We And Problems

We And Problems
Chapter 84 : Pihak Netral


__ADS_3

Chapter 84 : Pihak Netral


“Haa…”


Helaan napas itu tidak terlalu besar dan hanya terdengar oleh dirinya sendiri. Satu tangannya menenteng sebuah kantong berisi beberapa barang dan tangan yang lainnya berisi buah-buahan yang baru ia beli di pasar sore.


“Hei Ree, kamu baru datang?” tanya Yohanna saat menemui Ree di koridor. Wanita itu penuh dengan barang bawaannya dan tentu saja pemilik semua barang itu adalah milik Frigid yang sedang karantina di sebuah ruangan pribadi untuk melihat perkembangan kesehatannya.


“Ada beberapa pekerjaan di markas, terlebih orang itu sedang dirawat di sini, jadi aku mengambil beberapa pekerjaannya dan kini karena perjanjian bodoh itu, aku ada di sini dengan semua ini.” Ree mengangkat barang bawaannya dan membuat Yohanna takjud akan kerja keras Ree untuk terus bersama Frigid.


“Kamu sudah bekerja sangat keras Ree, aku akan mendukungmu, selalu.” ucap Yohanna sembari menepuk bahu Ree untuk sekedar menghibur wanita satu itu.


Meski sudah bertahun-tahun berteman dengan Frigid, ada beberapa hal yang tidak Yohanna pahami tentang temannya satu itu.


“Haa… terima kasih atas dukunganmu. Aku harus pergi dulu sebelum makan malam…” ucap Ree.


Ya, pilihan tak begitu banyak bagi Ree. ia tidak mungkin meninggalkan orang yang memintanya untuk tinggal. Apa yang ia lakukan saat ini, tanpa sedikitpun Ree berpikir untuk dibayar dengan harga. Ree hanya melakukannya selayaknya seorang relawan persis dengan tujuan ia datang ke sini.


“Apa kamu sudah bosan?” tanya Ree sembari membuka pintu kamar rawat Frigid dan melihat pria itu masih duduk di bangsal pasien sambil membaca buku yang kemarin Ree bawakan untuknya.


Seharian di ruangan yang sama, Ree sendiri sudah pasti akan bosan. Tapi mungkin berbeda dengan Frigid yang nampak betah-betah saja.


“Tentu saja tidak. Aku sudah terbiasa dikurung seperti ini. Ayahku sering mengurungku di kamar sejak kecil.”


Ree hampir lupa kalau Frigid ini hidupnya agak lain pengalamannya daripada anak-anak yang lain.


“Kamu sudah makan? Kamu tahu, hari ini banyak sekali obral buah-buahan, jadi aku membeli sedikit.” ucap Ree sembari mengeluarkan dan merapikan barang bawaannya. Mulai dari pakaian Frigid sampai makanan yang ia bawa.


“Kenapa kamu banyak membawa barang?” tanya Frigid heran karena barang yang dibawa Ree hampir semua barang miliknya.


“Kamu tahu sendiri kalau aku juga sambil magang… jadi bagaimana??” tanya Ree setelah selesai berbenah dan menghampiri Frigid.


“Apa kamu merasa sedikit ada perbedaan setelah berganti obat?” tanya Ree.


“Aku belum merasa perubahan yang signifikan, aku tidak tahu apa dosis yang diberikan wizzle memang sedikit demi sedikit atau bagaimana, namun yang ia beritahu adalah ia perlu waktu untuk beradaptasi dengan obatku sebelumnya.” jelas Frigid sembari memperlihatkan dirinya pada Ree.


Memang dimata Ree pun, tidak ada yang aneh. Wajah Frigid memang berkulit pucat dan tubuhnya tak begitu kurus. Nafsu makannya juga normal seperti biasa dan tidurnya cukup.


Apa yang Ree lihat dan dengarkan, dirinya bisa menyimpulkan bahwa keinginan tubuh Frigid untuk bertahan hidup memang luar biasa, meskipun mental pemilik tubuh itu kadang masih plin-plan.


“Tapi kamu masih berniat untuk melanjutkannya bukan?” tanya Ree sembari menutup gorden jendela ruangan Frigid karena hari sudah semakin gelap di luar dan angin laut sangat kencang sampai masuk ke dalam kamar karena jendela belum dikunci.


“Tentu saja, hidupmu juga menjadi jaminan disini.” ucap Frigid.


Iya, Ree hampir lupa kalau pria yang mengobrol dengannya saat ini berencana mengajak Ree mati juga. Bagaimana tidak, jika Frigid tidak berhasil dalam pengobatan ini dan mati, maka nyawa Ree sebagai jaminan harus menemani Frigid selama pengobatan juga terancam.


“Kamu benar-benar akan membuat peti mati kita bersebelahan dihari yang sama?! Aku tidak percaya…”


Mati dengan penderitaan dan sendirian.


Apa itu menjadi salah ketakutan yang mungkin tidak Ree mengerti dari Frigid.


Lalu, Ree yang harus menemani saat-saat itu juga?


Pria satu ini jelas kehilangan akal.


*


*


*


Kota Leafa, belum lama ini merupakan kota yang penuh dengan ketegangan politik di setiap sudut kotanya. Meski berlangsung cukup lama dan membuat hampir semua orang menderita terlebih orang-orang yang sama sekali tidak terlibat dalam isu politik, tapi hari-hari berat itu perlahan menghilang dari udara kota. Ree juga merasa sudah beberapa pekan meninggalkan Litore dan sempat kembali sebentar untuk mengantar keluarganya pergi ke Agnus juga tak menyangka waktu mengalir begitu saja tanpa menunggu.


Hari ini, Brina sudah kembali melabuhkan kapalnya di pelabuhan kota Leafa setelah dari perjalanan panjang penuh konflik di Agnus.


Kedua saudara itu saling berjanji satu sama lain untuk bertemu di sebuah restoran.


Tentu saja membahas tentang apa saja yang terjadi masing-masing pada keduanya.


“Cukup berat bagi keluarga dengan menerima keputusan kakak. Tapi, dia bukan orang yang bodoh juga untuk mengambil keputusan sebesar itu.” jelas Brina sembari mengaduk cangkir berisi tehnya yang baru datang. Brina berniat mencampurkan tehnya dengan susu agar lebih creamy.


Ree mendengarnya serta memahami apa yang sudah dilalui oleh keluarganya di Agnus. Keputusan dan hukuman yang diterima keluarganya.

__ADS_1


“Jadi, menurutmu bagaimana Asteria? Aku mungkin belum bertemu dengannya, tapi aku penasaran dengan sosok yang mampu membuat kakak seperti saat ini.” timpal Ree.


Iya, ia penasaran.


Meski bertahun-tahun ketakutannya berasal dari Luceat, tapi perubahan dalam diri Luceat itu membuat Ree juga tak percaya.


Entah mengapa Ree lebih merasa lega.


“Dia wanita biasa dari pedalaman Agnus. Aku tidak tahu drama apa yang terjadi dengan Asteria dan kakak. Tapi keduanya melewati masa-masa berat bersama. Asteria itu hampir saja diasingkan dan kakak keberatan dengan keputusan itu.”


Ree mungkin tidak tahu tindakan Luceat adalah caranya menebus kesalahan pada Asteria dan pada dirinya, mengambil Asteria sebagai istri untuk melupakan Ree mungkin alasan yang tidak diketahui.


Tapi mendengar kisah dari Brina tentang keputusan Luceat yang berani membuat Ree tersenyum mengagumi tindakan penyelamatan itu.


“Kakak Ree, bagaimana menurutmu?” tanya Brina penasaran dengan tanggapan Ree.


“Mengejutkan memang… anggota keluarga kita akan bertambah dan orang itu memiliki asal usul yang tidak biasa… aku tidak tahu apa yang ada dipikiran Asteria ketika menerima keputusan kakak, tapi jika keluarga kita sudah menerimanya, aku pikir akan mengikuti saja…”


Brina hanya mengangguk dan mencoba paham dengan pemikiran Ree. Pendapat Ree yang pasrah dengan keputusan keluarga memang sudah dapat Brina tebak. Ia sangat tahu dengan kakak sepupunya satu ini yang hidup ikut-ikut alur saja.


Meski akhir-akhir ini berbeda dan melawan arus di sungai lain.


“Tapi Brina,” Ree nyatanya belum selesai menyatakan pendapatnya.


Wanita itu menatap bayangan langit-langit restoran dari genangan teh di cangkirnya menampakkan desain lampu kristal yang klasik bergantungan diatasnya.


“Hukuman untuk keluarga kita pasti membuat paman dan ayah kesulitan. Kamu tahu sendiri bahwa Agnus merupakan pasar besar untuk keluarga kita.” timpal Ree yang juga menyadari bahwa hukuman untuk keluarga mereka sangat berpengaruh besar.


“Kita mungkin akan kehilangan banyak, tapi demi kakak… ayah merasa itu bukan apa-apa. Tapi, aku mendengar beberapa isu terkait penguasa baru dalam bidang impor ke Agnus.”


Tentu saja, jika ada tempat yang sudah dikosongkan, pasti akan cepat ada penggantinya. Jika keluarga pedagang Lumen tak lagi diperbolehkan untuk menginjakkan kaki mereka ke Agnus, makan hal itu merupakan udara segar para pesaing, terutama keluarga pedagang besar lainnya.


Sejauh yang Ree tahu, keluarga Heittblood lah salah satu kandidat terkuat.


Keluarga Viovarand dan Marco juga merupakan pedagang dan perusahaan swasta.


“Isunya keluarga Duke Cali yang akan menjadi penyalur ke sana.”


Di luar tebakan Ree.


“Mereka mengambil sebagian besar peran dan melalui keluarga Heittblood yang bersedia bekerja sama… begitulah tertulis di koran.” Brina mengeluarkan koran ibukota yang mengabarkan kerja sama kerajaan dengan perusahaan swasta milik keluarga Heittblood.


“Viovarand…” seketika Ree menjadi kepikiran tentang Viovarand.


Pria itu pasti sangat bekerja keras saat ini.


“Kita memang tidak memiliki masalah dengan keluarga Heittblood, karena ada hubungan baik antar keluarga, masyarakat menganggap keluarga Heittblood menikam kita dari belakang. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.” ucap Brina.


Itu benar, dalam serikat dagang kerajaan hubungan dua keluarga ini tidaklah buruk dan tidak juga terlalu akrab. Mereka hanya menjaga hubungan bisnis satu sama lain dengan baik dan tidak menginterupsi apapun urusan bisnis masing-masing.


*


*


*


Seperti yang Ree cemaskan, begitulah yang terjadi pada Viovarand semenjak ia memutuskan dan dipilih untuk menjadi penerus perusahaan sekaligus kepala keluarga, banyak yang sudah terjadi. Mulai dari belajar beradaptasi dengan dunia orang dewasa yang memusingkan sampai-sampai Viovarand tidak lagi merasa seperti orang diawal dua puluhan saat ini.


Kini dengan adik tirinya yang masih magang di perusahaan yang ia pimpin, berjalan berdampingan memasuki istana kerajaan karena suatu urusan.


“Entah mengapa aku merasa sangat gugup.” ucap Marco saat keduanya keluar dari mobil yang membawa mereka masuk ke dalam gerbang dan menurunkan di teras loby utama istana agar bisa lebih cepat menuju ruangan putra mahkota yang mengundang mereka.


“Buang rasa gugupmu itu. Orang yang akan kita hadapi adalah orang yang sangat merepotkan.” ucap Viovarand sembari merapikan dasi dan jasnya.


Viovarand tahu, semenjak ia memutuskan untuk lulus lebih dulu dari teman-temannya adalah jalan yang tidak mulus. Panggilan putra mahkota ini, sudah pasti membahas urusan perdagangan keluarga Heittblood yang akan menggantikan posisi keluarga Lumen dalam mengimpor barang ke Agnus.


Sosok pria bertubuh tegap itu sama sekali tidak terlihat gugup dan tegang seperti Marco. Ia tahu apa yang sudah menimpa keluarga Lumen, tapi seperti yang diketahui, bahwa urusan itu bukan urusan dirinya.


Setelah dibukakan pintu oleh penjaga pintu, barulah Viovarand dan Marco masuk bertemu putra mahkota kerajaan Pulchra yaitu Joan Brien Solistela.


“Akhirnya kamu bersedia datang setelah beberapa kali undangan aku kirimkan.” ucap Joan senang melihat kedatangan Viovarand dihadapannya saat ini.


Putra mahkota yang mengenakan kemeja putih resmi dengan pin emas di dada kirinya berlambang matahari sebagai tanda bahwa ia adalah penerus takhta selanjutnya itu memang sering mengirim undangan untuk Viovarand dan hanya Viovarand yang berani menolak undangan itu tanpa takut sedikitpun.

__ADS_1


Itu karena Viovarand benci dengan bisnis berbau politik.


“Karena saya memiliki prinsip untuk tidak mencampuri bisnis dengan politik kerajaan.”


Juga, hanya Viovarand yang berani menyambut ucapan Joan dengan berani tanpa takut bahwa jika ada salah satu kata dan tidak mengenakan di telinga pria bersurai panjang keemasan itu akan segera dipenggal kepalanya.


“Hahaha!!! seperti yang aku dengar bahwa penerus perusahaan keluarga Heittblood memang orang yang sangat berani. Lantas, apa yang membuatmu berubah pikiran hari ini untuk memenuhi undanganku?” tanya Joan sembari menghampiri Viovarand.


Undangan ini, tidak akan Viovarand penuhi jika tidak mempertimbangkan hubungan baiknya dengan keluarga Lumen. Lalu, saat mengingat nama keluarga itu, sosok Ree juga terlintas dalam pikirannya.


Wanita itu sudah menolongnya.


Balasannya mungkin tidak dapat mengimbangi, namun Viovarand hanya ingin melanjutkan niatan bisnis keluarga Lumen ke Agnus.


“Saya bersedia mengimpor produk ke Agnus tetapi dengan beberapa syarat.”


Tak berbasa-basi, Viovarand mengatakan alasannya datang.


“Memang banyak kabar yang beredar saat ini akibat peran yang besar keluarga Lumen tiba-tiba berakhir, syarat yang saya ajukan adalah pihak kerajaan dan keluarga Duke Cali tidak ikut andil dalam kegiatan impor kecuali untuk pajak. Saya akan tetap melanjutkan seperti sistem yang keluarga Lumen terapkan selama bertahun-tahun. Hanya untuk bisnis, tidak untuk semacam diplomasi atau sebagainya. Itulah syarat saya.”


Untuk menjadi pihak netral, Viovarand memang mengendus maksud lain dari tindakan Joan mengundangnya. Tapi hidungnya tak sampai pada asal bau itu.


Keputusannya untuk menjadi pihak netral juga demi mengamankan keluarganya.


“Saya ikut andil, bukan berarti sebagai pendukung dalam takhta kerajaan melainkan mendukung bisnis saya dan keluarga.”


Mengejutkan, tapi Joan juga tidak merasa terancam dengan penjelasan Viovarand.


“Baiklah, hanya itu syaratmu bukan? Menjadi pihak netral? Seperti yang kamu tahu, aku juga tidak memerlukan dukungan semacam itu. Bagaimanapun juga, aku akan menduduki takhta kedepannya dan dimana kita akan saling bekerja sama untuk kerajaan.” Joan tak ingin ambil pusing, jika ada orang yang tidak berniat mendukung ataupun melawannya, ya lepaskan saja.


Asal tidak menghalangi, itu sudah lebih baik dan tidak membuatnya lelah untuk menyingkirkannya.


“Ah, sebelum kalian pulang.” Joan kembali ke mejanya, menarik laci pertama di sebelah kiri dan mengeluarkan sebuah amplop dengan cap kerajaan.


“Karena kamu sudah bersedia ikut andil dalam bisnis yang menguntungkan kerajaan, kamu juga berhak mendapatkan undangan ini.” Joan memberikan amplop berisi undangan pesta itu ke Viovarand.


Sayangnya, udangan itu bukan pesta dari kerajaan Pulchra karena capnya berbeda, melainkan dari Agnus.


“Ratu Agnesia akan mengadakan perayaan ulang tahunnya dalam beberapa minggu lagi. Semua yang terlibat dan diperkenankan diundang, termasuk kamu Viovarand. Juga, selain ulang tahun, penobatan selir baru juga dilakukan.”


Viovarand memang tak terlihat terkejut dan Marco yang sejak tadi diam di belakang kakaknya menahan diri untuk tidak terkejut dan panik.


“Tapi mereka sedang magang saat ini.” ucap Viovarand.


“Hmm… ya begitulah, magang nampaknya akan dipercepat, terlebih adikku juga magang. Mereka pasti akan diberitahu.”


*


*


*


“Aku membawa surat kerajaan untukmu dan Yohanna.” ucap Maglina pada Yohan saat mereka sedang berada di kantor pemerintah kota Leafa. Saat itu hanya Yohan saja yang ada sementara Yohanna tengah pergi ke laboratorium untuk menjenguk Frigid.


“Terima kasih Maglina, nampaknya ini dari ayah.”


Tanpa menyuruh Maglina untuk pergi, Yohan dengan santai membuka amplop itu dan membaca baris demi baris kalimat yang tak memiliki basa-basi karena hanya tertulis yang intinya saja hingga membuat Yohan terlihat tertegun saat matanya masuk ke pertengahan isi surat itu.


“Pangeran, apa anda baik-baik saja?” tanya Maglina ingin memastikan bahwa tidak ada kabar buruk yang diterima oleh Yohan.


“Aku baik-baik saja… tapi ini tidak baik-baik saja untuk Frigid.” Ucap Yohan cemas setelah selesai membaca surat tersebut.


“Ini adalah surat perintah untuk mempercepat kegiatan magang karena urusan kerajaan. bersamaan dengan surat ini dikirim juga surat dari akademi.”


Kegiatan magang akan dipercepat dan semua murid harus kembali terlebih para murid dari keluarga bangsawan yang terlibat langsung dengan keluarga kerajaan seperti Frigid, Alexander, bahkan Servio.


Mungkin bagi sebagian murid, magang selesai dengan cepat maka penderitaan mereka di lapangan akan selesai. Namun, keputusan ini membuat murid lain merasa resah.


“Apa yang akan kamu lakukan Frigid??” tanya Yohanna terlihat begitu cemas setelah mereka berdua membaca surat dari kerajaan tentang undangan pesta ulang tahun ratu Agnesia.


Frigid terlihat diam memandang ke arah jendela yang menampakkan senja di kota Leafa sembari tangannya masih menggenggam surat yang barusan ia baca. Seolah sudah terendus, Frigid tahu ayahnya pasti melakukan sesuatu dengan semua ini, atau mungkin Agnesia lah yang mengatur semuanya.


“Untuk saat ini lanjutkan saja apa yang ada… lagi pula memang tak selamanya aku berada di Leafa.” ucap Frigid dengan suaranya yang tenang.

__ADS_1


Raut wajah pria itu memang tak bisa Yohanna tebak, seolah seperti permukaan air yang tenang dan tak bergelombang sama sekali, tapi sebenarnya menyimpan gelombang deras di dalamnya yang sangat kacau dan bisa menghancurkan diri sendiri.


To Be Continued.


__ADS_2