
Kereta uap yang membawa Syricie sudah lama pergi, namun Smith masih belum meninggalkan stasiun seolah sedang menunggu seseorang datang. Orang yang ia tunggu itu muncul di hadapannya setelah turun dari kereta yang baru saja tiba.
“Tuan Smith,” sapa orang yang memakai setelan jas serba hitam itu.
“Kita bicara di tempat lain saja.” ucap Smith karena bahan yang mereka bicarakan tidak sekedar menanyakan kabar semata.
Tak jauh dari stasiun kota, terdapat banyak café dimana di tempat itulah menjadi tempat yang nyaman untuk saling mengobrol dengan beragam topik. Sama seperti yang lain, Smith dan satu orang rekannya mengunjungi sebuah café yang cukup sepi lalu memesan secangkir kopi sebagai pemanis obrolan.
“Ternyata permasalahannya ada pada nyonya Dandelia. Itu mengapa nona Ree sendiri nampak sangat kesulitan.” ucap Smith ketika ia mengetahui penyebab pertunangan antara Ree dan Servio terjadi.
“Tidak hanya itu, terjadi kesepakatan bisnis di antara keluarga memperkuat alasan pertunangan antar keluarga harus dilakukan.”
Smith mengerti penjelasan orang suruhannya itu. Dandelia merupakan ibu Servio yang sudah diketahui sakit keras tentu saja membuat Servio mau melakukan apa saja demi kesembuhan ibunya dan pihak keluarga Lumen yang bertugas mencari obat itu juga memerlukan tenaga tambahan dimana keluarga Florence memiliki kekuatan itu.
“Entah kenapa kasus nona Lumen ini cukup sulit dan bisa saja sama sulit dengan apa terjadi dengan Frigid.” ucap Smith merasa geli.
Kedua orang yang ia kenal berada di situasi yang cukup rumit di usia yang masih muda itu membuat Smith tak habis pikir.
*
*
*
Kenangan saat dimana seorang yang asing datang ke rumahnya lalu mengatakan akan memberi kesembuhan untuk Frigid membuat Smith muak. Wanita yang seusia ibunya datang secara tiba-tiba seolah memberi harapan padahal dibalik harapan yang diberikan itu adalah hutang yang sangat besar.
Smith dan ibunya kompak menentang keputusan sang ayah ketika ‘menjual’ Frigid seperti itu.
“Bagaimana mungkin Frigid dijual seperti ini, bagaimana ibu bisa hidup…” Smith sendiri hanya terdiam ketika mendengar ibunya menangis dengan keras karena tidak setuju dengan keputusan yang ayahnya buat dengan Agnesia.
“Smith, hentikan ayahmu itu. Ibu mohon sebelum semuanya terlambat. Ibu mohon selamatkan hidup Frigid…”
Kalimat itu terdengar sangat menyakitkan di telinga dan hati Smith. Bagaimana bisa air matanya ibunya dengan deras mengalir menangisi anaknya yang akan ‘dijual’ untuk orang lain.
“Berhentilah menangis, ini semua untuk hidup Frigid. Kita sendiri tahu bahwa tidak ada obat untuk penyakitnya di negeri ini!”
*
*
*
Smith memejam matanya, mencoba mengubur kenangan hitam putih itu dalam kepalanya agar tak menjadi penyebab sakit kepala.
Sampai saat ini, akibat keputusan gila itu membuat Smith harus menelan pil pahit karena akan kehilangan adiknya. Rasa menyakitkan itu tak hanya ia rasakan, melainkan menjadi suatu kenangan buruk dan luka yang tak pernah akan mengering dalam hati sang ibu.
“Lalu bagaimana dengan penyelidikanmu yang lain?” tanya Smith.
Pria yang menjadi rekan kerja Smith itu menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat dan tanpa menunggu lama Smith meraih amplop tersebut dan melihat isinya. Wajah Smith yang tenang itu menjadi kaget karena isi yang ada di selembar kertas tersebut.
Bukan masalah informasi biasa, melainkan satu jawaban yang ia cari selama ini sejak hari dimana masalah besar menimpa keluarganya.
Satu jawaban itu tak lain adalah harapannya dan jalan keluar untuk membuat ibunya bahagia, yaitu informasi tentang obat alternatif Frigid.
“Saya mendapatnya dari tuan Luceat yang mana mengikuti adiknya berlayar ke sebuah pulau dan pergi ke sebuah kota bernama Leafa.”
Smith menatap lembar surat itu takjub, dari semua hal di dunia yang ia cari selama ini. akhirnya ia menemukannya melalui Ree. Mungkin memang rasanya kebetulan, namun tidak Smith sangka bahwa dunia akan sesempit ini dimana ia menemukan orang lain yang ternyata peduli dengan adiknya.
Itulah mengapa, Smith menaruh perhatiannya pada Ree.
*
*
*
Namun, nampaknya kebahagiaan itu nampaknya hanya Smith yang merasakannya. Sementara Ree masih kesulitan. Sore ini lagi-lagi ia tidak bisa pulang begitu saja ke asrama setelah seharian ada di akademi.
Lagi-lagi rasa sesak dan tak nyaman itu membuat Ree harus terduduk di sisi lorong akademi yang sudah sangat sepi itu. Satu tangannya memegang bingkai jendela lalu tangan kirinya terus-menerus mengusap dadanya agar tenang.
Ia benci dengan dirinya yang sakit seperti ini, dimana saat mengingat masa lalu dan apa yang terjadi saat ini membuat Ree merasa sakit. Pikir Ree ia akan baik-baik saja selama ia tidak melihat orang-orang yang membuat luka, namun tetap saja ada batasan pada dirinya dimana ingatan-ingatan lama kembali bermunculan.
__ADS_1
Ree merindukan Litore. Ia merindukan asramanya yang hanya dipenuhi oleh teman-teman sesama perempuan. Rasanya udara di La Priens sangat tipis dan membuat Ree sulit untuk bernapas.
Setiap akan kembali ke asrama membuat Ree terbebani karena harus bertemu dengan orang lain terutama Servio. Memikirkan hari dimana Servio jujur padanya membuat Ree kembali merasa terkhianati. Hidupnya saat ini ia rasa sebagai jaminan atas apa yang keluarganya sedang lakukan.
“Kenapa kamu ada di sini?”
Di tengah rasa sakitnya Ree masih bisa menegur orang yang datang menghampirinya.
Pemilik surai hitam pendek itu, menangkap sosok Ree yang terlihat sangat tidak baik-baik saja jika dilihat dari bola matanya yang seperti ikan mati.
Sejujurnya Frigid tidak kebetulan muncul di hadapan Ree. Ia sudah lama berada di balik dinding dan memperhatikan wanita itu. mungkin awal kedatangannya memang kebetulan, namun Frigid tidak berniat pergi ketika melihat orang yang ia kenal itu terlihat menderita.
Wajah resah wanita itu tidak ia sukai dan ekspresi yang sangat Frigid benci.
“Kenapa kamu diam dan tidak pergi? Ini bukan seperti apa yang kamu pikirkan itu.” Ree dengan cepat mengusap air matanya yang sempat mengalir akibat ketakutannya.
Pertikaian antara dirinya dan Frigid disebabkan oleh kelemahan Ree yang tidak bisa bertahan di lingkungan campuran yang mana lebih banyak laki-laki dari pada perempuan.
“Ah, apa jangan-jangan kamu bersikap untuk peduli terhadap orang lain?” tanya Ree tak menyangka.
“Aku saja sudah tidak lagi peduli dengan hidupku, untuk apa aku mempedulikan hidup orang lain.” jawab Frigid datar.
Ah, benar juga. Entah mengapa mendengar cara Frigid memandang hidupnya membuat Ree lega.
“Jika begitu, seharusnya kamu pergi saja.” Ree nampaknya masih betah duduk menghadap dinding dari pada pulang ke asrama untuk makan malam.
Frigid mendekati Ree dan berdiri di samping wanita itu. Memandang halaman akademi yang hanya tersisa satu-dua murid yang juga ingin kembali ke asrama.
“Aku heran padamu.” ucap Frigid tiba-tiba.
Tentu saja yang diherankan di sini adalah Ree yang sedang memainkan ujung mantel coklatnya itu.
“Aku sudah tau apa yang kamu perbuat.”
“Kali ini apa yang kamu curigai padaku? Aku sama sekali tidak ada membuat pergerakan lagi.” ucap Ree heran.
Frigid mengalihkan pandangannya dan menatap pucuk kepala wanita yang masih duduk di bawah kakinya itu.
“Tentang obat alternatif dari getah pohon itu.”
Lihat, kedua mata Ree nampak sembab dan bengkak akibat menangis. Frigid cukup takjub karena melihat orang yang menangis saat ini.
“Oh, itu… aku sudah tidak melakukan apa-apa terkait itu.” jawab Ree.
Hal itu juga Frigid tahu, karena mulut Yohan dan Yohanna yang tidak bisa tertutup di depan dirinya yang membuat Frigid tahu. Ree meminta Yohanna yang melanjutkan penelitian tentang obat itu.
“Lagipula itu bukan murni kesalahanku, eh. Apa itu bisa dikatakan kesalahan?” Ree beranggapan semua berawal dari Liliana yang diam-diam menyelidiki dan Ree malah di omeli karena dikira pengguna.
Mengingatnya membuat Ree terkekeh kecil, tentu saja kekehan itu masuk ke telinga Frigid. Belum lama ini wanita itu menangis, kini malah tertawa kecil di sampingnya hingga membuatnya menatap wanita yang sedang terkekeh itu dengan heran.
Frigid sendiri tidak pernah seperti ini sebelumnya meskipun masalahnya sangat berat.
“Apa aneh melihatku tertawa setelah menangis?” tanya Ree menyadari tatapan dari Frigid.
“Apa yang kamu pikirkan? Semua orang itu memiliki keanehannya masing-masing.” ucap Frigid santai sembari menatap bulan yang hampir purnama dalam beberapa hari lagi. Tak terasa dari sore dan saat ini sudah sangat gelap bahkan jam makan malam terlewati begitu saja.
Bahkan Ree bisa melihat bulan itu dari jendela meskipun ia tengah terduduk. Cahaya bulan itu cukup terang hingga menerangi sekeliling akademi yang gelap, wajah Ree juga disirami oleh cahaya saat ia tengah menatap bulan tersebut.
Apa takut dengan laki-laki adalah suatu keanehan dan wajar saja?
“Kamu mungkin bisa menjadi penengah di setiap masalah orang-orang di sekitarmu. Namun, saat ini apa kamu sanggup melakukannya? Aku harap kamu tidak lupa apa yang sudah kamu pertaruhkan padaku.”
Meski mengatakannya tanpa ekspresi, tetap saja Ree merasa kesal pada ucapan blak-blakan Frigid itu. tentu saja ia tidak lupa. Ia sendiri bertahan di La Priens agar ia bisa berubah dan itu merupakan sebuah tantangan untuk dirinya sendiri serta untuk menyelamatkan dirinya dari keputusan Frigid yang semena-mena mengeluarkannya dari La Priens.
“Tetap saja aku tidak akan lupa, itu juga mempertaruhkan harga diriku di hadapanmu. Saat ini memang rumit, namun bukan berarti menghalangiku untuk berubah. Tentu saja aku akan lulus tanpa masalah di La Priens dan akademiku.” Tekad Ree sudah terlanjur bulat. Meski luka lamanya muncul kembali, bukan berarti langkah Ree harus mundur karena sakit hatinya.
Meski berulang kali merasa sesak dan sulit bernapas serta harus menangisi diri, tetap saja Ree berharap semuanya akan berlalu dan menempa dirinya menjadi lebih kuat lagi.
“Juga… Jangan terlalu percaya diri ketika aku melanjuti penelitian tentang obat itu. mungkin semuanya berawal darimu, tapi aku melakukannya untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Mendengarmu mengetahui itu memang menyebalkan, tapi aku tidak pernah melarang Yohanna untuk memberitahu padamu.” lanjut Ree yang nampaknya sudah kembali ke dirinya semula.
Frigid tak percaya secepat itu perubahan emosi Ree, ia hanya diam memperhatikan wanita yang berusaha bangkit berdiri dan bersiap untuk kembali ke asrama sebelum menjadi masalah.
__ADS_1
Entah mengapa Frigid merasa lebih baik mendengar omelan Ree seperti itu dari pada wanita yang menangis sebelumnya.
Namun, setelah mengetahui semuanya bukan berarti Frigid membenci tindakan Ree seperti ini bahkan sampai orang-orang di sekitarnya juga ikut membantu Ree.
Ia tidak membenci semua itu.
Namun, apa yang Ree lakukan ini di mata Frigid mirip dengan apa yang selalu Margaretha lakukan padanya. Ia tidak menyukai ketika ada orang lain memprioritaskan hidup Frigid dibanding dirinya sendiri. Frigid tidak mengerti bagaimana pola pikir orang yang peduli dengan hidup dengan orang lain, terlebih miliknya. Tidak adakah hal lain yang harus mereka prioritaskan?
Itu membuat hati Frigid sakit.
Seharusnya tidak ada yang peduli dengan hidup Frigid.
Tidak ada yang perlu dihargai dalam diri Frigid.
Karena jika ada, akan sulit bagi Frigid untuk membalas semua kebaikan dan rasa sayang itu.
Frigid merasa ia tak pantas memiliki orang yang menyayanginya, karena setiap apa yang ia cintai tak akan pernah jadi miliknya.
Malam itu, cukup dingin dan memilukan ketika Frigid kembali mengingat betapa menyedihkan hidupnya. Sementara bagi Ree, merupakan satu malam yang membuatnya harus tetap melangkah maju menerjang permasalahan yang ada.
*
*
*
Deburan ombak cukup tinggi menerjang dermaga tempat kapal yang dipimpin oleh Brina Lumen itu berlabuh. Cuaca di pelabuhan kota Leafa cukup buruk hari ini, namun tak mengurungkan niat Luceat untuk pergi melanjutkan perjalanannya menyusul armada besar keluarga mereka.
Sudah satu bulan dimana Luceat memilih untuk menemani dan mengawal Brina dalam perjalanan tunggalnya memimpin sebuah kelompok pelaut hingga sampai ke kota Leafa.
“Apa kakak yakin akan berlayar hari ini?” tanya Brina yang sebenarnya cukup khawatir melihat mendung di sepanjang pelabuhan.
Mendengarnya hanya membuat Luceat tertawa.
“Kamu pikir aku ini pemula di lautan? Brina, kakakmu ini sudah lebih lama berlayar memimpin armada sendirian dibanding kamu. Pelayaran pertamamu ke pulau ini juga sudah bagus. Semuanya akan tergantung pada dirimu sendiri setelah ini.” ucap Luceat sembari menepuk kepala Brina untuk menunjukkan apresiasinya pada adiknya satu itu.
“Haah… Tapi aku lebih mengkhawatirkan perasaanmu karena akhir-akhir ini banyak masalah rumit yang keluarga kita hadapi.”
Brina menatap kakaknya dan paham maksud perkataan Luceat membuat Brina merenung.
“Aku juga kurang mengerti kakak. Keluarga kita tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku tidak tahu kenapa aku dan kakak Ree menjadi sasaran atas pernikahan politik yang jarang keluarga kita lakukan. Bahkan paman dan bibi tidak mengeluarkan protes mereka sedikitpun.”
Brina ingat dimana malam itu ia bercerita cukup panjang dengan Ree. Situasi keluarga yang tiba-tiba menjadi aneh begini malah memberi tekanan pada anak-anak perempuan seperti mereka.
Mendengarnya membuat Luceat ikut terdiam. Meski ia tidak tahu sejauh mana Ree dan Servio saling mengenal, meski ia juga merasakan sakit dalam hatinya ketika dihadapi kenyataanya seperti ini.
Ia membuat Ree tersakiti dan harus kembali melihat Ree terluka.
“Tapi aku tahu, kakak Ree pasti melakukan sesuatu. aku sendiri tahu bahwa kakak Ree tidak ingin hidupnya di atur.”
Brina merasa masih ada harapan untuk Ree dalam menjalani hidup. Karena ia percaya akan saudaranya itu pasti melakukan sesuatu.
“Nampaknya aku akan pergi ke tempat mereka mencari obat itu.” ucap Luceat memutuskan apa yang menjadi tujuannya saat ini.
“Eh, bukannya kakak akan pergi ke daerah utara?” tanya Brina bingung.
Rencana awal Luceat setelah mengantar dan mengawal Brina di pelayaran pertamanya memang begitu. Ia ingin menyelusuri daerah utara kerajaan Pulchra yang terkenal dengan iklimnya yang dingin. Namun, ada hal yang sangat menjadi prioritas penting dalam dirinya untuk memperbaiki segala kesalahannya pada Ree di masa lalu.
Ia ingin meminta maaf dengan caranya sendiri, dimana Luceat berniat membantu kelompok yang mencari obat Dandelia dengan cepat sebelum pernikahan Ree dan Servio yang akan diselenggarakan dalam dua tahun lagi setelah Servio lulus dari akademi.
Ucapan Brina tentang pandangannya terhadap Ree seolah menjadi satu jalan cara Luceat memperbaiki dirinya.
“Aku pikir ini juga agar bisa menyelamatkan Ree.” timpal Luceat sembari tersenyum.
Brina tersenyum cerah mendengar kakaknya yang juga ingin membantu Ree.
“Kakak benar! Ayo kita bantu kakak Ree dengan cara kita!” Brina juga tak akan menyerah.
Untuk pertama kalinya ia nekat mempimpin satu armada kapal dan menjadi kapten, tak lain semua berkat Ree yang meminta bantuannya. Brina sudah melangkah cukup besar untuk sampai titik ini. jika bukan dorongan akan bantuan yang Ree pinta, tak mungkin Brina menekatkan dirinya menerjang lautan yang sebenarnya belum terlalu akrab dengannya.
Brina bertekad untuk menetap sementara di Leafa setidaknya 3 bulan, mengamati obat yang Ree maksud serta menemukan titik pemecah masalah yang ada di kota. Jika bisa, Brina ingin memecahkan masalah itu agar Ree tidak kesulitan mendapatkan obat yang ia inginkan.
__ADS_1
To Be Continued.