
Suasana asrama sudah sangat sunyi dalam beberapa jam yang lalu karena seluruh penghuni sudah kembali ke kamarnya dan beristirahat untuk melanjutkan kegiatan esok hari. Hampir seluruh lampu lorong asrama sudah dimatikan menandakan tiada lagi aktivitas yang perlu dilakukan.
Kesunyian jam malam setidaknya memudahkan seseorang yang sedang berjalan menyusuri lorong dengan bantuan sebuah lilin yang ia bawa agar tidak menarik perhatian apapun di sekitarnya. Langkah Frigid membawanya keluar dari gedung asrama menuju gerbang dimana sudah ada Alexander di sana menunggunya.
“Maaf, aku tidak tahu akan mendadak seperti ini.” ucap Alexander sembari membuka perlahan gerbang untuk Frigid.
“Mereka memang sedikit ‘berantakan’ dalam pengaturan waktu.” timpal Frigid.
Alexander menuntun Frigid menuju gedung B akademi dan ke sebuah ruangan yang cukup besar dan sudah terdapat beberapa pria paruh baya dengan sebagai pusat dari perkumpulan itu ada seorang pria yang sangat persis bentuk dan raut wajahnya dengan Frigid, jelas saja pria yang sudah beruban itu adalah ayah dari Frigid yang saat ini menjadi kepala keluarga Cali.
“Duduklah, tidak akan makan banyak waktu.” ucap ayah Frigid, Leonard Cali.
Tanpa menunggu lama Frigid pun memutuskan untuk duduk di kursi yang sudah disediakan untuknya tepat di hadapan meja ayahnya.
“Mungkin kamu sudah mendengarnya, bahwa bulan depan ia akan datang mengunjungimu sebelum membuat keputusan finalnya.”
Sorot mata Frigid tidak ada perubahan sama sekali meskipun ucapan ayahnya barusan cukup mengejutkan orang-orang di dalam ruangan itu termasuk Alexander yang mengantar Frigid.
Tentang siapa yang dimaksud, Frigid sudah mengerti. Tidak perlu ia terkejut, karena dari awalnya hidupnya sudah diputuskan untuk seperti ini.
“Hanya satu hal yang perlu kamu lakukan, jangan melakukan hal yang bisa merusak kepercayaan ayah padamu. Kamu sangat paham bahwa tugas ini demi negara kita dan banyak orang.”
Frigid hanya diam tanpa mengangguk dan menggeleng.
“Apa itu saja?” tanya Frigid terang-terangan. Jika hanya tidak melakukan hal yang merepotkan, maka ia sudah sejak dulu tidak melakukan apa-apa dan hanya melakukan sesuatu menurut aturan yang berlaku. Menurutnya, pesan-pesan ayahnya barusan tidak begitu penting untuk disampaikan di tengah malam seperti ini.
“A-apa? Apa kamu meremehkannya?” tanya Leonard hampir naik pitam karena melihat sikap santai Frigid.
“Leonard, jangan buat keributan malam-malam.” Tanpa diberitahu semua orang di ruangan itu sudah tahu siapa yang mencegah Leonard untuk memarahi Frigid, karena ia adalah kepala keluarga Northway ayah Alexander.
“Alexander,”
Seolah langsung mengerti yang dimaksudkan oleh ayahnya, Alexander pun mengangguk dan mengajak Frigid untuk kembali ke asrama.
*
*
*
Sejak malam hujan sudah mengguyur kota Cyrstallo dan membasahi seluruh permukaan tanah serta bangunan-bangunan di kota yang dikelilingi pegunungan dan hutan, meskipun merupakan ibu kota kerajaan, kota Crystallo cenderung tertutupi oleh alam disekitarnya.
Termasuk kawasan akademi La Priens, hujan dengan rintik teratur dan tidak nampak akan segera reda membuat kebanyakan siswa hanya bisa berdiam di lorong gedung dan membuat lapangan menjadi hanya terisi oleh rintik hujan yang membasahi seluruh rumput yang tumbuh di permukaannya.
“Jika sudah begini, kelas bisa saja dibatalkan.” ucap Marco ketika ia, Ree, Liliana dan Maglina berdiri berderet menghadap jendela lorong yang memperlihatkan betapa derasnya hujan yang membasahi seluruh lingkungan akademi.
“Aku pikir kelas Berburu akan nekat.” timpal Liliana.
“Aku sepemikiran dengan Liliana.” sambut Ree.
“La Priens tidak sekejam itu, tapi tetap saja akan ada pelajaran yang menggantikan kegiatan berkemah.” Marco tidak tahu apa yang dipikirkan para teman-temannya terkait akademi La Priens.
“Tetapi jadwal kelas berburu adalah satu hari lebih, apa ada kegiatan yang setimpal dengan berkemah?” tanya Ree.
“Atau mungkin kita akan berkemah di akademi?” tebak Maglina.
Ree dan Liliana kompak mengangguk.
“Tidak mungkin lahan akademi akan sebanding kejamnya ketika kita di gunung.” ujar Liliana.
“Akan lebih menyenangkan ketika kita libur saja.” ucap Ree penuh harap.
Alasan Ree mengatakannya adalah karena gemuruh guntur dan petir menambah buruknya cuaca hari itu. Namun nampaknya tidak bisa seperti yang Ree harapkan khususnya untuk dirinya sendiri. Hal itu terjadi ketika terlihat Alexander sudah memanggilnya untuk pergi.
“Aku pergi dulu.” ucap Ree sembari langsung melangkah meninggalkan teman-temannya.
Ketiga teman Ree hanya melihat gadis yang sedang berjalan menuju Alexander dengan tenangnya tanpa mempedulikan orang-orang disekitarnya.
“Dia benar-benar bertahan sampai sekarang.” ucap Maglina.
“Liliana, kamu masih mengeraskan hatimu?” tanya Maglina lagi menyikut teman sekamarnya itu.
Liliana tidak menghadap Maglina dan memilih diam menandakan tidak ingin berkomentar tentang Alexander ataupun hal yang menyangkut pria itu.
Menyikapi keputusan Liliana, membuat Maglina hanya mengangkat kedua alisnya sembari menatap Marco yang tersenyum canggung.
*
*
*
Sama canggungnya, meski Alexander sudah bercerita panjang pada Ree tempo hari di halaman depan asrama tidak merubah sikap Ree yang terasa lebih dingin dari biasanya. Perempuan bersurai coklat sebahu itu hanya diam melangkah disamping Alexander menuju ruang senat.
“Kenapa hari ini pertemuan senat sangat cepat?” tanya Ree membuka kesunyian diantara dirinya dan Alexander.
“Tidak seluruhnya, hanya anak-anak yang kelasnya dibatalkan saja.” jawab Alexander sembari membuka knop pintu ruangan besar yang menjadi tempat berkumpulnya seluruh anggota senat yang diketuai oleh Frigid.
Jika hanya para murid yang kelasnya dibatalkan, itu berarti mereka yang mengambil kelas luar ruangan seperti kelas Berburu. Terbukti perkataan Alexander barusan dengan apa yang Ree lihat di depan matanya. Ruangan luas itu tidak begitu padat dan hanya terisi oleh orang-orang yang sibuk dengan pekerjaannya di meja mereka masing-masing dan terlihat meja yang paling penuh dan sibuk adalah milik Frigid.
Kehadiran Ree dan Alexander tertangkap oleh mata Servio dan Frigid yang sedang membahas sesuatu.
“Hanya ini anggota keamanan yang senggang, karena kebanyakan masih mengikuti kelasnya masing-masing.” ucap Alexander yang sudah berada di depan meja Frigid. Sementara Ree hanya berdiam di belakang punggung Alexander yang bisa dengan baik menutupi tubuhnya.
Saat ini ia sangat tidak ingin mempertemukan kedua bola matanya dengan sosok Frigid.
“Tidak masalah, adanya beberapa orang sudah lebih dari cukup. Karena pihak akademi ingin meminta tolong menggiring tamu akademi yang datang nanti siang.” jelas Frigid.
“Memangnya siapa yang akan datang di hari hujan seperti ini?” tanya Servio yang kebetulan juga sedang luang waktunya.
“Alexander, kamu bisa menjelaskannya pada anggotamu.” ucap Frigid menyerahkan.
__ADS_1
“Akademi La Priens hari ini kedatangan tamu dari kerajaan Agnus untuk melihat sejauh mana akademi siap menjadi akademi campuran.” jelas Alexander.
Ree dan rekan-rekannya tidak heran jika sampai ada kerajaan lain mengunjungi akademi La Priens, karena akademi ini banyak menerima pelajar di luar kerajaan yang mana juga menguntungkan kerajaan di banyak sisi.
“Maka dari itu, kita akan menemani pengunjung resmi. Karena itu, akan dibagi beberapa kelompok satuan pengaman akademi.” lanjut Alexander.
*
*
*
“Ketika mendengar kabar akademi ini menjadi akademi campuran menjadi topik hangat di kalangan keluarga kerajaan dan bangsawan di Agnus, maka dari itu, ratu Ignasia langsung meminta kami mengunjungi Pulchra.” jelas salah satu pengunjung yang sedang berbicara dengan Frigid di baris terdepan.
Rombongan pengunjung terbagi menjadi dua, yang satu berada di gedung utama akademi sementara rombongan kedua berada di asrama pelajar.
“Pihak kementerian memang sudah lama ingin merealisasikannya, tidak ingin selalu berada di tempat yang sama, kami lebih ingin mengembangkan sistem pendidikan yang setara di Pulchra dengan akademi La Priens sebagai pemula kesetaraan itu.” Yang berbicara adalah kepala akademi, Jeremy El Grap.
“Bahkan sistem ini di dukung penuh oleh para murid dari semua angkatan.” lanjut Jeremy sembari menepuk pundak Frigid yang berdiri di sisinya.
“Oh, ini putra kedua keluarga Cali.”
Seluruh pengunjung dari Agnus langsung mengangguk paham ketika melihat sosok Frigid.
“Dia tampan.”
“Dia nampak meyakinkan.”
Dan lain-lain, entah itu bisikan atau ucapan langsung Ree tidak bisa membedakannya. Ia hanya diam di belakang barisan bersama Servio yang kebetulan bersamanya menjadi satuan pengaman untuk para pengunjung. Sayangnya Ree tidak terlalu fokus dengan pembicaraan saat pengunjung berkeliling akademi karena ia harus berada di hadapan seorang anak laki-laki berusia 8 tahun yang sedang bersama dengan pelayan yang merawatnya.
Siapa sangka di rombongan pengunjung, mereka membawa serta seorang anak. Terlebih, Ree yang harus membantu pelayan anak itu untuk menjaganya.
Ree tidak terlalu ingin tahu dan hanya diam menjalani tugasnya. Ia akan berbicara ketika dipersilahkan bicara.
“Apa tidak ada yang ingin kamu tanyakan?” tanya Servio tiba-tiba sambil berbisik ke arah Ree.
Ree sedikit terkejut karena ia bisa merasakan hawa panas dari tubuh Servio yang memiliki jarak tidak jauh darinya.
“Tidak ada.” jawab Ree singkat.
Servio kembali ke posisinya semula sambil tersenyum tipis dan merasa ingin menggoda Ree yang sedang serius.
“Permisi, apa disini dekat dengan toilet?” tanya pelayan yang sedang menggendong anak kecil itu pada Ree.
“Silahkan ikuti saya.” jawab Ree sembari mulai memimpin jalan menuju toilet.
Dengan tenang Ree mengantar anak laki-laki dan pelayan perempuan yang masih muda itu menuju toilet yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri bersama dengan rombongan.
“Gedung di sini sangat luas.” timpal si pelayan itu pada Ree ketika menunggu di depan toilet laki-laki.
Ree tidak menyangkal kenyataan yang terlihat, La Priens dibangun di lahan yang sangat luas, ada tiga bangunan utaman dan beberapa bangunan tambahan seperti gudang dan lain-lain, belum lagi lapangan di tengah akademi dan banyak lahan untuk menunjang kegiatan belajar para pelajar di La Priens.
“Kamu benar.”
Tanpa menunggu lama Ree dan pelayan yang membawa anak kecil itu tiba di taman belakang akademi, dimana tempat perhentian selanjutnya dari kegiatan para pengunjung.
“Taman belakang akademi merupakan tempat umum untuk para murid melakukan berbagai macam kegiatan. Dari berbagai kelas dapat di praktekan di tempat terbuka dan luas seperti ini.”
Seperti yang dijelaskan oleh Jeremy tentang kondisi dan fungsi taman yang mereka kunjungi saat ini. taman, lapangan, danau, dan berbagai macam sarana pendukung membuat Ree mengingat bahwa tempat ini pernah menjadi lokasi kerah bajunya di tarik oleh Viovarand.
Itu cukup membuat Ree untuk menahan napasnya, terlebih ketika matanya yang sedang acak memandang tidak sengaja bertabrakan dengan bola mata Frigid untuk beberapa detik saja.
Ree tidak tahu bagaimana mengartikannya, ia tidak ingin sembarangan menerka dan membuat kepalanya berpikir buruk tentang orang. Karena sorot mata Frigid lurus dan serius membuat Ree sedikit tersentak dan menerka-nerka artinya.
Apa meremehkan seseorang masuk dalam kamus hidup Frigid?
“Aku ingin menaiki itu.”
Satu-satunya anak kecil dalam rombongan tiba-tiba menunjuk perahu yang bersandar di dermaga danau membuatnya menjadi pusat perhatian seluruh rombongan.
“Ahem! Saya rasa kita bisa menikmatinya selagi berkeliling.”
Ree rasa kunjungan ini akan memakan waktu yang lebih lama dari Ree perkirakan untungnya hari yang mulanya hujan sudah reda.
*
*
*
“Bagaimana kunjungannya Ree?” tanya Liliana ketika Ree baru saja tiba dikamarnya. Ternyata Liliana dan Maglina berkunjung ke kamarnya dan Ghea.
“Apa kamu tidak melihat raut wajah lelah dari Ree? Aku merasa mereka mengelilingi seluruh sudut akademi.” ujar Ghea.
“Aku tidak bisa berbohong jika aku kelelahan, sulit menjaga ekspresi di depan para tamu.”
Jelas Ree sembari melepas seluruh seragamnya dan bersiap untuk mandi. Ree memutuskan untuk tidur setelah ini.
Lalu, tiba-tiba Ree tidak jadi membuka pintu kamar untuk pergi ke kamar mandi dan memutar tubuhnya menatap Liliana lebih tepatnya.
“Liliana, aku rasa Alexander tidak seburuk bayanganmu. Jadi jangan terlalu dingin padanya.” Ree mengedipkan sebelah matanya lalu pergi dari kamar.
Meninggalkan kesan membingungkan pada seluruh temannya di dalam ruangan itu.
“Ree kenapa?” tanya Maglina heran.
“Apa ia memiliki sesuatu dengan Alexander?” tanya Ghea.
Liliana tidak menjawab dan hanya diam menatap daun pintu kamar dalam diamnya.
Lalu bagaimana dengan Ree setelah mengucapkannya tiba-tiba seperti itu? Ree hanya tersenyum tipis sembari berjalan menuju kamar mandi. Ree hanya tidak ingin apa yang telah ia dengar menjadi sia-sia. Usaha Alexander untuk ‘kabur’ sebentar dari kehidupannya setidaknya Ree ingin melihat Alexander bisa menikmati masa-masa di akademi sesuai dengan harapannya.
__ADS_1
Langkah Ree padahal sebentar lagi mencapai pintu kamar mandi yang berada di ujung lorong namun langkahnya tiba-tiba terhenti karena apa yang sedikit tertangkap oleh ujung matanya menarik perhatian Ree dalam sekejap.
Meski hujan sudah lama reda dan kegiatan di akademi sudah selesai, bahkan makan malam pun telah usai. Dari lantai dua tempat Ree berada ia dapat melihat jelas bayangan orang yang berjalan di depan asrama yang masih basah.
Siapa itu? Sulit bagi Ree untuk melihat dengan jelas siapa orangnya membuat Ree memutuskan untuk meletakkan peralatan mandinya dan mendekati dan membuka jendela untuk melihat lebih jelas.
Tetap saja tidak kelihatan dengan jelas hingga pintu gerbang dibuka perlahan oleh orang yang nampaknya adalah seorang laki-laki dimata Ree.
*
*
*
Pintu gerbang sama sekali tidak berderit ketika Frigid menutupnya secara perlahan, dia lah orang yang Ree lihat namun tidak dapat dikenali akibat jarak panjang yang terhalangi oleh gelap malam. Apa Frigid menyadari seseorang melihatnya? Ia terlalu sibuk memperhatikan langkahnya agar tidak mengotori sepatunya akibat genangan air dan mempertahankan kesunyian halaman asrama agar tidak menarik perhatian siapapun.
Waktu setelah makan malam adalah waktu yang melarang aktivitas luar asrama seluruh murid tanpa terkecuali.
*
*
*
Hingga selesai mandi pun Ree masih penasaran tentang siapa yang ia lihat, banyak pikirannya mengarah ke hal yang tidak-tidak. Entah itu pencuri, perampok, pembunuh, dan lain-lain hingga membuat sekujur tubuhnya merinding ketika memikirkannya. Ree menggelengkan kepalanya untuk menghapus pikirannya yang tidak-tidak. Ia terlalu banyak memikirkannya membuatnya tidak bisa istirahat nanti.
Sebelum Ree ingin kembali ke kamarnya, ia ingin pergi ke ruang makan asrama untuk mengambil air minum. Seperti biasa meskipun makan malam sudah selesai, masih saja ada yang beraktifitas di ruang makan padahal sebentar lagi ruang penghubung asrama putra dan putri itu akan di tutup karena memasuki jam tidur.
“Ree!”
Ree terperanjat kaget ketika suara bariton rendah namun terdengar ceria menyapanya dari belakang memanggil namanya. Ree sudah dapat mengetahui sebelum ia berbalik menatap orang yang memanggilnya.
“Marco, kamu mengejutkanku jika menyapaku dengan cara seperti tadi.” timpal Ree.
Marco awalnya terkekeh lalu berhenti dan menatap Ree penuh curiga.
“Ree, kamu terasa begitu dingin saat ini.” ucap Marco tiba-tiba.
“Dingin?”
Marco mengangguk.
“Aku rasa karena aku baru selesai mandi.” jawab Ree seadanya.
“Bukan itu yang kumaksud, sifatmu Ree, itu yang aku maksud dingin. Apa kamu punya banyak masalah akhir-akhir ini? Terlebih kita jarang bertemu karena kamu banyak menghabiskan waktu di senat.” tanya Marco.
Jangankan Marco, Ree bahkan jarang bercengkrama dengan Liliana dan Maglina di luar asrama. Jika Ree mengatakan masuk senat adalah menambah masalah hidupnya, itu terdengar tidak sopan mengingat banyak yang masuk karena ingin berada di sana. Masalah sifat dingin yang dibicarakan Marco padanya saat ini Ree bahkan tidak begitu menyadarinya. Ia tidak mengatur sifatnya dengan sengaja.
“Aku baik-baik saja Marco, pekerjaan di senat memang banyak, namun itu bukan menjadi masalah bagiku.” jawab Ree dengan tenang hingga matanya mendapati Alexander yang masuk ruang makan dengan raut wajah begitu gelisah sambil mengitari pandangannya ke seluruh sudut ruang makan sampai bertemu dengan sepasang bola mata milik Ree yang lurus menatap Alexander.
“Oh.” ucap Ree ketika Alexander tanpa pikir panjang langsung menghampirinya dengan Marco.
Begitu melihat Alexander datang, Marco langsung memposisikan dirinya di samping Ree dan melihat raut wajah Alexander yang seperti kepanikan namun masih bisa pria itu sembunyikan.
“Ree,” ucapan Alexander terpenggal ketika menyadari bahwa Ree tidak sendirian melainkan bersama Marco. Bahkan keduanya bertatapan dengan canggung hingga membuat Ree kebingungan.
“Apa kamu ada perlu denganku?” tanya Ree tidak ingin bertele-tele mengingat sebentar lagi ruang makan akan ditutup.
Dengan cepat Alexander mengiyakan ucapan Ree, ingin meraih lengan Ree namun dengan cepat Ree menghindar.
“Marco, kita lanjutkan besok saja mengobrolnya, aku ada urusan sebentar dengan Alexander.” timpal Ree.
Mengerti dengan situasi yang diinginkan Ree, Marco tersenyum dan pamit untuk pergi ke kamarnya meninggalkan Alexander dan Ree.
“Ada apa?” tanya Ree.
“Ree, apa kamu melihat Frigid? Aku tidak melihat ia dimanapun.” tanya Alexander.
Bagi Ree yang sudah sering melihat sisi tidak sempurna Alexander menjadi tidak kaget jika Alexander menghampirinya dengan raut wajah yang panik seperti saat ini.
“Kenapa kamu mencariku?”
Baru saja Ree ingin menjawab tidak tahu, sudah ada suara orang yang dicari menjawab lebih dulu dari dirinya. Muncul tepat dari arah belakang Ree hingga membuat gadis itu terperanjat kaget namun menjadi tenang di detik berikut.
“Nampaknya orang yang kamu cari sudah ketemu, aku permisi dulu.”
Ree hanya menatap Alexander lalu pergi meninggalkan ruang makan.
“Apa kamu masih belum berdamai dengannya?” tanya Alexander sembari masih melihat punggung Ree yang semakin menjauh dan menghilang di balik pintu masuk.
“Aku tidak pernah bertengkar dengan siapapun.” jawab Frigid heran sembari melangkah ingin pergi dari ruang makan karena petugas asrama sudah menyuruh para murid untuk kembali.
Alexander memang tidak mengatakan bahwa Frigid dan Ree pernah bertengkar atau pernah?
“Bukannya tujuanmu menjadi ketua senat agar akademi ini bisa menjadi yang terbaik di negeri? Kenapa malah mengusir murid?” tanya Alexander heran.
Apa yang dimaksud Alexander adalah tentang keinginan Frigid mengembalikan Ree ke akademi asalnya. Ia tidak tahu apa masalah diantara Frigid dan Ree, namun menurut Alexander tidak ada alasan untuk mengembalikan Ree ke akademi asalnya di Litore.
“Apa kamu mengetahui sesuatu tentang Ree? Atau seberapa berbahaya Ree bagi tujuanmu?” tanya Alexander heran.
Langkah Alexander otomatis terhenti ketika Frigid berhenti menaiki anak tangga menuju lantai dua. Pria bersurai hitam itu tidak memutar kepalanya untuk menatap wajah penasaran Alexander.
Di mata Alexander menangkap ada hal yang tidak ia ketahui tentang Frigid, selama ini pria itu tidak pernah menyembunyikan sesuatu darinya karena merepotkan jika harus merahasiakan sesuatu, maka Alexander tidak terlalu repot mengawasi Frigid. Namun saat ini, tidak seperti biasanya mengatakan masalah dengan jujurnya malah seperti ada yang berbeda.
Frigid hanya diam sembari menatap telapak tangannya yang menggenggam sisi tangga. Sepintas ingatannya membawanya pada kata-kata berisi protes dari Ree ketika menanggapi keputusan untuk memindahkan wanita itu.
“Tidak ada apa-apa diantara kami berdua, aku hanya tidak akademi menjadi kacau setelah aku pergi dari sini.”
To Be Continued.
__ADS_1