
Bunyi hak sepatu kulit itu terus mengeluarkan suara yang beriraman dari pemiliknya yang tengah bolak – balik di depan ruang makan asrama. Sang pemilik bertubuh mungil dengan rambut hitam panjang lurusnya tak jenuh menatap arloji analog di pergelangan kirinya lalu ke arah pintu lobi secara bergantian seperti menunggu kehadiran seseorang.
“Ia sudah ijin lebih dari jam yang ditentukan, bagaimana bisa ia tidak kembali dengan cepat.” Rasa cemas menyeruak keluar bersamaan dengan ucapan Liliana yang belum melihat Ree kembali ke asrama.
“Ree mengatakan akan kembali sebelum jam makan malam, namun ini sudah lewat jam makan malam. aku bahkan tak tahu kemana ia pergi.” timpal Ghea.
Dari pagi Ree sudah mengatakan akan ijin keluar asrama karena tidak ada kelas Berburu hari ini.
“Apa tidak masalah? Pengurus asrama bisa saja memarahinya dan memberinya hukuman!” sambut Marco cemas.
“Kamu benar Marco, Ree tidak akan selamat dari hukuman dari nyonya Denise.” Timpal Liliana cemas.
“Tidak, aku tidak bisa begini dan menunggu seperti orang bodoh. Aku harus bertanya.” Liliana langsung menuju ruang pengurus tempat dimana Liliana bisa mendapat informasi terkait Ree.
“Tenanglah, nona Lumen sudah mengirim surat ijin untuk menginap di luar dan tiba belum lama ini. Apa ia tidak memberi tahu kalian kemana ia pergi?” tanya Denise sebagai kepala asrama putri sembari mengeluarkan sebuah amplop surat berwarna putih yang sudah terbuka segelnya karena Denise lebih dulu membaca isi surat itu.
Liliana yang mengambil surat itu langsung membuka amplop surat, bukan tulisan yang panjang, hanya berisi permintaan maaf Ree yang tidak kembali karena urusan keluarga yang penting.
“Aku pikir Ree dalam keadaan baik-baik saja sekarang.” ucap Maglina ketika ia sudah membaca surat dari Ree. Ghea juga setuju dengan Maglina, karena Ree pasti bisa menjaga dirinya.
Awalnya seperti itu, hingga ada sesuatu benda yang menarik di mata Marco. Ia mengambil begitu saja amplop surat dari tangan Liliana sembari wajahnya nampak berkerut seolah tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
“Ada apa Marco? Kamu nampak sedang menahan diri ke kamar kecil.” tanya Liliana heran.
“Liliana, itu bukan ekspresiku saat ingin ke kamar kecil. Namun, aku merasa tidak asing dengan segel lilin di mulut amplop ini.” Marco menunjuk segel cap pada Liliana, Maglina serta Ghea.
“Ini lambang keluarga Marquess Florence. Kediaman utama Servio.” Lanjut Marco tak percaya.
Keempat manusia itu kompak menatap Denise meminta penjelasan. Mana mungkin Denise tahu kenapa surat Ree bertanda kediaman Florence. Ia hanya menerimanya saja dan mengijinkan.
“Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tapi itu merupakan surat resmi dan sulit untuk mencari lebih dalam alasannya.”
“Nyonya Denise!! Tidak bisakah kita menjemput Ree malam ini juga!! Yang benar saja ia berada di rumah orang itu!?” protes Liliana menghampiri Denise dan memelas agar ia bisa pergi menjemput Ree.
“Nona Flown, ini sudah larut malam dan asrama tidak mengijinkan siapapun untuk keluar-masuk lagi. Adanya surat itu adalah memberitahukan keberadaan nona Lumen bahwa ia baik-baik saja. Saya tidak tahu apa yang anda pikirkan tentang keluarga tuan Florence, tapi anda bisa menunggu sampai besok.”
Maglina dan Ghea menarik Liliana agar pergi dari ruangan pengurus asrama karena sebelum Liliana murka dan membuat keributan.
“Marco! Untung saja pengetahuanmu cukup luas! Sekarang ini, apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan Ree!” Liliana tidak bisa diam dan langsung meraih kerah kemeja putih Marco, menatap teman prianya itu tajam dengan mengeluarkan kata-kata yang bisa membuat seorang Marco merinding.
“Liliana, tenanglah. Ree bukan diculik. Kita tunggu saja besok dan minta Ree menjelaskan apa yang terjadi. Kamu menakuti Marco jika seperti ini.” Maglina membantu Marco dengan melepaskan cengkraman kuat Liliana. Tidak ada yang menyangka Liliana bertubuh mungil namun memiliki kekuatan yang tidak terduga.
“Servio!! Anak gila itu!! aku akan menghabisinya besok jika ada luka pada Ree!!” bahkan saat Liliana di seret untuk menuju kamar oleh Maglina ia masih menyumpah Servio karena rasa geramnya.
Marco dan Ghea yang masih di lobi melihat kelakuan Liliana hampir tak bisa mengatakan apa-apa tentang betapa protektifnya Liliana pada Ree.
“Apa kamu belum kembali ke kamar?” tanya Marco pada gadis pendiam yang ia kenal ini. Marco tidak merasa bisa akrab dengan Ghea karena suasana di sekitarnya begitu misterius dan dingin, terlebih Ghea sangat jarang berbicara.
Ghea melirik Marco dalam diamnya, melihat wajah resah yang tipis-tipis Marco bisa kendalikan agar tak canggung dengan dirinya.
“Belum, aku ingin meminta ijin pada nyonya Denise untuk memberikan kunci atap agar aku bisa melihat bintang malam ini.”
Kurang mengerti, namun Marco coba ingin mengerti. Pertemuannya dengan Ree membawanya banyak bertemu orang-orang unik seperti Liliana dan Ghea, karena selalu berada di La Priens yang dikelilingi oleh laki-laki dan memiliki kakak seperti Viovarand yang protektif membuat Marco sedikit kewalahan ketika bertemu orang asing.
“Tapi jangan khawatir, Ree meskipun memiliki hati yang lemah, ia tidak pernah berhenti menemukan solusi. Selamat malam.” ucap Ghea kembali ke ruangan pengurus asrama.
Marco tidak mengetahui bagaimana pola pikir seorang seperti Ghea, jujur saja baru kali ini ia melihat secara langsung murid dari akademi yang mempelajari sihir. Murid-murid akademi Desera seperti Ghea tak jarang dikucilkan karena mereka memiliki sikap dan sifat yang aneh dari orang-orang biasa. Itulah mengapa kehadiran mereka di akademi umum seperti La Priens menjadi ketakutan tersendiri bagi sebagian orang, namun menurut Marco melihat Ree berteman dengan Ghea, itu bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan.
__ADS_1
Tak lama setelah Marco pergi dari lobi, Ghea kembali dari ruangan pengurus asrama dengan wajah datarnya, namun perasaannya saat ini sangat kecewa karena tidak diperbolehkan meminjam kunci menuju atap asrama karena sudah memasuki jam tidur.
*
*
*
Minggu pagi yang cerah dan nyaman, dimana murid-murid menghabiskan waktu istirahatnya berdiam di asrama dengan melakukan banyak kegiatan untuk mengisi hari libur. Hal itu juga menyenangkan bagi mereka yang biasanya mengikuti kelas yang menghabiskan waktu dua hari seperti kelas Berburu seperti Maglina, Liliana, serta Marco. Karena program akademi yang menetapkan musim gugur sebagai masa pengistirahatan satwa di pegunungan membuat mereka tidak berburu seperti biasa. Namun, tetap saja minggu ini mereka harus bangun pagi karena ulah Liliana yang seenaknya menyeret mereka, terlebih cara Liliana memanggil Marco dari halaman untuk membangunkan pria itu.
“Liliana, bukankah ini terlalu pagi? Aku bahkan tidak yakin jika Ree sudah bangun.” Timpal Marco masih dengan wajah mengantuknya menatap punggung mungil yang memimpin di depan menatap pintu gerbang yang belum terbuka. Bahkan embun pagi belumlah sirna meski cahaya matahari perlahan sudah menghangatkan pagi mereka.
“Jangan naif Marco! Bahkan Ghea sudah bangun dan bersiap untuk meramal!” timpal Liliana percaya diri.
Marco melirik Ghea yang duduk di bangku taman sembari tidur dan menggenggam kartu tarotnya tanpa peduli sekitaran, sementara Maglina hanya bersiap berlatih dengan pedang kayunya.
Nampak sekali bahwa mereka adalah korban yang di paksa bangun oleh Liliana.
“Liliana, apa kamu tidak tidur?” tanya Marco heran ketika melihat mata Liliana yang merah dan kantung mata di bawah bola matanya cukup berat.
“Tentu saja aku tidur, aku mengerjakan jurnalku lalu tidur dengan nyenyak agar aku bisa mengeksekusi Servio hari ini.”
Marco takjub dengan niat membunuh Liliana seolah menganggap Servio adalah hewan buruannya.
Derit bunyi engsel pintu gerbang membuat keempat manusia yang menunggu itu kompak mengarahkan matanya pada mulut gerbang yang berjarak 100 meter. Dua sosok muncul dengan seorang membawa sebuah koper kulit berukuran 1 x 1 meter ia jinjing, sementara yang wanita nampak seperti ada awan mendung di atas kepalanya.
Jelas saja yang muncul itu adalah Ree dan Servio. Mungkin kedatangan mereka tidak mencolok dan tidak ada yang peduli jika keduanya datang bersama di pagi hari ini. hal itu tidak berlaku di mata Liliana dan lainnya. Seperti surat yang datang semalam berasal keluarga Florence, hari ini Ree muncul dengan pakaian yang tidak ia kenakan kemarin.
“Servio!! Ka-! Hah!?” baru saja Liliana ingin menyerang Servio dengan berbagai pertanyaan yang pastinya akan memojokkan Servio, namun seperti yang ada di depan matanya pria itu melewati begitu saja dengan aura yang tidak biasa.
Begitu dingin dan asing hingga Liliana tidak percaya dengan perasaan yang tersinggung itu muncul ketika melihat sikap Servio hari ini.
Itu tidak benar, Ree hanya bisa menatap punggung Servio sembari pikirannya menyangkal perkataan pria itu barusan. Mana mungkin tidak terjadi apa-apa jika ia sampai harus kembali pagi ini karena di tahan dikediaman pria itu.
“Ree!”
Namanya dipanggil begitu keras oleh Liliana serentak dengan kedua bahu Ree yang guncang oleh orang yang sama. Sorot mata Ree terlihat begitu lelah dan berat, Liliana tidak yakin bahwa temannya satu ini menghabiskan malam dengan tidur nyenyak. Memikirkannya membuat Liliana semakin cemas saja.
“Ree, apa yang terjadi? Kenapa surat ijin itu datang dari kediaman Florence? Kenapa kamu bisa ada di sana?” tanya Liliana tak menutupi bahwa dirinya cemas.
“Liliana benar, apa yang sudah terjadi Ree?” sambut Marco tak kalah cemas.
Entah mengapa melihat wajah teman-temannya yang terlihat khawatir padanya membuat Ree terkekeh. Ia tidak tahu kenapa ia harus dikhawatirkan, rasanya apa yang terjadi padanya saat ini bukanlah sesuatu yang harus orang lain khawatirkan.
“Itu merupakan sesuatu yang sulit aku jelaskan untuk saat ini, namun seperti yang Servio katakan, tidak ada apa-apa…”
Bagaimana mungkin Ree mampu menjelaskan betapa rumitnya situasi yang ia alami saat ini di pagi hari. Mengawali hari dengan berita mengejutkan bukanlah hal yang menyenangkan di hari minggu.
“Ree, benarkah itu? Servio tidak ada menyakitimu, bukan?” tanya Liliana sekali lagi.
Bukan tanpa alasan, dari mereka berempat hanya Liliana yang tahu kesan Ree bertemu dengan Servio untuk pertama kali itu seperti apa. Tidak seperti yang orang lain lihat bagaimanan wajah ketakutan Ree menghadapi sikap aneh Servio yang tidak terduga. Masih lekat di ingatan Liliana tentang betapa hebatnya getaran tubuh Ree akibat ketakutan.
“Liliana, aku baik-baik saja. Jika aku merasa kesusahan, aku akan mengatakannya. Tapi saat ini aku hanya ingin tidur.”
Entah mengapa Liliana merasa kesal mendengarnya. Ia mungkin belum lama mengenal Ree, mereka mungkin baru bertemu di La Priens, namun Ree tidak seperti yang ia lihat saat ini. Jelas saja senyuman di wajah Ree terasa hambar di mata Liliana.
Ree pamit pergi ke kamar karena terlalu lelah dan Ghea mengikuti langkah Ree karena ia juga terlalu lelah menunggu di luar.
__ADS_1
Sementara itu, Liliana masih berdiri dan ditemani Maglina serta Marco. Maglina tahu Liliana merupakan orang yang peduli terhadap Ree.
“Liliana, percayalah saja. Jika Ree memerlukan suatu bantuan ia akan mengatakannya.” Timpal Maglina menghibur Liliana agar tidak marah.
“Ree memang seorang teman yang sangat baik menurutku, namun satu hal yang aku khawatirkan darinya adalah caranya mempedulikan orang lain di atas dirinya itu membua aku tidak tahu apa ia mau bercerita atau tidak.”
Maglina langsung melempar tatapan tajam pada Marco ketika mengucapkan kalimat yang bisa saja mendukung perasaan khawatir Liliana terhadap Ree. Marco sendiri terlihat takut ketika Maglina melemparkan tatapan yang berarti akan menghabisinya ketika ia masih berbicara.
“Maglina, apa yang Marco katakan itu benar. Aku tidak tahu bagaimana orang lain melihat Ree. Namun, ini Ree. Ia selalu bertindak sendiri untuk menyelesaikan masalah. Maglina, Marco… aku tidak bisa mendiaminya begitu saja, rasanya ingin marah, namun aku tidak bisa melampiaskan kemarahan tanpa dasar seperti ini.” Liliana menatap geram gerbang yang masih terbuka itu, seluruh lingkungan sudah terlihat jelas dan embun pagi sudah sejak tadi menghilang dan menguap.
Mulai dari dirinya, Alexander, Servio, hingga Frigid, tidak akan Liliana biarkan Ree menyelusuri semak belukar penuh duri itu sendirian.
*
*
*
“Ree?? Ree??”
“Ah! Iya! Liliana, kamu duluan saja ke kantin. Aku akan menyusul.”
Sejujurnya Liliana sudah memanggil nama Ree lebih dari dua kali, namun wajah wanita itu terlihat sulit untuk di artikan, tidak ada kehidupan di dalamnya, tatapan mata Ree seolah seperti ruang hampa dimana hanya akan terhisap ke lubang tanpa dasar. Tiga hari sejak Ree kembali ke asrama bersama Servio.
Tak sedikitpun Ree ingin membuka mulutnya untuk bercerita.
Kecemasan itu tidak hanya Liliana rasakan, dari sisi Ree ia juga merasa selalu resah setiap hari sejak ia ditetapkan menjadi mempelai wanita Servio. Pertunangan ini benar-benar seperti meremukkan hati Ree. Sangat sulit baginya untuk bernapas karena merasa dunia semakin sempit untuk dirinya hidup. Setiap hari, Ree ingin berbicara dengan Servio. Berdiskusi dan membicarakannya dalam situasi pikirannya yang lebih jernih, namun sama sekali rasanya Ree tidak diberi kesempatan untuk bersuara.
Hari ini kembali Ree akan mencoba, tanpa perlu dipertanyakan kemana ia harus pergi karena ia tahu dimana orang yang ia cari itu berada dan diam.
“Aku bukannya melakukannya tanpa alasan yang kuat. Kamu bahkan tidak mengatakan alasan kuatmu untuk menolak, jika pun ada tentu tidak mampu menandingi alasanku ingin menikahimu.”
Alasan Servio selalu berdasarkan pada keadaan ibunya saat ini. itu seperti rantai yang mengikat Ree untuk tidak lari kemana-mana. Apa rasanya tidak adil adalah seperti ini? Ree kembali bertanya pada dirinya sendiri dan menatap sendu pria yang sama sekali tidak ingin menatap matanya langsung.
Gedung B selalu saja sepi jika sudah waktunya pulang, hanya ada beberapa orang yang lewat, namun itu pun jarang.
“Servio, bukankah ini terlalu kejam? Apa kamu tidak bisa mengerti perasaanku menerima semua ini?” mungkin karena situasi koridor yang sepi membuat gema suara dari langkah kaki Ree mendekati Servio menyeruak ke sepanjang koridor, sementara ia masih bisa mengendalikan suaranya agar tidak terlalu nyaring.
“Perasaan ya…” Servio menyingkap surai panjang yang menutupi sebagian wajahnya lalu menatap dingin wajah wanita yang disirami senja sore dihadapannya.
“Aku sama sekali tidak peduli kamu menyukainya atau tidak, karena inilah caramu membayar seluruh perbuatanku.”
Ucapan itu seperti tamparan keras di wajah Ree, terasa menyakitkan dan sangat pedas. Mulut Ree terkatup tak sanggup menyambut, meski dalam hatinya seolah ingin meledak akibat amarah yang jarang ia keluarkan pada orang lain.
Wajah itu, tatapan dingin tak berperasaan, serta mulut yang berbicara seenaknya saja. Ree tidak percaya bahwa pria yang berdiri di hadapannya adalah Servio. Namun, perasaan ini bukan perasaan takut seperti pertemuan pertama mereka.
Servio, bahkan lebih buruk dari pertama kali mereka bertemu.
Lantai yang Ree pijak seolah perlahan runtuh, tak ada ruang baginya untuk mundur ataupun mencari jalan lain. Kalaupun ia melangkah, ia hanya akan terjatuh ke dalam jurang gelap itu dan meremukkan seluruh tubuhnya.
“Ah, begitu rupanya… Servio, selama ini aku salah menilai dan beranggap kamu adalah orang yang bisa aku percaya. Nyatanya adalah sebaliknya dan kenyataan itu terasa begitu…”
Apa ini, perasaan bergejolak dan meluap-luap terasa panas di dalam dada Ree. Ia sendiri bahkan tak sanggup melanjutkan perkataannya dan memilih mundur lalu pergi.
Pilihan itu Ree ambil karena satu hal yang ia tidak ingin ditampakkan pada seseorang seperti Servio adalah air matanya.
__ADS_1
To Be Continued.