
Benar-benar parah, Ree merutuki dirinya sendiri karena terlihat sangat lemah dalam menaiki kapal. Saat ini ia hanya menyumpah dirinya sendiri sembari menatap bayangan diri di cermin setelah mencuci wajah sehabis mencuci perutnya untuk melegakan rasa mual yang ia rasakan.
“Apa aku benar-benar seburuk ini?” Ree bahkan tidak merasakan apa-apa ketika berada di dalam satu ruangan dan cukup lama bersama Frigid karena mabuk lautnya.
Setidaknya perjalanan mereka ini menghabiskan waktu sampai lebih dari tiga hari mengarungi lautan dan Ree tidak bisa membayangkan bentuk dirinya ketika berlabuh di Litore.
Baiklah, menyudahi rasa dongkol akibat diri sendiri Ree pun kembali ke kamarnya dan menatap seorang pria yang nampak sedang membaca buku di ranjang atas dengan santai.
Wah, baru kali ini Ree merasa ia iri dengan hidup seorang Frigid setelah cukup lama mengenal.
“Kamu tahu, aku sebenarnya tidak membenci La Priens menjadi akademi campuran.”
Apa ini? Tumben sekali Frigid membuka obrolan dan membingungkan Ree yang sedang mengelap wajahnya dengan handuk.
“Oh, nampaknya kamu ingin membahasnya denganku.” Timpal Ree dengan suaranya yang lemah.
“Aku pikir sistem itu cukup bagus untuk mengenal dunia lebih luas lagi. Meskipun murid sepertimu juga ada.”
“Jangan memancing amarahku.” Kesal Ree dibuat Frigid akibat kalimat terakhir pria itu yang diucapkan tanpa merasa berdosa sedikitpun.
“Tapi, apa kamu belum pernah pergi kemana-mana begitu? Aku pikir orang kaya sepertimu sering keliling kerajaan.” Ree cukup dibuat penasaran dengan kalimat Frigid yang mengatakan ‘mengenal dunia lebih luas’.
Mungkin tidak sepenuhnya salah.
Frigid sendiri hidup seperti terkurung dari dunia luar sebelum ia memutuskan untuk pergi ke La Priens.
Karena Frigid menganggap hidupnya sudah berakhir, setidaknya di dalam pagar La Priens ia merasa sudah pergi keluar dan menganggap La Priens adalah dunia baru baginya.
La Priens sendiri mungkin tidak seluas dunia yang asli, namun akademi itu merupakan tempat yang berharga bagi Frigid karena bisa merasakan apa itu ‘berbaur’ dengan banyak orang dari berbagai kalangan.
“Tapi dari cara bicaramu selama ini memang menyebalkan adanya, nampak sekali jika kamu belum benar-benar pergi ke berbagai tempat. Kamu seperti berada dalam satu tempat saja selama ini.” ucap Ree sembari merebahkan dirinya kembali karena merasa pusing.
Entah mengapa Frigid tak dapat mengelak perkataan Ree barusan. Rasanya selama ini ia merasa bahwa ada rantai yang mengikat kedua tangannya dan kakinya. Menahannya untuk tidak kemana-mana dan tetap diam di satu tempat saja. Oleh karena ketidaknyamanan itu, Frigid seolah ‘kabur’ dan melampiaskannya pada La Priens, rasa sakit itu.
“Oleh karena itu, kadang aku berpikir… aku memiliki sebuah ketakutan yang mana akan menghalangi, jika aku tidak mengambil keputusan untuk pergi ke La Priens, mungkin saat ini aku tidak bisa pergi ke pasar sendirian…” Ree mungkin belum terlalu lama melepaskan rantai duri dalam hatinya untuk tidak pergi kemana-mana akibat ketakutan yang selalu ia rasakan.
Keterbatasannya dalam berinteraksi dengan laki-laki seperti penyiksaan konyol bagi Ree yang mana rasa sakit itu cukup serius. Ketakutan saat berangkat ke Crystallo juga masih terbayang di kepala Ree sampai saat ini.
Ketakutan akan menghadapi hal-hal baru dan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
“Di saat aku ingin menyembuhkannya secara diam-diam, kamu malah yang pertama menyadarinya… Hahaha konyol sekali aku bisa bertemu dengan orang sepertimu.” Ree menertawakannya yang tidak bisa menyembunyikan ketakutannya dari Frigid. Cukup diapresiasikan kepekaan Frigid terhadap orang-orang di sekitarnya, namun dalam satu waktu justru menyeramkan juga menurut Ree.
“Aku hanya menjadi diriku sendiri.” Timpal Frigid seperti membela dirinya.
Ketakutan Ree bukanlah hal sepele bagi Frigid yang sudah melihat bagaimana orang yang merasa takut itu sendiri. Meski Frigid tidak mengerti kenapa Ree bisa menjadi seperti sekarang ini. luka orang lain yang tidak dimengerti itu lebih baik di diamkan saja dan hanya menegurnya ketika merasa bahwa sudah di ambang bahaya.
Frigid hanya ingin mengantipasi kejadian fatal saja.
Dimana Ree maupun orang-orang di La Priens tidak saling terlibat hal-hal yang berbahaya.
Semua itu hanyalah harapan kecil Frigid yang ingin lulus tanpa ada masalah sedikitpun dan dapat menikmati masa-masa di akademi dengan orang-orang normal.
Namun, nyatanya ia malah melibatkan diri juga.
“Aku tidak sepenuhnya ingin mencampuri urusanmu, ketakutanmu tentu tidak timbul tanpa alasan yang jelas.” ucap Frigid yang sudah menutup buku bacaannya dan kembali memandang lautan lepas dari jendela bulat yang ada di ruangan itu.
“Itu benar… itu sebenarnya luka lamaku, aku yang saat ini sedang berusaha memaafkan diriku sendiri dan orang yang membuat luka itu… tapi nyatanya sangat sulit memaafkan orang yang membuat diri terluka…” bahkan sampai saat ini Ree sendiri belum sanggup untuk bertatap muka dengan Luceat karena ia belum sanggup memaafkan dirinya maupun Luceat.
“Kamu tidak harus memaafkan orang yang melukaimu.”
Frigid memutuskan untuk turun dari ranjangnnya dan langsung bertatapan muka dengan Ree yang tengah berbaring.
“Kamu boleh membencinya sampai akhir hayatmu.” lanjut Frigid.
“Itu terdengar jahat sekali…”
Frigid juga sadar bahwa tindakan seperti itu sangat tidak baik.
“Tapi hati yang terluka itu tidak mudah sembuh begitu saja…”
Tapi, perkataan Frigid juga Ree benarkan.
Saat ini saja ia masih merasa sakit hati dengan Servio.
Frigid memutuskan untuk duduk di tepi ranjang Ree dan menatap perempuan yang terlihat sangat pucat itu.
“Ketika memikirkan rasa sakit itu dan betapa sulitnya untuk memaafkan malah membuat luka semakin dalam…”
__ADS_1
Ree tidak tahu, pemahaman Frigid tentang rasa sakit hati itu sampai sedalam ini. Ree merasa kepalanya masih pusing namun masih bisa mencerna perkataan Frigid. Ia pun bangkit dan bersandar pada dinding kabin kapal sembari menatap pria yang hanya memainkan jemarinya.
“Frigid… Nampaknya kamu memiliki luka yang cukup dalam.” ucap Ree sedikit menginterogasi Frigid.
Mungkin sudah teramat dalam luka itu dan tidak akan pernah bisa mengering.
Bola mata Ree yang sayu itu terus menatap lawan bicaranya agar merespon ucapannya. Wajah pria yang selalu tenang itu tak nampak mengeluarkan ekspresi apapun, matanya selalu datar, bibirnya tidak membentuk senyuman ataupun kesedihan. Air wajahnya memang selalu tenang.
Meski demikian, Ree juga paham dengan orang yang selalu menutupi sesuatu dan bertingkah seolah ia baik-baik saja. Karena ia juga demikian.
“Tidak aku tidak memiliki masalah apapun.” Frigid pun bangkit berdiri, nampaknya berada di dalam ruangan membuatnya ingin menghirup udara segar. Ia memang satu kamar dengan Ree dan para relawan lainnya, tapi kebanyakan dari mereka tidak mampu berdiam di kamar seperti yang Ree lakukan.
“Oh… baiklah, lagipula aku tidak ingin mencampuri urusanmu itu.” Ree sendiri kembali berbaring lalu menaruh handuk kecilnya ke atas kelopak matanya.
Ya, Ree sendiri sudah meyakinkan diriny bahwa Frigid bukan orang yang akan bercerita tentang apa yang sedang ia alami. Pria itu memang misterius dan penuh tanya, meskipun tindakannya sering kali bertolak belakang dengan sifat misteriusnya itu.
*
*
*
“Haahh… apa ini Litore??” tanya Ree ketika ia sudah menginjakkan kakinya kembali di dermaga pelabuhan militer milik angkatan laut.
Jangan ditanya bagaimana bentuknya, karena Ree benar-benar kelelahan dan kehabisan tenaga untuk bertahan hidup di atas kapal.
“Ree! Bersemangatlah, besok kalian kembali magang!”
Dukungan itu berasal dari rekan sesama relawan yang merupakan salah satu anggota angkatan laut. Menanggapinya Ree hanya tersenyum kecil dan berterima kasih karena masih banyak orang yang perhatian padanya meski sudah menyusahkan seperti ini.
Pikiran Ree sejak ia menginjakkan kakinya kembali di tanah Litore hanyalah tidur dan tidur.
“Ree…” apa lagi ini? Ree yang hanya memikirkan tidur itu menoleh dengan malas ke belakang pada orang yang menyapanya.
Lagi-lagi Frigid dengan raut wajah yang dapat Ree tebak apa pikiran yang pria itu.
“Hari sudah semakin gelap, apa kamu tidak tunggu saja sampai ke rumah?” tanya Ree jengah.
“Aku ingin bicara sebentar.”
Karena sudah sore, tak banyak orang-orang lalu lalang karena letaknya bukan di tepi jalanan utama.
“Aku akan membantumu seperti yang kamu lakukan dengan Servio.” Ucap Frigid tiba-tiba tanpa basa-basi terlebih dahulu.
Kata-kata pria itu seperti angin musim dingin yang datang tiba-tiba menyapu kulit wajah Ree sekilas. Ree sendiri merasa merinding mendengarnya.
“Apa kamu gila?” tanya Ree tak percaya dan langsung menatap Frigid benar-benar untuk melihat apa dikepala pria itu terdapat luka atau semacamnya.
“Dibanding dirimu yang sudah mabuk laut berhari-hari, aku merasa diriku baik-baik saja.”
“Kamu sengaja mengatakannya agar membuatku kesal.” cibir Ree tak lagi berminat menggoda Frigid.
“Tapi, aku serius dengan ucapanku.” lanjut Frigid.
“Aku juga serius mengatakan ‘kamu gila’ ketika mendengar kata-kata seperti itu darimu. Bisakah kamu hentikan saja? Apa yang sebenarnya kamu pikirkan?” tanya Ree heran.
Mungkin terdengar gila di telinga Ree, karena anehnya Frigid malah menawarkan bantuan yang persis dengan apa yang sudah Servio lakukan. Terlebih Ree sudah merasa sakit hati terlebih dahulu.
“Karena aku pernah bertemu dengan orang sepertimu sebelumnya…”
Sejujurnya Frigid tak mau membicarakan hal-hal terkait Margaretha pada Ree, meski mereka memiliki ketakutan yang mirip, namun bukan berarti masalah mereka itu sama.
“Dia pergi dariku dengan membawa banyak luka, baik yang terlihat maupun yang tidak.”
Frigid hanya tidak ingin, orang yang memiliki sifat peduli seperti Ree menjadi menutupi dirinya sendiri akibat luka yang ia dapatkan.
“Kamu merupakan orang yang mendahului orang lain dibanding dirimu sendiri…”
“Frigid…” panggil Ree cukup serius.
Frigid tidak jadi melanjutkan ucapannya karena Ree langsung memotong ucapannya begitu saja.
Wajah Ree nampak tidak suka dengan apa yang ia dengarkan dari mulut Frigid. Ia mengakui bahwa ia memiliki kekurangan yang mana berasal dari luka akibat seseorang. Tapi, ini tidak terdengar benar dikepalanya.
“Sejauh mana kamu tahu diriku?” tanya Ree heran.
Frigid tertegun, ia mungkin tak mengenal Ree sejauh dari apa yang sudah ia lihat.
__ADS_1
“Mengesampingkan sifatku pada orang lain, aku juga tidak bisa sembarangan melakukannya… aku selalu penuh dengan pertimbangan, bahkan untuk menghentikan kamu dan Servio berkelahi waktu itu, aku sudah berpikir risiko ke depannya.” jelas Ree menjelaskan bahwa apa yang ia lakukan selama ini tidak refleks begitu saja.
“Jadi Frigid, aku merasa kamu tidak perlu melakukannya. Masalah obat alternatif itu, mungkin kami sudah menyelusurinya lebih dalam lagi meski aku tahu bahwa kamu tidak peduli. Tapi kami tetap melakukannya untuk orang lain, aku melakukan hal semacam itu juga penuh pertimbangan dan pada akhirnya aku menyerahkannya pada Yohanna.”
Ree tidak ingin, Frigid yang berencana lulus dengan tenang dari La Priens malah terhambat karena dirinya.
“Maaf… nampaknya perbuatanku tanpa sengaja malah membuatmu kepikiran… aku benar-benar tidak ingin kamu melakukan apa-apa…” tolak Ree secara halus sekali lagi.
“Tapi aku tidak membiarkanmu untuk terbiasa dengan diriku sendiri ataupun orang-orang tertentu…” ucap Frigid masih tetap dengan tawarannya.
Itu benar, bukan maksud Frigid untuk membuat Ree merasa terbiasa dengannya seorang. Ia hanya ingin wanita itu benar-benar menjadi ‘normal’ seperti apa yang diharapkan. Frigid tidak seperti Servio yang hanya terfokus pada dirinya seorang sehingga Ree terhadap orang lain masih sangat asing rasanya.
“Zona tidak nyamanmu yang sebelumnya aku bantu dengan membuatnya semakin tidak nyaman lagi. Itulah yang aku tawarkan padamu… apa kamu masih tidak mau?” tanya Frigid.
Nampaknya pemilik surai hitam itu sangat-sangat percaya diri dengan tawarannya.
“Ketika kita menjadi relawan di Fiume baru-baru ini, aku tahu keadaanmu semakin mencapai batas. Apa kamu mau selalu seperti itu selanjutnya?”
Reani terkekeh dan merasa tak mengerti. Ia bertanya-tanya tentang siapa yang ada dihadapannya saat ini. Kenapa Frigid tiba-tiba saja aktif berbicara.
“Frigid, sebelum kamu melakukan hal itu padaku, ada baiknya kamu mencintai hidupmu terlebih dahulu…”
Nampaknya percakapan ini tidak seperti tawar-menawar untuk mendapatkan kesepakatan melainkan akan menjadi perdebatan yang mana saling serang.
“Jujur saja, aku merasa lebih baik seperti saat ini daripada menerima bantuanmu yang kamu sendiri saja masih tidak menghargai hidupmu sendiri.”
Tidak mungkin Ree mempercayai kelemahannya pada orang lain yang bahkan ingin mati daripada hidup.
“Ini tidak ada hubungannya dengan permasalahanku.” elak Frigid.
“Karena itu!! aku tidak ingin kamu ikut ke dalam permasalahanku juga!” protes Ree yang sudah menahan kesal.
Entah mengapa Ree malah menjadi marah dibanding harus berterima kasih karena mendengar tawaran bantuan dari Frigid. Tidak seperti yang ia rasakan sewaktu Servio menawarkan bantuan, dimana Ree cukup bersemangat untuk berubah. Namun saat ini rasa sakit dan lelah membuatnya menjadi satu yaitu marah.
“Aku ingin marah ketika kamu seenaknya masuk begitu saja dalam urusanku, sejauh mana kamu mengetahuiku, aku tak mengerti. Tapi saat aku ingin bertanya permasalahmu dan kamu dengan jelas menutupinya. Jadi sebenarnya apa yang kamu pikirkan? Kita ini apa? Haruskah demikian?!!” saking kesalnya dalam meluapkan segala kemarahan, dada Ree kembang kempis dan menatap Frigid heran serta kesal meskipun wajah pria itu tidak lagi datar melainkan terkejut.
Ia terkejut dengan ledakkan amarah Ree yang belum pernah ia lihat.
“Kamu benar, kita bukan siapa-siapa… bahkan saat lulus nanti kita tidak akan bertemu lagi.”
Tapi Frigid ingin lulus tanpa masalah dan rasa yang mengganjal dalam hatinya. Ia tidak mengerti, kenapa ia bisa peduli dengan Ree sampai seperti ini. Luka yang Margaretha bawa pergi itu terus membuat Frigid kepikiran dan takut bahwa akan ada orang lain selain Margaretha menderita di sekitarnya.
“Frigid, sebenarnya aku tidak marah karena aku tidak tahu apa yang menjadi masalah hidupmu. Hanya saja aku tidak ingin kamu yang berencana lulus dari La Priens tanpa hambatan malah terbebani untuk membantuku. Setidaknya setelah lulus, berbahagialah.” Pada akhirnya Ree sudah menenangkan dirinya dan dapat berpikir jernih. Bahkan sisa-sisa mabuk lautnya sudah hilang karena mengobrol panjang dengan manusia sejenis Frigid.
“Karena aku tak yakin aku bisa bahagia, maka dari itu aku memutuskan untuk membantu orang disekitarku semasa aku masih berada di akademi.”
Ree tertegun dalam beberapa detik ketika melihat senyuman tipis namun terkesan sedih di wajah Frigid ketika mengatakan tentang kebahagiaan setelah lulus.
Ujung jari Ree terasa sangat dingin dan kaku akibat angin musim dingin, tapi ia mengepal kuat karena merasa geram dengan ucapan Frigid yang sangat pesimis itu.
“Apa sebegitu menderitanya dirimu sampai kamu merasa tidak yakin untuk bahagia?” tanya Ree geram.
Ree benci seperti ini, ia tidak tahan melihat orang yang ada dihadapannya terlihat kesusahan. Karena itu ia maju mendekati Frigid dan menatap lurus mata hampa tanpa gairah kehidupan itu tajam.
“Aku tidak merasa bahwa kebahagiaan pantas aku miliki, karena itu setidaknya aku bisa membantu orang-orang disekitarku.” Lagi-lagi senyuman pahit itu muncul di hadapan Ree.
Setelah menawarkan bantuan yang tidak masuk akal lalu tersenyum seolah dunia ingin berakhir seperti itu langsung membuat Ree tidak lagi segan menepuk keras kedua pipi Frigid dengan tangannya yang dingin hingga membuat pria itu kembali ke wajahnya yang datar.
“Berhentilah tersenyum pahit seperti itu seolah kamu adalah orang yang tidak pantas.”
Ree sendiri sudah tahu bahwa ia ketakutan ketika menyentuh lawan jenis, tapi ketakutan itu kalah dengan rasa geramnya untuk menampar kedua pikir Frigid sadar bahwa hidup tidak semurah yang ia pikirkan.
“Aku mungkin akan muntah setelah melakukan ini. Tapi aku sudah terlanjur geram padamu. Jika kamu benci hidupmu, setidaknya jangan katakan hal itu di depan orang seperti aku. Kamu hanya akan membuatku marah!” Bahkan bukan sekedar sentuhan melainkan kedua telapak tangan Ree malah mencubit geram kedua pipi Frigid hingga pria itu meringis kesakitan.
Alhasil kedua pipi Frigid merah dan terlihat agak bengkak, sementara Ree sudah kembali ke tempatnya semula dan mengangkat tasnya untuk kembali ke rumah dinas.
Frigid benar-benar tidak menyangka Ree akan berbuat sejauh ini, ia hanya menyentuh kembali pipi kanannya dan sedikit meringis karena masih sakit. Namun rasa sakit itu bukannya Frigid benci maupun marah, ia hanya kaget.
Ekspresi wajah Ree yang berkerut karena geram terhadap Frigid masih berbekas di kepala pria itu dan sanggup membuatnya terlihat seperti orang bodoh.
Di malam musim gugur yang dingin itu, Frigid sama sekali tidak dingin akibat sentuhan Ree yang unik.
To Be Continued.
__ADS_1