We And Problems

We And Problems
Chapter 39 : Tamu Kelas Berburu


__ADS_3

“Aku tidak mengerti, kenapa kamu terlihat ‘bersemangat’. Padahal kamu bisa tidak peduli dan melupakannya. Ini merupakan urusan Frigid dan penyakitnya itu.”


Ree terkejut, Liliana muncul begitu saja di sampingnya tanpa Ree ketahui kapan temannya satu itu sudah keluar dari ruangan.


“Entahlah, semuanya terjadi begitu saja dan aku tidak tahu kenapa ketika ingin melupakannya, malah membuatku kesal.”


“Apa kalian bertengkar? Aku tidak melihat kalian berdua memiliki masalah seperti itu.” tanya Liliana heran.


Hubungan Frigid dan Ree memang tidak terlihat oleh orang-orang di sekitar. Terlebih Frigid yang memiliki kepribadian misterius itu hanya menunjukkan senyuman formalnya pada semua orang sebagai ketua senat, juga Ree sebagai murid pertukaran pelajar.


“Tidak ada hubungan khusus di antara kami, hanya beberapa kali terlibat dalam masalah pribadi saja. Itupun sudah selesai.”


Liliana tidak ingin bertanya lebih lanjut, jika Ree sudah mengatakan masalah pribadi, berarti bukan lagi ranahnya untuk tahu.


“Ingin makan siang bersama?” tanya Liliana.


“Tentu saja, aku cukup merasa lapar ketika lewat dari jam makan siang.”


Tak perlu menunggu lama, kedua wanita itu langsung menuju arah kafetaria karena sudah menahan lapar sejak sebelum bertemu dengan tamu profesor Asley.


Kembali lagi, seperti biasa. Kelas yang selalu menguras cukup banyak tenaga fisik. Minggu ini kelas Berburu yang diikuti Ree dilaksanakan di gunung belakang akademi. Bahkan rombongan Ree sudah tiba di lokasi perkemahan tercinta mereka sejak pagi buta dan sudah menyiapkan tenda perkemahan bagi mereka yang mana akan menghabiskan dua hari satu malam di lokasi perkemahan mereka itu.


“Aku memang tidak ingin heran, namun bukankah ini terlalu pagi untuk membangun kemah?!” protes Liliana.


Ree ingat betul bagaimana mereka bangun pagi-pagi sekali untuk bersiap berangkat, bahkan mata Ree sendiri masih ingin tidur barang sebentar.


“Liliana, kamu harus memperbaiki kebiasaan tidurmu yang suka tidur setelah tengah malam.” sambut Maglina yang sedang memasang pasak untuk tenda perempuan dan di bantu oleh Ree.


“Aku tidak yakin bisa tidur cepat juga akhir-akhir ini.” sambut Ree.


“Ree benar, akhir-akhir ini terlalu banyak yang harus dipikirkan. Bahkan jurnalku banyak yang belum selesai” ujar Liliana yang berada di dalam tenda sedang merapikan isi tenda agar nyaman untuk mereka tidur dan menaruh barang.


Ree dan Maglina setuju, ujung perjalanan di akademi sebentar lagi usai. Selain magang, banyak tugas yang perlu lakukan, terlebih mereka harus membuat laporan untuk akademi mereka masing-masing tentang program pertukaran pelajar ini.


Itu hanya berlaku bagi mereka murid perempuan, tidak untuk para murid asli La Priens.


“Aku harap tempat ini benar-benar nyaman untuk murid perempuan ke depannya.” ujar Maglina.


“Mereka pasti banyak mendapat hal yang menyenangkan.” ucap Ree.


Harapan itu, persis dengan apa yang sebenarnya Frigid ingin selesaikan sebelum ia meninggalkan La Priens. Keinginan sederhana masih tidak dimengerti oleh orang-orang disekitarnya termasuk Ree sendiri. Tak lain, rasa tidak paham itu karena tidak di beritahu.


Ruang di antara Ree dan Frigid terasa samar-samar, kadang ada dan kadang tidak disadari bahwa mereka tidak memiliki jarak apa-apa. Tentu saja seperti yang pernah Frigid katakan, bahwa ia memberikan kesempatan untuk Ree bertahan selama wanita itu tidak menunjukkan kelemahannya pada orang lain, dan Ree sendiri tidak ingin memikirkan situasi Frigid. Segala perkara yang diketahui tentang masing-masing pribadi tersimpan dalam hati dan enggan untuk diungkapkan lagi.


“Semuanya! Berkumpul!!” tepukan tangan Millesimun langsung membuat seluruh perhatian di lahan perkemahan itu mengarah padanya yang berada di depan tenda utama yang cukup besar.


Nampaknya hari ini Millesimun tidak berdua bersama Kyle. Terdapat dua orang pria berdiri di belakang mereka dan nampak asing di mata seluruh murid tingkat akhir itu.


Namun, berbeda dengan ekspresi Alexander dan Frigid. Dalam diam kedua pemuda itu terkejut dengan siapa yang hadir sebagai tamu di kelas Berburu. Rasanya tidak masuk akal, namun tidak dapat juga merasa heran.


“Frigid…” lirih Alexander yang berdiri di samping Frigid, matanya melirik wajah pria berkulit pucat itu untuk melihat ekspresi seperti apa yang dikeluarkan Frigid ketika melihat sosok yang tidak asing bagi keduanya.


“Hari ini kita kedatangan tamu yang spesial, beliau merupakan tuan Smith Kennie Cali dari Kementerian Pendidikan dan tuan Syricie utusan dari kerajaan Agnus.”


Sosok Smith memang rasanya tak asing bagi Ree, namun pria jangkung yang berdiri di sampingnya itu nampak asing karena ia berasal dari luar kerajaan.


“Salam kenal semuanya, sungguh hal yang luar biasa bisa bergabung di kelas ini.” ucap pria dengan fisiknya yang tinggi dan putih, serta berambut pirang dengan bola mata biru cerah seperti samudra. Senyumnya terlihat ramah dan hangat serta suara pria itu terdengar ringan.


“Apa yang mereka lakukan disini, Frigid? Apa kamu tahu sesuatu?” tanya Alexander bingung.

__ADS_1


Kehadiran Smith dan Syricie tentu saja bukan tanpa alasan. Bukan hanya Frigid, persoalan itu juga tidak ia ketahui, wajar saja jika Smith hadir meski ia tidak terima dengan kehadiran Smith di kelas yang ia ikuti, namun Syricie. Tentu saja Frigid mengenal pria itu, orang-orang di sekitar mungkin hanya tau ia sebagai utusan Agnus, akan tetapi berbeda dengan Frigid. Syricie bukan sekedar utusan, pria yang di anggap tamu itu merupakan salah satu orang penting ratu Agnus, yaitu salah satu selir yang termuda.


Fakta inilah yang membuat Alexander dan Frigid tak habis pikir dengan kehadirannya.


“Setelah selesai berkemas, kita mulai dengan pembagian kelompok. Kalian sudah saya bagi dan bisa dilihat dari lembaran yang saya berikan tentang anggota kelompok kalian.” jelas Kyle setelah selesai menyerahkan lembaran data kelompok pada muridnya.


Lembar itu ada lima berisi daftar nama kelompok, sungguh menakjubkan bagi Ree saat ini. Pertama kalinya akhirnya ia terpisah dari Frigid untuk berkelompok di kelas Berburu. Mungkin terlihat sederhana, namun cukup menakjubkan bagi Ree ketika ia sudah mengalami hari-hari berburu bersama Frigid.


“Akhirnya aku satu kelompok denganmu!!” Liliana langsung memeluk leher Ree setelah harapannya terkabul, ia cukup lelah berpisah dan sendirian menjadi perempuan di kelompoknya. Setidaknya jika itu Ree ataupun Maglina, Liliana tidak sendirian.


“Aku tidak mengerti kenapa kamu begitu bersemangat.” ucap Antonio heran. Kebetulan Antonio juga masuk ke dalam kelompok yang sama dengan Ree dan satu murid pria lagi.


“Itu karena kamu tidak memahami perasaanku.” Liliana mengintip Antonio dengan tatapan tajamnya dari balik tengkuk Ree.


Di tengah obrolan ringan mereka, tiba-tiba dua bayangan manusia menghampiri hadapan Ree. Tak lain pemiliknya adalah dua tamu hari ini.


“Ree, saya tidak kamu ikut di kelas luar ruangan seperti ini.” ucap Smith menyapa Ree dengan senyuman ringannya yang mana di mata Ree itu seperti senyuman ‘formal’ semata.


“Ah, iya… begitulah. Kelas ini merupakan kelas wajib yang harus saya ikuti.”


“Tuan-tuan, karena kalian telah hadir disini, kalian bebas memilih tim yang akan kalian ikuti ketika memasuki hutan, jangan khawatir untuk keamanan, mereka merupakan murid terbaik yang bertahan sejauh ini.” tiba-tiba Millesimun menghampiri dan menjelaskan bagaimana Smith dan Syricie mengikuti kelas Berburu hari ini.


“Nampaknya kelompok ini menyenangkan.” Syricie menatap kelompok Ree dengan senyum penuh tanda tanya bagi Ree.


“Ehh, padahal saya ingin bicara lebih banyak dengan nona Lumen.” timpal Smith.


Ree menjadi berpikir, haruskah ia menjadi pusat keputusan? Apa yang sebenarnya kedua tamu itu pikirkan dan rencanakan? Pikiran Ree juga mengarah pada seorang pria yang sedang menatap ke arah kelompoknya dengan penuh rasa curiga. Frigid, seratus persen Ree yakin ada yang tidak beres dan semuanya berakar dari Frigid.


Frigid, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Itulah pertanyaan yang sedang memenuhi kepala Ree.


“Profesor, anda saja yang menentukannya.” ucap Ree tak ingin ambil pusing.


Millesimun menatap dua pria dewasa yang nampak saling memberi senyuman ramah namun tak ada yang berniat mengalah.


“Hahaha!! Smith tidak akan bisa mengalahkan aku dalam suit.”


Kini perjalanan kelompok Ree menjadi ramai karena tawa renyah Syricie yang telah memenangkan suit untuk bebas memilih kelompok.


“Aneh sekali, kenapa kalian memperebutkan kelompok ini? bukankah tiap kelompok sama saja?” sambut Antonio yang berjalan di depan memimpin jalan.


Pertanyaan Antonio barusan merupakan pertanyaan yang sama di kepala anggota lainnya.


“Hahaha!! Tentu saja jelas! Karena di sini ada dua orang wanita cantik! Tentu saja kami memilih kelompok ini.” ucap Syricie sembari menoleh pada Ree dan Liliana yang berjalan di sampingnya.


“Ah, aku rasa bisa mengerti sedikit.” tutur Antonio.


Sementara itu, Smith berada di kelompok yang sama dengan Frigid juga sudah mulai masuk ke dalam hutan. Menyusuri tiap sisi hutan dengan mengikuti langkah Frigid sebagai pemimpin kelompok.


“Apa yang sebenarnya kalian rencanakan?” tanya Frigid pada pria yang mirip dengannya itu tengah berjalan di sampingnya sementara para anggota kelompoknya berjalan cukup jauh di belakang sehingga cukup bagi Frigid untuk menegur kakak laki-lakinya itu.


“Di banding rencana, ini lebih seperti hal yang semestinya kami lakukan. Kamu mengerti bukan? Maksud dari perkataanku?”


Putra sulung Cali itu tidak terdengar bercanda dalam berucap. Maksud kedatangannya kedua pemuda yang berkedok tamu itu masih misterius kejelasannya, namun Frigid tidak bodoh untuk tidah paham.


“Cukup lakukan tugas kalian dengan baik, jangan libatkan orang lain.”


Tatapan yang sering Ree sebut seperti ikan mati itu nampak sedikit menyala menatap saudara kandungnya. Tidak ada garis senyum sedikitpun, bahkan nada suara datar dan terasa dingin yang masuk ke dalam telinga Smith sehingga membuat pria dewasa satu itu menyeringai kecil.


“Maka dari itu, jangan berani-berani bertingkah. Jika kamu masih mengandalkan nama keluarga.”

__ADS_1


Kedua kepalan Frigid mengepal kuat, menahan amarah dalam hati dan bertahan dalam diam. Hidupnya yang tidak dimiliki olehnya ini bisa apa?


Alexander yang menatap kedua punggung Cali bersaudara itu tengah merasa cemas dengan keadaan Frigid.


“Liliana bagaimana posisinya?” tanya Antonio saat ia sedang menarik busur bersiap menembak untuk target buruan mereka saat ini yaitu seekor rusa betina muda.


“Dia masih memakan rumput, Antonio tetaplah di posisimu.”


Saat ini kelompok Ree sedang membidik hasil buruan dengan panah yang mereka lumuri dengan sedikit obat bius yang mana terbuat dari getah pohon Antiaris toxicaria. Percobaan ini tentu saja sudah disetujui oleh Millesimun dan Kyle. Karena itu, pada kelas hari ini mereka semua mencoba menggunakannya.


“Apa kalian selalu merasa setegang ini?” bisik Syricie yang duduk di belakang Ree.


“Cukup dikatakan demikian, karena target buruan tidak dapat di tebak.”


Ree sudah biasa dengan hal seperti ini, saat ini yang bisa ia lakukan adalah mengosongkan pikirannya dan fokus pada bidikan yang ada di depan mata. Jika target mereka lepas, maka mereka harus menyusuri hutan lebih dalam lagi. Meski sudah sering berkunjung ke alam liar yang sama, namun hukum alam tidak akan berubah. Hewan buas berkeliaran dan siap menyerang siapa saja yang lemah dan tak mampu bertahan. Terlebih di kelompok Ree adalah tamu yang menjadi anggota mereka. Sebisa mungkin Ree menargetkan kelompoknya kembali ke perkemahan sebelum gelap.


“Ree, ke arahmu!”


“Akh!!”


“Ree!!?”


Ree berhasil meluncurkan panah, namun meleset dan hanya menggores paha dari rusa sehingga hewan memamah biak itu panik dan langsung berlari pergi. Meski begitu tanah hutan menjadi tempat darah Ree tumpah dari jari telunjuk hingga telapak yang tak sengaja terkena ujung panah.


“Apa yang kamu pikirkan?! Kamu tidak tahu apa yang sudah kita oleskan di anak panahnya?!” seru Antonio panik ketika melihat telapak tangan kiri Ree sudah berwarna merah basah.


“M-maaf, aku tidak sengaja.” ucap Ree yang juga tidak sadar kenapa ia bisa melakukan tindakan ceroboh seperti ini.


“Aku tidak apa-apa, buruannya lepas…”


Liliana langsung mengeluarkan sebotol air dan menyiram ke telapak tangan Ree lalu mengelap darah itu dengan kain bersih yang mereka bawa. Namun karena racun dari getah pohon Antiaris toxicaria itu membuat darah Ree sulit beku dan terus mengalir dari luka.


“Bodoh! Jangan pikirkan buruan sebelum diri sendiri! Apa yang kamu rasakan sekarang?! Pusing? Mual?” tanya Liliana panik karena wajah Ree terlihat pucat karena kaget melihat banyaknya darah yang keluar.


Ree merasa bersalah jika mereka tidak dapat menyelesaikan tugasnya.


“Kita tidak bisa melanjutkannya, kamu harus di bawa ke perkemahan.” ucap Antonio ketika melihat pendarahan cukup hebat dari luka Ree. Sulit bagi mereka bertahan di tengah hutan jika salah satu rekan satu tim tidak dalam kondisi prima.


“Sebelum itu, kita hentikan pendarahannya terlebih dahulu. Ini menggunakan racun bukan? Akan sulit baginya bertahan dengan pendarahan sehebat ini jika kita membawanya begitu saja ke perkemahan.” sambut Syricie.


Semua anggota kelompok termasuk Ree yang sudah bersandar di dada Liliana menatap tamu itu heran.


“Tapi tidak ada yang memiliki obatnya disini, maka dari itu secepatnya kita kembali agar dapat di rujuk ke unit kesehatan di perkemahan atau akademi.” timpal Antonio.


Ide Antonio juga tidak buruk. Namun di mata Syricie, wajah Ree semakin pucat sementara cairan merah dari lukanya terus mengalir membasahi kain putih yang menutup luka itu.


“Aku.. mual.” tutur Ree dengan suaranya yang bergetar.


“Ree? Kamu mual?!” Liliana cukup di buat panik ketika Ree mengatakan ia ingin muntah, tangan Ree yang ia genggam terasa beransur-ansur dingin.


“Jangan panik!! Biarkah saya memberikan pertolongan pertama padanya!” ujar Syricie yang langsung menarik tangan kiri Ree yang terluka.


Di tengah rasa sakit dan tidak nyaman yang tengah Ree alami, tak mampu ia menarik tangannya ketika jemari Syricia menyentuhnya. Ia hanya bisa memejamkan mata demi mengusir rasa sakitnya yang sulit untuk di singkirkan meski ia merasa sakit sekalipun.


“Tenanglah, aku adalah seorang dokter. Setidaknya hentikan dulu pendarahanmu.”


Ree hanya mengangguk dan memalingkan wajahnya agar ia tidak melihat bahwa seorang pria sedang menyentuhnya.


 

__ADS_1


To Be Continued


__ADS_2