
“Liliana, Liliana, kita sudah jauh, kamu bisa melepaskan tanganku.”
Maglina dan Marco menatap resah pada kedua temannya itu yang terlihat saling bersitegang satu sama lain. Ree yang mencoba melepaskan diri dari pegangan Liliana, sementara yang menarik tidak menampakkan tanda-tanda akan bicara ataupun melepaskan pegangannya.
Langkah Liliana berhenti begitu pula dengan pegangannya. Liliana melepaskan Ree.
“Padahal aku tidak ingin ada orang lain merasakan akibatnya. Tapi kamu malah sengaja Ree.” Liliana marah, gadis mungil itu benar-benar marah namun terlihat lucu dalam satu waktu.
Ree tahu, jika bukan karena Liliana maka Ree tidak akan mengenal Alexander dan terlibat dengan pria itu.
“Liliana, semuanya hanya salah paham. Tolong bicara dengan Alexander.” bujuk Ree.
Alexander hanya ingin berkomunikasi dengan baik dengan Liliana dan meminta bantuan Ree untuk mendamaikan mereka berdua. Berada di tengah-tengah seperti ini memang melelahkan bagi Ree, namun di sisi lain, Ree juga tidak ingin Liliana merasa kesakitan karena terus diganggu.
“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, seperti yang kukatakan padanya barusan bahwa tidak semua orang menjadi apa yang mereka inginkan, tanpa terkecuali.”
Ree, Maglina dan Marco bagaikan sedang menghadap sebuah gunung es. Begitu dingin dan bisa saja membekukan orang sekitarnya.
“Haah, baiklah Liliana. Aku tidak menjamin apa aku bisa berhenti karena aku sudah bergabung dengan senat.”
“Ree!?” potong Liliana tidak suka.
Ree tersenyum.
“Tidak apa-apa Liliana.”
Liliana tidak mampu protes ketika Ree terlihat yakin dengan keputusannya.
*
*
*
Beberapa hari ini Ree dapat menjalani harinya dengan tenang meski masih dihantui dengan tatapan yang tidak nyaman ketika melewati koridor atau berada di tempat ramai sendirian atau ketika bersama dengan Alexander.
Mungkin ada beberapa hal yang bisa selesai ada juga yang masih belum.
“Aku rasa tidak akan pernah damai dengan Liliana.”
Alexander sudah sangat pasrah ketika membicarakan hubungannya dengan Liliana yang ingin ia bangun. Ree juga belum mengerti kenapa Liliana masih mengeraskan hatinya untuk berteman dengan Alexander.
“Kenapa tidak menyerah saja?” tanya Ree asal, matanya masih menyelusuri seluruh akademi untuk melihat orang-orang dan suasana yang tercipta.
“Aku tidak tahu caranya menyerah, bagaimana aku harus menyerah?” tanya Alexander terdengar polos.
“Wah, aku tidak tahu apa aku harus mendukungmu atau tidak. Lalu apa pekerjaan kita sampai di sini saja?” tanya Ree ketika mereka sudah sampai di ujung koridor akademi dan memastikan tidak ada masalah di sepanjang perjalanan.
Alexander mengangguk setuju, mereka berdua dan beberapa anggota senat lain memang rutin berpatroli dan berpencar di seluruh akademi. Semua dilakukan tidak lain adalah untuk memastikan akademi tetap tenang di bawah kendali.
Ree tiba-tiba mendekati salah satu jendela dan menatap sebuah gedung akademi yang berada di sisi kanan tempat mereka berada saat ini.
“Tapi, kita tidak pernah pergi ke gedung itu.” kata Ree ketika mengingat seluruh seluk beluk wilayah akademi sudah mereka masuki kecuali sebuah gedung yang Ree maksud.
Tidak ada yang spesial dari bentuk gedung itu karena tetap sama desainnya dengan keseluruhan gedung di wilayah akademi, tidak juga sepi karena selalu ada murid atau profesor yang berada di sana.
“Ah, gedung B. Kita tidak perlu patroli di sana, karena itu adalah wilayah murid tahun ketiga dan ruangan para pengajar.” jawab Alexander lalu pergi untuk kembali ke ruangan senat karena tugas mereka sudah selesai.
Ree masih menatap gedung B yang dimaksud, jawaban Alexander barusan masih berputar di kepalanya. Ree hanya merasa bahwa perkataan Alexander tidak pas atau ada yang mengganjal.
“Apa kamu menugaskan murid tahun ketiga untuk pergi ke gedung B?” tanya Ree sembari menyusul langkah Alexander.
Mungkin tidak biasa dipandangan orang karena sifat santai Ree yang sudah biasa berada di sisi Alexander, namun setidaknya kini tidak ada hal-hal yang menganggu Ree untuk menjalani hari-harinya.
“Kira-kira seperti itulah.” jelas Alexander.
Ree hanya mengangguk mengerti dan tidak ingin bertanya lebih lanjut. Selama ini ia juga belum pernah mengunjungi gedung B karena kelasnya tidak berada di sana dan Ree tidak memiliki kepentingan untuk pergi mengunjungi gedung itu.
Namun ia tidak sadar, bahwa ada sepasang mata yang lebih tajam bisa mengetahui bahwa Ree sempat melihat ke arah gedung yang menjadi wilayahnya.
*
*
*
Seperti biasa jika setiap murid tahun terakhir di kelas Berburu tidak jarang menjadi sorotan murid-murid lainnya karena mereka tidak pernah kembali ke akademi dengan tangan kosong. Selalu saja bermacam-macam hewan buruan mulai dari yang mati sampai dibawa hidup-hidup.
Hal tersebut juga dilakukan oleh Ree yang berhasil menangkap hidup-hidup seekor kelinci hutan berbulu coklat dan membuat beberapa murid perempuan tertarik termasuk Ghea.
Sementara Frigid hanya melihat dan memastikan tidak ada yang tertinggal di hutan baik itu barang-barang maupun teman sekelasnya.
“Frigid, kamu mendapatkan apa hari ini?” tanya Yohan yang datang bersama Yohanna.
Frigid merasa namanya dipanggil dan memutar tubuhnya menghadap Yohan.
“Seperti yang kamu lihat, aku menangkap anak buaya kali ini.” jawab Frigid santai sembari menunjuk anak buaya berukuran dua jari itu ada di dalam wadah penyimpanan khusus.
Yohan dan Yohanna kompak tak habis pikir dengan hobi Frigid yang tidak pernah bosan untuk menangkap buaya ketika ikut kelas berburu. Mereka bahkan tidak tahu berapa banyak simpanan nyawa Frigid itu sendiri. Hingga mata Yohan terkejut melihat sosok yang sedang menyusun alat-alat berburu di belakang Frigid.
“Kamu ikut kelas ini juga?” tanya Yohan kaget dan langsung menghampiri Ree yang kebingungan karena disapa oleh orang yang tidak ia kenal sebelumnya hingga di detik selanjutnya Ree baru sadar dengan siapa ia bicara.
“Murid yang bicara dengan kuda.” timpal Ree polos.
Masih lekat di ingatan Ree tentang kejadian di kandang kuda. Ia di sana karena terkunci akibat orang-orang yang tidak bertanggungjawab lalu terbangun dari tidurnya karena mendengar derit pintu kandang di buka dan memperlihatkan seseorang sedang mengobrol dengan kuda, tidak lupa dengan kata-kata lembuh penuh kerinduan itu.
“Pfft! Mengobrol dengan kuda?” sambung Yohanna yang Ree ketahui adalah putri raja yang seangkatan dengannya.
“Yohan, bukankah kamu tahu bahwa akademi melarang para murid untuk membawa binatang peliharaannya?” tanya Frigid juga maju mensejajarkan posisinya tepat di samping Ree.
Ree bisa melihat semburat merah di wajah pria yang dipanggil Yohan karena tengah menahan rasa malu.
“Sstt, apa kamu tidak bisa menjaga hal itu untuk kita berdua saja?” tanya Yohan malu.
Ree seolah mengerti dengan apa yang Yohan rasakan dan langsung mengangguk.
“Aku tidak tahu, maaf.” ucap Ree sembari tersenyum tipis dan untungnya Yohan bisa menerima permintaan maaf sederhana Ree itu dan langsung pergi karena ada kegiatan yang harus ia ikuti.
“Ree.” panggil Frigid yang masih berdiri di samping gadis itu.
Ree dengan refleks menoleh dan menatap wajah pria yang ada di sampingnya, tetap datar dan seperti orang yang tidak memiliki emosi namun dari ucapannya Ree seolah tahu bahwa ada hal yang ingin pria itu ketahui.
“Ada apa?” tanya Ree.
Frigid perlahan menoleh dan mempertemukan sorot matanya dengan lawan bicaranya.
“Kenapa kamu bisa bertemu dengan Yohan di kandang kuda?” tanya Frigid.
Ree mengerutkan dahinya dan merasa heran sekaligus.
__ADS_1
“Kenapa kamu ingin tahu terkait dengan pertemuan kami?” tanya Ree heran.
Frigid tersenyum, namun tidak bisa dikatakan tulus dan manis. Senyuman itu seperti racun yang jelas-jelas bisa membunuh, namun bukan karena efek pesonanya.
Ree merinding.
“Karena tidak mungkin Yohan terang-terangan menunjukkan kebiasaan anehnya pada orang yang tidak ia kenal.”
Ree menelan ludah.
Penyataan Frigid lebih terdengar seperti ancaman daripada menyelidik. Seakan memberitahu jika Ree tidak berkata jujur pada pertanyaan yang diajukan, maka gadis itu akan menerima sesuatu yang tidak diinginkan. Ree tahu ia terlalu berpikir berlebihan, mengingat Frigid bukanlah orang yang memiliki akses untuk masuk ke dalam kehidupan pribadinya.
Frigid memang tidak memiliki akses untuk itu, namun terlihat ‘memaksa’ masuk.
“Itu urusan pribadiku dan tidak ada urusannya denganmu.”
Ree tidak akan mudah mengatakan apa yang terjadi sebenarnya padanya.
“Frigid, Ree apa yang kalian sedang bicarakan? Nampaknya seru, apa aku boleh bergabung?”
Suasana antara Frigid dan Ree seketika berubah drastis karena kedatangan Alexander dengan senyum secerah mentari di wajah pria yang seolah tidak tahu padahal mengerti situasi.
Sejak tadi Alexander yang berada cukup jauh dari keberadaan Frigid dan Ree terus melihat keduanya yang saling mengobrol dengan Yohan dan Yohanna. Namun sesuatu yang janggal dirasakan oleh Alexander ketika hanya ada Ree dan Frigid berdua.
“Tidak, kami tidak membicarakan hal yang menyenangkan jadi karena itu aku harus pergi dulu.” ucap Ree tanpa ingin banyak mengulur waktu bersama dengan dua pria dan langsung pergi menghampiri Liliana yang mana otomatis Alexander tidak akan bisa masuk ke dalam wilayah itu.
Kini tinggal Frigid dan Alexander berdua.
“Jadi apa yang kalian bicarakan?” tanya Alexander menghilangkan hawa menyenangkannya barusan dan berubah drastis menjadi sangat serius.
Sorot mata Frigid tidak kalah serius ketika pertanyaan Alexander tiba-tiba tidak terdengar menyenangkan.
“Bisa kamu jelaskan kenapa Ree tidak dapat ditemukan beberapa hari lalu?” tanya Frigid.
Sekujur tubuh Alexander mejadi dingin dan beku. Sorot mata Frigid membuat bulu kuduknya menjadi merinding. Kedengaran seolah ‘peduli’ tetapi dibalik pertanyaan itu Alexander sama sekali tidak merasa adanya kepedulian Frigid terhadap orang lain.
Namun tidak diketahui apa maksud dibaliknya.
Di lain sisi mau tidak mau mulut Alexander harus menjawab.
*
*
*
Sebenarnya Ree lelah, ia baru saja kembali dari hutan tempat kelas Berburu berlangsung. Matanya berkali-kali hampir menutup secara tak sadar karena terlalu lelah, namun ia juga sadar sedang berjalan mengikuti langkah seorang pemuda yang membawanya ke ruangan pribadi pemuda itu sebagai seorang pengajar di akademi.
Beberapa menit yang lalu Ree dipanggil oleh Millesimun untuk mengikuti pria itu ke ruangannya untuk hal yang tidak Ree ketahui.
“Maaf, aku tahu jika kamu pasti lelah saat ini.” ujar Millesimun sembari membuka pintu ruangannya.
“Tidak masalah profesor.” jawab Ree.
“Alasan saya memanggilmu tidak lain adalah ada yang ingin bertemu denganmu saat ini.” ujar Millesimun sembari menunjukkan seseorang yang sangat familiar bagi Ree yaitu Roche yang merupakan kepala akademinya yang lama.
“Profesor Roche? Kenapa?” tanya Ree yang merasa kantuknya sudah hilang karena kaget menatap Roche duduk di ruangan Millesimun.
“Apa kabar Ree? Penampakkanmu tidak pernah rapi ketika mengikuti kelas di luar ruangan.” timpal Roche sembari menghampiri Ree.
Memang benar apa yang dikatakan Roche terkait penampilan Ree. Wajah lusuh dengan dan mata yang lelah, seragam khusus berburu yang sedikit bau karena keringat. Ciri tersebut sudah menjadi penampilan khas Ree sejak di Akademi Litore jika ikut kelas yang berada di alam liar.
*
*
*
Makan siang akan selesai dan para murid akan melanjutkan kelasnya termasuk Marco yang sebentar lagi akan masuk ke kelas Bahasa Asing. Namun gelagat pria itu terlihat gelisah di depan kelas seolah mencari keberadaan seseorang.
“Marco, apa yang kamu lakukan di depan kelas dan tidak masuk saja. Kamu menghalangi orang yang mau masuk ke dalam kelas.”
Marco tersentak kaget, teguran Frigid memang tidak keras namun cukup membuatnya kaget hanya dengan kehadiran pria itu.
“Frigid, aku masih menunggu Ree. Sejak selesai kelas Berburu dan istirahat makan siang ia belum kembali dari ruangan profesor Millesimun.” jawab Marco resah dan masih menatap lorong kelas yang mulai sepi karena beberapa kelas sudah di mulai.
Frigid juga mengikuti arah pandangan Marco, belum ada tanda-tanda kehadiran Ree yang akan muncul dari kerumunan orang-orang yang berlalu lalang di koridor.
“Jika kamu terus berdiri disini, profesor Ken akan datang dan melihatmu. Lebih baik kamu masuk saja dan biar aku yang mencari.” ujar Frigid.
“Tu-tunggu Frigid, apa kamu ingin absen dari kelas profesor Ken?! Beliau tidak pernah toleran pada murid yang absen.”
Kecemasan Marco bertambah ketika mengingat sistem penilaian pengajar mereka yang sangat ketat. Niat hatinya menunggu Ree adalah agar perempuan itu tidak mendapat nilai buruk pada kelas hari ini akan tetapi disisi lain Marco tidak mungkin menunggu di depan pintu kelas.
“Tenang saja, katakan saja kami ada urusan senat. Selebihnya aku akan bicara pada profesor Ken.” ucap Frigid tenang sembari pergi dari depan kelas.
Di antara rasa cemas, ketakutan, dan bingung Marco mengantar kepergian Frigid mencari Ree.
“Apa dia sepeduli ini dengan orang lain?” tanya Marco heran.
*
*
*
Lembab namun tidak sepenuhnya gelap, sepi namun tidak sepenuhnya sunyi tanpa suara. Hanya suara tetesan air dari keran yang sudah berkarat satu-persatu menetes hingga membuat lantai basah dan berlumut dalam waktu yang lama hingga saat ini. Sinar matahari yang seharusnya bisa menembus langsung ke dalam ruangan melalui jendela ternyata terhalangi oleh beberapa papan yang dipaku permanen untuk mencegah akses masuknya seluruh cahaya.
Namun, bukan suasana tempat itu yang membuat wajah Ree pucat pasi dan hampir kehilangan napasnya. Bukan karena mengingat kelas profesor Ken yang ia lewatkan hari ini membuat tubuhnya berkeringat dingin dan bergetar kecil. Melainkan sosok yang memiliki surai hitam panjang terurai begitu saja hingga hampir menutup wajah Ree maupun si pemilik, juga cengkraman kuat dari tangan yang sedang mengunci pergerakan kedua tangan Ree hingga membuat wanita itu harus terhimpit antara lantai dan seseorang yang tidak ia kenal.
“L-lepaskan!!” ringis Ree menahan perih dan ketakutan.
Belum lama setelah ia bicara panjang lebar dengan Roche dan berniat kembali ke gedung A untuk mengikuti kelas Bahasa Asing, tiba-tiba saja sebuah bayangan hitam menarik tangannya dan membungkam mulutnya lalu menyeret dan menghempaskan tubuhnya ke lantai hingga berakhir menjadi seperti ini.
Suasana koridor gedung yang sepi membuat tak satupun telinga orang lain mendengar seruan Ree.
Siapa laki-laki ini? kenapa ia tiba-tiba saja menyerang dan memperlakukan Ree seperti ini?
“Si-siapa kamu?” tanya Ree.
Sorot mata penyerangkan tidak dapat Ree terka apa artinya. Ia hanya dia menatap Ree dan bicara apa-apa namun cengkraman di lengan Ree tidak melemah sedikitpun. Bahkan berontakpun tidak mempengaruhi diamnya pria itu.
“Aku hanya penasaran, kenapa Alexander mau menggunakanmu.”
Ia bersuara cukup berat, matanya tajam memaksa Ree untuk ikut menatapnya tanpa peduli bahwa Ree sudah berada di ambang batas kemampuannya untuk berkontak fisik dengan laki-laki.
Ree ingin berteriak histeris bahwa ia saat ini merasa jijik dan ingin lepas dari cengkraman pria misterius itu. Berada di tengah-tengah kepanikan dalam hati, Ree juga harus berusaha menenangkan dirinya agar kepalanya tidak kosong dan sulit memikirkan jalan keluar.
“Alexander tidak pernah seperti ini sebelumnya, ia tidak peduli mau ia didekati atau dijauhi oleh orang-orang. Cepat katakan, apa yang kalian berdua sepakati hingga bisa sering terlihat bersama?”
__ADS_1
“A-apa kamu bisa menjauh terlebih dahulu baru aku b-bisa menjawab p-pertanyaanmu?”
Setidaknya Ree masih memiliki kempuan untuk menawar.
Pria itu memiringkan kepalanya, nampak tersenyum tipis dan tidak lupa tatapan tajam yang langsung menusuk Ree saat ini juga.
“Kenapa? Dekat seperti ini bertujuan agar kita saling mendengar satu sama lain dan tidak akan terjadi kesalahan dalam komunikasi.”
“A-alasan konyol.” timpal Ree geram dan masih berusaha melepaskan lengannya dari cengkraman.
“Ada apa?” tanya pria itu semakin mendekatkan wajahnya pada Ree hingga menyisakan jarak beberapa milimeter di antara hidung keduanya.
Ree tidak bisa lagi menahannya, hingga seluruh tubuhnya perlahan-lahan bergetar dengan jelas dan keringat dinginnya tidak kunjung berhenti mengalir. Tarikan napas yang awalnya tidak terdengar perlahan menjadi kasar beriringan dengan naik-turun dada Ree.
“T-tolong menjauhlah dariku, J-jangan se-ntuh aku.”
Ree sangat merasa risih dan geli ketika deru napas pria tak dikenalnya itu mengenai kulit wajahnya. Membuat Ree bahkan tidak mampu membuka matanya untuk menatap pria aneh itu.
“Hei, lihat aku.” perintah pria itu ketika Ree hanya memejamkan matanya dan menoleh ke kanan-kiri untuk menghindari.
“Men-menjauh dariku, kamu menjijikan!!” seru Ree sembari membenturkan kepalanya tepat pada lawan bicaranya hingga pria itu melompat dari atas tubuh Ree dan meringis kesakitan pada kepalanya.
Sama seperti pria yang di depannya, Ree perlahan duduk dan mundur sembari menahan sakit di kepalanya. Ia tidak punya pilihan sebelum ia malah tidak sadarkan diri dan diperlakukan aneh-aneh oleh orang yang sama sekali tidak ia kenali itu.
“Haah~ su-sudah ku katakan untuk menjauh.” ucap Ree sembari mengusap air matanya yang sempat keluar dan sedang mengatur napasnya.
Ree tidak menyangka jika ada murid laki-laki yang memiliki surai sepanjang pinggang dan lurus hitam di akademi ini terlebih sifatnya yang gila dan aneh. Namun ketika murid laki-laki itu menyebut nama Alexander membuat Ree bisa sedikit menyimpulkan kemana arah permasalahannya.
“Kenapa kamu bertanya tentang A-Alexander?” tanya Ree sembari menutup mulutnya yang sebenarnya sudah bergetar sejak tadi.
Menatap pria misterius di depannya itu masih terduduk sembari memegang kepalanya lalu sedikit mengangkat pandangannya yang tajam tepat ke arah seorang perempuan yang sedang meringkuk di dinding tak jauh di depannya.
“Aku hanya ingin tahu-.”
“Berhenti di-disitu! Jangan mendekat lebih dari itu!”
Perintah Ree langsung menghentikan pria itu untuk maju mendekati Ree.
“Servio, cukup dengan candaanmu kali ini.”
Suara ini terasa lebih rendah dan menekan dibanding pria yang memiliki surai panjang itu, namun tidak terdengar asing di telinga Ree karena ia sudah sering mendengar suara datar dan penuh misteri itu.
“Heehh~ Frigid rupanya dan Alexander? Kenapa kalian bersama? Apa karena perempuan ini? Apa yang aku lihat saat ini adalah lelucon?”
Mata Servio yang sayu itu menatap kehadiran Frigid dan Alexander yang berhasil menemukan mereka lalu tersenyum penuh misteri pada lawan bicaranya yang baru bergabung itu.
“Ree!!”
Ree tersentak kaget ketika suara Liliana dari balik tubuh Alexander dan Frigid muncul tanpa rasa takut terhadap Servio. Liliana begitu cemas dengan keberadaan Ree yang belum juga kembali dari ruangan Millesimun. Ia pun berinisiatif untuk menyusul Ree dan malah bertemu dengan Alexander yang bersama dengan Frigid.
Hingga pada akhirnya mereka bertiga berlari menyusuri ujung lorong gedung B dilantai satu yang seluruh ruangannya tidak lagi terpakai dan menjadi gudang penyimpanan persis seperti tempat Ree berada saat ini.
Penyebab mereka dapat dengan cepat menemukan keberadaan Ree tidak lain adalah dari Servio sendiri. Alexander merupakan ketua divisi keamanan di senat dan Servio merupakan bagian dari divisi keamanan senat yang menjaga gedung B.
“Ree, kamu tidak apa-apa?” tanya Liliana sembari membantu Ree untuk berdiri karena perempuan itu hanya mengatakan ia baik-baik saja namun berbanding terbalik dengan apa yang terlihat.
Ree jelas tidak baik-baik saja, dari telapak tangan Liliana yang membantu Ree berdiri ia dapat merasakan betapa bergetar hebatnya tubuh temannya itu dan nampak Ree sedang kesulitan untuk bernapas dengan tenang.
“Aku baik-baik saja.” Bisik Ree.
Apa yang dibutuhkan Ree saat ini hanya udara segar dan ruang dimana ia bisa sendiri untuk menenangkan diri. Bayangan Servio terus membuat tubuhnya merinding dan semakin sulit membuat getaran tubuhnya berhenti.
“Eh, padahal sedikit lagi aku bisa menyimpulkan sesuatu terkait perempuan ini.” ujar Servio sembari bangkit berdiri dan menghampiri Ree dan Liliana.
Cengkraman Ree terasa kuat pada lengan Liliana seiring dengan langkah Servio yang mendekat hingga saat bayangan tubuh Servio menimpa kedua gadis itu.
“Senior, coba kamu lihat aku.”
Servio merendahkan kepalanya hingga bisa sejajar dengan wajah Ree.
Surai panjang itu menutup hampir dari seluruh wajah, namun sorot tatapan tajamnya masih sangat terasa hingga membuat Ree sedikit goyah karena ketakutan, ia memilih tidak mendengarkan perkataan Servio.
“Servio, tolong berhenti melakukan hal yang tidak sopan.”
Frigid maju meraih bahu Servio, memundurkan posisi pria itu agar menciptakan sedikit jarak untuk Ree dan Liliana bernapas bebas.
“Frigid, kamu pura-pura bodoh atau sebaliknya? Bukannya kamu yang menginginkan sistem campuran ini berjalan lancar tanpa ada hambatan?” tanya Servio yang masih menatap Ree.
“Maaf Servio, aku tidak mengerti maksud dari ucapanmu. Aku memang menginginkan semuanya berjalan lancar tanpa hambatan, tapi saat ini bukannya kamu sendiri yang menyebabkan hambatan itu tercipta?” tanya Frigid.
Servio perlahan menyeret sorot matanya tetap pada Frigid yang juga melakukan hal yang sama. Ujung bibir Servio sedikit tertarik dan menciptakan seringaian tipis di sana.
“Senior, aku akan perlihatkan siapa hambatan di sini.” ujar Servio.
Tiba-tiba saja Servio mengulurkan telapak tangannya tepat di hadapan Ree hingga membuat seluruh orang yang ada di dalam ruangan itu termasuk Alexander yang masih di depan pintu masuk bingung.
“Senior, ayo salaman sebagai tanda perdamaian kita.” pinta Servio santai.
Berjuta-juta kali Ree terpaksa harus mengutuk orang yang ada di hadapannya saat ini. Untuk dalam beberapa alasan yang masih tidak Ree ketahui, Servio sepertinya bisa menyimpulkan bahwa Ree memiliki kekurangan dalam berhadapan dengan lawan jenis. Entah bagaimana cara Servio menyimpulkan hal tersebut, pria itu hanya ingin menunjukkan kelemahan Ree pada semua orang yang ia kenal.
“Servio.”
“Frigid, aku hanya ingin berdamai dengannya. Apa tidak boleh? Aku berjanji tidak akan mengganggunya lagi jika ia memaafkanku. Gampang kan?”
Kali ini Frigid menatap Ree yang masih membuang muka untuk tidak menatap Servio.
“Bagaimana Ree?” tanya Frigid.
“Senior, kamu tidak mungkin membuat seseorang yang ingin meminta maaf dengan tulus menunggu lama bukan?” tanya Servio.
“Atau seperti yang ada di pikiranku saat ini adalah senior, kamu membenci laki-laki, benar begitu?”
Belum lama Servio menyelesaikan kalimat terakhirnya suara tamparan sudah mengisi ruangan yang beriringan dengan balasan telapak tangan yang terulurkan untuknya.
Ree menyambut jabat tangan dari Servio dan langsung menampar pipi pria itu.
“Kamu menjijikan.”
Lalu Ree langsung menarik Liliana untuk pergi dari ruangan itu tanpa peduli bagaimana reaksi terkejut orang yang ia tampar dan mereka yang melihat perbuatan Ree.
“Aku menganggap semuanya sudah selesai.” ujar Frigid lalu menyusul langkah Ree dan Liliana untuk pergi meninggalkan ruangan itu dan menyisakan Alexander serta Servio yang masih terkekeh karena cukup terkejut dengan perlakuan Ree tiba-tiba.
“Apa kamu senang?” tanya Alexander miris.
“Hehehehe, aku tidak pernah ditampar oleh perempuan sejauh ini. Alex, jika kamu bosan, kamu bisa berikan dia padaku.”
To Be Continued.
__ADS_1