memang tergantung dengan dirimu. Situasi orang lain, namun kamu yang harus terlibat.”


“Aku terlambat menyadarinya. Aku ingin meminta maaf padanya.” sesal Alexander.


Pria itu tersenyum menatap matahari yang perlahan sudah menenggelamkan dirinya dan membuat udara semakin dingin.


“Aku tidak bisa berinteraksi dengan normal, semua orang menatapku seolah aku adalah orang yang sempurna sekaligus bisa dimanfaatkan. Orang-orang dewasa selalu memujiku hingga menghasilkan dua hal yang berbeda namun satu dampak padaku sendiri.”


Ree dapat mengerti, Alexander hanya melakukan yang terbaik lalu menerima pujian yang memang sewajarnya. Namun ternyata ada dua hasil yang tidak disangka, pujian itu menjadi efek yang bagus dan juga sumber dari iri hati.


Jalan yang ditapaki nyatanya berasal dari beragam perasaan manusia yang melihat. Panggung yang tercipta seolah hanya untuk memperlihatkan dia seorang dan orang-orang di sekitar hanya penonton dengan berbagai macam emosi.


Ada yang peduli dan ada yang peduli namun berlebihan.


“Aku ingin tidak peduli, namun aku juga ingin menjadi biasa.”


“Apa maksudmu dengan kata ‘biasa’ itu? Kamu jelas manusia biasa.”


Ree menatap langit yang sudah gelap dan tentu saja jam makan malam sudah mereka lewati. Perut lapar rasanya tergantikan dengan topik yang cukup berat hingga menutup rasa itu.


“Kamu melihatku seperti itu?” tanya Alexander.


Ia tidak tahu, karena ia tidak menyangka ada orang di sekitarnya berpikir seperti itu.


“Kamu sama dengan Liliana.” timpal Alexander geli.


Ree tersenyum kecil, mungkin lebih parah dari Liliana dalam menganggap keberadaan Alexander.


“Jadi bagaimana? Kamu tidak mungkin seperti ini terus.” tanya Ree.


Padahal belum lama Ree memutuskan untuk tidak merasa lapar, ternyata tubuhnya tidak dapat berbohong.


Alexander sadar, ia tidak bisa seperti ini terus. Ia selalu merasa sendirian selama ini dan orang-orang hanya datang karena keinginan serta kepentingan mereka saja. Ia tidak ingin menjadi orang yang berjalan ketika jalan sengaja disiapkan untuknya. Tentang bagaimana ia bisa berbaur dalam kerumunan itu, Alexander sudah memiliki alasan.


“Kalau begitu aku pergi dulu.”


Ree tersenyum dan langsung pamit pergi tanpa ingin mengatakan hal-hal lain atau solusi. Dasarnya Ree memang tidak ingin terlalu terlibat dengan masalah Alexander. Bukan karena ia menutup mata, namun ada batasnya untuk ikut campur kehidupan orang lain.


*


*


*


“Kemana Ree?” tanya Maglina pada Ghea yang datang sendiri ke ruang makan.


“Dia belum kembali.” jawab Ghea.


“Benarkah? Kenapa ia lama sekali? Tunggu dulu.”


Liliana tidak menyelesaikan ucapannya karena langsung pergi menghampiri Frigid yang kebetulan terlihat oleh matanya.


“Belum kembali? Kegiatan senat telah selesai sebelum makan malam.” jawab Frigid ketika Liliana menanyakan keberadaan Ree.


“Ree belum kembali? Alexander juga belum terlihat.” timpal Marco tiba-tiba muncul.


“Alexander?” tanya Liliana.


Entah kenapa ketiga orang itu memiliki pikiran yang sama saat ini, yaitu Ree pasti sedang bersama dengan Alexander di luar dari alasan mereka berdua bersama.


“Aku akan menyusul Ree.” ucap Liliana.


“Tunggu.” cegah Frigid.


“Kenapa?” tanya Liliana bingung.


Liliana sedikit cemas jika Ree benar-benar bersama dengan Alexander. Ia tidak ingin Ree mendapatkan efek buruk ketika bersama Alexander.


“Tunggu sebentar lagi, sudah waktunya untuk makan malam. Jika mereka melewati makan malam, kepala asrama yang akan menegurnya.” ujar Frigid.


Maksud Frigid, dari pada Liliana membuat masalah dengan melewati jam makan malam lebih baik menunggu.


Mau tidak mau Liliana mengikuti perkataan Frigid meski ia sedikit kesal dengan keputusan semacam itu. Liliana hanya berharap Ree tidak apa-apa.


“Liliana kamu dari mana saja?” tanya Maglina ketika menyambut Liliana yang baru kembali ke meja makan mereka.


“Ree pasti baik-baik saja, jangan khawatir.” timpal Ghea seolah mengetahui keresahan Liliana.


“Tidak, Ree bisa saja terkena dampaknya padahal ia tidak ada hubungannya dengan Alexander.” ujar Liliana cemas.


“Dia sudah ada kaitannya dengan Alexander, bukannya Ree ikut menjadi pengurus senat? Terlebih ia di bawah divisi yang dipimpin oleh Alexander itu sendiri.” jelas Maglina.


Liliana terdiam, ia tidak tahu jika Ree sudah bergabung dengan senat bahkan berada di divisi yang sama dengan Alexander.


“Aku sungguh tidak tahu.” ucap Liliana.


“Ree belum menceritakan padaku, namun kamu bisa melihat di papan pengumuman tentang anggota senat yang baru.” tambah maglina.


*


*


*


“Ree benar-benar kembali ke asrama setelah ia dipanggil oleh ketua untuk menanyakan keberadaannya ketika jam makan malam. Ree tidak tahu apa dapat disebut beruntung ketika Frigid juga datang menjelaskan kebohongan tentang keberadaan Ree selama jam makan malam.


Kini Ree, Alexander dan Frigid masih di ruang konseling asrama dan hanya berdiam diri.


“Terima kasih Frigid.” ucap Alexander.


“Jangan mengulanginya lagi, karena disini segala hal sudah diatur. Kembalilah ke asrama masing-masing.” ujar Frigid tanpa mau mendengar lebih lanjut tentang alasan mengapa kedua manusia itu terlambat.


Ree kembali ke kamarnya ketika melihat terdapat Liliana dan Maglina sudah duduk di dalam kamarnya. Tentu tidak biasanya seperti ini hingga membuat Ree kebingungan.


“Ree?!! Kamu dari mana saja?” tanya Liliana sembari langsung menghampiri Ree dengan perasaan cemasnya.


“Liliana, setidaknya berikan Ree waktu untuk istirahat dulu. Ree, apa kamu sudah makan malam?” tanya maglina.


“Oh! Kalian menungguku?” tanya Ree tidak percaya.


“Tentu saja! Kamu tiba-tiba melewatkan makan malam karena belum kembali dari akademi. Terlebih Alexander juga belum kembali, seharusnya kamu tahu akibat dari berhubungan dengan orang itu.” ucap Liliana menggambarkan kecemasannya.


Seburuk itukah sekedar mengobrol dengan Alexander.


“Liliana.” panggil Ree.


“Ada apa Ree?”


Ree tersenyum, namun hatinya tidak seperti apa yang ia tampakkan. Ia hanya tersenyum, untuk menutupi segala kekhawatirannya terhadap hal-hal yang tidak perlu.


“Nampaknya aku harus menyiapkan diri akhir-akhir ini.”


Ree tidak peduli keputusannya jika harus memiliki risiko yang tinggi terhadap dirinya sendiri. Karena sebenci apapun ia berinteraksi dengan lawan jenis, ia tidak bisa menghindari perasaannya sebagai sesama manusia.


 


To Be Continued.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2