
Mata dan telinga memang terbuka dan masih berpikir dengan logis.
Namun perasaan yang serakah seolah menutup semuanya dan menjadikan kesalahanpahaman yang tak kunjung berakhir.
Dari semua pihak menutup mulutnya semua seolah tak ada yang ingin menguraikan benang kusut itu hingga sampai menjadi semakin parah dan tidak jelas seperti ini.
Apa yang hanya ada di depan mata Ree saat ini adalah seorang pria yang tiba-tiba terduduk dan mendekap wajahnya sendiri ke lututnya setelah sepenggal kata keluar dari mulutnya.
“Dia merenggut kebahagiaanku dengan menyiksa orang yang aku sayangi.”
Kata-kata itu adalah apa yang mendasar dalam diri Frigid ketika menilai sosok Smith.
Kalimat yang tidak sepenuhnya salah itu juga tidak bisa Ree sangkal.
Seseorang yang menurut Frigid adalah orang yang berharga diambil dari hidupnya yang rapuh itu.
Meski terdapat alasan yang cukup besar.
Menyikapinya, Ree merendahkan tubuhnya, ikut duduk dan tetap menatap kepala pria itu.
Ini terlihat seperti Ree yang membuat Frigid menangis, padahal ia ditarik begitu saja belum lama ini.
“Tidakkah kamu berniat untuk berbicara dengan Smith?” tanya Ree lembut.
Punggung Smith di mata Frigid adalah sesuatu yang tidak ingin Frigid lihat dan tangannya seolah tak pernah untuk sampai menarik pria itu.
“Aku lemah untuk itu.” timpal Frigid.
“Hah?” Ree tidak mengerti, harus sebesar apa kekuatan untuk berbicara dengan Smith.
Ini juga ulah Smith yang menutup semua kebenaran dari Frigid.
Kini adik pria itu malah membencinya.
“Aku akan membawamu ke suatu tempat.” Ree langsung bangkit berdiri.
Ia tak tahan dengan semua ini.
Berada di tengah pusaran air tanpa membuat apa-apa hanya akan menenggelamkan dirinya. Kadang diam tidak menjadi masalah, namun ketika sudah tahu dimana titik masalah berkumpul dan bisa ditutupi, pusaran air itu bisa saja berhenti.
“Kemana?” Frigid akhirnya mengangkat wajahnya setelah merasa sangat malu mengatakan kelemahannya di depan Ree. Wajah wanita yang ada di hadapannya ini, meskipun menundukkan wajahnya untuk menatap Frigid, sama sekali tidak ada tersirat rasa kasihan di sana.
Ree sebenarnya sedang kesal.
Baik pada dirinya dan orang lain.
“Juga… ini.” Ree melepaskan syalnya dan langsung menyerahkannya pada Frigid.
“Aku merupakan orang yang terbiasa dengan dinginnya musim gugur, jika kamu mengatakannya aku bisa cepat meminjamkannya padamu.” Ia menyerahkan syal warna merahnya untuk pria yang terlihat ingin membeku di musim gugur itu.
“Cepat ambil, atau aku tidak akan mengajakmu…” Ree tahu tingkat harga diri seorang Frigid ketika ia belum mengulurkan tangannya untuk mengambil syal milik Ree.
Perasaannya tengah berkecamuk dengan berbagai rasa. Ia ingin menangis, namun jika ia melakukannya, ia akan kembali terlihat seperti orang lemah di depan mata Ree.
Namun, hawa dingin ini sudah terlalu dalam masuk ke dalam tubuhnya dan hampir membuat Frigid tak mampu menggerakkan mulutnya untuk menolak ataupun menerima.
Namun instingnya membuat tangannya terangkat begitu saja dan menggenggam syal milik Ree yang langsung menghantarkan kehangatan benda yang baru saja lepas dari kulit Ree ke pada telapak tangannya.
Ini akan memakan waktu lama untuk Frigid memasang benda itu, karenanya Ree ikut bergerak dan langsung melilitkan syal itu disekitar leher pria yang masih terduduk itu.
Mengeratkan lilitan itu namun tak membuat sesak dan tak juga dibiarkan semilir angin masuk dari celahnya.
“Baiklah, ayo kita pergi…” ucap Ree.
“Tapi kemana?” tanya Frigid bingung.
“Tentu saja pulang ke rumah.” Jawab Ree santai.
“A-apa? Itu tidak terdengar seperti ingin pergi ke rumah. Jika kamu seperti ini memperlakukanku, itu terlihat memalukan.”
Saat ini Ree menjadi bertanya siapa yang tidak tahu malu mengikuti orang kencan dan menarik si wanita pergi?
“Setelah semuanya terjadi, kamu tahu malu juga.”
Frigid terlihat terkejut lalu mengalihkan pandangannya sembari tangannya masih tenggelam di sela-sela syal.
“Kalau… begitu, ini tidak perlu…” ucapnya ingin melepas syal Ree.
“Jangan lepas barang itu. Sudah tahu sakit, dingin seperti ini akan memperburuk tubuhmu yang tidak biasa.” Sindiran itu benar-benar mengenai Frigid seperti panah dan tepat menghujam dirinya.
“Aku ingin pergi ke suatu tempat bersamamu, tapi ini sudah terlalu malam. jadi kita harus pulang…” tidak mungkin Ree membiarkan Frigid berdiam di luar ruangan ini seperti orang bodoh dan kedinginan.
__ADS_1
Ree tidak ingin menjadi pelaku pembunuhan yang tidak disengaja.
Akhirnya terdiam dan tak jadi ia melepas syal itu. Dalam benaknya pun Frigid tidak ingin melepas benda yang membuat dirinya ini merasa hangat.
Langit malam yang ada di atas dua manusia itu terlihat sangat cerah dan berbintang, meski awalnya banyak awan besar menutupi lingkungan itu, kali ini dengan mata kepala Frigid ia banyak melihat hamparan bintang dengan posisi yang tidak beraturan berkelap-kelip di atas sana.
Frigid akui betapa bodoh dan cerobohnya ia malam ini, semua itu ia lakukan hanya ketika melihat wanita di depannya ini bisa tersenyum ringan tanpa terlihat risih dan tidak nyaman sedikitpun di samping kakaknya.
Bahkan jarak diantara keduanya tidak terlihat ada batas sedikitpun.
Puas Frigid bertanya kenapa Ree bisa seperti itu pada Smith?
“Kamu tidak mungkin kan…?”
Masih Ree melangkahkan kakinya dan mendengar ucapan pelan Frigid di belakangnnya.
“Apa itu?” tanpa menoleh dan terus berjalan Ree merespon Frigid.
“Nampaknya kamu tidak perlu tahu…” Frigid tidak ingin melanjutkan ucapannya karena ia masih tidak percaya dan tidak ingin mempercayainya.
“Kenyataan bahwa aku berjalan bersama tuan Smith memang mengejutkan, terlebih kamu sendiri yang mengikuti kami. Tapi, sejauh ini kami hanya kolega bisnis.”
Tentang bisnis yang dimaksud tentu saja tidak ingin Ree bongkar begitu saja.
Ree juga tidak tahu apa yang sebenarnya Frigid tanggapi ketika melihat interaksinya dan Smith yang tidak biasa ini.
“Kalian berdua tidak menyembunyikan sesuatu, bukan begitu?” tanya Frigid.
Iya, mereka melakukannya. Namun Ree tidak akan membicarakannya sekarang.
“Tidak bisakah kamu tidak menghiraukan apa yang ada diantara aku dan tuan Smith? Di saat kamu tidak peduli dengan hidupmu, kamu malah marah ketika seseorang berjalan bersama kakakmu sendiri.”
Entah rasa serakah atau apa itu, perasaan yang buruk akan membuat hidup diri sendiri hancur tanpa perlu orang lain repot-repot turun tangan.
“Jadi diamlah, karena aku sudah mengatakan akan mengajakmu ke suatu tempat.”
*
*
*
Esoknya,
Di saat hari libur dimana semua kegiatan yang biasanya rutin dilakukan seperti pergi bekerja atau ke akademi terhenti dalam satu hari. Mengistirahatkan raga yang sudah bekerja keras selama kurang lebih seminggu hanya dalam satu hari memang tidak bisa terisi keseluruhannya.
Biasanya dipinggiran kota Litore hanya diisi oleh rumah-rumah penduduk yang memiliki kediaman cukup luas. Dikelilingi oleh padang rumput dan sedikit bukit bebatuan bercampur karang mati sudah menjadi hal biasa untuk dilihat di kota pesisir ini. terdapat di sebuah pinggir kota dimana ada satu buah kediaman yang cukup besar dan terlihat nyaman dikelilingi oleh pagar kayu yang tidak lebih dari satu meter itu menjadi tujuan dimana kaki kedua orang manusia muda ini pergi di hari libur mereka magang.
“Ini, dimana?” tanya si pria yang tidak lagi melupakan syal dari benang wolnya itu. angin di sini lebih kuat dari pada di rumah dinas mereka, karena lokasi yang ada di atas tebing.
“Tentu saja, jawaban dari semua rasa penasaranmu.” Ree tanpa ragu mendorong pintu pagar dan membuat lonceng kecil di pagar itu berdentang kecil.
Tak jauh dari pintu pagar dimana pintu masuk ke dalam kediaman bertembok bata merah itu berdiri dan Ree langsung mengetuknya.
“Sebentar…” sambutan dari dalam rumah yang sudah peka terhadap bunyi lonceng di pagar membuat si tuan rumah bergegas untuk membukakan pintu.
Pintu kayu tunggal berwarna coklat itu terbuka dan langsung menampakkan seorang nyonya rumah yang tak asing di mata Ree maupun Frigid. Wajahnya masih sama dan nampak sangat terkejut ketika harus berhadapan dengan pemuda yang pernah ia rawat dulu.
“Maafkan aku nyonya, nampaknya aku tidak mampu menahan semuanya…” Ree datang membawa segala rasa bersalah dan beban pikirannya ke hadapan Margaretha. Ia mengatakannya dengan tawa yang canggung sehingga sulit untuk diartikan untuk apa ia tertawa.
Inilah yang tidak bisa Ree selesaikan sendiri.
Ia tidak suka berada di tengah-tengah situasi yang penuh dengan salah paham.
Keputusannya membawa Frigid pergi ke rumah Margaretha adalah sesuatu yang tidak ia bicarakan dengan Smith.
Ini semua karena ia tidak ingin melihat air mata Frigid yang nampak bodoh itu.
“Ree…” lirih Frigid yang sangat terkejut dengan apa yang ada di hadapannya saat ini.
Berbagai macam roti yang baru saja keluar dari oven dan teh hangat. Belum lagi cemilan ringan yang tersaji di atas meja sebagai jamuan makan untuk mereka oleh tuan rumah.
“Nyonya Margaretha, anda tidak perlu repot seperti ini.” ucap Ree tak enak ketika ia sudah dipersilahkan masuk setelah bertamu tidak bilang-bilang dan dijamu seperti tamu penting saja.
“Tidak masalah, silahkan nikmati saja… kami baru saja menerima hasil panen dari keluarga suami saya. Jadi, makanan ini masih sangat segar dan enak…”
Ree tidak bisa menolak, namun sikap Margaretha seperti ini sangat persis seperti apa yang biasanya ia lakukan pada Frigid. Selalu menyediakan banyak makanan dan tetap memperhatikan kualitas makanan Frigid sendiri karena kondisi Frigid tidak sekuat anak-anak lainnya.
“Kamu lihat sendiri Frigid…” timpal Ree tiba-tiba dan langsung membuat Margaretha kebingungan namun nampaknya ia bisa tahu kemana arah pembicaraan ini.
“Ree,” panggil Margaretha resah.
__ADS_1
Ree tidak bisa lagi menahannya.
Ia tersenyum menghadap salah satu pengajarnya di akademi lalu kembali menatap Frigid tajam.
*
*
*
“Hufftt… Apakah semuanya sudah beres dan bersiap pergi?” Luceat sudah selesai membereskan tenda miliknya dan melihat keadaan para pengikutnya karena mereka sudah selesai dengan urusan di hutan itu dan bersiap kembali ke kota. Jika terlalu berlama-lama di dekat perbatasan rasanya membuat Luceat sulit
untuk bernapas lega.
Sebenarnya sulit untuk kembali ke kota dengan tidak membawa apa-apa sementara ada harapan besar yang tengah menunggu mereka.
Ini sebenarnya cukup membuat Luceat kecewa.
“TUNGGU!!”
Luceat dan rombongan tak jadi melangkah ketika suara cukup keras memanggil mereka dari arah belakang. Sosok tak asing muncul dengan lari tergopoh-gopoh sembari memeluk sesuatu yang ia bungkus dengan kain hitam.
“Tuan!! Apa kalian akan pergi?”
Gadis yang beberapa hari lalu Luceat temukan di tengah hutan datang kembali bahkan sampai melewati perbatasan hutan antar kerajaan.
“Kamu!! Kenapa kamu ada disini?!” tentu saja Luceat sangat panik, tindakan wanita itu sangat berbahaya.
Sembari menatap wanita yang sedang terengah-engah karena berlari di sepanjang hutan hanya untuk menemui rombongannya, Luceat mengambil sebuah botol minuman dan menyodorkannya pada wanita itu.
“Tidak terima kasih tuan, saya hanya ingin anda membawa ini saja sebagai tanda rasa terima kasih karena sudah menyelamatkan penduduk desa saya.” Wanita itu ikut menyodorkan barang yang ia bawa dan dengan ragu Luceat mengambilnya lalu membuka dengan pelan bungkusan kain tersebut.
Mata coklat Luceat terbelalak menatap barang yang ia genggam saat ini.
Beberapa tumbuhan langka dan barang yang membuatnya harus pergi jauh itu ada di pelukannya saat ini.
Sekali lagi Luceat menatap wanita yang juga menatapnya saat ini dengan tatapan tak percaya.
“Kamu yakin dengan apa yang kamu lakukan?” tanya Luceat.
Tanpa ragu wanita itu mengangguk.
“Saya tak bisa membawa banyak dan hanya itu yang bisa saja bawa sebagai rasa terima kasih. Tujuan tuan ke perbatasan pasti mencari tumbuhan itu dan hanya tumbuh di lembah Agnus saja.”
Lalu wanita itu langsung menutup bungkusan itu kembali dan mendorong Luceat.
“Cepatlah pergi! Saya yakin tindakanku sedikit membuat keributan dan orang-orang akan datang menangkapku!!” setelah mendorong Luceat, wanita itu berbalik dan berlari ke arah dimana ia muncul.
Luceat lantas belum bergerak sedikitpun dari tempat malah ikut berlari menyusul wanita itu tanpa mempedulikan panggilan rombongannya untuk kembali.
Semakin dalam Luceat memasuki hutan dan hanya berbekal insting untuk mengikuti arah kemana wanita itu pergi. Barang pemberian itu masih ada dipelukannya. Namun Luceat tidak peduli akan hal itu melainkan keselamatan wanita yang memberi tumbuhannya.
Bagaimana bisa Luceat kembali dengan perasaan bersalah seperti ini, ia tidak bisa mengorbankan orang asing untuk misinya.
Langkah lari Luceat terhenti dan matanya menyelusuri seluruh hutan yang penuh dengan pepohonan besar itu.
“Hyaa!!!” teriakan lengking seorang wanita membuat Luceat refleks berlari ke arah sumber suara dan merasa yakin bahwa wanita itu sedang dalam bahaya.
Benar saja seperti apa yang Luceat khawatirkan.
Wanita yang datang padanya tadi tengah dikepung oleh prajurit perbatasan Agnus dan ditodong berbagai macam senjata sementara Luceat malah seperti orang bodoh tiba-tiba muncul saja dan mengejutkan semua orang.
“Apa benar itu orangnya!? Periksa apa yang ia bawa!”
Tanpa protes apapun Luceat membiarkan seorang tentara merampas barang pemberian wanita itu dan membukannya serta menunjukkannya pada semua orang termasuk salah satu kapten yang memimpin kelompok itu.
“Tidak!! Itu bukan seperti apa yang kalian pikirkan!! Aku hanya memberinya sebagai hadiah!”
“Tutup mulutmu.”
Seseorang dari kelompok tentara Agnus itu pun menghampiri Luceat.
“Karena anda dan wanita ini telah melakukan transaksi ilegal,”
“Tidak tunggu dulu… tuan itu tidak salah!”
Luceat mengangkat telapak tangannya untuk meminta wanita itu diam dulu dan biarkan dia mendengarkan keputusan yang ada. Bagaimanapun, seperti di awal Luceat tidak ingin membuat wanita itu menanggung beban dari misinya untuk mendapatkan tumbuhan obatnya.
“Anda harus kami bawa ke Agnus untuk di sidang langsung oleh Yang Mulia Ratu Agnesia.”
Nampaknya perjalanan Luceat belum bisa berakhir dan masih panjang.
__ADS_1
To Be Continued..